Mata Priyayi membelalak. Dia nggak sempat mencerna apa yang ia dan Jagad lakukan, kepanikan keburu menyergapnya.
Priyayi mati kutu. Keputusan diam-diamnya menyewakan kamar kepada teman cowok---yang sekarang (tahu-tahu) tidur di sebelahnya---terancam ketahuan. Pagi ini keluarganya hanya beberapa meter jauhnya! Duh, kacau...
Dan kekacauan tersebut berujung pada satu ultimatum yang membuat Priyayi pusing harus mempertaruhkan masa depan dan hubungan cintanya.
Jadilah kisah cinta yang rumit, mengharukan dan sedikit egois.
Andai saja anakku belum membaca buku ini, pastilah aku nggak buru buru pingin nyelesaiin baca, dan sudah berhenti di bab pertama. Karena kupikir tidak ada gizi yang bisa aku ambil dari buku ini. (Maaf ya, Lusi...). Sama sekali aku tidak suka dengan ide 'tinggal serumah' cuma berdua yang dilakukan oleh Jagad dan Yayi. Ide untuk menerima kos laki laki di rumah perempuan lajang yang tinggal sendiri adalah benar benar menantang dan mengundang setan. Dan akhirnya, kejadian juga, sepulang pesta, dan mabuk. Udah gitu kepergok sama Kakek, Mama dan Papa Yayi, yang ngedadak datang, sekaligus Mama dan Papa Jagad. Pembelaannya, mereka melakukan dalam keadaan mabuk. (Yang di akhir buku di ralat sendiri oleh penulis via Yasmin-bahwa mereka nggak benar benar mabuk, toh Yayi masih bisa nyetir dari apartemen Kumala sampai rumah). Dan akhirnya Jagad dan Yayik dipaksa menikah.
Ide konyol lain adalah nikah pura pura yang mereka lakukan. Tinggal serumah layaknya suami istri, tapi masing masing masih jalan dengan pacarnya. Duh duh.. serasa aku lagi melanglang ke dunia mana dan di jaman apa... (*sembari berpikir apa aku yang kuper tapi sembari bersyukur juga di lingkaran pertemananku tidak pernah menjumpai hal seperti itu) Sukur deh, mereka nggak nambah dosa dengan akhirnya menikah beneran di akhir cerita.
OK, bintang satu kupikir cukup untuk mewakili penghargaanku dan penghormatanku pada penulis, Lusiwulan sudah berhasil menulis buku.
Ide cerita yang menantang, Priyayi - atau Yayi - mempersilakan laki-laki "nge-kos" di rumahnya. Tapi ya namanya tinggal serumah, hanya berdua, walaupun mereka bersahabat dan punya pacar masing-masing, itu sama sekali gak menutup kemungkinan "tidak akan terjadi apa-apa".
Dan... terjadilah. Dan paniklah mereka berdua, apalagi dengan orangtua mereka tiba-tiba datang berkunjung - dan bersamaan pula waktunya. Akhirnya, mereka dipaksa menikah tapi kenyataannya, mereka pura-pura dan masih jalan sama pacar masing-masing.
Ew, walaupun ceritanya buatku biasa, nggak mengandung konflik berat, tapi setidaknya menarik dan lucu karena nggak serius-serius amat dan masih ada joke-nya :)
Kalo saya baca ini pas masih SMA, mungkin bakal suka kali ya. Tapi ini, percakapan ga jelas, berantakan, ga tau siapa yg ngomong tiba2 muncul “...” “...” !??? Ceritanya simple tapi dipaksakan. Btw, yg kurang dr novel indo klo udah menyangkut sex scene adalah tidak ada mention soal kondom. It’s very important, apalagi klo pembacanya (jujur aja, ak baca metropop saat SMA, dan aku yakin, semenjak metropop keluar, adek2 kelasku pasti ada yg penasaran utk baca) masih muda2, perlu diajarkan utk mencegah kehamilan dong. Beda sama novel luar yg modern setting, pasti ada mention, walopun digambarkan secara hot sih.
Bingung aja sih sama Priyayi yg ga khawatir klo dia bisa hamil dan cek ke dokter/klinik, Jagad juga sama2 clueless. Taunya ena2 aja. Maybe Priyayi is lucky.
Gini nih klo ga puas, panjang ngomelnya. Maafkan aku yaa, mba author 🙏
aduh.....novel ini menurutku ga' enak dibaca. meskipun ceritanya lumayan...tapi waktu aku baca novel ini kayak dengerin cerita dari orang ketiga atau keberapa gitu. jadi bukan aku yang seolah olah menjadi perannya atau mendengar langsung dari orang pertama. payah deh...
I really love this book!! yang aku lakukan wktu baca ini, ketawa-tawa sambil geleng-geleng kepala, membayangkan gimana kalo aku jadi Priyayi... namanya juga unik,, lebih bagus dari 'Pacar Alternatif'...
Gue tadinya tertarik buat beli novel ini, tapi temen gue udah ada yang beli jadi gue tinggal minjem. Gue kira seru, tapi ternyata ceritanya biasa aja. Bahkan gue sekarang lupa gimana ceritanya, udah keburu nyampur sama teenlit2 yang lain -,-
lumayan laah buat dibaca, tapi yang awalnya 'nampung' Jagad buat keliling Eropa itu, kok jadi kaya terlupakan waktu akhir-akhir yaa ambisi awalnya Yayi ga diceritain lagi di akhirnya terus, yang punya pacar di status yang udah menikah itu, nggak terlalu suka juga
“Kalian menikah!” Gantian Kakek yang berseru. (halaman 79) Priyayi merapikan posisinya sesaat. “Aku sudah mikirin ini baik-baik. Kita nikah di hadapan Kakek, tapi kita tetap berteman...” (halaman 91) OH MY GOSH!! Jangan pikir ini adalah novel tentang pernikahan dini. Tentang sepasang remaja yang terpaksa menikah gara-gara hamil duluan, alias MBA (Married by Accident). Oke, setengah benar..., di bagian “MBA”-nya. Tapi mereka bukan sepasang remaja. Dan si cewek juga nggak hamil. Si cewek dan cowok itu adalah Priyayi dan Jagad, yang sudah berumur 24 tahun. Mereka tinggal serumah karena Priyayi menemukan ide bagus untuk menambah pemasukan celengannya demi cita-citanya jalan-jalan sampe mampus ke Eropa. Ide bagus itu adalah dia akan menyewakan sebuah kamar kosong di rumahnya yang ia tinggali sendiri. Juga karena Jagad yang sedang tak punya tempat tinggal dan terbelit masalah finansial..., maklum baru satu bulan bekerja sebagai guru matematika. Jadilah mereka berdua tinggal satu atap, berbagi ruang, nggak lebih (katanya). Seorang gadis dan laki-laki tinggal serumah, sementara status mereka berdua hanya teman. Ini memang nggak etis. Apalagi kedua orang itu sama-sama sudah memiliki tambatan hati. Malah Priyayi dan Jimmy, pacarnya, sudah merencanakan masa depan bersama. Jimmy memang kurang setuju dengan keputusan Priyayi yang menerima Jagad dalam rumahnya, tapi dia mencoba berbesar hati. Sedangkan di pihak lain, Syamila, pacar Jagad, tak mengetahui bahwa pacarnya itu tinggal di rumah seorang cewek. Awalnya semua berjalan normal. Keadaan menjadi runyam ketika Syamila akhirnya mengetahui di mana dan dengan siapa Jagad tinggal serumah. Makin menjadi-jadilah saat orang tua dan Kakek kesayangan Priyayi serta orang tua Jagad tanpa sengaja datang ke rumah Priyayi berbarengan di suatu pagi. Mungkin nggak akan terlalu mengejutkan jika saja Jagad nggak keluar dari kamar Priyayi dengan tampilan khas baru bangun tidur. Semua orang pasti bisa menyimpulkan apa yang telah terjadi. “Ehh... emm...” Priyayi berujar terbata-bata. “Jagad main game semalaman di komputerku...” “JANGAN BOHONG!” Kelima orang berseru bebarengan. (halaman 