Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Rate this book
INILAH New York, dan Umar Kyam bercerita dari dalamnya. New York adalah satu raksasa pemakan manusia. Raksasa ini entah karena kena penyakit apa, tidak pernah merasa kenyang biar dia sudah makan berapa ribu manusia. Karena itu mulutnya terus saja menganga tidak sempat menutup. Segala manusia, putih hitam, kuning, coklat, besar, kecil, ditelannya tanpa pilih-pilih lagi”. Umar Kayan mengutip perubahan itu dalam cerita Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa, cerita kedua dan yang terpanjang dalam kumpulan ini. Secara tipikal, dia tidak menyatakan adakah dia setuju atau tidak dengan karikatur tentang New York tersebut. Namun 6 buah cerita pendek yang ditulisnya selama ia hidup di kota itu semuanya dengan latar Manhatan (sebuah “belantara”, katanya) menampilkan kota jutaan itu sebagai dunia yang menarik, tapi murung. “Aku melihat ke luar jendela. Ribuan pencakar langit kelihatan seperti gunduk-gunduk bukit yang hitam, kaku dan garang.”

Begitulah, New York sebuah paradoks. Jutaan manusia hidup di dalamnya, tapi ia nampaknya lengang. Di apartemennya sang isteri Indonesia kesepian, juga seorang wanita ganjil yang memasang namanya sebagai Madame Schlitz: seorang wanita entah dari mana, tinggal hanya bersama seekor anjing yang dilatihnya menyanyi, sembari ia sendiri belajar yoga dan kepada tamunya menceritakan biografinya yang mungkin tidak betul — untuk kemudian menghilang tanpa bekas.

Atau Jane dan Marno. Si wanita berpisah dari suaminya dan si pria berpisah dari isteri dan tanah airnya. Mereka berpacaran. Kemudian rutin dan bosan. Si wanita mengulang-ulang cerita yang lapuk untuk mengisi kehampaan bicara, tapi si pria terkenang akan hal lain: isterinya, bunyi cengkerik dan “ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa”. Keduanya berpisah. Dan lihatlah si Sybil : gadis 15 tahun yang tersia-sia (ibunya yang miskin lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur bersama majikannya), tiba-tiba saja menemukan semacam penglepasan diri dalam suatu tindakan tanpa rencana, ia membunuh si Susan, 6 tahun, yang seharusnya dijaganya.

Lebih merasa tersiksa lagi kakek Charlie Si kakek menjalani hari-hari tuanya di Central Park, main karousel setiap hari seperti anak-anak membayangkan dan sebagai tokoh legendaris ketua suku Indian Chief Sitting Bull, untuk kemudian menemui “pacarnya”, nenek Martha, dengan siapa ia menaburkan makanan untuk burung-burung seraya mengeluarkan perlakuan buruk anak dan menantu mereka masing-masing Chief Sittilg Bull bisa merupakan ilustrasi yang baik buat studi Simone de Bouvoire tentang nasib orang-orang lanjut usia di masyarakat industri oknum yang tak lagi berguna, seperti sepah, yang mencari harga dirinya dalam hal-hal yang kacau oleh ketinggalan zaman

260 pages, Paperback

First published January 1, 1972

119 people are currently reading
3117 people want to read

About the author

Umar Kayam

38 books144 followers
Many predicate have been given to Umar Kayam. He was a writer, lecturer, bigscreen artist. Most of his time was spended as a lecturer at Gadjah Mada University, Yogyakarta.

Bibliography:
* Sri Sumarah (Pustaka Jaya, 1975)
* Para Priyayi (Pustaka Jaya, 1992)
* Jalan Menikung/Para Priyayi 2 (Pustaka Jaya, 2002)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
357 (28%)
4 stars
500 (39%)
3 stars
307 (24%)
2 stars
63 (5%)
1 star
24 (1%)
Displaying 1 - 30 of 129 reviews
Profile Image for e.c.h.a.
509 reviews257 followers
April 25, 2020
Setiap cerita meninggalkan kesan berbeda saat membacanya; haru, bahagia, kesel, marah. Dr sepuluh kisah, 3 kisah sukses menjerat gw; Musim Gugur Kembali di Connecticut, Bawuk & Sri Sumarah. Dgn berlatar kemelut politik, umar sukses meramunya menjadi kisah yg hebat. Pengorbanan, ketabahan, perjuangan, cinta, kemandirian menghiasi ke 3 kisah tersebut. Membuat gw mengagumi sosok Istri Tono, Bawuk & Sri Sumarah. Mereka perempuan hebat. Dan musim gugur itu menjatuhkan keharuan, mengiringi Bawuk & menyejukan Sri.
Profile Image for raafi.
930 reviews452 followers
October 25, 2021
Mau banget baca karya beliau yang lain karena versi ini hanya memuat 6 cerita saja. Penasaran dengan versi aslinya yang satu buku berisi lebih dari 200 halaman.
Profile Image for Astri.
27 reviews4 followers
January 27, 2025
Buku ini memuat 14 versi cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Versi pertama, versi bahasa Indonesia. Versi kedua hingga keempatbelas adalah versi bahasa daerah.Siribee Meuk di Manhattan (Bahasa Aceh),

Hillophillop Ni Lampoting di Sosor Manhattan (Bahasa Batak Toba),

Saribu Api-Api di Manhattan (Bahasa Minangkabau),

Saribu Cicika di Manhattan (Bahasa Sunda),

Sewu Kunang Ing Manhattan (Bahasa Cirebon),

Konang-Konang Ing Manhattan (Bahasa Jawa),

Prappa’na Nang-Konang Nabuy E Manhattan (Bahasa Madura),

Siu Kunang-Kunange Ring Manhattan (Bahasa Bali),

Seribu Ntep-Ntep Leq Manhattan (Bahasa Sasak),

Sisakbu Kullu-Kullu ri Manhattan (Bahasa Bugis Makasar),

Sisebbu Api-Api Ri Manhattan (Bahasa Bugis),

SangSa’bu Lupeppe’ Dio Manhattan (Bahasa Toraja),

Sallessorang Belung-Belung Dio Manhattan (Bahasa Mandar).

Profile Image for Saad Fajrul.
120 reviews2 followers
May 26, 2018
nice story,

setelah bertahun memendam rasa ingin yang dalam untuk membaca cerita ini, tempo hari saat sedang menemani kawa di sebuah perpustakaan kampus negeri saya menemukan buku ini di sebuah rak. Maka di sanalah Marno dan Jane berbincang, Manhattan yang malam dan disiram lampu - lampu kota.

well, versi jawanya menarik juga
Profile Image for Toffan Ariefiadi.
Author 1 book10 followers
March 12, 2010
Apa yang bisa kalian bayangkan tentang Manhattan? Sebuah pulau. Ya, sebuah kota-pulau yang mengelilingi kota New York (dengan beberapa pulau kecil lain) dan membentuk apa yang sekarang dikenal sebagai New York Country.

Apa yang istimewa dari sebuah pulau bernama Manhattan dalam buku ini? Umar Kayam. Ya, sastrawan Indonesia ini mendeskripsikan Manhattan dengan sangat baik. Seolah-olah saat membaca beberapa cerita dalam buku ini kita diajak oleh Umar Kayam berkeliling dan menjelajahi Manhattan dan kota-kota lain di New York.

Amazing alias menakjubkan. 6 (enam) dari 10 (sepuluh) cerita dalam buku ini mengulas kota Manhattan, perilaku masyarakat Manhattan, kebiasaan, kesenangan, bahkan kriminalitas sebagai latar belakang cerita. Yang menarik adalah bahwa setiap cerita meninggalkan kesan sendiri-sendiri. Setiap cerita mengalir begitu cepat seakan-akan ingin cepat diselesaikan, tapi saat sampai di kalimat akhir cerita tersebut samar yang membuat pembaca seperti melihat lukisan yang belum selesai sepenuhnya tapi sudah selesai. Ah, susah mendefinisikannya.

Hebatnya, "Seribu Kunang-kunang di Manhattan" yang menjadi judul buku ini bahkan diterjemahkan ke dalam 13 bahasa daerah Indonesia dan diterbitkan dengan judul buku yang sama.

4 (empat) cerita lain mengajak kita pergi dari Manhattan dan terbang jauh ke Indonesia saat tahun 60-an. Ketika komunis mulai mengakar kuat dan menancapkan ideologinya di Indonesia dan ketika komunis mulai tercerabut akar-akarnya dari Indonesia. 4 (empat) cerita terakhir adalah cerita pendek yang panjang (bukan cerpen koran tapi cerpen yang biasa muncul di Horison). Saya yang biasanya kelelahan membaca cerita pendek yang panjang di Horison merasa beda saat membaca cerita Umar Kayam dalam buku ini. "Bawuk" dan "Sri Sumarah", salah dua karya terbaik Umar Kayam yang dimasukkan ke dalam buku ini.

Dan jangan tanyakan bagaimana Umar Kayam menggambarkan peristiwa tahun 60-an/komunis dan penggambaran tokoh-tokoh dalam 4 (empat) cerita tersebut. Semua sangat mengagumkan dan detil. Sekali lagi, cara bercerita Umar Kayam dalam buku ini sangat berbeda dengan bagaimana dia bertutur dalam bukunya yang lain, kumpulan tulisan kolom Umar Kayam: Mangan Ora Mangan Kumpul.

Berikut kesepuluh cerita tersebut:
1. Seribu Kunang-kunang di Manhattan
2. Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa
3. Sybil
4. Secangkir Kopi dan Sepotong Donat
5. Chief Sitting Bull
6. There Goes Tatum
7. Musim Gugur Kembali di Connecticut
8. Bawuk
9. Kimono Biru buat Istri
10. Sri Sumarah

Dus, pokoknya saya merasa beruntung bisa membaca karya salah satu sastrawan terbaik Indonesia ini.

Selamat Membaca!
Profile Image for Edy.
273 reviews37 followers
October 30, 2011
Buku ini merupakan salah satu karya terbaik almarhum Umar Kayam. Kumpulan cerpen ini merupakan rangkuman dari cerpen pilihan yang ditulis sejak tahun 1968 sd 1980an.

Umar Kayam yang merupakan sosok budayawan intelek, tidak canggung dan tidak gagap menuliskan realisme nilai-nilai budaya Jawa dalam cerpennya. Malah sebaliknya, keahlian beliau untuk memebenturkan kondisi modern dengan nilai-nilai budaya, akan mengajak kita untuk lebih merefleksikan diri terhadap dinamika budaya yang berkembang saat ini. Pemahaman budaya Jawa yang cukup mendalam dan disertai gaya bercerita dengan alur yang sederhana dan bahasa yang mudah dipahami, membuat kita terlempar dalam suasana imajiner yang penuh empathy dengan salah satu tokoh yang ada dalam cerita itu ….

Terima kasih kepada sahabat baikku dik Jenny yang sudah memberikan buku ini sebagai kenangan untukku…..
Profile Image for M Adi.
174 reviews17 followers
April 23, 2021
Baru kali ini menemukan kata pengantar yang sangat berpengaruh, bagaimana menikmati dan menempatkan cerpen-cerpen pada perspektif terbaik. Kata pengantar oleh Eka Kurniawan ibarat memberikan alat makan untuk menyantap hidangan yang disediakan. Betul menjadi teman ngobrol karena pernyataan dan respon yang saling membalas cukup asyik dan apabila berpindah pada peristiwa lain, timbul penasaran bagaimana tokoh mengemukakan isi pikirannya. Tidak sedangkal obrolan pengisi tapi ada maksud dan tujuan yang diupayakan dalam percakapan.

Cerpen favorit: Istriku, Madame Schlitz, & Sang Raksasa; Chief Sitting Bull
Profile Image for miaaa.
482 reviews420 followers
September 11, 2009
Aku termangu. Terdiam seribu bahasa. Terhenyak.

Setiap karakter dalam cerita-cerita ini begitu hidup. They are there, doing things and alive. Kumpulan cerita pendek dengan dua sisi. Sisi yang kiri menunjukkan dunia asing dari mata seorang Indonesia, sisi yang kanan cerminan kehidupan dan kepahitan saat Indonesia melalui gejolak politik.
Profile Image for devie.
47 reviews2 followers
January 7, 2015
cara bercerita Umar Kayam yang berbeda dibanding kumpulan kolomnya yang terkenal itu (seri Mangan Ora Mangan Kumpul).

Dibanding novelnya dan kumpulan kolomnya, kumpulan cerpen inilah karya terbaik Umar Kayam.

(full review in progress)
Profile Image for Sukmawati ~.
79 reviews34 followers
January 5, 2023
Seribu Kunang-Kunang di Manhattan - Umar Kayam. Cetakan Keempat, September 2022, diterbitkan oleh Pojok Cerpen dan Tanda Baca.

