Setelah Majapahit runtuh pada 1527. Jawa kacau balau dan bermandi darah. Kekuasaan tak berpusat, tersebar praktis di seluruh kadipaten, kabupaten, bahkan desa. Perang terus-menerus menjadi untuk memperebutkan penguasa tunggal. Permata-permata kesenian, baik dibidang sastra, musik, dan arsitektur tidak lagi ditemukan. Selama hampir satu abad jawa di kungkung oleh pemerintah teror, yang berpolakan tujuan menghalalkan cara.
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, the New Order regime of Suharto, he faced extrajudicial punishment. During the many years in which he suffered imprisonment and house arrest, he became a cause célèbre for advocates of freedom of expression and human rights.
Bibliography: * Kranji-Bekasi Jatuh (1947) * Perburuan (The Fugitive) (1950) * Keluarga Gerilya (1950) * Bukan Pasarmalam (1951) * Cerita dari Blora (1952) * Gulat di Jakarta (1953) * Korupsi (Corruption) (1954) * Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954) * Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957) * Hoakiau di Indonesia (1960) * Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962) * The Buru Quartet o Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980) o Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980) o Jejak Langkah (Footsteps) (1985) o Rumah Kaca (House of Glass) (1988) * Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982) * Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995) * Arus Balik (1995) * Arok Dedes (1999) * Mangir (1999) * Larasati (2000)
Kesalahan besar ketika pertama baca buku ini adalah langsung maen sikat aja pada Babak Pertama (big mistakes). Pas tengah2 ada perasaan tersesat dan tambah bingung aja. Nyaris gak punya deskripsi dan latar belakang cerita yang menyeluruh. Ternyata buku ini termasuk jenis yang harus dibaca mulai dari prakata penyunting dan tentu saja dari pengarang. Baru terang benderang deh. Ai-ai-ai Bacanya tengah malem di RS sambil nungguin adikku yang lage mengerang kesakitan pasca operasi (cengeng)
Ceritanya dimulai ketika raja Mataram, Panembahan Senapati yang ingin meluaskan kerajaannya tetapi mendapat perlawanan keras dari penduduk perdikan/desa Mangir yang dipimpin oleh Wanabaya dan Baru Klinting. Panembahan Senapati lalu mengirim anak perempuannya, Pembayun yang menyamar menjadi seorang penari untuk merayu Wanabaya. Kecantikannya digambarkan sbb... "Waranggana masyhur, lenggangnya membelah bumi, lenggoknya menyesak dada, senyumnya menawan hati, tariannya menggemaskan, sekarang tingkahnya bikin susah semua orang." Ai-ai-ai. Wanabaya yang mabuk kepayang tidak menghiraukan peringatan Baru Klinting dan tetua desa yang menaruh curiga pada Pembayun dan rombongan penari. Laki2 emang gitu sih kalo lagi mabuk kepayang (been there! done that! Heeh!) Jebakan licik Tumenggung Mandraka (penasehat Senapati) berhasil mengundang Wanabaya mendatangi Mataram bersama Pembayun. Karakter Mandraka digambarkan sangat culas dan menghalalkan segala cara termasuk menyarankan Panembahan Senapati untuk membunuh menantunya sendiri. "Yang tak berdarah mati. Yang kekurangan darah lemah. Hanya yang berlumuran darah saja perkasa. Ada adinda dengar? Perkasa! Dan hanya si lemah berkubang dalam air matanya sendiri." Ai-ai-ai
Yang bikin nyelekit dari buku ini adalah ketika membaca bagian ucapan terima kasih... disini tertulis... Dengan ucapan terima kasih kepada Gereja Katolik Namlea, Buru, dan Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat, yang menyelamatkan karya ini. Ternyata diperlukan campur tangan "orang luar" agar karya ini bisa dinikmati oleh rekan sebangsa dan setanah air Pramoedya Ananta Toer! Ai-ai-ai
Inilah sejarah, disulami dengan darah dan airmata.
Bukan kisah dongeng, yang bisa diakhiri dengan kepuasan dan kegembiraan.
Ini adalah salah satu kisah zaman pemerintahan kerajaan Mataram di abad ke 16. Kisah yang tidak ditulis dalam Babad Tanah Jawi, tetapi dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi oleh masyarakat di Jawa Tengah.
Kisah si Raja Mataram yang ingin menjadi kuasa tunggal. Berkali-kali Mangir diserang namun masih belum berjaya dikalahkan. Lalu dihantar puterinya untuk menggoda si panglima.
Wanabaya terpikat dengan kejelitaan Adisaroh sehingga tidak menghiraukan nasihat para demang. Adisaroh dinikahi dan mereka hidup penuh kecintaan.
Rupanya ada janji yang sering dituntut. Putri Pambayun harus membawa suaminya mengadap si bapa kononnya untuk mendapat restu.
Akhirnya Senapati berjaya mendapatkan Mangir, walaupun yang dikorbankan adalah darah dagingnya sendiri.
Sewaktu dulu di Bandung saya suka nonton teater. Cerita dalam buku ini juga pernah dipentaskan.
Sambil ngelantur saya ingin cerita perbandingan kualitas berteater di antara tiga kampus: UPI (jaman saya IKIP), ITB dan Unpad. Penyebutan dipilih begitu karena saya sedang membayangkan Lembang dan turun ke bawah. hehehe Saya mengesampingkan STSI karena itu memang kerjaannya. Jadi, daripada yang ketiga itu kalah duluan mending saya sisihkan saja STSI dalam lomba penilaian saya. Kampus lain tidak masuk karena saya gak tau hehehe so this fully personal preference lah ya!
Kalau saya memilih berdasarkan ketinggian kualitas....maka saya akan memilih dengan urutan: Unpad, ITB, dan UPI (selanjutnya saya sebut IKIP biar lebih sesuai jaman aja sama cerita saya).
Kenapa?
