Jump to ratings and reviews
Rate this book

Making Globalization Work

Rate this book
“A damning denunciation of things as they are, and a platform for how we can do better.”―Andrew Leonard, Salon Four years after he outlined the challenges our increasingly interdependent world was facing in Globalization and Its Discontents , Joseph E. Stiglitz offered his agenda for reform. Now in paperback, Making Globalization Work offers inventive solutions to a host of problems, including the indebtedness of developing countries, international fiscal instability, and worldwide pollution. Stiglitz also argues for the reform of global financial institutions, trade agreements, and intellectual property laws, to make them better able to respond to the growing disparity between the richest and poorest countries. Now more than ever before, globalization has gathered the peoples of the world into one community, bringing with it a need to think and act globally. This trenchant, intellectually powerful book is an invaluable step in that process. This paperback edition contains a brand-new preface.

384 pages, Hardcover

First published January 1, 2006

Loading...
Loading...

About the author

Joseph E. Stiglitz

253 books1,874 followers
Joseph Eugene Stiglitz, ForMemRS, FBA, is an American economist and a professor at Columbia University. He is a recipient of the Nobel Memorial Prize in Economic Sciences (2001) and the John Bates Clark Medal (1979). He is also the former Senior Vice President and Chief Economist of the World Bank. He is known for his critical view of the management of globalization, free-market economists (whom he calls "free market fundamentalists") and some international institutions like the International Monetary Fund and the World Bank.

In 2000, Stiglitz founded the Initiative for Policy Dialogue (IPD), a think tank on international development based at Columbia University. Since 2001, he has been a member of the Columbia faculty, and has held the rank of University Professor since 2003. He also chairs the University of Manchester's Brooks World Poverty Institute and is a member of the Pontifical Academy of Social Sciences. Professor Stiglitz is also an honorary professor at Tsinghua University School of Public Policy and Management. Stiglitz is one of the most frequently cited economists in the world.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
575 (25%)
4 stars
966 (42%)
3 stars
542 (24%)
2 stars
144 (6%)
1 star
30 (1%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Asad Mahdi Hasan.
11 reviews
September 20, 2018
Stiglitz akhirnya dapat menjawab pertanyaan saya, pertanyaan yang timbul ketika membaca buku mises dan friedman di bab mengenai hubungan internasional.
Sederhananya pertanyaan saya adalah, apabila negara berkembang adalah negara bekas terjajah, secara eksternal maupun internal, apakah mereka bisa bersaing secara sempurna dengan negara maju yang sudah lebih berpengalaman? Saya berpikir apabila kita tetap memakai konsep nation-state rasanya hal tersebut mustahil. Namun Stiglitz dengan lugasnya dapat menjawab keresahan tersebut. Tetapi sayang sekali saya harus menahan satu bintang. Bukan bermaksud untuk menduga bahwa argumen dan proposal dalam bukunya utopis, tetapi jujur saya pun masih sangsi kapan dan berapa lama Amerika dan beberapa negara di Eropa bisa menyadari bahwa kita sebenarnya sedang tidak membangun negara, tetapi membangun peradaban dunia. Jadi saya berharap satu bintang yang hilang di sini akan menjadi alarm ketika semuanya sudah berjalan dengan lebih baik.
Profile Image for Arif Widianto.
100 reviews7 followers
January 1, 2017
Buku ini benar-benar membuka mata saya. Banyak hal baru yang saya pelajari. Paling utama tentu saja aspek ekonomi globalisasi, yaitu ekonomi makro dunia. Baru tahu begitu cara bekerja dunia keuangan global.

Tapi Stiglitz tidak hanya bicara ekonomi. Dia juga mengajak kita diskusi aspek global dari keadaan di dunia ini, dimulai dari dua polarisasi forum global, Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss; dan Forum Sosial Dunia, di Mumbai, India. Dua kubu ini membahas efek globalisasi dari dua titik pandang yang berbeda. Yang pertama dari sisi menurut dunia maju. Yang kedua dari sisi dunia berkembang dan miskin.

Buku ini dibagi 10 bab. Stiglitz mengurai dan mengenalkan masalah-masalah yang dihadapi di dunia yang semakin terhubung ini. Dari situ ia mulai mengajak kita berdiskusi ke beberapa aspek, seperti dunia paten, sumber daya alam, pemanasan global, pengaruh perusahaan multinasional yang kadang lebih dari negara pengaruhnya ke seluruh dunia, beban utang.

Selain mengungkap masalah dan asal muasal ketimpangan dalam globalisasi. Stiglitz juga menyajikan rumusan obat yang terperinci dan menggugah intelektual karena ia sendiri pernah menjabat posisi penting di Bank Dunia serta menjadi penasihat ekonomi pemerintah Amerika Serikat di era Presiden Clinton. Ia juga penerima Hadiah Nobel Ekonomi.

Stiglitz tahu masalah globalisasi. Kadang kebijakan ekonomi dan politik negara sebuah negara seperti AS seringkali justru menimbulkan ketimpangan yang tidak memperhatikan aspek keadilan dan kepatutan, terutama dengan kepentingan negara berkembang. Usulannya tentang mata uang netral sebagai penyangga keuangan global sangat menarik. Ia juga menyajikan satu bab terakhir sebagai rumusan ketimpangan demokrasi, yang dianggapnya dalam notasi ekonomo sebagai defisit dan surplus, sehingga harapannya setiap negara bisa menghargai demokrasi yang semakin global ini. Seperti Amerika Serikat yang mengkapanyekan penegakan demokrasi ke seluruh dunia, tapi di sisi lain mereka membuat penjara khusus yang melanggar HAM, bisa dianggap mengakibatkan defisit demokrasi bagi mereka sendiri.

Buku yang menarik untuk menutup tahun lalu dan membuka tahun baru. Setelah berkutat dengan teori mikro, keuangan perusahaan, dan sebagainya. Dengan membaca buku ini membuka mata dan perspektif saya, dunia sesungguhnya entitas-entitas besar dari miniatur perusahaan, bila dibayangkan seperti itu. Tapi membayangkan sebuah perusahaan multinasional penghasilannya bisa mengalahkan total GDP dari negara-negara di sebuah, sungguh menggugah perasaan kita. Apalagi bila tingkah polah entitas besar itu bisa mengakibat akibat buruk di sisi dunia lain, yang dulu tidak akan kita bayangkan.

Selamat tahun baru.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews