What do you think?


Civilizations Rise and Fall #2
Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed
Brilliant, illuminating, and immensely absorbing, Collapse is destined to take its place as one of the essential books of our time, raising the urgent question: How can our world best avoid committing ecological suicide?
In his million-copy bestseller Guns, Germs, and Steel, Jared Diamond examined how and why Western civilizations developed the technologies and immunities that allowed them to dominate much of the world. Now in this brilliant companion volume, Diamond probes the other side of the equation: What caused some of the great civilizations of the past to collapse into ruin, and what can we learn from their fates?
As in Guns, Germs, and Steel, Diamond weaves an all-encompassing global thesis through a series of fascinating historical-cultural narratives. Moving from the Polynesian cultures on Easter Island to the flourishing American civilizations of the Anasazi and the Maya and finally to the doomed Viking colony on Greenland, Diamond traces the fundamental pattern of catastrophe. Environmental damage, climate change, rapid population growth, and unwise political choices were all factors in the demise of these societies, but other societies found solutions and persisted. Similar problems face us today and have already brought disaster to Rwanda and Haiti, even as China and Australia are trying to cope in innovative ways. Despite our own society's apparently inexhaustible wealth and unrivaled political power, ominous warning signs have begun to emerge even in ecologically robust areas like Montana.
Brilliant, illuminating, and immensely absorbing, Collapse is destined to take its place as one of the essential books of our time, raising the urgent question: How can our world best avoid committing ecological suicide?
In his million-copy bestseller Guns, Germs, and Steel, Jared Diamond examined how and why Western civilizations developed the technologies and immunities that allowed them to dominate much of the world. Now in this brilliant companion volume, Diamond probes the other side of the equation: What caused some of the great civilizations of the past to collapse into ruin, and what can we learn from their fates?
As in Guns, Germs, and Steel, Diamond weaves an all-encompassing global thesis through a series of fascinating historical-cultural narratives. Moving from the Polynesian cultures on Easter Island to the flourishing American civilizations of the Anasazi and the Maya and finally to the doomed Viking colony on Greenland, Diamond traces the fundamental pattern of catastrophe. Environmental damage, climate change, rapid population growth, and unwise political choices were all factors in the demise of these societies, but other societies found solutions and persisted. Similar problems face us today and have already brought disaster to Rwanda and Haiti, even as China and Australia are trying to cope in innovative ways. Despite our own society's apparently inexhaustible wealth and unrivaled political power, ominous warning signs have begun to emerge even in ecologically robust areas like Montana.
Brilliant, illuminating, and immensely absorbing, Collapse is destined to take its place as one of the essential books of our time, raising the urgent question: How can our world best avoid committing ecological suicide?
608 pages, Paperback
First published January 1, 2004
About the author
Jared Diamond
50 books8,302 followersJared Mason Diamond is an American scientist, historian, and author best known for his popular science and history books and articles. Originally trained in biochemistry and physiology, Diamond is commonly referred to as a polymath, stemming from his knowledge in many fields including anthropology, ecology, geography, and evolutionary biology. He is a professor of geography at UCLA.
In 2005, Diamond was ranked ninth on a poll by Prospect and Foreign Policy of the world's top 100 public intellectuals.
In 2005, Diamond was ranked ninth on a poll by Prospect and Foreign Policy of the world's top 100 public intellectuals.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 16 of 16 reviews
April 2, 2019
Entah sudah ada berapa peradaban hancur sejak manusia pertama kali membuat peradaban. Lewat buku ini Jared Diamond membahas keruntuhan peradaban di masa lalu dan ancaman keruntuhan manusia di masa yang akan datang.
Karena buku ini terlampau bagus untuk dilewatkan begitu saja (maksud saya, hanya dibaca tanpa ada kenang-kenangan dalam bentuk catatan) maka saya akan memindahkan reading journal saya dari Twitter ke sini. Saya memang sebelumnya sudah membuat reading journal sendiri di Twitter. Dan supaya pengarsipannya rapi saya pindahkan ke sini.
Jadi, inilah beberapa catatan penting dari saya.
Bab 1: Di Bawah Langit Luas Montana
Diamond membuka buku dengan membahas Montana. Menurut Diamond, alam Montana sangat indah. Banyak orang berbondong-bondong ingin menghabiskan masa tua di sana. Namun, alamnya yang indah ternyata menyimpan sejuta masalah. Masalah efek negatif pertambangan, kebakaran hutan, kualitas udara yang buruk, debit air yang semakin sedikit. Itu tidak cuma terjadi di Montana, tetapi terjadi di mana-mana.
Secara garis besar terdapat lima faktor yang bisa mempengaruhi kelestarian atau keruntuhan peradaban, yaitu kerusakan lingkungan, perubahan iklim, pengaruh peradaban musuh (misalnya peradaban musuh semakin canggih, jadi mengancam, dan ingin mengajak perang terus, peradabannya bisa hancur), pengaruh peradaban sahabat (misalnya, peradaban negara sahabat atau mitra dagang hancur maka peradaban tersebut juga bisa hancur karena tidak ada yang menopang), dan — yang terpenting — tanggapan masyarakat terhadap masalah lingkungan (masyarakatnya peduli atau tidak).
Catatan lengkapnya bisa dibaca di sini.
March 31, 2014
380 - 2014
Buku ini berat bahasannya. Dan bikin ngeri.
Seandainya peradaban-peradaban lama hancur dan ditinggalkan karena lingkungan sekitar tak lagi dapat menunjang kehidupan, apa yang akan terjadi bila bumi ini akhirnya collapse gara-gara mismanagement dari penghuninya yang saat ini "masih" berjumlah 6 miliar?
