Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mereka Bilang, Saya Monyet!

Rate this book
Sepanjang hidup saya melihat manusia berkaki empat. Berekor anjing, babi atau kerbau. Berbulu serigala, landak, atau harimau. Dan berkepala ular, banteng, atau keledai. Namun tetap saja mereka bukan binatang. Cara mereka menyantap hidangan di depan meja makan sangat benar. Cara mereka berbicara selalu menggunakan bahasa dan sikap yang sopan. Dan mereka membaca buku-buku bermutu. Mereka menulis catatan-catatan penting. Mereka bergaun indah dan berdasi.

Bahkan konon mereka mempunyai hati. Saya memperhatikan bayangan diri saya di dalam cermin dengan cermat. Saya berkaki dua, berkepala manusia, tapi menurut mereka, saya adalah seekor binatang. Kata mereka, saya adalah seekor monyet. Waktu mereka mengatakan itu kepada saya, saya sangat gembira. Saya katakan, jika saya seekor monyet maka saya satu-satunya binatang yang paling mendekati manusia. Berarti derajat saya berada di atas mereka.

Tapi mereka manusia bukan binatang, karena mereka mempunyai akal dan perasaan. Dan saya hanyalah seekor binatang. Hanya seekor monyet....

148 pages, Paperback

First published January 1, 2002

75 people are currently reading
1176 people want to read

About the author

Djenar Maesa Ayu

30 books302 followers
Djenar Maesa Ayu started her writings on many national newspapers. Her first book "Mereka Bilang Saya Monyet!" has been reprinted more than 8 times and shortlisted on Khatulistiwa Literary Award 2003.

Her short story “Waktu Nayla” awarded the best Short Story by Kompas in 2003, while “Menyusu Ayah” become The Best Short Story by Jurnal Perempuan and translated to English by Richard Oh with title “Suckling Father”.

Her second book "Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)" was launch February 2005 and also received great success. The amazing part is this book reprinted two days after the launching.

Other books by Djenar:
* Nayla
* Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
283 (12%)
4 stars
633 (28%)
3 stars
837 (37%)
2 stars
361 (16%)
1 star
117 (5%)
Displaying 1 - 30 of 215 reviews
63 reviews59 followers
November 23, 2008
Buku lama yang ingin saya baca dari dulu. pertama penasaran dengan judulnya dan kedua penulisnya. kumpulan 11 cerpen yang ....yaang...,
sebelum beli buku ini saya mudenk dengan judul buku Djaner yang lain, "jangan main-main (dengan alat kelaminmu) " saya pinggirkan jauh-jauh. terlalu vulgar akhirnya saya pilih buku ini, saya pikir aman. ternyata eh ternyata. he..he..

ceritanya sendiri ga vulgar sih, tapi Djenar mampu membungkus kata-kata seks dan temennya dalam kiasan dan analogi yang tidak sempet saya pikirkan sebelumnya. contoh ketika cerpen "lintah" apa yang ada dalam pikiran anda ketika membaca kalimat berikut ini?:

" Ibu saya memelihara seekor lintah, lintah itu dibuatkan sebuah kandang yang mirip sperti rumah boneka berlantai dua, lengkap dengan tempat tidur......"

what comes first in my mind sih emang LINTAH si binatang itu. tapi..kalimat-kalimat berikutnya menunjukkan kalo lintah itu adalah "piaran" sang ibu. kecemburuan "saya" terhadap "lintah" digambarkan sempurna dengan beralihnya kasih sayang ibu dari "saya" ke "lintah". "lintah" persis seperti lintah menghisap, menggigit dan menyelinap

terus ada apa dengan cerpen " mereka bilang saya monyet"? .
ah..cerita seru. semua manusia digambarkan berdasarkan sifatnya. lelaki dan perempuan yang pacaran ditoilet digambarkan sebagai buaya dan kalajenking masing2 masih berkepala manusia.ada si Kepala babi, kepala Kuda, kepala sapi, kepala anjing, banyak lagi binatang-binatang lain. dan monyetnya snediri adalah "saya".

perselingkuhan rumit diceritakan Djenar lewat kutipan sms + dan - dalam cerpen Wong Asu.
buku menarik meski bikin jidat berkerut-kerut, Beda.

