Jump to ratings and reviews
Rate this book

(Me)mories

Rate this book
Kau menganggapku seorang puteri, bukan? Lalu, apa jadinya jika kau tahu, sosok puteri yang diam-diam menyergap hatimu ini hanya seorang makhluk aneh kesepian, yang kehilangan jati dirinya. Apakah cinta akan tetap sama?

Ternyata, ini hanyalah tentang sepenggal kisah-kisah di ujung hari yang menunggu akhir. Tapi, saat ia ingin menyerah, seseorang tiba-tiba membuat janji.

“Membuat kamu aman adalah kegemaranku yang baru. Jadi siap-siap saja aku lindungi, oke?”

Hanya karena sebuah janji, sesuatu berubah. Sebuah janji yang membuatnya mulai percaya dan berharap. Namun kemudian, ia sadar bahwa sebuah janji tak akan pernah bertahan lama. Karena itu, ia memutuskan untuk menjauh dan bertahan dengan caranya sendiri.

"Pernah suatu saat aku mencoba membayangkan masa depanku. Kau tahu? Membayangkan masa depanku tanpa ada kau di dalamnya, rasanya sangat aneh."

288 pages, Paperback

First published January 1, 2014

9 people are currently reading
252 people want to read

About the author

Nay Sharaya

4 books86 followers
Lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan tanggal 26 April 1989 dan saat ini bertempat tinggal di Bandung.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (21%)
4 stars
28 (32%)
3 stars
30 (35%)
2 stars
6 (7%)
1 star
3 (3%)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews
Profile Image for Rahayu Adriani.
Author 5 books6 followers
November 18, 2014
Secara keseluruhan, novel Nay ini menyajikan kisah yang -bagi saya sendiri- susah buat ditebak #Emang otakku ku kadang kagak nyampe# Hehe... Tipe pembaca seperti saya misalnya, dalam membaca novel itu pasti ngelirik sinopsis belakang atau pun prolognya dulu, kalau menarik ya dibacanya lanjut, tapi kalau tidak yahhh tau sendiri lah. #Malah curhat# dan Me(Mories) membuat rasa penasaran saya tentang endingnya semakin gregetan hanya dengan membaca prolognya saja.
Sempat terkecoh juga sama covernya, ternyata ceritanya remaja sekali.
Cuma part2 awal lumayan bingung, karena banyaknya karakter yang muncul dan -sepertinya- tidak terlalu penting.

Well, 3 Bintang buat Alan,,, eh maksudnya Me(Mories) ^^
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews301 followers
February 26, 2016
review ada di http://kubikelromance.blogspot.com/20...

Hari-hari MOS menjadi hari yang melelahkan bagi Mories, dia sering sekali mendapat hukuman dari panitia, mulai dari kepergok mau sarapan, lupa membawa nama sampai telat. Untungnya dia tidak sendirian, ada Tiyanna yang selalu membantunya, yang menganggapnya sebagai teman, seseorang yang sebelumnya tidak pernah Mories punya. Tiyanna sendiri adalah cewek pemberani, tidak takut dengan gertakan para panitia dan gara-gara itu dia selalu menjadi bulan-bulanan keisengan para kakak senior, khususnya Alan sang ketua OSIS. Berbeda dengan Alan yang suka menjahili dan sering memberi hukuman kepada Tiyanna, dia justru suka membatalkan hukuman kalau Mories yang mendapatkannya. Sejak pandangan pertama dia tertarik kepada Mories, ada yang berbeda dengan gadis tersebut, terlalu pendiam dan menerima perlakuan dari orang lain tanpa mebantah, berbanding terbalik dengan Tiyanna.

Di sekolah yang baru, Mories berusaha menjadi sosok yang baru, seseorang yang tidak mencolok, pendiam dan tidak neko-neko. Sayangnya, karena sering berurusan dengan Tiyanna, mau tidak mau dia juga menjadi perhatian siswa lain, dia juga dibully oleh genk-nya Miranda, pacar dari Alan, karena gara-gara dia Alan memutuskan Miranda. Saat itulah sifat Mories yang sesungguhnya terungkap, hal yang ditunggu-tunggu oleh Chandra, kakak angkat dari Tiyanna yang juga merupakan musuh terselubung Alan. Chandra disuruh ayah Mories untuk menjaga anak semata wayangnya, menghindarinya terkena masalah dan melindunginya dari orang-orang yang ingin berbuat jahat padanya. Ayah Mories adalah orang penting dan salah satu orang terkaya di Indonesia, dia sangat memanjakan Mories sehingga takut terjadi sesuatu hal yang buruk padanya, dia ingin seseorang bisa selalu menjaganya. Perbuatan yang ingin dilakukan oleh Alan juga.