Mungkinkah bila saat itu tiba, manusia bumi telah menemukan planet lain yang bisa dihuni dan dieksploitasi lagi? Atau menciptakan spaceship yang bisa menunjang kehidupan selama puluhan atau ratusan tahun seperti di film Wall-E? Atau tak bisa kabur ke mana-mana, lantas punah diam-diam?
Dan apabila kondisi terakhir yang terjadi, mungkinkah kelak, di antara reruntuhan pencakar langit, para ilmuwan dan cendekiawan dari sedikit umat manusia yang tersisa di masa depan akan menelitinya, lalu mengambil kesimpulan yang sama dengan Jared Diamond di masa kini?
Bahwa peradaban hancur oleh perilaku merusak lingkungan para manusianya.
Buku ini berat bahasannya. Dan bikin ngeri.
Seandainya peradaban-peradaban lama hancur dan ditinggalkan karena lingkungan sekitar tak lagi dapat menunjang kehidupan, apa yang akan terjadi bila bumi ini akhirnya collapse gara-gara mismanagement dari penghuninya yang saat ini "masih" berjumlah 6 miliar?
Mungkinkah bila saat itu tiba, manusia bumi telah menemukan planet lain yang bisa dihuni dan dieksploitasi lagi? Atau menciptakan spaceship yang bisa menunjang kehidupan selama puluhan atau ratusan tahun seperti di film Wall-E? Atau tak bisa kabur ke mana-mana, lantas punah diam-diam?
Dan apabila kondisi terakhir yang terjadi, mungkinkah kelak, di antara reruntuhan pencakar langit, para ilmuwan dan cendekiawan dari sedikit umat manusia yang tersisa di masa depan akan menelitinya, lalu mengambil kesimpulan yang sama dengan Jared Diamond di masa kini?
Bahwa peradaban hancur oleh perilaku merusak lingkungan para manusianya.
February 11, 2008
saya baca yang edisi paperback penguin, kertas ringan dan kasar ituh...
artinya, ini buku emang diperuntukkan bagi pembaca yang gak mau bawa-bawa buku beratz..
ini buku enteng berisi. gak jauh beda sama buku sebelumnya 'guns, germs, and steel'. saya membelinya karena tertarik bagaimana cara alternatif dalam membuat pembabakan sejarah. jatuh bangunnya peradaban itu apa sih faktor-faktornya? nah, di buku ini faktor kemampuan dalam menyesuaiakan dengan lingkungan [natur maupun kultur] menjadi penentu apakah peradaban itu bakal langgeng atau runtuh.
pada dasarnya ini memang buku bacaan enteng berisi tadi: secara fisik memang enteng. dan jared memang menyajikannya secara begitu: enteng tapi berisi. ndak usah ngeyel atau mendebat laa...he..he..
sejam penerbangan denpasar-yogya, saya merasa 'sudahlah' dengan buku ini!
artinya, ini buku emang diperuntukkan bagi pembaca yang gak mau bawa-bawa buku beratz..
ini buku enteng berisi. gak jauh beda sama buku sebelumnya 'guns, germs, and steel'. saya membelinya karena tertarik bagaimana cara alternatif dalam membuat pembabakan sejarah. jatuh bangunnya peradaban itu apa sih faktor-faktornya? nah, di buku ini faktor kemampuan dalam menyesuaiakan dengan lingkungan [natur maupun kultur] menjadi penentu apakah peradaban itu bakal langgeng atau runtuh.
pada dasarnya ini memang buku bacaan enteng berisi tadi: secara fisik memang enteng. dan jared memang menyajikannya secara begitu: enteng tapi berisi. ndak usah ngeyel atau mendebat laa...he..he..
sejam penerbangan denpasar-yogya, saya merasa 'sudahlah' dengan buku ini!
May 8, 2022
Ukuran reruntuhan-reruntuhan itu menjadi saksi akan kemakmuran dan kekuasaan para pembangunnya dahulu — mereka menyombong, “Look on my works, ye mighty, and despair!”
sebuah bait syair (Ozymandias oleh Percy B. Shelley) yang sangat menggambarkan kondisi tersebut. Para pembangun itu lenyap, meninggalkan struktur-struktur agung yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Banyak peradaban-peradaban lama yang ditemukan hanya dari puing-puing bangunan, petunjuk tulisan ataupun lisan yang dapat dicari pun sangat kadang sulit didapat. Ada pula peradaban yang mahysur dalam banyak catatan tulis maupun tradisi lisan namun tidak meninggalkan reruntuhan. Reruntuhan ataupun ketiadaan reruntuhan dari peradaban-peradaban tersebut meninggalkan sejumlah enigma, bagaimana bisa mereka mendirikan masyarakat sebesar dan sekompleks itu? bagaimana bisa mereka bertahan hidup di kondisi lingungan berat (saat ditemukan) seperti itu? dan pertanyaan terpenting adalah: Mengapa mereka dulu eksis dan berjaya, lalu kemudian menghilang tanpa jejak dan sebagian hanya menyisakan reruntuhan misterius?
Dari berbagai enigma tersebut, sulit rasanya untuk tak mencoba membuat proyeksi akan masa depan. Apabila banyak peradaban masa lalu menghilang tanpa jejak, lalu bagaimana dengan peradaban dan masa depan kita? Belajar dari masa lalu adalah sebuah upaya untuk melihat masa depan. Melihat reruntuhan pada situs-situs sejarah juga sama seperti melihat cerminan masa depan, akankah masyarakat kita mengalami hal yang serupa ? Dapatkah keturunan kita memiliki masa depan yang katanya cerah itu atau justru mereka akan mengalami kemunduran yang menyebabkan kepunahan masyarakat kita sendiri, sama seperti hilangnya masyarakat-masyarakat masa lalu dalam berbagai cerita epos maupun kitab suci.
