Jump to ratings and reviews

Istoria da Paz: Perempuan dalam Perjalanan

Arimbi Pramudhita, feature editor Destination: Masyarakat belum bisa terima perbedaan nilai. Berhubung yang umum dalam masyarakat adalah menikah, maka buat orang yang belum menikah, atau bahkan memutuskan untuk tidak menikah, akan dianggap aneh. Maka beramai-ramailah mereka memercayai bahwa mereka normal jika menikah.

Enrico Stephanus, tattoo artist: Kenyamanan ini membuat kita berhenti mencari, padahal proses pencarian itu belum selesai.

Julia Sastrawijaya, editor Codex: Well, mungkin perjalanan dan pertemuan dengan orang plus suasana baru bisa membantu lo menata hati.

Dionysius Alexander, pekerja sosial: Jalan hidup manusia itu seperti garis, walaupun tidak lurus. Suatu saat mungkin terjadi persilangan, perpotongan atau persentuhan antara garis jalan hidup masing-masing.

Putus. Adalah hal yang menyakitkan bagi setiap orang. Termasuk Damai Priscilla, seorang editor yang bekerja di sebuah penerbitan. Dalam keadaan sangat hancur, ia mendapat tugas untuk membukukan kisah seorang guru ‘Sekolah Damai’, sebuah sekolah alternatif bagi anak-anak pengungsi Timor Leste yang berada di camp pengungsian di Timor Barat.

Untuk itu ia harus melakukan perjalanan menemui sang guru dan mengalami banyak hal

Istoria da Paz*: Perempuan dalam perjalanan. Bukan cerita tentang perempuan bernama Damai, seorang editor yang patah hati. Bukan juga cerita tentang Sekolah Damai. Tapi ini kisah perempuan yang mengalami perjalanan mengubah sudut pandangnya tentang kehidupan.
*Cerita Damai (Tetun Frasa)

218 pages, Paperback

First published January 1, 2007

Loading...
Loading...

About the author

Okke Sepatumerah

13 books47 followers
Okke 'Sepatumerah', perempuan yang (berusaha selalu) pro perempuan, seorang pengajar yang terus belajar, penggemar sneakers, passionate blogger, leisure time face painter and crafter. Suka ngaku-ngaku beauty blogger, padahal kesukaan dandannya musiman. :)

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (5%)
4 stars
17 (13%)
3 stars
72 (56%)
2 stars
31 (24%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Utha.
835 reviews407 followers
January 12, 2021
Buku ini kayaknya hasil book swap beberapa tahun silam. Yang buat aku incar buku ini tuh karena kertasnya masih HVS, haha. Jadi kupikir kalau ditimbun nggak bakalan menguning kayak kertas novel sekarang. Dan, benar. Haha.

Aku suka banget sama opening ceritanya, menggigit. Tapi perjalanan setelahnya agak kentang menurutku. Padahal, di awal tuh benar-benar appealin bagaimana penulis menceritakan Damai--dan juga si Ngehek Jambrong beserta si Setan Arimbi. Betrayal for the opening was... mantul.

Ada beberapa "pelajaran" dari penulis yang nggak aku setuju, tapi itu masalah perspektif aja. Lagi pula aku suka gaya menulisnya yang lincah. Bahkan, novel ini jauh lebih baik daripada novel lokal yang pernah kubaca dan dicetak tahun 2018-2020. (Novel ini dicetak tahun 2008.)

Sayang banget Dion-nya kurang digali, perasaan Damai juga terlalu flat, meski rumus plotnya bikin enak nikmatin novel ini.

2.8
Profile Image for Connie Wong.
15 reviews28 followers
Read
May 3, 2013
Buku ini saya beli tahun lalu, dan baru saya baca hari ini. Dan selesai dalam beberapa jam saja! Okke bercerita dengan sederhana, tapi dalam. Tidak macam-macam, tapi mengena.

"Istoria da Paz" bercerita bahwa di balik sebuah peristiwa yang menyakitkan, Semesta sebenarnya sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik - asal kita mau membuka hati dan pikiran. Orang ketiga bisa jadi orang yang membawa malapetaka, tapi bisa jadi dia adalah jembatan yang menuntun kita menuju bahagia yang sejati. Sayangnya, kita baru akan tahu hal itu nanti, ketika sakit hati kita karena pengkhianatan sudah sembuh.

