Mari kita mulai semuanya lagi dari awal. Mari tiupkan napas baru bagi harapan. Usahlah mengeluh tentang hal-hal lama.
Kau dan aku harus mulai belajar untuk lebih banyak berharap—dan mengurangi sesal.
Apa lagi yang membuat dirimu meragu? Kau dan aku sudah berada di sini, telanjur berada di rentang waktu ini. Bagaimana bisa kau membuka lembaran baru, kalau langkahmu masih tertahan di masa lalu? * TIME WILL TELL adalah bacaan manis bertema waktu dan lembaran baru dalam hidup, dihidangkan oleh dua penulis kebanggaan GagasMedia. Buku-buku yang pernah ditulis Okke ‘Sepatumerah’ sebelumnya: Kamar Cewek, Cinta Pertama, Kamulah Satu-satunya, Indonesian Idle, Istoria da Paz, dan Heart Block, dan beberapa buku kolaborasi. Sementara Riri Sardjono pernah merilis Marriagable dan Tentang Cinta.
Ahh, waktu akhirnya mengantarkan penantian panjang saya untuk bisa lagi menikmati tulisan Riri Sardjono. Well, pengarang yang satu ini memang baru melahirkan dua buku saja, Marriageable dan Tentang Cinta (adaptasi film), dan dari yang dua itu pun saya baru baca yang Marriageable saja. Namun, satu novel itu saja sudah cukup membuat saya jatuh cinta pada gaya tulisan Riri. Dan, betapa bahagianya saya ketika tersiar kabar akan ada buku terbaru Riri yang akan terbit. Sebisanya saya berusaha segera membeli dan membacanya.
Saya tak tahu masuk dalam kreasi jenis apa Time Will Tell di Gagas Media. Jika menjajarkannya dengan proyek GagasDuet yang booming di tahun 2012 kemarin, sepertinya kurang ‘satu ciri’ yaitu di sampulnya yang tidak standar. Oleh karenanya, saya menganggap ini adalah novella duet karya dua penulis Gagas Media yang cukup lama vakum menerbitkan karya. Jika Riri hanya di dua buku yang saya sebut tadi, Okke sebenarnya telah lebih banyak menerbitkan karya. Tapi, Heart’s Block (dan antologi The Journeys, Empat Musim Cinta) sepertinya menjadi karya terakhir Okke sebelum ‘hiatus’ sekian lama. Jadi, novella duet ini semacam oabat penawar rindu akan racikan kedua pengarang ini.
Dalam Time Will Tell ini, Okke Sepatumerah mengambil porsi bercerita lebih dulu dalam kisahnya yang diberi judul The Reunion (91 hlm), baru kemudian diteruskan oleh Riri Sardjono melalui tulisannya yang bertajuk 15 to Love (175 hlm). Oh, iya, perlu saya spoiler-kan bahwa kedua cerita ini berdiri sendiri, dan tak harus dibaca secara berurutan. Sampai akhir cerita saya hanya sok pede menduga bahwa benang merah dari novella duet ini ya di “waktu yang akan menjawabnya” karena memang secara garis besar, cerita digulirkan lewat hantaran waktu sehingga semua menuju ujungnya masing-masing.
The Reunion Dari judulnya, saya sudah bisa menduga ini tentang reuni, meski saya baru merasai nuansa reuni yang coba dikisahkan oleh Okke ketika membalik halaman demi halaman bagian kesatu ini. Karena telanjur membaca Reuni-nya Ayu Gendis (metropop) terlebih dulu, saya menjadi sedikit terganggu menikmati guliran kisah ini. Agak mirip, meskipun dari segi jumlah tokoh, The Reunion jelas lebih sedikit (3 tokoh) dibanding Reuni (5 tokoh). Namun, gulungan konflik yang menyertai derap langkap para tokohnyalah yang lagi-lagi menjebak saya pada kesimpulan adanya kemiripan di antara kedua buku ini. Dan, terpaksa harus saya akui kalau Reuni garapan Ayu Gendis lebih punya banyak ruang bercerita karena halaman yang memang lebih banyak dibanding The Reunion. Dan, sebagaimana layaknya reuni, antusiasme dan kecanggungan yang menyertai peserta reuni adalah topik utamanya. Lagi-lagi, saya gagal menemukan manisnya orisinalitas dari The Reunion, sehingga saya ‘hanya’ berusaha meresapi gaya bercerita Okke saja di cerita ini.
Kisah ini ditulis dengan mengambil sudut pandang orang pertama untuk ketiga tokohnya, sehingga kita diberikan deskripsi yang luas mengenai konflik keseharian mereka. Pada awalnya saya mendapati citra yang hampir sama antara Kanya dan Arlita, apalagi keduanya digambarkan pada situasi yang serupa, sudah menikah dan memiliki momongan. Sedangkan, Ade lebih mudah dibayangkan karena memang berbeda latar belakangnya. Lambat laun, dari tengah hingga ke belakang ketika para tokohnya disatukan dalam satu frame, barulah saya mampu menghayati karakterisasi masing-masing secara lebih mendalam.
Konflik tentang sahabat yang ternyata tak sejujur yang disangka. Sahabat yang dianggap tak pernah berahasia, ternyata justru menyimpan belati dusta. Dan, sang waktulah yang akan membuka mata dan telinga mereka lebar-lebar, sehingga mereka dapat mendefinisikan sahabat dalam arti yang sesungguhnya.
15 to Love Sedikit capek saya membaca part kedua dari novella duet ini. Untung saja, gaya bercerita Riri yang lincah nan asoy berhasil membuat saya terpaku pada kisah ini dari awal hingga akhir. Ini kisah tentang sahabat yang terbelenggu label persahabatan yang mereka ciptakan sendiri sehingga menumpulkan rasa yang menggelora di dada. Giwang seolah selalu bernasib sial karena cowok yang dekat dengannya berakhir menjadi seorang pengkhianat yang naksir orang-orang terdekatnya, bahkan naksir Nara yang adalah cowok juga. Astaga. Sementara Nara tak bisa lepas dari julukan “sahabat setia” sehingga Giwang tak pernah menanggapinya dengan serius setiap kali Nara menyatakan gelenyar rasa di hatinya. Begitu terus sampai hampir ending. Hal itulah yang membuat saya hampir terserang penyakit 'capek-nerusin-baca'. Saya mengibaratkan diri sendiri seolah sedang mengayuh sepeda angin di bawah terik matahari dengan pandangan nun jauh ke daerah tujuan yang masih berupa titik hitam di ujung sana. Keringetan, tapi nggak sampai-sampai.
Adalah seorang Riri Sardjono yang mampu membuat saya tetap semangat mengayuh sepeda angin saya. Meski berpeluh, saya cukup menyekanya dengan lengan kaos yang saya kenakan, sembari tetap mengayuh pedal.*lebay*
Lagi-lagi bukan hal baru, tapi tak jadi soal. Kisah cinta yang bagaimana sih yang belum pernah diceritakan? Hampir semua sudah pernah. 15 to Love yang memilin benang merah ‘sahabat jadi cinta’ pun merupakan produk lama, bahkan group band Zigaz juga sudah membawakannya dalam format lagu, dan mereka menangguk sukses dari situ. Anyway, saya suka karakterisasi keseluruhan tokoh di 15 to Love. Mereka seolah telah di-casting dengan sempurna untuk memainkan peran masing-masing. Meskipun, saya sempat kehilangan rasa ketika pada suatu ketika, Giwang meledak sehebat itu dan hampir-hampir memenuhi gambaran sebagai cewek psiko yang patut dikasihani. Padahal, dari awal saya melihatnya sebagai sosok perempuan tangguh yang meski tetap cengeng ketika patah hati tapi sanggup menerjang badai untuk bangkit kembali.