"Sepertinya permintaan kamu barusan terlalu sulit, aku melakukan semua itu bukan untuk kamu, tapi untuk diriku sendiri. Karena membuat kamu aman adalah kegemaranku yang baru. Jadi siap-siap saja aku lindungi, oke?" tandas Alan penuh percaya diri.


Mories sendiri sejak kecil divonis memiliki kelaian gen bernama Urbach - Wiethe disease, menyebabkan dia tidak mempunyai rasa takut, membuat dia tidak takut kehilangan apa pun, tidak punya pengendali emosi dan kepribadian yang jahat. Dia tidak akan segan-segan membalas dendam kepada orang yang menyakitinya, di dukung oleh ayahnya yang kelewat sayang padanya, siapa yang berani macam-macam akan mendapatkan balasan setimpal.

Kematian ibunya adalah emosi pertama yang dia rasakan, dia merasakan apa yang namanya kehilangan dan kesedihan, sejak itu dia mulai sedikit berubah, menjadi gadis pendiam dan apa adanya. Kali kedua dia mendapatkan emosinya adalah ketika dia mulai merasakan rasa cinta dan takut kehilangan untuk kedua kalinya.

"Kadang-kadang kita pengen membantu seseorang yang menurut kita butuh bantuan. Kadang kita pengen berada di samping seseorang dan melindungi dia sebisa kita. Tapi ternyata nggak semua orang ngerti isi hati kita," tutur Alan seraya menatap Mories yang terlihat mencerna kata-katanya. "Jadi, kalau kamu ketemu dengan orang kayak gitu. Pilihannya hanya dua, terus berada di sampingnya atau ninggalin dia kalau sudah kehabisan tenaga."
"Kalau kamu ada di posisi itu, kamu akan milih yang mana?" Mories balik bertanya.
"Aku akan berusaha untuk tidak kehabisan tenaga. Karena hanya dengan begitu, aku bisa terus berada di sampingnya," jawab Alan yakin.


Lama juga tidak membaca teenlit yang beda dari biasanya, buku ini sedikit gelap dan mempunyai konflik yang cukup banyak. Sedikit gelap karena karakter yang dimiliki oleh Mories, konflik yang cukup banyak karena banyaknya peran pendukung yang bermunculan dan mereka membawa kisah pendukung yang masih berhubungan dengan yang dialami Mories. Penulis sepertinya juga ingin menyuguhkan cerita yang berbeda, bukan benci jadi cinta tetapi mencintai karakter yang jahat, yang punya banyak masalah.

Saya cukup bisa merasakan karakter Mories yang awalnya tidak mempunyai emosi, jahat dan tegaan tapi lama kelamaan bisa sedikit berubah dengan kemunculan Tiyanna dan Alan. Tiyanna yang memperkenalkannya dengan arti sebuah teman dan Alan yang memperkenalkannya akan perasaan berbunga-bunga. Tapi kadang-kadang sifat jahatnya bisa muncul, seperti ketika berhadapan dengan Chandra yang mempunyai niat terselubung atau kroconya Miranda yang membully-nya. Saya suka penulis menceritakan perkembangan karakter Mories sehingga bisa lebih mudah dipahami. Penulis juga mengecoh akan hubungan antara Mories-Alan-Tiyanna-Chandra, sehingga membuat cerita tidak bisa tertebak. Alan dan Tiyanna yang sering bertengkar, awal mula benci jadi cinta, serta sifat Chandra yang cukup misterius, dia ingin balas dendam kepada Alan karena pernah menyakiti orang yang dicintainya dengan mengunakan Mories, karena dia tahu Alan menaruh perhatian yang besar padanya.

Alurnya sangat cepat, saya sempat bingung pas dibagian awal ketika cerita beralih dari masa SMP ke masa SMA, dan banyak rahasia yang awalnya jadi bahan pertanyaan tapi untungnya di akhir-akhir penulis mengungkapkan segalanya, banyak sekali pemeran pembantu yang bermunculan yang artinya juga mereka membawa cerita dan konflik tersendiri, untungnya semua ada penyelesaian masalah sehingga kemunculan mereka tidak sia-sia walau hanya sebentar. Mungkin untuk mendukung karakter Mories yang melihat sifatnya cukup langka dan sulit digambarkan sehingga ditonjolkan lewat konflik yang dia alami dan bagaimana cara dia menyikapinya.