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (SKKM) merupakan buku kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh seorang sastrawan asal Ngawi Jawa Timur, Umar Kayam atau Umar Khayam. Enam cerpen dalam buku ini menghadirkan latar kehidupan orang-orang di kota metropolis di Amerika, salah satunya di Manhattan.

Karya klasik yang pernah diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada 1972 ini memiliki ide cerita yang cukup bisa menggambarkan masyarakat perkotaan hari ini. Artinya, buku ini masih relevan dengan kondisi zaman dari masa ke masa.

Kalau boleh dirangkum, lima dari enam cerita di dalam buku setebal 79 halaman ini mengisahkan dinamika kehidupan rumah tangga serta hubungan yang terjalin di dalamnya. Misal, hubungan antar "pasangan" pada cerpen berjudul sama dengan bukunya, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Kemudian ada jalinan kisah percakapan suami-istri yang dinarasikan pada cerpen Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa. Adapun ikatan kekerabatan antara anak dan ibu di kota modern digambarkan melalui cerpen Sybil.

Dalam kisah pertama dan kedua, SKKM dan Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa, pembaca diajak memasuki percakapan antara laki-laki dan perempuan dimana perempuan sangat jelas digambarkan paling dominan. Perempuan cenderung lebih suka bercerita. Adapun laki-laki diposisikan sebagai pendengar yang baik. Tak banyak berkata dan menjawab sekenanya. Bahkan biasanya perempuan berusaha mencari-cari bahan obrolan ketika teman bicaranya mulai merasa bosan, sekalipun perempuan sudah merasa terlalu banyak bercerita. Begitu kurang lebih kesan tersirat dari penceritaan 2 tokoh perempuan dalam 2 cerpen berbeda; SKKM dan Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa.

Selain 3 cerpen yang disebutkan di awal, 3 lainnya cenderung memotret sisi lain dari kehidupan romansa di kota urban. Contohnya, pada cerpen Chief Sitting Bull yang menceritakan keseharian seorang lansia bernama Charlie dengan tingkah polah menggemaskan. Ada pula cerpen There Goes Tatum dimana pembaca diajak ngobrol soal kriminalitas di kota metropol.

Semua terwakilkan secara jelas.
Profile Image for Sheany.
182 reviews61 followers
September 12, 2020
Di zaman sekarang, dengan adanya teknologi canggih dan tentunya media sosial, mudah bagi kita untuk berbagi pengalaman tentang hidup di atau perjalanan ke luar negeri. They say a picture is worth a thousand words, after all. Ucapan itu tidak salah, tapi terkadang butuh lebih dari seribu kata untuk menggambarkan suatu tempat dan pengalaman merantau.

Hal itulah yang saya tangkap betul saat membaca cerpen-cerpen Umar Kayam, seorang penulis yang asing bagi saya karena sejujurnya saya hanya tahu sedikit saja tentang dunia sastra Indonesia. Berkat seorang kawan (Sarah) yang baik hati memberikan koleksi tulisan ini sebagai hadiah, wawasan saya di bidang ini pun menjadi lebih luas, dan saya merasa seakan telah diperkenalkan lagi pada dunia lewat persepsi Umar Kayam.

I've been into short stories lately. Saya takjub dengan sepenggalan cerita-cerita yang tidak panjang ini, namun mampu menggerakkan hati dan pikiran kita dengan hebatnya. Entahlah, saya yang masih belajar menulis ini tergelitik sesungguhnya, seperti ingin mengikuti jejak mereka tapi belum punya kemampuan narasi yang kuat. Mungkin suatu hari, secepatnya.

Dari 6 cerita pendek yang ada dalam koleksi ini, "Secangkir Kopi & Sepotong Donat" adalah yang paling saya sukai. Apa pun yang berbau kedai kopi dan rutinitas minum kopi itu selalu menarik perhatian saya, and the hopeless romantic in me can't help but feel electricity in reading this story.

I've always felt like stories need to be some kind of a lesson for its readers, because books have taught me so many things. But maybe the teaching need not be so direct, and I've been looking at this all wrong. The stories in "Seribu Kunang-kunang di Manhattan," misalnya, tidaklah menggurui, hanya seperti sebuah snapshot berdurasi beberapa jam dalam kehidupan karakternya. Pendek mungkin, tapi begitu bermakna.
Profile Image for dellarsd.
87 reviews3 followers
January 18, 2023
Antologi cerpen yang diterbitkan ulang oleh Cerpen Pojok ini memuat 6 cerita dengan kata pengantar yang sangat memikat pembaca. 'Teman Ngobrol' begitulah Eka Kurniawan menyebut karya dari Umar Kayam ini. Teman Ngobrol yang diperbincangkan sebelum menginjak ke dalam cerita sangat memberikan pengaruh terkait bagaimana kita bisa memahami dan mengambil maksud apa yang terjadi. Kata pengantarnya pun telah mencuri hati hehe.

