Ajarkan aku mantra pemikat cinta Ahei dan Ashima, maka akan kutaklukkan penghalang segala rupa agar sampai cintaku padanya.
***
Dewa dan Ra adalah busur dan anak panah. Keduanya memiliki bidikan yang sama, sebuah titik bernama istana cinta. Tapi arah angin mengubah Dewa. Sebagai busur, dia memilih sasarannya sendiri dan membiarkan anak panah melesat tanpa daya.
Sebagai laki-laki pengagum mitologi, Zhongwen ibarat kesatria tanpa kuda. Sikapnya santun dan perangainya gagah, tapi langkahnya tak tentu arah. Dia berburu sampai negeri jauh untuk mencari Tuhan sekaligus menemukan Asma, anak panah yang sanggup meruntuhkan tembok besar yang membentengi hatinya.
Dan di manakah Ra ketika dalam kegamangan Asma menelusuri Tembok China, menjejakkan kaki di pemakaman prajurit Terakota dan menjelajah dunia dongeng si cantik Ashima dari Yunnan?
Dua nama, satu cinta. Ra yang mencampakkan Dewa. Asma yang berjuang melupakan lelaki berahang kukuh yang diam-diam memujanya. Bersama, mereka mencoba menaklukkan takdir yang datang menyapa.
Asma Nadia Education: Bogor Agricultural University (IPB, 1991) Home FAX: +622177820859 email: asma.nadia@gmail.com
Working Experiences: I was working as a CEO of Fatahillah Bina Alfikri Publications, and Lingkar Pena Publishing House, before starting AsmaNadia Publishing House (2008)
Writing residencies: in South Korea, held by Korean literature translation institute (2006) & and in Switzerland held by Le Chateau de Lavigny (2009)
Writing Workshop: - Conducting a creative writing (novel), Held by Republika News Paper, 2011 - Writing workshop instructor for (novel) participants from Brunei, Singapore, Indonesia, Malaysia, held by South East Asia Literary Council (MASTERA), July, 2011 - Conduct a writing workshop for Indonesia Migrant Workers in Hongkong (2004,2008, 2011), and for Indonesian students in Cairo, Egypt (2001, 2008), and University of Malaysia. - Giving a creative writing workshop for Indonesian’s students in Tokyo, Fukuoka, Nagoya, Kyoto (November 2009). - Giving writing workshop in Manchester; Indonesia Permanent Mission in Geneve; Indonesian Embassy in Rome, and for Indonesian students in Berlin (2009) - Held a writing workshop with Caroline Phillips, a Germany writer, in World Book Day 2008
Performance: - Performing two poems for educational dvd (Indonesian Language Center) 2011. - Public reading: (poem) in welcoming Palestine’s writers in Seoul, 2006; - Public reading short story in Geneve 2009, Performing monologue in Mizan Publishing Anniversary 2008, Ode Kampung Gathering in Rumah Dunia, etc.
Awards and honors: 1. Istana Kedua (The Second Palace), the best Islamic Indonesia novel, 2008 2. Derai Sunyi (Silent Tear, a novel), won a prize from MASTERA (South East Asia Literary Council), as the best participant in 10 years MASTERA, 2005. 3. PREH (A Waiting), play writing published by The Jakarta Art Council, honored as the best script in Indonesian’s Women Playwrights 2005 4. Mizan Award for the best fiction writer in 20 Years Mizan (one of Indonesian’s biggest publishers) 5. Asma Nadia profile was put as one of the 100 distinguished women publishers, writers and researchers in Indonesia, compiled by well-known literary critic Korrie Layun Rampan, 2001. 7. Rembulan di Mata Ibu (The Moon in the Mother’s Eye, short stories collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2001 9. Dialog Dua Layar (Two Screen’s Dialogue, a short story collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2002 10. 101 Dating, a novel, won the Adikarya IKAPI Award, 2005 11. The most influential writer 2010, awarded by Republika News Paper 14. BISA Award for helping Indonesia Migrants Workers who wants to be writers (held by Be Indonesia Smart and Active Hongkong) 15. Super Woman MAG Award 2010 16. One of ten most mompreneurship 2010, by Parents Guide Magazine
Summary of translations of work into other languages: 1. Abang Apa Salahku (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009) 2. Di dunia ada surga (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009) 3. Anggun (published by PTS Millennia SDN.BHD 2010) 4. Cinta di hujung sejadah (published by PTS Millennia SDN.BHD 2011) 5. Ammanige Haj Bayake (Emak Longs to Take The hajj), NAVAKARNATAKA PUBLICATIONS PVT. LTD, 2010 (in south indian language/Kannada)
Yang aku suka dari buku ini adalah diksinya, pada setiap quote di awal, pada setiap cerita, pada setiap scene, pada.. keseluruhan buku. Expected juga sebagai novel yang ditulis oleh salah satu penulis kenamaan Indonesia, Asma Nadia.
Aku suka cara penulis menjelaskan ketakutan Asma (tokoh utama) menjalin hubungan. Menurutku, penulis benar-benar mengekspresikan pemikiran sebagian besar muslimah berjilbab.
Aku juga suka cara penulis menggambarkan bahwa satu kesalahan besar tidak dapat begitu saja dimaafkan. Seberapa sering pun kamu meminta maaf. Hati yang dikhianati memang hampir mustahil dapat disembuhkan.