Hal yang paling menyakitkan harus disembuhkan, dan caranya bukan dengan cara melupakan, karena "... suatu saat luka itu bisa muncul lagi dalam bentuk trauma." (halaman 133) Tokoh utama dalam cerita ini, Damai, belajar untuk menyembuhkan sakit hatinya, menghadapi rasa takutnya, dan tetap percaya pada cinta. Romantis.

Oh, dan saya jatuh cinta pada tokoh Dionysius Alexander setengah mati! :))

"Jalan hidup manusia itu seperti garis, walaupun tidak lurus. Suatu saat mungkin terjadi persilangan, perpotongan, atau persentuhan antara garis jalan hidup masing-masing manusia. Ketika orang-orang itu bertemu, artinya garis hidup mereka sedang bersilangan, berpotongan, atau bersentuhan. Lalu, ada saatnya mereka harus meneruskan perjalanan lagi di garis hidup mereka."
- Istoria da Paz, halaman 138


Ketika membaca itu, saya jadi menatap telapak tangan saya. Lalu tersenyum. Dan berandai-andai memberi nama pada setiap garis yang saya lihat di sana. Mungkin ada garis yang sebentar lagi menghilang, dan akan ada garis baru yang akan muncul.

Seperti Damai, saya mau terus berjalan - karena kehidupan tidak lantas jadi berhenti ketika saya bersedih. Saya pernah bahagia bersama "Jambrong" saya, tapi saya mau lebih bahagia bersama "Dion".
3 reviews
September 6, 2018
Istoria da Paz adalah salah satu buku yang menemani kekosongan saya selama bulan Agustus, dipinjam dari Pondok Baca Cibodas.
*
Istoria da Paz memiliki cerita sederhana, bisa dibilang cukup mainstream. Babak pertama memunculkan tokoh Damai seorang editor dan Jambrong seorang tatto artist, sepasang kekasih. Ada juga Arimbi, clien Damai, Arimbi memiliki pandangan hidup yang berseberangan dengan dengan pandangan Damai. Dan Jambrong mengamini pandangan Arimbi. Damai merasa terusik oleh interaksi Arimbi dan Jambrong, sering terjadi perdebatan perihal Arimbi diantara keduanya. Sampai puncaknya, Damai memergoki Jambrong tengah bercinta dengan Arimbi di kamar. Penghianatan ha ha ha
*
Lantas, Damai terluka. Merasa sebagai orang paling menderita, ya gitu lah biasa, reaksi setelah diselingkuhi.
Dan saya selalu berpihak pada orang-orang terhianati. Awalnya sempat hampir jatuh hati pada Jambrong, berakhir dengan merutukinya. Hehe.
*
Di tengah keterpurukannya, Damai mendapat tugas untuk meliput kehidupan di Sekolah Damai, di pengungsian Timor Barat. Perjalanan ini dijadikan ajang untuk melupakan Jembrong. Pertemuannya dengan Dionysius Alexander, anak-anak Sekolah Damai, kehidupan sosial di sana yang sama sekali berbeda dengan kehidupannya di kota besar, mengubah Damai, mengubah pandangannya terhadap hidup. Jadilah Damai dengan hidup yang baru.
*
Cerita buku ini memang ringan dan sebenarnya mudah ditebak akan seperti apa akhirnya, tapi tetap memberi pesan, gagasan yang baik untuk pembaca.
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
335 reviews5 followers
June 17, 2012
Memang tidak mudah bagi Damai Priscillia untuk meninggalkan Jakarta. Segala kenangan bersama kekasihnya kian menggebu dan semakin tidak bersahabat dengan hatinya yang dirundung kegalauan. Perjalanan menuju Sekolah Damai di Nusa Tenggara Timurpun dilakukannya demi tugas. Barangkali disana Damai akan menemukan kedamaian bagi hatinya.

*

Semua berawal ketika Damai mengerjakan editing buku untuk Arimbi. Penulis muda yang memiliki pandangan berbeda dengan sudut pandang Damai. Damai harus meyakinkan Arimbi berkali-kali agar tulisannya tidak terlalu frontal dalam mengungkapkan kenyataan. Berawal dari ketidaksenangan tanpa terasa perasaan itu kian membuncah menjadi rasa benci. Tidak hanya konflik itu saja. Kedekatan Jambrong a.k.a Enrico, kekasih Damai, dengan Arimbi kian menyulut naluri Damai bahwa kedekatan itu bukan sekedar relasi pertemanan biasa. Suatu ketika, Damai mendapati kekasihnya itu bercinta dengan Arimbi di rumah mereka. Kontan, Arimbi merasa dikhianati. Tetapi, Arimbi tetap masih belum sanggup kehilangan Jambrong.