*foto diunduh semena-mena dari gugel
Profile Image for Irwan.
Author 10 books122 followers
January 27, 2013
Aku suka buku ini karena lugas, mengalir dan sanggup membawa pembaca ke ranah-ranah kelam kehidupan dengan cara penuh imajinasi. Seperti dalam Melukis Jendela, favoritku, yang membawa kita ke alam pikiran anak kecil yang kesepian dan mengalami pelecehan baik di rumah maupun di sekolah. Cerpen-cerpen lainnya pun menghentak, memaksa kita melihat realitas yang seringkali tidak sesuai dengan narasi "benar" atau "seharusnya" yang ditanamkan kepada kita sejak kecil. Cerpen-cerpen ini mengingatkan pada kejanggalan, keabsurdan, ke-sureal-an alam karya Budi Dharma, tanpa sendatan-sendatannya. Unsur seks yang bertebaran - sumber keberatan sebagian orang - aku rasa tidak mengganggu nilai estetiknya. Malah bisa dijadikan semacam cermin untuk menilai diri, sejauh mana narasi yang ditanamkan kala kecil itu membengkokkan persepsi realitas kita. Dengan narasi itu mungkin kita bisa merasa nyaman dengan percaya bahwa hal-hal diluar kerangka itu tidak nyata, atau tidak boleh menjadi nyata. Setidaknya tugas sastra sudah tertunai disitu: kita jadi sadar adanya kerangka itu. Kita jadi tahu begitulah cara pandang kita atas realitas. Kita jadi tahu bahwa itu bukan satu-satunya pandangan yang ada dan bisa dipilih.
Profile Image for mina.
381 reviews12 followers
December 30, 2007
Aku kok gak suka ya buku ini. Tidak ada satu cerpen pun yang tidak ada seks-nya. Segala sesuatu selalu tentang itu lagi, itu lagi. Kenapa juga aku membaca buku ini, tidak tahu juga aku. Mungkin karena tertarik judulnya. Ada cerpen yang difilmkan lagi, ckckckck.... Kalau bisa dikasi rating 0, aku kasi rating 0, deh.
Profile Image for Aravena.
677 reviews36 followers
December 22, 2019
Minat saya mengeksplorasi karya Djenar Maesa Ayu timbul baru-baru ini, karena seorang rekan kerja merangkap perpustakaan pribadi sahabat diskusi perbukuan saya adalah fans beratnya. Kebetulan, saya lalu menemukan kumpulan cerpen lawas ini…. jadi ya sudah, ta’ sikat saja.

Manusya kembali menatap buih bir dalam gelasnya. Kadang buih itu menjadi seorang laki-laki, seorang wanita, lalu seorang ayah, lalu seorang ibu, gadis kecil bermain boneka, nama Ayah di batu nisan, gadis kecil yang mengintip lubang kunci sebuah pintu di rumah prostitusi. Ada Ibu. Ada laki-laki. Ada sakit kelamin. Ada nama Ibu di bawah nama Ayah dalam satu batu nisan. Ada gadis kecil yang menjadi remaja. Ada remaja di dalam kamar yang sama dengan yang dulu diintip si gadis kecil. Ada macam-macam laki-laki. Ada whiskey. Ada cognac. Ada bir. Ada ganja. Ada heroin. Ada mabuk. Ada luka. Tidak ada… Dia…. (-Manusya dan Dia)

Ada 11 cerita pendek di kumpulan ini, yang awalnya dimuat untuk berbagai koran dan majalah. Gaya bahasa DME amat padat dan lugas, tajam menohok dengan permainan kata-kata yang cerdik tanpa terkesan dibuat-buat atau terlalu mengawang. Ada beberapa cerita (seperti Mereka Bilang Saya Monyet, … Wong Asu, dan Asmoro) yang bermain-main dengan personifikasi—salah satu ciri khas kumpulan ini adalah penggunaan hewan oleh Djenar untuk tipe manusia tertentu—dan hiperbola, tapi Djenar selalu memastikan bahwa esensi cerita dan konflik batinnya tetap membumi alias bertumpu pada realita kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya, tidak ada cerita di sini yang benar-benar jadi favorit saya; ada yang hanya saya suka awalnya, akhirnya, atau konsepnya. Ada juga yang hanya membal pada saya tanpa meninggalkan kesan kuat, seperti Melukis Jendela dan Asmoro. Namun, di mayoritas cerita biasanya ada paling tidak satu hal yang menarik atau saya suka. Lintah, misalnya, penuh dengan humor gelap nan blak-blakan dari seorang anak perempuan yang mengkonstruksi pria di dalam rumahnya sebagai ‘lintah’. Durian, tentang kepercayaan seorang ibu bahwa anak-anaknya akan terkena kusta kalau ia makan durian, termasuk jenis cerita yang jadi jauh lebih menarik saat kita mulai memikirkan makna di balik metafor dan akhirnya yang ironis. SMS, seperti jutaan cerita lainnya di luar sana, bercerita tentang perselingkuhan antara orang-orang yang kanan kiri oke—tapi dituturkan murni dari rentetan pesan SMS yang harus dibaca beberapa kali sebelum kita jadi “ooooh begitu toh” sambil ngakak-ngakak.

Edisi ini juga dilengkapi kata pengantar dan ulasan dari Sutardji Calzoum Bahri, yang sedikit banyak memperdalam penafsiran saya terhadap cerita-cerita di sini. Rasanya saya jadi paham juga mengapa banyak teman saya dari kalangan perempuan muda nan kritis yang menyukai buku ini dan gaya bertuturnya Djenar. Ada suara-suara perempuan multidimensi yang menolak untuk diobjektifikasi, dihakimi, dan dituntut untuk berperilaku ala ‘perempuan baik dan benar yang serba nrimo’, baik di dunia fiksi maupun nyata. Ada perempuan-perempuan yang bukan malaikat dan bukan pula setan, melainkan hanya manusia-manusia biasa yang bisa mabuk cinta, ngebir untuk menenggelamkan kesepian, bergulat dengan latar belakang keluarga yang disfungsional, atau merenungi sisa hidup yang tinggal sebentar lagi.

Di balik judul dan isinya yang terkesan provokatif, suram, dan vulgar, tidak susah untuk melihat sentimentalitas yang meluap-luap dari cerita-cerita di sini, yang seperti kata pengarangnya sendiri, ditulis atas nama CINTA.
Profile Image for hans.
1,165 reviews152 followers
March 8, 2018
Imaginasi dalam metafora yang aneh. Tokoh-tokoh di setiap cerita yang sedikit sebanyak mengajar saya tentang perasaan, bagaimana kepercayaan dan cinta cuma mimpi dan kepahitan. Agak depressing juga, tapi tulisan dan penyampaiannya agak bagus. Temanya seiring-- antara obsesi dan kemahuan, hal keluarga yang cuba disembunyi, selingkuh, pelecehan seksual, kisah harian, kesunyian dan kemahuan harapan. Saya suka sekali bagaimana tokoh di cerpen Lintah dan Melukis Jendela mengadaptasi dunianya-- dongeng yang menggugah emosi saya sebagai pembaca. Tema buku yang agak berani tapi berhasil memberi impak.
Profile Image for Tsunn.
235 reviews6 followers
July 16, 2024
Buku ini berhasil mengobati kerinduan gua akan karya sastra yang bukan cuma relate dengan keadaan sekitar tapi juga pemilihan bahasa serta simbolik simbolik khas dalam penggunaan majas dalam cerpen-cerpennya. Seolah kembali diingatkan kalau ini bentuk indah dari sebuah karya sastra.
Profile Image for Apop.
33 reviews16 followers
February 2, 2009
Banyak buku tentang hal-hal yang dianggap tabu yang dituturkan dengan baik dan bisa memberikan sesuatu bagi pembacanya. Tapi tidak dengan buku ini. Maaf kalo saya bilang ini buku cuma sensasi, nothing more.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
June 25, 2025
"Ibu saya memelihara seekor lintah. Lintah itu dibuatkan sebuah kandang yang mirip seperti rumah boneka berlantai dua, lengkap dengan kamar tidur, ruang makan, ruang tamu, dan kamar mandi dan ditempatkan tepat di sebelah kamar ibu." Hal.11

Cerpen berjudul "Lintah" ini adalah cerita kedua yang ada di kumpulan cerpen "Mereka Bilang, Saya Monyet!" karya Djenar Maesa Ayu ini. Cerpen pertama yang kemudian dijadikan judul buku saya juga suka, tapi cerpen kedua ini terasa lebih ngena walaupun sejak baca kalimat pertamanya saja, saya sudah bisa nebak maksud dan akhir kisah cerpen ini.

Pasca nonton Gowok, langsung penasaran pingin baca buku buatan Djenar. Dan, ini adalah perkenalan pertama dan rasanya menyenangkan. Cerpen-cerpennya kebanyakan punya materi yang unik dan ditulis dalam bahasa yang sederhana -sebagian lagi vulgar-yang-tak-seberapa.

Ada cerpen yang gong banget, tapi ada juga yang terasa biasa. Salah satu cerpen lain yang lumayan unik berjudul "SMS" yang ya isinya komunikasi via pesan singkat. Secara twist juga udah ketebak tapi tetap saja menarik. Cerpen lain yang lumayan mengigit adalah cerpen berjudul "Namanya...." berkisah tentang seorang perempuan bernama Memek yang benci dengan namanya dan kemudian menjahati semua orang di sekitarnya yang memiliki nama Me---

"Memek mulai cemburu kepada teman-temannya yang mempunyai nama berawalan me. Memek iri dan merasa mereka jauh lebih beruntung." hal.93.

Saya suka cerpen ini walau jika dibikin lebih sadis kayaknya lebih seru. Ya, lumayanlah perkenalan perdana dengan bukunya Djenar. Kalau nonton film yang ia bintangi udah beberapa, aktingnya bagus. Rupanya nulis juga Djenar lumayan.