Jared Diamond memberikan thesis untuk buku ini:
Banyak dari keruntuhan misterius ini setidaknya dipicu sebagian oleh masalah-masalah ekologis: manusia secara tidak sengaja menghancurkan sumber daya lingkungan yang diandalkan masyarakat mereka.
Proses-proses perusakan lingkungan oleh masyarakat masa lalu dibagi ke dalam delapan kategori, yang kadarnya relatif berbeda dari kasus ke kasus: penggundulan hutan dan penghancuran habitat, masalah tanah (erosi, penggaraman, dan hilangnya kesuburan tanah), masalah pengelolaan air, perburuan berlebihan, penangkapan ikan berlebihan, efek spesies yang didatangkan terhadap spesies asli, pertumbuhan populasi manusia, dan peningkatan dampak per kapita manusia.
Jared Diamond berupaya untuk membuktikan thesis diatas pada buku ini, namun karena proses keruntuhan dalam suatu masyarakat (societies) apalagi yang mendekati era modern biasanya berlangsung dalam waktu lama serta sering tersamarkan oleh banyak hal, selain itu keruntuhan akibat alasan ekologis atau alasan lain seringkali tersamarkan sebagai kekalahan militer. Disinilah letak kesulitannya: Masyarakat yang berbeda menanggapi masalah yang sama secara berbeda. Masalah penggundulan hutan adalah masalah klasik sejak manusia mengkolonisasi berbagai tempat di bumi, masyarakat Papua, Jepang, Tikopia, dan Tonga mengembangkan pengelolaan hutan yang berhasil dan terus makmur, sementara Pulau Paskah, Mangareva, dan Nors Tanah Hijau (Greenland) gagal mengembangkan pengelolaan hutan yang berhasil dan runtuh sebagai akibatnya. Disisi lain penulis mengakui bahwa absurd untuk mengklaim bahwa kerusakan lingkungan pastilah merupakan faktor utama dalam semua keruntuhan: keruntuhan uni Soviet adalah contoh modern bahwa hal itu tidak betul, sementara penghancuran Kartago oleh roma pada 146 SM adalah contoh kunonya. Jelas sekali bahwa faktor-faktor militer atau ekonomi saja bisa jadi sudah cukup.
Jared Diamond berupaya untuk mengurai kompleksitas yang ada dengan menggunakan "metode komparatif" atau "percobaan alam"—dengan kata lain, membandingkan situasi-situasi alam yang berbeda dalam hal variabel yang diteliti. Peradaban-peradaban kuno memiliki kompleksitas yang bervariasi. Sebagian besar peradaban terutama yang berada di kepulauan memiliki faktor deterministik geografis besar sehingga tidak saling terkait ataupun memiliki kontak dengan masyarakat lainnya. Sehingga masyarakatnya mengembangkan cara hidupnya masing-masing dan menghasilkan masyarakat yang lestari dan runtuh. Ada pula lokasi ideal percobaan terkontrol tentang keruntuhan: dua masyarakat (Nors dan Inuit) yang bermukim di pulau yang sama, namun dengan budaya yang amat berbeda, sedemikian rupa sehingga satu masyarakat lestari sementara yang satunya lagi tumpas. Suku Maya menjadi satu contoh ketika masyarkat dalam masa yang berbeda menghadapi bencana lingkungan, yang satu dapat bangkit dan yang lain tumpas dan tak pernah kembali berjaya. Kalau ada yang mengira buku ini mendakwahkan determinisme lingkungan, contoh-contoh tadi memang lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan.
Faktor kebijakan dapat ditemukan pada masyarakat Jerman dan Jepang, dimana ketika Jepang menutup diri dari dunia luar, kesadaran akan kerusakan hutan dan keperluan menjaga kelestarian demi kepentingan jangka panjang dan masyarakat luas muncul. Keperluan borjuis dan aristokrat Jerman juga menghasilkan kebijakan lingkungan yang berkelanjutan. Bagaimana manajemen pemerintahan 2 negara yang berbeda yang berbagi pulau yang sama menghasilkan luaran yang berbeda membuktikan bahwa faktor geografis tidak semata-mata menjadi faktor yang dominan dan tidak dapat dikendalikan.
Jared Diamond selalu memberikan pembahasan secara komprehensif dari berbagai sisi. Pembahasan dari sisi lingkungan sangat lengkap. Walaupun dalam membaca problem-problem yang ada juga menyadarkanku bahwa solusi-solusi yang ada saat ini belum dapat menyelesaikan problem free riders dan tragedi kepemilikan bersama.
April 15, 2023
Jared Diamond menganalisis berbagai faktor yang menyebabkan keruntuhan atau kejatuhan berbagai peradaban di masa lalu dan membahas implikasi dari temuan tersebut untuk keberlanjutan masyarakat manusia saat ini. Dia mencoba mencari pola atau tren dalam keruntuhan peradaban dari seluruh dunia, dan menjelaskan bahwa keruntuhan peradaban tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh gabungan beberapa faktor yang kompleks dan saling terkait.
Diamond mencatat bahwa faktor-faktor seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, kemerosotan sumber daya alam, ketidakseimbangan sosial, dan pengaruh manusia pada lingkungan telah berkontribusi pada keruntuhan peradaban masa lalu. Namun, Diamond juga menekankan bahwa faktor-faktor ini dapat dipengaruhi oleh keputusan manusia, dan bahwa upaya manusia untuk mengatasi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan dapat membantu mencegah keruntuhan peradaban pada masa depan.