Tapi yang paling aku suka adalah scene di halaman 288. Bisa dibilang, kalau bukan karena halaman 288, aku akan memberikan bintang 3 untuk novel ini. Aku terganggu dengan lelucon yang tiba-tiba hadir secara ringan di tengah-tengah diksi yang 'serius'. Rasanya ganjil.
Tapi halaman 288 berhasil membuatku terkejut dan memberikan bintang 4.
Quote favorit: "Jika tak kau temukan cintamu, biarkan cinta yang menemukanmu."
Oh, ada satu lagi yang aku suka.. cara Zhongwen mengungkapkan cintanya pada Asma:
"Let's slowly grow old together."
Menurutku, itu terdengar lebih tulus dan sederhana, daripada perkataan cinta lainnya.
P.S. Dari halaman 203-204 di novel ini, aku baru tahu kalau tradisi love lock (mitos gembok cinta: menuliskan nama di gembok lalu menggemboknya di tempat-tempat tertentu untuk mendapatkan cinta yang kekal) itu ada di mana-mana. Selama ini aku cuma tau di Pont Des Arts (jembatan di atas Sungai Seine, Paris) dan di Menara Tokyo.
Tempat-tempat yang punya tradisi love lock: 1) The Great Wall (China) 2) Juliet's House (Verona) 3) Ponte Milvio (Sungai Tiber, Roma) 4) Seoul Tower (Korea) 5) ------------------------------banyak banget di sini.
Buku ini saya beli sebulan yang lalu.Sebuah karya dari seorang perempuan dengan banyak bakat, Asma Nadia. Sebuah buku yang kental dengan nilai Islami, tapi disajikan tanpa kesan menggurui. Disisipi banyak quote quote manis yang memang Asma Nadia banget( yang saya sukai sejak dulu). Walau ada beberapa bagian yang eksekusinya kurang greget, tapi secara keseluruhan buku ini menarik dan layak dibaca. Tak sabar menunggu difilmkan, menyusul Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela.
Well, saya sebenarnya cukup selektif yah kalau baca novel dengan genre religi. Baca buku ini awalnya juga cukup gambling yang ... yaaah, agak gimana dengan buku atau novel religi yang kesannya "menggurui". Tapi..., ini buku keren. Dari sisi penulisan, rapi dan nyaris nggak ada (atau memang nggak ada) typo. Dari sisi religiusnya, kena, nggak ada kesan menggurui dan enak dibaca.
Secara garis besar, novel ini menceritakan dua kisah yang berbeda namun berjalan selaras. Satu antara Dewa - Ra, yang lain Zhongwen - Ashima. Di cerita yang pertama, mengisahkan cinta seorang Dewa kepada Ra yang harus kandas karena sebuah dosa syahwat. Asma Nadia menggambarkan dosa di sini dengan halus sekali, tidak ada deskripsi yang membuat pembaca 'gimanaaa' gitu. Dan cerdasnya, di bab setelah itu dijelaskan bagaimana pandangan Islam tentang perbuatan itu. Ini, cara pembahasan yang seperti ini benar-benar oke. Lalu di sisi lain, ada Ashima (atau Asma) dan Zhongwen, yang dimulai dari sebuah pertemuan tidak sengaja saat bertugas ke Beijing.
Cerita nggak sampai di situ saja saat tokoh-tokohnya bertemu lalu saling jatuh cinta. Ujian ada di setelahnya. Bagaimana akhirnya melalui pintu yang dibuka Asihima, Zhongwen menjemput hidayah. Bagaimana juga sosok Dewa menjalani kehidupannya setelah dosa yang diperbuat. Ini, membuat pembaca jatuh cinta sama Zhongwen dan benciiiii banget kalau memang sosok Dewa itu nyata. Lalu ujian penyakit yang diderita Asma.
Sudah lama tidak membaca kisah cinta. Sesekali, layankanlah juga. Cuma jangan terkena buku cinta konon-konon comel dan "manis" yang hangat di pasaran tempatan, sudah lah.
Kisah cinta dalam Assalamualaikum Beijing ini, agak klise. Hal kecurangan, kesetiaan dan keasyikan. Dunia asmara, memang begitulah.
Cuma saya memilih untuk memberi empat bintang kerana;
1) Tulisan buku ini yang mesra mata. Saya suka. 2) Bahasanya yang cantik dan jelas. Mudah untuk difahami. 3) Tidak perlu meletakkan adegan-adegan tidak senonoh di dalam cerita, apatah lagi kata-kata carut. Asma Nadia sangat menjaga kata-katanya, apatah lagi yang ditulis.