Skor 7,5/10
Profile Image for Sads.
68 reviews6 followers
March 24, 2022
kumcer berisi 11 cerpen; mayoritas fokus ke karakter berlatar-belakang perempuan dengan variasi umur remaja-dewasa yang mengalami ketidakbahagiaan yang berakar dari masalah keluarga. entah itu kurang perhatian orang tua, ditinggal mati orang tua, atau dibesarkan orang tua yang pekerjaannya terlalu vulgar untuk anak-anak.

agak heran dengan ratingnya yang cuma 3.XX, karena menurutku keseluruhannya menarik. penggambaran titik masalah pada setiap cerpennya bisa dipahami berdasarkan konteks, walaupun tidak bisa sepenuhnya diklaim maksud absolutnya.

misal; pada cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet!. manusia manusia munafik digambarkan dengan ciri-ciri fisik hewan. pada cerpen Lintah, pacar baru ibunya digambarkan sebagai hewan lintah yang terkadang berubah jadi ular.

buku ini dilabeli dengan rating umur Dewasa/21+. menilik tahun pertama kali terbit, mungkin pembaca masih belum sefamiliar itu dengan penulisan vulgar pengarang. hence the low rating?

cocok untuk pembaca; yang sudah cukup umur, biasa menikmati penggambaran alegori.
tidak cocok untuk pembaca; yang belum cukup umur.
Profile Image for Lyliez Cholieshoh.
18 reviews
September 26, 2022
Sejujurnya, selama ini saya menunda membaca buku ini karena takut isinya erotis atau berbau seksual. Setelah mencoba mengintip sedikit, saya terkagum-kagum dengan gaya bahasanya dan akhirnya khatam juga. Menurut hemat saya, bahasanya nyastra banget sehingga tak semua cerita bisa saya pahami. Saya yakin pembaca lain mungkin akan memiliki pemahaman berbeda-beda dalam menafsirkan cerita yang disajikan karena bahasanya yang banyak mengandung metafora.

Secara umum, buku ini merupakan kumpulan cerpen karya djenar maesa ayu yang telah diterbitkan di beberapa majalah dan harian. Hampir semua tema cerita yang diangkat memang seputar pelecehan seksual pada anak-anak. Dengan bahasa yang lugas, si penulis dengan berani menceritakan kehidupan kelam para tokoh dengan apik. Bahkan, walau hanya dalam bahasa singkat seperti pada cerpen "SMS" dan cerpen "wong asu", tak sedikitpun mengurangi alur kisah dan pesan yang disampaikan.
Profile Image for Feby.
Author 3 books19 followers
January 26, 2023
3.5/5

Cerpen-cerpen surealis, penuh analogi, dan tujuannya untuk menyentil pembaca, speak up tentang macam-macam isu. In some way I like it.
And why that 3.5 stars? Well. This is just an "okay" coffee for me.
Profile Image for Langit Merah.
38 reviews
July 26, 2013
Sebenarnya sudah lama tertarik sama buku ini, terutama karena melihat edisi barunya yang dicetak secara sambung-menyambung, membuat saya mengira buku ini adalah tetralogi.

Djenar Maesa Ayu... penulis perempuan yang pernah disebut-sebut oleh pustakawan sekolah sekitar setahun lalu, tapi saya nggak begitu ngeh. Hingga kemarin menemukan bukunya di perpustakaan. Ketertarikan saya yang pertama sebenernya pada buku keduanya yang katanya menggunakan gaya bahasa blak-blakan, sampai ada yang bilang itu novel porno.

Tapi, bagi saya bukan. Setidaknya untuk buku pertamanya. Meskipun memakai gaya bahasa yang "tanpa basa-basi" (yang sebenarnya menurut saya masih biasa saja), buku pertama ini malah mengarah terhadap sindiran keras terhadap kehidupan seksual masa kini yang semakin bebas saja. Bertemu pertama kali langsung menuju tempat tidur. Atau malahan ada yang melakukan seks di chatting dengan orang yang baru pertama kali dikenal, hadeh.

Saya cengar-cengir sendiri membaca cerpen "Mereka Bilang, Saya Monyet!".



Yang paling unik menurut saya adalah "SMS". Bahasanya jauh dari ngejelimet, benar-benar bahasa sehari-hari, dan buat saya cekikan.

Cerita sisanya, haduh saya ragu kolom reviewnya muat kalau mau saya komentarin satu-satu. Saya menikmati semua cerpen di buku ini, walaupun "Menepis Harapan" menurut saya hanyalah penekanan pada angst, namun cara berbahasanya membuat saya menikmati penekanan perasaan di sana (dan saya teringat salah satu OTP di anime -oke saya otaku oke-).

