Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mahogany Hills

Rate this book
Jagad Arya dan Paras Ayunda mendapatkan kehidupan yang mungkin diharapkan oleh semua pasangan pengantin baru. Segera setelah menikah, mereka tinggal di rumah bernama Mahogany Hills, di pelosok pegunungan Sukabumi yang sejuk dan indah.

Yang membedakan Jagad dan Paras dengan pasangan pengantin lainnya adalah mereka menikah bukan karena cinta. Baik Jagad maupun Paras punya rahasia yang mereka pendam. Kesepian, amarah, dan penyesalan bercampur aduk dengan rasa rindu dan kata cinta yang tak pernah terucapkan—semua itu senantiasa menggelayuti Mahogany Hills.

Dengan caranya masing-masing, Jagad dan Paras berjuang untuk menghadapi satu pertanyaan yang pada suatu titik harus mereka jawab: Sanggupkah mereka bertahan dalam pernikahan yang tak sempurna itu?

344 pages, Paperback

First published May 23, 2013

35 people are currently reading
686 people want to read

About the author

Tia Widiana

4 books23 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
327 (33%)
4 stars
335 (34%)
3 stars
221 (22%)
2 stars
67 (6%)
1 star
26 (2%)
Displaying 1 - 30 of 178 reviews
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
May 29, 2013
--4 star--

Rumahku, surga dan nerakaku

description

Saya menemui keganjilan ‘pribadi’ ketika membaca novel yang ditahbiskan sebagai Juara 1 Lomba Penulisan Novel Amore tahun 2012 ini. Banyak sekali faktor yang berpotensi menghambat saya untuk menyukai novel ini. Pertama, adegan awal novel ini ternyata ‘hampir-mirip’ dengan adegan pembuka novel CoupL(ov)e-nya Rhein Fathia yang juga sedang saya baca (malam pertama yang canggung, adegan lingerie nan dramatis, panggilan ortu dan mertua yang dibedakan, serta mantan-mantan yang berseliweran). Kedua, ada tiga hal yang paling tidak saya sukai dari sebuah karya fiksi ada di novel ini, yakni: perjodohan, kecelakaan, dan amnesia. APAHHH??? (insert = *melotot dramatis*) Nah, dengan dua faktor itu semestinya saya benci novel ini. Tapi, nyatanya enggak. Ini sungguh ganjil. Dan, tanpa bisa saya sangkal, saya menyukai novel ini.

Mendapat kerhormatan karena diberi kesempatan ikut terlibat dalam proses seleksi awal Lomba Penulisan Novel Amore, saya mendapat jatah menilai kurang lebih 50-an naskah. Betapa mengejutkan, bahwa dari jumlah itu kurang lebih 20% di antaranya bertemakan perjodohan. OMAGAT! Saya sampai benar-benar muak dengan tema itu. Jika tweeman sempat mengikuti ocehan saya di twitter, saya pernah mengeluh tentang ini. Mengapa sih, banyak banget penulis (baru) kerap mengangkat tema ini? Nggak bosen apa? Buat saya pribadi sih, “Dih. Boring bangetsssssss, sumpah!” Masih banyaklah topik lain di luar sana yang dapat dipilih untuk mempertemukan-dan-mempersatukan-cinta-dalam-ikatan-yang-suci tanpa melalui perjodohan. *sigh* Dan, di dalam novel ini pun ada unsur perjodohannya itu. Meskipun, harus saya akui, dibanding 20% naskah yang jatah saya tadi, Mahogany Hills memang ditulis jauh lebih bagus.

Saya benar-benar dibuat penasaran dan berharap dapat segera membaca Mahogany Hills sejak naskah ini diumumkan menjadi yang terbaik dalam Lomba Penulisan Novel Amore bulan lalu. Benar saja, di luar faktor-faktor pribadi di atas, saya jatuh cinta pada novel ini. Gaya mendongeng Tia cocok dengan selera saya. Tidak terlalu mendayu-dayu, tapi juga tidak kaku. Pas. Tepat takaran. Selama proses membaca, saya tak mengalami kendala macet gegara tulisan. Palingan hanya karena (lagi-lagi) faktor-faktor pribadi saja.

[SPOILER ALERT] Well, ini spoiler, tapi juga saya pengin jujur. Siapa tahu ada orang yang sama seperti saya, yang tidak menyukai unsur ini. Unsur paling menyesakkan tentu saja amnesia. Oh, GOD! Saya benar-benar muak sebenarnya dengan ini. Tapi, ya mau bagaimana? Kan yang ngarang bukan saya. Terserah pengarangnya mau mengarang tentang apa, kan? Namun, seandainya saya ditanya, sesuai selera saya, unsur inilah yang membuat saya turn off ketika membaca novel ini. Setelah adegan pemicu terjadinya amnesia, saya bacanya lempeng saja. Menunggu sampai ceritanya diakhiri.

Plot-nya oke. Subplot-nya yang menurut saya masih sedikit kurang. Apakah mantan Paras yang digambarkan temperamental dan ‘sinting’ itu langsung mundur hanya sekali gebuk sama Jagad? Sementara tokoh mantan Jagad pun kurang tereksplor secara mendalam, mengingat ia digambarkan seorang cewek nekat, apa iya cuman dibegitukan sama Jagad ia langsung mundur? Hmmm...

Setting-nya oke. Karakterisasi-nya oke. Pernak-pernik-nya oke. Diksi-nya oke. Konflik-nya, karena kurang ganasnya dua tokoh pendukung utama, konflik kurang menukik tajam. Saya masih kurang sreg jika puncak konflik ditandai kejadian amnesia itu. Tapii, ah...sudahlah.

Bicara soal tokoh-tokoh yang ada di sini, mengapa mertua Paras (orangtua Jagad) tidak diceritakan ikut panik ketika Paras terkena amnesia, ya? Padahal pada satu adegan ketika Paras kalut mendapati Jagad masih behubungan dengan mantannya, Paras dan sang ibu mertua mengobrol dengan sangat dekat. Agak aneh menurut saya sih, apalagi di saat yang bersamaan orangtua Paras diceritakan tak dapat menemani Paras. Atau saya yang kelewat baca detailnya, ya?

Oh, hampir lupa. Salah satu yang saya suka dari gaya mengarang Tia adalah kepiawaiannya untuk menahan-nahan sebuah rahasia/kejutan. Teaser di akhir adegan awal yang akan menjadi pembuka adegan berikutnya sungguh bikin saya ikut berdebar-debar menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Menurut saya gaya tarik-ulur ini sungguh sulit. Bila tak benar tekniknya, bisa menghancurkan sisi misterius yang ingin dibangun dan malah terkesan norak. Dan, bagi saya, Tia berhasil melakukannya dengan sangat baik di novel ini.

Mengesampingkan berbagai hal, I LOVE THIS BOOK VERY MUCH. Debut yang cantik, Tia. And, this book definitely deserves the Amore’s crown. Yang paling kuat dari semuanya, menurut saya, adalah setting lokasinya. Sebuah rumah di pelosok Sukabumi membawa nuansa romantis sekaligus mistis, sebenarnya. Lha, mereka cuman tinggal berdua dan untuk sekadar beli sabun harus pakai mobil, berarti kan agak-agak bikin merinding ya, tempatnya, hehehe. Tapi, romantisme yang terjalin di tengah kecanggungan hubungan Jagad-Paras justru menyeret saya ke drama percintaan yang indah. Entahlah, saya sampai sulit mendeskripsikan bagaimana dua orang ini bisa berinteraksi di balik keengganan berterus terang dan banyaknya awkward moment karena hubungan yang sah di dalam simpul ikatan pernikahan itu tidak dilandasi cinta. Benarkah keduanya sedikit saja tak mencintai satu sama lain dari sejak mula? Temukan sendiri jawabannya di sini ya. Surprise-surprise kecilnya bikin saya mengulum senyum.

Dari segi cetakan, ehem, masih ada beberapa typo. Too bad, kalau tidak salah ada lebih dari 5 typo yang saya temukan, termasuk salah penulisan Jagad menjadi Jadad, untung bukan ditulis Jasad ya...ups *ditoyor* Dannn..., ada satu typo di bagian epilog yang bikin saya ketawa ngakak,

“Karin dan Rasya berjalan keluar dari kamar, memakan baju pesta putih yang berpotongan...”

Hahaha....jadi keduanya nggak suka makan nasi, ya? Sukanya makan baju pesta... *ngikik*

Pada akhirnya, adalah rasa di dalam hati yang menentukan. Meskipun dengan begitu banyak hal yang tidak saya sukai, toh saya tidak bisa menyangkal bahwa perasaan saya ikut tersentuh oleh kisah Jagad-Paras ini. Pada satu titik saya ingin menggampar Jagad dan di titik lain saya ingin mengguncang-guncangkan bahu Paras karena keputusan-keputusan yang mereka ambil. Menarik dan sangat saya rekomendasikan buat pencinta romance untuk membaca novel yang juga merupakan Book of the Month di blog ini. Entahlah, saya kok merasa yakin bahwa novel ini akan makin mengangkat citra lini Novel Amore sehingga makin banyak pembaca yang berminat untuk mencicipi harlequin bercita rasa lokal ini. Sekali lagi selamat Tia, dan selamat Gramedia.
Profile Image for Majingga Wijaya.
152 reviews19 followers
October 11, 2020
Beli buku ini karena sampulnya yang cantik dan judul yang menarik. Tema perjodohan yang sebenernya udah banyak diangkat novel lain tapi tetep bikin penasaran. Apalagi nama tokoh yang terdengar nggak biasa. Jagad dan Paras.

Jagad dan Paras menikah karena dijodohkan oleh orang tua mereka. Jagad yang terkesan dingin dan nggak banyak bicara sedangkan Paras yang berusaha membuat pernikahan mereka berjalan normal. Tapi komunikasi yang tidak berjalan baik akhirnya menjadi bomerang dalam pernikahan mereka. Bikin geregetan deh dua tokoh ini.

Bisa dibilang alurnya terkesan lambat dan bikin nggak sabar pas baca. Namun dari alur yang lambat itu, penulis menyajikan detail-detail yang membuat kita membayangkan keadaan yang diceritakan dalam novel. Diksi yang dipilih juga menggambarkan keadaan dan karakter tokoh.