jadi ceritanya begini ada cow cew pacaran trus si cow selingkuh karena masalah sepele yang bikin pembaca 'how old are you?' atau 'what a pity with maturement !!' atau atau 'grow up dude !!'. trus si cow tanggung jawab sementara si cew juga nyoba buat move on dan ketemu cow cina pas ke Beijing. si cew ternyata seujug-ujug punya penyakit, walaupun begitu dia nikah sama cow cina itu yang udah jadi mualaf tentunya. klise bukan? nah itu ceritaku mana ceritamu? ZzzZ. sebenernya susah menggabungkan cerita cinta dan hal yang mendasar seperti agama karena setiap orang punya POV yang berbeda-beda. mungkin kalo boleh gue usul si asma gak usah lah penulis pake bikin misterius dengan menggunakan sosok RA yang which is dia dia juga, trus karakter dewa yang kurang laki atau mence alias cemen bisa lebih ditonjolkan ketegasannya. dan paling penting itu soal penyakit yang tiba-tiba di halaman berapa langsung ada dan jadi bagian penting babak selanjutnya yang menurut gue malah bisa jadi clue diawal. novel ini ada bagusnya si yang selain ditiap chapter dikasih puinisasi, endingnya juga gak harus meninggal kaya cerita lain. itu aja si menurut gue, sebelumnya ini review kedua gue sebelum disave. oia, katanya ni novel mau jadi film downk ya udah fix. dan tokoh zhongwen kayanya bakalan dimaenin sama AL ghazali yang kemaren gue liat diinfotaiment dia pergi ke Beijing buat syuting soalnya dicerita si dewa tu gak kesana jadi penafsiran gue yang jadi zhongwen ya AL. walaupun sebenernya pas baca diimajinasi gue yang jadi asma itu asmiranda trus dewanya reza rahardian karena ada gambaran rambut sebahu, trus zhongwennya herjunot Ali. kalo Al kan gak sipit ya? tapi dichapter selanjutnya gue si asma berubah jadi Alysa subandono. sekian.
Review tentang buku No excuse dulu di posting sama mba Asma nadia di Fb sampai-sampai beberapa teman bertanya, itu Sari Ai, Ai ya?. Hehe. Sejak itu, jadi pengen review lagi bukunya asma nadia. Lagi pula sudah sangat lama ngga ngereview buku yang telah dibaca.
Awal mula jadi tergerak beli dan baca Assalamu'alaikum Beijing adalah karena begitu sering membaca twit-twit dari pembaca Mba Asma yang secara tidak langsung menyiratkan isi buku. Penasaran, saya membeli buku tersebut. Padahal bisa dibilang saya termasuk yang jarang sekali membeli buku ber genre novel, roman, teenlit, dan sejenisnya.
Membaca AB buat saya semacam berputar pada kisah saya sendiri. Kisah yang terkadang terasa dekat dengan kita. Ringan bahasanya. Mudah dimengerti kisahnya. Tidak seperti teman saya, sedari awal saya sudah menaruh curiga akan kesatuan kisah yang dibuat seolah terpisah tersebut.
Selain itu, dalam AB, kita akan dibawa masuk dalam beberapa pemikiran yang membuat kita merenungkan beberapa nilai. Jalan cinta yang di ridhoi, cinta sejati, jalan hidayah, dan beberapa fakta yang memang begitulah adanya di lapangan.
Membaca AB dalam semalam, cukup membuat kita berpikir dan merenung sejenak, betapa Allah menciptakan Cinta begitu Indah. Jika kita benar menyikapinya. :)
"JIKA TAK KAU TEMUKAN CINTA, BIARKAN CINTA MENEMUKANMU"
Buku ini saya beli bertepatan dengan tayang filmnya di bioskop, tapi insting saya bilang saya harus baca buku ini. Dan segeralah saya ke toko buku terdekat untuk beli bukunya, tanpa pikir panjang.
Buku ini saya beli dengan harapan bisa menemukan secercah harapan atas masalah yang saya alami.
Buku ini saya baca dengan harapan saya mendapatkan hikmah atas ceritanya juga ilmu untuk kehidupan ini.
Dan ternyata.. SAYA SANGAT MENYUKAI BUKU INI, overall! Mulai dari cara mba asma nadia menuturkan cerita, kisah ahei dan ashima, juga tentunya zhongwen dan asma.
Zhongwen dan asma mengajarkan banyak hal, terutama kesetiaan. Kesetiaan kita kepada manusia juga kepadaNya. Sungguh! Kisah Zhongwen dan Asma mengajarkan saya bahwa mencari jodoh itu bukan hanya soal kecocokan perasaan semata. Butuh keimanan yang kuat supaya jodoh terbaik kita datang. Zhongwen dan Asma juga mengajarkan kekuatan iman atas apa yang Allah SWT beri untuk kehidupan kita.
Satu lagi kisah di buku ini yang bikin saya nangis bombai. Kisah sahabat Rasulullah SAW yang rela meninggalkan dunianya demi cinta terhadap keyakinannya. Semoga kisah ini bisa kasih dampak positif untuk siapapun yang sedang mencari arti cinta.
Assalamualaikum, Beijing! pada mula tanggapan saya apabila diketemukan novel ini adalah soal penghijrahan. Lagi lagi apabila disebut Beijing, sebuah destinasi yang sudah lama ingin saya jejaki. Ya, jalan cerita kisah cintanya memang agak klise, tetapi itulah separuh kehidupan kita yang tak lari daripada rasa klise. Ia lebih menyegarkan apabila penulis menyoroti kisah Asma dengan pengalaman kehidupan dan juga falsafah yang dipegang Asma. Kisah yang klise itu menjadi segar dengan ide-ide penulis yang turut mengaitkan tentang mitos Ashima.
Karena cinta adalah teka-teki sederhana yang sulit untuk dipahami. Bisa saja dengan mudah kita kehilangannya. Dan sekejap sajkita bisa memilikinya. Apapun peristiwa yang terjadi dengan cinta, percaya lah! Cinta Allah yang selalu tulus dan tak jarang tidak kita balas, selalu ada :)
Finally! It’s a challenge for me to finish a book nowadays; much faster to stare and finish up an ebook 😅
Anyway. This book is a bittersweet read. And I cannot believe that I missed all the foreshadowing that precede the twist. Hahahadoi la.