Bagian yang cukup mengganggu adalah informasi tentang penyakit Mories. Saya rasa sebaiknya sumber informasi yang penulis dapat tentang Urbach - Wiethe disease ditampilkan lewat catatan kaki atau di bagian akhir, tersendiri kayak daftar pustaka, karena cukup mengganggu ketika tiap paragraf ada sumbernya, serasa membaca karya ilmiah, serta kalau bisa kalimatnya dibuat lebih luwes, artinya tidak terlalu teoritis yang terkesan asal tempel dari sumber langsung. Tapi saya menghargai usaha penulis untuk mengambil tema cerita yang cukup berbeda dari yang lain, jadi tahu kalau ada penyakit yang tidak mengenal rasa takut (suer, saya baru denger pertama ini). Pengganggu kedua adalah penyelesaian masalah yang dialami Mories yang terlalu cepat, dramatis dan sinetronis, mengambil setting Korea lagi (yah, saya cukup cerewet karena saya sudah sangat bosan dengan cerita Indonesia rasa Korea). Untunganya saya suka endingnya dan berharap lebih banyak adegan antara Mories dan Alan, chemistry mereka dapat tapi masih kurang :p.

Covernya manis, yah, Mories emang digambarkan seorang putri yang ingin dilindungi oleh orang-orang yang menyayanginya, masih ada beberapa typo seperti tidak ada tanda penutup (") untuk beberapa dialog, selebihnya tidak masalah bagi saya. Untuk kesan pertama membaca karya Nay Sharaya tidak terlalu mengecewakan, semoga saja karya selanjutnya lebih baik lagi dan mengangkat tema yang nggak mainstream lagi :D

Bagi yang ingin mencari teenlit yang sedikit berbeda bisa mencoba baca buku ini.

3 sayap untuk sang pelindung :p
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books463 followers
March 12, 2014
SPOILERS ALERT
(yang belum baca, please, jangan baca review ini)

Sepertinya memang gaya Mbak Nay untuk membuat plot yang rumit dan penuh twist-twist tak terduga. Dan sepertinya gaya Mbak Nay juga untuk membuat dua tokoh cowok dengan sikap yang sangaaaaaaat bertolak belakang :D

Novel mengikuti kehidupan seorang Memories. Seorang cewek "sempurna" yang ternyata "tak normal" dan berjuang untuk "normal". Udah segitu aja. Selebihnya baca sendiri. HAHAHA! Tapi jangan kaget kalau nanti sepanjang baca buku jadi nyengir-nyengir sendiri melihat tingkah dua 'hero' Alan dan Chandra yang bikin kesengsem *pengalaman*

Gaya bercerita Mbak Nay lugas, lancar, dan rapi. Eh tapi ada beberapa bagian pergantian adegan yang kurang smooth, dan bikin aku harus ngulang baca halaman sebelumnya untuk memahami apa yang terjadi. Terutama di bagian Chandra mengantar Mories pulang paska insiden patah hidung.

Seperti biasa, aku lebih suka cowok yang bengal seperti Alan itu :D Tapi sejujurnya, aku nggak bisa mengimajinasikan dengan pas bagaimana sosok Alan secara fisik. Aku udah berulang-ulang baca halaman-halaman awal, dan ternyata deskripsi fisik itu tak ada. Nggak cuma Alan, deskripsi fisik tokoh yang lain juga minim. Paling cuma Tiyanna yang lumayan dengan ramput cepaknya. Dan Mories juga sih, dengan mata besarnya. Tapi masih sangat kurang sih. Di akhir-akhir bab, muncul sosok Seun-hun (atau siapa ya?) cowok korea yang membuat Mories teringat sosok Alan, dari perhatiannya dan postur tubuhnya. Aku jadi bertanya-tanya, apa Alan juga berwajah Korea? Jika ya (jujur setelah halaman itu aku menganggap Alan cowok yang ke-korea-koreaan gitu), hmm, mungkin memang ciri khas Mbak Nay lagi untuk membuatku mendadak ilfil dengan cowok-cowok yang sudah sebegitu menariknya sepanjang cerita (Hai, Kaisar? Apa kabar?). Bukan dalah Mbak Nay sih, soalnya aku emang agak-agak gimana gitu dengan cowok-cowok korea. Bukannya saya rasist (beribu permintaan maaf untuk para penggemar korea. sumpah, maafkan aku yaa), tapi ini soal selera :D dan jujur Alan jadi nggak keren lagi di akhir-akhir buku.

