CERITA-CERITA LAMA YANG MENGGUGAH KITA
TARIQ Ramadan tak punya pretensi berlebihan ketika menulis biografi Nabi Muhammad yang kemudian diberi judul The Footsteps of the Prophet. Sejak awal, ia menegaskan bahwa bukunya tidak ditulis untuk menyaingi buku-buku sejarah klasik tentang Nabi seperti yang ditulis Ibnu Ishaq atau Ibnu Hisham. Tariq juga menyatakan bahwa ia tak bermaksud menyediakan ruang yang akan menunjukkan pada kita, yang mungkin berharap, suatu interpretasi baru yang revolusioner tentang sejarah Nabi dan konteksnya.
Tariq lebih melihat The Footsteps of the Prophet sebagai satu upaya untuk mengamati kembali kepribadian Nabi, dan apa yang bisa dipelajari dari situ dalam situasi di zaman ini.
Maka, ketimbang mengunggulkan prestasi-prestasi Nabi yang luar biasa, perang-perang terkenal dalam sejarah perkembangan Islam, atau detail-detail fakta sejarah, The Footsteps of the Prophet lebih menggarisbawahi isu-isu kontroversial di Barat, seperti peran perempuan, perlakuan terhadap orang-orang miskin, hukuman terhadap para kriminal, perang, rasisme, dan relasi dengan agama lain.
Yang terasa bagi saya, Tariq Ramadan mencatat kembali kehidupan Nabi, tapi bukan semata-mata berhenti di situ. Ia berupaya menghadirkannya dalam situasi sosial masyarakat Islam saat ini. Bukunya berusaha mengingatkan kita bahwa isu-isu sosial yang kita hadapi saat ini tidak jauh berbeda dengan isu-isu sosial yang dihadapi Nabi—ia seperti ingin mengatakan, ke sanalah kita semestinya mencari pedoman.
Saya ambil contoh satu isu mengenai relasi Islam dengan agama lain, yaitu hubungan Nabi Muhammad dengan orang-orang non-muslim di masa itu.
Buku ini memulainya dengan cerita di awal kenabian. Waktu itu Mekkah sedang tidak aman bagi orang-orang yang baru saja memeluk Islam. Mereka minoritas yang dikucilkan, disiksa, diteror, bahkan oleh keluarga/ klan mereka sendiri. Ketika dunia terasa semakin sempit bagi para pemeluk agama baru itu, Nabi Muhammad mengutus puluhan pengikutnya untuk mencari suaka, menyeberangi lautan, ke suatu negeri bernama Habasyah―yang menurut para ahli sejarah meliputi wilayah negara Ethiopia saat ini.
Raja negeri Habasyah, Najasyi, bukan lah seorang pemeluk Islam. Raja Najasyi memeluk Nasrani, dan mayoritas rakyat negeri itu mengikuti ajaran Jesus. Tapi Nabi Muhammad percaya bahwa raja negeri itu adalah raja yang memerintah secara adil. Ke sana lah tempat yang aman bagi para minoritas muslim untuk mencari perlindungan.
Dan itulah yang terjadi: Raja Najasyi menerima permintaan suaka para imigran dari Mekkah dan bersedia melindungi mereka semua, meskipun para imigran beragama Islam dan sang raja tidak mengenal Muhammad. Raja Najasyi bahkan menolak permintaan utusan pemimpin Arab yang membawa banyak hadiah dan meminta Raja Najasyi agar bersedia mengembalikan para imigran itu ke Mekkah.
Cerita itu menjadi penanda yang penting mengenai cara bersikap ketika orang muslim hidup bersosial dengan orang-orang non-muslim. Umumnya orang tak mau mengakui secara terbuka bahwa seringkali ada ketegangan di sana. Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah orang-orang non-muslim dengan sengaja selalu berbuat sesuatu untuk menghambat perkembangan Islam. Jawabannya tentu tak cuma satu.
Sebab itu, kita agaknya memang perlu untuk diingatkan bahwa, dari cerita Nabi yang mengutus puluhan pengikutnya untuk mencari suaka ke negeri yang dipimpin oleh seorang non-muslim, prasangka buruk terhadap orang-orang non-muslim bukan jawaban yang dicontohkan Nabi.
Tak ada pendekatan baru terhadap sejarah di sini. Kita ingat para pelindung Nabi di Mekkah. Di kota itu, Nabi Muhammad diberi jaminan perlindungan dari pamannya, seorang non-muslim, Abu Thalib. Tidak lama setelah Abu Thalib meninggal, Nabi keluar dari Mekkah dan menyingkir ke Thaif. Setelah kegagalan menyebarkan Islam di Thaif, Nabi Muhammad berusaha kembali memasuki Mekkah. Tapi tentu saja ia membutuhkan jaminan seorang pemuka klan/ suku. Setelah menghubungi beberapa pemuka klan, seorang pemuka klan non-muslim bernama Mutim akhirnya bersedia menjadi pelindung Nabi Muhammad. Dalam perkembangannya, setelah kematian Mutim, para pemuka Quraisy segera merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad yang sudah tidak berada di bawah perlindungan pemuka klan mana pun.
Harus pula saya tambahkan: dalam pelariannya melintasi gurun menuju ke Madinah, Nabi Muhammad dan Abu Bakar dibantu oleh seorang penunjuk arah, lagi-lagi non-muslim, bernama Abdullah bin Urayqat. Dengan bantuan kemampuan sang penunjuk arah, mereka berdua berhasil melarikan diri dengan mengelabui para pengejarnya.
Tentu, sejarah yang menggugah bukan melulu cerita-cerita yang membuat kita berbahagia. Kita tidak suka penderitaan dan pengorbanan semacam itu terjadi pada Nabi kita―diancam, dihina, diteror, dipaksa meninggalkan tanah air. Tapi yang tragis, mungkin yang paling tragis, adalah ketika kita seakan-akan lupa makna-makna cerita itu. Sementara kita tahu bahwa manusia tidak bisa membangun dunia dari prasangka yang keliru.