Selalu ada surprise yang diberikan. Dan kejutan yang dalam novel ini, not my kind of things.

Apalagi epilog yang bikin bertanya, siapa Karin dan Rasya?
Terlepas dari epilog itu, Amore"s ending is always satisfied.
Profile Image for Dewi.
177 reviews67 followers
November 8, 2013
Jagad Arya dan Paras Ayunda setuju dengan perjodohan ala Siti Nurbaya yang ditentukan kedua orang tua mereka.

Paras setuju karena manut sama orang tua. Sementara Jagad setuju karena kalah argumen dengan ibunya juga karena ingin membuat cemburu Nadia, si mantan kekasih yang meninggalkannya demi pria lain.

Sejak awal pernikahan, Jagad sudah bertekad bersikap sekasar mungkin pada Paras hingga Paras tak tahan dan meminta cerai. Sayangnya Jagad salah perhitungan. Paras rupanya wanita yang tegar. Gak peduli sekasar apapun perlakuan Jagad, Paras selalu sabar dan tetap mengabdi selayaknya istri berbakti. Memasakkan makanan untuk Jagad, menyiapkan baju yang akan dikenakan, membersihkan rumah; semua itu dilakukan Paras dalam diam (ebentar...kenapa peran Paras beda tipis dengan PRT?)

Pun ketika Jagad membawa mantan pacarnya (Nadia) dan bersikap sangat "ngakrab" di depan Paras pun, Paras masih saja diam. Ndilalahnya...saat Adrian (mantan pacar Paras) muncul justru Jagad yang panas.

Kemunculan Adrian ini memicu suatu insiden yang mengguncang Jagad dan Paras. Jagad sadar bahwa perasan sayangnya ke Paras mulai bertumbuh. Gadis itu sukses mencairkan tembok es di hatinya. Sementara Paras malah menyadari bahwa pernikahan mereka tak bisa diteruskan lagi.

Maka Paras pun memilih pergi (lagi-lagi) dengan diam, tanpa sepengetahuan Jagad. Ketika Jagad tahu, dikejarnya Paras. Namun yang didapati justru bangkai mobil Paras yang rusak parah. Istrinya itu sempat koma dan ketika sadar, Paras mengalami amnesia.

Sekarang Jagad yang merasa dilema. Haruskah dia jujur ke Paras mengenai hubungan pernikahan mereka yang bermasalah dan berisiko kehilangan Paras? Atau menanam memori baru di otak Paras, berpura-pura pernikahan mereka bahagia? Kalo opsi kedua yang dipilihnya, sampai kapan sandiwara itu akan dimainkan? #HayoLho

"Setelah menikah denganmu, cinta jadi tidak terlalu rumit. Denganmu, cinta menjadi sangat sederhana. Cinta adalah memberi, menerima dan memaafkan. Aku bukan malaikat, aku lelaki brengsek yang pernah menyia-nyiakanmu. Tapi aku tahu aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena kau terlalu baik untukku. Aku akan selalu bersamamu, mencintaimu, dan terus belajar mencintaimu, agar aku bisa sebaik kau."

Sama seperti Jagad yang dilema, buku ini juga membuat saya dilema menentukan rating yang cocok.

Saya suka dengan gaya bertutur Tia yang mengalir dengan diksi yang rapi. Sudah lama saya gak baca novel lokal yang ditulis dengan bahasa baku tapi gak kaku. Rasanya pengen bilang ke penulis lokal yang suka campur aduk bahasa Inggris & Indonesia supaya belajar ke Tia. Bahkan saya sendiri pun pengen belajar ke Tia biar bisa nulis kayak dia.

Saya juga suka cara Tia membangun pace cerita yang pas, tidak terburu-buru tapi juga nggak bertele-tele banget (yah setidaknya di awal buku).

Dan yang paling utama : saya suka cara Tia mendeskripsikan suasana Sukabumi dan Mahogany Hills yang jadi latar cerita ini. Saya yang sempat tinggal di sana bisa menghidupkan kembali memori akan kota yang sejuk itu lewat tulisan Tia. Ah...how I miss Sukabumi :).

Yang kerennya lagi, Tia menggambarkan suasana Sukabumi itu hanya lewat riset. Salut! (eh bener kan lewat riset doang? #gakyakin)

TAPI...

Saya terganggu dengan jalan ceritanya.

Sebelum bahas hal yang mengganggu, marilah saya infokan (berasa penting aja nih info) kalo saya suka dengan tema arranged-marriage. Saya suka membaca bagaimana dua karakter yang awalnya asing perlahan berinteraksi dan belajar untuk saling mengenal. Apalagi kalo tokoh-tokohnya punya masa lalu dan beban emosinya masing-masing. Dijamin deh kalo bisa diramu dengan tepat, dua point itu udah bisa menciptakan kisah drama yang enak dibaca buat saya.

Sayangnya sensasi ini gak terasa di Mahoganny Hills.

Ya benar kedua tokoh punya masa lalu dan beban emosi masing-masing. Tapi masa lalu Paras kurang di-explore sementara masa lalu Jagad berlebihan di-explore. Belum lagi interaksi kedua tokoh ini berasa "kurang". Kurang greget, kurang matang.

Saya bisa ngerti kenapa Jagad akhirnya tertarik pada Paras. Tapi apa yang membuat seorang Paras tertarik pada Jagad? Hanya karena satu memori masa kecil? Dan memori itu bisa bertahan melewati sikap egois Jagad? Helloooo?

Lalu sikap Paras yang nrimo banget itu. Ya emang sih, karakter orang beda-beda. Tapi sebagai wanita abad 21 yang mengenyam pendidikan di luar negeri, masa' iya sih Paras segitu pasrahnya? Dan mbok ya kalo ada apa-apa tuh ngomong, jangan cuma dipendam ampe akhirnya kabur. Hadeuh...kentongan bakso banget dah si Paras ini (_ _")

Si Jagad-nya juga. Apa banget deh cowok kayak gini? o_O7

Kalo emang kalah debat sama nyokap ampe terpaksa nikah sih ya mau diapain lagi. Tapi seenggaknya cukup jantanlah untuk bilang ke istrinya kalo situ mau cerai. Bukannya diam aja dan kemudian kasi siksa batin (tsaah) ke istrinya. It's plain cruel, Mister. Kenapa sih ada karakter dengan hati ganggang kek gini? Kenapa? Kenapaaa? Kenapaaakkkk???? #uhukhaarrhg #keselektoa

Karakter Jagad dan Paras ini terasa satu dimensi. Cuma sanggup menciptakan satu rasa saja buat saya, yaitu : sebel!

Dan sekarang saya malah ngidam bakso gegara keingat si Paras! #lah (┛ˋДˊ)┛彡┻━┻

Karakter pendukung yang muncul di buku ini seperti Adrian dan Nadia juga kurang menimbulkan greget. Iya sih...peran Adrian itu bak badai, muncul mendadak, selewat doang, tapi meninggalkan bekas yang dalam. Tapi sebenarnya apa sih guna kemunculan dia? Emang belum cukup keberadaan Nadia seorang sebagai pemicu konflik? Lalu ada karakter sahabat-sahabat Jagad yang perannya lebih gak jelas lagi. Hadeuh....serasa filler aja deh ini.

Terus lagi (aelah...banyak amat protesnya), di awal emang buku ini punya pace yang bagus. Tapi kenapa setelah amnesia, cerita jadi terasa terburu-buru? Kenapa penyelesaian konflik Nadia dibikin segampang itu? Keterbatasan halaman kah yang membuat sepertiga akhir buku terasa pace-nya ngos-ngosan ?

Dan terakhir (iyaa...beneran terakhir) ada satu adegan di novel ini yang gak bisa saya biarkan begitu saja. Adegan itu adalah saat Jagad memaksakan "nafsunya" kepada Paras (haduh...ngetiknya aja saya udah males). Iya itu memang hak Jagad sebagai suami. Tapi tetap aja, yang dia lakukan itu masuk ke pasal pemaksaan kehendak aka pemerkosaan.

Saya pengen banget kasi bintang yang lebih tinggi untuk buku ini karena saya suka baca tulisan Tia. Saya bisa maafin plot klise, adegan amnesia yang pasaran, pace ngos-ngosan, karakter satu dimensi, bahkan filler yang banyak. Tapi adegan "pemaksaaan" itu gak bisa saya cuekkin. Dan rasa yang tertinggal lama setelah menutup buku ini adalah rasa sebal karena satu adegan "khusus" itu.

Jadi saya kasi satu bintang karena saya gak beranggapan buku ini bisa masuk di kategori 2 bintang (it was okay). Yah ditambahin setengah bintang lagi deh karena suka covernya.

Tapi selamat buat Tia Widiana. I'm waiting for your second books cause I'm in love with your writing. :)
Profile Image for Ren Puspita.
1,484 reviews1,018 followers
July 22, 2013
Heran kenapa novel dengan tema sinetron ini banyak yang suka dan bahkan juara 1 Lomba Amore.

Mungkin lini Amore, diganti aja namanya jadi lini "Novel Sinetron", jadi pas dengan tema bukunya.

Awalnya mau kasih 3 bintang, lalu dua bintang, laluuuuuu ada SATU topik yang bikin saya bete setengah mati, yang akhirnya bikin saya terpaksa tega kasih cuma 1 bintang

Maaf ya Tia, sayang banget rasanya kalau kamu sia-siakan bakat nulis dengan CUMA nulis novel Amore.

Review lengkap abis emosi gw reda. Kombinasi plot sinetron ga jelas, cewe bego (katanya S2, di LN pula), cowo bego dan juga tema klise macam amnesia, serta kebetulan lagi bad day, bikin gw pengen gigit orang.

Huh! X(

Note :

Review lengkap di blog : http://renslittlecorner.blogspot.com/...

Review disini, kaming suun X))
Profile Image for Autmn Reader.
883 reviews93 followers
July 16, 2020
Re-read.

