Jump to ratings and reviews
Rate this book

[un]affair

Rate this book
Aku diam. Kali ini dengan debar jantung yang mulai bereaksi. Kudekatkan wajahku pada rambutnya, dan aroma ginseng samar yang bercampur aroma pewangi tubuhnya terhirup seakan asap ganja yang masuk ke rongga dada. Melegakan untuk sejenak-duajenak.

Setitik air kemudian kulihat luruh di dahinya. Semula aku mengira itu adalah sisa air hujan di rambutnya. Namun ternyata bukan. Rambutnya telah kering sejak tadi, sehingga kuduga itu pastilah titik keringat yang muncul karena cuaca yang mulai berubah, tak lagi dingin.

Titik air itu bergerak ritmis bagai gerakan titik embun di helai daun. Tak bisa kupungkiri, sekian lama kedua mataku telah memilih kedua matanya, sekian lama sekat-sekat pikiranku memilih bayangannya untuk hadir, sekian lama apa pun yang ada pada dirinya menjadi sesuatu yang penting untukku.

Ini membuat gemuruh di hatiku. Terlebih saat aku mulai melihat begitu jelasnya titik air itu bergerak perlahan menuju bibir kecilnya yang tak sepenuhnya tertutup. Seperti menunjukkan.

Nafasku tertahan...

172 pages, Paperback

First published September 1, 2012

24 people want to read

About the author

Yudhi Herwibowo

44 books61 followers
YUDHI HERWIBOWO ia an Indonesian novelist. He was wrote a many book already, from a kind of genres. Usually he use HIKOZZA for japanese novel that he wrote and YUDHI H. for some comedy novel

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (3%)
4 stars
8 (30%)
3 stars
16 (61%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (3%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
September 29, 2012
Pernahkah kamu bertemu seseorang di suatu tempat umum, secara tak sengaja entah kenapa bayang wajahnya ada terus di pikiranmu. Bukan mengganggu, sampai suatu hari lagi kalian berjumpa di tempat yang lain, lalu kamu semakin penasaran dengan orang itu, mengapa kalian selalu bertemu?

Bajja pernah mengalami perasaan seperti itu terhadap seorang wanita bernama Arra. Pertemuan pertama mereka sebenarnya hanya sambil lalu di sebuah pemberhentian rel kereta, lalu mereka bertemu lagi di kantor Bajja ketika Arra ingin mencetak sebuah buku tulisannya sendiri. Buku yang sangat spesial, sepertinya, sampai Bajja terkadang merasa risih ketika tak sengaja membaca isi di dalamnya. Memang Arra sendiri sudah berpesan agar buku itu jangan dibaca, tapi tentu saja rasa penasaran ditambah keperluan me-layout membuat Bajja sesekali membaca isinya.

Walau menyilaukan
Pada satu matahari aku akan menuju

Ya, sepertinya buku itu memang buku spesial yang dibuat Arra khusus untuk orang terkasihnya. Tetapi ternyata selama proses buku itu di-layout dan dicetak, Arra seperti mengalami masalah dalam hubungannya dengan si kekasih tersebut.

Seringkali Arra datang ke rumah kontrakan Bajja dan tidur nyaman di sofanya. Meski kedatangan Arra tiba-tiba, dengan raut muka duka, dan masih ada sisa air mata, tapi Bajja memilih diam dan membiarkan Arra menikmati waktunya sendiri. Dan itu terjadi berulangkali, saat malam sepi, gerimis menepi.

Perlahan Bajja sadar bahwa ia menyukai Arra. Yah, meski rasa sukanya lebih dari sekadar sahabat biasa, tapi Bajja begitu menghormati Arra. Ia juga tak berani menyatakan perasaannya, secara ya, Arra kan udah suka sama seseorang.

Suatu hari Arra menghilang dari kehidupan Bajja, sebesar apapun rasa rindu di hati, tapi Bajja tak pernah bertemu lagi dengannya. Yang ada malah kehadiran Canta, mantan kekasih Bajja yang mencoba kembali lagi ke kehidupan Bajja.

Adakah Bajja akan kembali ke Canta? Atau ia malah setia menunggu Arra?

Sebuah jalinan cerita yang manis dengan sentuhan kesenduan di setiap halamannya. Pasti asyik dibaca waktu gerimis, waktu senja, atau sekadar menunggu waktu. Jalan ceritanya ringan, meski bahasanya khas Mas Yudhi (puitis-melankolis) membuat segala hal yang sebenarnya biasa menjadi bacaan yang istimewa.

Tokoh Bajja yang sabar, kalem, pemalu disandingkan dengan Arra yang misterius sehingga membuat penasaran pembaca bagaimana akhir kisah mereka.

Satu kutipan yang saya suka,

Kupikir senja menjadi indah bila kita memiliki jeda untuk tak melihatnya.”
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
October 9, 2012
Cinta memang tak mengenal tempat dan waktu untuk berlabuh, dia datang sesuka hatinya kepada siapa pun itu. Di sebuah perlintasan kereta api, Bajja menemukan tambatan hatinya, seorang gadis yang berwajah sendu. Bajja begitu tertarik padanya tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencari tahu lebih, dia melihat gadis itu hanya sepintas tanpa tahu identitasnya. Keberuntungan datang pada Bajja, suatu hari gadis itu datang ke tempat kerja Bajja dengan tujuan ingin membuat sebuah buku dari hasil tulisannya. Bajja tidak membuang kesempatan itu, langsung menyanggupi dan bertanya siapa namanya, Arra. Bajja ingin sekali tahu apa yang ditulis oleh Arra namun takut akan mengganggu privasinya, tapi bagaimana pun Bajja harus tetap membacanya selain dia bertugas mencetak dan 'merapikan'. Kenyataan pahit di dapat, buku itu dibuat untuk kekasih Arra.

"Mungkin terasa berlebihan. Aku sadar, saat itu atau pun sekarang, aku terlalu terbawa perasaan. Semu seakan begitu mudah menggiringku. Hanya sesuatu yang kecil saja, dapat melemparku dalam frame-frame lain yang tak kupahami."

Bajja kecewa, tapi dia tetap menerima Arra ketika gadis itu datang ke rumahnya, duduk di sofa usang dan merenungkan kehidupannya yang tampak dari luar banyak masalah. Bajja hanya bisa memandangnya tanpa bertanya apa yang terjadi. Dia menyediakan tempat untuk Arra, hatinya, rumahnya, sofanya. Kemudian Arra menghilang tanpa kabar, datang kembali, menghilang tanpa kabar lagi, dan terakhir yang sangat membuat Bajja terluka adalah ketika ada undangan pernikahan untuknya dari Arra. Sejak itu, Bajja ingin melupakan Arra, gadis sendu yang telah membuat hatinya kacau. Bajja belajar move on ketika mantan pacarnya datang lagi, Canta. Tapi, rasa yang dulu perneh mereka rasakan kini berubah, bagaimana pun usaha Bajja untuk melupakan Arra tidak pernah berhasil.

Pertama kali baca bukunya mas Yudhi, padahal udah beberapa kali ketemu, ihik, jadi malu. Mungkin sudah banyak yang tahu kalau mas Yudhi ini lebih familier dengan buku-buku bertemakan sejarah atau komedi, dan itu bukan cangkir teh saya, jadi maklum dong kalau saya baca buku romance pertama yang dia tulis #ngeles . Karena belum pernah baca bukunya yang lain, saya belum terbiasa dengan gaya penulisannya. Di buku ini deskripsinya bagus, luas, menggunakan bahasa baku namun tidak kaku. Bakat menulis cerita humor juga dia tuangkan di buku ini, contohnya adalah beli nisan satu gratis satu dan ketika Bajja ketemu Wara, ehm pasti deh langsung bikin senyum-senyum., Bajja jadi ketauan kalau dia punya selera humor. Berbeda kalau ketemu Arra, dia akan menjadi mellow, nggak banyak bicara, cenderung malu. Kalau ketemu Canta, dia bisa menjadi seorang cowok penggombal. Untuk karakter Arra, dia tidak banyak dibicarakan, sangat misterius, yang saya tahu tentang dia adalah pacarnya sering berbuat kasar padanya, seorang penyendiri dan pendiam. Selain kedua karakter utama itu, karakter lainnya tidak dijelaskan secara detail oleh penulis, penulis lebih memusatkan atau mendiskripsikan suasana. Selain karakter tokoh yangntidak dijelaskan dengan detail, settinggnya pun juga, kota sendu, kota yang sering kedatangan hujan.

