Buku yang ringan dan bisa habis dilahap dalam sekali duduk. Tapi kalo aku baca pelan-pelan karena buku ini isinya kumpulan cerpen, dan lebih enak dibaca selingan sama buku lain. Bisa dibaca dari chapter mana aja lompat-lompat, tapi siap-siap aja sama ending yang agak bikin sakit hati: ya lagian suruh siapa jatuh cinta diam-diam🫵😀
Ada kalimat di hal. 184 yang cukup mewakilkan isi buku secara keseluruhan:
“Aku tak tahu bagaimana perasaannya kepadaku, aku hanya menebak, terus menebak. Aku hanya bisa terus bertanya dan menjawab pertanyaanku sendiri dengan menerka-nerka.”
Jatuh cinta diam-diam berarti siap menghadapi gulat berkepanjangan dengan pikiran sendiri. Bergelut dengan rasa ingin tahu, ketidaktahuan dan misteri. Berhadapan dengan sebanyak mungkin peluang untuk berterus terang, lalu melewatkannya karena takut semua berubah. Menjadi pendengar baik meski cerita yang dibawakannya adalah hal yang paling tidak kita sukai. Dan seterusnya..
I wouldn’t recommend the type of “jalani dulu aja”tapi akhirnya gaada kejelasan hubungan. Dan, oh, yang aku temukan dari buku ini juga ada ternyata spesies laki-laki yang memperlakukan lawan jenisnya lebih dari teman, lebih dari sahabat, dalam jangka waktu lama, tanpa perasaan lebih. Ok maybe you’re going to say: that’s just a made up stories. Oh c’mon it happens in real life too. (thank god I never experienced it)
Seperti di bagian sinopsisnya, pokonya cerita-cerita dalam buku ini mengajak pembaca berpikir “apa halangan untuk nyatakan cinta?”. Karena ternyata jatuh cinta diam-diam selalu berakhir menyedihkan, sedangkan kalo kita memutuskan untuk menyatakannya, ya jadi ada dua kemungkinan: bersatu atau berpisah. Dan salah satu atau bahkan dua kemungkinan itu bisa lebih menyenangkan.