Ini kedua kali aku baca buku ini dan masih tetep suka. Aku kayaknya baru ngeh deh kalau aku punya hubungan love-hate sama trope arranged married itu karena cerita ini. Aku intinya puas sama endingnya. Sayangnya, tuh, aku berasa kurang aja. Karena Epilog-nya diliat dari sudut orang lain. Itu akunya aja yang maruk, sih. Wkwkw.

Yang kusuka dari buku ini adalah gimana konsekuensi yang didaoat tokohnya tuh setimpal kalau menurutku. Belum lagi, redemption arc nya tuh gak yang one thing change anything gitu, lho. Kayak dari awal juga udah ditegaskan kalau apa yang dilakukan para tokoh di sini itu ya masuk akal.

Sayangnya tuh, tokoh antagonisnya itu dibikin jahat karena emang jahat, gak ada latar belakang yang ngebuat dia lebih manusiawi. Bahkan untuk ukuran Paras aja, aku ngerasa dia itu too good to be true.

Tapi over all ini buku favorite dengan tema marriage life, sih sejauh ini.
Profile Image for Afifah.
Author 62 books222 followers
August 13, 2013
Maaf, saya tak menggunakan kata kekurangan dan kelebihan, karena review ini benar-benar subjektif, sangat ditentukan oleh selera saya. Dan 'payahnya', saya termasuk orang yang kurang berselera dengan buku-buku genre ini, meski saya adalah penikmat buku-buku Mira W atau Marga T. Lepas dari itu... saya malah kurang setuju jika buku ini disebut-sebut senapas dengan Mira W. Ada beda rasa yang jauuuh, lah. Entah, saya tak bisa menjabarkan dengan baik. Tapi, buku-buku Mira W, meski romance, masih cukup 'bertenaga' dan mendudukkan dengan baik karakter-karakter tokohnya pada tempat yang egaliter... haiyaaah, bahasa apa ini? Maksud saya, pada buku-buku Mira, tak ada rasa 'dongeng' sebagaimana kesan kuat yang terpancar dari buku ini :-)

Daya Tarik Buku:
1. Cerita mengalir lancar, puzzle-puzzle disusun rapi, meski ada beberapa yang terlihat kurang natural, seperti saat munculnya Adrian, yang tanpa hujan tanpa angin, dan tanpa siratan apapun sebelumnya, mendadak hadir dan berpengaruh besar terhadap konflik yang terjadi.
2. Diksinya, meski sederhana, cukup menggelitik, khususnya di bagian-bagian akhir perpindahan bab.
3. Saya menyimpulkan, bahwa kemampuan teknis Tia, selaku penulis, memang telah berada di atas level rata-rata. Ini yang membuat novel terkemas dengan baik, dan... malah menyabet peringkat perdana sebuah kejuaraan pula. Saya yakin, jika Tia mau menulis tema-tema yang lebih 'nendang', mengulik ide yang lebih unik, serta mensketsa alur yang lebih eksploratif, Tia akan naik di deretan penulis-penulis papan atas negeri ini.

Daya Tolak Buku
1. Alurnya sangat klise: perjodohan, wanita kedua, kecelakaan, kehamilan tanpa sengaja yang terkesan begitu mudah ...(percayalah, kisah seperti ini sudah saya baca bahkan di novel-novel Freddy S.). Mengapa rahasia Jagad terlihat begitu gampang ditebak? Kalaupun faktor wanita kedua, menurut saya, Tia terlalu hitam putih menempatkan posisi Jagad-Nadia vs Jagad-Paras. Mengapa tak dibuat lebih 'rumit' dengan menampilkan sisi-sisi humanis Nadia. Bukankah memang betul, dari kacamata logika, Paraslah yang telah memutuskan hubungan Jagad-Nadia. Tetapi, Nadia malah diposisikan sebagai 'nenek sihir jahat' yang telah mengganggu rumah tangga mereka.
2. Buku ini lumayan tebal, ya... sayangnya konflik terlokalisir pada Paras-Jagad dan kadang-kadang Nadia serta Adrian (yang muncul sesekali, tetapi menjadi 'penentu' lekak-lekuk alur). Tak heran, kebosanan gampang muncul. Setelah kasus Adrian, saya tak lagi mendapatkan liukan konflik yang cukup greget.
3. Karakter Paras yang too good, berefek besar, menjadikan cerita ini seperti kisah dongeng-dongeng klasik semacam Puteri Salju, Cinderella dll. Padahal, jika 'keburukan' Paras diperlihatkan, justru akan membuat konflik lebih dinamis dan natural.
Profile Image for Jason Abdul.
Author 1 book19 followers
June 17, 2013
Sebenarnya baca buku ini karena penasaran tentang apa yang dibilang para juri Novel Amore GPU. Yup, ternyata bahasanya memang manis, mengalir, sederhana, dan gampang diikuti. Tapi, ternyata ceritanya memang tipikal romance ala Harlequin. *hati-hati dengan apa yang kamu harapkan*

Ceritanya tentang Jagad (30) yang terpaksa harus menikahi Paras (26) karena dijodohkan oleh orangtuanya. Padahal dia sendiri punya perempuan yang dia cintai. Dia membuat rencana agar bisa terlepas dari pernikahan tanpa cinta itu. Namun, cinta itu bisa datang karena terbiasa, dengan perlahan Paras menunjukkan kalau dia memang mencintai Jagad. Sayangnya, hal-hal yang menyakitkan harus mereka lewati dulu sebelum mereka benar-benar menjadi pasangan yang bahagia.

Profile Image for Ega.
63 reviews1 follower
July 18, 2013
Saya jatuh hati pada pandangan pertama ke novel ini. Iya, gambar sampulnya itu manis.

Walaupun temanya sudah umum, perjodohan, tapi gaya bertutur Tia Widiana membuat novel ini tidak sama dengan novel kebanyakan.

Tia Widiana itu tidak menggunakan kata-kata rumit untuk bercerita. Ia mendongeng dengan bahasa yang sederhana dan amat sangat mudah dimengerti. Tapi diksi (pilihan kata) yang diambilnya tetap punya kekuatan besar untuk mengacak-acak perasaan.

Nggak terhitung berapa kali saya harus berteriak-teriak di dalam hati gemas melihat Paras yang terus-terusan sabar. "PARAAASS.. NGELAWAN DOOONG!". Dan pas ketemu adegan Paras menampar pipi Jagad, saya puas bukan kepalang. Dan lagi ya, saya pengen banget loh rasanya nyakar si Nadia itu. Nyebelin banget sih jadi cewek.

Rasa sedih, senyum, marah, iba, semangat, dan putus asa datang silih berganti seiring saya membalik halaman demi halamannya. Jujur, saya terbuai novel ini dan terasa ikut di dalamnya. Saya suka banget penggambaran Mahogany Hills yang dideskripsikan di novel ini. Terasa tenang dan damai. Jadi kepingin banget tinggal di rumah kayak gitu.

Buat sebagian orang, adegan amnesia terasa menyebalkan. Namun amnesia versi novel ini berbeda dengan amnesia versi sinetron. Porsi dan takaran bagian amnesia di novel ini pas dan tidak berlebihan. Menurut saya babak amnesia itu sendiri menambah perkembangan dan warna cerita.

Konflik yang tidak sederhana dikisahkan dengan sederhana oleh Tia Widiana. Gimana saya nggak jatuh cinta? Ngga salah novel ini jadi juara 1 Lomba Penulisan Novel Amore. Tia pantes kok ngedapetinnya.

Saya pengen berterima kasih deh sama penulis novel ini, sudah menyuguhkan kisah yang mengharu-biru. Memberi pesan bahwa kesabaran harus dijunjung tinggi, serta cinta layak diperjuangkan dan dipertahankan :)
Profile Image for Yuli Pritania.
Author 24 books286 followers
April 2, 2015
Tiga bintang buat diksi dan cara penceritaannya, tapi dua bintang buat plotnya.

Oke, kl dari segi penceritaan, pemilihan kata, dan pemakaian kalimat baku yg selalu saya suka, buku ini emg pantas jadi juara 1. Ditambah pas liat covernya yg manis dan menyejukkan mata.

Saya menikmati bagian awal sampai pertengahan, walaupun sedikit terganggu dgn sifat orang ketiga yg rada2 licik. Tapi ada dua hal yg paling saya g suka dr sebuah novel dan malah nongol di novel ini. Pertama, si cewek nyembunyiin kehamilannya. Bnyk novel yg make formula satu ini dan kenapa saya g suka? Kl misalnya dia menyembunyikan kehamilan karena nyawanya terancam, it's still okay, tp ini cuma gr2 kehadiran org ketiga. Segitu pengennya si anak g punya bapak? Dan dr hal ini, berlanjut ke adegan kabur dr rumah, kecelakaan, dan... oh God, AMNESIA. Ini rumus kesuksesan sebuah sinetron bgt. Karena amnesia inilah, saya merasa endingnya g istimewa dan rada2 merusak kesenangan saya membaca di bagian2 awal. Sayang sekali.
Profile Image for Wardah.
952 reviews172 followers
August 20, 2017
Tulisannya bagus, rapi banget. Suka banget ama gaya nulisnya! Belum lagi latarnya berhasil terbangung dengan baik. Jadi pengen ke Mahogany Hills dan Sukabumi!

Sayang, karakternya ... meh. Jagad dan Paras ini kayak nggak punya mulut buat bicara dan berkomunikasi. Sejujurnya saya suka sama tema perjodohan. Selalu asik membaca bagaimana dua orang belajar saling mencintai satu sama lain. Sayang, perasaan Paras ke Jagad kayak mendadak. Sementara perasaan Jagad ke Paras lebib natural. Akan tetapi, Paras ini taha banget diperlakukan gitu. Hhh. Yah kalo scroll review buku ini pahamlah kenapa ya.