Minim typo, saya suka covernya, dari ketiga pilihan yang ada di sini saya setuju dengan pengambilan cover sofa ini, sofa adalah saksi kisah cinta Bajja dan Arra, jadi pas. Sayangnya, saya agak terganggu dengan penempatan sepatu merah dan majalah, lebih enak kalau hanya sofa saja, merusak pemandangan. Kemudian saya juga agak terganggu dengan seringnya tanda "!" di akhir kalimat (tanda seru dipake sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidak percayaan, atau rasa emosi yang kuat,sumber) mungkin penulis bermaksut menegaskan, tapi ketika membacanya itu malah membuat saya terganggu. Kemudian, saya tidak terlalu suka dengan endingnya, kasihan Bajja, .

Bagian yang paling mengharukan menurut saya adalah ketika Arra menyobek-nyobek buku yang sudah dibuat Bajja, kemudian Bajja memperbaikinya lagi, mencoba kembali seperti semula. Bajja kebaikan deh sama Arra.

"Aku tahu ini tak salah. Aku hanya seorang manusia diantara bentangan perasaan. Terlalu kecil. Terlalu lemah. Jadi bagaimana bisa aku memilih, bila hati yang kemudian memutuskan? Bagaimana pula aku mengalah, bila otakku yang tak mau menuruti? Toh, untuk saat ini, aku kembali membela diri, aku hanya berpikir tentang kehadirannya di dekatku. Tak lebih dari itu."

Buat yang ingin tahu gimana romantisnya mas Yudhi, baca deh buku romance pertamanya ini

3 sayap untuk wajah sendu di kota sendu


read more: http://kubikelromance.blogspot.com/20...
@peri_hutan
Profile Image for Annisa Anggiana.
283 reviews53 followers
November 23, 2012
“Kenapa sebuah lagu bisa diterima di semua tempat, di semua negara? Musik memang universal, tapi kisah dibalik lagu itulah yang membuatnya semakin diterima. Itu artinya sebuah kejadian seperti dalam lagu itu ternyata terjadi pula di tempat-tempat lain. Jadi seseorang seharusnya tidak perlu terlalu sedih akan sesuatu, karena di tempat lain pun, ada orang yang bersedih karena hal yang sama.”

Aaaakkhh ternyata Yudhi Herwibowo kalo menulis romance baguuuss ^_^ hehe.. Udah ada feeling waktu baca Perjalanan Menuju Cahaya, kayaknya kalo nulis drama atau romance bakalan sedih ceritanya dan ternyata ngga jauh2 tuh.. Hehe.. Because sometimes sad ending does make a story felt more real.. Life ain’t a fairy tale right?

Buku ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Bajja yang memilih untuk berkerja dan tinggal di sebuah kota kecil bernama Kota Sendu. Kota Sendu? Iya.. Sebuah kota kecil dimana hujan selalu datang, dihiasi oleh taman yang dilengkapi dengan bangku-bangku untuk menghabiskan waktu, sebuah toko buku tua di pojokan jalan dan cafe dimana seseorang bisa membunuh malam dengan nyamannya. Akhhh semakin dijelaskan semakin saya ingin terjun masuk ke dalam buku dan tinggal di kota sendu ini.

Kembali ke cerita Bajja.. Huuumm.. Saya punya teori gila kalo sebenarnya setiap manusia hidup di frekuensi jiwa (soul) yang berbeda-beda. Dan bisa menemukan seseorang yang berada di frekuensi jiwa yang sama untuk menjadi sahabat, pasangan hidup atau sekedar rekan kerja adalah anugrah yang luar biasa. Dan biasanya jika kita menemukan seseorang yang berada dalam frekuensi yang sama, semua hal akan bergulir begitu saja seperti memang sudah digariskan, bagaikan potongan puzzle yang akhirnya menjadi masuk akal dan membentuk sebuah gambar yang berarti. Tiba-tiba kita seperti telah mengenal orang tersebut begitu lama, bisa saling memahami tanpa banyak bicara.