Yap, kumpulan cerita disini memang mendefinisikan bahwa setiap orang mungkin, dan sepertinya wajib menyampaikan atau memberikan bualan apa yang ia fikir dan lakukan kepada orang lain. Sekalipun ia sebenarnya tidak membutuhkan. Dari ke enam cerita, yang paling aku suka adalah;
•Istriku, Madam Schiltz, dan Sang Raksasa
•Syibil
•Chief Sitting Bull
Profile Image for Ammar.
40 reviews5 followers
July 23, 2023
Percakapan bisa berujung kesedihan, kebahagiaan, ketololan, dan kejahatan. Percakapan lahir dari keingintahuan satu sama lain, kesungguhan untuk menyibak tabir misteri, dan kemauan menjadi pendongeng sekaligus pendengar—menjadi teman ngobrol. Cerpen-cerpen Umar Kayam mengajak kita menjadi teman ngobrol, menjadi pendengar yang melontarkan berbagai pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana
Profile Image for Fertina NM.
103 reviews21 followers
February 5, 2013
Belum jelas kenapa yang terpilih sebagai judul buku ini adalah Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan. Apa karena mau disamakan dengan chapter pertama buku ini, jadi tidak perlu repot lagi memilih atau ada alasan lain. Biar mejadi teka-teki buat kita. Yang jelas, terdapatnya nama kota besar di Amerika sana bukan berarti di dalamnya mengisahkan cerita-cerita kejadian atau panorama kota tersebut.

Tetapi susunannya ceritanya menarik, menurut saya. Di awali dengan kisah sepasang kekasih yang berada di Manhattan beserta dengan settingnya. Lalu kisah mulai berseger ke luar kota itu, kisah seorang gadis kesepian yang harus menemani anak seorang tetangganya yang rewel di sebuah taman yang di depannya terbentang east river yang memisahkan Manhanttan. Hingga semakin bergeser hanya sekedar ingatan, simbol dan semakin menghilang.

Secara garis besar, saya suka dengan cerita Umar Kayam ini. Semua akhir yang dibuatnya, melepas kewajibannya untuk diteruskan oleh pembacanya. Mau cerita tentang sepasang kekasih, seorang suami, seorang tawanan revolusi atau bahkan seorang gadi kecil, dari berbagai sudut itu Umar Kayam menyuguhkan kisah-kisah yang menarik. Seperti kisah yang menerut saya menarik. Dengan judul Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa. Kisah sederhana, seorang istri harus tinggal di New York bersama sang suami yang sedang mengeyam pendidikannya. Sang istri merasa kesepian, karena sang suami sibuk dan sementara kota yang mereka tinggali menganut sistem individualis. Hingga akhirnya, sang istri yang senang membaca kisah misteri menemukan "permainan" barunya dari seorang tetangganya, Madame Schlitz. Menurut saya, ceritanya sederhana tetapi dengan cara pandang yang digunakan membuat cerita sederhana juga bisa menarik.





* Sebab pertanyaan "mengerti" tidak untuk dijawab mengerti karena "mengerti" adalah mencari untuk menegerti.
* Kalau markas musuh nampak terlalu kuat untuk diduduki, kitarilah dulu untuk melihat kemungkinan-kemungkinan selanjutnya.
* Orang mengunyah hotdog, karena orang dikirinya mengunyah hotdogog. Beo, Peggy, Beo!!
* Lantas, semua yang memuakkan kau itu berbahaya?
* "Capek? seolah-olahkewajibanmu sebagai seniman dan sarjana rakyat dibatasi oleh rasa capekmu."
* Kalau kau ada dedikasi, ada keyakinan, dan kesetiaan kepada ideologi, capek fisik yang sesekali datang hanya sebentar saja menguasai kita. Selebihnya, enthusiasm seperti yang kaukatakan itu akan terus bersama kita, bersama kesetiaan kita kepada ideologi."
*Dia ingin menempuh jalan sendiri, ingin lepas dari ikatan-ikatan ideologi, prganisasi-organisasi dan kawan-kawannya, tetapi di lain pihak mengakui bahwa organisasi dan kawan-kawannya telah merupakan dunia sendiri baginya.
* Ada tingkat-tingkat perubahan memang. Tetapi yang pokok kita berubah. Dan kita pasti akan terus berubah, bergeser terus ke sana dan ke sini karena kita telah menjadi bagian-bagian dunia yang lain.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
October 3, 2009
baru dpt di TM bookstore depok dgn diskon 30% dan harga asli 49rb.
eehh, udah abis skrg krn cuma 2 gw beli semua. tp di gramed depok ada 10 tp 52rb.