Kenyamanan dalam hubungan dengan Jambrong telah membuat Damai merasa serba salah. Satu sisi, kini dia begitu membenci Jambrong karena telah bercinta dengan Arimbi, penulis yang tidak pernah disukainya. Namun, di sisi lain, Damai terlalu takut ketika Jambrong akan meninggalkannya. Lalu, memang Jambrong akhirnya meninggalkan Damai. Entah kemana, yang jelas Jambrong tidak mau menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka berdua. Jambrong akan pergi mencari sesuatu yang dia harap sebagai kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Jambrong telah pergi dan tinggal Damai sendiri. Hidupnya menjadi berantakan, tipikal orang patah hati. Segala kenangan yang dulu dilewati bersama dengan Jambrong kian menyeruak. Damai tidak mampu berdamai dengan semua kenangan itu. Sampai suatu hari, datang penugasan untuk meliput Sekolah Damai di Nusa Tenggara Timur. Sebuah kesempatan untuk melupakan patah hati nun jauh disana.

Kedatangan Damai di Sekolah Damai mengundang banyak tanya. Suatu sambutan selamat datang yang tidak akan pernah terlupakan ketika akhirnya Abitu berhasil mengerjai Damai dengan cacing ditangannya. Itu baru awalnya sebelum Damai benar-benar jatuh cinta dengan kehidupan di Sekolah Damai. Perjalanan ini memang masih terasa berat. Bayang-bayang Jambrong masing ada dibenaknya. Waktu jugalah yang akhirnya memutuskan bahwa Damai terus melaju dengan keputusannya untuk menjalani hidupnya lagi-tanpa Jambrong.

Berhari-hari di Sekolah Damai mengajarkan Damai untuk benar-benar berdamai dengan kenyataan hidup yang telah dilaluinya. Semua kejadian yang dialaminya disana benar-benar mengubah cara pandangnya dalam memaknai hidup, tentang kebahahagiaan misalnya. Persinggungan garis takdir Damai dengan dunia barunya itu memberikan suatu kekuatan baginya untuk menata hatinya kembali.

*

Tidak mudah bagi seseorang untuk berdamai dengan masa lalunya. apalagi kalau terselip bumbu kenangan didalamnya. Entah, itu akan jadi bumbu atau malah racun yang membunuh secara perlahan. Tidak mudah pula bila ketika akhirnya harus memutuskan untuk lepas dari jerat yang membelenggu. Dibutuhkan lebih dari sekedar hentakan peristiwa untuk membuat kita sadar untuk melakukannya.

Istoria da Paz menceritakan pada kita bahwa akhirnya hidup ini merupakan sebuah pilihan. Seperti apa yang ditulis Arimbi dalam tokohnya. Bahwa tidak menikah dan tidak mengikuti pendapat umum adalah sebuah pilihan juga. Dan itu sah. Karena hidup ini adalah pilihan maka ia akan bersinggungan dengan garis takdir. Jalan hidup yang ditempuh Damai telah membawanya ke Sekolah Damai. Sekolah beratap langit, beralas tanah, dan berdinding angin. Terletak di kamp pengungsi ex-Timor Leste. Jalan takdir pula yang mempertemukannya dengan sahabat baru, Dionysius serta murid-muridnya, Abitu dan Arbelia.

Perempuan dalam perjalanan ini pun mengajari kita, bahwa waktu akan menjawab segalanya. Benarlah sebuah pendapat yang bilang "Waktu dan jarak adalah penyembuh luka yang paling baik." Kehilangan bukanlah suatu tragedi. Justru, ia hadir karena akan membawa kita pada suatu penemuan baru. Suatu penjelajahan baru untuk rasa dan jiwa. Perjalanan Damai pun menjadi lebih berarti, karena ia telah mengungkap makna. Mengasihi bukan berarti melakukan apa yang dipikir baik oleh diri sendiri, tetapi melakukan apa yang terbaik untuk orang yang dikasihi. Sekalipun, harus meninggakan segala kenangan dengan yang pernah dikasihi. Time will tell, time will prove.
Profile Image for Ayu Welirang.
Author 17 books99 followers
June 18, 2012
Buku ini selesai dibaca dalam sehari. Sebenarnya dua hari, tapi beberapa jam dalam sehari saja waktu yang saya butuhkan untuk menghabiskan buku ini. Kalau dihitung-hitung, mungkin saya membaca cuma 4 jam, lebih sedikit.