Saya rasa itu yang terjadi ketika Bajja dan Arra saling menemukan. Sayangnya Arra sudah memiliki kekasih, walaupun dari apa yang diceritakan, sepertinya orang itu lebih banyak membawa kesedihan daripada kebahagiaan buat Arra.

Pertemuan Arra dan Bajja bisa dihitung oleh jari, namun memang tidak akan butuh lama untuk dua orang dalam frekuensi yang sama untuk saling mengenal, dan prosesnya memang sulit untuk dijelaskan. Terjadi begitu saja.

Di pertemuan terakhir Arra mengabarkan bahwa ia telah dilamar oleh kekasihnya, dan tidak pernah muncul lagi di kehidupan Bajja. Undangan pernikahan datang ke rumahnya tidak lama setelah itu. Kehampaan yang khas ketika seseorang baru saja mengalami perpisahan pun mengisi relung hati pemuda itu.

Sesungguhnya semasa kuliah Bajja memiliki seorang kekasih bernama Canta. Namun ketika lulus karena belum siap dengan rencana apapun mereka menempuh jalan masing-masing.

Siapa sangka kemudian Canta datang ke Kota Sendu. Profesi Canta sebagai dokter memungkinkan dirinya untuk pindah ke kota itu, kota dimana Bajja tinggal. Hari-hari Bajja pun kembali diisi oleh Canta. Namun hidup memang kadang persis seperti panggung sandiwara dimana kita adalah aktornya, namun kita tidak pernah tau skenario apa yang menunggu kita di adegan berikutnya. Sisanya baca sendiri ya! ^_^ hehe..

Hhhhhh.. Jadi pengen tinggal di Kota Sendu..
“Pertemuan itu sebenarnya mudah saja, kita yang membuatnya menjadi rumit.”
224 reviews
September 23, 2012
Bila benar orang bilang yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama itu nyata, pasti Bajja sedang mengalaminya sekarang. Ia jatuh cinta pada gadis yang berpapasan dengannya di palang pemberhentian kereta.

Hanya melihat sekilas saja, tidak berkenalan, tidak pula bertanya-tanya. Begitu saja sudah membuat Bajja tidak berhenti memikirkannya. Beruntung, beberapa hari kemudian gadis itu datang meminta Bajja mengerjakan cover design untuk bukunya. Dari situ Bajja tahu namanya Arra.

Kemudian tidak di sengaja keduanya berjumpa kembali dan Arra jadi sering menunggu kepulangan Bajja di depan rumah kontrakannya. Arra datang tanpa pemberitahuan dan tidak bisa di prediksi. Keduanya punya hubungan pertemanan yang aneh. Itu pun kalau bisa di sebut teman. Mungkin tepatnya teman dalam tanda kutip karena Bajja punya perasaan khusus pada Arra.

Mereka tidak banyak mengobrol. Biasanya Arra datang saat ada masalah kemudian duduk di sofa buluk milik Bajja dan tertidur disana lalu pulang sebelum Bajja bangun. Bajja sungkan bertanya dan Arra pun tidak bercerita. Aneh kan? Tapi entah kenapa saat baca itu rasanya nyaman dan normal-normal aja.

[un]affair ini ditulis dengan gaya bahasa yang indah, cenderung nyastra menurut saya tapi tetep ringan dibaca. Mungkin sedikit oldies karena ada penggunaan kata 'engkau' tapi menurut saya konsisten dan cocok-cocok aja dengan keseluruhan suasana dan gaya bicara karakternya.

Penulis pintar sekali membangun suasana sendu. Ungkapan-ungkapan sendu Bajja mengenai kotanya, betapa ia suka hujan, betapa rindunya ia pada Arra. Setiap kalimatnya sanggup menangkap suasana para karakter. Bajja yang cenderung melankolis dan Arra yang batinnya terluka, sweet.

