Manga creator ONE first created One-Punch Man as a web comic, where it quickly went viral, garnering over 10,000,000 hits! Along with One-Punch Man, ONE also writes and draws another series called Mob Psycho 100.
The ending of the Cosmic Garou vs Saitama fight was somewhat underwhelming, but that's very understandable. The only way we could see a character like Saitama engage in a serious fight would be to use time travel at the end. Otherwise, there wouldn’t be anyone left beside him to move the story forward with. Also who the hell are those shadowy guys that Blast hangs out with?
Saitama vs Garou. Btw, ini update volume komik cetak-nya beda jauh dengan chapter versi digital yang beredar di-internet. Jadi saya gunakan momen ini untuk mengulas tentang Saitama dan Shigeo.
Lebih banyak yang mengenal Son Goku, tapi intensi untuk mengidolai saya cukup yakin lebih banyak kepada Saitama. Mengapa seperti itu? Karena walaupun kemampuan mereka sama-sama spektakuler, sama-sama melintasi dimensi, dan sama-sama tak terkalahkan, ada unsur awam yang lebih banyak melekat pada Saitama.
Mentalitas dan Nilai Hidup Sederhana tapi Konsisten Kita tetap penasaran darimana sebetulnya Saitama mendapatkan kekuatan sebesar itu. Tapi untuk yang telah diceritakan ke kita sekarang (Ch. 261), kita terima saja bahwa ia mendapatkan kekuatan itu dari konsistensi latihan. Dengan 100 push-up, 100 sit-up, 10 km lari setiap hari selama 3 tahun, ia berhasil mendapatkan kekuatan tiada tanding itu. Terlihat konyol, tapi ini mencerminkan kekuatan dari konsistensi sederhana.
Di dunia nyata, kemajuan besar sering datang bukan dari hal yang luar biasa, tapi dari hal kecil yang dilakukan terus-menerus. Prinsip Kaizen ini sudah menjadi budaya orang Jepang. Saya mengamati beberapa rekan pekerjaan yang berasal dari Jepang, dimana inovasi yang saya bayangkan akan muncul deras dari mereka tidak terjadi, namun kemajuan sedikit-sedikit namun konsisten dilakukan itulah yang saya lihat dari mereka. Tidak semuanya memang, namun mayoritas seperti itu. Saya sendiri, dengan IQ yang tidak superior jika dibandingkan teman-teman sekolah dan kuliah dulu, merasakan sendiri bahwa disiplin dan kemajuan setiap saat walaupun kecil akan berdampak pada hasil akhir. Saat dimana disiplin dan konsistensi itu tidak dilakukan, itulah saat dimana hasil akhir yang kita harapkan hanya bergantung pada doa.
ONE, selain menciptakan Saitama, juga punya Shigeo, dari karyanya Mob Psycho 100 yang tidak kalah bagusnya dibanding One Punch Man, walaupun lebih sulit dicerna. Shigeo juga mendapatkan hasil dari jerih payahnya untuk memenangkan lomba lari di sekolahnya dengan secara konsisten mengikuti latihan fisik harian. Diceritakan juga bagaimana Shigeo melatih kemampuan psychokinetic-nya sejak secara tidak sadar memiliki kemampuan itu sampai dengan mampu memanfaatkannya untuk menyelamatkan orang banyak.
Integritas dan Keikhlasan Sifat inilah yang paling diidolai dari Saitama. Dale Carnegie bilang “The deepest principle in human nature is the craving to be appreciated.” Tapi Saitama tidak seperti itu, ia tidak mencari ketenaran. Dia hanya ingin menjadi pahlawan “demi kesenangan”. Meski tidak dihargai, dia tetap menolong. Kekalahan Elder Centipede, Evil Ocean Water, Garou, Orochi, diklaim banyak pihak tapi hanya sedikit yang mengetaui Saitama-lah heronya. Bahkan pada salah satu chapter, ia tetap sabar ketika Tatsumaki terus menyerangnya, menyeret kepalanya sepanjang jalan, tidak menyerang balik, karena ia tidak mau ikut-ikutan merusak bangunan dan mencederai banyak orang di sekitar situ. Di dunia kerja atau sosial, seringkali orang fokus pada pengakuan, bukan kontribusi. Selain pelaku yang mengaku-ngaku itu, yang salah tentu saja juga atasannya, atau stakeholdernya yang secara tidak sadar, ada juga yang secara sadar memvalidasi dan bahkan membesar-besarkan pengakuan kontribusi itu. Bahkan para petinggi di Asosiasi Pahlawan saja tidak mengetahui kontribusi Saitama. Dr Bofoi sang Metal Knight, dengan segala teknologi dan data yang ia miliki, bahkan perlu menyelidiki lebih jauh sepak terjang Saitama setelah robot-robotnya hancur sekali pukul. Yang saya tahu para pembaca pasti geregetan kapan peran Saitama bisa segera disadari banyak orang selain dari orang-orang terdekatnya.