77-78) Well, salahkan hasrat yang muncul tiba-tiba lantaran tubuh terkuasai efek mabuk minuman keras. Mereka melakukan “hal itu” hampir tanpa sadar dan menyesalinya kemudian. Akhirnya mereka menikah, demi menyenangkan Kakek Priyayi yang sampai jatuh sakit karena shock. Mereka memang menikah, tapi itu hanyalah bagian dari rencana Priyayi. Bermain peran, judulnya. Yah, mereka berpura-pura sebagai sepasang suami-istri muda yang bahagia, tapi di balik itu, mereka tetap menjalin hubungan dengan pacar masing-masing. Beberapa kali Priyayi ketahuan sedang berduaan dengan Jimmy. Begitu juga Jagad, yang kepergok oleh Kumala (teman Priyayi yang seorang adventurer) sedang ketemu berdua dengan Syamila. Hal ini menambah beban Yasmin (sahabat Priyayi yang tahu rahasianya tentang “bermain peran”), yang harus menjaga rahasia semua orang, sementara ada pihak lain yang akan marah jika nggak dikasih tahu tentang rahasia itu. Lalu Jagad melakukan sebuah kesalahan besar: jatuh cinta pada Priyayi. Apakah Priyayi juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya? Bagaimana jadinya hubungan mereka dengan pacar masing-masing? Juga, gimana jadinya pernikahan mereka itu? Tema cerita yang diusung oleh Lusiwulan dalam novel ini memang klise. Dua orang cewek-cowok terpaksa tinggal satu rumah. Lalu melakukan “hal yang bikin keenakan” itu tanpa sengaja (kalau nggak sengaja, gimana bisa? Hahah). Terpaksalah juga mereka menikah, padahal tak saling cinta. Salah satu dari mereka, atau keduanya, (saling) jatuh cinta. Alur cerita ini memang gampang ditebak, tapi anehnya, novel ini laris manis, sampai cetak ulang ketiga kali, lho! Gimana bisa begitu? Menurut saya, mungkin karena: (1) gaya bahasa Lusiwulan yang mengalir lincah, bikin pembaca betah, apalagi dengan banyolannya yang jayus. Cocok banget buat bacaan hiburan. Kayak begini contohnya: “Lantaran mereka semua hidup di alam, maka berlakulah hukum alam, salah satunya adalah manusia boleh berencana, tetap Tuhan-lah yang menentukan. Jadi, selalu ada satu-dua hal meleset di luar rencana. Pasangan yang pakai kontrasepsi aja bisa kebobolan, apalagi yang bukan pasangan. Lho, kok gini analoginya?!” (halaman 29-30). Haha, silakan ngakak :p. (2) meski begitu, tetap ada pesan moral yang disampaikan oleh Lusiwulan secara lugas dan sederhana. Seperti ini: “Kalau terus saja terpaku memikirkan dan menyesali itu, kapan kita maju untuk melanjutkan hidup? Walaupun untuk kesalahan itu berarti kita harus siap menerima konsekuensinya...” (halaman 86) (3) nggak banyak deskripsi tempat. Semua setting diceritakan oleh Lusiwulan dengan singkat, sederhana, tapi cukup memberi gambaran pada pembaca. Penulis lebih menekankan interaksi interpersonal dan intrapersonal tokohnya. Hal ini membuat cerita dengan lincah melompat dari satu adegan ke adegan lainnya, terasa asyik bagi pembaca. Mungkin jika ini adalah novel yang berkonsep jalan-jalan, atau semacam seri STPC-nya Gagasmedia, poin ini justru akan menjadi kelemahannya. (4) saya pribadi sangat suka dengan keberadaan subbab-subbab pada novel ini, bikin nggak bosan (saya selalu suka novel yang terdiri dari bab yang pendek-pendek, tapi jika bab itu lumayan panjang, dengan adanya subbab akan sangat membantu agar tak jenuh). Dan subbab itu juga lucu-lucu, unik, dan bikin penasaran. Matahari terbit, suplai oksigen (halaman 86). Perayaan, “uji akting” (halaman 159). Seharian, sesuatu yang lain (halaman 206). Smart idea, Kak Lusiwulan! Jadi pengen mencoba bikin novel dengan subbab unik kayak begitu. Hehehe. (5) novel ini.... ANTI TYPO!!!! (maksudnya, ada typo tapi dikiiiiit banget, yang jelas nggak mengganggu ). Selain alasan-alasan itu, saya juga suka dengan cara berpikir Priyayi. Bahwa ia tak setuju dengan cara pandang Kakeknya dalam menghadapi insiden yang menimpa cucunya itu. Yaitu tentang kehormatan, yang mengalahkan perasaan dan kasih sayang. Pandangan seperti ini umum dimiliki oleh para orangtua zaman bahula. “Kenapa menyelamatkan muka lebih penting, Kek? Kenapa nggak nerima aku apa adanya?” (halaman 118) Di sisi lain, saya setuju dengan sikap Mama dan Papa Priyayi yang menerima anaknya apa adanya, tanpa menghakimi. Meskipun awalnya mereka syok. “Apapun kesalahanmu, selama kamu menyesalinya, mama dan papamu akan menganggap itu berlalu, cuma sedikit masa lalu. Masih banyak yang lebih baik di depan.” (halaman 83) Keren banget. Merekalah contoh orang-orang dewasa yang BENAR-BENAR DEWASA. Meski, saya yakin, masih jarang di Indonesia orang tua yang berpikiran seperti itu, mungkin termasuk orang tua saya (sungguh disayangkan). Satu hal yang agak mengganggu saya adalah, kadang, penjelasan tentang setting waktu dan tempat terlalu minim (meski ini salah satu poin lebih dari novel ini), hingga kadang saya bingung ini kejadian kapan dan di mana. Padahal tadi lagi ngapain, kok sekarang ngapain. Juga ada beberapa adegan dialog tanpa keterangan siapa yang bilang apa, membuat agak bingung. Overall, saya suka buku ini. Ceritanya ringan, cocok sekali untuk para pembaca yang sedang ingin membaca novel sebagai hiburan, nggak pake mikir berat ^^.
Demi rencana jalan-jalan mengelilingi Eropa, Priyayi berniat mencari penghasilan tambahan dengan menyewakan kamar di rumahnya. Bersamaan dengan itu, Jagad temannya membutuhkan tumpangan karena rumah yang ditempatinya sedang direnovasi. Dengan niat membantu teman, Yayi membolehkan Jagad untuk tinggal di rumahnya.
Tentu saja keluarga Yayi tidak boleh tahu. Tapi Yayi tidak bisa merahasiakan hal itu pada Jimmy, kekasihnya. Meski Jimmy keberatan, Yayi tetap melaksanakan rencananya menyewakan kamar. Namun, karena satu kejadian, Yayi dan dan Jagad berakhir di dalam kamar yang sama dan kepergok keluarga Yayi juga keluarga Jagad. Buntutnya Yayi harus menikah dengan Jagad atas permintaan Kakeknya Yayi. Meskipun sudah menikah dan tinggal serumah, Yayi dan Jagad tetap hidup sendiri-sendiri. Tidak boleh ada yang tahu jika mereka hanya pasangan jadi-jadian.
Ini pertama kalinya saya membaca karya Lusiwulan. Sebenarnya ceritanya lumayan, asyik untuk diikuti. Tapi karakter Jagad yang lempeng dan cenderung pasrah pada keputusan Yayi membuat pasangan ini terasa berat sebelah. Yayi sebenarnya berusaha membuat Jagad juga bahagia dengan membebaskan Jagad saat akan berbaikan dengan mantannya. Apalagi Yayi pun masih mencintai Jimmy.
Penuturan cerita dalam novel ini juga seperti terbagi dalam sub bab (iya ada judul sub bab-nya gitu) yang menegaskan waktu kejadian. Hanya ada beberapa bagian yang seperti melompat waktunya, jadi kesannya ceritanya terpotong. Ada beberapa plothole juga, tapi over all masih bisa diikuti kok. Kalau butuh cerita ringan, dengan narasi nakal yang membuat tertawa silakan dibaca novel mteropop satu ini.
Aku udah baca buku ini 2x. Pertama waktu SMP, dan sekarang waktu udah umur 25. Beda banget kesannya. Mungkin waktu masih SMP aku bakal kasih bintang 5 karena buku ini emang menawarkan fantasi tentang dunia percintaan. Apalagi tentang dua orang yang jatuh cinta karena udah kebiasa dengan presence nya masing-masing.
Sekarang cuma bisa kasih bintang 3 soalnya menurutku jalan ceritanya kebanyakan introduction. Jadi intinya kan pas mereka ketahuan dan disuruh nikah itu. Eh ini konfliknya baru mulai kayak 40% dari bukunya. Jadi yang di depan sebelumnya agak boring.
Overall, aku rasa penulisnya terbilang pinter karena udah bisa memposisikan diri buat target readernya.
2,5 bingang untuk buku ini. Awalnya aku suka sama penggambaran cerita, tapi makin lama makin bikin males. Sebenernya idenya cukup bagus, gaya bahasanyapun udah oke. Tapi mungkin pemantapan karakternya yang blm maksimal. Pertama: mimpinya Priyayi yang nggak di ekspos lebih dalam, seolah setelah beberapa bab alasannya nerima
the problem is me. back to back baca tentang fake dating/relationship. oh, jadi tahu juga sih, kenapa nggak dari dulu baca ini dan dulu nggak suka sama dimi is married karena aku memang nggak suka sama thrope ini. terlalu maksain buat adegan meet cute-nya, kayak karakternya nggak dikasih kesempatan berusaha biar ketemu jodohnya.
dulu saat buku ini naik cetak, tema semacam ini masih jarang. sekarang mah sudah banyak yang mengangkat tema seperti ini. hanya saja setelah re-read buku ini aku masih menyukainya. konfliknya halus sangat. bagiku endingnya bisa lebih ciamik lagi.
Dari judulnya yang komik, kupikir buku ini masuk dalam genre komedi. Awalnya sih berharap romcom tapi ternyata bagian 'rom'nya tidak terlalu dieksplor. Komedinya memang sukses bikin senyum-senyum gaje meski tidak sampai terbahak-bahak.
Buku ini bercerita tentang Yayi yang mengijinkan temannya Jagad untuk menyewa sebuah kamar di rumahnya karena kos-kosan si Jagad sedang renovasi. Tinggal bersama itu kemudian malah merusak hubungan mereka dengan kekasih masing-masing dan sebuah 'kecelakaan' membuat mereka terpaksa menyetujui pernikahan yang diajukan kakek Yayi yang sedang sakit. Tanpa setahu kedua keluarga, Yayi dan Jagad menyepakati bahwa pernikahan mereka hanyalah resmi di atas kertas saja dan memutuskan hanya berteman alih-alih serius berumah tangga benaran. Meski idenya absurd -karena serius seorang Jagad yang punya Danu sebagai sahabat memaksa Yayi untuk bisa nyewa di rumahnya? Padahal di awal cerita dikisahkan hubungan mereka bahkan tidak mencapai level sahabat untuk bisa melakukan pemaksaan seperti itu- tapi aku suka cara penuturan penulis. It's a romcom, remember? :) Dan hampir semua perempuan suka semua kisah kawin paksa, tak peduli sudah pernah baca berapa ratus judul dengan tema sama. Hehehe... Hanya saja, karena penulis memakai POV 3 dan dia bisa melihat dari semua sudut pandang, dia kurang mengeksplor isi hati dan isi kepala para tokohnya. Padahal jika itu dilakukan, aku akan bisa lebih menikmati cerita ini. Karakter Jimmy juga membingungkanku. Suatu saat dia digambarkan seperti kurang peduli pada Yayi, tapi di lain scene di digambarkan sangat mencintai Yayi. Tidak konsisten. selain keluhan di atas, aku lumayan menikmati senyum-senyum gaje membaca buku ini. Buat yang suka bacaan ringan yang tidak ingin ribet berpikir soal logika dan hanya ingin hiburan, you should try this one.