.................. (panjang lanjutannya)

Selengkapnya di http://sinopsisuntukmu.blogspot.com/2...
Profile Image for Nike Andaru.
1,645 reviews111 followers
October 6, 2012
sebenernya ada banyak hal yang bikin saya geram, salah satunya endingnya. gimana nasib si bajja? harusnya mas yudhi membuat ceritanya menjadi sudah, tentang bagaimana bajja selanjutnya.

jujur saja, buku ini tidak terlalu menarik buat saya, cerita bajja yang bertemu dengan seorang perempuan penuh misteri seperti arra, memang biasa tapi.... saya lanjut pengen tahu akhir ceritanya, hingga saya membaca buku ini hanya dalam waktu kurang dari 3 jam saja. saya benar-benar dibuat penasaran hingga akhir cerita ini saya tuntaskan, apalagi setelah kembalinya canta dan kemisteriusan arra.

untuk cover, sebenernya bagus aja sih sofanya, cuma kurang keliatan buluk aja sih :-) dan sepatu merah juga majalah itu agak mengganggu kayaknya.
Profile Image for Truly.
2,766 reviews13 followers
September 13, 2012

Cintaku,
Tertawa melihat fotomu di sana. Tersenyum membaca komentar para sahabat, kenapa bukan aku yang ada di sebelahmu. Cutimu kali ini memang dihabiskan dengan cara yang unik, jalan-jalan mencari ilham untuk buku selanjutnya. Artinya aku bukan "Teman Seperjalanan" yang cocok untukmu. Berbesar hati. Susah juga menjelaskan bahwa bagaimana juga aku dan dirimu memiliki kehidupan pribadi yang harus dijalani sendiri-sendiri. Apa artinya berpisah sekian putaran waktu dibandingkan seluruh sisa kehidupan kita kelak.

------
------
------

https://www.facebook.com/notes/truly-...
Profile Image for Siti Nurkayatun.
22 reviews3 followers
May 16, 2017
Kagak perlu mikir berat, enak buat hiburan, tapi bikin baper. Dan satu lagi, bisa belajar nulis deskripsi dari sini.
Profile Image for owleeya.
307 reviews100 followers
June 8, 2013
Dibuka dengan tokoh utama yang mengalami kesialan di hari itu; ban motor bocor, hujan turun deras, dan... adanya undangan yang menantinya di rumah.


Di Kota Sendu, cinta tak seharusnya datang.


Bajja, dengan dua j, bekerja di bagian desain di sebuah perusahaan percetakan. Dia sering berpapasan dengan seorang gadis berambut panjang di rel kereta api. Gadis itu berjalan ke arah datangnya Bajja, begitu juga sebaliknya.

Maka, betapa kagetnya dia ketika menemukan gadis itu ada di kantornya. Arra, dengan dua r, namanya. Dia ingin mencetak sebuah buku untuk seseorang yang teramat penting dan spesial baginya. Kekasihnya. Tentu saja Bajja tahu itu, siapa yang tidak mau repot-repot mencetak satu buku dengan harga yang tidak murah kalau bukan untuk orang tercinta?

Mereka tidak begitu mengenal, hanya pernah berjalan bersama sekali setelah tidak sengaja bertemu di kafe; itu juga karena Bajja bersikeras mengantar Arra pulang karena sudah malam. Perjalanan mereka berdua memang lebih banyak diisi keheningan dibandingkan suara, tapi itu sudah cukup bagi Bajja untuk terus mengingatnya.

Sampai suatu malam Arra meneleponnya, mengatakan uangnya habis dan sepatunya membuat kakinya terluka. Dia akan datang ke rumah Bajja.

Arra tertidur di sofa rumah Bajja. Tidurnya terlihat lelap, dan dengan memandangi Arra seperti itu, Bajja bertanya-tanya; apa yang dia rasakan?


Entah mengapa, hanya menatap dirinya saja, sanggup membuat jantungku lebih berdegup.


Selanjutnya Arra selalu datang ke rumahnya dalam waktu yang bisa ditebak. Bisa keesokan harinya, lusa, atau bahkan berminggu-minggu. Tapi Bajja membiarkannya, meskipun pertanyaan-pertanyaannya menggantung di udara ketika mereka duduk berhadapan; Arra di sofa yang bisa membuatnya tertidur, Bajja di seberangnya.