Buku ini sederhana, sesederhana kisah yang dituliskan penulis dalam buku. Kisah seorang perempuan patah hati yang mencoba untuk 'move on' dan melupakan semua perasaan sakit yang dia alami, karena sang lelaki tertangkap berselingkuh di depan mata dengan klien sendiri. Oke, ini adalah kejadian patah hati yang cukup 'mainstream' dan kerap terjadi dalam kehidupan sosial-percintaan. Saya sendiri tidak menganggap kisah patah hati sebagai kisah yang 'wow-gue-harus-salto' melainkan hanya maklum, karena hal seperti itu, saya pun pernah merasakan.

Yang digarisbawahi dalam buku ini adalah bagaimana seorang perempuan kota pada umumnya, mencoba melupakan kesakitan hati dengan tiba-tiba saja terjun ke dalam kondisi sosial yang serba berbeda dengan Jakarta. Diawali dengan tugasnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, perempuan ini mencoba melebur jadi satu dengan anak-anak tak beruntung di camp pengungsi. Ditemani seorang pemuda berjiwa sosial tinggi, Dionysius Alexander, perempuan ini menyelami lika-liku kehidupan Timur yang tak tersentuh manusia di kota sana.

Berbagai kejadian dan pengalaman, mendewasakan Damai--perempuan yang kerap disapa "Ibu Guru Bunga" oleh para muridnya ini. Maka, tugas kantor pun tak bisa lagi menghalanginya untuk berpikir, bahwa Sekolah Damai dan murid-murid nakalnya telah berhasil mencuri hatinya. Menenggalamkan luka lama dan merasa bahwa bukan hanya dirinya seorang yang tidak beruntung. Masih banyak orang yang lebih tidak beruntung dibanding dirinya, yang hanya sekedar kehilangan pacar.

Seiring berjalan waktu, tugas kantor pun selesai dan sudah waktunya ia kembali menapaki Jakarta, kota bising yang tak bertegur sapa. Siapa sangka, kepergiannya yang berhasil membuat ia lupa masalahnya, malah mengembalikan kehidupan lamanya. Jambrong, kekasih yang mengkhianatinya, kembali di saat ia sudah bisa memaafkan. Dan untuk kali ini, dia harus memilih untuk mengarungi hidupnya tanpa Jambrong. Keputusan final sudah diberikan, dan semua pun lega.

Beberapa waktu setelah berbagai kejadian, Damai sudah kembali berada di Kupang. Menyerahkan seluruh hidup demi sosial. Melepas beban dan sepenuhnya belajar akan arti keikhlasan dan melepaskan. Damai sudah menjadi damai, di Sekolah Damai.

Dan kisah ini sangat keren kalau dijadikan sequel. Melihat Dion kembali dari studi sosialnya dan merengkuh Damai di Kupang, dalam pondok-pondok daun lontar penuh sapa, yang tak didapat di kota.

[Ayu]
Profile Image for Diego Christian.
Author 5 books127 followers
November 27, 2012
"Jambrong! Kemarin, kamu bilang kamu cinta aku. Sekarang, kamu masih cinta aku, kan?"

"Aku nggak tau, Mai. Aku nggak tau apakah ini cinta atau hanya perasaan terbiasa karena telah sekian lama berada dalam kenyamanan."

Damai mencari arti kehilangan lewat perjalanannya ke Kupang. Ia baru putus dari kekasihnya yang sangat eksistensialis bernama Enrico Stephanus atau yang biasa dipanggil Jambrong. Di Kupang yang bertemu seorang lelaki yang memiliki jiwa seperti Bunda Teresa yang bernama Dionysius Alexander. Dalam perjalanannya, Damai menemukan arti kehilangannya dan mengobati rasa sakitnya lewat apa yang dialaminya selama dua minggu di Kupang.

Tulisan yang baik, tapi sebagai penggemar tulisan Kak Okke Sepatu Merah, saya menyayangkan perjalanan batin yang berubah baik terasa terburu-buru sebab perubahan itu harusnya mengalir pelan-pelan. But, it was okay dan saya cukup tersentuh dengan beberapa adegan di dalamnya. :)
Profile Image for Mila Miladia.
67 reviews3 followers
March 23, 2008
"putus adalah hal yang menyakitkan bagi setiap otrang, termasuk Damai Priscilla, seorang editor yang bekerja di sebuah penerbitan. Dalam keadaan sangat hancur ia mendapat tugas untuk membukukan kisah seorang guru 'Sekolah Damai', sebuah sekolah alternatif bagi anak-anak pengungsi Timor Leste yang berada di camp pengungsian Timor Barat....."