Overall, saya menyukai Time Will Tell ini, meskipun jika dipisah jadi dua, saya akan menjatuhkan pilihan pada 15 to Love sebagai cerita yang lebih disukai. Jujur saja, harapan saya akan buku ini memang sangat tinggi sehingga risiko untuk kecewa karena tak sesuai ekspektasi menjadi demikian besar. Well, untunglah saya tak terlalu kecewa. Sekali lagi, buku ini saya anggap sebagai penawar rindu saya pada tulisan karya seorang Riri Sardjono.
Baik, kita ngulik sedikit tentang cetakan. Saya memang belum banyak membaca buku-buku terbitan Gagas Media, meskipun demikian timbunan buku produksi penerbit ini sudah memenuhi rak buku saya. Tapi, pengalaman membaca saya selalu ternodai dengan masih tumpulnya sensor typo pada buku-buku cetakannya. Padahal, justru buku-buku terbitan Gagas Media yang dengan gamblang menyertakan nama proofreader pada lembar informasi buku, tapi mengapa justru buku-buku ini seperti masih saja gagal bersih? Berikut beberapa catatan typo di buku Time Will Tell ini: (hlm. 10) Sekaran,g = Sekarang (hlm. 22) Sudah banget, deh ngajakin... = Susah banget, deh ngajakin.. (hlm. 22) waktunya pacarnya = waktu pacarnya (hlm. 49) sejak Carla menikah = sejak Arlita menikah (hlm. 56) Masa Cuma nganter... = Masa cuma nganter... (hlm. 57) aku membuntuti = aku membuntuti. (hlm. 63) Nggak apa-apa kok. mungkin = Nggak apa-apa kok, mungkin (hlm. 66) ditanyaan = ditanya (hlm. 82) menganggu = mengganggu (hlm. 89) mencelos = mencelus (hlm. 100) coklat = cokelat (hlm. 126) luar negri = luar negeri (hlm. 137) di habiskannya = dihabiskannya (hlm. 140) mengangapnya = menganggapnya (hlm. 192) gedug = gedung (hlm. 201) dia mengacuhkannya = dia tak mengacuhkannya (menyesuaikan konteks) (hlm. 209) menghisap = mengisap (hlm. 225) suasanan = suasana
Buat kamu yang suka membaca kisah tentang sahabat yang menyimpan rahasia atau sahabat yang gagap mengucap cinta, Time Will Tell akan membawamu mengarungi samudera waktu untuk mencari jawaban atas segala pertanyaan.
Saya tetap merekomendasikan novella duet ini buat kamu baca dan koleksi. Selamat membaca, kawan.
Saya menyukai Marriageable-nya Riri Sardjono. Jadi ketika mendengar bahwa ia akan come back dengan buku baru, bisa dibayangkan betapa bahagianya saya. Ketika saya melihat Time Will Tell di toko buku, nggak pakai mikir, saya langsung beli. Ternyata ini adalah sejenis GagasDuet yang terdiri dari dua novella. The Reunion, karya Okke, dan 15 to Love karya Riri. Tapi kok kalau GagasDuet covernya beda dengan GagasDuet lainnya ya?
Seperti biasa, saya nggak akan membahas mengenai plot ceritanya, tapi mari membahas tentang apa yang saya rasakan ketika membaca buku ini.
Yang pertama, The Reunion. Udah jelas lah ya, dari judulnya itu ceritanya apa. Reuni tiga sahabat kuliah pada saat sekarang mereka sudah berkeluarga (masih ada yang single juga sik). Awalnya saya suka ceritanya, tapi lama-kelamaan rasanya agak datar. Apalagi penulis menggunakan point of view dari masing-masing tokoh. Jadinya ada tiga POV. Pfiuh. Tricky abis pastinya. Mana masing-masing tokoh menggunakan kata ’aku’ jadi kadang mirip banget satu sama lain, tone-nya sama. Mungkin kalau ada pembeda misalnya ada yang pakai ‘saya’, ‘aku’, dan ‘gue’ akan lebih terasa pembedanya. Apalagi ternyata ada kesalahan fatal penulisan nama tokoh di salah satu bagian. Huadeuh.
Jalan ceritanya sendiri sih awalnya saya lumayan suka, yang kurang sreg sih endingnya aja. Tapi itu, sekali lagi, mungkin hanya saya aja.
Yang kedua, 15 to Love. Pas ngebaca-nya beneran mengingatkan pada Marriageable. Penulisannya, bukan ceritanya. Ini yang saya suka dari Riri, dia bisa membuat interaksi antara kedua H/H-nya terlihat lucu, hangat dan menyenangkan. Banter-nya juga seksi. Lucu dan cerdas. Sayangnya, Riri sama sekali nggak membagi keseluruhan cerita menjadi beberapa bab, semuanya dibiarkan mengalir dari awal sampai akhir tanpa jeda, tanpa spasi. Membuat saya ketika membacanya merasa terengah-engah dan nggak sempat menarik napas. Apalagi timeframe-nya kan lama ya, 15 tahun. Mungkin karena nggak ada jeda itulah yang membuat rentang wkatu 15 tahun itu nggak terlalu berasa perbedaannya.
Karakter pendukungnya berasa banyak banget (ya wajar juga sih, 15 tahun gitu lho), semua nama disebutin dan kadang bikin bingung. Ini yang mana pula. Tapi ya karena ini novella, nggak bisa berharap juga sih semua karakter ter-develop dengan baik.
Overall, walaupun novel ini bukan jenis yang bisa membuat saya engaged membacanya terus-terusan (seminggu lebih aja gitu. Well, itu sempat kepotong karena ketinggalan di mobil bubos selama tiga hari, sih), tapi menyenangkan untuk dibaca.
Ya ampun, ternyata udah baca. HAHAHAHA. Bakalan taruh di "timbunan" buat dibagiin ke orang. Bikin GA-nya kayak gimana ya, hmm...
* * *
Karena lupa taruh novel CRA, akhirnya memutuskan nengok lemari tumpukan novel yang masih disegel. Dan jatuh pada novel ini.
Baru ngeh juga ini dua novelet, bukan novel duet.
Cukup mengejutkan, gue jauh lebih suka noveletnya Okke 'Sepatumerah' daripada Riri Sardjono.
Dalam noveletnya, The Reunion, Mbak Okke pake tiga sudut pandang. Buat gue pribadi, karena memang cakupannya novelet, pas aja porsinya. Dan rasanya perlu dijadikan novel deh. Pertama kali baca tulisan Mbak Okke, dan mungkin bakal berburu karyanya... 3.5 bintang!
Sayangnya, ekspektasi saya jatuh saat baca 15 to Love-nya Mbak Riri. Bacanya agak belibet dan ya udah, cuma sekadar cerita. 2 bintang.
Begitu membaca twit yang mengabarkan kalau Okke 'Sepatumerah' melahirkan sebuah novel lagi, saya langsung berniat membeli bukunya. Ketika tahu dia akan berduet dengan Riri Sardjono, sekedar niat tidak cukup. Saya langsung memesan bukunya via bukabuku.com. Bukan promosi, tetapi hanya di toko buku online itu buku terbitan Gagas Media didiskon sampai 20% :)
Begitu lihat covernya, saya agak ragu kalau buku ini masuk dalam kategori Gagas Duet. Kebanting banget deh dengan cover Gagas Duet lainnya yang cantik itu. Saya kira hampir semua pembaca menyetujui kalau Gagas Media jagonya bikin cover yang cantik dan eye catching. Tapi untuk yang satu ini sangat minimalis. Maafkan saya kalau untuk cover saja sudah mengurangi satu poin dari buku ini.