Mob Shigeo sama saja, dengan kemampuannya, ia tetap rendah hati, bahkan minder, jika dibandingkan kemampuan adiknya, Ritsu, yang lebih pintar dan populer. Kemampuan adik Shigeo dan popularitasnya ini mengingatkan saya pada Light Yagami Death Note, mereka berdua tidak hanya puas pada prestasi dan popularitas pribadi tapi juga menginginkan suatu kemampuan dan kontribusi yang lebih besar dan berdampak. Jadi, ketika ada orang dengan kemampuan, popularitas, dan keinginan untuk berkembang itu bisa dinilai sebagai “second protagonist” dalam sebuah lakon, maka sebaiknya para pengaku-ngaku kontribusi semu dinilai lebih rendah daripada itu.
Kesepian di Tengah Keramaian Kita mengenal Saitama setelah ia sudah memperoleh kekuatan, beda dengan Shigeo yang sudah diceritakan dalam manga-nya sejak masih mencari jati diri. Bedanya lagi, Shigeo larut dalam kesepiannya itu, sedih karena gebetan-nya tidak memilih dia, sementara Saitama sama seperti Son Goku tidak pernah peduli, sifat yang diidolakan penggemar komiknya.
Sifat Shigeo itu mungkin banyak terjadi pada remaja menuju dewasa sekarang, sesuai dengan umur Shigeo itu sendiri. Sementara sifat Saitama yang cuek berkebalikan dengan kondisi jaman sekarang, dimana status dan pengakuan sosial bahkan bisa dipalsukan. Memang, banyak juga orang yang tidak menginginkan keramaian dan pengakuan dari banyak orang, lebih menginginkan privasi bagi sendiri dan keluarga. Cukup berhubungan baik dengan circle terdekat, Namun lingkungan pekerjaan, tempat tinggal, komunitas saat ini cenderung memaksa kita pribadi yang personal untuk ikut dan terus menampilkan diri. Ada yang terbawa, tapi ada yang tetap calm, seperti Saitama yang hanya berhubungan dekat dengan Genos dan King.
Pada akhirnya, Saitama dan Shigeo bukan untuk dibandingkan, karena masing-masing punya kehidupan dan latar belakang yang berbeda. Saya yakin penggemar Saitama tidak begitu tertarik dengan komik Mob Psycho. Shigeo pun punya fanbase-nya sendiri. Yang bisa kita tarik benang merahnya adalah kedua tipe orang dengan sifat seperti Saitama dan Shigeo ini bisa jadi kita temui di lingkungan kita, yang punya prinsip menjadi pahlawan hanya untuk bersenang-senang, berkontribusi sesuai kemampuan dengan riang gembira.
what else is there to say like. garou vs saitama is so fucking peak. like COSMIC. GAROU. and saitama just... well being saitama. the art is amazing. the fight is so exciting. and this is what i have been wanting AND getting. really there isn't anything much better than this omg
Avec ce trente-troisième tome de One-Punch Man, ONE et Yusuke Murata poursuivent l’arc majeur opposant Saitama à Garoh, dans un affrontement aussi spectaculaire que déterminant pour la série.
Le face-à-face tant attendu entre les deux personnages atteint ici son point culminant. Saitama, fidèle à sa posture détachée, tente une approche inattendue : au-delà du combat, il confronte Garoh sur le plan moral, évoquant notamment les conséquences de ses actes et les émotions des plus faibles, comme le jeune Falot.
Mais Garoh, engagé dans une transformation toujours plus radicale, choisit d’embrasser pleinement sa part monstrueuse. Ce basculement renforce la tension dramatique du récit, faisant de lui bien plus qu’un simple adversaire : une figure tragique en quête de sens.