Begini ceritanya...(auuuuu!!! back sound anjing melolong tapi di layar wajah Caroline Zachrie ala cerita misteri yang pernah tayang di tv swasta).
Peringkat pertama. Pernah satu kali saya melihat anak GSSTF manggung di Aula Graha Sanusi Unpad Dipati Ukur. Lakon yang dimainkan kayaknya lakon dari Yunani. Wah berat euy! Masuk dengan tiket 5 rebu. Duduk cari posisi mantap. PERTUNJUKAN MULAI. 15 menit dahi saya mulai berkerut mencoba menerka jalan cerita. 30 Menit mulai muncul pertanyaan eksistensialis, kenapa saya ada di sini? kenapa saya tadi menolak ajakan seorang teman? Lewat 40 menit saya akhirnya menonton penonton lain yang juga gelisah. Atau ucapan tidak berpura-pura dari seorang penonton penyelundup, "hehehe gue berhasil nyelonong donk! yang jaga pintu gak ada!" hehehe (jadi inget jaman nonton bola waktu kecil, tukang terobos gerbang). hahaha Akhirnya sampai selesai saya cuma bisa bilang, saya memang harus banyak belajar mengapresiasi teater. Serta sebaris saran untuk teman-teman GSSTF untuk juga belajar banyak olah vokal sebelum pentas, apalagi mementaskan naskah berat kayak itu. Sepanjang pentas banyak suara pitch tinggi gak jelas hehehe Untung si pemain dengan pitch tinggi gak bergabung dengan anak GSSTF yang bermain keroncong, "Rindu Order". Bisa jadi keroncong heavy metal tuh! Ato kalo bagus keroncong ala Seriues hehehe
Peringkat dua, teater ITB pentas di CCF Purnawarman Bandung dengan lakon "Mangir". Awal hingga pertengahan pertunjukan saya berpikir betapa Ki Ageng Mangir adalah sosok independen menjelang tumbuh kembangnya Mataram. Toh menjadi independen di tengah berdirinya sebuah negara besar tidak lah mudah, kejelian diperlukan. Ketika kejelian itu sirna barang sebentar, maka taruhannya adalah punah oleh taktik negara lain yang tak menginginkan independensi di dekat wilayahnya. Belum sampai habis...pikiran susah diajak konsentrasi, kok malah inget sama Ludruk ITB yah...lebih ringan dan menghibur, yang ini keberatan ah! Gimana atuh nafas saya yang mulai malas untuk diajak teratur. Aduh, kenapa bait lagu Obie Mesakh yang "resah dan gelisah" seperti menyihir saya? Kan di sekitar saya tidak ada "semut merah yang berbaris di dinding"? Bukan kutukan Ki Ageng Mangir kan? Emang Ki Ageng Mangir kenal Obie Mesakh? hehehe sempurnalah ngelanturnya saya! Cape saya, tapi yah itu cuma menjelang detik akhir karena imajinasi saya ditabrak oleh kelucuan rekan-rekan Ludruk ITB yang saya nantikan pementasannya...kandas juga kekhusuan saya!
Peringkat paling buncit. Saya bersama dua orang teman melihat ada iklan acara sepekan teater di IKIP Bandung. Datanglah kami ke sana, dua orang langsung dari Jatinangor sementara satu orang sudah siap menyediakan kamar kosnya di Ledeng untuk akomodasi. Sampai di kampus Pak Saini K.M. itu yang kami temui hanya sepi-sepi saja. Pentas apa ini? "Mengeja Kesunyian"? Bertemu dengan beberapa orang di sebuah ruang UKM kami bertanya dimana pentas berlangsung. Jawabannya, "wah mas, maaf itu ada kesalahan tanggal di iklan yang muncul di koran Republika. seharusnya acaranya tanggal yang sama tapi di bulan depan" HUAAAA!!! Perjalanan turun dan naik gunung gagal membuahkan tontonan menarik. Toh akhirnya kami ganti dengan obrolan menarik saja dengan penggiat teater di IKIP.
Namun dengan semangat yang tak redup, di tanggal yang sama di bulan depannya saya kembali datang ke kampus IKIP. Dua lakon yang saya tonton. Sebuah monolog Putu Wijaya dan satu lakon yang saya lupa. Monolog Putu Wijaya dimainkan dengan bagus oleh Pemain Tunggalnya. Berganti karakter dengan olah vokal yang bikin saya ngiri, dan bergumam, "WAH KEYYYEEEN!!!" Belum lagi iringan lagu "shade of pale" yang dimainkan dengan instrumen gitar akustik dan flute beserta sayatan biola menjadikan akhir ironis dari lakon itu semakin lengkap. Saya pun pulang dengan oleh-oleh senyum puas. Perjalanan Jatinangor-Ledeng-Jatinangor malam ini tidak sia-sia.
Begitulah penilaian saya akan kualitas berteater beberapa kampus di Bandung. Oh iya, kriteria penilaian saya di sini seperti yang saya ungkapkan di atas adalah berdasarlan ketinggian kualitas untuk DIKRITIK hehehe
Jadi dari pengalaman sekali-sekali itu, yang paling pantas dikritik urutannya adalah GSSTF Unpad, Teater ITB, dan teater IKIP Bandung hehehe
Begitu deh ngelanturan saya soal pertunjukan teater yang diingatkan oleh buku ini...pengalaman nonton teater di kampus yang tidak khusus berteater. Beda sama anak STSI atuh yah...kalo di kampus ini sudah jelas kesenimanannya. Sampe perlu ada plang pengumuman, "HORMATILAH ALMAMATER DENGAN BERPAKAIAN RAPIH" hehehe salut untuk para seniman dan yang mencoba berkesenimanan.
Kepada rekan-rekan yang pementasannya merasa saya tonton mohon maaf kalau penilaian saya jauh dari kritikus seni beneran. wong kampus saya jauh di nDeso sana...di negeri Djatinangor Darussalam. Terimakasih atas pertunjukan dan pembelajarannya!