Ada dua cerita di dalamnya, The Reunion oleh Okke dan 15 to Love oleh Riri Sardjono. Jumlah halamannya tidak sebanding. The Reunion mengisi 91 halaman, dan sisanya untuk 15 to Love. Soal layout isi bukunya, lebih menolong (dalam artian dibandingkan dengan covernya). Saya juga suka dengan pilihan kalender Januari dan Desember yang adalah bulan awal dan akhir dalam satu tahun. Pas banget menggambarkan tentang waktu yang akan mengungkapkan semuanya.
The Reunion berkisah tentang 3 orang wanita. Kanya - wanita karier, punya satu anak, bermasalah dengan mertua; Arlita - ibu rumah tangga, punya satu anak, ga pernah gaul lagi setelah menikah; Ade - penyanyi cafe, lajang, benci acara kumpul keluarga. Ketiganya memutuskan untuk berkumpul kembali mengadakan reuni setelah sekian lama terpisah karena kesibukan masing-masing. Ketiganya butuh perjuangan buat bisa reunian. Kanya harus "mengatasi" mertuanya, Arlita memohon izin dari suaminya, Ade yang menyiasati ibunya demi ga ngumpul di reuni keluarga tapi reunian dengan teman-temannya. Tetapi setelah berkumpul, ternyata rasanya berbeda dengan yang mereka harapkan. Ade merasa Arlita terlalu banyak bercerita soal anaknya, sementara Arlita sendiri ga ngerti dengan gaya hidup wanita karier seperti Kanya dan Ade. Meski demikian, ketiganya masing-masing menyimpan kecemburuan terhadap hidup sahabat-sahabat mereka.
Saya sendiri bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Arlita atau Ade. Terkadang kalau ada acara reuni dengan teman-teman SMP, SMA atau teman kuliah sepertinya ada yang ga pas aja. Ikatan yang tadinya terasa kuat antara sahabat, dengan janji tidak akan saling melupakan, jadi berasa "longgar" dan seperti tidak saling mengenal. Bukan berarti mereka bukan sahabat lagi, tetapi mungkin lebih tepat bukan masanya lagi segala sesuatu harus tetap sama.
The only thing that never changes is that everything changes - Louis L'Amour
Satu yang ga berubah adalah gaya bercerita Okke. Masih sama seperti pada novel sebelumnya. Hanya saja, dalam The Reunion karena ada tiga tokoh, saya yang tadinya mengira kisah ini berpusat di Kanya ternyata nggak begitu mendapatkan feel-nya novel ini.
15 to Love juga sangat berasa Riri Sardjono. Percakapan yang ringan, sarkastik, tapi lucu antara dua tokoh utama (Giwang dan Nara) adalah kekuatan dari novel ini. Sejak awal mereka bertemu, Nara jatuh cinta pada Giwang. Tetapi Giwang butuh waktu 15 tahun untuk bisa menyadari kalau dia juga mencintai Nara. Awalnya Giwang hanya membutuhkan Nara sebagai sahabat. Tarik ulur antara Nara dan Giwang seperti karet kolor yang ga bisa putus. Sempat membosankan karena konfliknya berulang seputar Giwang yang jatuh cinta sama cowok, tapi cowok itu malah suka sama temannya Giwang, sementara Nara yang berusaha membuktikan dirinya yang pantas untuk Giwang ga juga diterima sebagai pacar. Bayangkanlah 150-an (lebih) halaman hanya seputar itu.
The only truth is love beyond reason - Alfred De Musset
Konflik sederhana tetapi diramu dengan dialog yang menyenangkan membuat novel ini ga berasa cheesy. Dibandingkan The Reunion, memang lebih dapat feel-nya, karena penokohan Nara dan Giwang yang kuat.
Overall, buku ini mengobati kerinduan saya sama karyanya Okke dan Riri. Kata beberapa orang ada banyak typo, kali ini saya ga begitu memperhatikan karena begitu excited akan kehadiran buku ini. Untuk pengobat rindu ini saya berikan tiga bintang.
Dalam novel "Time Will Tell" ini ada dua cerita dan di tulis oleh penulis berbeda yaitu kak Okke 'Sepatumerah' yang berjudul "The Reunion" dan "15 to love" di tulis oleh kak Riri Sardjono. Aku bahas satu per satu ya😉 💍 "The Reunion" : bercerita tentang tiga sahabat (Kanya, Arlita dan Ade) yang berteman semenjak SMA, semakin bertambah usia kehidupan mereka berubah. Menurut ku ini relate banget ya, karna seiring berjalannya waktu kita bakal susah nemuin waktu yang pas buat ketemuan sama sahabat kita karna masing² punya kesibukan. Entah itu pekerjaan atau kehidupan rumah tangga.
Nah ketika tercetus ide mengadakan reuni, pasti ada aja halangan yang membuat segalanya serba tidak memungkinkan untuk datang. Dan ketika sudah bertemu kadang timbul rasa canggung antara satu sama lain. Disini kak Okke benar² menggambarkannya dengan apik situasinya, namun sayang agak terasa mengganjal karna cerita beliau masih menggantung. But it's oke ceritanya sangat seru dengan lika liku kehidupan tiga sahabat itu. 💍 "15 to love" : Sanggupkah kalian bertahan dan mencintai sahabat kalian selama 15 tahun? Gak mudah ya pastinya dan banyak tantangan serta orang baru yang akan keluar masuk selama kurun waktu 15 tahun itu.
Persahabatan Tanara dan Giwang bikin aku gemas sendiri, tentang betapa tak beruntungnya kisah percintaan Giwang entah itu bertepuk sebelah tangan atau orang yang ia sukai malah menyukai sahabatnya. Sedangkan Tanara ia berusaha untuk mendekati Giwang, namun Giwang memberi garis tegas bahwa mereka hanya sahabat.
Menurutku cerita ini sangat manis, Nara rela memberikan waktu selama 15 tahun untuk Giwang berpikir agar bisa menerima cintanya. Dengan menahan perasaannya untuk tidak berbuat nekat pada orang² yang mendekati Giwang karena cemburu.
Duuh kalo aku jadi Nara mungkin 'ya udahlah ya gak jodoh', tapi Kak Riri membuat Nara udah mentok gak ada wanita lain yang bisa gantiin Giwang😍. Dan perjalanan cerita mereka pun mengalami pasang surut, itu yang bikin aku gregetan🤣. 💍 Aku awalnya ragu nerima buku ini dari personaliaku, tapi sekarang enggak karna novel ini sangat bagus😍. Salut sama bacaan beliau🙇. Overall aku suka dengan kedua cerita disini, dan bikin aku punya pandangan tersendiri tentang bagaimana waktu menjawab. Tentang arti persahabatan dan waktu yang bisa merubah segalanya😊.
Monmaap.. tapi yang "The Reunion" kalo bisa dihapus aja yaa. Ceritanya gak asik, bahkan aku sampe kepikiran buat donasikan bukunya..
Tapi setelah aku baca cerita kedua, "15 to Love" sumpah gilaaaaak. Aku jadi sayang ama buku ini.. bagus banget ceritanya, baper parah, bahkan pas jeda baca aku coba bayangin endingnya dan bikin nangis.. terus pas bagian Davina muncul aku ikut-ikutan marah dong asudfghjkl!! Eh tapi ternyata sesuai dugaan, aaah I'm in love so much with this novel. Terima kasih mbak Riri Sardjono untuk tulisan luar biasanya!!!