Melukis Jendela hampir mirip dengan Lintah, namun di cerpen ini, Mayra memutuskan untuk melepaskan diri, tidak dengan Maha yang hanya berdiam diri saja. Durian, suatu sindiran untuk tidak munafik. Waktu Nayla... terkadang saya merasa menjadi Nayla. Wong Asu, ini psycho dan gila abis, hahahaha. Namanya, busyet juga ada orang kepikiran pake nama kayak gitu buat tokoh utamanya. Namun entah mengapa ini agak bikin kecewa, saya pikir si tokoh utama akan melakukan sesuatu yang lebih menarik, tahunya.... Asmoro, sebenarnya saya nggak begitu suka cerita tipikal begini, nggak kebayang soalnya. Dan terakhir, Manusya dan Dia. Saya sebetulnya nggak gitu ngeh tentang cerita ini, yang saya tangkap adalah Manusya itu sedikit perubahan dari manusia (dengan kata lain, bisa siapa saja) yang jengah diawasi oleh Dia (sang Pencipta) dan menjerumuskan diri jauh dari-Nya. Tahunya, hidupnya malah makin kelam. Ini mengarah pada religi pada universal, tetapi cara berbahasanya buat ini nggak berasa ceramahan atau khotbah atau dll-nya (?), malah pada awalnya terkesan ngapain-sih-Dia-ngikut-ngikut-hidup-gua-aja-gua-benci-sama-Dia-!

Jadi dari review sepanjang ini (sebenarnya sih udah kasih rating duluan #dor) saya memberi bintang 4 pada novel ini. Tadinya pengen kasih rating 5 andai cerpen "Namanya..." membuat twist lebih, atau cerpen "Asmoro" bisa berasa srek ke saya. Namun, saya nggak nyesel buat masukin novel ini ke kolom favorit, dan ketika saya pegang uang nanti, saya memasukkan nama Djenar Maesa Ayu sebagai pengarang yang bukunya direkomendasikan untuk dibaca :))
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Marsha Dhita.
13 reviews
April 24, 2017
Buku yang ingin saya baca sejak lama. Tertarik dengan judulnya dan tentu saja penulisnya.

Membungkus hal-hal yang tabu dengan sangat baik dan menarik.

review soon.
Profile Image for Agi.
95 reviews
July 21, 2012
mereka bilang saya monyet adalah karya Djenar Maesa Ayu yang pertama saya baca. tiap ceritanya dipenuhi dengan majas, dari alegori, personifikasi, ironi, hiperbola, sampai totem pro parte, sehingga butuh pemikiran yang luar biasa lapang untuk bisa mengerti apa yang ia maksud di setiap pemikirannya.

intinya, membaca kumpulan cerita ini tidak hanya membutuhkan mata yang terbuka, tapi juga pemikiran dan wawasan yang terbuka. seperti biasa, Djenar menulis buku ini dengan blak-blakan, vulgar tapi tetap elegan, khas Djenar Maesa Ayu. didalam setiap ceritanya, kita seolah dibawa bertualang didunia orang-orang yang penuh dengan anomali, jauh dari harmoni kehidupan dan penuh dengan kemunafikan, namun dia menuturkannya secara tidak munafik. semua diulas, terutama soal perempuan dan seksualitas.

buku ini penuh seni, dan mungkin nggak semua orang bisa mengerti dimana letak seninya, karena terlalu extravagant, termasuk buat saya yang waktu itu hanya pelajar (lupa tepatnya SMP atau SMA) akan tetapi cara bercerita Djenar yang begitu terus terang membuat saya berpikir banyak tentang kehidupan saya, kehidupan orang-orang di sekeliling saya. She's the first person to taught me how to accept other people's anomaly by reading her book
Profile Image for Muhammad Irfan.
144 reviews8 followers
September 7, 2013
Merasakan Djenar dalam sebuah tatanan bahasanya seperti dipaksa untuk berorgasme lewat sastra, bukan fisik ku yang orgasme , tetapi sebuah pikiran setelah membaca buku yang benar-benar Monyet ini!

Sekumpulan cerpen yang dimana 9 dari 11 cerpen sudah diterbitkan dalam beberapa Surat Kabar dan Majalah. Menceritakan sebuah kehidupan dalam Kota Metropolitan yang hampir seperti sebuah Kebun Binatang jadi-jadian. Djenar menggambarkannya dalam bentuk sebuah Alegori dan Metafora. Dalam cerpen yang berjudul Mereka Bilang Saya Monyet! Djenar habis-habisan menggambarkan para pelaku menjadi sekumpulan manusia berkepala hewan. Lalu cerpen berjudul Lintah, tak habis pikir seekor Lintah bisa berubah menjadi Kobra, Imajinasi yang kuat disusun bersama padanan Majas yang juga kuat adalah sebuah hal yang hebat yang dilakukan Djenar.