***
Gue suka cerita tentang Bawuk dan Sri Sumarah
Rasanya masih dengan gaya priyayi yang digambarkan namun terjerumus dalam suatu kondisi sosial yang membuat kehidupan berubah selamanya mengikuti angin perubahan..
Membaca kumpulan ini, awalnya gw hilang.
Hilang tak bisa berkonsentrasi dan tidak menemukan jiwanya.
Tidak bisa mencerna isi cerita di New York.
Tapi ketika kembali ke tanah Jawa, gw seakan menemukan gaya Umar Kayam ini.. gw baru dapet isinya..

makanya gw kasih 3 bintang aja. cukup.
Profile Image for anis Ahmad.
47 reviews13 followers
January 23, 2008
menurut gunawan muhammad ini adalah salah satu kumpulan cerpen terbaik yang pernah dihasilkan. pemikiran kayam dalam cerpen dan novelnya memebrikan satu sumbangan yang sangat besar dalam dunia sastra indonesia khususnya sumbanganyya yaitu tulisannya yang melahirkan trend tentang realisme. realisme kultural yang dibawa oleh kayam dalam cerpen dan karangan sastra yang dibuatnya merupakan satu hal yang menginsprisasi saya tentang makna kehidupan.
intinya cerpen umar kayam itu sederhana, menarik, realistis.
bagus lah....
Profile Image for Arinamidalem.
106 reviews7 followers
September 12, 2009
Kumpulan cerita pendek yang dalam keterbatasan ruang pena mampu memainkan emosi kita. Ada tersenyum, tertawa konyol, namun tiba-tiba merasa terhempas..ke sudut pilu.
Ini lembar kehidupan yang beliau tunjukan kepada kita dalam beberapa halaman saja, dalam beberapa menit baca…

bagaimana dengan lembar kehidupan serupa yang dahulu dilalui di kehidupan nyata? Kehidupan nyata yang bukan beberapa menit, tapi tahun demi tahun.. situasi serupa dan juga rasa pilu yang sesungguhnya. hidup kah itu? saat pikiran dibatasi dan nyawa ditukar paksa dgn keyakinan dan kompromi.
Profile Image for Reyhan.
43 reviews11 followers
December 23, 2007
Jika Para Priyayi adalah novel magnum opus almarhum, maka Seribu Kunang-Kunang di Manhattan adalah cerpen magnum opusnya.
Menarik membaca kumpulan cerpen ini karena sebagian besar bercerita tentang kehidupan di luar negeri (terutama AS) dari sudut pandang Indonesia.
Suasana yang dibangun dari cerpen-cerpen di sini mengingatkan kepada Great Gatsby-nya F.S. Fitzgerald yang kental dengan nuansa Amerika yang Jazzy, tapi tetap dengan gaya bahasa sederhana yang khas dari seorang Umar Kayam.
Profile Image for Hery Setianingsih.
9 reviews1 follower
April 15, 2009
Ini adalah sebuah kumpulan cerpen karya guru besar Umar Kayam. Buku ini berhasil membuatku sadar akan realitas dunia yang penuh dengan kepalsuan dan kekejaman demi ego segelintir manusia. My favorite chapter is Musim Gugur di Connecticut. It really made me cry in the end. Even more crying when the story's brought up to story-telling performance by Landung Simatupang. Mixing of a great writter (Umar Kayam) and an amazing story teller (Landung Simatupang)!
Profile Image for Gin Seladipura.
14 reviews1 follower
January 27, 2012
Salah satu begawan dalam dunia tulis menulis Indonesia: Umar Kayam. Dan ini adalah kumpulan cerpen yang sangat amat keren sekali. Sastra tidak harus disampaikan dengan bahasa yang berat dan penuh kata-kata yang berakrobat.

