From world-renowned author Erich Segal comes a powerful and moving saga of five extraordinary members of the Harvard class of 1958 and the women with whom their lives are intertwined. Their explosive story begins in a time of innocence and spans a turbulent quarter century, culminating in their dramatic twenty-five reunion at which they confront their classmates--and the balance sheet of their own lives. Always at the center; amid the passion, laughter, and glory, stands Harvard--the symbol of who they are and who they will be. They were a generation who made the rules--then broke them--whose glittering successes, heartfelt tragedies, and unbridled ambitions would stun the world.
Erich Wolf Segal was an American author, screenwriter, and educator. He was best-known for writing the novel Love Story, a bestseller, and writing the motion picture of the same name, which was a major hit.
Apa yang akan terjadi pada kamu, setelah keluar dari kampus, dalam 10, 15, dan 25 tahun mendatang?
this book really hits my in!!
Yah, secara keikutsertaan gw di kampus FKUI tinggal menghitung bulan, pertanyaan tadi adalah salah satu yang paling sering berputar di kepala. Oke, gw udah dokter. Lalu apa?
Dan buku ini datang dengan tema yang bener2 nancep dengan kondisi hati gw saat ini..
Bukan buku abal-abal, Erich bener-bener mampu menggarap tema krusial tentang diorama intra-kampus dan pasca kampus. Dengan caranya sendiri yang seperti biasa, dramatis. Erich meramu tema pencarian jati diri, pursuit of happiness, kerja keras, kesetiaan, family values, cinta, pengkhianatan, nama besar, kekuasaan, persahabatan, politik, kerendahan hati... ahh.. semua tema sntral hidup tanpa membuat buku ini jadi asin kebanyakan bumbu (it's truly awesome!). Lo boleh ga percaya, tapi semua tema itu bisa masuk secara wajar dalam satu buku.
this book really hits my in!!
Gw mengharap bisa mengintip apa yang mungkin terjadi pada diri gw sendiri lewat buku ini. Dan, seperti halnya sang alkemis (the alchemist) i think this book was also tryin to <>say that, what we really try so hard to find, sometimes its already ours..
Dampak terbesar dari buku ini yang gue rasakan, dengan caranya sendiri, Erich mempertanyakan tentang nilai (values) yang kita anut. Apa sih yang sungguh2 berharga buat kita?
Apakah yang berharga buat kita adalah kenyamanan, ataukah jati diri? apakah popularitas, atau keluarga? Kesetiaan atau petualangan? Kekuasaan, jabatan, atau cinta? Mentor (yang membimbing) atau ayah (yang mengusir)? Mann, semuanya terasa membenturkan kita pada pilihan yang sulit dan seolah menantang, jika kamu dalam posisi yang sama, jalan mana yang kamu tempuh?
Akhirnya, semua perdebatan ttg value tadi berujung pada.. we are what we decide.
Hmmh.. keren banget. Gw baca ni buku dari jumat malem ampe minggu pagi.. truly get me refreshed. Semoga kamupun bisa 'mengintip' masa depanmu lewat buku ini..
Quotes: Nak, tak peduli apapun jalanmu, entah menjadi liberal ataupun komunis, hanya ada satu bahasa yang berlaku di seluruh dunia, yaitu kesuksesan.
PS: buat para penulis, novel ini juga menawarkan cara penulisan yang berbeda dalam alur cerita, perkenalan tokoh dan plot. Sehingga semua tema latar belakang budaya, tokoh, isu sentral, dan konflik semua tetap bisa masuk secara padat dan tidak membosankan. Menarik buat ditiru.
Buku yang bercerita tentang kehidupan mahasiswa di Harvard College. Banyak diantara mahasiswa baru di Harvard college ini adalah mahasiswa terbaik di SMA nya dulu. Bahkan banyak pula anak tokoh-tokoh terkenal seperti anaknya Aga Khan dan keluarga Rockefeller. Seperti buku Erich Seagal sebelumnya yang pernah saya baca tentang doctors, buku ini pun penuh dengan kerja keras. Seorang mahasiswa musisi genius. Saat gurunya berkata berlatih satu jam, dia berlatih tiga jam. Kemampuan musiknya diatas rata-rata, walaupun begitu dia tetap bekerja keras walaupun punya ego khas seniman. Seorang mahasiswa yang jago dalam berolahraga dan akademik pun sama, sia juga tetap bekerja keras di Harvard college. Dan dia menjadi kapten tim tennis dan squash Harvard. Yang membuat saya kagum dalam buku ini adalah Ted Lambros dan George Keller. Ted adalah seorang mahasiswa Harvard yang pas-pasan, dia mengambil jurusan klasik. Dia belajar seperti yang kesetanan, karena ia ingin sekali menjadi guru besar di Harvard. George adalah imigran dari Eropa Timur yang mengungsi ke Amerika karena keadaan politik dinegaranya yang kacau. Dia melarikan diri karena dia merupakan bagian dari mahasiswa yang beroposisi terhadap pemerintah. Yang mengagumkan adalah cara belajarnya, teman sekamarnya pun tidak tahu kapan dia tidur. Saat orang lain bahkan belum bangun, ia sudah sarapan dan kemudian pergi belajar.
Semua kehidupan di Harvard college ini dicatat oleh Eliot, seorang mahasiswa yang masih ada hubungan leluhurnya dengan Harvard.
tidak seperti love story yang sukses merebut hati saya dan membuat saya betah membacanya berulang-ulang, tapi lumayan oke. berlatar belakang di Harvard, salah satu universitas paling bergengsi di dunia.