Deskripsi fisik ini bagian yang penting nggak penting sih, menurutku. Banyak buku yang kadang terlalu lebay menekankan deskripsi fisik, sampai lupa deskripsi karakter dan cerita. Ada juga penulis yang terlalu asik sama jalan cerita, dan lupa deskripsi fisik. Kebetulan aku juga termasuk yang sering lupa! Haha. Karena aku menganggap pembaca bisa berimajinasi sendiri. My bad :( Kata editorku, pembaca nggak tahu isi pikiran penulis.
Sebenarnya gak ada deskripsi yang spesifik gapapa sih, tapi kasih sedikitlah. Kasih tau model rambut Alan dan Chandra aja aku udah senang kok. Hihi. Eh tapi aku mau baca lagi ah. Siapa tau aku melewatkan deskripsi fisik dua remaja yang oke punya itu. Cepat besar ya dek! *tepuk-tepuk pala Alan dan Chandra*


By the way, aku juga nggak terlalu suka endingnya. Baik dari cerita ataupun setting. terlalu pedih. Terlalu tragis. Walau akhirnya happy ending. Aku lebih suka kalau cerita mereka diselesaikan di sekolah aja, nggak perlu yang insiden tabrakan itu. Huhu. Yea, my bad, nggak suka kisah yang tragis :D Karena bikin sedih. Maaf ya.


Dan, oh ya, ada beberapa typo nama. Yang harusnya Chandra jadi Alan, yang seharusnya Gilang, jadi Galih. Aku kan bingung. Tapi nggak apa-apa. Nggak ngaruh juga ke jalan cerita. Haha.

Tokoh Refan, Alfa dan Maura kenapa kayak hantu ya? Muncul dan menghilang begitu saja :D


Tapi selebihnya buku ini sangaaaaaaatt menarik untuk dibaca. Plotnya rapi, bahasanya renyah. (aku udah bilang kan tadi) Konfliknya oke, membuat aku terus bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Penyakitnya si Mories juga unik. Ada ya penyakit kayak gitu? Nggak punya rasa takut itu anugerah apa musibah sih? sampai sekarang aku masih mikirin jawabannya. Dan seperti gaya Mbak Nay, membuat ending yang tak tertebak sampai halaman-halaman terakhir.

Good Job, Mbak! Kutunggu novel selanjutnya ya! ;)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Tifany.
678 reviews15 followers
June 9, 2020
4

please be aware that :
• this review was written on feb 15th, 2015 by my 16-year-old self



Jujur aja, awalnya ngga ada rasa tertarik buat baca novel yang ber-genre romance, semacam lagi bosen aja. Tapi, karena lagi ngga ada bacaan, aku pinjem 2 novel dari temenku. Salah satunya ini, (Me)mories.

Nah, kenapa aku pinjem novel ini? Soalnya cover novelnya lucu, semacam putri gitu gambarnya. Dan juga, design dalemnya ngga bikin bosen, jadi mau nyoba baca aja.

Pas baca, 2 hari pertama ngerasa ngga ngeh gitu sama novelnya. Entahlah, mungkin karena bosan. Tapi, hari ini mulai ada rasa tertarik dan akhirnya aku ngebut nyelesaiin tu novel (sampe jadwal jadi berantakan gara-gara nyelesaiin ni novel,lol).

“Kamu nggak selamanya bisa hidup tanpa bantuan orang lain.”


Jadi ceritanya itu tentang, ada seorang cewek yang berbeda dari cewek lainnya. Orang-orang menganggapnya aneh dan juga lemah. Oleh karena itu, setiap hari ia pasti di-bully, apalagi sama kakak kelas. Ia juga dimanfaatin sama temen-temennya. Tidak ada yang tahu bahwa cewek ini sebenarnya mempunyai rahasia kelam besar.

“Karena membuat kamu aman adalah kegemaranku yang baru. Jadi siap-siap saja aku lindungi, oke?”


Tapi, suatu saat hidupnya mulai berubah. Ia yang tidak pernah merasakan apa itu cinta dan apa itu persahabatan, mulai mengetahui hal itu saat masuk SMA. Memang masih banyak yang mem-bully cewek ini, tapi banyak juga yang menolongnya. Dan dari situlah, ia sadar bahwa beberapa orang yang berarti untuknya mulai memasuki dunianya. Cerita lengkapnya? Baca aja di novel (Me)mories! lol

“Siapa yang mau lo manfaatin kunyuk? Lo belum tahu ya, orang pertama yang mesti lo hadapin kalau sampai lo berani deketin dia? Gue.”