Selain itu, Diamond juga menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membantu masyarakat manusia menghindari keruntuhan. Dia mencatat bahwa faktor-faktor seperti kerjasama antar negara, pemilihan pemimpin yang bijaksana, kebijakan yang berkelanjutan, dan pengembangan teknologi yang ramah lingkungan dapat membantu masyarakat manusia mengatasi tantangan yang dihadapi mereka.
Jika dalam buku sebelumnya (Besi, Kuman dan Baja) Diamond membahas faktor-faktor yang menyebabkan beberapa peradaban di dunia berkembang lebih cepat daripada yang lain, maka dalam buku ini, Diamond membahas faktor-faktor yang menyebabkan keruntuhan atau kejatuhannya.
Meskipun kedua buku tersebut memiliki fokus yang berbeda, namun keduanya sama-sama membahas sejarah dan perkembangan peradaban manusia dengan cara yang sistematis dan ilmiah, serta menekankan pentingnya pemahaman dan kesadaran manusia terhadap peran faktor-faktor lingkungan dan sejarah dalam menghadapi tantangan global.
Secara keseluruhan, buku ini memberikan pandangan yang sangat informatif dan terperinci tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan keruntuhan peradaban dan implikasinya bagi keberlanjutan masyarakat manusia saat ini. Diamond memperlihatkan betapa pentingnya kerjasama internasional dan tindakan bijaksana dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Catatan tambahan:
Gaya penulisan yang digunakan Diamond cenderung akademis, sangat terorganisir dan informatif. Diamond menggunakan data dan studi kasus yang luas untuk mendukung argumennya, namun gaya penulisannya tidak kaku atau kering. Sebaliknya, ia mengaitkan data dengan cerita yang menarik dan mudah dipahami, sehingga membuat bukunya mudah diikuti oleh pembaca yang tidak memiliki latar belakang akademis dalam bidang sejarah atau sosiologi.
Diamond mencatat bahwa faktor-faktor seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, kemerosotan sumber daya alam, ketidakseimbangan sosial, dan pengaruh manusia pada lingkungan telah berkontribusi pada keruntuhan peradaban masa lalu. Namun, Diamond juga menekankan bahwa faktor-faktor ini dapat dipengaruhi oleh keputusan manusia, dan bahwa upaya manusia untuk mengatasi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan dapat membantu mencegah keruntuhan peradaban pada masa depan.
Selain itu, Diamond juga menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membantu masyarakat manusia menghindari keruntuhan. Dia mencatat bahwa faktor-faktor seperti kerjasama antar negara, pemilihan pemimpin yang bijaksana, kebijakan yang berkelanjutan, dan pengembangan teknologi yang ramah lingkungan dapat membantu masyarakat manusia mengatasi tantangan yang dihadapi mereka.
Jika dalam buku sebelumnya (Besi, Kuman dan Baja) Diamond membahas faktor-faktor yang menyebabkan beberapa peradaban di dunia berkembang lebih cepat daripada yang lain, maka dalam buku ini, Diamond membahas faktor-faktor yang menyebabkan keruntuhan atau kejatuhannya.
Meskipun kedua buku tersebut memiliki fokus yang berbeda, namun keduanya sama-sama membahas sejarah dan perkembangan peradaban manusia dengan cara yang sistematis dan ilmiah, serta menekankan pentingnya pemahaman dan kesadaran manusia terhadap peran faktor-faktor lingkungan dan sejarah dalam menghadapi tantangan global.
Secara keseluruhan, buku ini memberikan pandangan yang sangat informatif dan terperinci tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan keruntuhan peradaban dan implikasinya bagi keberlanjutan masyarakat manusia saat ini. Diamond memperlihatkan betapa pentingnya kerjasama internasional dan tindakan bijaksana dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Catatan tambahan:
Gaya penulisan yang digunakan Diamond cenderung akademis, sangat terorganisir dan informatif. Diamond menggunakan data dan studi kasus yang luas untuk mendukung argumennya, namun gaya penulisannya tidak kaku atau kering. Sebaliknya, ia mengaitkan data dengan cerita yang menarik dan mudah dipahami, sehingga membuat bukunya mudah diikuti oleh pembaca yang tidak memiliki latar belakang akademis dalam bidang sejarah atau sosiologi.
May 26, 2026
- Diamond menulis collapse karena prihatin atas tanah kelahiranya di montana lebih tepatnya di lembah bitterroot
- Diamond juga ingin mengetahui bagaimana sebuah peradaban yang maju bisa tiba tiba lenyap dan hanya meninggalkan puing puing
- menurut Jared Diamond, runtuhnya sebuah peradaban adalah dimulai dari rusaknya lingkungan, lalu dari rusaknya lingkungan berlanjut pada perubahan iklim, kemudian serangan dari musuh atau pihak luar, dan lunturnya kerjasama ekonomi dari negara teman
- Diamon memberi contoh dari pulau paskah, yang awalnya kaya akan tumbuh tumbuhan dan pohob pohon besar kemudian terjadi penggundulan, mulai dari pembuatan kano hingga pembukaan lahan pertanian.