NB: Ucapan penutupnya lupa, biar afdol kayak Anugerah Music di negeri jiran hari lampau.
Saye mengucap "hatur tenkyu buat rekan seperjalanan yang pernah hadir menemani di pementasan di atas. Yang sanggup ketawa bareng meski apes dan tetap berusaha menikmati kesenian: Beq, Ali, Barudak Datim 31, Cici, Intan 97, Early 97, Barudak Dago Pojok yang tawarannya meluluhkan penjaga karcis di STSI. Ibu-Bapak Foundation yang menyediakan beasiswa buat anaknya tercinta, dan tidak lupa Gusti Alloh SWT yang memberikan keamanan buat saya saat pulang malam dan mempertemukan dengan bapak supir angkot yang baik..I love you fullllll HAHAHAHAHA
dalam buku ini PAT menerbitkan versi lain dari kisah mangir, yang berbeda dari kisah yang sudah lama dikenal di daerah surakarta-yogyakarta di panggung ketoprak maupun dongeng waktu senggang. kisah ini sendiri sudah pernah muncul dalam berbagai versi. pemerintah belanda dulu pernah melarang versi yang 'di luar' versi resmi karena tidak ingin menyinggung perasaan keluarga kraton dinasti mataram [yakni surakarta dan yogyakarta]. versi 'yang lain' itu rupanya dimunculkan lagi oleh PAT di sini: yakni versi yang bercerita bahwa maraknya dinasti mataram itu tidak berjalan mulus, tapi berdarah-darah. salah satu yang melawan nafsu dominasi dari penguasa mataram [panembahan senapati] adalah penguasa desa mangir wanabaya. dalam kisah versi PAT inilah kita disadarkan betapa sejarah telah menjadi alat lagitimasi kekuasaan dominan.
sejarah selalu dibikin oleh pemenang. meski pun ia menang dengan berlumuran darah...
Buku kedua Pram yang aku baca setelah Bukan Pasarmalam. Awal baca pusing karena formatnya naskah drama dan bahasanya banyak bikin mengernyitkan dahi (kayaknya memang aku yang kekurangan kosakata aja sih). Tapi semakin kesana, terutama setelah Wanabaya muncul bersama Putri Pambayun, ceritanya semakin seru dan gaya bahasanya yang mewah enggak menghalangi keseruannya. Oh ya, disarankan banget baca pengantarnya dulu sebelum langsung baca babak pertama, kayaknya aku bakal makin bingung kalau ngelewatin pengantarnya :)
Jadi inget dulu waktu kecil suka ikut-ikutan bapak nonton wayang orang di tivi (mungkin drama ini pernah dimainkan juga), padahal enggak ngerti :D
ditulis menggunakan format naskah drama dengan bahasa yang apik👍 buku ini mengisahkan bagaimana keagungan tahta kerajaan dipertahankan dengan penuh darah. panembahan senapati yang berambisi menaklukan desa mangir bersiasat mengirimkan putri pambayun untuk menggoda wanabaya (ki ageng mangir). wanabaya si bucin tolol yg terpikat kecantikan putri pambayun pun masuk ke perangkap. di masa kehamilannya, putri pambayun diminta untuk berkunjung ke kerajaan mataram bersama dengan wanabaya. sesampainya di sana, wanabaya dijebak dan akhirnya dibunuh.
suka bangetttt gambaran feodalism jawa machiavellisme nya juga kerasa bangettt
feel free to judge me but mandaraka is my fav character lol
Kebiasaanku membaca kata pengantar sebelum membaca isinya ternyata sangat berguna untuk membaca buku ini. Karena tanpa membaca kata pengantarnya... percaya deh cerita ini bisa membingungkan, cara berceritanya lain dari novel biasanya,yakni menggunakan cara pentas panggung, tidak ada narasi selain dialog, jadi agak susah mencerna cerita utuhnya.
Cerita ini berkisah tentang Mataram setelah kejatuhan kerajaan Majapahit tahun 1527. Banyak bekas wilayah Majapahit bangkit dan memisahkan diri sehingga terjadi kekacauan. Salah satunya Mataram di bawah Panembahan Senapati, putra ki Ageng Pamanahan seorang ahli perang, tokoh pendiri Mataram. Panembahan Senapati berkeinginan menjadi penguasa tunggal di Mataram, dia menaklukan desa/perdikan disekitarnya, salah satunya yg mengadakan perlawanan adalah Perdikan (daerah otonomi) Mangir di bawah kepemimpinan Ki Ageng Mangir Wanabaya, pemuda gagah berusia 23 tahun. Wanabaya di bantu oleh Baru Klinting dan para pemuka desa melakukan perlawanan sengit yang merepotkan Mataram. Panembahan Senapati bersama Tumenggung Mandrakara penasihat perangnya, mengubah taktik dengan memanfaatkan putri Pembayun, putri sulung panembahan Senapati yang cantik menawan, ia menyamar sebagai penari tandak untuk menggoda Wanabaya. Wanabaya terjebak rayuan sang putri dan menikahinya. Akhirnya dengan tipu muslihat Wanabaya terbunuh dengan cara mengenaskan.. Lho kok spoiler diceritain Wanabaya meninggal...bisa iya bisa tidak, soalnya sejak dari narasi di kata pemgantarnya sudah dikatakan bahwa Ki Ageng Mangir Wanabaya ini gugur berikut bagaimana cara dia menemui ajalnya. jadi pembaca sudah mengetahui dari awal bahwa kematian Wanabaya akan terjadi. Walapun ternyata ada kejutan juga karena cara meninggalnya tidak sama dengan yang diceritakan di awal. Jadi apa yg menarik? Sila baca sendiri...:)
Semula aku kurang yakin akan bisa lancar membaca buku ini, karena gaya bercerita yang berupa dialog panggung, minim narasi dan tidak ada pennggambaran suasana dan aura secara detail, semuanya harus kita rasakan dan bayangkan dari kuatnya bahasa dialog. Mungkin disinilah kekuatan Pram,walaupun tidak memakai bahasa kekinian tapi aku dapat menangkap maksud cerita dan membayangkan suasananya. Aku menyukainya atau mungkin juga karena sebagai penyuka sejarah jadi bidsa menikmatinya, di sini aku mendapatkan pencerahan baru dari sejarah yang pernah diajarkan di sekolah. Ternyata aku bisa menikmatinya.