Kenapa Arra melakukan ini? Bukankah dia sudah memiliki kekasih? Di mana kekasihnya? Apakah Arra juga memiliki perasaan khusus untuk Bajja?

------

Sudah lama buku ini ada di dalam wish-list saya. Beberapa hari (atau minggu?) yang lalu, saya melihat tweet Yudhi Herwibowo yang menawarkan kedua bukunya ([un]affair dan satu lagi saya lupa judulnya) secara gratis dengan syarat untuk di-review. Tentu saja saya tidak mau melewatkan kesempatan ini, saya membalas tweet beliau dan memberikan link blog ini. :)

Dari halaman pertama, bisa dibilang saya sudah jatuh cinta dengan Kota Sendu; kota kecil yang pastinya terlihat cantik bila hujan. Mau tak mau saya membayangkan jalanan di kota itu seperti di jalan Braga.

Saya juga jatuh cinta dengan cara penulis bertutur, menceritakan kisah tentang Bajja dan Arra, suasana di Kota Sendu, perasaan dan apa yang dipikirkan Bajja...


Aku tiba-tiba seperti telah memasuki sebuah ruangan kosong yang telah lama tak lagi kudatangi.Sebuah ruangan sepi yang dipenuhi dengan bayang-bayang tentangnya. Sebuah ruangan sepi yang seakan memutar semua kejadian-kejadian tentangnya. Sebuah ruangan sepi yang juga memantulkan echo-echo suaranya yang tak berkesudahan...


Twist yang diberikan di akhir buku juga cukup untuk membuat saya kaget, bahkan melotot memandangi tulisan-tulisan itu, berharap mata minus ini menipu saya dan saya hanya harus mengerjapkan mata untuk bisa membaca yang sebenarnya. Sayangnya, berapa kali pun saya mengedip-ngedipkan mata (dan menggosok kacamata), tetap saja tulisannya tidak berubah. Berarti mata saya memang tidak menipu.

Oh ya, saya sebenarnya kurang sreg dengan penggunaan kata engkau yang sering digunakan Arra dan Bajja. Oke, percakapan antara tokoh-tokoh memang menggunakan kata formal, tapi, ayolah. Kenapa tidak menggunakan kau saja?

Lalu, saya baru tahu ini novel roman penulis yang pertama. Hahaha, overall, saya memang suka buku ini, yang habis dibaca dalam waktu kurang lebih 4 jam. Saya mau coba novel Yudhi Herwibowo yang lain, deh. ^^

3.5/5
Profile Image for Sutar Djohar.
20 reviews1 follower
March 23, 2013
[un]affair, Kekasihku dan Rumah Impian

Kekasih hatiku, semenjak bertemu dirimu, kini perubahan besar telah terjadi dan sedang berjalan, saat sebuah komitmen dibangun bersama, tatkala asmaradahana melanda. Sebuah rencana luhur untuk dapat mewujudkan cita-cita sebuah rumah mungil dengan disain dan asesoris sesuai dengan keinginan kita.

Penuh percaya diri bahwasanya kita dapat bersatu dengan segala perbedaan yang ada, dan kita nyaman tanpa ada prahara. Komitmen yang terbangun bersama, bahwa kehidupan yang nyata dijalani dengan tulus ikhlas cinta dan kasih kita. Dasar dari Ketulusan tanpa memandang semua perbedaan, bahkan perbedaan itu menjadi sebuah sinergi, saling melengkapi.

Kekasih pujaan jiwaku, engkau telah berusaha keras dan pintar untuk dapat memahami komitmen itu, walau dirimu harus mengubah kebiasaan yang selama ini dijalani, serta engkau mengorbankan ego untuk dapat selaras dan nyaman untuk cita-cita luhur itu.

Sebuah novel fiksi karya mas Yudhi Herwibowo, menuangkan kisah romansa seorang lelaki yang melihat cinta kasih dengan caranya sendiri. Serta merenung untuk dapat memaknai dan memahami cinta.