baru baca bab 1 nya dan... nemuin keanehan nyewain kamar,demi dapet uang buat jalan-jalan keliling eropa dalam waktu yang tak terbatas, disitu tertulis ortu cuman baiyain tiket pesawat bolak-balik pulang pergi, dan biaya hidup 1 minggu... something weird right?? masa cukup nyewain 1 kamar buat biaya keliling eropa??? waktu jalan2 tak terbatas pula....emang pengarangnya ini mikir ke eropa = ke bali apa??*bali aja belum tentu cukup kalo belinya macem2* ;p ------------------------------------------------------------------------ setelah baca: gw cukup suka sama ceritanya walaupun ada keanehan di bab 1 selanjutnya fine2 aja... hmm cuman yg bikin ga ngasih 4 gara2nya di buku ini bener2 ada pihak2 yang terluka yaitu pasangan yayi(adji) dan pasangannya si jagad... well, yg bikin gw rada ga enaknya gara2 penulis juga masukin cerita dari sudut pandang adji *bikin pembaca menye2 kayak gw ngerasa gimana gitu* gw berharap di cerita ini adji is a jerk, but he isn't :(
bahasan yang biasa namun tidak biasa. yang gue maksud biasa adalah tema yang membahas tentang pernikahan 'paksa' antara tokoh cewek dengan cowok. dan yang bikin tidak biasa: nama tokoh (Priyayi dan Jagad) yang unik, aksen Indonesia, kemudian alasan mengapa mereka dapat menikah juga alasan mereka pergi untuk nantinya berusaha kembali lagi bersama.
Gaya bahasa cukup ringan untuk gue, alur oke karena begitu ringan dan mengalir. tidak terkesan dipaksakan dan malah begitu saja mengalir apa adanya.
4 bintang, karena gue suka dengan model cerita seperti ini. cocok dibaca ketika waktu senggang untuk menghibur. gue pasti selalu baca buku ini tiap kali lagi beresin lemari. favorite. hanya saja kurang sempurna karena tema yang dibahas masih terlalu 'biasa'.
Buka baca tutup buka lagi baca lagi seperti itulah kelakuan saya pas baca buku ini. Mungkin karena chemistry antara Jagad dan Yayi yang menurut saya kurang *baca sangat kurang* Lagi pula aneh juga masa iya cewek mau menampung cowok dirumahnya? Apa gak bisa kreatif dikit gitu si Jagad di 'ungsikan' ke rumah pacar Yayi atau gimana kek kaya Jagad udah gak punya temen laen aja. Si Jagad juga gak tau malu banget 'maksa' ditampung Yayi. Eh tapi kalo gitu mana mungkin yaaa kan nantinya gak bakalan jadi novel. Mungkin karena temanya 'selingkuh' yang gak cocok sama saya jadinya saya cuma kasih bintang satu. Tapi kalo perlu bacaan yang ringan, cepet selesai, gak perlu banyak mikir novel ini bisa jadi pilihan
Ehmmmm sejujurnya membaca novel ini karena lagi nggak ada kerjaan, dan hanya ada beberapa buku yang kelihatannya menarik setelah membaca sinopsis di belakang.
Ya, aku setuju dengan beberapa reviews yang sudah ada sebelum aku tulis review ini. Ada banyak keanehan, dan ide awal Yayi untuk jalan-jalan ke Eropa rasanya seperti... terlupakan karena cinta. Haha.
Dan ide si cewek yang lajang (ok, status pacaran) untuk mengizinkan seatap dengan cowok itu rasanya... tidak mendidik :| Target dari pembaca novel ini adalah remaja, dan kurasa budaya Indonesia bukan seperti ini.