saya suka cara Umar Kayam mengetengahkan Masalah-masalah yang dihadapi oleh sebagian besar tokoh dalam kumpulan cerpen ini. Saya berharap ada lagi pengarang seperti beliau ini.
Profile Image for Johan Radzi.
138 reviews197 followers
February 16, 2016
Ya tuhan, aku begitu sukakan cerpen-cerpen umar kayam. bahasanya sederhana; tak keterlaluan dan tak melebih-lebih. gaya penceritaannya juga begitu, tapi caranya mengungkapkan cerita dan meleraikan plot kemas sekali. aku boleh rasakan suasana romantisme yang terdapat pada beberapa buah cerpen yang ditulis beliau.

cerpen kegemaran: istriku, madame schlitz, dan sang-raksasa.
19 reviews
Read
April 4, 2008
begitu cerdas dan kaya wawasan semua cerpennya disini.pengungkapannya begitu penuh makna, tak ada satu katapun yang sia-sia.bangga sekali aku pernanh mementaskan teater seribu kunang2 di manhattan. tantangan yang lumayan bikin deg-degan....
love u umar kayam...
Profile Image for Anwar.
33 reviews1 follower
August 29, 2007
lebih dari tiga kali gw baca buku ini..
dan lebih dari tiga makna pula yang
tertangkap..

sebuah cerita pendek khayam yang padat
dan berhasil!
Profile Image for Asri.
28 reviews3 followers
March 26, 2008
Menggambarkan kemunafikan manusia dengan gamblang dan vulgar. Menjijikan memang, but that is the fact of life.
Profile Image for Nonna.
137 reviews2 followers
June 15, 2014
Kalau ada yang tidak pernah mau mengalah menunggu, itu adalah usia namanya.. _236
Profile Image for Dinda.
118 reviews6 followers
March 7, 2019
I wish i could write like this ❤️
Profile Image for Fifi Alfiah.
20 reviews
June 16, 2022
Saya punya pengalaman yang unik dengan buku ini. Buku ini saya peroleh sejak SMA, sekitar enam tahun lalu. Sudah beberapa kali juga saya sempat membacanya, namun belum pernah sampai tuntas. Dulu saya hanya membaca cerita tertentu saja yang menurut hemat saya punya panjang sekali duduk yang ideal.

Antologi ini terdiri dari sepuluh cerita:
1. Seribu Kunang-kunang di Manhattan;
2. Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa;
3. Sybil;
4. Secangkir Kopi dan Sepotong Donat;
5. Chief Sitting Bull;
6. There Goes Tatum;
7. Musim Gugur Kembali di Connecticut;
8. Bawuk;
9. Kimono Biru Buat Istri; dan
10. Sri Sumarah.

Kalau diurutkan dari depan, paling mentok saya baru pernah sampai cerpen keenam, "There Goes Tatum". Tiga cerita selanjutnya bisa dibilang seminovela, baru kemudian sampai pada cerita terakhir, yang kalau saya tidak salah merupakan novela sungguhan

Pada masa itu, saya kira saya tidak akan menyenangi cerpen lain seperti saya menyenangi "Sybil" dan "Seribu Kunang-kunang di Manhattan" yang panjangnya "ideal" itu. Tapi saya salah.

Saya kemudian mengerti kenapa dulu tidak pernah tuntas membaca buku ini. Pertama, karena seperti yang sudah saya katakan, saya belum tahan baca cerpen yang kelewat panjang. Kedua, saya dulu tidak begitu paham duduk masalah dan premis pada cerita ketujuh dan seterusnya.

Lebih dari sebab tersebut, pada saat itu saya belum mengerti esensi dari aliran tulisan realis. Semakin realis sebuah tulisan, maka semakin besar konsekuensinya untuk terasa "monoton" ketika dibaca. Tentu saja ini juga merupakan pendapat saya.

Dan rupanya, dibanding saat SMA dulu, saat ini saya sudah memiliki kapasitas dasar untuk mengerti tulisan-tulisan Umar Kayam di buku ini.

Jika disimpulkan, buku ini memuat dua kategori yang berbeda. Kategori pertama terdiri dari enam cerita pertama. Kategori kedua terdiri dari empat cerita selanjutnya.