"Bila berbahagia ingatlah pada maut yang semakin dekat. Bila hadapi mati hendaknya orang menghitung semua kebahagiaan yang sudah terlewati." ( hal. 51).
Saat berkunjung ke situs watu Gilang di Kota Gede tahun 2003, saya baru mendengar legenda tentang Ki Ageng Mangir ini. Kaget juga mendengar kisah tragis dari era awal Mataram tahun 1500an ini. Konon, watu gilang adalah batu yang digunakan Panembahan Senopati untuk membenturkan kepala menantunya, Ki Ageng Mangir hingga tewas. Ketika itu menantunya sedang dalam posisi bersujud mencium kaki sang mertua yang tengah duduk di atas batu.
Lebih kaget lagi liat makam Ki Ageng Manggir yang diposisikan agak unik. Makamnya dibelah tembok, bagian perut sampai kaki berada dii dalam benteng sebagai lambang dia adalah anggota trah Raja Mataram, sementara badan dan kepalanya di luar sebagai lambang dia seorang pengkhianat. Membaca drama Manggir ini saya seperti mendapat titik terang tentang kemana harus berposisi dalam memandang konflik rumit yang hampir hampir menjadi mitos dalam sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam ini. Kekuasaan begitu rupa menggoda hingga anak cucu pun jadi tumbalnya.
Awal kekuasaan Mataram Islam diraih dengan pertumpahan darah, intrik politik, dan pergiliran kekuasaan. Peristiwa Pembunuhan Raden Rangga oleh ayahnya sendiri, Panembahan Senopati, juga menjadi bagian dari sejarah berdarah Mataram. Nama ini begitu dekat karena nama sang pangeran dijadikan nama lapangan utama di Kecamatan Kalasan. Gusti Pembayun juga merupakan putri sulung Panembahan Senopati yang didapuk sebagai Telik sandi. Dengan menyamar sebagai ronggeng tayuplb, dia merayu Ki Ageng Manggir yang menguasai Perdikan Manggir dan tidak mau tunduk pada kekuasaan mataram. Daerah merdeka kecil di kawasan Kasihan Bantul ini menjadi duri dalam daging bagi Mataram di Kota Gede yang bercita cita menguasai seluruh Jawa.
Menarik melihat pandangan Pram yang menyebut Perdikan Manggir sebagai sebuah republik kecil di mana semua warga sama dan setara. Sebagaimana di BM, Pram dengan halus menyindir feodalisme Jawa yang selama ini mungkin orang banyak enggan mengkritik karena takut kualat kepada rajanya. Tetapi dari drama ini, Pram seperti hendak menunjukkan bahwa seorang raja besar pun memiliki episode gelapnya sendiri, bahwa kekuasaan juga sering dibangun dengan darah dan air mata. Tidak ada yang sempurna, bahkan seorang raja sekalipun. Bahkan Ki Ageng Manggir pun adalah manusia biasa yg takluk dengan pesona wanita. Drama Manggir ini membuat sejarah Mataram Jawa terasa lebih manusiawi dan terpahami.
Ini adalah kali pertamanya saya membaca buku dengan format cerita panggung. Menarik. Pram mencoba menuliskan kembali cerita tentang konflik Perdikan Mangir dengan Kerajaan Mataram melalui tafsirannya sendiri. Dalam lembar pertanggungjawabannya, Pram mencoba 'menyelamatkan' cerita Mangir ini dari 'sanepa' atau kias yang selalu menyelimuti cerita Mangir. "Tradisi Jawa [..] terlalu berhati-hati dalam menuliskan raja-raja atau dinastinya yang masih berkuasa, sehingga pujangga-pujangga Jawa terpaksa menempuh jalan sanepa atau kias". Dalam versi Pram "semua tokoh dilucuti dari pakaian dongeng dan ditampilkan sebagai manusia biasa, dijauhkan dari tanggapan-tanggapan mistik dan fetis, yang memiliki impian, uasaha, kegagalan, dan suksesnya."
Tafsir Pram ini tentu melahirkan pembedanya tersendiri yang unik. Sayang sih, di bagian klimaks, pertarungan pasukan Mangir dan Mataram terlalu singkat. Mungkin lebih seru kalau lihat pertarungan versi adaptasinya di teater. Terlepas dari itu, pengalaman reflektifnya cukup bisa saya rasakan. Mengutip Savitri Scherer di kata pengantar "Sesungguhnya karya sastra [..] memang mempunyai suatu ikatan fakutal dengan peristiwa sejarah [...]" bahkan, "karya sastra menguntit peristiwa sejarah dengan setia, dan selanjutnya peristiwa sejarah terjadi seolah-olah meniru kembali apa yang dibayangkan oleh para perangkum sastra", sehingga "dengan mempelajari warisan leluhur, kita dapat menjadi lebih waspada untuk menyimak letak kelemahan-kelemahan dan ketimpangan suatu sistim bawaan di masa lalu".
Mengingatkan pada tragedi Red Wedding-nya Game of Thrones. Pram menarasikan ulang kisah Mangir, dalam format naskah drama, dengan sentuhan realisme sosialis.
Kalau Eiji Yoshikawa bisa menulis epik sejarah seperti Musashi, atau James Clavell dengan Shogun yang berlatar Jepang era Sengoku Jidai, aku bersyukur Indonesia punya Pramoedya yang selalu bisa membungkus kisah-kiah sejarah dengan caranya yang memikat dan tetap terasa sebagai kisah epik tanpa menggurui dan membebani pembacanya (aku contohnya, yang kerap tidak tahu menahu sebelumnya tentang latar belakang kisahnya secara akademis.)
Tapi serius deh, sebegitu besar peran penceritaan sejarah yang mumpuni terhadap minat akan kisah sejarah yang sebenarnya. Lewat buku Drama Mangir, aku belajar banyak tentang dinamika politik Jawa di bawah bayang-bayang kuasa Mataram pada abad ke 16. Tentu ini tidak bisa jadi sumber satu-satunya, tapi ketika bicara soal memunculkan minat, di sana peran penulisan dan penceritaan sejarah muncul.
Menurutku buku ini bisa dibilang nyaris sempurna tetapi ada sedikit catatan mengenai buku ini. Buku Mangir berbeda dengan buku-buku lainnya, bentuknya adalah drama sehingga narasi yang disajikan adalah naskah (lebih dominan dialog dibandingkan narasi). Karena banyaknya tokoh dalam drama ini seringkali aku merasa bingung dan mulai bolak balik menuju kata pengantar
Tidak terbaca sampai selesai, hanya skimming karena ternyata buku ini adalah petunjuk pementasan drama mangir. Kendati demikian, saya familiar dengan cerita mangir karena pernah menerjemahkan tulisan di Balairung terkait kekerasan pemuda di jogja dan menapak tilas ke cerita mangir.
Setelah lama menganggur di rak, akhirnya saya memberi perhatian juga pada buku ini. Saya tak akan membacanya kemarin jika bukan karena saya terkena "efek pamuk"--semacan efek proust": kehilangan gairah membaca ketika menghadapi buku yang kualitasnya tidak sederajat setelah membaca In Search of Lost Time-nya Proust, hanya saja, saya mengalami ini pasca membaca Pamuk. Delapan novel yang saya buka seharian membuat saya malas melanjutkan setelah di halaman 20an. Naskah drama ini, yang tadinya kehilangan sisi menariknya begitu keluar dari toko buku, malah jadi begitu menarik. Bahasanya menyulitkan di awal, tapi seperti karya Pram lainnya, banyak hal di luar teks yang terbaca dengan mudahnya. Setting ceritanya masih di abad yang sama dengan masa hidup Machiaveli di barat, dan ini yang menarik: Mataram pun Machiavelistik.
The drama, written by Pram in '76, is based on Javanese folklore about Senapati's cowardly attitude in his plan to control Mangir. His daughter becomes spy and captivates Wanabaya. Wanabaya's death is redrawn more rationally.
tanda-tanda tua adalah kecut pada kata hati sendiri (hlm. 99)
kisah tutur ada karena kepentingan penguasa. karena itu jugalah rhe mendengar kisah ini dari kakaek. tentang... mangiran.
'dahulu kala (kenapa dongeng selalu diawali kata ini ya?) ada perebutan kekuasaan antara ki ageng mangir dan panembahan senopati. tapi saat ki ageng mangir bersujud, kepala na dibenturkan pada watu gilang. sejak saat itu, ada tulah yang mengyatakan bahwa keturunan mataran tidak bisa melintasi sungai winongo. jika dia melintas, maka matilah orang itu'
inti cerita na seperti di atas. bayangkan saja jika kakek yang kental jawa na menceritakan itu semua dengan bumbu-bumbu na. lama.
dan lama juga kisah ini pertama rhe dengar. versi rakyat yang menerima cerita penguasa. 7 tahun silam, mungkin, dalam perjalanan ke wates dari wonosari lewat bantul.
sungguh ga nyangka 7 tahun kemudian rhe membaca kisah jernih na. mungkin ini hanya naskah drama. namun dalam pengantar na, banyak rhe belajar bahwa mitos pun punya landasan logis. ga' melulu muncul begitu saja demi kepentingan penguasa memenangi atau justru menebarkan ketakutan massa. yang dimitoskan inilah mungkin kebenaran yang ditutup-tutupi.
yang pasti cukup berbahagia bisa dengar versi tutur na dari generasi tua dan versi sejarah na.
bila berbahagia ingatlah pada maut yang semakin dekat. bila hadapi mati hendaknya orang menghitung semua kebahagiaan yang sudah terlewati (hlm. 51)
"Yang tak berdarah mati. Yang kekurangan darah lemah. Hanya yang berlumuran darah saja perkasa. ... Dan hanya si lemah berkubang dalam air matanya sendiri." Kalau boleh disimpulkan, kutipan di atas adalah simpulan dari naskah drama ini. P.A.T., dengan tanpa kesan menggurui, memaparkan proses pembangunan kekuasaaan di Jawa sekitar abad XVI-XVII. Sebagian orang pikir kuasa dan wibawa hanya dapat dibangun dengan menaklukkan sesama, sebagian yang lain lebih suka dengan karya. Pikiran-pikiran macam ini dibentur-benturkan dalam dialog para tokoh. Bumbu konflik cerita cinta membuat cerita ini tak kalah dengan Romeo-Juliet atau Panji-Angreni. Kalau boleh diambil pelajaran, pembangunan kuasa dengan cara pertama tak akan menghasilkan apa-apa kecuali pertikaian. Mari tengok, tiada sumbangan dari Jawa masa itu untuk dunia.