Cintaku terpaut di kota ini, sesaat setelah melihat sosok perempuan yang membuat terpesona, walau tak dapat aku katakan, kusadari cinta itu memang unik dan tidak dapat di telaah dengan logika, Cinta adalah anugerah dari sang pencipta yang tak dapat ditolak atau di ingkari.

Salah satu tanda cinta adalah saat jantung berdebar dan berdegub kencang saat melihat seorang wanita yang menjadi pujaan jiwanya.
Tak dapat dipungkiri setiap orang dapat jatuh cinta kapan saja, sebab cinta datang dan pergi seperti angin, tak dapat dikendalikan atau direkayasa.

Seperti alam mengajarkan kepada diri kita bahwa semua terdapat keseimbangan di mana selalu berpasangan, dan semua itu hanya ada sekat tipis yang membatasi. Ketika anugerah yang diberikan tidak di ambil maka anugerah itu kan hilang tuk selamanya.

Saat anugerah itu diterima dengan narimo lan legowo akan menjadikan sebuah makna yang sangat mendasar bahwa pada dasarnya manusia hanya dapat menerima anugerah itu tanpa mesti berhitung dan merasa kurang.

Makna cinta yang dapat diterjemahkan dengan berbagai cara, dan ketika seseorang mencintai maka ia kan ikhlas menerima, dengan rasa, kadang silih berganti, dari rasa kesal, sayang , kangen dan sejenisnya.

Mencintai seseorang merupakan saat terindah yang dapat di rasakan dan dikenang hingga akhir hayat nanti.

Kehidupan merupakan proses dan proses itu menghasilkan sebuah makna dan arti bagi yang menjalani serta yang dapat mengambil makna positif buat hidup kini dan kelak nanti.

Kekasih pujaan jiwaku, ada kegalauan di hatimu, saat engkau mendapati apa yang sedang terjadi terhadap satu-satunya harapan hidupmu, namun rasa itu benar adanya jika kekhawatiran orang tua adalah saat ia mesti mengalami hari tua tanpa siapa-siapa, namun perlu engkau ketahui kekasih hatiku, bahwa cinta tulusmu, telah engkau torehkan semenjak saat kita saling menyayangi, itu lebih dari segalanya, sebab ada pepatah, kasih sayang seorang ibu sepanjang jalan(masa) namun kasih sayang anak sepanjang galah.

Pepatah itu sudah menimpaku kekasih hatiku, namun aku mencoba untuk Ikhlas dalam arti sesungguhnya ikhlas bukan hanya sebatas ucapan namun aku terima dengan segenap jiwaku.

Dan harapan ku semoga kekasih hatiku kan dapat menelaah apa yang sedang menimpa mu, suatu saat dapat memahami apa yang terbaik di belakang hari, hingga hidup ini Lilo lan legowo.

Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
July 22, 2016
"Aku tahu ini tak salah. Aku hanya seorang manusia di antara bentangan perasaan. Terlalu kecil. Terlalu lemah. Jadi bagaimana bisa aku memilih, bila hati yang kemudian memutuskan? Bagaimana pula aku mengelak, bila otakku tak mau menuruti? Toh, untuk saat ini, aku kembali membela diri, aku hanya berpikir tentang kehadirannya di dekatku. Tak lebih dari itu."

Seorang lelaki bernama Bajja. Sebuah kota yang sendu. Sebuah pertemuan singkat tanpa kata di palang pemberhentian kereta - di sanalah Bajja melihat sosok seorang perempuan yang menarik perhatiannya. Pertemuan singkat itu tentu saja dapat mudah terlupakan, karena keduanya sama sekali tak bertukar sapa. Tetapi apa daya jika takdir mempertemukan Bajja kembali dengan perempuan itu di kantornya. Perempuan itu bernama Arra; datang ke kantor percetakan tempat Bajja bekerja untuk membuat sebuah buku yang akan dijadikan hadiah untuk kekasihnya. Pertemuannya kembali dengan Arra, membuat Bajja tidak bisa lagi melupakan perempuan itu....

Baca review selengkapnya di:
http://thebookielooker.blogspot.com/2...
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.