Enam cerita pertama berlatarkan negara-negara western. Gaya penceritaan, dialog, dan tone-nya juga dengan apik berasimilasi dengan literatur terjemahan. Jadi, meskipun tetap diselipi unsur lokal di sana sini, pembaca masih menerima dengan baik nuansa foreign-nya.

Empat cerita selanjutnya —meskipun masih ada yang berlatarkan di luar negeri— dituliskan dengan pembawaan yang jauh lebih bersahaja dan dekat dengan kultur jawa, mulai dari kejawen konservatif sampai dengan yang lebih modern. Sehingga pada titik tertentu, tidak salah jika saya sebut tulisan itu adalah sebuah etnografi. Selain itu, dialog dan plotnya lebih liar, berani, dan lekat dengan politik dan ideologi kiri.

"Bawuk", misalnya, yang menceritakan kilas balik masa kolonial Belanda dan kondisi politik pada pascakemerdekaan. Sedikit mengingatkan saya pada Cantik Itu Luka. Secara umum, "Bawuk" adalah cerita kedekatan batin antara ibu dan putri bungsunya, hal hal yang masing-masing mereka korbankan saat dewasa, beban dan tanggung jawab perempuan, dan dilema ideologis. Cerita ini hangat, penuh nostalgia, tapi juga menyakitkan dan membimbangkan. Setting-nya berpusat pada keluarga kalangan priayi masyarakat Jawa pada zamannya. Pengginaan kata serapan dan istilah-istilah Belanda juga mempertebal kedekatan setting waktu yang dibangun.

Sebagaimana cerita-cerita pendek yang ditemui pada bagian awal buku, keempat cerita terakhir rupanya sama berkesannya bagi saya. Menikmati dilema Tono dan perdebatannya dengan Samsu; mengikuti masa pelarian Bawuk; membaca dialog sepasang sobat lama, Mustari dan Wandi; dan mempelajari lika-liku hidup Sri Sumarah yang sumarah. Semuanya berkaitan erat dengan pergerakan komunisme di Indonesia pada era itu. Diceritakan dari angle dan posisi tokoh protagonis yang berbeda-beda. Menarik!
Profile Image for Fathiyah Azizah.
107 reviews34 followers
April 17, 2019
Ada 6 cerpen yang disajikan di buku ini. Kesemuanya mengambil setting tempat di Amerika. Setelah buku ini cetak ulang, barulah aku tahu penulis bernama Umar Kayam. Beliau meninggal di tahun 2002. Novel terbaik kabarnya berjudul Para Priyayi. Penasaran baca para Priyayi setelah dibuat terhenyak membaca buku kumcer ini. 6 cerita ini memiliki esensi sama, yaitu pentingnya percakapan. Sangat cocok dikaitkan zaman saat ini, dimana kurangnya dialog langsung, tatap muka. Percakapan kebutuhan mendasar tiap manusia, yang sekarang ini lebih banyak dialog dilakukan tidak langsung melalui medsos.
.
.
6 cerpen:
1."Seribu kunang - kunang di Manhattan" aku jadi ikut sedih melihat Jane. Ada banyak hal tersurat maupun tersirat dari percakapan Jane dan Marno.
2. "Istriku ,Madame schlitz,dan sang raksasa". Tentang seorang istri kesepian dan tetangga yang misterius. Penggambaran istri akan tempat yang mereka tempati sungguh jenius dijadikan awal dan akhir kisah.

3. "Sybil" kritik sosial terhadap para orang tua. Budaya yang diangkat, ciri khas Amerika, bebas, memiliki efek buruk bagi anak. Apapun yang terjadi pada anak, selama anak belum Aqil Baligh, tanggung jawabnya pada pundak ortu.

4. "Secangkir Kopi dan Sepotong Donat" Di sini aku bersuudhon, realita dan pernyataan yang disampaikan Peggy benarkah terbukti? Dibagian akhir muncul Dilbert Supermarket, apakah menunjukkan Peggy yg bekerja tiada henti. Di kisah ini ada 2 kisah sepertinya, kisah Peggy sendiri dan sisipan Jim dengan kritik sosialnya.
5. "Chief Sitting Bull" Manusia, sungguh sulit dipegang ucapannya.. Ada sekelumit sejarah masa lampau disisipkan di dialog tokoh utama.

6. "There Goes Tatum" aku terpikir akan stigma sosial. Ras kulit hitam. Cara Umar Kayam menciptakan dialog antara pelaku dan korban sungguh cerdas sekali.
Displaying 1 - 30 of 129 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.