Oke, jadi kalimat diatas bener-bener bikin aku geli setengah mati. Jadi ceritanya saat itu, 'gebetannya' si cowok ini mau dimanfaatin temennya. Tapi, karena ngga ada yang tahu kalau dia ini 'gebetannya' si cowok, makanya cowok ini cuman bisa komat-kamit dalam hati aja. (segitu ngga mau spoiler nya sampe-sampe nama aja ngga disebut, lol)

“Gue udah peringatin lo untuk lepasin dia. Urusan lo sama gue, Chan. Kalau lo mau minta gue nebus kesalahan itu, akan gue lakuin sesuai kemauan lo. Tapi gue minta jangan libatin dia.”


“Lo tanya kenapa kami semua bisa masuk? Karena yang dicintai Mories itu cuma lo, Lan. Bukan Mbak Prita, bukan Tiyanna, bukan… bukan gue.”


Menurut aku, ceritanya unik dan beda dari cerita-cerita lainnya. Kalau cerita lainnya hanya mengisahkan pasangan yang sempurna, ini tidak. Pasangan ini jelas-jelas tidak sempurna, tapi mereka menemukan kebahagiaan dalam hal tersebut. Maka dari itu, aku suka banget sama ceritanya.

Yang bikin ngga suka ada 2. Kebanyakan karakter-karakter pembantu yang menurut aku terkesan ngga terlalu penting dan pas adegan malem-malem di RS itu sampe adegan setelahnya. Bikin aku gemes pake banget. Kalau aja aku bisa ngendaliin mereka berdua, sudah aku persatuin dari SMA(lol).

Overall, udah keren, bagus. Aku beri rating 4 dari 5 bintang buat novel ini. Semoga authornya terus berkarya, karena novelnya bener-bener unik. Ngga salah milih buku ini buat dibaca.
Profile Image for Perpustakaan Dhila.
200 reviews12 followers
December 1, 2016
"Ada wanita-wanita tertentu yang hanya ditakdirkan menjadi kekasih sesaat. Namun, ada pula wanita-wanita tertentu yang jauh lebih beruntung, yang hanya layak dijadikan kekasih. Kau tahu? Kau selalu berada di posisi kedua. Aku meyakini itu." (Halaman 278)

Mories bertemu dengan Tiyanna, Alan, serta Chandra saat hari pertama MOS SMA. Ia dan Tiyanna adalah siswa baru, sedangkan Alan dan Chandra adalah dua senior yang seringkali menghukumnya. Pertemuan saat MOS hanyalah awal keterikatan di antara mereka berempat.

Mories awalnya termasuk dalam siswi yang terlihat tidak menonjol. Ia sering mengantuk, jarang fokus, dan terlihat ogah-ogahan saat proses belajar. Siapa sangka justru sikap 'dingin' dan cuek Mories membuat salah satu--atau mungkin dua?--seniornya tertarik.

Tak ada yang tahu bahwa Mories menyimpan masa lalu yang gelap dan mengerikan. Tak ada yang peduli. Mungkin, hanya Alan. Mungkin hanya lelaki itu yang begitu peduli pada apa yang disembunyikan Mories. Mungkin hanya Alan yang diam-diam tahu bahwa apa yang dialami Mories sampai perempuan itu harus berurusan dengan seorang psikiater.

(Me)Mories adalah novel kedua dari Nay yang saya baca--setelah Take off My Red Shoes. Sepertinya novel ini terbit terlebih dahulu sebelum Take off My Red Shoes. Lagi-lagi Nay membawa isu psikologi ke dalam novelnya. Kali ini juga melibatkan anak-anak SMA. Tapi, tetap saja feel dan konflik yang dibawa berbeda, meski saya merasa Alan dan Kegan di dua novel ini karakternya adalah seorang pelindung.

Saya suka cara Nay bertutur. Tidak berantakan. Konfliknya pun tidak terkesan dipaksakan. Di sini dikisahkan seorang siswa yang 'tajir'nya enggak akan habis sampai beberapa turunan, pintar, disayang oleh Ayahnya (yang tajir nget nget itu), tapi tetap saja punya kekurangan. Saya suka cara Nay menggambarkan tokoh-tokohnya. Posisi tokoh lain pun seimbang.