Read this book if you want to feel the power of true love and the reason one needs strong faith in God.
Life is full of pitfalls. Only the strong and the faithful will survive. Other than these two, living will not feel like a real living. Life will feel fake.
Ringan dan sederhana. Itu yang saya dapat setelah membaca kisah di dalam buku ini. Tiga anak manusia yang terpaut dalam perenungan cinta. Satu sama lain saling berlomba untuk menemukan apa cinta itu sebenarnya.
Saya suka dengan bagaimana cara Mbak Asma Nadia menceritakan tokoh-tokohnya. Ini mengingatkan saya dengan gaya penceritaan Mbak Shinta Yudisia dalam buku-bukunya yang sangat saya sukai. Entah ini benar atau tidak, saya merasa bahwa penulis-penulis, yang bergabung dalam komunitas FLP, memiliki ciri khusus dalam mengeksplorasi perasaan karakter dan menggabungkannya dalam norma-norma agama yang pas.
Tidak berlebihan, tetapi tidak juga kurang. Pas menurut kadar cerita. Hal itu saya temui dalam buku Existere (kalau tidak salah ingat), buku-bukunya almarhum Mbak Nurul F. Huda ( saya paling gandrung dengan novelnya La Tansa Male Cafe, yang kocak. Serta bukunya Suami sempurna, yang bikin saya tertohok pengin nangis). Buku-buku karangan penulis-penulis FLP ini entah kenapa selalu mengena di hati saya. Kisah-kisah yang dibawakan sederhana tetapi dieksploitasi sedemikian rupa hingga mampu menjungkir-balikkan perasaan saya. Jujur saja, saya trenyuh membaca Assalammu'alaikum, Beijing ini.
Ada beberapa bagian, karena tokoh-tokohnya sedikit, yang agak membuat saya jengah, terutama di bagian Dewa. Saya tidak suka lelaki ini, terlalu ambisius dan gelap mata, mengingatkan saya pada seseorang. Lalu, mengenai sosok Zhongweng, saya tidak cukup yakin seperti Asma. Apakah lelaki seperti dia masih ada di dunia ini? Dari berita, dari kehidupan sehari-hari, cukup banyak lelaki yang jatuh ke pelukan wanita lain dan meninggalkan kesetiaannya. (Bukan berarti saya men-judge semua lelaki seperti itu).
Kisah di sini sederhana, tetapi penuh penghayatan. Sembari membaca dan tak perlu banyak waktu untuk menamatkannya, saya banyak berpikir mengenai cinta dan segala jenisnya. (Iya, kalau yang ini terpikir gara-gara keingetan sama kawan-kawan seangkatan yang mulai pada nikah). Cinta seperti apa yang akan datang? Seperti apa bentukcinta itu? Dan yang paling penting, apakah kesetiaan itu akan tetap ada sekalipun cinta menguap? (ini yang membuat saya mikir agak lama).
Dewa pengecut.
Saya benar-benar yakin dengan hal itu. Sebaliknya, saya terkesima dengan sosok Zhongwen. Saya juga belajar banyak dari tokoh utama di buku ini, mengenai ketegaran dan selalu tersenyum.
Terima kasih, Mbak Asma. Mbak sudah membuat satu buku yang berarti bagi saya di antara deretan buku-buku lain. Semoga Mbak melahirkan buku-buku lain yang sama atau bahkan lebih bagus dari buku ini. :)
Satu hal yang paling menohok hati saya. Buku ini mengajarkan satu hal pada saya, yaitu... Harapan .
Novel Assalamualaikum Beijing ini --bagi saya-- memiliki tema yang membahas tentang pencarian cinta beberapa anak manusia yang bermula dari kekecewaan dengan belajar untuk hidup lebih bersyukur lagi akan nikmat semesta yang diberikan oleh Allah swt. kepada mereka meskipun tak menemukan cinta yang diinginkan toh cinta itu yang akan menemukan mereka. Hal ini dapat kita temukan dalam kutipan dari novel itu sebagai berikut. Patah hati yang dialami dan berusaha dilupakan perlahan merangkak kembali, menyisakan nyeri. Dia tahu, setiap yang patah hati harus segera mencari obat penawar luka. Dan, bahwa mustahil hati terobati, tanpa berusaha move on, melanjutkan hidup sesegera mungkin, betapa pun sulit. Hijrah dari air mata kepada sukacita. Hijrah dari masa lalu dengan menutupnya rapat-rapat, memberi tanda “selesai” hingga tak menjadi beban ketika melangkah menuju masa depan. Hijrah dari kenangan kepada kenyataan. Bersiap mengganti memori yang usang dengan serangkaian kejadian baru. Hijrah dari kekecewaan dengan memaafkan. (Nadia, 2014:133) Kutipan di atas dapat memberi kita satu kesimpulan jika obat dari patah hati karena cinta adalah hijrah atau pindah dari kenangan-kenangan lalu pada kenyataan sekarang dengan kehidupan baru di depan mata. Aspek cinta menjadi kecenderungan dalam novel ini tentang bagaimana beberapa orang dalam satu lingkungan memiliki harapan akan cintanya masing-masing dengan cara mereka maju untuk mewujudkannya menjadi nyata. Novel ini berbicara tentang perjuangan dan doa yang tak henti-hentinya dipanjatkan untuk sebuah kebahagiaan dengan beberapa pengorbanan. Cinta yang indah yang belum lama dirasakan namun dapat dikatakan cinta sejati oleh orang lain yang melihatnya. Ketegaran Zhongwen merawat dan mencintai kelemahan isterinya dan terbukanya kembali hati Asmara melihat keteguhan cinta suaminya menjadikan keduanya kompak dalam balutan cinta kasih-Nya. Selain itu, novel ini dapat dikatakan sebagai novel motivasi yang islami membuat kita terenyuh untuk tetap berjuang melalui semua ujian Allah dalam kehidupan kita dengan doa-doa yang tak hentinya harus kita panjatkan.