Gagasduet terakhir, kali ini penulisnya adalah penulis lama gagas yang bisa dibilang vakum menelurkan karya. Salah satu cerpen di The Journey menjadi karya Okke 'Sepatumerah' terakhirnya, setelah itu tidak ada yang baru. Sedangkan Riri Sardjono setelah Marrigable, Tentang Cinta (lagi nyari buku ini) dan salah satu cerpen di antologi Kepada Cinta seperti tenggelam, tidak muncul lagi. Padahal sejak membaca karya pertamanya saya langsung jatuh cinta dengan tulisannya dan menjadikan dia salah satu penulis favorit saya. Bisa dibilang pilih kasih, saya langsung menjadikan buku ini wishlist begitu tahu Riri Sardjono turut andil, walau hanya menulis novella kangen saya sedikit terbayar, toh di buku ini porsi dia lebih besar, hampir setengah lebih dari pada novella milik Okke. Jujur saja, dari beberapa buku Okke yang saya baca belum ada yang bisa mengambil hati saya.
Benang merah di gagasduet kali ini adalah tentang waktu. Apakah waktu bisa merubah banyak hal? Waktu akan membuktikannya.
The Reunion by Okke 'Sepatumerah Kanya, Arlita dan Ade, tiga sahabat yang akan reuni di malam tahun baru. Apakah setelah lama tidak bertemu akan merubah banyak hal dalam diri mereka? Kanya, selalu mempunyai masalah dengan ibu mertuanya, di mata sahabatnya dia adalah potret perempuan sukses baik pernikahan dan kariernya. Dibalik semua itu Kanya merasa rumah tangganya tidak bahagia. Arlita, si full-time Mom, apa-apa harus atas ijin suaminya, seorang istri yang penurut. Kadang dia iri dengan Kanya, walau sudah mempunyai anak seperti dirinya, dia bisa tetap bekerja, nongkrong dan pergi bersama teman prianya, dia ingin sedikit kebebasan. Ade, untuk menghindari reuni keluarga dan pertanyaan 'kapan kawin?' dia memilih menghadiri reuni bersama sahabatnya waktu kuliah dulu. Kehidupannya berbanding terbalik dengan kedua sahabatnya, jomblo di umur yang seharusnya mempunyai anak dan menjadi vocalis band tidak terkenal. Dia sangat cuek penampilannya pun juga unik, dia sangat terganggu dengan Arlita yang sering mengelu-elukan anaknya
Apakah waktu akan merubah persahabatan mereka?
15 to Love by Riri Sardjono
"Ternyata, cinta bukanlah seperti apa yang selama ini diagung-agungkan. Cinta hanyalah kumpulan lima huruf yang membentuk kata tanpa makna. Cinta adalah kesenangan sesaat dan kesakitan yang panjang. Cinta adalah alkohol dan heroin dalam jumlah melebihi batas, menghasilkan kecanduan ilusi tentang sesuatu yang disebut bahagia. Ya, semacam kata Pablo Neruda, Love is Short, Forgetting is long."
Giwang dipertemukan kembali dengan Tanara setelah tiga tahun tanpa betegur sapa. Petemuan pertama mereka terjadi ketika Giwang memutuskan kuliah di Bandung, Nara adalah teman sepupu Giwang, dia menawarkan satu-satunya kamar kosong di kosnya, sejak itu mereka menjadi sahabat. Nara punya panggilan kesayangan untuk Giwang, Dorothy Gale, diambil dari nama tokoh di buku The Wonderful Wizard of Oz karena dia merasa Giwang sama seperti Dorothy yang terpental masuk ke dalam dunia sihir yang lucu, bukannya sependapat, Giwang merasa dirinya dikutuk. Setiap pria yang ditaksirnya tertarik kepada teman dekatnya, kisah cintanya akan selalu dihantui dengan kehadiran wanita lain, seorang ahli patah hati. tanara kembali karena mendengar Giwang putus dengan pacarnya, Tanara adalah obat patah hati buat Giwang.
"Pria menghormati wanita dengan menciumnya."
Giwang buta, dia tidak perlu mencari dengan susah payah Mr. Right, butuh lima belas tahun dia menyadari kalau yang dicarinya selalu berada di belakang, menyokongnya setiap kali dia terluka karena cinta.
"Minimum love is friendship, maximum friendship is love."
Dengan memakai sudut pandang orang pertama, kita bisa lebih mendalami para karakter di The Reunion. Ceritanya berbau sedikit feminisme, seorang wanita yang tegar menghadapi suami yang selingkuh dan membalasnya, seorang wanita yang awalnya tunjuk kepada lelaki tapi mulai memberontak dan seorang wanita yang hidup semau dirinya. Setelah reuni yang mereka lakukan, mereka sadar kalau keadaan mereka tidak sama lagi seperti masa kuliah dulu, mereka sudah mempunyai kehidupan masing-masing, mereka tidak bisa nyaman mengobrol seperti dulu, tidak sebebas dulu, ada orang lain yang mengisi pikiran mereka. Ade yang paling merasakannya karena dia yang belum menikah dan hidupnya masih sama saja. Sedangkan Arlita sekarang lebih fokus kepada keluarganya, kepada anaknya. dan yang paling kacau adalah Kanya dengan berbagai masalah yang dihadapinya. Waktu bisa merubah segala hal, itu inti yang saya dapat dari cerita ini. Rasanya saya pernah mengalami juga cerita seperti ini :)
Sedangkan di cerita kedua, yang saya dapat adalah waktu tidak merubah perasaan seseorang, berapa lama pun kalau yang namanya cinta akan tetap sabar menanti, itu yang dilakukan Nara. 15 tahun tetap setia menunggu, rela patah hati berkali-kali, padahal yang membuat patah hati sibuk dengan patah hatinya sendiri. Waktu membaca cerita ini, setelah sekian lama vakum saya masih mendapatkan ciri khas dari Riri Sardjono, ciri khas yang membuat saya menyukai tulisannya. Karakter cowok yang loveable, setia dan perhatian banget, dengan gaya bercandanya yang khas juga, sedikit nakal dan ceplas ceplos, suka dialog-dialog jeniusnya, suka persahabatan yang dibina karakter utamanya, suka semuanya. Mungkin cerita patah hati Giwang cenderung berulang, sebuah proses agar sampai terjadi 15 tahun, hahahaha. Kalau dari ide ceritanya sudah biasa, seorang sahabat yang tidak ingin menodai hubungan dengan cinta dan kalau sampai berumur lebih dari tiga puluh tahun belum menikah maka sang sahabat akan dilamar sahabatnya sendiri. Riri membuat berbeda dengan waktu 15 tahun penantian :p.
"I don't need a perfect one. I just need someone who can make me feel that i'm the only one." (Anonim)
Buku ini saya rekomendasikan bagi orang-orang yang suka menunggu :)
Dua penulis berkolaborasi. Agak aneh sih, soalnya pamor Gagas duet sudah lewat. Jadi, bisa dibilang ini nggak termasuk dalam golongan tersebut. Iya kan? Lantas kolaborasi seperti apa sih yang Okke "sepatumerah" dan Riri Sardjono lakukan? Errr...sebenarnya dibilang berkolaborasi kurang tepat juga sih. Mengingat buku ini terdiri dari dua cerita yang masing-masing ditulis oleh mbak Okke dan mbak Riri. Cerita pertama berjudul The Reunion yang ditulis mbak Okke sedangkan cerita kedua yang ditulis oleh mbak Riri berjudul 15 to Love.
1. The Reunion (4 stars) Kanya, wanita karier yang terlihat pandai menyeimbangkan antara kehidupan pekerjaan dan rumah tangganya. Tapi siapa sangka jika dia memiliki masalah dengan ibu mertuanya yang selalu menuntut untuk lebih memerhatikan keluarga dan menjadi full time mommy. Belum lagi ia memiliki affair dengan rekan suaminya. Jadi, siapa bilang hidup Kanya sempurna?
Arlita adalah ibu rumah tangga. Sehari-hari yang dikerjakannya adalah urusan domestik. Dari luar mungkin terlihat bahagia karena ia bisa mencurahkan perhatian penuh untuk keluarganya. Namun di balik itu semua, sebenarnya ia telah kehilangan waktu untuk dirinya sendiri. Termasuk untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.
Ade, satu-satunya yang masih berstatus lajang di antara mereka. Karena statusnya itulah ia seringkali mangkir dari acara keluarga. Ia bosan mendengar pertanyaan mengenai kapan akan mengakhiri masa lajang. Belum lagi para tetua keluarganya suka nyinyir dengan pekerjaan dan penampilannya yang nyentrik.
3 sahabat. 3 masalah. Ketika akhirnya mereka berencana untuk reuni, mereka berharap bisa menceritakan masalahnya masing-masing sedangkan yang lain mendengarkan dan memberi solusi. Tapi reuni tersebut malah jadi kacau. Waktu ternyata telah mengubah mereka semua.
Saya suka sekali dengan cerita ini. Konflik sudah dimunculkan dari awal. Bahkan di lima halaman pertama saya sudah gregetan dengan ceritanya. Saya bisa merasakan gimana sebalnya Kanya sama perlakuan ibu mertuanya, bingung dan marahnya Arlita terhadap suaminya, atau malasnya sikap Ade dalam menghadiri acara keluarga. Meskipun saya agak kesal juga sih, kok baru awal aja udah banyak typo. Nih, typo: --(hal 10) Sekaran,g aku cuma mau pergi... ---> sekarang --(hal 12) ...aku musti waspada ---> mesti (saya cek di kateglo) --(hal 22) Sudah banget, deh ngajakin lo ketemuan ---> susah ...menyerahkan jiwa, raga, dan waktunya pacarnya ---> tidakkah lebih enak jika seperti ini "...menyerahkan jiwa, raga, dan waktu untuk pacarnya"? --(hal 89) Jantungku mencelos... ---> ternyata yang benar itu mencelus (saya juga baru tahu)
Biasanya kalau menemukan banyak typo di bab-bab awal, mood saya langsung berantakan untuk lanjut baca. Tapiiii... karena gaya menulis dan menuturkan yang asyik, saya jadi lanjut terus deh bacanya. Mungkin bagi yang follow akun twitter penulisnya, sudah tidak aneh dengan gaya bahasa mbak Okke. Begitulah yang ada pada cerita ini. Anehnya, saya merasa gaya bertutur ketiga tokoh seolah sama. Agak sulit membedakan jika tidak dituliskan bagian siapa yang sedang bercerita, Kanya, Arlita ataukah Ade.
Walaupun saya suka cerita ini, saya merasa sebal juga. Lagi asyik-asyik menikmati dan hanyut dalam cerita, eeeehhhhh...ceritanya udahan aja gitu. Hih. Kayak lagi seru-serunya nonton film terus mati listrik, pas nyala filmnya udah habis. Hih. Hih. Kepada mbak penulis, nggak ada niatkah untuk membuat The Reunion dalam satu novel sendiri?
2. 15 to Love (3 of stars) Giwang bertemu Nara saat ia minta tolong dicarikan kostan oleh sepupunya. Dan sepupunya inilah yang memperkenalkan mereka berdua. 3 bulan bersama mampu menimbulkan benih cinta di hati Nara. Ia menyadarinya saat pergantian tahun. Ketika itu Giwang lebih memilih merawatnya daripada merayakan tahun baru. Tetapi ternyata cinta Nara bertepuk sebelah tangan. Giwang menganggap jika mereka berpacaran, itu artinya inses. Akhirnya mereka mencari pasangan masing-masing. Berkali-kali mereka berganti pasangan. Berkali-kali juga Nara menyatakan perasaannya pada Giwang. Setelah lima belas tahun, Giwang akhirnya harus menentukan pilihan mengenai hubungannya dengan Nara. Mampukah waktu selama itu mengubah perasaan Giwang terhadap Nara?
Sejak baca Marriagable, saya sudah jatuh cinta dengan gaya bercerita mbak Riri. Bagaimana kedua tokoh utama dikelilingi sahabat-sahabat yang melalui percakapan mereka bisa menghidupkan suasana. Hal ini pun masih ditemukan dalam cerita ini. Hanya saja saya merasa jenuh saat membacanya. Saya merasa konflik terlalu lama berputar di hal yang serupa. Memang itu untuk menggambarkan kegigihan Nara. Tapi entahlah, mungkin karena dari awal sudah bisa ditebak akan seperti apa akhirnya. Makanya pas baca merasa lama untuk mencapai klimaksnya.
Oh iya, saya juga selalu suka dengan cara mbak Riri membuat kalimat dari percakapan antartokoh yang quote-able nan jleb. Contohnya "Perempuan selalu bicara mengenai peran di belakang kesuksesan pria. tapi sebenarnya kalian memilih pria yang sudah sukses." atau "Pacaran dengan sahabat adalah hal yang mungkin. tapi, bersahabat dengan mantan pacar, itu baru tantangannya." Untuk masalah typo, di cerita ini sih saya hanya menemukan satu saja, yaitu di halaman 192 penulis gedug yang seharusnya gedung.
Nah, satu lagi yang saya kurang suka dari cerita ini ada pada bab terakhir. Kalau tujuan dari bab tersebut untuk mengingatkan janji yang dibuat Nara-Giwang, saya rasa jika pembaca cermat sudah bisa menangkapnya. Karena saya lebih suka ending-nya adalah adegan di lift yang terdapat di bab sebelumnya. Saya merasa pas aja gitu kalau berhenti di sana.
Well, secara keseluruhan saya suka dengan buku ini. Kalau dirata-rata ratingnya jadi 3,5 bintang. Tapi karena saya suka dengan gaya bertutur kedua penulis, saya bulatkan jadi 4 bintang deh. ;)
TIME WILL TELL berisi dua novelet yang ditulis oleh dua penulis yang berbeda, tetapi masih berhubungan dengan tema utama buku ini : Waktu. Okke 'Sepatumerah' menulis The Reunion pada bagian awal. Sedangkan Riri Sardjono menulis '15 to Love'.
Cerita pertama berkisah tentang tiga orang sahabat yang setelah dewasa memutuskan untuk mengadakan reuni. MAsing-masing dengan kehidupan barunya. Menjadi istri, ibu, dan satunya menjalani kehidupan single sesuai pilihannya. Sayangnya, apa yang dibayangkan mereka kadang tidak sesuai kenyataan. Reuni yang dibayangkan akan asyik, mendadak canggung.
Pada akhirnya mereka sadar, bahwa waktu kadang bisa mengubah segalanya. Apa yang dulu kita anggap asyik, bisa jadi sekarang sudah tidak menarik lagi. Apa yang dulu kita anggap penting, digantikan dengan hal penting lainnya.
Cerita kedua, 15 to Love, adalah favorit saya. Kisah Giwang dan Nara mengingatkan saya pada Rosie dan Alex dalam novel Where Rainbows EndWhere Rainbow Ends karya Cecelia Ahern--salah satu novel favorit saya! Bagaimana rasanya mencinta sahabat sendiri selama ... lima belas tahun? Coba tanyakan ke lelaki menarik bernama Nara dalam kisah ini. Kisah Nara dan Giwang ini manis, tetapi tidak berlebihan. Tak hanya soal cinta, novelet ini juga membawa cerita tentang masa muda dan persahabatan.
"Nara tersenyum dan berpikir, betapa susahnya jatuh cinta kali ini. Biasanya tidak sesulit ini. Entah kenapa dengan wanita satu ini berbeda. Biasanya dia jatuh cinta, patah hati, pergi, dan selesai. Tapi, kini tidak begitu. Dia patah hati, tapi tidak mampu pergi. Sesuatu yang lebih kuat dari akal sehatnya telah menjeratnya." (Halaman 111)
Seperti yang telah saya sebutkan di atas, persamaan kedua novelet ini adalah sama-sama berhubungan dengan waktu. Bahwa seiring waktu berjalan, banyak yang berubah. Ada yang berkurang, juga ada yang bertambah. Bahwa waktu juga mampu mengubah karakter seseorang, membuatnya menjadi orang asing. Pada mulanya kita masih berjalan berangkulan, saling tertawa. Namun, suatu hari tiba-tiba saja dia sudah berada jauh dari kita sampai-sampai kita tak mengenalinya lagi.