Dalam karangan terakhir Tetralogi Pulau Jawa ini, Pram masih belum juga berhenti dengan pemikirannya bahwa kekuasaan tanpa idealisme itu hancur, sementara idealisme tanpa kekuasaan itu tidur. Tulisan di sampul belakang sudah mengingatkan pembaca bahwa akan terdapat plot-plot Machiavellist di dalamnya, dan Pram menyajikannya dengan sungguh elegan -- Pram membuat korban menjadi sungguh tak berdaya meski pun pelaku Machiavellist seperti masih harus merangkai kata lagi untuk membuat korbannya takluk. Seperti pada "Arok Dedes" & "Arus Balik", Pram harus berulangkali menemukan kisah-kisah tragis di pedalaman pulau Jawa untuk bisa menunjukkan pada kita semua bagaimana Nusantara kemudian dapat lepas dari kekuasaan para penghuninya dengan politik pecah belah.
Machiavelli's nightmare manifested in this intense and violent stageplay about 16th-century Java where the leaders battled each other, even killed their own to expand and keep their power of the Mataram kingdom.
Meminjam buku ini dari seorang teman (baca: Belva!) dan terbiar teronggok cukup lama di atas meja karena memang tak sempat. Hari ini saya coba buat baca. Adapun drama Mangir sendiri adalah drama yang konon cukup masyhur dan masih langgeng dituturkan lintas generasi masyarakat Jawa (saya rasa Jawa Tengah–Jogja lebih tepatnya), bagi saya yang berlatarbelakang Jawa Timuran tentunya tutur ini tidak terlalu familiar walau saya sudah tahu kemasyhurannya. Jadi, Mangir adalah drama yang baru saya tahu, dan baru pertama kali saya baca versinya ya dari versi Pak Pram ini.
Buku dan pengantarnya menarik sekali. Ada semacam upaya untuk men-demisti-fikasikan kisah-kisah yang sudah tertuang berabad lamanya di Babad-Babad yang tentunya condong ke versi ala “Rezim” pemenang. Klaim buku ini adalah untuk menawarkan sisi pandang lain dari kisah Mangir, sebuah penyeimbang dari versi Rezim yang tentunya implikasinya adalah memberikan sebuah harga diri baru yang tentu saja tidak hanya bagi Ki Wanabaya/Ki Ageng Mangir, namun bagi nama baik sejarah wilayah Mangir keseluruhannya. Sebuah perspektif historis yang menarik sekali.
Jujur, dari penulisannya sebagai sebuah teks “play” teatrikal adalah gaya penulisan yang sangat asing buat saya. Pertama kalinya agaknya saya membaca buku dengan format sedemikian rupa—alih-alih novel sebagaimana yang biasa dilahap. Pada perempat-perempat awal buku ini, perasaan “wah, not my cup of tea” cukup menghinggapi. Sesederhana karena memang saya sangat tidak familiar dan not really into this kind of writing style.
Tapi, Pramoedya tetap Pramoedya! Menulis dalam gaya apapun tetap membuat kita pada akhirnya tersedot masuk seolah berada langsung, atau lebih jauh dari itu: masuk ke dalam latar dan seolah dapat membaca pemikiran para tokohnya! Intrik, drama, romansa, konflik, kekuasaan, aspek-aspek politik dan kenegaraan (salah satu bagian yang paling saya suka karena saya anak HI hehehehe) digambarkan dengan rapi dan sangat baik. Ada beberapa bagian saya beristirahat sebentar dan mengagumi gaya penulisan Pram. Bahasa Melayu (Indonesia) pun rasanya seolah digugah kembali untuk dengan lincahnya berliak-liuk secara elegan bak penari Bedaya di Keraton.
A brilliant stage play about a long-lost folk tale
This is an incredible story about the fall of Majapahit in 1527, and the proceeding game of thrones in the vacuum of power for decades.
In the middle of this utter chaos, Penembahan Senopati, the king of Mataram in 1575-1607, became the main vocal point of the story. He was the descendant of the last Majapahit king Brawijaya V and a vicious man who employed some of the nasties strategies to conquer the villages, including an attempt to capture a small area called Mangir.
It is in this village that he eventually met his match, their ruler named Wanabaya (or more commonly known as Ki Ageng Mangir or the leader of Mangir) who possessed a powerful mystical spear called Klinting. Wanabaya was also the descendant of Brawijaya V (making him and Senopati distant cousins), hence he felt entitled to control Mangir independently and not to succumbed to the rule of Mataram, which Senopati did not take very well. And the resulting mind games and battle tactics are what this book is all about, the drama that happened in Mangir.
The introduction of the book is especially exquisite, providing the grand context of the historical event. It covers all the mysticisms and local beliefs, the prophecies, the political propaganda, the origins of words (that last until today), the impressive contextual background for the weaponry, disproving false narratives in history books (like what ended up happen with Wanabaya - no spoiler), the analysis of war tactics, and describing the background story of various different kind of people such as Tumenggung Mandaraka whom Pramoedya dubbed as a Machiavellian before Niccolo Machiavelli was known to the world.
Different from the rest of Pramoedya's books, however, is the format of the story where Pramoedya decided not to use the usual novel format, but instead use a stage play format in order to tell the story more authentically. And this is where the book stands out, the gripping conversations and stage drama that incredibly told in detail that can be a minute-by-minute guide to actually perform the play live in theatre.
I sincerely hope that one day I can get to see it performed live.
MANGIR sebuah cerita tutur yang diingat masyarakat Jawa Tengah yang kemudian dituliskan ulang oleh Pramoedya Ananta Toer. Versi yang ini adalah terbitan dari Penerbit KPG dengan cetakan pertama di tahun 2000 yang memiliki tebal 114 halaman.
Aku cukup terkejut ketika membaca bagian persembahan yang isinya—bagian akhir, "yang menyelamatkan karya ini." Iya, katanya naskah Mangir yang sudah ditulis Pak Pram sewaktu di pengasingan sempat hilang.
Mangir menjadi karya Pak Pram yang pertama kali aku baca. Hehe. Lagi-lagi terkejut karena buku ini adalah naskah drama, bukan novel atau nonfiksi. Jadi, isinya berisi percakapan-percakapan yang sedikit narasi. Tetapi, ketika membaca bagian awal atau pengantar, itu sudah cukup untuk mendapat gambaran tentang isi buku. Dijelaskan juga ada banyak versi, dari Mataram maupun Mangir.