ini salah satu pengarang favoritku! Jadi wajar aja kan kalau langsung kelar.. Nah kalau menurut saya yaa Seperti khasnya Asma Nadia, ceritanya mengalir enak walaupun di beberapa bagian saya berharap lebih banyak dialog dan bukan narasi panjang-panjang. Ada penggalan puitis di tiap awal bab yang menyenangkan, memanjakan pembaca yang suka kata-kata indah dan semacam petunjuk isi bab tersebut.
'Ra adalah bunga dan aku bukan kupu-kupu'
'Tak perlu kau cari surga sebab ia tersembunyi dalam hatimu'
dan banyak lagi.
Kita juga diajak jalan - jalan di Beijing, Great Wall dan masjid-masjid di China (harusnya lebih banyak lagi dong jalan-jalannya hehe), dan dapat 2 kisah klasik Ahei dan Ashima..koq pas banget ya penamaan tokohnya. Mengenai nama tokoh juga sempat bikin saya berpikir ini tokoh yang berbeda-beda, ternyata. . keren lah hehe.. Hal yang saya kurang paham; bukannya di China itu hanya boleh punya satu anak ya? Soalnya ada bagian yang bercerita bahwa Zhongwen punya adik-adik. Dan bagian penutupnya selesai terlalu cepat, saya sih kepinginnya kehidupan dua orang ini di bagian terakhir, lebih banyak dibahas..bagian happy-nya kurang banyak. Masih mau baca tentang Zhongwen dan Asma... part 2 mungkin? :)
♡Wo xiang ni ~ I miss you♡ ♡Rang women yiqi manman bian lao~ Let's slowly grow old together♡
sebuah kisah cinta yang manis. awal yang penuh tanda tanya, dengan hadirnya dua tokoh wanita yang berbeda dan dua laki-laki dengan karakter nya masing-masing. mereka menjalani kehidupan masing, antara kisah cinta indah Ra bersama Dewa yang harus runtuh oleh wanita lain (Anita) dan kisah cinta yang rumit, namun lucu juga mengesankan antara Asma dan Zhong Wen. tapi siapa yang sangka, ditengah-tengah semua terkuak Ra adalah Asma, mereka berdua yang nampak berebda sebenarnya adalah satu tubuh Asmara. Wanita periang yang harus melewati cobaaan lewat penyakit APS. lalu lelaki mana yang tetap bertahan untuk menjaganya? Dewa yang selalu mengharpkannya meski dia telah memilih wanita lain sebagai istrinya ataukah Zhong Wen yang baru dua hari dikenal Asma dari negeri tirai bambu itu.
Buku ini memberikan makna cinnnta yang indah namun dalam konteks keislaman. kesetiaan tak luput diuji dengan nafsu sesaat. dan cahaya illahi yang mendekatkan insan kepada Tuhannya. Sungguh kisah yang memotivasi juga menginspirasi. dan aku jatuh cinta pada setiap aksara yang tertuang dalam buku ini :)
“JIKA TAK KAU TEMUKAN CINTA, BIAR CINTA MENEMUKANMU”
Awalnya aku bingung, soalnya seperti ada 2 cerita didalam novel ini, sedangkan novel itu pasti hanya ada 1 cerita. Dan ternyata di akhir cerita, 2 cerita itu bertautan, dan ternyata juga 2 tokoh Asma da Ra, adalah sama, yang tak lain bernama Asmara.
Tapi dibalik itu semua, novel ini bagus banget. <3
My favorite quotes :
-“Jika tak kau temukan cinta, biar cinta menemukanmu.” -“Laki-laki, dimana kau sandera kegagahanmu yang biasa menyelimuti kata-katamu?” -"Ajarkan aku mantra pemikat cinta Ahei dan Ashima maka akan kutaklukan penghalang segala rupa agar sampai cintaku padanya.” -"Bersabar itu cinta, tergesa-gesa itu nafsu.” -"Aku tak ragu mengatakan, bersama denganmu walaupun sebatas embusan angin kunamai ia anugrah.”
"Manusia tempatnya khilaf, tetapi tidak berarti setiap orang bebas mengeliminasi tanggung jawab moral yang mesti ditanggungnya, lalu berbicara seolah-olah kesalahan adalah sesuatu yang lumrah dan dengan enteng dapat ditoleransi." -hal. 64
Ini adalah novel kedua dari penulis yang aku baca setelah sekitar tiga tahun lalu aku baca karya lainnya yang judulnya Pesantren Impian. Secara overall mungkin bisa kubilang aku lebih suka yang Pesantren Impian karena ada unsur tegang (semi-semi suspense) gitu di dalamnya. Sementara untuk judul yang kayaknya udah akrab di telingaku ini lebih ke romance.