Karakter-karakter dalam 15 to Love menurut saya lebih kuat, memberi pengaruh luar biasa pada pembaca. Sedangkan konflik dalam The Reunion lebih dekat dengan pembaca. Apalagi pembaca perempuan. Keduanya menarik dan masing-masing penulis punya ciri khas dalam karya mereka.
But, Riri Sardjono lebih membuat saya jatuh cinta.
Saya membeli buku ini karena pernah membaca karya kedua penulis sebelumnya (Heart Block, Marriagable). Ini sama sekali tanpa membaca keterangan di belakang yang baru setelah selesai membaca, baru sadar ternyata keterangan di belakang begitu galau-puitis dan mungkin bikin bingung calon pembaca karena tidak menggambarkan sama sekali tentang isi buku. Namun dari segi ide cerita, kedua topik sama-sama menarik. Secara singkat, cerita pertama oleh Okke terlalu pendek sementara cerita Riri terlalu panjang. Saking singkatnya, saat telah membaca saat 60% dari buku, saya mengira Okke akan muncul lagi untuk menyelesaikan kisahnya, karena masa sih yang satu pendek banget dan yang satu panjang banget? Sehingga pada akhirnya, kalau dibandingkan,cerita Okke lebih bagus karena membuat penasaran, sementara cerita Riri setelah beberapa saat, terlalu banyak dialog pembahasan tentang konsep cinta, sehingga membuat akhir cerita terasa anti-klimaks karena saking panjangnya. Sedangkan hal yang seharusnya bisa memberikan warna lain yaitu kegiatan para tokoh diberikan keterangan, sehingga terasa penulis ingin menekankan sekali dampak kegiatan tersebut bagi tokohnya. Contoh : hal 173. "Dia berhenti menarik napas dan menikmati dua suap es krim dengan rasa yang lucu. Sepertinya Giwang lupa dengan sesi melaparkan diri." hal 241. "Mata Giwang membelalak sebesar roda traktor saking terkejutnya". Satu lagi kelemahan Riri, adalah terlalu banyak dialog yang hanya lucu kalau dalam bahasa Inggris atau sitcom luar negeri, tapi terasa aneh kalau dibayangkan ini diucapkan oleh orang Indonesia apalagi dalam bentuk karya tulis seperti ini.Terasa palsu. Moga-moga karya selanjutnya bisa lebih baik, karena seperti yang saya sebut di atas, keduanya sama-sama jeli dalam memilih topik seputar percintaan yang menarik dan membumi. Kisah Okke yang ini lebih bagus dari Heartbreak sementara Marriagable lebih bagus dari kisah Rini yang sekarang.
Dapat hadiah novel ini + TTD gara-gara buka aib :D #abaikan . Novel--ralat, dua buah novelet yang digabung jadi satu buku ini ditulis oleh Mbak Okke Sepatumerah sama Tante Riri Sardjono :) .
First, The Reunion by Okke 'Sepatumerah'... Sebuah cerita tentang acara reuni tiga orang sahabat dekat. Kanya, Arlita, dan Ade. Masing-masing punya masalah/hambatan sendiri untuk bereuni. Awalnya baca cerita ini cukup nyaman dan enak. Eits, tapi, ternyata Mbak Okke memakai tiga sudut pandang sekaligus di cerita ini. Membuat ceritanya sedatar landasan pacu di bandara (karena kalau di jalan raya, banyak yang gerunjal-gerunjal) dan agak kurang dapat feel-nya. Apalagi ditambah banyaknya typo yang sebenarnya bisa ditolerir. Tapi, ada satu kesalahan yang entahlah, cukup fatal, mungkin, yaitu kesalahan penulisan nama :D . Buyar deh aliran sungainya :D . Dibandingkan cerita kedua, The Reunion mampu memberikan rasa penasaran tersendiri terhadap jalan ceritanya. Sayangnya, ending-nya terlalu gantung. Bahkan saya berharap Mbak Okke mau melanjutkan ceritanya dari sudut pandang para cowok-cowok :P .
Last, 15 To Love by Riri Sardjono. Capek banget baca ceritanya yang sebenarnya bisa dibuat seringkas Mbak Okke, tapi, hasilnya panjangnya minta ampun. Apalagi, tokoh utama yang disorot cuma 2. Bikin berputar-putar banget, deh. Yeah, walaupun asyik dan bisa tersenyum juga dengan humornya :) . Gaya berceritanya lancar banget, saking lancarnya ya itu tadi, bikin capek. Teruuuuuuuuuuus aja maju. Dari zaman 15 tahun baheula sampai masa kini. Duh, gak ada jeda sama sekali. Malah saya sempat mikir, ini beneran nyeritain hubungan selama 15 tahun?
Overall, ceritanya bagus. Hanya masih agak kecewa aja kenapa harus dua cerita. Kenapa gak satu cerita seperti GagasDuet yang lainnya? Cover-nya juga gak ngejreng seperti yang lain. Tapi, makasih buat bukunya. :)
PS buat Tante Riri: Hubungannya, "Cicak-cicak di dinding" dengan "Happy Reading ya..." Apa ya? :D
sama seperti yang kebanyakan orang bilang: jangan berekpektasi terlalu tinggi. jujur, pas baca buku ini, aku berekspektasi cukup tinggi. maksudnya, karena aku udah pernah baca cerita sebelumnya dari pengarang ini. tapi biar bagaimanapun, aku menghargai banget usaha dari kedua pengarang buat mengangkat realitas ke dalam kertas. hei, itu tidak mudah loh.
cerita yang diangkat oleh okke sepatu merah misalnya, mengangkat cerita tentang reuni tiga sahabat yang jadinya malah 'mengawang', kalau menurut aku itu karena terlalu singkat. at the end, aku pengen banget teriak "ya terus itu si Kanya sama selingkuhannya gimana? ya itu terus si Ade gimana?" terlalu panjang untuk sebuah cerpen, namun terlalu singkat untuk dijadikan novel. karena ibaratnya, klimaksnya belum sampai tapi novelnya sudah habis.
pas balik ke halaman berikutnya dan menemukan kenyataan sudah berganti cerita ke Giwang - Nara, aku cuman mengelus dada dan pengen banget ngambil laptop terus ngelanjutin cerita reunion.
kalau cerita yang kedua tentang persahabatan juga, hanya saja bedanya persahabatan antara dua orang lawan jenis. sedikit mirip sama kisah aku sih *eh. hahahahahah. hanya saja kami hanya memiliki waktu 4tahun, bukan 15 tahun seperti rasa yang dipendam Nara terhadap Giwang. kisah yang manis, dialognya cerdas dan jenaka. namun... bener kata beberapa temen, bacanya capek. karena ada beberapa alur yang gak jelas.
tapi serius, cerita yang kedua manis. mbikin kebayang punya sahabat yang setia tapi nyinyir macam Nara.
over all, bagus dua ceritanya. hanya saja, jangan berekspektasi dulu saat membaca. karena gak sebagus itu juga. walaupun ceritanya mendekati realitas wanita akhir dua puluhan *ambil tisyue*
Buku ini terdiri dari dua cerita, yang keduanya sama sekali tidak berhubungan. Sedikit heran kenapa buku ini nggak masuk dalam rangkaian GagasDuet?
