Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini buku kumpulan cerpen Kompas memakai judul Cerpen Kompas Pilihan sementara biasanya menggunakan judul Cerpen Pilihan Kompas. Perubahan itu adalah karena keinginan selalu merevitalisasi diri, yaitu sifat yang melekat pada media massa agar mampu mengikuti perkembangan masyarakat pembacanya. Bila sebelumnya cerpen-cerpen yang akan diterbitkan menjadi buku itu dipilih sejumlah anggota Redaksi Kompas, maka kali ini proses pemilihan sepenuhnya diserahkan kepada pihak luar. Untuk kali ini Redaksi Kompas memilih Prof Dr Bambang Sugiharto, guru besar filsafat yang mengajar di Universitas Parahyangan dan Institut Teknologi Bandung, dan Nirwan Dewanto, penulis berbagai genre sastra, untuk memilih dari cerpen-cerpen yang terbit di Kompas pada tahun 2005 dan 2006. Simak pandangan keduanya mengenai 16 cerpen pilihan mereka.
Ugoran Prasad memenangkan penghargaan cerpen terbaik Kompas (2005-2006) dengan cerpennya, "Ripin." Sebelumnya ia mendirikan BlockNot Forum (1999) dan menerbitkan novel Di Etalase, (Grasindo, 2003). Di tahun 2010, bersama Eka Kurniawan dan Intan Paramaditha, ia menerbitkan kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan (Gramedia Pustaka Utama, 2010), sebuah pembacaan ulang atas karya-karya horor Abdullah Harahap.
Sejak awal tahun 2000-an Ugoran telah menjadi resident artist di Teater Garasi. Ia terlibat dalam kerja penulisan naskah maupun dramaturgi beberapa karya, termasuk Waktu Batu, yang ditulisnya bersama Gunawan Maryanto dan Andri Nur Latif (2001-2004; sutradara: Yudi Ahmad Tajudin), dan Mnem[a]syne (sutradara: Yudi Ahmad Tajudin), kolaborasi Teater Garasi dan Teater Kunauka, Tokyo. Ia sempat menjadi Associate Editor di Lebur Theater Quarterly, Jurnal Teater dan Seni Pertunjukan.
Ugoran juga dikenal sebagai penulis dan penampil lirik untuk kelompok musik Melancholic Bitch, Yogyakarta. Kelompok ini telah menghasilkan tiga album (Live at nDalem Joyokusuman, 2003, Anamnesis, 2005, dan Balada Joni dan Susi 2009). Pada tahun 2010, bersama musisi indie dari Yogyakarta, Frau, Ugoran menyanyikan kembali lagu yang ia ciptakan untuk album Anamnesis, "Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa.”
Ugoran lulus dari jurusan Sosiologi UGM dan mendapat beasiswa Erasmus Mundus untuk program MA of International Performance Research (MAIPR) di University of Amsterdam dan Warwick University (2012). Ia juga pernah memperoleh fellowship dari Asian Cultural Council sebagai visiting scholar di Department of Performance Studies, Tisch School of The Arts, New York University (2008 dan 2010). Sejak 2013 ia menempuh program doktoral di bidang Kajian Teater di City University of New York (CUNY).
Saya merasa banyak terhubung dengan cerpen-cerpen dalam buku ini karena tak jauh dari tema bencana tsunami dan gempa. Entah kebetulan atau tidak, ketika saya mulai membaca kumcer ini yang banyak memotret tsunami Aceh dan gempa Yogya, tak lama kemudian terjadi gempa Lombok. Gempa yang memunculkan potensi tsunami. Itu pula yang membuat saya makin hanyut dalam cerita-cerita yang disuguhkan. Meskipun memang ada satu dua cerita yang saya tidak bisa menikmatinya, karena cerita yang diangkat dan diksi yang dipakai, tapi saya punya favorit, yakni "Piknik" karya Agus Noor dan "Nistagmus" karya Danarto. Oya, tentu saja saya menyukai juga cerpen "Gerobak" karya Seno Gumira.
Saya menjadikan cerpen Triyanto Triwikromo sebagai tugas kuliah sastra sejarah yang memberikan ilmu perihal posmodernisme yang membahas peristiwa sejarah dalam karya sastra. Cerpen Triyanto berjudul “Sultan Kabut Sayap Ngamid” ini berkisah mengenai seorang pelukis (duh lupa namanya) yang mau melukis Pangeran Diponegoro. Jika saja tidak ada catatan diskusi cerpen ini di Facebook PKKH, saya mungkin tidak akan pernah paham apa isi cerpennya. Soalnya menurut saya agak rumit, dari segi bahasa dan ceritanya (di bagian tengah cerpen ada yang absurd gitu; mendadak Sultan Ngamid punya sayap, tapi dia terlalu rendah hati untuk menunjukkan sayap itu, jadi dari sini kelihatan kalo si penulis mendewakan si Sultan Ngamid alias Pangeran Diponegoro itu).
Dan hati saya, bagaimanapun, jatuh pada Ripin. Sampai saya baca dan ketik ulang untuk mendapati bahwa: satu cerita itu terjadi dari pagi sampai malam doang. Dengan bumbu penyedap berupa tata bahasanya Ugoran Prasad yang, mbuh ngopo, terbaca dan terdengar lain daripada cerpen-cerpen lain. seperti biasa, Ugo menampilkan adegan-adegan, menambahkan petuah yang diseram-seramkan, dan yang istimewa adalah dia tambahin pola pikir anak-anak. Si Ripin, tokoh utama dalam cerpen ini, berpikir bahwa “Petrus” itu, dari namanya, adalah “orang” kresten. Ya emang orang, tapi bukan satu orang dan nggak ada kaitannya sama agama :( tapi karena dalam cerpen ini yang mikir begitu si Ripin, anak kecil, polos, ceplas-ceplos, pemikiran itu jadinya seolah-olah bisa kita maklumi. Kan gemas. Endingnya juga, bikin merasa hampa. Omongan nenek terwujud: Ripin kehilangan jalan pulang soalnya nggak nurut sama Mak. Dia balik ke rumah dan bukannya bertahan di pinggir jalan. Sedih ih, padahal ‘cuma’ fiksi. Logika dan penyajiannya asik sih.
Ada juga cerpennya Dewi Ria Utari, ini juga kusuka~ intinya dua tokoh utama dalam cerpen ini, pada akhirnya, rumahnya dibakar. Nggak ada penjelasan secara langsung. Tapi kamu dikasih penjelasan-penjelasan pada bagian awal bahwa pemilik rumahnya itu punya kekuatan supranatural. Nah dengan ini, pembaca akan berkesimpulan sendiri bahwa: pemilik rumah dianggap penyihir sehingga rumah mereka dibakar warga desa. Padahal mereka nggak ngelakuin kejahatan apa-apa.
Itu dia tiga cerpen yang berkesan buat saya dalam kumpulan ini.
Ripin membawa kita kembali ke era 1980an, ketika Rhoma Irama bukan hanya masih menjadi idola ibu-ibu muda namun juga figur anti Orba. Tradegi demi tragedi, justru momen ketika pengarang mengungkapkan siapa sosok “Jagoan Kresten” yang ditakuti jawara kampung-lah yang paling mencengangkan bagi saya.
Sayangnya, secara keseluruhan, kumpulan cerpen Kompas kali ini kurang mengesankan buat saya. Mungkin karena saya membaca ulang setelah lewat lebih dari satu dekade peristiwa gempa dan tsunami Aceh 2004, lumpur lapindo serta gempa Jogja tahun 2006. Sebagian dari cerpen dalam buku ini memang mengisahkan peristiwa paska bencana. Ketika saya membaca cerpen-cerpen ini di koran di hari terbitnya dulu, saya bisa merasakan nuansa yang diharapkan penulis dari cerpen-cerpennya. Namun situasi berkembang, pengalaman-pengalaman nyata dari orang-orang yang telah melanjutkan hidupnya terus bergulir, sehingga sulit bagi saya menemukan relevansi. Mungkin butuh satu dekade lagi untuk saya bisa menikmati cerpen-cerpen ini kembali, sebagai bagian dari fiksi sejarah.
Cerita yang paling bisa saya nikmati adalah Mata Sultani oleh Adek Alwy, kisah “coming-of-age” sekumpulan anak remaja sebelum waktu dan peristiwa sejarah Indonesia yang kelam memishkan mereka. Piknik dan Mata Mungil Yang Menyimpan Dunia, keduanya karya Agus Noor serta Caronang karya Eka Kurniawan juga membuat saya hanyut dalam alegorinya.
Namun, sebagai seorang penyuka cerpen yang awam sastra, saya merasa beberapa cerpen terlalu sulit dipahami dan membutuhkan pemaknaan berlapis. Mungkin kompilasi cerpen Kompas pilihan ini bukan untuk bacaan semua orang.
Membaca kumpulan cerpen ini, rasanya tidak sedikit cerita yang membuat kita harus membaca berulang kali supaya paham (walaupun tetap berakhir dengan ketidakpahaman); entah karena diksi dan kosakata yang digunakan tidak familiar, atau memang pembaca (saya) yang kurang cakap berbahasa Indonesia. Cerpen-cerpen yang terbit di tahun 2005-2006 ini beberapa mengambil latar belakang bencana tsunami Aceh, mengingat kejadian di tahun 2004, dan setiap kisahnya mengharu-biru. Dua cerita yang termasuk favorit saya dalam kumpulan cerpen ini adalah "Laut Lepas Kita Pergi" oleh Kurnia Effendi dan "Nistagmus" oleh Danarto. Bagaimanapun, sepakat dengan kurator Nirwan Dewanto, "Ripin" yang ditulis Ugoran Prasad memang cerpen yang paling menghibur untuk dibaca. Gaya penuturannya lugas, tidak berbelit, bahasa sederhana dan alur yang mudah diikuti membuatnya paling mudah diingat dan memang layak dinobatkan sebagai judul buku.
Kumpulan cerpen dari karya penulis yang hebat. bukan hanya cerpennya yang hebat, tetapi dua tulisan pembuka dan penutup dari pemilih cerpen-cerpen pun tak kalah hebat. saya belajar dari cara analisis mereka dalam memilih cerpennya.
Kumpulan cerpen Kompas yang terbilang sangat segar ketimbang beberapa tahun sebelumnya, dan beberapa tahun sesudahnya, terdapat cerpen karya Puthut EA. Setelah buku kumcer Kompas tahun 2005 ini, saya tidak lagi menemukan cerpen karya Puthut EA. Sampai kumcer terbaik terbaru, tahun 2021...
Sebagian besar cerpen menceritakan tentang Tsunami Aceh. Tentang kehilangan, tentang keserba-mendadakan. Sebuah peristiwa yang mengguncang banyak jiwa. Kepada mereka yang pergi bersamaan dengan buih air laut, lahumul faatihah 🥀
Ripin menceritakan latar kehidupan keluarga yang tidak utuh dan gamang. Gamangnya seperti tidak ada tanda, apa karena kemiskinan atau hal lain. Ripin mempunyai Mak yang tabah dan Bapak yang suka mengamuk. Ripin selalu ingat apa yang Mak suka, Rhoma Irama. Ripin dan Mak hendak kabur tapi gagal. Kata nenek Ripin, hukuman untuk anak yang tidak patuh akan perintah orang tua akan kehilangan jalan pulang. Ripin kemudian tak hanya kehilangan jalan pulang, tapi juga Mak karena mati dihajar dan Bapak yang kemudian diketahui dibunuh oleh Petrus, jagoan yang dulunya gelar itu disandang Bapak.
Laut Lepas Kita Pergi adalah kisah untuk mengenang cerpenis asal Aceh. Tsunami telah merenggut ibunya, Meutia, dan Hasan. Satu-satunya hartanya kini pun telah pergi meninggalkannya, ayahnya, yang justru kalah sebelum berperang dengan membiarkan Mustafa sendiri di tengah jerit tangis kehilangan dan puing-puing.
Caronang adalah sosok anjing pudel unik dan pintarnya mencengangkan sekaligus mencekam. Don Jarot-lah yang telah mengenalkan cerita tentang caronang kemudian berdua mencarinya di muara sungai Sagara Anakan. Malang, si anak justru tewas di tangan caronang. Cerita unik dari Eka Kurniawan, tak ada yang meragukan beliau, bukan? :)
Ibu Pergi ke Laut. Ceritanya sedih banget, tentang kepergian ibunya Dinda yang katanya ke Aceh terus berlanjut ke laut. Dinda berkeinginan untuk tetap menulis surat ke ibu melalui kapal kertas. Sebenarnya ke mana ibu? Suka sekali dengan pengungkapan yang sederhana namun sampai ke hati. :(
Jejak yang Kekal. Tentang fosil sepatu. Gak ngerti, kakak! Padahal biasanya saya pencinta cerpen-cerpennya Gus tf Sakai, kali ini benar-benar gak paham.
Nistagmus menceritakan tentang seorang obituari, mencatat kematiaan seseorang dan riwayat hidupnya. Di pengantarnya, Nirwan Dewanto menjagokan cerpen ini sebagai salah satu pemenang. Dan terbukti, menurut gw keren cerpennya, ingat film Knowing juga.
Mata Sultani. Sultani dan keluarganya sebagai korban kerusuhan tahun 1960. Teman lama si aku yang hilang dan teringat bagaimana Sultani biasa menatapnya.
Bocah-bocah Berseragam Biru Laut yang akhirnya mati karena tergerus kebutuhan dunia kini. Paradoks. Ironi sekali. Awalnya kematian generasi mereka hanya seputar muntaber, kurang gizi, atau pun kelaparan.
Rumah Hujan paling banyak ditemukan kata bersayap, tentang seorang anak yang kehilangan ayah dan ibunya, lalu kehilangan rumah hujan milik budenya yang penuh misteri.
Sayap Kabut Sultan Ngamid. Magelang mengingatkan saat pertama kali rafting, di sungai Elo. #salahfokus. Kutipan keren di cerpen ini: "Iblis? Kitalah yang iblis kalau tak bisa memaafkan orang-orang yang hendak membunuh dan memperdaya kita."
Mata Mungil yang Menyimpan Dunia. Sebuah kontradiksi yang diceritakan oleh Gustaf. Di matanya mata seorang bocah jalanan begitu memikat, seperti mata paling indah di dunia yang apapun bisa terlihat begitu menakjubkan. Kemudian Gustaf bertekad akan mengganti matanya dengan mata si bocah, namun orang-orang malah merasakan itu sebagai mata iblis. Cerpen Agus Noor kali ini seperti ada kaitannya dengan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia.
Sumur. Cerpen yang cukup mengenaskan, terkait cerita masa lalu dan korupsi yang dialami oleh sang ayah. (Kapan ya ketemu sama penulis ini, padahal kita satu kota).
Air. Khas Djenar banget banget, hehe. Ketika seorang anak datang dari "air" yang dipaksakan, kehidupan selebritas, dan kemudian diakhiri dengan puisi.
Piknik. Agus Noor bicara tentang wisata air mata yang bagi sebagian orang menikmatinya, mengunjungi daerah-daerah sedih yang siap akan kehancuran. "Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan juga."
Gerobak. Kakak Seno keren banget idenya ya. Gerobak yang dibawa oleh para pengemis untuk nongkrong di rumah-rumah gedung di saat menjelang lebaran. Mereka datang dari negeri kemiskinan, meminta hak mereka makanan untuk berbuka dan rezeki untuk lebaran. Pada tahun-tahun sebelumnya, pascalebaran mereka akan meninggalkan kota, tapi setelah negeri kemiskinan mereka dialiri lumpur, mereka tak ada tempat kembali dan kemudian tinggal di rumah-rumah gedung tersebut. Great, one of my fav.
Malaikat Tanah Asal. Aku, Hayati, dan Maya yang terhubung dengan tanah Alas, lalu Surga dan Neraka
Seperti dikatakan di bagian sampul belakang buku, buku kumpulan cerpen Kompas memakai Cerpen Kompas Pilihan sementara biasananya menggunakan judul Cerpen Pilihan Kompas. Dan, bila sebelumnya cerpen-cerpen yang akan diterbitkan menjadi buku itu dipilih sejumlah anggota Redaksi Kompas maka, kali ini proses pemilihan sepenuhnya diserahkan kepada pihak luar; Prof Dr Bambang Sugiharto, guru besar Filsafat dan Nirwan Dewanto, penulis berbagai genre sastra. Terdapat enam belas cerpen dalam buku ini, dan alasan kenapa saya memilih dan membeli buku ini karena judul buku ini adalah nama panggilan dari bapak saya. Dan saya harus katakan bahwa Ripin sendiri adalah kisah yang paling saya sukai dalam buku ini, terlepas dari alasan kenapa saya memilih buku ini. Ripin, Ibu Pergi Ke Laut, serta Rumah Hujan adalah cerpen-cerpen kesayangan saya dan Caronang, Bocah-bocah Berseragam Biru Laut, juga Mata Mungil yang Menyimpan Dunia membuat saya menyayangkan tokoh anak-anak yang menjadi korban dari yang lainnya. Kebanyakan cerita ini menceritakan tentang anak-anak baik secara utuh maupun sebagian, dan tentang anak-anak saya sungguh menggunakan perasaan dan ini memang tidak objektif tapi terserahlah. Tentang Ripin yang adalah anak dengan keinginan sederhana untuk membawa emaknya ke pasar malam demi melihat sang idola dari emaknya yang berakhir tragis. Ibu Pergi Ke Laut, sangat mengiris hati, Dinda mengirim surat untuk ibu di laut melalui sang hujan.Rumah Hujan, tentang Narpati bocah yang ditinggalkan oleh orang tuanya di rumah huan yang penuh misteri. Sementara untuk Caronang saya sungguh marah atas kematian Baby dan sungguh bersedih untuk nasib anak-anak di Anak-anak yang Berseragam Biru Laut,' Kami belum ingin surga. Kami ingin dunia. Kami ingin belajar menjadi manusia. Tetapi, kami tak sanggup berada di dunia yang dulu.' Dan Mata Mungil yang Menyimpan Dunia tak lagi bisa memandang dunia yang indah dengan cara yang sama akibat keserakahan orang dewasa. Cerpen-cerpen ini indah dengan sentuhan perasaan karena membawa sudut pandang anak-anak di sebagian besar ceritanya, walau jelas ini bukan kisah anak-anak. Tapi, berbeda dari sudut pandang orang lain yang membahas buku ini, saya menyukai buku ini karena hal tersebut. Ada banyak kisah menarik lainnya, seperti Nistagmus yang tentang seorang penulis obituari yang menadi korban dan saksi Tsunami, cerpen satire Piknik, dan saya berusaha menikmati Air juga Jejak yang Kekal, Mata Sultani, Sayap Kabut Sultan Ngamid, Sumur, Gerobak dan Malaikat Tanah Asal.
Sempat pesimis saat awal membeli kumpulan cerpen Kompas yang ini, mengingat sejak 2-3 tahun terakhir karya-karya yang masuk tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya. Tapi setelah membaca, ternyata mendapat kesan yang berbeda. Cerpen-cerpen yang masuk di sini memang sangat-sangat baik walau tidak dapat dikatakan yang terbaik. Ini dapat dibaca dari karya-karya seperti Ibu Pergi Ke Laut, Nistagmus, dan Rumah Hujan yang menyiratkan tragedi dengan gaya ceritanya yang berbeda-beda. Secara umum, jauh lebih baik dari kumpulan cerpen setahun sebelumnya. Dengan ini, Kompas memang masih dapat ditakwilkan sebagai barometer sastra koran Indonesia.
Sempat gagal fokus karena malah asyik baca ulasannya Nirwan Dewanto 'Dari Caronang Ke Ripin' di awal. Heuheu. Cerpen yang menjadi judul di Cerpen Kompas Pilihan kali ini (Ripin) sudah pernah saya baca sebelumnya setelah sempat penasaran sama pengarangnya (Ugoran Prasad) yang merupakan vocalist dari Melancholic Bitch. Selain Ripin, cerpen lain yang sudah pernah saya baca adalah Air oleh Djenar Maesa Ayu dan Sayap Kabut Sultan Ngamid. Favorite saya di kumpulan cerpen kali ini adalah Rumah Hujan dan Nistagmus <3
Menyelami satu demi satu cerpen-cerpen yang terangkum dalam antologi ini membuat saya semakin tenggelam. Setiap cerita memiliki makna tersirat yang hanya sanggup ditemukan jika menghayati ketika membacanya. Terlepas dari itu semua, tetap ada satu-dua cerpen yang nyantol di hati saya. Adalah Ripin, Ibu Pergi Ke Laut, dan Bocah-bocah Berseragam Biru Laut.
Well, ga seperti buku kumpulan cerpen pilihan Kompas yang lain, buku ini lebih berat dan lebih susah untuk dicerna. Ripin memang cerita yang paling kuat, sehingga tak salah apabila terpilih menjadi yang terbaik. Selain itu, saya juga suka cerita Mata Mungil Yang Menyimpan Dunia, serta cerita Gerobak. Dua cerita tersebut cenderung ringan tapi tetap sarat makna dan pesan sosial.
Cerpen-cerpen yang dihadirkan dari koran Kompas edisi 2005 sampai 2006. Itu fakta yang tak terbantahkan, namun di sisi lain menghadirkan rentetan fakta lain; isi dan makna cerita. Entah apa yang mempengaruhi sebagian besar penulis yang "berkumpul", tapi kebanyakan cerpen yang ada menghisahkan bencana Tsunami Aceh dari berbagai sudut pandang para penulis. Pun bila tidak, memberi kesan-kesan suram.