Sayangnya, ada satu hal--yang mungkin bagi orang lain remeh--yang tiba-tiba mengurangi penilaian saya. Pada halaman 224 ada dialog batin yang terjadi oleh tokoh Chandra. Saat itu penulis mengemukakan pengandaian yang (maaf) kurang etis. Kelakuan cewek-cewek SMA fans Chandra yang centil diperbandingkan dengan (maaf) anak autis. Bagi saya itu tidak lucu sama sekali. Semoga penulis--dan penulis-penulis lain--mempertimbangkan untuk kelak tidak menggunakan autis atau istilah kesehatan mental lainnya sebagai bahan candaan.


Terlepas dari itu semua, saya tertarik dengan karya-karya Nay. Kalian yang bosan dengam konflik yang itu-itu saja dalam teenlit, kalian bisa menjadikan karya-karya Nay sebagai pilihan. Tidak hanya mengisahkan tentang cinta-cintaan ala anak sekolahan, tetapi ada pelajaran tentang pengendalian diri, hubungan dengan keluarga, persahabatan, juga bagaimana menghadapi lingkungan yang tidak semua sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Profile Image for Nur Saidatunnisa Widiatti.
55 reviews28 followers
June 8, 2014
Untuk novel tipikal seperti ini memang lebih baik tidak memiliki ekspekstasi apapun. Tapi kemudian prolog novel ini (yang diambil dari salah satu bagian terakhir) mampu membuat orang untuk terus membaca karena hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Singkatnya, novel ini bertemakan cinta segiempat antara Mories, Alan, Tiyanna, dan Chandra. Karakter mereka sebenarnya akan jauh lebih menarik jika dieksplor lebih dalam. Mories membuat saya kagum saat dirinya bersedekap menatap kosong api yang membumbung di depannya. Juga minim emosi yang ditunjukkan setelahnya. Bukan karena dia sok jutek. Melainkan -ini bagian menariknya- dia mengidap gen Urbach-Wiethe disease yang membuatnya tidak mampu merasakan ketakutan. Hal itu ditunjukkan dengan betapa dia adalah psikopat berdarah dingin ketika membalas dendam. Tapi disayangkan, untuk ukuran orang yang mengidap kelainan gen, Mories terlalu mudah jatuh cinta. Karakter Alan yang sempurna tidak perlu banyak disebutkan sepertinya. Tiyanna ini karakter penyeimbang Mories. Dia berusaha tampil menonjol lebih disebabkan rasa iri kepada Mories yang memiliki segalanya, bahkan cinta dari dua lelaki sempurna. Chandra, si sempurna juga. Rivalnya Alan. Sebelas duabelas sifatnya.

Tidak sinkron saja masalah yang dialami para tokoh -dan apa yang mereka pahami tentang cinta sejati- dengan usia mereka yang masih SMA. Jauh lebih masuk akal jika karakter diceritakan berusia 20-an. Saya semula skeptis berat dengan novel ini. Hampir tidak ada bedanya dengan FTV pasaran. Tapi saya tidak bisa tidak untuk memuji apa yang terjadi di akhir cerita.

Saran saya, bacalah novel ini hingga akhir cerita. Meski kamu punya kebiasaan mengintip halaman terakhir seperti saya, akhir novel ini bukan bahagia. Tapi akhir yang manis.
Profile Image for Wardah.
954 reviews173 followers
December 20, 2015
Pertama, kovernya nggak pas. Serius.

Kedua, saya pikir ini YA, atau ya novel romens gitulah, eh ternyata ini rada teenlit.

Ketiga, SUMPAH SAYA NAKSIR ALAN. Awalnya sih sebel. Nyebelin banget deh baca kelakuan anak-anak SMA yang jadi panitia MOS itu. Sebel sesebel-sebelnya. Ngerasa bego banget (terlebih karena dulu pun pernah ada di posisi mereka, etapi saya nggak suka ngerjain anak baru ya). Saya juga naksir Mories. Anak itu..... hiks *peluuuuuk*

Keempat, saya sempat pikir si Tiyanna ini serigala berbulu domba. Chandra juga. Eh ternyata nggak juga, haha. Rasanya nggak ada orang jahat sama sekali deh di novel ini. Padahal kayaknya bakal seru kalau penuh pengkhianatan ya.

Kelima, sayang banget masalah utama yang dialami Mories itu kurang tereksplor. Si Refan (atau siapalah anak baru itu) juga nggak muncul lagi habis ngomong sama Alan ya. Sayang banget juga penulis kurang berhasil membeberkan dikit demi dikit. Pas pertama kali muncul tuh saya udah penasaran, tapi terus hilang dan ... yah, berasa baca novel teenlit (meski nggak bisa saya pungkiri saya ketawa gaje sendiri baca peningkatan hubungan Alan sama Mories).