Cerita pertama, bercerita tentang reuni 3 orang perempuan. 1 menjadi ibu rumah tangga dengan 1 anak, 1 menjadi ibu rumah tangga yang juga bekerja dengan 1 anak juga, dan 1 yang terakhir adalah seorang lajang. Diceritakan masalah yang membelit masing-masing tokoh dari sudut mereka satu persatu, hingga akhirnya mereka memutuskan mengadakan reuni. Reuni yg awalnya mereka kira akan seseru spt ketika mereka berkumpul dulu. Tetapi ternyata waktu juga yang menunjukkan bahwa semuanya berubah.
Sebenarnya nggak ada yang salah dengan cerita yang diangkat oleh Okke, tetapi karena beberapa hari sebelumnya aku membaca dengan tema yang sama dengan sudut pandang yang diambilpun sama (masing2 tokoh) rasanya jadi sedikit hambar. -_-"
Cerita kedua, merupakan tulisan dr Riri Sardjono. Menceritakan tentang dua sahabat laki dan perempuan. Dimana pada satu titik si lelaki merasakan bahwa ia jatuh cinta pada sahabatnya. Sedangkan yang perempuan menanggapi setiap ungkapan cinta sahabatnya itu hanya sebagai gurauan. Selama 15 tahun semua itu terjadi, hingga akhirnya waktu membuat mereka memutuskan bagaimana akhirnya hubungan mereka. Cerita ini apik, cukup mengobati kehambaran cerita pertama. Tetapi entah kenapa bacanya serasa nonton sinetron striping yg g ada habis-habisnya. Rasanya panjaaaaang banget dengan konflik tak berkesudahan yg kadang terasa dibuat-buat. -_-"
Time Will Tell by Okke 'Sepatumerah' & Riri Sardjono
di buku ini terbagi 2 novella. yg pertama 'The Reunion'nya mba Okke dan yg kedua '15 to love'nya mba Riri.
The Reunion berkisah tentang 3 orang sahabat yg--rasanya--sudah berteman sejak duduk di bangku kuliah, Kanya, Arlita, dan Ade. Ketiganya masih saling bertemu walau Kanya dan Arlita duluan menikah meninggalkan Ade. Sampai ketika Arlita memiliki anak, hanya Kanya dan Ade yg tetap berhubungan scr intens. Sedangkan arlita-si lebay-sibuk mengurus anaknya, padahal kanya juga sudah memiliki anak. Mereka memutuskan untuk Reuni, namun apakah reuni yg mereka harapkan akan menjadi ajang kangen-kangenan dan bertukar cerita bahagia ini sesuai dg yg mereka harapkan? (sebelumnya saya ingatkan, cerita ini belum selesai. Karena penulis bilang mau menjadikan novella ini mjd 1 novel yg ceritanya dr awal sampai habis)
15 to Love Kalau yg ini ceritanya tentang 2 org sahabat, Giwang dan Nara. Keduanya menjalani persahabatan selama 15 thn sejak masih kuliah sampai umur sdh 30an. Tp nara ngerasain yg beda ke giwang sejak malam tahun baru dan berkali-kali juga nembak giwang dan selalu dianggap bercanda sama giwang. Sampai ketika di umur mereka yg sdh dewasa, mereka bertemu setelah 3 thn terpisah dan mengalami kejadian tak terlupakan di pasar malam bagi keduanya, mampukah keduanya bertahan hanya dg status sbg 'sahabat'? Baca bukunya kalo gitu!
Okay, mungkin pemberian bintang untuk buku ini gak adil, karena saya hanya memberi bintang untuk tulisannya Riri, saya belum membaca tulisan Okke, dan sepertinya tidak akan membaca. Bukan, bukannya saya tidak suka dengan tulisan Okke, sepertinya saya tidak ingat sudah pernah membaca bukunya atau belum, cuma, Riri adalah salah satu penulis indonesia favorit saya. Sejak membaca Marriageable bertahun-tahun lalu, saya sudah jatuh cinta setengah mati pada tulisannya yang ceplas-ceplos, percakapan antar sahabat yang kadang terdengar kejam, dan ceritanya yang witty. Pokoknya buat saya tulisannya Riri itu juara, deh!
Dan kali ini, lagi-lagi Riri membuktikan dirinya bahwa dia memang memiliki semua hak dan sangat layak buat jadi penulis idola saya. Saya selalu suka bagaimana percakapan antar para tokoh dibalut dengan humor yang kering. Semua tokoh2 dalam buku Riri terasa sangat nyata, dan saat saya membacanya saya bisa merasakan mereka come to life. Begitu juga dengan Giwang dan para sahabat-sahabatnya. Sedangkan Nara....ya ampun, Nara..... Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada sahabat yang selalu ada di sana, menunggu selama belasan tahun, hanya agar bisa dilihat sebagai laki-laki, bukan "muhrim" seperti dalam kasus Giwang dan Nara ini.
Buat kalian yang suka dengan cerita yang ringan, manis, tapi gak cheesy apalagi menye-menye, berarti kalian harus baca buku ini! Salut buat Riri!
Yang pertama kali ada di pikiran saya saat menyentuh dan melihat sekilas isi dari novel ini adalah Time Will Tell merupaka GagasDuet yang terbuang :D
Serupa dengan GagasDuet lainnya, terdiri dari dua cerita dari masing-masing penulis. The Reunion milik Okke dan 15 to Love milik Riri Sardjono.
Kita mulai dari The Reunion. Typo berserakan dimana-mana. Yang paling fatal adalah kesalahan dalam peletakan nama tokoh. Seharusnya si A, malah si B. Dalam bagian ini berisi tentang tiga sahabat semasa kuliah yang berencana untuk reuni. Ceritanya cukup okelah. :)
Sedangkan, untuk cerita 15 to Love, saya sangat suka. Sebelumnya saya belum pernah membaca karya Riri Sardjono. Tapi, saya dibuat terpukau di saat pertama kali mengenal karyanya. Berkisah tentang persahabatan antara Giwang dan Nara, yang salah satunya mencintai sahabat sendiri. SAYA SANGAT SUKA DIALOG INTERAKSI ANTAR TOKOHNYA. Dialognya serasa hidup dan setiap kalimat yang terucap bermakna, dan tidak basa-basi. Lelucon-lelucon cerdas bertebaran dimana-mana. Dan juga tampaknya penulis mampu meramu kalimat-kalimatnya menjadi candu bagi pembaca untuk tidak menghentikan membaca hingga akhir. Saya berharap saya bisa membaca karya Riri Sardjono yang lainnya, yang lama maupun yang baru, mungkin. :)
Time will tell adalah novel pertama setelah sekian lamaaaaa saya ilang mood baca novel hardcopy >.<
The Reunion Sejujurnya saya merasa “Eh, udah nih?” atau “Loh, kok?” saat membaca The Reunion. Saking nggak puasnya saya masih membolak-balik halaman lain barangkali saya bisa menemukan kelanjutannya. Why? Nanggung banget Kak Okke endingnya. Ekspektasi saya nggak sesedikit ituuuu…. T_T Tapi apalah, saya sempat berpikir apa saya juga akan seperti itu saat saya bertemu kembali dengan sahabat saya setelah kami beruman tangga yaa.. I mean that house wife thingy…. >_< eh, ya… ada beberapa typo yang sangat saya sayangkan……
15 To Love Saya ini penganut cerita cinta mainstream yang maniiissss… Hahaha~ So far, friendzone adalah lumrah bagi saya… seperti pepatah Jawa, witing tresno jalaran saka kulina.. Eaaa.... Jadi saya cukup menikmati meski saya juga cukup gemas dengan kedua tokohnya… They should be more sensitive… Peka sekitar dong, ah… kayaknya 15 tahun itu cukup lama untuk meyakini bahwa dia adalah jodohmu. Entah.. Haha.. Tapi ya namanya juga pencarian pasangan hidup… Barangkali memang seperti itulah jalannya… Btw, saya agak berharap namanya nggak sefeminim Nara… Hihi~ apalagi dengan polah tingkahnya yang suka blak-blakan…. Ah..