Well sebenernya alasan gw beli buku ini karena tertarik dengan penulisnya dan judulnya... setahu gw penulis yang satu ini tulisannya selalu menarik untuk dibaca... dan gw ga salah.. bukunya kali ini sangat asyik untuk dibaca, temanya cukup ringan tetapi penyampaiannya mendalam...
Profile Image for Endah.
46 reviews2 followers
August 10, 2008
Istoria da Paz mengingatkan kembali pembacanya bahwa hidup adalah seutas benang yang panjang. Kadang bersentuhan dengan benang-benang lainnya, entah untuk berapa lama. Yang jelas, hidup terus berjalan. Yang datang pasti akan pergi, dan kehilangan ... akan digantikan dengan sesuatu yang baru. Jadi apa gunanya putus asa?
Buku ini juga mengingatkan, jika kehilangan menghampiri hidupmu, maka waktu pasti akan mengobati hatimu. Begitupun kehilangan yang dialami orang-orang lainnya. Andai kita mau membuka mata, meresapi bahwa kehilangan itu bisa dialami siapa saja, maka rasa kehilangan itu tidak akan terlalu menyakitkan.
thank you buat penulisnya yang cerdas, Okke si 'Sepatumerah'
Profile Image for Bubbleteagirls.
26 reviews3 followers
March 12, 2008
baru baca buku ini setelah hampir tiga minggu saya beli dan tergeletak di rak buku saja..saya pikir akan membosankan baca buku ini tetapi tetap saya beli juga.
ternyata buku ini memuat
cerita yang menarik untuk sebuah perjalanan tugas sekaligus proses melupakan seseorang...sayangnya okke menuliskan kehidupan damai yang sebenarnya tidak sesuai dengan norma masyarakat walaupun pada kenyataannya banyak terjadi di sekitar kita. yang didapat dari buku ini adalah ketika kita berusaha melupakan seseorang disaat itulah sebenarnya kita tidak bisa melupakan orang tersebut...
Profile Image for Suzan Oktaria.
345 reviews30 followers
March 3, 2010
kecil, ringan, tapi 'padat' ... judulnya yang tidak biasa membuat aku tertarik mengambil dan menelurusi kalimat demi kalimat di sampul belakang.

kisah perempuan yang mengalami perjalanan mengubah sudut pandangnya tentang kehidupan.

jalan hidup manusia itu seperti garis, walaupun tidak lurus. suatu saat mungkin terjadi persilangan, perpotongan atau persentuhan antara garis jalan hidup masing-masing
bahwa mengasihi bukan berarti melakukan apa yang dipikir baik oleh diri sendiri, tetapi melakukan apa yang terbaik buat orang yang dikasihi
Profile Image for Reza N Sanusi.
73 reviews19 followers
September 8, 2014
Tipis, buku yang cuma setebal 260 halaman ini saya habiskan dalam 2 jam perjalanan saya ke kantor, dan 1 jam istirahat makan siang saya hari ini.

Buku ini bercerita tentang susahnya move on.. Itu saja mungkin, cerita yang lainnya biasa saja, bukannya tidak bagus, cuma isi buku tidak membuat saya tercengang, terpesona, berpikir keras dan lain-lain.

Singkat cerita, kalau mau move on coba temukan kesibukan baru kali aja dari kesibukan itu muncul cinta baru. Atau butuh cinta baru untuk melupakan cinta lama?
Profile Image for Eka.
59 reviews4 followers
March 20, 2008
I like this book. Great story that is told in simple way. Inspire me, more, to do the life-changing journey. Ada kutipan yang sangat klasik, tapi sangat benar: "Kalau kamu bisa bersyukur dengan apa yang kamu punya, bahagia itu akan menyusul."
Nice book Mbak Okke =)
Profile Image for Nike Andaru.
1,708 reviews115 followers
January 12, 2010
Tentang pilihan, pencarian kunci kebahagiaan. Hidup digambarkan seperti garis, yg mungkin saja terjadi persilangan. Beberapa kalimat Dion saya quote. Hanya dengan mengubah sudut pandang tentang kehidupan, ternyata bahagia yang tadinya tidak kelihatan jadi terlihat jelas.
Displaying 1 - 21 of 21 reviews