Tidak ada hal yang bisa dipetik dari novel ini. Sayang sekali.
terlalu telat mungkin membaca buku ini mengingat terbitnya dari beberapa tahun yang lalu.. ide yang diceritakan mungkin tidak baik karena dengan adanya cowo cewe tinggal serumah bareng kesannya gimana gitu ya -__-
tapi cerita yang dikemas jujur aja bikin gue senyam senyum sendirian pas baca ini. banyak adegan romantis yang bikin cerita ini menarik.. memang ada beberapa adegan dewasanya sih,makanya buku ini diperuntukkan hanya untuk yang cukup umur *hahahaa*
banyak kejadian menarik yang bikin gue baca buku ini hanya semalaman aja,gk mau berhenti bacanya!! makanya gue kasih 4 bintang. sukses trus untuk kak Lusi ^^
Beli buku ini kebetulan aja, karena gak ada buku menarik lainnya. Daripada rugi ke Gramedia gak beli apa-apa, yah akhirnya beli buku ini aja walaupun temanya sudah umum banget. Ceritanya sebenarnya biasa saja, tapi dikemas dengan lumayan menarik. Cuman kadang ada beberapa adegan yang menurutku tidak masuk diakal (namanya juga cerita..) Hehe.
Overall, saya suka membaca buku ini. :) Mungkin karena karakter cowoknya yang kusuka. Hehehe.
ini novel yang 'manis'. meskipun saya lupa nama tokoh-tokohnya sama detail alurnya, manisnya itu masih terasa di hati saya. yang saya ingat dari novel ini adalah si pemeran utama cewe sama cowonya harus tinggal satu rumah karena kedapatan mereka tidur satu ranjang waktu mabuk. jadi orang tua meraka memaksa mereka tinggal bareng kalau ngga salah. saya lupa-lupa ingat ceritanya, tapi 'manis'nya masih terasa. jadi 4 bintang buat novel ini.
Well ceritanya nggak ngena, penggunaan bahasanya juga aaaaaah bikin saya berkali-kali menyerngit saat membaca. Mungkin kalau saya bacanya dulu-dulu bisa asyik aja, tapi kalo sekaramg rasanya so yesterday sekali hehe. Openingnya juga agak sedikit melantur dari isii keseluruhan buku, dan gak dibahas2 lagi. Entahlah mungkin saya yang lelah saat membacanya hehe
Ha!! nggak salah udah jauh-jauh ngubek2 toko buku d kota orang dan menemukan novel ini. Nggak salah juga udah lama memendam rasa pingin baca yang satu ini *gejeh ya??* Well,, intinya sepadan lah penantian saya setelah menunggu lama hingga akhirnya bisa juga baca novel yg notabene uda lama ini. Dan sudah ada versi FTV nya kan? woth it!! 5 stars dari saya
Menurut aku buku ini sangat seru dibaca yang bikin kita pengen tahu selanjutnya apa? Terus plotnya , karakternya pokoknya semuanya seru banget . Mulai dari keluarganya priyayi sampai jagad, aku suka banget jalan ceritanya. Buku ini kira-kira udah aku baca berkali-kali tapi aku gak bosan-bosan juga !
Jujur saja aku bosen banget bacanya, beberapa hari terhenti dan hampir DNF. Untungnya diakhir2 tiba2 aja ceritanya bisa menarik aku buat tetep lanjut baca. Selain itu, entah akunya yg emang lemot atau emang cara penyampaian ceritanya yg salah aku suka bingung sama kalimat2nya. Suka gak mudeng sama maksud kalimatnya
Suka sama tokoh utamanya, Priyayi dan Jagad. Unik! Meski ide sewain kamar itu agak sedikit nggak masuk akal. Emang dengan menyewakan kamar bakal cepet dapat modal untuk keliling Eropa ya? Tapi ceritanya sih cukup seru juga :)
semenjak baca zizi, mulai ngukutin lusiwulan. cerita ringan tentang dunia muda mid 20's bikin senyum-senyum silly... khas lusi, si cewe berada di situasi antara dua pilihan.
cara ceritanya yang ringan dengan narasi-narasi yang nakal membuat novelnya tak terasa sudah di halaman terakhir. :__)))
Novel ini berisi dialog ringan dan renyah. Penokohan, sebel sama Jagad yang terlalu baik dan manut sama Yayi. Yayi juga suka semena-mena dan cengeng. Tapi kalau di kehidupan nyata kayaknya gak mungkin deh orang tinggal berdua serumah cewek-cowok tanpa dihebohin warga, kecuali di apartemen kali ya.