Alors que la défaite semble inévitable face à la puissance écrasante de Saitama, un élément inattendu intervient. Une voix mystérieuse offre à Garoh un nouveau pouvoir, relançant le combat et faisant évoluer l’enjeu vers une confrontation d’un autre niveau.
Ce tome met en avant les thèmes récurrents de la série : la définition du héros, la frontière entre justice et violence, et la solitude des individus hors norme. Le contraste entre la toute-puissance absurde de Saitama et la quête désespérée de reconnaissance de Garoh reste au cœur du récit.
Porté par le dessin spectaculaire de Yusuke Murata, One-Punch Man continue de conjuguer action intense et réflexion sur les codes du shōnen.
Un volume charnière, où l’affrontement dépasse le simple combat pour interroger la nature même du héros et du monstre
Technically my review carries over to v34, which the the fight at Jupiter (which I think will actually be part of v34, but that isn't released yet). Everything preceding that moment was good, but the art and the fight take a massive step in this volume. The Jupiter panels are so high quality I'd hang them on my walls. And the storyline is great, with Saitama intensely gripping Genos' core the whole fight, thus doing it one-handed.
He's holding on the past, to what he lost due to his hubris of always being late. Time proves to be Saitama's ultimate enemy, unconquered. At least, until the end of this fight where he conquers time and beats Garo with zero punches. It's incredible.
Now, there was a stupid fart joke, but it just reminds you how silly all this is. This was a great finale to the arc, and honestly would be a great stopping point to the series. I'm glad we were able to reach great heights again, like we saw at the start of the series.
The time has come for the strongest hero and the killer of heroes to clash, and their battle will be one that shakes Garou to his core - but something...someone...is watching, and they had decided to offer him a power that may be even too much for Saitama's prowess to survive...ONE and Murata will keep fans glued to every panel with another bombastic entry. Will Garou willingly accept the aid of an unknown variable to defeat Saitama?
Ilustraciones increíbles como siempre. La historia es lo que se venía esperando desde hace rato: Saitama vs Garou. Hay twists, traiciones, super peleas, reflexiones, revelaciones, de todo, hasta aparece Blast y entidades cósmicas. Además, Saitama sale en la mayoría, que en los últimos numeros no salía tanto. Todo se queda abierto para el siguiente.
Vale la pena la espera pero, fuck, a aguantar otros 4-6 meses para el 34.
Saitama vs Garou la pelea que estábamos esperando. Garou se ve sobrepasado por las habilidades de Saitama , e incluso sus acciones llegan a parecer acciones buenas, sin embargo un ser poderoso logra interferir y ahora vemos a un nuevo Garou
Esa cara de Saitama al final ...ufff no puede ser posible, necesito el próximo tomo
Okay, Saitama trying to convince Garou that he would be better off as a hero is a far better idea than I could’ve come up with. It’s super in character. What a gut punch of an ending too… Just incredible.
The best fight I have ever seen in a manga. The art and detail of the panels was insane. As expected between saitama and garou. Saitama switching from serious and unserious will always be funny. It was a bit confusing though. I hope they animate this well.
Es difícil escribir algo sin que sea spoiler… me gustó lo que vi y leí. El final del tomo está impresionante. Usualmente trato de no leerlo en una sola sentada pero fue difícil resistirse. Ayudó que ha mucha acción y poco diálogo.
My review for the whole One-Punch-Man manga as of Sunday the 23rd of November 2025:
Flashy-flash the underrated goat of OPM. Zombie man is also goated. Post monster association arc I would prefer if they made Flashy-flash the main character.
Banger, the entire monster association arc is incredible. There is so much tension and action that somehow manages to build and build and build. Every character serves a purpose within the story and help drive and reiterate the narrative.
دقیقا ارکی که از حدودای چپتر 80 شروع میشه اینجا تموم میشه، چپتر 170 بعیده به فصل سه برسه ولی انیمه اش باید معرکه بشه اگه نشدم همین مانگاش که معرکه بود تا چپتر 173 مطالعه شد
It's finally happening and its looking to be mouth watering-ly glorious , Saitama V Garou , scratch that , Semi-monsterized Garou .... Man this looks epic