ada dua cerita terpisah di sini. tadinya gue kira emang satu cerita tapi dibikin oleh dua orang. ternyata emang dua cerita yg berbeda. :))
"The Reunion"-nya Okke ceritanya cukup bagus kok. tapi... BANYAK BANGET TYPO-NYAAAA. ini super ganggu ya. yang kurang tanda baca koma/titik, atau perletakkan koma/titik yang salah, kurang satu-dua huruf. bahkan di beberapa kalimat, gue sampai mengernyitkan dahi untuk menemukan kalimat yg dimaksut itu apa dan menambahkan beberapa kata sendiri selama membaca. ini editingnya keburu-buru atau gimana?
gue lebih suka "15 of Love"-nya Riri Sardjono (udah nge-fans sejak Marriagable hahaha, dan berharap si Marriagable ini di-film-in!), pinter banget ngaduk-ngaduk perasaan pembacanya, bikin ga pengen berenti-berenti bacanya lanjut terus sampai selesai. "15 of Love" ini kalo gue bilang mirip banget sama "Perahu Kertas" sih, tapi entah kenapa, gue demen banget yang ini ketimbang si Perahu Kertas.
maybe because I feel I'm more related to Giwang than to Kugy. oh iya, di "15 of Love" ga ada typo yg berarti, cuma satu-dua kurang huruf aja, bisa diabaikan.
Is it one of those Gagas Duets? Because it doesn't look like one yet it really is a duet. Either way, it's such a nice work from both authors.
Okke Sepatumerah, this is our first encounter. At the time I read her part, I could easily drowned into it. People said that the ending was kinda "that's it?", but for me it hung perfectly there--those three women found things neither of them expected to see.
But that's before I read Sardjono's.
I've fallen for her at Marriageable and here she did me all over again. Witty words in the air! I wonder why she didn't develop her "15 to Love" any further and made it into another novel instead of sharing the spotlight like this. You could see that she wrote 2/3 part of the book! She just needed a lot more space to answer all the bad critics people might've said about her writing here. But still, we got minor problems: 1. Sardjono used the same formula of characters she put in Marriageable. 2. Her inconsistency in dialogs--to use formal style or not, not to mix it up.
It's between 3 and 3.5 beacuse it could've been better TWO stand-alone novels. Ergo, I shouldn't say that the duet works.
Cerita dibagi atas dua bagian, Okke dan Riri. Buat yang udah pernah baca tulisan keduanya pasti udah akrab. Sangat feminis dan sinis. Tapi, aku suka.
Okke menghadirkan kisah yang sebenarnya bagus tapi menggantung. Gak banyak yang bisa dikomentari. Kecuali ada beberapa typo dan ending yang menggantung--agak make sense, sih, karena ini emang cerpen. Sementara bagian Riri, ada satu pertanyaan yang menggantung di benak saya: NARA NGAPAIN DI J.CO? JADI KASIR? Antara saya emang lemot atau gimana tapi saya merasa bingung di bagian itu. Riri tetap menghadirkan cerita yang sama seperti di Marriagable: cewek yang sudah 30 something dan memiliki permasalahan dengan cinta padahal pengen banget nikah. Tokoh yang dihadirkan pun gak beda-beda jauh kayak Andre yang persis sama kayak Dina di Marriagable dan Nara yang benar-benar bisa dibandingin sama Vadin. Oh, ya jangan lupa! Mr. Blue dan mantannya Flori di Marriagable (saya lupa namanya).
Intinya: kalau udah baca Marriagable, pasti akan membanding-bandingkan secara refleks. Tapi, saya tetap suka. This is still a great book to read di waktu senggang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
3 bintang. Bukannya ga bagus, tapi ga sesuai dengan selera saya.
The Reunion karya kak Okke 'Sepatu Merah' dengan cerita bertokoh ibu-ibu muda (dari tokohnya aja jelas-jelas ga sesuai dengan saya) menceritakan rencana reuni mereka yang semula adalah sahabat kompak waktu kuliah. Perjalanan mereka untuk reunian ini ga mudah, ada yang ditentang suami, dioceh-ocehin mertua, dan lain sebagainya. Selanjutnya dibaca sendiri deh ;)
NB: Walaupun endingnya ngegantung, tapi saya cukup suka walaupun ga suka-suka banget karena ceritanya kependekan.
15 to Love. Mohon maaf dengan sangat, saya lupa judulnya. Ceritanya mirip-mirip The Last Fairytale-nya kak Yuditha Hardini, tentang sahabat yang pada akhirnya saling suka-sukaan. Ga sama persis sih, endingnya aja beda jauh. Yah lumayan sih ceritanya.
3.5 bintang. Dua-duanya punya ciri khas dan gaya menulis yang asyik. Bagian pertama ditulis oleh Mb Okke, dikisahkan dari 3 sudut pandang berbeda, banyak kalimat yang nampol dan bikin aku sadar, ternyata ada jg orang yg mikir kayak gini selain aku. Masalah yang diangkat dekat banget dengan kehidupan wanita sekaligus bikin aku merenungkan beberapa hal. Bagian Mb Riri nggak kalah menarik. Percakapan Giwang dengan Nara dan teman-temannya asyik banget dan kadang ngakak dibuatnya. Hubungan kedua sahabat ini gemesin banget. Sayangnya pembagian porsi kedua cerita nggak seimbang. Bagian pertama jauh lebih sedikit dibanding cerita bagian kedua. Akibatnya cerita pertama terkesan nanggung, ada masalah yang nggak selesai. Cerita kedua malah kepanjangan dan bikin ceritanya kadang muter-muter di satu titik. Tapi tetap aja sih, novel duet ini menghibur banget
Pertama beli buku ini tuh karena sinosisnya ya. Ngirain ini tuh 1 cerita tapi ditulis berdua. Ternyata ketipu ya. ini ternyata gagasduet. agak aneh krn covernya beda sm tradisi cover-cover gagasduet sblmnya.
jadi di awal ekspektasi saya udah ga terpenuhi. udh berasa zonk. tapi jelas masih penasaran sama seperti apa buku ini.
cerita pertama itu The Reunion, awalnya lumayan menarik, tengah kebelakang ,flat. Bintang pertama itu untk tema persahabatannya.
cerita kedua, 15 to love. i dont know , sebenarnya temanya menarik dan lumayan romantis. Tapi entahlah, flat. Boring. Padahal ceritanya udah smpe 15 tahun tapi kayak ga ada perbedaan. Bintang kedua itu buat karakter Naranya yang aww banget nunggu sampe bertahun-tahun gitu.
Dr dulu suka banget sama Marriagable-nya Riri Sardjono..dan membaca 15 to Love ini bikin inget lagi sama novel itu.Ketawa sendiri dengan sinisme2nya buat pria dan cinta yang bikin bertanya..apa benere qt ga butuh pria?ga butuh cinta?dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa shit happens but life must go on..
salah satu proyek duet gagasmedia, saya cenderung lebih suka dengan cerita dari mba Okke yg berjudul Reunion, menampilkan sisi lain dari 3 tokoh utamanya yang baru terlihat oleh masing-masing tokoh seiring dengan berjalannya waktu yg mereka jalani, sedangkan untuk cerita dari mba Riri sangat manis & alurnya ditulis dengan baik namun seperti tipikal cerita-cerita romantis lainnya
Sumpah dilema banget mau ngasih rantingnya. Gue suka banget cerita Mbak Riri... tapi kurang begitu suka cerita mbak okke.. tapi demi kenyaman bersama jadi 3.5 bintang deh :)
Pssttt... novel udah lama di baca tapi belum dimasukkin ternyata :(