Erich mampu menceritakan bagaimana sulitnya perjuangan untuk menembus Harvard dan beradaptasi di dalamnya. Ada juga yang cukup mudah menembusnya karena dukungan keturunan dan kekayaan. Orang yang diremehkan saat ini, bisa jadi akan menjadi orang terpenting di masa depan. dan secara jelas menunjukkan secuek apapun seseorang pada dasarnya setiap orang pasti butuh pengakuan dan penghargaan dari orang lain. so guys, never underestimate other people.
buku ini sangat bagus untuk mereka yang lagi menuntut ilmu. Saya ingat pertama kali baca buku ini, waktu sedang mengambil S2, dan sedikit banyak kisah di dalam buku ini cukup sesuai dengan yang saya alami. tentu saja tidak semuanya yaaawh.. garis besarnya saja. yang jelas tampaknya Mr. Seagel benar2 mengenal Harvard. sama seperti ketika A. Fuadi menceritakan pondok Madani, pembaca jadi benar-benar bisa membayangkan situasi di Harvard secara jelas. kayaknya sih bisa jadi rujukan untuk mereka yg ingin kuliah disana :D
buku ini memceritakan persahabatan dan perseteruan orang yang memimpikan HARVARD sebagai tempat belajar perjalanan hidup orang memang beda2... latar belakang kehidupan seseorang akan membentuk pribadi dan gaya berpikir meskipun akhirnya bermuara du Harvard, tetapi hasil yg diperoleh tiap orang pasti berbeda-beda ketika akhirnya bertemu untuk suatu reuni maka semakin terlihatlah perbedaan yg ada kalo undangan reuni itu dialamatkan utk kita....pernahkah terpikir gmn jadinya temen2 sekolah kita dl? sukseskah mereka?bahagiakah mereka?.....atau malah kita mempertanyakan diri kita sendiri dibandingkan temen2 kita? siapkah kita bertemu temen2 kita dengan kondisi kita sekarang.......?
baru menyelesaikannya tadi siang setelah marathon dari kmaren. dan sekarang aku merasa sedang dicuci otak...
kata2 Harvard, Radciffe, Oxford, Yale, dsb rasanya masih berkelebatan di mataku. capek, tapi puas! karakter2nya keren, pemilihan katanya bagus, dialognya manteb banget (jenis dialog yang akan aku bayangkan jika sedang berbicara dengan diri sendiri), dan terjemahannya oke.
dan, salah satu yang aku suka Erich Segal adalah bahwa dia selalu berhasil menggambarkan bahwa cewek pinter itu cool!
Nicebook with a nice story. Cerita ttg kehidupan beberapa orang yang dikaitkan dalam satu kesamaan yakni satu angkatan yang sama pada satu universitas yang sama. Diawali dengan dengan kisah saat mereka masuk kuliah sampai moment akhir hidup mereka. Waktu gw baca ini pertama kali pas gw masih SMA, trus kedua kali sewaktu gw da kerja. Hmmm,,dan setelah baca yang kedua kali ini, rasanya,, apa yang diceritain ni buku ttg kehidupan, begitulah.. kehidupan. Ketika waktu berlalu,, yang ada hanya tinggal kenangan.
Buku yang bagus. Menceritakan tentang mahasiswa-mahasiswa Harvard mulai dari sebelum menjadi mahasiswa hingga menapaki karier yang gemilang. Buku ini mengajarkan tentang ada kalanya untuk meraih kesuksesan kita harus mengorbankan banyak hal termasuk kebahagiaan. Secara garis besar, buku ini memiliki jalan cerita yang cukup menarik dan diterjemahkan ke bahasa indonesia dengan baik. Kekurangan dari buku ini adalah endingnya yang terkesan antiklimaks seperti novel Doctors (karya Erich Segal yang lain).
Sebuah novel yang cukup menarik. Menceritakan gairah, tragedi, dan ambisi tak terkendali beberapa anggota mahasiswa Harvard kelas '58(Andrew Eliot, Daniel Rossi, Jason Gilbert, Theodore Lambros dan George Keller)dalam upaya mencapai kesuksesan seperti yang mereka angan-angankan. Ternyata pencapaian kesuksesan yang mereka peroleh harus dibayar dengan harga mahal.
sangat menginspirasi!!! ternyata, 'bersinar' saat zaman kuliah ga menjamin 'sinar' itu bakal selalu terang. well, you have to achieve your goals, karna kita ga pernah tau apa yang bakal terjadi dihidup kita. at least, we already prepared.
Novel pertama Segal yang saya baca. Agak capek bacanya, tokohnya banyak, konfliknya muter-muter, terlalu bertele-tele menurut saya. Overall, lumayan lah.
What a book!mengharukan....baca buku ini jd inget jaman2 kuliah dulu, temen2 seperjuangan dengan idealisme kita masing2...hmmm, jadi penasaran reunian kita yang ke 25...can't wait for that :)
Baca buku ini, berasa jadi tokoh utama...karena sampai sekarang masih mengetahui keberadaan teman2 kuliah...Keren ini buku, buat teman2 jangan sampai kehilangan kenang2an waktu kuliah dulu deh!
jadi lebih menghargai apa yang ada selama kuliah setelah membaca na. tidak hanya ilmu, teman dan pengalaman. tapi mental untuk menghadapi apa yang ada di luar pagar pendidikan setelah na
You have to read this book. Buku ini bercerita sangat indah soal kehidupan di Harvard University. Soal idealis saat kuliah dan kenyataan yang harus dihadapi setelah lulus Harvard. Sampai akhirnya mereka bereuni setelah 25 tahun mengarungi real world pasca lulus dari Harvard.
lumayan..tidak terlalu detail, kisah 25 tahun dalam 1 buku.. menceritakan kehidupan mahasiswa harvard berjuang untuk survive dalam "kegilaan" harvard, pencarian jati diri dan juga mengejar mimpi..