Buku ini terbilang tipis, tapi ceritanya ternyata tergolong rumit juga. Seharusnya sih bisa lebih tebal dan panjang seandainya penulis nggak menyingkat adegan dengan menggunakan narasi. Buku ini pertama terbit tahun 1982, tapi kayaknya udah diperbarui. Masa tahun segitu udah ada handphone? Selain itu uang Jerman disebutkan dalam bentuk Euro. Sayang, kalo mau diperbarui seperti itu, batasan umur seorang wanita pantas menikah atau setidaknya punya pacar, juga harusnya diperbarui. Sekarang kan udah naik jadi umur 30. Apalagi di Jakarta. Dua lima sih masih wajar aja belom nikah atau single.
Novel ini bercerita soal perempuan lugu dan sederhana bernama Arini. Dia dijadikan "alat" oleh sahabatnya sendiri demi menyembunyikan perselingkuhannya dengan lelaki bernama Helmi. Waaah, ternyata Indonesia juga punya penulis semacam E.L James, nih. Enggak, deng. Becanda. Tapi memang ada adegan dewasanya, yang gak aku harapkan berada di sini. Kirain gak akan disodorin itu.
Kalo baca gaya menulisnya, rasa-rasanya sebelas dua belas sama Threes Emir. Terbilang simple dan banyak menyingkat adegan dengan narasi. Lalu berkesan banyakan tell-nya daripada show-nya. Apakah seperti itu ciri khas penulis roman era 80-an?
Aku berharap banget cerita ini bisa diperluas lagi. Menarik kok sebenernya. Semua karakter berasa manusiawi banget di sini. Arini yang lugu, karena kekecewaan yang mendalam pada Helmi dan Ira, bisa berubah menjadi bengis, apalagi setelah melahirkan anak. Lalu Ira yang egois banget, sampe aku gak nyangka ada cewek seperti dia, pada akhirnya bisa berbesar hati juga demi cintanya pada Helmi. Lalu Helmi sendiri yang cinta mati sama Ira harus mengenyahkan perasaannya demi kesembuhan Ella, anaknya bersama Arini. Dan kehadiran tokoh Nick juga bikin novel tipis ini lebih berwarna. Dan pastinya soal dunia kerja Arini juga menarik banget, di mana dia harus bergelut antara bersifat profesional atau lebih mengutamakan dendamnya dia pada Helmi.
Lumayan mengaduk emosi dan plot twistnya juga oke. Gak ketebak. Kurangnya cuman itu, kurang dieksplor. Lagi-lagi aku mengeluhkan, kenapa adegan harus disingkat pake narasi??? Sebel! Aku berharap ini adalah versi singkatnya, dan sebenernya memang ada versi panjangnya somewhere outhere in the bookstore...
Terakhir, ada kalimat ironis yang bikin aku ketawa dari novel ini:
"Kamu memang susah diatur! Orangtuamu pasti tiap hari mengurut dada!"
"Nggak juga," Nick tersenyum pahit. "Ayahku mengurut paha sekretarisnya. Ibuku mengurut kaki pacarnya." HAHAHA.
To all the parents with broken marriage... Look what you've done to your kids. Jangan kira anak-anak gak ngerti apa yang kalian perbuat. Hatinya terluka dan kecewa berat sama kalian. Lalu kenapa kalian mengharapkan mendapat yang terbaik dari mereka? You are their first role models. Just be careful!