Buku ini adalah cerminan kehidupan liar Kota Metropolitan, yang selalu mementingkan nafsu perut dan sejengkal dibawah perut. Djenar menggambarkannya secara vulgar namun beresensi.
Profile Image for Vita Sari.
7 reviews
December 8, 2020
Buku ini awalnya saya baca karena dipinjamkan oleh seorang teman--setelah saya dengan sangat antusias menyaksikan hasil adaptasi film-nya dengan judul yang sama.

Saya harus jujur, membaca tulisan Djenar membuat saya merasa tidak nyaman. Isu yang dihadirkan sangat berani, bahasanya sangat gamblang. Tapi karena itu pula, saya sadar bahwa ada gelembung permasalahan yang terlalu samar untuk saya lihat, yakni bagaimana perempuan selalu berada pada posisi sulit dalam (hampir) semua permasalahan sosial ataupun relasi power.

Thus, I'd say this is a very powerful reading.
Saking kuatnya, saya butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan buku ini (meskipun sebetulnya cukup tipis). Saya butuh jeda untuk bernafas sebelum loncat ke cerita berikutnya. It makes you, not only digest word-by-word, but also give a space to think and reflect.
"Lintah" is my personal favourite. A masterpiece!
Profile Image for Henny Sari.
Author 8 books11 followers
December 15, 2008
buku ini diberikan seseorang kepada gue taun 2002 atau 2003 ya? agak lupa. gue langsung baca sampe abis tandas saat itu juga. dan reaksi gue?
asuuuuu! anjiiiiing! keren! gue makasih banget dah dikasih buku itu. Halo Ardian, thanks ya!
tapi, karya djenar pas ke sini2... wah..., blm ada kemajuan yang bisa ditandai ya. masih begitu2 aja... jadi belum bisa menimbulkan reaksi yang sama seperti sewaktu gue baca buku pertamanya itu. buku2nya yang lain belum berhasil membuat gue teriak, "anjiiiiing!"
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
June 4, 2022
Lanjut ke kumcer adiknya "Jangan main-main dengan kelaminmu" dengan tema-tema yang masih serupa: perempuan yang tertindas secara seksual, keterbukaan dalam hal seksualitas, psikologis yang "terganggu" karena trauma seksual, serta imajinasi yang terbebaskan. Cerpen-cerpen di buku ini kurang beragam secara tema, cenderung muram dan bebas lepas, dengan kelam menggambarkan bagaimana upaya-upaya perempuan untuk bangkit dari ketertindasan. Cerpen SMS paling unik, tetapi Waktu Nayla tentu saja yang paling ikonik.
47 reviews
July 12, 2024
Mereka bilang, saya monyet. kesebelasan cerita yang memuat tema seksualitas dan eksistensialis. Djenar mampu mengocok kata-kata hingga membuat saya ikut terlarut dalam situasi yang tidak asyik.

Penggunaan simbol-simbol seperti durian, lintah, dan nama-nama binatang, pasti sangat digemari oleh kaum strukturalis, dalam hal ini, saya, sebagai mahasiswa.

mungkin saya bisa dibilang terlambat baru membaca buku ini. namun, rasanya, buku ini, atau cerita-cerita ini, baru saja ditulis kemarin sore. itulah hebatnya si penulis.
Profile Image for Rika.
51 reviews
January 12, 2009
aku lupa di mana aku baca buku ini. Jangan-jangan di toko buku :-P Yang jelas, ada beberapa cerpennya yang sangat aku suka, ada beberapa yang biasa saja, dan ada beberapa yang belum kebaca. Aku memang punya kebiasaan loncat-loncat kalau baca kumpulan cerpen, jadi ya..begitulah.
so secara keseluruhan kukasih rating tiga saja.
ohya, filmnya juga lumayan, bisa mengalihkan mood kumcer ini ke gambar.
Not bad at all
Profile Image for Calvin.
Author 4 books154 followers
July 31, 2014
One of the most sarcastic short stories compilation ever. Djenar wonderfully woven a story in a finest schizophrenic from. This short story consists various themes that portrays realism, almost all stories end with unexpected endings which left surrealistic impression.

This is one of the finest short story compilation ever. I like it very much.
Profile Image for Adek.
195 reviews4 followers
September 5, 2013
Semua cerpen kok ya bahasannya gitu semua yak? Flat.
Satu yang cuma bisa diingat dari sini, Djenar bilang, dalam diam pun kita masih saja munafik.
Profile Image for Nabila Ayu.
84 reviews1 follower
April 20, 2025
Djenar Maesa Ayu’s Mereka Bilang, Saya Monyet (They Say I’m a Monkey) is a raw, provocative, and deeply unsettling collection of short stories that signalled a bold new voice in contemporary Indonesian literature when it first appeared. Known for its unflinching treatment of taboo subjects—particularly female sexuality, trauma, and bodily autonomy—the collection challenged the literary establishment and helped open new space for women’s voices to speak frankly and unapologetically.