Ya, kalo kamu nggak suka hubungan yg abusive dan nggak bisa menoleri karakter perempuan yang harusnya kuat malah jadi lemah, jangan baca novel ini.
Profile Image for Ana  Fitriana.
160 reviews32 followers
September 17, 2017
Aku sukaaa gaya mendongeng kak Tia Widiana. Ngalir, lancar, ringan dengan bahasa simple yang dibikin ribet, dan pas beliau menggambarkan Magohany Hills, aku langsung bisa membayangkan dengan jelas bagaimana bentuknya bukit mahoni ini. Lalu, kalo aku suka banget, kenapa aku kasi 2,8 *? Ituuuu karena karakter mas dan mbak tokoh buku ini. Kalo kalian nggak doyan sama tokoh wanita sempurna (pintar, berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga baik dan kaya) tapi kekeuh banget mengemis cinta dari suaminya meski dijahatin, jauh-jauh dari novel ini, ya. Nggak bagus buat kesehatan mental 😂

Paras Ayunda, diceritakan sebagai tokoh sempurna bak ibu perinya marshanda. Cewek lulusan luar negeri ini sempurna lahir dan batin. Otaknya encer krn bisa kuliah di Cambridge dan bahkan hampir mendapatkan gelar phd, tapi sayangnya gegabah. Bukti gegabahnya adalah: meminta perjodohan dengan lelaki yg belasan tahun lalu melakukan satu kebaikan yang masih selalu diingat olehnya. Dengan landasan bahwa Jagad Arya -sang penolong- adalah lelaki baik, Paras bersikukuh bertahan pada pernikahannya. Nggak perduli kalo Jagad mencintai wanita lain -Nadia, sahabatnya dari kuliah- dan menerima pernikahan dengan niat bercerai. Nggak perduli juga kalo Jagad itu dingin dan mengganggap Paras nggak ada, selain sebagai tukang bersih rumah, koki, dan tukang cuci#hikz. Semua sikap dingin Jagad, cuma dengan satu tujuan, Paras nggak tahan lalu talak tilu. Dan setelah itu Jagad bisa balik ke Nadia, dan menunaikan janji suci mereka#halah

Namun ternyata, rencana Jagad utk cepat ditalak Paras, nggak segampang itu. Karena Paras yang cinta beut sm Jagad, memutuskan untuk berjuang dengan cinta Jagad sebagai hadiahnya. Kesabaran Paras tyt berhasil. Kesabaran dan kelihaian Paras mengurus rumah membuat Bang Jagad diam-diam menggeser posisi Nadia di hatinya. Aku jadi bertanya-tanya, kalo Paras ini cuma cewek kaya yg nggak bisa masak bahkan megang penyapu, bisa cinta nggak itu bang Jagad? Nanya doang sihhh, nggak dijawab nggak papa😂

Saat kuncup cinta pelan-pelan mekar, lalu wuuzzz hadirlah Adrian. Mantan Paras saat masih di London sono. Adrian ini, ceritanya tukang paksa gitu. Udah putus tapi masih kekeuh ngejar. Jadilah Paras balik ke Indonesia karena sekalian mau menikah juga sih. Lalu rentetan peristiwa pun terjadi. Adrian yang kalap datang ke Mahogany Hills saat Jagad sedang bekerja (jago nih si Adrian bisa ketemu rumah mereka😝) lalu hampir melakukan sesuatu yg zahat pada Paras. Untungnya, Jagad datang di saat yg tepat (alhamdulillah, Bang Jagad nggak kek polisi India yg datang pas semua udah bubar). Namun, nggak cukup sampai disitu. Jagad yg merasa cemburu, murka malah melakukan hal gegabah. Dia menandai teritorialnya dengan pemaksaan yang pastinya bukan perbuatan terpuji. Bodohnyaaa, Paras menganggap itu kegilaan sementara. Cinta mengubur dalam-dalam dosa Jagad malam itu. Dan aku pengen nguyur air seember ke kepala Paras. Hhhhhhh

Beberapa minggu setelah itu, Paras menghadapi kenyataan pahit dan memutuskan untuk kabur suaminya. Sayangnya, di tengah pelarian, dia kecelakaan dan mengalami amnesia. Saat Paras masuk RS, ada beberapa hal yg bikin aku ngeryit. Yaitu tidak hadirnya mak bapak Jagad nengok menantunya. Mbak Tia kek lupa aja gitu, kalo Jagad ini punya ortu yg care sm Paras. Tapi setelah perbincangan Paras dan ibu mertuanya-jauh sebelum kecelakaan- tokoh mak bapak Jagad kek "dimatiin" aja gt, nggak nongol-nongol lagi sampe ending. Trus yang paling bikin aku ngermyit, saat Paras di ICU, belum sadarkan diri, mak bapak Paras besoknya terbang ke Amerika krn sudah berjanji menghadiri wisuda Paundra, adik Paras. Yang mana, ini ortu nggak keliatan takut2nya gitu? Lah anaknya masuk kecelakaan, nggak sadar selama 9 hari, tapi 22nya maen pergi aja, maknya kek tinggal nungguin gitu. Si adek juga pasti ngerti laahh. Gila aja, kakaknya kan kecelakaan, bukan bisulan doang nih. Memang sih diceritakan Jagad meyakinkan mertuanya kalo Paras nggak kenapa-kenapa, tapi kan ya ttp ajaa, mana bangun-bangun Paras kan amnesia, nggak ingat Jagad dan udah menikah. Tentunya, butuh dukungan moril biar psikisnya nggak terguncang. Ortunya kagak pulang tuh, malah liburan ke Ohio, ngejenguk adik bungsu Paras. Maakk... bapakkkk... ini ada yg lebih gawat loohhh, kenapa malah ditinggal😭😭aku kalo jadi Paras, bisa-bisa punya pikiran kalo cuma anak pungut. Abis ortunya begitu banget.

Setelah itu, keadaan berbalik. Dulu, Jagad yg menolak Paras. Sekarang, Jagad bertingkah seperti suami idaman yang dengan sabar merawat istrinya dan pelan-pelan membuat istrinya mengingat dan jatuh cinta lagi sama dia.

Klise banget kan? Emaaaaang. Tema "perjodohan, menikah dg niat bercerai spy bisa balikan sm mantan, tapi lalu jatuh cinta" kan udah umum banget. Ditambah kecelakaan dan amnesia maka ini bisa jadi tema sinetron banget. Tapi yaa, mbak Tia mengemasnya dengan bagus sih, jadinya aku menikmati banget membacanya.
Profile Image for Nanny SA.
343 reviews41 followers
November 2, 2013
Ketika membaca judulnya saya mengira buku ini adalah buku terjemahan tapi ternyata ini buku karya penulis Indonesia dan belakangan baru tahu bahwa buku ini adalah pemenang lomba Penulisan Novel Amore thn. 2012.

Apakah perjodohan masih ada pada era globalisasi ini ? Bermula dari perjodohanlah buku ini bercerita.

Jagad Arya dan Paras Ayunda menikah karena perjodohan tanpa perkenalan dan pendekatan lebih dulu padahal mereka orang berpendidikan, tapi kenapa mau dijodohkan oleh orang tua ?, secara samar diungkapkan di awal bahwa mereka mempunyai rahasia masing-masing dibalik persetujuan mereka untuk dijodohkan.
Setelah menikah Jagad yang sedang membangun sebuah resor di Sukabumi memboyong istrinya ke sebuah rumah berhalaman luas di pedesaan di wilayah Sukabumi yang sejuk dan nyaman. Rumah cantik ini digambarkan dengan indah oleh penulis : “jalan kecil ini berujung pada rumah putih berdinding kayu berlantai dua. Berlatar langit biru yang bersih, matahari pagi yang bersinar cerah, dan perbukitan kecil, itu rumah paling indah yang pernah dilihatnya…..dst.. Rumah indah itu diberi nama Mahogany Hills.
Pernikahan mereka tidak semulus yang dibayangkan Paras dan tidak semudah yang direncanakan Jagad. Ya masing-masing mereka mempunyai bayangan dan rencana tentang perjodohan ini, bayangan Paras yang mecoba untuk menjalin chemistry dengan Jagad dan rencana Jagad untuk menceraikan Paras dalam waktu yang tidak lama setelah pernikahan mereka. Paras mencoba melayani segala kebutuhan Jagad , berusaha menjadi istri yang baik tapi penerimaan Jagad yang dingin cenderung meremehkan serta perlakuan yang kurang menyenangkan sungguh diluar dugaannya. Kemudian kesepian dan rasa tak berdaya yang dirasakan mereka : Kesepian rasanya bisa membuat perasaan negatif menjadi dua kali lebih kuat. Jika kesepian , marah bisa terasa seperti murka . Sedih rasanya seperti amat merana. (hal.80)
Dalam perjalanan waktu terkuak rahasia mereka kenapa Paras mau dijodohkan dengan Jagad dan kenapa jagad belum menikah juga padahal kehidupannya sudah mapan, kemudian muncul juga para mantan masing-masing yang ikut mewarnai ketidakharmonisan kehidupan perknikahan mereka. Seperti yang bisa dtebak lama kelamaan timbul juga ‘rasa’ itu tapi mereka berdua berusaha membohongi dirinya terutama Jagad yang selalu berusaha menolak perasaan itu.
Sampai akhirnya tragedi itu terjadi, ketika sudah merasa tidak tahan dengan perlakuan Jagad. Paras berusaha kabur dari rumah padahal saat itulah Jagad ingin mengemukakan perasaannya, dalam pelariannya Paras mengalami kecelakaan dan terjadi lah ‘sesuatu’ yaitu peristiwa yang menjadi andalan beberapa novel dan sinetron TV, akibat kecelakaan itu Paras mengalami…a.m.n.e.s.i.a…( kenapa..kenapa harus amnesia…basi) . Paras tidak mengalami amnesia total tetapi dia tidak mengenal Jagad dan merasa tidak nyaman berada didekatnya . Selama perawatan di Rumah sakit sampai pulang ke rumah Jagad merawat Paras dengan sangat telaten dia merasa bersalah karena selama ini telah memperlakukan Paras dengan tidak wajar dan kini menyadari bahwa dia mencintai Paras.
Peristiwa demi peristiwa secara perlahan mengembalikan ingatan Paras, akhirnya ketika menemukan koper yang dibawanya saat hendak kabur dulu ingatan Paras pulih dan menyadari apa yang terjadi selama ini, kemarahannya diluapkan pada Jagad dan minta jagad untuk menceraikannya.
Bagaimana kah akhir kisah ini dapat dilihat dari pernyataan ini.
Dan demi apapun di dunia ini, Jagad berniat menepati janjinya …membahagiakan Paras.