- Pulau paskah mengalami kemunduruan peradaban saat sumber makanan mulai menipis, akibatnya terjadi kanibalisme
- lalu ke bangsa Viking, bangsa yang terkenal bar bar juga mengalami kemunduran saat perubahan iklim dan kurangnya proses adaptasi. Bangsa viking mengira kehidupan di tanah baru sama seperti kehidupan di tanah lama, padalah tanah baru hewan ternak sulit untuk hidup, dan bangsa Viking tidak mau beradaptasi dengan makan makanan subtitusi seperti ikan, walrus dan anjing laut
- lalu suku maya, mereka musnah karena mereka menganggap sumber air tidak akan pernah habis, namun ketikan musim panas panjang banyak hasil pertanian yang gagal dan membuat penduduk suku maya berpindah, mereka yang mempertahankan tanah air justru mati kelaparan
- keruntuhan peradaban juga tidak serat merta dari kerusakan lingkungan dan perubahan iklim namun kebijakan politik juga sangat berpengaruh
- keruntuhan peradaban dapat diantisipasi dengan dimulai dari pendidikan, pendidikan berperan penting dalam sebuah peradaban, mengenalkan tentang edukasi terhadap lingkungan sedini mungkin, belajar tentang identifikasi hal hal yang berpotensi merusak lingkungan dan bahaya akan kerusakan alam
- dalam buku ini saya tidak menemukan hal hal yang perlu dikritisi, terlebih saya mendapatkan sebuah insight baru tentang dampak yang ditimbulkan akibat penggundulan hutan dan perusakan lingkungan, tidak hanya kenaikan suhu global, kerusakan lingkungan juga berpotensi menimbulkan kanibalisme akibat berkurangnya sumber makanan
- Diamond juga ingin mengetahui bagaimana sebuah peradaban yang maju bisa tiba tiba lenyap dan hanya meninggalkan puing puing
- menurut Jared Diamond, runtuhnya sebuah peradaban adalah dimulai dari rusaknya lingkungan, lalu dari rusaknya lingkungan berlanjut pada perubahan iklim, kemudian serangan dari musuh atau pihak luar, dan lunturnya kerjasama ekonomi dari negara teman
- Diamon memberi contoh dari pulau paskah, yang awalnya kaya akan tumbuh tumbuhan dan pohob pohon besar kemudian terjadi penggundulan, mulai dari pembuatan kano hingga pembukaan lahan pertanian.
- Pulau paskah mengalami kemunduruan peradaban saat sumber makanan mulai menipis, akibatnya terjadi kanibalisme
- lalu ke bangsa Viking, bangsa yang terkenal bar bar juga mengalami kemunduran saat perubahan iklim dan kurangnya proses adaptasi. Bangsa viking mengira kehidupan di tanah baru sama seperti kehidupan di tanah lama, padalah tanah baru hewan ternak sulit untuk hidup, dan bangsa Viking tidak mau beradaptasi dengan makan makanan subtitusi seperti ikan, walrus dan anjing laut
- lalu suku maya, mereka musnah karena mereka menganggap sumber air tidak akan pernah habis, namun ketikan musim panas panjang banyak hasil pertanian yang gagal dan membuat penduduk suku maya berpindah, mereka yang mempertahankan tanah air justru mati kelaparan
- keruntuhan peradaban juga tidak serat merta dari kerusakan lingkungan dan perubahan iklim namun kebijakan politik juga sangat berpengaruh
- keruntuhan peradaban dapat diantisipasi dengan dimulai dari pendidikan, pendidikan berperan penting dalam sebuah peradaban, mengenalkan tentang edukasi terhadap lingkungan sedini mungkin, belajar tentang identifikasi hal hal yang berpotensi merusak lingkungan dan bahaya akan kerusakan alam
- dalam buku ini saya tidak menemukan hal hal yang perlu dikritisi, terlebih saya mendapatkan sebuah insight baru tentang dampak yang ditimbulkan akibat penggundulan hutan dan perusakan lingkungan, tidak hanya kenaikan suhu global, kerusakan lingkungan juga berpotensi menimbulkan kanibalisme akibat berkurangnya sumber makanan
June 27, 2016
http://wahyuawaludin.com/freestyle/re...
Semenjak akhir 1990-an, saya mendengar pesan tentang perlu dijaganya lingkungan.
Namun, saat itu saya belum mengerti mengapa kita perlu benar-benar menjaga alam.
Ya, alam memang penting, tapi apa perlu sampai dibuat movement yang sebegitu seriusnya?
Beberapa waktu kemudian, berkat baca ini-itu dan belajar lebih jauh, saya mulai bersimpati dengan gerakan perlindungan lingkungan dan slogan Back to Nature.
Namun, pemahaman itu semua langsung naik ke tingkat level benar-benar baru setelah saya membaca buku Collapse ini.
Jared Diamond berhasil memaparkan dengan sangat baik tentang pengaruh kerusakan alam terhadap runtuhnya peradaban-peradaban manusia di masa lalu.
Dengan studi gabungan antara antropologi, geografi, arkeologi, dan studi ilmu sosial dan sains plus ditambah kemampuan storytelling, tampaknya Jared mampu mencekam banyak manusia di planet ini.
Kita sedang menuju keruntuhan.
Dan mengerikannya, itu sudah terjadi di banyak peradaban masa lalu.
Dalam menuju keruntuhan peradaban itu, beberapa masyarakat melakukan hal-hal yang cukup mengerikan.
Dalam kasus di Pulau Paskah, para penguasa suku – alih-alih melakukan kajian mendalam dan melakukan perbaikan – malah terseret ke perang antar suku dan saling berlomba membangun patung Moai yang lebih besar.
Mereka berharap dengan membangun patung Moai yang lebih besar, dewa akan senang dan makanan pun akan turun kepada mereka. Padahal, justru pembangunan patung Moai itulah yang menghabiskan banyak sumber daya pulau Paskah.
Misalnya juga kasus di suku Navajo ataupun Pulau Pitcairn. Mereka kehabisan makanan karena lingkungan mereka sudah hancur.
Namun, tentu saja mereka tetap butuh makan. Lalu, apa yang mereka lakukan? Mereka masuk ke tahap kanibalisme.
Mereka saling menyerang, menggedor benteng-benteng pertahanan, membantai semua orang yang ada di dalam, mematahkan tulang belakang mereka, menyesap sumsum orang-orang malang itu, kemudian merebus dagingnya.