The stories in this collection are striking not only for their subject matter, but for their stylistic confidence. Ayu writes with a blunt, at times almost brutal, economy—eschewing euphemism in favour of direct confrontation. Her characters, often women and girls trapped in oppressive, exploitative environments, do not ask for sympathy. They demand attention. These are not narratives of redemption or moral instruction; rather, they are vignettes of inner turmoil, rebellion, and unspoken pain.

Perhaps the most powerful element of the collection is its ability to capture the dissonance between social respectability and private suffering. Ayu frequently draws on themes of abuse, both physical and psychological, and does so with a deliberate discomfort that forces the reader to grapple with the complicity of silence. This is particularly true in stories such as the titular “Mereka Bilang, Saya Monyet,” where the use of childlike perspective only heightens the horror of what is being described.

What makes the work especially important in the Indonesian context is its break from traditional narrative modesty. Ayu belongs to the so-called sastra wangi (“fragrant literature”) movement, a term often used—sometimes dismissively—to refer to women writers in post-New Order Indonesia who foreground female perspectives and experiences, particularly those relating to the body and sexuality. While the label itself is problematic, what is undeniable is the role this collection played in expanding the thematic possibilities of Indonesian literature.

That said, Mereka Bilang, Saya Monyet is not a comfortable read, nor is it meant to be. Its literary power lies in its ability to disturb, to challenge, and to give voice to the often voiceless. For readers unfamiliar with contemporary Indonesian fiction, it can serve as a compelling—if jarring—entry point into a rapidly evolving literary landscape where women are increasingly asserting their right to narrate experience on their own terms.

Uncompromising, urgent, and deeply personal, Djenar Maesa Ayu’s debut remains a landmark work—one that continues to provoke debate, unsettle expectations, and speak truth to power in ways that are as relevant now as they were at its publication.
Profile Image for Tamira Bella.
179 reviews
July 11, 2025
Mereka Bilang Saya Monyet karya Djenar Maesa Ayu menjadikan buku ini, sebagai buku pertama karya Djenar yang saya baca hingga selesai. Didalamnya memuat kumpulan cerpen surealis, dengan penuh metafora, serta gaya penceritaan yang lugas namun puitis. Menurut saya Djenar juga berhasil memyuguhkan kisah-kisah tentang tubuh, seksualitas, luka batin, trauma masa kecil, hingga relasi yang kompleks antara perempuan dan lingkungan sosialnya.

Secara pribadi, jujur buku ini bukan genre favorit saya, sebab terdapat unsur child abusive yang membuat saya tidak begitu nyaman saat membacanya. Namun buku ini tetap menjadi salah satu tonggak penting dalam sastra feminis Indonesia modern, karena mampu menyuarakan hal-hal yang selama ini dianggap tabu terutama dari sudut pandang perempuan.

Cerita yang paling membekas untuk saya terdapat pada bab “Waktu Nayla” dimana bab ini bertemakan anak perempuan korban pengabaian dan kekerasan dalam rumah tangga.

Pada bab ini terdapat satu syair yang menjadi higlight utama bagi saya, dimana bagian tersebut bertuliskan sebagai berikut:

Apakah hidup diberikan supaya manusia tidak punya pilihan lain selain berbuat baik? Dan mengapa pertanyaan ini baru datang ketika sang algojo waktu sudah mengulurkan tangan?

Mungkin hidup adalah ibarat mobil berisikan satu tangki penuh bahan bakar. Ketika sang pengendara sadar bahan bakarnya hampir habis, ia baru mengambil keputusan perlu tidaknya pendingin digunakan, untuk memperpanjang perjalanan, untuk sampai ke tujuan yang diinginkan.

Nayla memaju mobilnya semakin kencang. Memburu kesempatan untuk bersimpuh memohon pengampunan atas dosa-dosa yang Nayla sesali tidak sempat ia lakukan, sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah jadi abu.
Profile Image for Aya Prita.
171 reviews21 followers
August 20, 2018
Ini adalah buku pertama saya dari Djenar Maesa Ayu dan... wow, dia begitu berani dan jujur. Segala hal-hal yang tabu, ia tumpah ruahkan di buku ini. Ia juga dengan cerdiknya menyelipkan protesnya tentang isu-isu yang terkait dengan wanita dalam ceritanya. Saya juga suka sekali kepintarannya dalam berkata - kata dengan menggunakan imagery binatang maupun lukisan. Saya jadi iri, deh. Serius. Dia bisa menggunakan semua imagery dari langit, binatang, bumi, dedaunan, hujan, dan sebagainya. Ia puitis, tapi masih tidak mengurangi betapa "magical"nya ceritanya.