Cerita ini ditutup dengan epilog manis… yang saya rasa -tidak perlu-..

----------------------------------

Membaca sebuah novel amore biasanya dari bagian –bagian awal kita sudah dapat memprediksi apa yang terjadidi akhir cerita. Tinggal bagaimana cara penulis mengolah dan menyajikan cerita kepada pembacanya. Kisah ini bisa ditebak dari awal, plot cerita tidak terlalu mengejutkan malah ada hal-hal yang sudah sering dipakai oleh pengarang lain dan mengganggu bagi saya , misalnya:
* kecelakaan yang menyebabkan amnesia, rasanya ini menjadi pemecahan masalah yang paling gampang yang sudah sering dijumpai dibayak novel dan banyak sinetron;
*perjodohan dengan alasan yang aneh;
*para mantan pacar yang datang dan pergi dengan gampang dan berkelakuan sangat buruk cenderung jahat (memang mantan harus selalu buruk ya kelakuannya);
* epilog yang tidak perlu karena bagi saya seperti bumbu yang berlebihan , mengingatkan saya pada novel ARSAS, karya S Agatha yang juga memakai epilog tidak perlu seperti ini.

Kelebihan Tia adalah bisa memilih kata-kata yang bagus walaupun diksinya tidak sebagus pengarang kawakan, bisa memgambarkan tempat dan situasi dengan rinci dan penggambaran karakter lumayan jelas. saya juga suka covernya yang terlihat manis.
Walaupun saya bukan penggemar novel amore tapi masih bisa menikmati cerita ini.


Bagi seorang debutan Tia mungkin salah satu pengarang yang bisa berkembang lebih baik lagi..Semoga !

Profile Image for Fiary.
244 reviews16 followers
October 6, 2013
Saya cukup penasaran dengan novel yang jadi juara 1 ini...apa yang membuatnya menang.
Menurutku novel ini cukup oke, meskipun amnesia itu mengingatkanku dengan crita-crita khas sinetron yang tokoh utamanya menderita.

Seperti hal-nya cerita label Amore yang mengusung tema cerita ala Harlequin, ide cerita yang ditawarkan oleh penulis Tia Widiana sederhana dan terasa cukup membumi karena masih juga terjadi di era teknologi maju.

Bercerita tentang sepasang pengantin baru, Jagad & Paras, yang menikah karena perjodohan.

Karena Jagad sebagai pengembang tengah disibukkan dalam penyelesaian proyek resor di Sukabumi, maka segera setelah menikah, Jagad membawa Paras untuk tinggal di Mahogany Hills, rumah yang berada di kaki gunung Halimun.

Tidak mudah menjalani pernikahan ini bagi Jagad dan Paras, karena mereka tidak saling mengenal, merasa asing satu sama lain.

Paras yang sarjana lulusan luar negeri berusaha menyesuaikan diri dengan statusnya yang baru sebagai seorang istri. Dia berusaha menciptakan suasana yang hangat di rumah yang sepi itu, berusaha mengenal Jagad lebih dalam. Tapi tidak demikian dengan Jagad.
Jagad terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya dengan kondisi pernikahan mereka. Jagad bersikap ketus, jarang berkomunikasi, tidak menghargai upaya Paras, mengabaikan kehadiran Paras. Bahkan Jagad dengan terbuka menerima kedatangan Nadia di Mahogany Hills, dan menyatakan dengan tegas kepada Paras dengan bahwa Nadia-lah perempuan yang dicintainya selama ini dan yang seharusnya dinikahinya.

Terkejut Paras dengan pernyataan Jagad. Tadinya Paras berharap Jagad dapat mulai menerima kehadirannya dan suatu saat dapat menyayanginya. Kini Paras merasa menjadi orang ketiga dalam pernikahan mereka.

Di tengah kerikuhan pasangan muda ini, hadir Adrian, mantan pacar Paras. Adrian dengan sikapnya yang posesif mencoba menggoda dan merayu Paras dengan kasar, tapi untunglah Jagad segera datang dan bertindak. Namun tak urung, hadirnya Adrian menjadi pemicu kemarahan Jagad yang cemburu yang kemudian Jagad lampiaskan ke Paras.

Setelah itu, Paras tak lagi berusaha berkomunikasi dengan Jagad. Jagad pun menjauh dan suasana Mahogany Hills pun semakin sepi. Paras tak bisa hidup seperti ini terus, apalagi dia menyadari bahwa kini ada konsekuensi baru yang harus dia hadapi. Karenanya Paras meninggalkan Jagad. Malang bagi Paras, dia mengalami kecelakaan dan menderita amnesia.

Melihat kondisi Paras yang memerlukan penanganan aspek psikis, Jagad menyadari bahwa semua ini buah yang harus dia tuai akibat sikapnya yang keterlaluan terhadap Paras. Penyesalan kemudian tak ada guna. Kini apa yang dapat Jagad lakukan agar Paras mau memaafkannya sementara masih ada Nadia yang tetap mengharapkan Jagad...?

Bagi seorang Paras yang mengenyam pendidikan di luar negeri, rasanya agak janggal dengan sikapnya yang cenderung ’nrimo’ perlakuan Jagad. Sedangkan Jagad seperti halnya novel ala harlequin, ditampilkan dalam sosok yang menyebalkan, arogan.

Ada beberapa hal yang mengganggu, atau mungkin pemahaman saya yang kurang akan novel ini. Ada ketidaksesuaian dengan kota studi Paras. Di hal.33 terkesan Paras kuliah di California, tetapi di halaman selanjutnya diterangkan Paras kuliah di London – Cambridge University. Kemudian saat wartawan yang hadir wawancara, bernama Sinta & Roni (hal.55), tetapi di hal.57 menjadi Santi & Agus. Ada juga salah ketik di hal.184, tertulis Paras (seharusnya Nadia) menyilangkan kaki dan melipat tangan di dada.
Profile Image for Muspitta.
53 reviews
December 25, 2013
First, thanks to Gramedia buat kiriman bukunya, gak nyangka deh. Padahal aku cuma iseng-iseng doing ikutnya, eh ternyata malah beruntung. Anyway, aku dapet kiriman 3 buku, 2 genrenya amore dan 1 genrenya metropop.

Awalnya bingung sih, aku baca synopsis belakang cerita amore dan ternyata gak jauh beda dengan jalan cerita buku bergenre metropop. Jadi aku mendapat kebingungan soal genre amore ini-_- tapi setelah aku baca bukunya, aku baru dapet kesannya, kalau Amore ini semacam Harlequin yang lebih tebal :hammer
Oke, ayo bahas bukunya.

Mahogany Hills.

This book is so fanfiction. Buat orang yang udah kenal seluk-beluk fanfiction, gak susah kok ngebedain fanfiction sama cerita asli. Ataupun kalau ini bukan fanfiction, idenya pasti diangkat dari salah satu fanfiction <= sotoy.

Tema dari buku ini Wedding-Life. Salah satu tema ‘pasaran’ kalau di dunia perfanfictionan. Cuma di buku ini, konflik yang dimasukkan lumayan banyak dengan jalan cerita yang nyangkut disana-sini, membuat buku ini “rumit” dengan caranya tersendiri. Namun, cara penuturan cerita kak Tia, ngebuat buku ini mudah dimengerti bahkan oleh adek aku yang kelas 2 smp (Oh God, aku udah larang dia baca, tapi dia tetep ngotot).

Ada beberapa hal yang janggal buat aku. Terutama di penokohan karakter.
Karakter Paras, bisa dibayangin gak dia yang perfect banget itu? Mary Sue banget. S2 si cambridge, pandai masak, pandai nyuci, anak orang kaya dan sabaar banget. Ini bikin aku merasa bosan dengan Paras. Dan karakter Paras ini juga gak konsisten-__- siap dia amnesia lalu karakternya jadi berubah gitu? Kok aneh sih._. sebelumnya dia baaiiiik banget, siap kena amnesia dia jadi terkesan liar dan jahat. Atau cuma aku yang ngerasain.

Karakter Nadia. Kok dia bithci banget sih? Apa kak Tia bener-bener pengen buat cerita ini ala sinetron, dimana tokoh protagonis yang baik banget dan antagonis yang jahat banget.

Dan satu lagi, ada banyak karakter yang menurut aku cuma pelengkap cerita doang, seperti yah gak ada gunanaya dia ada di buku itu. Kayak temen-temennya Jagad, Adrian, Mama, papa dan ibu. Cerita ini sempurna cuma tentang Jagad sama Paras dan Nadia di beberapa side.

Jalan ceritanya bagus. Tapi ada beberapa hal yang menurut aku ngebuat buku ini yah ‘rumit’ dengan caranya tersendiri, overall aku suka sih. Kecuali bagian Paras amnesia, kok bisa amnesia sih? Are this kidding me? Aku kira Paras bakalan meninggal atau jadi stress begitu :hammer tapi amnesia? Kenapa rasanya so Indonesia yah._. bakalan lebih greget kalau misalnya Paras minta cerai terus nanti balikan di bantu sama ortunya mereka berdua. (oke, sekarang aku mulai berasa jadi penulis) dan entah karena aku jarang baca romance-tapi kayaknya sih enggak, aku kan penggila fanfiction- aku gak ngerasain sedikitpun emosi di buku ini :hammer mungkin aku emang udah mati rasa.

Tapi, untuk keseluruhan aku suka deh. Cerita ini rumit tapi dituturin dengan bahasa sederhana dan kata-kata ‘pasaran’ jadi gak bakalan susah buat kita mengerti alurnya. Dan juga buku ini bener-bener gak ketebak (iya, apalagi bagian amnesianya._.)walaupun aku udah tau akhirnya mereka bakalan bersama (tipikal romance) tapi jalan cerita bener-bener unpredictable.

Satu lagi yang ngeselin, epilognya apaansih? Absurb banget sumpah. Lebih bagus kalau gak ada epilognya.
Profile Image for Mellisa Assa.
144 reviews9 followers
May 24, 2015
Benar-benar telat baca novel ini. Disaat teman-teman penggila novel-ku merekomendasikan novel ini, aku masih belum ada niat untuk membelinya. Beruntung aku masih kebagian stok di tokbuk online langganan.