Penuturan yang dilakukan Jared memang mencengangkan – kalau tidak mau disebut memuakkan. Dahulu, kita dibuat percaya bahwa masyarakat masa lalu adalah kumpulan orang penuh kasih sayang yang suka menjaga alam – manusia modern lah yang brengsek.
Kenyataannya, tidak semuanya begitu. Ada juga kaum-kaum masa lalu yang serakah sampai menghancurkan lingkungan mereka dan akhirnya menghancurkan diri mereka sendiri juga.
Ada banyak jenis kerusakan alam yang dicatat oleh Jared, diantaranya adalah sebagai berikut:
Penggundulan hutan dan perusakan habitat
Masalah tanah (erosi, kerugian salinisasi, dan kesuburan tanah)
Masalah pengelolaan air
Perburuan berlebihan
Ekploitasi makhluk laut berlebihan
Efek dari diperkenalkannya spesies baru pada spesies asli daerah tersebut. Misalnya, ada banyak tikus datang ke pulau terpencil dan memangsa banyak hewan lokal sampai punah.
Overpopulasi
Meningkatkan dampak per-kapita orang. Maksudnya, dengan meningkatnya populasi, maka kontribusi limbah dan laju kerusakan lingkungan juga meningkat drastis. Peran seseorang dalam merusak lingkungan juga semakin besar.
Selain pengaruh lingkungan, ada juga sebab yang lain yang diutarakan oleh Jared walaupun ditulis selintas lalu saja, misalnya:
Reaksi masyarakat di masa itu terhadap lingkungan mereka yang rusak
Berkurangnya dukungan dari negara sahabat
Serangan dari negara musuh
Perubahan iklim.
Begitu mengerikannya dampak kerusakan lingkungan sehingga bisa meruntuhkan sebuah peradaban.
Dan uniknya, ini tidak hanya terjadi di peradaban kecil atau terpencil seperti di Pulau Paskah, bahkan ini bisa terjadi juga kepada peradaban maju di zamannya. Contoh terbaik dalam hal ini adalah suku Maya.
Di sisi yang lain, Jared juga menuturkan kisah tentang peradaban-peradaban yang mampu melewati krisis lingkungan seperti Jepang pada zaman Tokugawa dan Dominika modern.
Pada saat itu, Jepang membuat peraturan yang luar biasa ketat soal reboisasi hutan. 300 tahun berselang, saat ini, kebijakan itu menuai hasil. Daratan Jepang tertutup oleh hutan dan menjadi salah satu negara yang persentase hutannya sangat besar.
Dominika lain cerita. Di masa presiden Balaguer, terjadi pemeliharaan lingkungan dengan metode yang cukup kontroversial. Balaguer sendiri adalah dikator kejam, tapi urusan lingkungan, tampaknya ia tidak main-main.
Ia tidak segan-segan menghukum para pembalak liar, melindungi hutan nasional. Ia seringkali mengirim militer untuk menghancurkan pabrik-pabrik pembalakan liar, tidak peduli walaupun itu dikelola oleh teman-temannya sendiri sesama politikus busuk.
Ia pernah mengirim puluhan helikopter dan membantai para pembalak liar, ia pernah memanggil jenderal-jenderal yang tidak suka dengan kebijakan lingkungannya sampai jenderal-jenderal itu kencing di celana, bahkan ia tak segan mengusir pemukiman liar yang didirikan orang miskin di hutan lindung. Namun, uniknya, ia juga cukup adil dengan membuldozer resort-resort mewah bila tak memiliki izin lingkungan.
Singkatnya, kebijakan tangan besi dan diktator itulah yang akhirnya cukup bisa menahan laju kerusakan lingkungan di Dominika. Bahkan, mereka tengah melakukan reboisasi besar-besaran.
Buku ini begitu bagus. Saya akan mengganjar 5/5 bintang -kamu perlu membacanya.
Di satu sisi, ada banyak kritik terhadap buku ini. Misalnya, Jared tidak memperhitungkan hal lain seperti perbudakan, pengaruh penguasa yang zalim, masyarakat kaya yang berfoya-foya dan tidak pedulian, ataupun faktor lainnya.
Bisa jadi Jared tidak menyinggung hal-hal di atas karena ia memang profesor sejarah peradaban yang terkait dengan lingkungan.
Lagipula, bukti arkeologis yang ditemukan masih begitu sedikit. Adalah lebih mudah mendeteksi pengaruh perubahan iklim di sebuah masyarakat dibanding struktur masyarakat tersebut di waktu tertentu.
Sebab, tidak semua masyarakat meninggalkan catatan tertulis. Sementara itu, perubahan iklim sebuah daerah bisa dibaca melalui cincin pohon ataupun teknik radiokarbon.
Kritik lainnya adalah buku ini bertele-tele. Ada banyak penjelasan detail yang sebenarnya tidak penting-penting amat buat pembaca. Misalnya keterangan detail dan ilmiah tentang sebuah daerah sekaligus penuturan lingkungan yang melelahkan.
Saya pribadi seperti merasa membaca buku lingkungan, bukan buku tentang sejarah peradaban.
Walaupun banyak cerita yang jadi begitu panjang dan kadang membosankan, secara keseluruhan buku ini wajib dibaca.
Siap-siap kopi dan obat sakit kepala kalau kamu sudah tidak tahan dengan penuturan buku ini.
Semenjak akhir 1990-an, saya mendengar pesan tentang perlu dijaganya lingkungan.
Namun, saat itu saya belum mengerti mengapa kita perlu benar-benar menjaga alam.
Ya, alam memang penting, tapi apa perlu sampai dibuat movement yang sebegitu seriusnya?
Beberapa waktu kemudian, berkat baca ini-itu dan belajar lebih jauh, saya mulai bersimpati dengan gerakan perlindungan lingkungan dan slogan Back to Nature.