Terlebih lagi, saya suka bagaimana ia bermain dengan kata-kata, seperti kata "semakin-makin jengkel, membuat Manusya makin-makinan tidak bisa tidur" dalam cerita "Manusya dan Dia". Saya suka caranya menepis kata tabu, yakni "memek", dengan memasukkan kata tersebut berkali-kali di salah satu cerita pendek.

Dari kumpulan cerita pendek ini, saya sangat suka cerita "Waktu Nayla". Saya suka permainan katanya, permainan alur, pemilihan tokoh - bagus banget, deh.

Baiklah, Djenar Maesa Ayu, you're the queen of short stories.
Tapi, kenapa bintangnya mendem satu? Walaupun saya membaca Vagina Monologues yang menceritakan isu-isu wanita lewat perspektif Vagina ataupun membaca sastra wangi seperti Ayu Utami, karya ini masih... yah, buku ini - sorry to say - bukanlah cup of tea saya.
Profile Image for Reza Pratama Nugraha.
44 reviews2 followers
January 8, 2022
Tahu pengarangnya dari podcast, pas dipinjemin adek langsung tertarik baca, apalagi kumpulan cerpennya punya halaman yang dikit, pas buat selesein deadline 10 buku tahun ini. Sayangnya ternyata niat selesein buku ini sebelum tahun baru gak kesampaian karena gw butuh mood setiap selesein satu cerpen di buku ini, setiap buka halaman baru gw makin merasa kumcer ini gak cocok sama gw.

Gaya ceritanya surrealis, realisme magis, tema dewasa yang dinggap saru, dll bukan hal yang sebenernya asing dalam bacaan gw. Tapi konteks masalah yang diangkat entah kenapa kerasa diskonek, dan baca beberapa ulasan per-cerpen soal pesan yang sebenernya ingin disampaikan pun masih gak terlalu mampu gw apresiasi secara sungguh-sungguh, entah apa karena minim pengalaman hidup, apa karena ada kesadaran kelas, dll, karakter dan konflik dicerpen ini seperti karikatur kehidupan yang asing dan kurang membumi untuk bener-bener hidup dalam dunia imaji gw. Demikian, ada pengecualian terhadap cerpen Lintah dan Waktu Nayla yang menurut gw bagus, sisanya menurut gw cerpen yang jatuhnya pendek, dari tema ataupun sisi narasi yang kurang nonjok.

My rate: 2/5.
Profile Image for Siti Annisa.
19 reviews
March 12, 2018
Ada 2 cerpen yang saya suka di kumcer ini, Melukis Jendela dan Asmoro. Dalam Melukis Jendela, yang saya suka adalah cerita mengenaskan yang dialami Anton. Saking kesalnya Mayra dengan perbuatan bejat Anton dkk, akhirnya ia membuat dunianya sendiri di mana Mayra bisa menulis dan menghidupkan skenario imajinasinya, yaitu dengan memotong penis Anton dkk setelah mereka berniat menikmati tubuh Mayra secara bergantian satu per satu. Sementara dalam Asmoro, cerita ini minim aktifitas seksual yang biasanya digambarkan secara gamblang oleh Djenar, selain itu yang saya suka dari cerpen Asmoro adalah cerita tentang si penulis yang terobsesi dengan imajinasinya sendiri, yaitu Asmoro, dan Adjani yang terobsesi ingin menghentikan kakinya yang tak henti berlari. Berlari dari siapa dan untuk siapa? Bacalah! ;)

Ingat, waktu akan terus membatasimu.
Profile Image for Febyan Kafka .
479 reviews15 followers
February 25, 2021
Antologi cerpen yg menarik. Dengan perumpamaan yg terasa sureal tapi penuh makna tersembunyi di dalamnya. Beberapa kiasan terkesan berlebihan,tapi itu adalah usaha pengarang untuk memperkuat narasi dan menumbuhkan simpati pada sang tokoh utama. Pilihan kosakata yg tegas dan langsung ke tujuan, gaya narasi yg lugas dan apa adanya, serta sedikit liar di beberapa bagian. Butuh imajinasi dan pengalaman baca yg luas untuk bisa menafsirkan cerpen dalam antologi ini. Sebelas cerpen dalam antologi ini, mengisahkan derita anak karena perlakuan orang tua, kungkungan lingkungan yg hipokrit, penekanan hasrat,dan diceritakan secara simbolik yg menarik dan lugas. Bila anda mencari kisah fiksi dengan suasana unik, antologi cerpen ini bisa jadi rujukan.
Displaying 1 - 30 of 215 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.