Aku lupa gimana ceritanya sampai bisa mendengar judul novel ini, sepertinya antara dari review yang pernah kulihat atau mungkin keburu sudah pernah mendengar judul film adaptasinya dengan judul yang sama (meskipun aku belum pernah menonton filmnya).
Awalnya tuh kukira novel ini akan menceritakan tentang seseorang yang bepergian ke China karena suatu alasan dan menjalani kehidupan sebagai seorang muslim di sana dengan segala seluk beluk dan sedikit memaparkan budaya China. Tapi novel ini seolah ingin membawa persepsi yang lain.
Menurutku romancenya pas, nggak terlalu menye karena memang tokoh-tokoh yang ada di sini sekitar dua puluh tahunan ke atas gitu. Juga di sini aku suka bagaimana unsur romancenya tuh dibangunnya perlahan, even kita tahu apa yang akan terjadi ke belakangnya.
Bercerita tentang Asma yang suatu saat karena pekerjaannya, membuatnya terbang menuju China dan menjadi awal pertemuannya dengan lelaki bernama Zhongwen, dan mereka pun menjalin percakapan hingga merasa topik obrolan mereka tidak monoton dan makin berkembang, sampai sedikit demi sedikit kehidupan Asma lama-kelamaan mulai menemukan ambang kebingungan akan jati dirinya.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir premisnya sederhana namun bagaimana penulisnya merangkai kalimat dan penggunaan kata-kata yang indah, yang surprisingly tetap enak dan mengalir bacanya, bikin cerita dalam novel ini memang layak untuk dinikmati terutama di waktu senggang.
Dua kali membaca novel Asma Nadia aku tetap suka dengan gaya penceritaannya yang memang, apa ya istilahnya, mungkin bisa dibilang adem.
Tokoh di novel ini nggak terlalu banyak jadi kita tidak akan dibuat kebingungan dan justru mengenal lebih jauh tokoh-tokoh yang ada di dalam sini.
Sayangnya aku merasakan beberapa kali novel ini mengalami kesalahan baik dalam penggunaan huruf kapital atau kata yang dipisah dan semacamnya gitu, yang mungkin untuk beberapa orang akan fine-fine saja. Dan juga ada satu tokoh yang lumayan bikin aku berkata: "sekarang maumu apa, hey?" tapi ingat, jangan kebawa emosi terhadap cerita fiksi.
Dan di sini entah bagaimana, ada satu kondisi yang membuatku berpikir tentang plot twist ceritanya, karena di sini dituturkannya dengan dua POV yang membuatku berpikir apa korelasi POV satu dengan lainnya, dan aku benar-benar menebaknya dengan insting yang aku juga nggak tahu dapat dari mana, dan terbukti benar! Jadi setelah mengetahui kebenaran plot twistnya menurutku ketegangannya agak sedikit menurun hingga ending cerita.
Dan kejahatanku sepertinya terpatri ketika memikirkan bagian ending. Aku nggak tahu kenapa memikirkan kemungkinan terburuk untuk dijadikan ending sehingga novel ini akan memiliki sad ending, namun ternyata penulis memiliki rencana lain, tapi jujur itu membuatku menangkap pesan moralnya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Yang Mahakuasa sudah berkehendak.
Pesan moral yang indah yang dibungkus oleh diksi indah pula, dan bisa menjadi penyelamat kamu di kala reading slump. Plus ada lumayan banyak unsur yang bisa membuat kita belajar seperti sejarah China, kisah sahabat Rasullullah, dan gejala suatu penyakit.
Emang nggak bisa kalau ngeliat ada buku nganggur di rak. Walaupun mungkin buku-bukunya bukan cup of coffee gue, tapi tetep aja tangannya tergerak buat ngambil.
Cuma butuh beberapa jam untuk baca buku ini, nggak seperti wishing her to die yang kemarin ceritanya agak aneh, yang ini lebih lumayan readable buat gue.
Adalah Asmara, seorang gadis muslim yang bertugas meliput ke Beijing setelah ditinggal menikah oleh tunangannya, Dewa. Dewa dan Asmara ini sudah tidak terpisahkan sampai akhirnya memutuskan untuk menikah, sayang menjelang hari pernikahan mereka Dewa membuat kesalahan fatal yang mengharuskan dia menikahi wanita lain. Asmara yang terpukul memutuskan untuk menjauhi Dewa sejauh mungkin dan mengambil pekerjaan liputan ke Beijing selama 3 hari. Di Beijing, Asmara bertemu dengan cowok Chinese bernama Zhongwen yang tinggi dan ganteng namun non-muslim. Ini adalah kisah tragis Asmara dalam menghadapi ujian hidupnya. Kisah perjalanan Zhongwen menemukan Tuhannya dan belahan jiwanya. Dan kisah penyesalan Dewa yang walaupun udah nikah tapi masih terbayang wanita lain. Dengan siapa Asmara akhirnya menjalin hubungan? Gue nggak mau ngasih spoiler! Dan buku ini mengajarkan kita arti kata kesetiaan dan cinta sejati.