Namun, pemahaman itu semua langsung naik ke tingkat level benar-benar baru setelah saya membaca buku Collapse ini.
Jared Diamond berhasil memaparkan dengan sangat baik tentang pengaruh kerusakan alam terhadap runtuhnya peradaban-peradaban manusia di masa lalu.
Dengan studi gabungan antara antropologi, geografi, arkeologi, dan studi ilmu sosial dan sains plus ditambah kemampuan storytelling, tampaknya Jared mampu mencekam banyak manusia di planet ini.
Kita sedang menuju keruntuhan.
Dan mengerikannya, itu sudah terjadi di banyak peradaban masa lalu.
Dalam menuju keruntuhan peradaban itu, beberapa masyarakat melakukan hal-hal yang cukup mengerikan.
Dalam kasus di Pulau Paskah, para penguasa suku – alih-alih melakukan kajian mendalam dan melakukan perbaikan – malah terseret ke perang antar suku dan saling berlomba membangun patung Moai yang lebih besar.
Mereka berharap dengan membangun patung Moai yang lebih besar, dewa akan senang dan makanan pun akan turun kepada mereka. Padahal, justru pembangunan patung Moai itulah yang menghabiskan banyak sumber daya pulau Paskah.
Misalnya juga kasus di suku Navajo ataupun Pulau Pitcairn. Mereka kehabisan makanan karena lingkungan mereka sudah hancur.
Namun, tentu saja mereka tetap butuh makan. Lalu, apa yang mereka lakukan? Mereka masuk ke tahap kanibalisme.
Mereka saling menyerang, menggedor benteng-benteng pertahanan, membantai semua orang yang ada di dalam, mematahkan tulang belakang mereka, menyesap sumsum orang-orang malang itu, kemudian merebus dagingnya.
Penuturan yang dilakukan Jared memang mencengangkan – kalau tidak mau disebut memuakkan. Dahulu, kita dibuat percaya bahwa masyarakat masa lalu adalah kumpulan orang penuh kasih sayang yang suka menjaga alam – manusia modern lah yang brengsek.
Kenyataannya, tidak semuanya begitu. Ada juga kaum-kaum masa lalu yang serakah sampai menghancurkan lingkungan mereka dan akhirnya menghancurkan diri mereka sendiri juga.
Ada banyak jenis kerusakan alam yang dicatat oleh Jared, diantaranya adalah sebagai berikut:
Penggundulan hutan dan perusakan habitat
Masalah tanah (erosi, kerugian salinisasi, dan kesuburan tanah)
Masalah pengelolaan air
Perburuan berlebihan
Ekploitasi makhluk laut berlebihan
Efek dari diperkenalkannya spesies baru pada spesies asli daerah tersebut. Misalnya, ada banyak tikus datang ke pulau terpencil dan memangsa banyak hewan lokal sampai punah.
Overpopulasi
Meningkatkan dampak per-kapita orang. Maksudnya, dengan meningkatnya populasi, maka kontribusi limbah dan laju kerusakan lingkungan juga meningkat drastis. Peran seseorang dalam merusak lingkungan juga semakin besar.
Selain pengaruh lingkungan, ada juga sebab yang lain yang diutarakan oleh Jared walaupun ditulis selintas lalu saja, misalnya:
Reaksi masyarakat di masa itu terhadap lingkungan mereka yang rusak
Berkurangnya dukungan dari negara sahabat
Serangan dari negara musuh
Perubahan iklim.
Begitu mengerikannya dampak kerusakan lingkungan sehingga bisa meruntuhkan sebuah peradaban.
Dan uniknya, ini tidak hanya terjadi di peradaban kecil atau terpencil seperti di Pulau Paskah, bahkan ini bisa terjadi juga kepada peradaban maju di zamannya. Contoh terbaik dalam hal ini adalah suku Maya.
Di sisi yang lain, Jared juga menuturkan kisah tentang peradaban-peradaban yang mampu melewati krisis lingkungan seperti Jepang pada zaman Tokugawa dan Dominika modern.
Pada saat itu, Jepang membuat peraturan yang luar biasa ketat soal reboisasi hutan. 300 tahun berselang, saat ini, kebijakan itu menuai hasil. Daratan Jepang tertutup oleh hutan dan menjadi salah satu negara yang persentase hutannya sangat besar.
Dominika lain cerita. Di masa presiden Balaguer, terjadi pemeliharaan lingkungan dengan metode yang cukup kontroversial. Balaguer sendiri adalah dikator kejam, tapi urusan lingkungan, tampaknya ia tidak main-main.
Ia tidak segan-segan menghukum para pembalak liar, melindungi hutan nasional. Ia seringkali mengirim militer untuk menghancurkan pabrik-pabrik pembalakan liar, tidak peduli walaupun itu dikelola oleh teman-temannya sendiri sesama politikus busuk.
Ia pernah mengirim puluhan helikopter dan membantai para pembalak liar, ia pernah memanggil jenderal-jenderal yang tidak suka dengan kebijakan lingkungannya sampai jenderal-jenderal itu kencing di celana, bahkan ia tak segan mengusir pemukiman liar yang didirikan orang miskin di hutan lindung. Namun, uniknya, ia juga cukup adil dengan membuldozer resort-resort mewah bila tak memiliki izin lingkungan.
Singkatnya, kebijakan tangan besi dan diktator itulah yang akhirnya cukup bisa menahan laju kerusakan lingkungan di Dominika. Bahkan, mereka tengah melakukan reboisasi besar-besaran.
Buku ini begitu bagus. Saya akan mengganjar 5/5 bintang -kamu perlu membacanya.