Lokasi cerita ada di Mangir dan Mataram. Mangir merupakan desa perdikan yang tidak jauh dari Mataram. Kamu masih ingat pelajaran sejarah tentang kerajaan Mataram Islam? Nah, betul. Aku baru tahu lagi kalau Mataram sempat setakut itu dengan Mangir. Iya, wajar saja agak takut, wong Perdikan Mangir itu punya panglima perang sekelas Wanabaya, penasihat sekaligus panglima perang Baru Klinting, dan para demang yang setia. Dijelaskan juga kalau desa ini, subur dan makmur.
Awal baca Mangir, aku merasa bosan, bagaimana tidak isinya dialog antar tokoh yang kadang nyambung tapi banyak gak nyambungnya. Khas drama lakon di panggung atau ketoprak, yang antar tokoh kadang ngomong pakai bahasa kiasan. Apalagi ketika para demang mengobrol. Wes mbuh, mereka bicaranya kayak pake sandi, tapi saling nyambung, sedangkan aku yang baca gregetan, 'kalian ngomong apa sih.' Tenang saja, bahasa yang digunakan dalam buku adalah bahasa Indonesia.
Ada tiga babak dalam buku ini. Pertama dan kedua berlatar tempat di Mangir dan ketiga di Mataram. Tokoh-tokoh yang disebut juga tidak sebanyak novel hisfic. Ada beberapa ilustrasi tokoh, seperti Wanabaya, Baru Klinting, Putri Pambayun, Panembahan Senapati, dan Ki Ageng Pamanahan.
Awalnya sempat ragu mau beli buku ini, tapi karena buku ini satu-satunya buku karya Pram yg dijual di Gallery dia.lo.gue waktu pameran "Namaku Pram", akhirnya dibeli juga. Selain karena unik, tidak dicetak oleh Lentera Dipantara seperti buku Pram lainnya, ingin jg ada sedikit souvenir sbg memori dari pameran.
Pas buku dibuka segelnya, ternyata berupa naskah Drama panggung. Ga nyadar pas beli, hahaha, jd agak ragu mo baca, kayanya bakal berat, selain itu settingnya sekitar abad ke-16. Belum pernah baca Novel/Buku dengan setting setua ini, jd cukup lama buku ini dibiarkan tak dibaca sekitar lebih dari 1 bulan.
Memulai baca Pengantar, agak bingung. Tapi baca di salah satu review Goodreads katanya jangan sampai dilewat, karena penting sekali untuk tau Pengantar sebelum masuk ke naskah Drama. Alhamdulilllah karena Pengantar dibaca dgn seksama akhirnya bisa mengikuti naskah Drama dengan baik. Ternyata enak dibaca, dan menggunakan bahasa/syair/kiasan yang masih mudah dipahami. Mulai dari alur perkenalan tokoh, membangun konflik s/d klimaks sangat baik sekali. Selesai membaca Drama saya balik lagi ke Pengantar yg kali ini sangat mudah diresapi.
Saya selalu suka dengan gaya menulis Pram baik pada pengantar ataupun Drama, karena selalu menjelaskan dengan baik tatanan sosial masyarakat saat itu, berikut keadaan ekonomi, hierarki maupun politik. Buku ini bagi saya menjadi cara mudah untuk mempelajari sejarah kuno Jawa. Seandainya diberikan pelajaran mereview buku Pram sewaktu SMP-SMA dulu bisa jadi saya kuliah ambil jurusan Sejarah :) Jadi tertarik untuk membaca buku Pram dgn setting Jawa kuno lainnya yaitu Arok Dedes.
Mangir bercerita mengenai sisi lain sejarah kerajaan Mataram Islam yang terlalu sentrisme pada raja yang berkuasa. Dalam lubuk rakyat timbullah kisah Mangir, yang menggambarkan perlawanan seorang adipati taklukan kerajaan Mataram yang merasa wilayahnya dilakukan semena-mena oleh rajanya. Dengan gegap gempita dan dukungan rakyat yang begitu besar, Mangir menggelorakan perlawanan wilayahnya pada penguasa Mataram masa itu Panembahan Senopati ing alaga.
Di tengah jalan Mangir ternyata bertemu oleh seseorang yang dikenal sebagai Nyi Ageng Pembayun, kendati sedang dalam tugas dari ayahnya untuk menyamar dan memata-matai kegiatan Ki Ageng Mangir. Tak disangka kedua insan ini akhirnya jatuh cinta dan mereka dikaruniai seorang buah hati. Namun karena rencana ini diendus oleh Telik Sandi Mataram, Pembayun dipanggil oleh ayahnya sang Raja Mataram untuk kembali menghadapnya di Kraton. Sebuah skenario menyusul disusun oleh Mangir untuk mengakhiri kesemena-menaan raja yang belakangan ia ketahui sebagai ayah mertuanya sendiri.
Cerita yang disusun Pram dalam buku ini menarik, karena ditulis dalam format naskah drama. Sangat berbeda dengan karya Pram pada umumnya. Namun kedetilannya dalam bercerita tentunya menjadi daya tarik bagi pengagum tulisannya. Tentu alur dalam setiap babak merupakan maju, namun dalam setiap karakternya menjiwai tokoh sesungguhnya. Selain itu buku ini benar-benar cocok untuk dipentaskan dalam bentuk drama, mengingat di dalamnya juga terkandung pakaian apa saja yang dipakai para pemainnya.
Buku ini masuk ke katogori buku yang harus aku baca ulang nanti kalau sudah baca lebih banyak referesni soal topik serupanya. Kalau soal garis besar cerita, dari yang aku liat beberapa review buku ini udah sebutin. Jadi, review aku ini mau coba kasih beberapa kutipan yang menurut aku menarik.