Jagad dan Paras. Dua orang yang benar-benar bego menurutku. Paras yang terang-terangan mendapat perlakuan kasar dari Jagad suaminya -bukan dalam hal fisik- tapi masih bisa bersabar dan tetap ingin berada di sisi Jagad, karena bisa dibilang Jagad adalah idolanya dulu. Sementara Jagad yang terang-terangan mengakui jatuh hati pada Paras meski hanya dalam hatinya saja, tapi enggan menunjukkan sikap baik di hadapan Paras karena besarnya rasa ego yang dimiliki dan terlalu terikat dengan janji yang menurutku nggak penting juga. Paras dengan kemampuannya mengendalikan emosi dan seolah memiliki stok sabar yang cukup sampai tahun kuda selanjutnya, dan Jagad yang kurang mampu mengekspresikan perasaannya dan sering larut dalam emosi.

Penulis berhasil membuatku merasakan feel dari cerita di novel ini. Hatiku ikut ngilu setiap membaca scene di mana Paras selalu diperlakukan dengan kasar oleh Jagad. Dan ingin mengutuk Jagad seandainya tokoh ini nyata. Tapi begitu keadaan berbalik, saat Jagad ingin menebus kesalahannya, aku juga jadi iba dengannya. Yah, Tia berhasil membolak-balikkan perasaanku.

Cara Tia mendeskripsikan Mahogany Hills, juga membuatku ingin berada di rumah itu seandainya lokasinya nyata. Belum lagi di scene Paras mulai mendeskripsikan satu demi satu masakan rumahannya, membuat aku tiba-tiba merasa iri dengan kemampuan memasaknya.

Aku cuma agak bingung saat mencapai pertengahan cerita dan seolah masalah sudah akan selesai, tapi halamannya belum juga berakhir. Aku baru paham kenapa novel ini dengan masalah yang nggak terlalu complicated juga tapi halamannya bisa setebal itu setelah sampai di part kecelakaannya Paras dan apa yang terjadi padanya setelah kecelakaan.

Temanya sebenarnya bukan tema yang unik, dan sebelumnya aku sudah pernah membaca novel dengan tema serupa. Tapi penulis berhasil mengemas dengan cara berbeda. Bahasanya yang enak, dan perasaan yang ditumpahkan penulis dalam setiap kalimatnya, dengan konflik yang nggak berkepanjangan pula. Penulis bisa memberikan porsi yang adil untuk kedua tokohnya. Dan meski pun sempat iba, tapi aku cukup puas juga dengan penderitaan Jagad demi mendapatkan kepercayaan dan kesempatan kedua dari Paras.

Inti ceritanya sih, manusia nggak bisa menghargai sesuatu yang berharga yang menjadi miliknya sampai dia kehilangannya.
Profile Image for Rise.
104 reviews55 followers
May 23, 2013
Selain "L", hanya "Mahogany Hills" ini chiclit yang nggak sabar untuk saya baca. Ya, akhirnya novel ini terbit juga dan setelah saya gamang mau ini dulu atau "Gone Girl" dulu, akhirnya saya baca ini... Dan langsung selesai di hari yang sama xD

Novelnya Mba Tia ini adalah novel juara pertama dalam penulisan novel Amore 2012, yang berarti novel ini bagus dan layak terbit ketimbang novel-novel cinta gaje yang akhir-akhir ini terbit dan dijual di toko buku. Dari segi penulisan, saya suka dengan cara Mba Tia menulis. Saya suka gaya penceritaan yang deskriptif soal Mahogany Hills dan juga kegiatan masak-memasak si tokoh utama, Paras Ayunda. Cuma saya agak menyayangkan penggunaan "kau-aku" ketimbang "kamu-aku" sih *keluhan yang sama sudah ditujukan pada Katarsis* Mungkin kalau pas lagi ngobrol sih lebih baik ditulis dengan bahasa sehari-hari aja kali ya. Soalnya saya tiap baca "kau-aku" itu kalau nggak keingetan novel terjemahan, teman saya si Rika, atau malah telenovela yang di-dubbing gitu, padahal kan latar belakangnya di Sukabumiiiii.

Dari segi karakter juga kuat ya, ada khasnya si Paras dan Jagad ini, meskipun saya kurang paham juga logika pemikiran mereka dalam memutuskan beberapa hal Itu agak bikin saya pingin headbang waktu bacanya karena banyak yang saya pertanyakan. Dari segi cerita, sesungguhnya saya agak terganggu dengan beberapa hal. Tapi ya untunglah pengemasannya lumayan oke, jadi nggak bikin saya pingin ngelempar asbak dan bilang "I've had enouuuuugh" seperti yang pernah saya lakukan pada Antologi Rasa :p

Saya nggak ahli dalam hal romansa, apalagi pernikahan (soalnya kan saya belum nikah), tapi saya juga punya keyakinan yang nyaris mirip dengan apa yang dituliskan di novel ini yaitu cinta bisa datang karena terbiasa dan dengan cara yang sederhana. Jadi, meskipun saya nggak suka covernya (penting banget ya ini buat saya), lalu saya sama sekali nggak merasa relate dengan Paras Ayunda dan juga gagal jatuh cinta pada Jagad Arya, dengan gaya penulisan yang enak dibaca dan juga "filosofi" yang mirip, saya kasih tiga bintang untuk Mahogany Hills.
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews203 followers
February 25, 2015
Mahogany Hills bercerita tentang kehidupan baru yang ditempuh Jagad Arya dan Paras Ayunda setelah mengikat diri dalam janji suci. Jagad langsung membawa istrinya jauh dari Jakarta, menuju sebuah rumah kokoh bernama Mahagony Hills di Sukabumi. Alasannya sih karena Jagad sedan mengurus proyek resor di sana. Paras sih senang-senang aja karena mereka bisa lebih mengenal pasangan masing-masing ditempat yang sepi itu. Tapi Jagad sama sekali tidak berminat menyentuh Paras. Dia sebenarnya tidak ingin setuju dengan perjodohan ini. Tapi kesehatan ibunya memaksa dirinya mengnikahi Paras dan menjauhi wanita yang dia cintai bernama Nadia. Paras tidak menyadari hal itu. Dia mengira bahwa sikapnya sebagai istri atau masakannya kurang menyenangkan Jagad. Tapi begitu melihat Jagad dan Nadia bermesraan di depannya, Paras harus memilih untuk bertahan atau mengaku kalah dengan mengugat cerai. Tapi Paras tidak pernah berniat menikah untuk bercerai.

Mahogany Hills menceritakan kisah pasangan pengantin baru yang cukup kompleks, tapi masih bisa di nikmati. Thanks to gaya bahasanya yang mengalir dan lugas, apa adanya. Tidak kalimat-kalimat yang sok puitis atau bikin kening berkerut. Kalimat-kalimat yang ada sangat sederhana tapi bisa begitu bermakna, mengena di hati pembaca karena begitu dekat dengan apa yang dirasakan oleh para karakter. Jujur, sudah lama rasanya aku tidak merasakan kedekatan dengan karakter dari novel yang aku baca. Biasanya setelah novel selesai dibaca, ditulis reviewnya, dan disimpan di rak, hubungan aku dan novel itu berhenti disana. Tapi sekarang, aku selalu pengen buka beberapa halaman dan mengulang bagian Jagad dan Paras saling membohongi perasaan masing-masing. Aku mengulangnya sampai aku bosan dan kayaknya aku belum bosan hahahaha. Apa ini termasuk book hangover? Aku ngalamin hal ini lagi? Terakhir ngalamin ini adalah ke Four dari Divergent, tapi alasan ke-book hangover-an itu adalah si Theo James dan upcoming movienya. Tapi sekarang? Aku bener-bener suka dengan alur cerita, para karakter (kecuali si Nadia) dan kejujuran dalam penulisannya :)

Baca review lengkapnya disini --> http://dhynhanarun.blogspot.com/2013/...
Profile Image for Dini Puspitarini.
31 reviews4 followers
October 25, 2014
Hadeuh, ngomongin buku yang satu ini. sebenernya lebih seneng bahas gimana saya ngebet mendapatkannya dari pada isinya sendiri. haha. Gimana enggak, saat ini saya tinggal di tangerang. Setelah ngubek ubek gramedia dan toko buku sekitar, buku ini nggak bisa saya dapatkan juga. Well, akhirnya pas balik ke Yogyakarta saya smpatkan untuk mampir ke Gramedia atau Toga Mas, dan lagi2 buku ini nihil!! Sial. Tapi ambil hikmahnya, saya dapet info kalau stok buku ini tinggal ada di luar Jawa. Wow. Saya pun nekad melakukan online order ke Gramedia Pontianak. Sengebet itu kan. Finally akhirnya dapet sih. hehe. Walaupun dengan ongkos yang nggak biasa tentunya. Anyway, baru2 ini pas main ke Gramedia Plaza Semanggi saya liat buku ini masih nongkrong di Pajangan lho. Entah cetakan baru atau gimana ya. Saya senyum-senyum aja. Padahal dalam hati ....

Ya Sudahlah.

Balik lagi ke Novel ini. Saya puas membacanya. Sepadan dengan perjuangannya ya. Ceritanya tentang perjodohan Jagad dan Paras. Pernikahan dengan Paras membuat Jagad gagal bersatu dengan kekasihnya. Makanya si Jagad niat banget membuat pernikahannya dengan Paras tidak bahagia, sampai si istri bersedia menceraikannya. Tapi bla bla bla...lama-lama juga mereka suka beneran kok. Hanya saja cinta itu baru bisa benar-benar diungkapkan satu sama lain ketika sebuah kecelakaan terjadi.

Ceritanya biasa2 aja. Tentang perjodohan. Ada embel-embel pemerkosaan, kecelakaan, dan amnesia. Beuuuuuhhhhh. Klasik. Tak terhitung berapa banyak novel koleksi saya dengan tema2 beginian. Saya nggak bosen. Tapi harus saya akui, mungkin Mahogany Hills ini yang paling bagus. Untuk ukuran Amore, Penulis benar-benar bisa menuliskan ceritanya dengan rapi. Agak kaku si emang, tapi di satu sisi justru membuat pengarang buku ini tampak dewasa, bukan pengarang ababil yang terkadang nggak bisa menahan emosinya saat menuliskan novelnya. Sosok Jagad juga terasa kuat penokohannya, laki! Saya suka pokoknya.
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews143 followers
February 17, 2017
3,5 bintang.