"Sah-sah saja jika orang menyebutnya romantis atau melankolis. Namun ketika dia berpindah keyakinan, Zhongwen ingin itu karena dia jatuh cinta pada Allah, dengan segenap kehebatan dan kebaikan-Nya. Allah yang telah memberi banyak hal, tetapi selama ini lalai dia syukuri, karena merasa bahwa semua yang dia miliki adalah hasil dari kerja keras, tanpa ada campur tangan-Nya"
"Dan skenario-Nya, cara Allah mengulurkan hidayah melalui gadis berkerudung cerah itu, menurut Zhongwen sangat indah. Menyentuh."
Asma & Zhongwen - dua watak yang boleh dibilang sangat inspiratif. Kedua-duanya mempunyai kebijaksanaan dan tekad dalam setiap perkara. Asma yang begitu tabah, menganggap penyakit yang dihidapi adalah suatu Anugerah, bukan musibah. Manakala Zhongwen, lebih memilih mencintai Allah dan mencari haluan kehidupan yang hakiki; walau dia tahu keputusannya telah pun dianggap sebagai jurang pemisah dalam keluarganya.
Pengakhiran setiap bab mempunyai "cliffhanger" yang mendebarkan. Ternyata, menutup buku ini pada pukul 12tgh malam sememangnya tidak mudah. >_<
Judul Buku : ASSALAMUALAIKUM BEIJING ! -Pergi Cinta Mendekat Cinta- Penulis : Asma Nadia Penerbit : ASMA NADIA Publishing House ISBN : 978-602-9055-25-2 Halaman : 342 halaman
“Di antara rembulan yang tersembunyi dalam gelap dan gemerisik angin yang datang dari kejauhan, ke mana akan kubisikan cinta?” “Cinta adalah kegembiraan yang tersisa, jika nanti suatu pagi,tak lagi senyumu menyapa seperti biasa dan hanya bias kutemukan dalam mimpi” “Harta dan kebangsawanan, tak membuat laki-laki menjadi pangeran. Cinta sejati seorang putrilah yang mengubahnya”
Itu adalah beberapa quote yang ku suka di novel ini , hampir di setiap bab ada quote yang dibuat Asma Nadia. Nama tokoh utama dalam novel ini seperti nama penulisnya Asma. Awalnya saya sedikit bingung karena alurnya loncat-loncat, potongan adegan di selang-seling dengan flashback. Kupikir Asma dan Ra adalah dua orang berbeda, dan baru paham,setelah pertengan cerita, kalau itu adalah satu nama dengan dua cinta berbeda. Cerita ini diawali dengan kisah tragis sepasang kekasih Dewa dan Ra, yang kandas. Mereka menjalin kasih saat masih kuliah sampai lulus, begitu bahagia dan saling percaya, mereka sering membicarakan gambaran masa depan yang indah , hingga takdir merubah semua itu. Dewa harus menikah dengan wanita lain, yang juga tidak diinginakan Dewa. Bagi Dewa hanya Ra yang ada di dalam hidupnya, bukan karena Dewa dijodohkan oleh orangtuanya, tetapi ini kesalahan Dewa, sehingga harus menuntut tanggungjawab dengan menikahi Anita. Sebuah kesalahan yang seharusnya dapat terhindari, tetapi manusia hanya berencana. Ra sangat kecewa tidak menyangka sama sekali, Dewa yang sangat baik, perhatian dan mencintainya dapat terjebak kedalam perbuatan yang tidak pantas. Tetapi Ra ingin Dewa menjadi laki-laki sejati yang bertanggungjawab dan membiarkan menikahi perempuan lain, meskipun itu sangat menyakitkan.
Diperlukan waktu bagi Ra untuk melupakan semua itu, dan tugas nya ke Beijing sekaligus dapat membantu untuk melupakan Dewa. Akhirnya sampailah di Beijing untuk meliput berita tentang China khususnya keberadaan muslim disana. Dan disanalah Ra atau Asma begitu ia memperkenalkan diri ketika bertemu dengan Zhongwen, guide Tour yang membantu selama tugas di Beijing. Asma –Ra adalah panggilan Dewa terhadapnya, sedangkan kesehariannya dipanggil asma. Kenapa saya membahas nama ya dari tadi??…tetapi memang berbeda-beda untuk 1 nama, ada Asma,Ra dan Ashima. Dan yang terakhir ini adalah panggilan dari Zhongwen, yang menganggap nama asma mengingatkan pada legenda china, Legend of Ashima. Kisah cinta sejati antara Ashima dan Ahei, seperti kisah Romeo dan Juliet versi China. Zhongwen adalah laki-laki yang baik dan sopan, banyak hal yang diceritakannya tentang China, demikian juga Asma banyak bercerita tentang islam dikarenakan zhongwen selalu bertanya. Dia memang tidak beragama, tetapi percaya adanya Tuhan, Zhongwen masih mencari-cari agama yang menurutnya paling benar. Zhongwen menunjukan tempat-tempat bersejarah islam, tarnyata ada Masjid yang usianya udah sangat tua, mungkin didirikan tahun 996 M namanya Masjid Niujie. Pertanyaan dan pernyataan Zhongwen tentang agama cukup kritis dan Asma menjawaab dengan cerdas dan sabar. “Jika tidak ada agama, tidak akan ada peperangan,saling bunuh, kekerasan”ini salah satu pernyataan zhongwen, dan dijawaab Asma bahwa peperangan dan penjajahan terjadi bukan hanya karena agama, banyak orang yang berperang untuk menduduki sebuah negara,demi rempah-rempah,emas juga minyak. Peperangan terjadi antara penganut agama yang sama,bahkan negara yang tak percaya pada Tuhan juga berperang”. Banyak Dialog-dialog yang membuat zhongwen maupun asma menjadi bahan perenungan.