Keenam, ENDINGNYA! WOW. JUST WOW. Endingnya nggak teenlit banget. Serius.

Ketujuh, mungkin nanti saya bakal nulis review lengkap.
Profile Image for Damai.
33 reviews6 followers
May 25, 2014
Well done...! Well done...! This is so much better than the first one, dari cara bertutur dan ceritanya. Baguuussss....!!!! Eh, kecuali endingnya.

Tapi menurutku masih ada bagian di dalam novel yang jika tidak ada pun tidak apa-apa (misal, halaman 40). Kenapa? Karena tanpa bagian itu ceritanya akan tetap mengalir bagus, bagian itu bisa dihilangkan dan tidak merusak cerita.

Lalu soal tokoh Tiyanna, tokoh ini sering muncul dan menurutku posisinya bisa jadi pemeran pembantu yang mendekati utama. Tapi saya merasa keberadaannya kurang dimaksimalkan penulis untuk menciptakan 'more complicated' konflik. Karena, setelah membaca sampai selesai, tokoh Tiyanna itu tidak memberi dampak yang signifikan untuk alur ceritanya. Padahal karakternya lumayan kuat.
Profile Image for Mita.
Author 5 books14 followers
July 7, 2014
Bukunya udah punya lama, tapi baru sempat baca sekarang. Ngga nyangka ini cerita remaja kalo liat cover sama blurb-nya :D Tapi walaupun awal-awal bingung (mungkin karena banyak tokoh yang muncul) - lama-lama mulai bisa menikmati ceritanya. Apalagi karena penuturannya mengalir dan plotnya yang rapi. Penggambaran suasana di sekolah juga kerasa banget, jadi inget masa-masa di SMA dulu #halah. Eh tapi pas bagian Alan minta dibuatin cerita sama Mories, saya tadinya nunggu-nunggu lho kelanjutannya...ternyata ngga diceritain lagi ya. Jadinya sampai sekarang masih penasaran deh..:)
Profile Image for Zahrah.
16 reviews1 follower
April 2, 2020
Ini novel karangan Kak Nay yang aku baca setelah Take Off My Red Shoes. Dan aku berani bilang kalau cerita Kak Nay nggak pernah mengecewakan aku.

Cerita ini sebenarnya sederhana banget. Tapi yang bikin aku suka adalah alurnya yang bikin aku menebak-nebak dulu maksud tokoh ini apa, maksud tokoh itu apa. Aku juga nggak menduga kalau klimaksnya bakal kayak gitu, dan akhirnya juga gitu hihi. Tipikal tulisan Kak Nay sih, tapi tetap aja nggak bisa menduga.
Profile Image for Saptorini.
Author 5 books12 followers
June 11, 2014
Idenya menarik, dialognya natural dan asyik, karakter tokoh-tokohnya juga kuat. Sayang masih ada beberapa pertanyaan yg menggantung. Terutama ttg Mories. Penyakitnya, kondisi terakhirnya. Review lengkap menyusul :)
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
December 8, 2015
Buku kesekian yang dipinjam di IJak.
Ide ceritanya bagus dan cukup unik. Meski awalnya bikin bingung juga si mories ini kenapa. Lama lama baru ketahuan deh kenapa kelakuannya kaya gitu.
Bikin penasaran juga kenapa covernya cewek banget ya? terus kenapa dressnya ngga biru? *abaikan*
Profile Image for Eji L..
12 reviews
February 19, 2016
Gak tw mw ngomong apa ttg ini novel...
Cuma 5 thumbs aja dah bwt author nya
Keren bangeeeet dd>O
And I love u Alan!!! O/~
Profile Image for Masitho.
18 reviews
April 11, 2014
Novelnya kak Nay selalu bikin ga bisa tidur, krn penasaran sama kelanjutannya.
Seru deh!
Profile Image for Yuliaortka.
59 reviews4 followers
May 28, 2019
"kau hanya perlu melakukan satu hal, Ries. cukup merindukanku sekali saja, karena dengan begitu aku akan punya alasan untuk datang dan mencintaimu sebanyak yang aku mau."
Profile Image for inas.
394 reviews37 followers
December 14, 2014
Aku baru nyelesaiin novel ini tadi pagi—jam satu! Yeah, sengaja begadang buat nuntasin novel. Beberapa jam sebelumnya habis gara-gara main internet. =w=

Waktu liat cover, aku kira ini cerita YA atau semacam Metropop. Tapi pas masuk bab satu, ceritanya jadi Teenlit. Langsung jatuh cinta deh! >w<

Gaya bahasanya ringan, alurnya ngalir, dan kompleksitas cerita di antara Mories, Tiyanna, Chandra, sama Alan bener-bener bikin penasaran. Terutama hubungan mereka berempat. Yah, walau nggak bisa kubilang sulit ditebak sih.

Sayang, cerita SMP Mories kayak dihentikan secara tiba-tiba—meski kalo dibahas lebih lanjut nggak berpengaruh ke inti utama cerita juga sih. Aku penasaran aja. Terus, deskripsi tokohnya... kurang? Atau malah nihil? Entahlah, aku terlalu hanyut ke dalem cerita, tapi sepanjang yang bisa kuingat, aku cuma ngebayangin mereka berempat sesuai imajinasiku. Kecuali kelebihan dan kekurangan, aku belum punya gambaran tentang penampilan fisik mereka. Mungkin ada, mungkin aku aja yang ngelewatin.

Terus... diksi di halaman 60, 62, 84, 97, halaman-halaman sebelum 62 dan setelah 97, yang make “menggeleng-geleng kepala” keliatan aneh menurutku. Mending kalo jadi “menggeleng-gelengkan kepala”. Jadi, kalo ada imbuhannya lebih enak dibaca. :3

Ending? Nggak sesuai harapan. Walau aku udah tau dari awal nasib Mories kayak gimana gara-gara yang minjemin novel udah ngasih tau, tetep aja aku nggak lega. Kenapa karena “suatu peristiwa” doang Mories jadi bernasib kayak gitu? Masih mending kalo dijelasin, tapi... nggak ada. Bahkan kayak terburu-buru diselesaiin supaya nyampe ke bagian akhir. Toh, kalo cuma pengen bikin character development-nya Mories, aku lebih suka dia ngalamin peristiwa itu lagi beberapa kali daripada dapet nasib kayak gitu. Itu sih... mauku aja, ya. Yang nulis kan bukan aku. :P

Tiga bintang deh. Mungkin karena terinspirasi aksi salam tiga jari gara-gara kebanyakan nonton propagandanya Mockingjay? Hehehe. Nggak kok, bercanda. Semua cuma masalah selera... :D
Profile Image for Alexandra.
261 reviews12 followers
February 10, 2017
Bercerita tentang Mories -dengan segala rahasianya- dan temannya Tiyanna, juga dua senior Alan, dan Chandra.

Plotnya rapi dan menarik, tapi dengan beberapa typo. Sepanjang cerita berusaha menebak bagaimana selanjutnya. Beberapa karakter yang terkesan penting ternyata hanya berupa tempelan yang akan lebih baik bila dikembangkan. Dengan ending yang sedikit tragis -cerita baru berakhir setelah 5 tahun mereka berpisah- walaupun pada akhirnya mereka bersama.
Profile Image for Via Rizky.
56 reviews
August 27, 2016
Suka karakter Mories, tipikal cewek kuat dan untungnya ga centil. Alan tipikal cowok yang nyaris tanpa cela, ketua OSIS, populer, ganteng, kaya, dan mantannya banyak. Bagusnya dia ini tipe saya, bengal bengal ganteng x)
Tapi teenlit dan sinetron banget ketika cowok dengan segala kekerenan di atas naksir sama cewek yang biasa saja. Eh kaya dan cantik juga sih, tapi ya selain itu biasa aja. Bagus, Mories ini ga perfect kayak Alan.
Beberapa scene tsadest *baca : sadis* kayak bully-bully asik, bentur-bentur kocak ga peduli nyawa, adegan hidung patah, dan adegan serempet dalam rangka celakain Tiyanna and then MOS luar biasa sebenernya bikin saya cengo dan mempertanyakan keberadaan kepala sekolah disini, keputusannya untuk mempertahankan Mories (seriusan ada kepsek begini?)
Tapi di luar itu konfliknya lumayan ngena dengan cerita yang ga biasa. Lumayan ;)
Profile Image for Ana  Fitriana.
160 reviews32 followers
September 6, 2016
Masa SMU dan romantikanya(ceileeeehhh)selalu punya cerita2 yang manis. Sama seperti buku ini. Manis.
Profile Image for Abdul Azis.
127 reviews13 followers
February 16, 2014
Terima kasih karena telah mempertemukan saya dengan obat sakit kepala.
Displaying 1 - 25 of 25 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.