"Sesuai dengan kata-kata bekas preseiden Perancis, Pimpodou, yang juga seorang pengarang, bahwa di masa-masa yang lalu, sastra selalu mengabdi pada politik, demikian pula halnya dengan sastra Jawa di masa lalu." Halaman xxiii.
"Suatu kemenangan yang bukan merupakan karangan bunga." Halaman xxiv.
Aku pernah denger tapi lupa siapa yang bilang, katanya, "Sejarah ditulis oleh para pemenang tapi pemenang tidak selalu dari pihak yang benar." Terus jadi kaya diingetin lagi pas baca buku ini. Kutipan kedua bener-bener ngewakilin cerita-cerita perang kerajaan masa lalu kaya gini.
Buat buku ini juga aku ga berani kasih rating di bawah 5/5. Bukan aku terlalu mengagung-agungkan Pram, tapi ini sebagai apresiasi dan salut banget sama Pram yang bisa reserach sedalem itu soal sejarah yang akhirnya lebih banyak ditutur lewat lisan ketimbang tulisan. Makanya rating bagus yang selalu aku kasih ke buku Pram ga luput dari bentuk apresiasi aku sama kegigihan Pram buat research dan ngungkap sejarah sebagaimana aslinya tanpa embel-embel politik dan lain-lain.
Dari buku ini juga kaya disadarin lagi kalau inilah kenapa kita perlu belajar sejarah. Aku nggak tahu apa-apa soal detail sejarah Mataram sampai
Buku ini jadi pintu saya untuk semua karya pram lainnya dan karya sastra Indonesia lainnya. Ditemukan di kumpulan buku-buku diskonan, nama Pram terdengar familiar tapi belum pernah sama sekali baca karyanya. Bukunya tipis, diskon pula, ini jadi buku terbaik yang dibeli asal-asal. Jarangnya saya membaca buku asal Indonesia karena banyak buku luar/terjemahan yang lebih sering direkomendasikan, atau ketidakpuasan terhadap secuil karya anak bangsa yang pernah saya baca, buku ini jadi pengantar untuk menunjukkan keindahan bahasa Indonesia. Buku ini sudah lama sekali selesai dibaca, hanya belum pernah tulis ulasannya. Saya tidak ingat ceritanya, saya hanya ingat perasaan saat sedang baca buku ini. Beberapa kali harus berhenti membaca untuk memberi jeda kepada otak yang kagum akan penggunaan bahasa Indonesia yang begitu anggun. Romantismenya bikin baper. Kalimat-kalimat yang terdengar norak jika didengar di tengah pembicaraan masa kini tertulis seakan tidak peduli dengan masa depan, karna justru hal itu yang membuatnya klasik, menarik. Malahan saya yang jadi norak, membagikan banyak potongan kalimat ke teman dengan memfoto setiap beberapa halaman, seakan tidak pernah membaca karya klasik walaupun kenyataan memang begitu. Terima kasih diskon. Terima kasih Pram.
Buku ini berupa naskah teater yang mengisahkan kehidupan masyarakat di Jawa paska runtuhnya Majapahit. Kisah berfokus pada tokoh dan ketokohan Wanabaya atau Ki Ageng Mangir yang merupakan rakyat biasa dari Perdikan Mangir, 20 km dari Keraton Mataram.
Panembahan Senapati, karena nafsu kekuasaanya, menginginkan Mangir takluk di bawah Mataram. Caranya, ia mengirimkan puterinya sendiri, Pambayun, untuk mendekati dan memperdaya Wanabaya agar mau menyerah. Rencana ini tidak berjalan mulus. Pertama, Pambayun telah terlanjur jatuh cinta kepada Wanabaya dan tengah mengandung anak buah perkawinan mereka. Kedua, Pambayun pun turut berontak pada Mataram untuk menunjukkan cintanya kepada Wanabaya dan hidup berdaulat rakyat Manggir. Ketiga, kesalahan taktik Panembahan Senapati membuat rencana menjebak Wanabaya, menantunya, saat berkunjung ke Mataram tidak berjalan sesuai rencana. Meskipun pada akhirnya Wanabaya dan pasukannya dapat dikalahkan.
Buku ini merupakan ilustrasi masa "kegelapan" di tanah Jawa, pada saat kekuasaan Mataram yang ambisius memakan korban rakyat di daerah-daerah yang tidak mau tunduk kepadanya. Pramoedya meramu kembali kisah babad ini dengan sudah pandang "pemberontakan" Wanabaya sebagai imti dari plot.
Secara moral, Mangir seolah mengajarkan saya bahwa di dalam dunia politik, kebaikan dan keburukan sering kali berdampingan seperti teman baik yang tidak terpisahkan. Ketika Senapati, sang protagonis, memilih untuk mengorbankan kebahagiaan keluarganya demi ambisi politik, saya bisa bertanya-tanya: apakah semua itu sepadan? Ternyata, keluarga dan cinta sering kali harus berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar—sebuah pelajaran berharga bagi kita semua, bukan?
Kesan yang ditinggalkan novel ini sangatlah dalam. Saya bisa merasakan bahwa Pramoedya ingin kita merenungkan betapa tidak berartinya hidup ketika kekuasaan menjadi pusat segalanya. Dengan menyamakan karakter-karakter dalam novel ini dengan tokoh-tokoh dalam drama yang dipentaskan, saya bisa saja menertawakan absurditas dari semua konflik yang terjadi. Betapa uniknya ketika cinta dan ambisi dipadukan dalam sebuah kisah yang seharusnya mengedukasi, tetapi justru berakhir dengan pengorbanan yang tragis. Ini adalah pengingat bahwa kadang-kadang, dalam pencarian kekuasaan, kita bisa kehilangan segalanya—termasuk akal sehat kita.