Asma jatuh sakit saat di Beijing, dan harus pulang ke Indonesia untuk di rawat. Selama di Indonesia Asma dirawat ditemani sahabat dan ibunya, ternyata Asma menderita APS (Antiphosoholipid Syndrome) Sindrom darah kental, sebuah penyakit yang langka. Ada 2 APS yaitu APS primer ( sindrom tersebut akan selamanya berada di dalam tubuh,tidak dapat diobati hanya bias dicegah agar darah tidak menyumbat di bagian tubuh yang lain) dan APS sekunder (sindrom akan hilang jika penderita rutin meminum obat). Asma menderita APS primer,penyakit tersebut sampai membuat lumpuh dan buta, dengan telaten ibunya dan sekar membantu merawat asma. Dan selama sakit tersebut Zhongwen tidak diberitahu, Asma tidak ingin khawatir dengan kondisinya. Akan tetapi sahabatnya sekar memberitahunya dan akhirnya datang ke Indonesia, menemui Asma. Dan menurutku cerita selanjutnya ini yang membuatku mengharu-biru, cukup menguras airmata. Kisah cinta sejati antar zhongwen dan asma, Kisah perjuangan Asma melawan penyakit yang diderita. Dan ini yang buat hatiku meleleh, yaitu kesetiaan dan kesabaran seorang suami terhadap istrinya yang sedang sakit parah selama bertahun-tahun, bahkan ketika istrinya rela untuk mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Sang suami tetap setia pada istrinya, dan cinta memang membuat kekuatan yang dahsyat untuk melawan segala hambatan, termasuk penyakit yang oleh dokter sudah divonis tidak bertahan lama.
Walaupun itu hanya kisah fiksi, yang kayanya sudah tidak ada di dunia ini, kalaupun ada, itu hal yang sangat langka, saya cukup banyak belajar dari kisah mereka, untuk kehidupanku bersama suami, tentunya :).Oiya buku ini juga sudah difilmkan tanggal 30 Desember 2014 yang lalu, dan saya nonton sama suami dan tidak lupa bawa tisu :)
Novel ini berkisah tentang kisah cinta antara Asmara dan Zhongwen, dua anak Adam yang berasal dari dua negara yang berbeda, tentunya tanpa meninggalkan ciri khas bagaimana Asma Nadia menulis sebuah cerita, yaitu bernuansakan keislamian. Melalui novel ini, Asma menceritakan tentang sebuah kisah cinta legenda dari Tiongkok, yaitu Ashima, dan juga menampilkan perkembangan agama islam di Tiongkok sendiri.
This entire review has been hidden because of spoilers.
arghhh ok saya baca ini waktu smp kayaknya bisa sekali atau dua kali duduk, nangis banget ... awalnya tau dari adaptasi movie-nya, lalu pinjam novel ini ke guru bimbel saya yang punya perpus mini. kata kiasannya bagus banget, ga bisa berkata-kata. cowoknya juga kewrennn, sabar banget y_y annznsnsns mc juga kelihatan development-nya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel bertema romansa dengan nilai-nilai Islami yang banyak terselip didalamnya. Aku membaca novel ini pada masa SMA, sehingga aroma nostalgia terasa menguar kembali ketika aku menulis ulasan tentang novel ini. Membaca novel ini rasanya seperti aku diajak untuk berpetualang bersama Asma, menyelami berbagai perasaan dan konflik yang ia alami.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Awalnya aku kurang paham sama alurnya. Setelah aku cermati baik² buku ini sangat menarik. Mengingat perjuangan mereka walau dipisahkan hal yg telak tak dapat dihindari. Agak lupa ceritanya gimana karena udh lama banget sejak aku baca novel ini
Asma Nadia adalah penulis pertama yang novelnya aku baca semasa sekolah. Assalamualaikum Beijing adalah salah satu karya favorit aku, yang udah difilmkan juga. Ia mampu menggambarkan satu tokoh dengan dua sudut pandang yang berbeda. Begitu menakjubkan.
Bukan jenis cerita cinta yang saya sukai. Mungkin saya bukan target pasar cerita ini. Tokoh Asmara mewakili sosok perempuan yang lemah. Asmara seharusnya bisa berdiri melanjutkan hidup sendiri apalagi setelah dikhianati oleh Dewa. Menurut saya sangat tidak cocok untuk menerima Zhongwen sebelum benar-benar move on dari Dewa.
2/5
This entire review has been hidden because of spoilers.
Beberapa bagian ada yang bikin senyum-senyum sendiri, dan quotesnya juga oke. Namun, sepertinya "plot-twist" antara Asma dan Ra' adalah dua orang yang sama kayanya gak terlalu perlu deh. Anyways, buku yang bagus dan cocok jadi bacaan ringan
This entire review has been hidden because of spoilers.
kelas 11 baca buku ini di perpustakaan, ngambil waktu di sela² jamkos. bagus banget buku nya, jadi tertarik sama novel romance lain karna buku ini. oh ya, dulu jg sempet nonton film nya tapi gatau dulu judul nya ternyata ini!