Ah telat banget saya ketemu baguss ini. gaya ceritanya bagus, detail dan asik.. novel yang emang bikin baper, nyesek. pokonya campur2 aja deh..

tema yang diambil, tema menikah karena perjodohan. sudah biasa sih, tapi buat saya mba Tia suksess banget bikin pembaca penasaran dan gemes sama tokoh laki nya.


Paras emang iya terlalu baik buat Jagad, kekuatan cinta emang kuat ya. meskipun Jagad ngeselin, Paras sabar banget. tapi setimpal sih yaa, sama Tamparan dan sentilan dari Paras. hehe..

yang mau baca, saya rekomenin deh!
Profile Image for Wenny.
134 reviews31 followers
June 22, 2017
"...Denganmu, cinta menjadi sangat sederhana. cinta adalah memberi, menerima, dan memaafkan. aku bukan malaikat, aku lelaki brengsek yang pernah menyia-nyiakanmu. tapi aku tahu aku tak akan meninggalkanmu hanya karena kau terlalu baik untukku..."

Jagad dan Paras, dua sosok yang harus diikat oleh sebuah perjodohan. Tentu tak mudah bagi mereka untuk menjalani ikatan pernikahan tanpa adanya latar belakang cinta. Bukan tanpa cinta sama sekali, sebenarnya, karena walaupun sebetulnya mereka pernah bertemu sebelumnya, Jagad merasa mereka baru dipertemukan saat pesta pertunangan.

Sampai akhirnya mereka tiba di Mahogany Hills, rumah di kaki gunung yang akan mereka tempati selama beberapa bulan sampai pembangunan resor milik Jagad selesai. Di rumah inilah semua kisah akan diuraikan oleh penulis. Betapa sulitnya memertahankan rumah tangga ini, apalagi ketika negara api menyerang orang ketiga datang.

Paras tahu ini hanya egonya yang berbicara. Kini dia sendiri tidak tahu apakah dia benar-benar menyayangi Jagad atau tidak. Mungkin sebenarnya dia hanya merasa tersinggung, merasa tertantang untuk menaklukkan lelaki itu.

Review: https://widybookie.blogspot.co.id/201...
Profile Image for Riawani Elyta.
Author 26 books103 followers
June 24, 2013
Salahnya saya krn mampir GRI dulu baru beli novel ini, jadinya review ini pun gak orisinil, alias idem dito ama bbrp review yang udah ada, hehe:-)
Saya setuju kalo novel ini mengingatkan pada novel roman ala mira w dgn pola tuturnya, dan tebakan saya, jangan2 GPU memang pengen membangkitkan lagi roman2 dgn pola dan gaya spt itu mengingat roman2 karya mira w cukup fenomenal. Sesuatu yg klasik simpel feminin, dan terbukti daya tahannya awet, so, saya turut support deh kalo ke depan lini amore GPU memang akan memperbanyak novel2 type ini, buat penyeimbang jugalah untuk romance masa kini yg kadang beraroma chicklit meski merknya romance :-)
Dan saya juga setuju kalo tema novel ini cukup sering saya temukan di novel maupun film, dan bab2 akhir mengingatkan saya pada film yg dibintangi channing tatum ttg istri yg mengalami amnesia akibat kecelakaan.
Overall, saya suka penuturannya yang teratur tapi tetep bikin penasaran, deskripsi mahogany hills yang indah dan karakter yang kuat shingga saya bisa benci banget sama jagad, juga emosi ceritanya yg nendang banget:-)

3,5 star buat debut Tia di mahogany hills, selamat udah jadi pemenang 1 amore GPU:-)
Profile Image for Vinca.
219 reviews5 followers
June 13, 2013
4.5 bintang sebenernya.. :D

Tia, thanks banget ya udah bikin buku romance yang bagus. Seneng rasanya membaca buku romance yang ceritanya sederhana seperti ini, tapi terasa sampai ke hati aku yang sudah membacanya.

Suka sekali dengan cara berceritanya, tutur bahasanya yang tidak campur aduk bahasa Inggris dan Indonesia, tidak pula bahasa gaul yang slengean tapi tidak terkesan kaku. Top banget deh.. Rasa-rasanya ingin nyuruh Ika Natassa buat belajar sama kamu pada sisi ini.

Emang sih temanya agak sinetron pas tau ada adegan amnesianya segala :p tapi terbalas lah dengan betapa manisnya hubungan Jagad dan Paras saat Paras amnesia.

Nama-nama tokohnya juga Indonesia sekali. Begitu pula dengan Setting tempatnya. Rasanya, di tengah banyaknya novel yang dikarang pengarang Indonesia tapi sok bersetting luar, buku ini tuh seperti seteguk air dingin saat aku udah mau mampus dehidrasi hahaha lebay ya?

Aku serius sudah memasukkanmu dalam pengarang favoritku semenjak membaca buku ini loh...

Kapan bikin novel lagi? :p

Profile Image for Fitriya.
63 reviews
June 27, 2025
buku ini tuh awalnya kayak... promising banget. vibe-nya cozy, agak manis, dan berasa banget feel metropop yang adem. apalagi setting tempatnya tuh... mahogany hills? yes please, udah kayak hidden gem gitu.

awalnya tuh enak banget, manis, santai, chemistry-nya dapet. tapi begitu mantan dateng terus Paras kecelakaan... boom semua ekspektasi gue ambyar. kayak, what is this plot twist from the land of Azab tukang somay selingkuh??? 😭 ekspektasi gue? dibanting. diludahin. terus diinjek pake heels 9cm. maaf.

soal gaya penulisan—please, pick a team! mau pake “Aku-Kau” yang formal? oke. atau “Gue-Lo” yang casual? juga oke. tapi mbok ya jangan nyampur itu kayak lagi bikin es campur yang isinya nangka + ciki. it’s awkward, jarring, and lowkey bikin kepala cenut-cenut. tone-nya mental ke segala arah.

satu hal yang masih bisa disyukuri: Jagad & Paras punya takaran romance yang pas. gak lebay, gak terlalu hambar. ada momen yang cringe? of course.
ada dialog yang bikin gue guling-guling? absolutely.
but ya know what? I didn’t hate it. it was... tolerable.
Profile Image for Ratri Anugrah.
126 reviews8 followers
July 6, 2013
Juara Pertama memang sangat pantas disandang oleh cerita ini : ) Jujur saja, ini adalah cerita karangan penulis Indonesia pertama yang saya beri rating five out of five star!! Buku ini membuktikan bahwa setting di luar negeri dan nama yang sangat modern tidak menjadikan suatu buku menjadi bagus. Plot-lah yang penting. Tulisan Tia Widiana sangatlah simple, polos. Saya pun sangat lahap menyantap tahap demi tahap hubungan Paras dan Jagad. Setiap saya membuat perkiraan tentang akhir cerita ini, perkiraan saya selalu dipatahkan oleh jalan cerita yang mengejutkan. Yes, this book is so unpredictable. Saya juga bisa merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Paras. Rasanya seperti Paras menulis curahan hatinya kepada saya.

Saya sangat merekomendasikan buku ini bagi kalian penikmat cerita romance. Gara-gara buku ini juga, saya jadi penasaran dengan cerita yang menduduki juara kedua dan ketiga. Semoga ada yang bagi-bagi gratis lagi :D tapi saya memang berniat untuk membelinya kok.
Profile Image for Pricillia A.W..
Author 10 books84 followers
February 7, 2017
One of my favourite local book!!
Sukaaaak banget sama reaksi sikap malu-malu tapi mau si Jagad, kecerdikan Laras dalam menghadapi Jagad yang keras, kisah cinta pertama, dan bahkan si Nadya yang super duper nyebelin.
Dan jangan lupa sama Mahogany Hills mereka. Woaaah bikin iri banget buat tinggal di tempat sesyahdu, hening, dan indah itu.
Profile Image for Ryaa Tenriawaru.
71 reviews59 followers
May 27, 2013
Bersamamu cinta menjadi sangat sederhana....

Sdasdfghjkl auhuhuhuuu....

Suka banget nama tokoh utamanya, Jagad & Paras. Paras yang sabar, Paras yang keibuan, tapi gemes banget asli sama Jagad dari awal. Jagad yang keras kepala, Jagad yang dingin. Hurrrrr >_<

Gak bisa berhenti bacanya dari awal buka buku ini. Alurnya ceritanya cepat tapi menjanjikan dan dapet banget konflik + klimaksnya. Puas! XD

Good jod, mbak Tia! Ditunggu karya selanjutnya~ & benar-benar layak jadi juara 1 Amore 2012 ^___^

5 bintang spesial untuk Paras~~~
Profile Image for Pattrycia.
351 reviews
September 14, 2013
Setelah beberapa kali bolak balik ke Gramedia, akhirnya saya berhasil mendapatkan buku ini. Dan buku ini memang pantas ditunggu2, secara ceritanya bisa membuat hati terenyuh & air mata meleleh. Saya salut bgt sama Paras yang super sabar & bisa mengontrol emosinya dgn begitu baik. Hampir separuh buku ini saya sebel sama Jagad yang heartless & tega. Tapi yang namanya kesabaran itu pst ada batasnya jg. Sampai akhirnya sesuatu terjadi & mulai dr situ sikap Jagad kpd Paras berubah total. And thus the story ends with a good HEA. Selamat buat Mbak Tia yang udah menangin Lomba Amore.
Profile Image for Fardelyn Hacky.
19 reviews2 followers
November 19, 2014
Judul Buku : Mahogany Hills
Penulis : Tia Widiana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Mei 2013
Tebal : 355 halaman
ISBN : 978-979-22-9584-9

"Bersamamu, cinta menjadi sangat sederhana..."

Saya memutuskan membeli novel juara pertama ‘Lomba Menulis Novel Amore’, “Mahogany Hills” karena dua hal; pertama saya penasaran apa dan bagaimana novel-novel Amore itu. Di sebuah grup di facebook, ketika Gramedia meluncurkan lomba ini dua tahun lalu, beberapa teman penulis sempat berdiskusi tentang apa dan bagaimana novel Amore. Saya hanya mengikuti dan jadi sedikit tahu bahwa novel-novel Amore itu adalah jenis novel roman ala Harlequin. Ada banyak novel roman Harlequin, dengan beragam nama penulis, bahkan tak sedikit juga yang sudah diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia. Ingin tahu apa saja novel-novel Harlequin yang sudah diterjemahkan, silakan Googling saja sendiri, atau langsung ke web-nya Gramedia. Intinya, novel-novel Harlequin (buku luar) dan Amore (Indonesia) adalah novel dewasa.

Saya akhirnya memilikinya karena saya pikir novel-novel roman ala Harlequin adalah novel dengan latar, serta cerita yang ‘dilakoni’ oleh tokoh-tokoh luar dan tentunya ditulis oleh penulis-penulis dari luar, sementara Amore adalah cerita dengan citarasa Indonesia, meski kemudian ada beberapa buku dengan setting luar negeri tapi tetap ditulis oleh penulis Indonesia. Selain itu, berdasarkan pengalaman saya yang hanya baru sedikit membaca novel-novel Amore, nuansa budaya timurnya sangat terasa, misalnya dalam menuliskan adegan ciuman atau adegan suami istri, antara dua tokoh sentral novel. Dalam novel-novel Harlequin, dua adegan ini dituliskan dengan bombastis sekali. Ditulis secara mendalam dan mendetail, bahkan liar. Yeah…you know-lah bagaimana novel-novel percintaan dari Barat sana. Tapi tidak demikian dengan Amore. Adegan-adegan ciumannya manis, tidak liar, dan dituturkan dengan lembut dan sopan.

Alasan kedua saya ingin membaca “Mahogany Hill” adalah karena saya tergoda dengan label ‘highly recommended’ dari beberapa review novel tersebut yang pernah saya baca. Begitulah, saya yang mudah dibuat penasaran setengah mati dan mudah tergoda dengan kalimat yang menggoda :D
***

Saya mungkin sependapat dengan yang ditulis oleh tim juri bahwa apa yang membuat novel ini memikat mereka dan menjadikan “Mahogany Hills” sebagai satu-satunya kandidat juara pertama adalah plot cerita yang tersusun rapi, karakter yang kuat, kalimat yang sederhana namun begitu mengalir, serta mampu membuat pembaca ikut masuk ke dalam cerita.

Yang membuat saya terpikat, sebagaimana kalimat-kalimatnya yang membumi –sekali lagi saya setuju dengan tim juri, latar yang dipakai penulis, Tia Widiana, juga begitu membumi. Penulis mengambil latar cerita di sebuah pedesaan yang masih sunyi di pelosok Sukabumi, yang alamnya masih murni, yang penduduknya masih ramah serta bersahaja. Pernikahan yang aneh antara Jagad dan Paras dilalui di tempat dengan gambaran suasana seperti di atas. Inilah kekuatan “Mahogany Hills”. Sementara akhir-akhir ini banyak novel roman yang mengambil setting yang rumit di luar negeri –pun kadang rumit dibaca oleh pembaca dalam negeri– namun Tia Widiana hadir dengan nuansa berbeda.

Meski tokoh dalam novel ini digambarkan terlalu hitam putih, namun hal tersebut tersamarkan dengan adanya kekuatan karakter untuk tokoh Paras dan Jagad. Paras adalah tipikal perempuan yang legowo, menerima apa adanya, pokoknya tipikal perempuan baik hati seperti peri. Mau hujan badai longsor dan tsunami sekalipun datang menghadang, dia tetap berdiri tegak sebagai perempuan yang tegar. Mau dimaki atau dihina sekalipun, dia tetap berusaha tersenyum meski hatinya perih. Sebaliknya, suaminya, Jagad, adalah tipe laki-laki yang nge-bossy, egois, pemarah, dan gengsi mengakui kalau pada akhirnya dia mencintai istrinya. Tragisnya, sikap-sikap negatif tersebut hanya ditujukan pada Paras. Sementara pada orang lain, Jagad justru bersikap sangat manis. Coba bayangkan, apa jadinya dua kepribadian yang saling bertolak belakang ini hidup dalam satu rumah, tanpa tetangga di sekitarnya (karna rumah-rumah di desa terpencil itu letaknya berjauhan), tanpa pembantu, dan… tanpa melakukan hubungan sebagaimana layaknya hubungan suami istri.

Cerita yang sangat Harlequin sekali, bukan? Namun bedanya, Tia menulisnya dengan latar pedesaan Indonesia, dengan karakter yang dipengaruhi budaya ketimuran, dan dengan kekuatan diksi yang digunakannya. Cerita cinta adalah cerita yang selalu dan terus berulang, itu-itu saja dari ratusan atau mungkin ribuan tahun lalu. Kalau bukan laki-laki yang jatuh cinta, ya sebaliknya, lalu dihadapkan pada prahara, lalu berjuang atau diam saja, lalu hidup dengan cinta atau mati selamanya dengan membawa cinta yang tak terkata atau terbalas. Tak ada cerita yang baru tentang cinta. Yang membedakan hanya jamannya saja dan media yang pelakunya jalani. Begitu juga dengan “Mahogany Hill”. Saya boleh katakan bahwa cerita cinta antara Jagad dan Paras terlalu biasa, sangat umum. Namun di sinilah dituntut kekreatifan penulis untuk mengeksplor cerita cinta yang biasa menjadi cerita yang berbeda. Tidak hanya berbeda sebetulnya, lebih dari itu, mampukah ia membuat pembacanya terpikat oleh setiap jalinan kalimat yang dirangkainya? Mampukah ia menggambarkan tokohnya menjadi kuat? Untuk hal ini, saya harus mengulang-ngulang tentang kepiawaian Tia Widiana meramu cerita dengan kalimat sederhana namun dia dengan hebat melakukannya. Saya agak susah menjelaskan sederhana tapi hebat itu bagaimana. Mungkin… seperti sebuah rumah yang bentuknya sederhana namun begitu kokoh bertahan dalam berbagai cuaca ganas. Dan saya rasa, penulis cocok sekali memberi judul novel ini dengan “Mahogany Hills”; sebuah rumah tua peninggalan kakek Jagad yang betul-betul menggambarkan kesederhanaan cinta Jagad dengan Paras.

Mungkin, satu-satunya hal yang menganggu saya adalah ketika Paras menderita amnesia setelah kecelakaan mobil yang dialaminya. Saya tidak menampik bahwa seseorang bisa saja kehilangan sedikit memorinya tentang sesuatu setelah tersadar dari ambang kematian. Bahkan dokter yang menangani Paras juga sudah menjelaskan hal tersebut secara ilmu medis. Saya bisa menerima penjelasan tersebut. Namun saya tidak bisa terima bahwa ternyata satu-satunya hal yang dilupakan Paras adalah suaminya. Ini sinetron banget. Lebih dari itu, saya sebenarnya menginginkan sebuah cara menyatunya pasangan suami istri ini dengan cara yang unik, yang berbeda, yang membuat siapapun menjadi meleleh ketika membacanya. Sampai di titik ini, saya mulai aneh dengan karakter Jagad. Oke, dia memang sudah jatuh cinta pada Paras sejak seringnya mereka bersama, sangat ingin memeluk Paras sejak mereka tidur bersama, hanya saja dia menepisnya mati-matian. Namun, hanya gara-gara istrinya amnesia, Jagad menjadi berbeda sama sekali. Dia menjadi lelaki yang linglung.

Secara keseluruhan, novel ini bagus sekali. Saya menyukai tulisan fiksi dengan bahasa sederhana namun dengan penggarapan yang dalam. Tia Widiana berhasil melakukannya untuk “Mahogany Hills”.
Profile Image for Lelita P..
632 reviews58 followers
December 26, 2020
Baca ini sampai memakan waktu tidur alias jadi bikin bergadang. Wah gila, ini sampulnya aja yang cakep dan manis, isinya mah angst banget parah.

Tahu genre 'melodrama' untuk drama-drama Korea? Nah, novel ini termasuk kategori genre itu. Bahkan alur ceritanya mirip drakor genre tersebut.

Dan novel ini ditulis tahun 2012 ya ... bisa dibilang novelnya doesn't age well karena pergeseran "budaya" (baca: maraknya gerakan #MeToo serta kampanye untuk menghentikan abusive relationship dan tentu saja ). Saya lumayan syok sih pas baca adegan itu. Asli angst banget ini cerita.

Kalimat-kalimatnya sederhana tapi emosinya intens banget. Novel ini agak beda dengan novel-novel lain bertema "drama rumah tangga yang berasal dari perjodohan" yang sebelumnya pernah saya baca. Saya juga bingung jelasin gimana bedanya, pokoknya beda deh feel-nya. Biasanya saya mencak-mencak sendiri baca novel drama rumah tangga, ngomelin tokoh-tokohnya yang pada nggak ngomong langsung aja biar masalahnya cepet clear. Tapi pas baca ini, saya terbawa ceritanya, jadi mingkem aja, nggak ngomel-ngomel.

Cerita novel ini memang secara umum menghanyutkan dan mengharukan sih. Bagian sebelum epilog itu nggak bisa saya lepaskan dari pikiran. Saya nggak suka karakter-karakter novel ini, terutama Jagad (ya ampun dia jahat banget), tapi tragedi di novel ini terlalu dahsyat sehingga akhirnya mau tak mau jadi bersimpati. Kasihan aja gitu ngeliatnya.

Epilognya sendiri menurut saya agak off awalnya, karena bikin "pendinginan" terlalu cepat setelah klimaks yang luar biasa. Namun, pas sampai di akhir epilog, saya ngerti maksud yang ingin disampaikan penulis: bahwa apa yang tampak dari luar belum tentu seperti apa yang tampak. Pasangan bisa terlihat bahagia di depan banyak orang, tapi siapa yang tahu apa yang sebetulnya terjadi di balik pintu rumahnya.
Displaying 1 - 30 of 178 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.