Di satu sisi, ada banyak kritik terhadap buku ini. Misalnya, Jared tidak memperhitungkan hal lain seperti perbudakan, pengaruh penguasa yang zalim, masyarakat kaya yang berfoya-foya dan tidak pedulian, ataupun faktor lainnya.
Bisa jadi Jared tidak menyinggung hal-hal di atas karena ia memang profesor sejarah peradaban yang terkait dengan lingkungan.
Lagipula, bukti arkeologis yang ditemukan masih begitu sedikit. Adalah lebih mudah mendeteksi pengaruh perubahan iklim di sebuah masyarakat dibanding struktur masyarakat tersebut di waktu tertentu.
Sebab, tidak semua masyarakat meninggalkan catatan tertulis. Sementara itu, perubahan iklim sebuah daerah bisa dibaca melalui cincin pohon ataupun teknik radiokarbon.
Kritik lainnya adalah buku ini bertele-tele. Ada banyak penjelasan detail yang sebenarnya tidak penting-penting amat buat pembaca. Misalnya keterangan detail dan ilmiah tentang sebuah daerah sekaligus penuturan lingkungan yang melelahkan.
Saya pribadi seperti merasa membaca buku lingkungan, bukan buku tentang sejarah peradaban.
Walaupun banyak cerita yang jadi begitu panjang dan kadang membosankan, secara keseluruhan buku ini wajib dibaca.
Siap-siap kopi dan obat sakit kepala kalau kamu sudah tidak tahan dengan penuturan buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
July 11, 2020
Jared menyatakan dalam bukunya bahwa umat manusia -kita- sedang bertaruh dalam dua pacuan kuda. Kuda yang pertama melaju dengan kecepatan yang eksponensial yang direpresentasikan dengan berbagai krisis abad 21 yang berjalin kelindan -krisis ekologis, over populasi, berbagai penyakit mematikan-. Sementara kuda kedua melaju dengan kecepatan eksponensial juga yang direpresentasikan dengan upaya-upaya umat manusia dalam merespons krisis-krisis tersebut.
Absurd rasanya, buku terbitan 2005 ini setelah 15 tahun berlalu masih sangat intim sekali dengan kehidupan keseharian kita dalam memandang dunia hari-hari ini.
Jared, saya pikir dengan daya naratifnya berhasil mengajak pembaca untuk kembali menilik bagaimana sejarah dunia dan bangsa-bangsa runtuh sebagai bahan refleksi kita hari-hari ini.
Absurd rasanya, buku terbitan 2005 ini setelah 15 tahun berlalu masih sangat intim sekali dengan kehidupan keseharian kita dalam memandang dunia hari-hari ini.
Jared, saya pikir dengan daya naratifnya berhasil mengajak pembaca untuk kembali menilik bagaimana sejarah dunia dan bangsa-bangsa runtuh sebagai bahan refleksi kita hari-hari ini.
September 23, 2026
Kesan pertama yang muncul di benak saya adalah sepertinya saya tidak mungkin menghabiskan buku ini karena saking tebalnya. Tapi ternyata saya salah hehehe. Sekali lagi saya sangat menyukai cara penulisan Jared Diamond di setiap buku-bukunya. Saya seolah dibawa ke berbagai peradaban populer dan bahkan maju untuk diajak mengidentifikasi bagaimana interaksi masyarakatnya, kebijaksanaan dari peradaban tersebut, bagaimana cara mereka bertahan hidup, dan banyak sekali hal yang menarik untuk digali. Namun semua peradaban berakhir sama yaitu kepunahan, kehancuran dan kegagalan. Banyak faktor yang menyebabkan peradaban tersebut mengalami down fall, silakan dibaca xoxo
July 8, 2023
Read using Noice
Masih mengambil beberapa pelajaran dari Papua. Saran Penulis agar suatu negara/masyarakat tidak kolaps: rencanakan dan laksanakan pemeliharaan lingkungan, dan pertahankan nilai-nilai yang diperlukan.
Masih mengambil beberapa pelajaran dari Papua. Saran Penulis agar suatu negara/masyarakat tidak kolaps: rencanakan dan laksanakan pemeliharaan lingkungan, dan pertahankan nilai-nilai yang diperlukan.
October 24, 2018
Pembahasan sejarah yang dalam tapi tidak luas
October 31, 2021
Buku kedua dari seri ini memang masih membahas sedikit aspek di buku sebelumnya.
September 22, 2026
Penambah suplemen topik pelajaran sejarah tentang Peradaban Dunia Kuno. Penerjemahannya enak dibaca dan gak pusing.
November 21, 2021
Collapse membahas tentang keruntuhan beberapa peradaban di beberapa bagian dunia. Sudut pandang yang diambil Jared Diamond di buku ini lebih spesifik, nggak se-helicopter view seperti di Guns, Germs & Steel. Jared Diamond selalu menekankan untuk melestarikan lingkungan dan mempertimbangkan dampak jangka panjang dalam setiap tindakan manusia dan kebijakan pemerintahan. Hal ini agar keruntuhan tidak terjadi kepada kita, terlebih keruntuhan yang cara-caranya tidak kita inginkan. Di era modern ini, kita punya kesempatan belajar dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang jauh dari kita dan orang-orang di masa lalu melalui teknologi yang ada di sekitar dan di dalam genggaman kita. Ini adalah kesempatan yang nggak dimiliki sama masyarakat di masa lalu.
Selengkapnya: https://aprilendah.blogspot.com/2021/...
Selengkapnya: https://aprilendah.blogspot.com/2021/...
October 23, 2007
Menemukan judul buku ini di salah satu cerpen Agus Noor. Persisnya, yang berjudul Sirkus. Wah, jadi semakin penasaran sama buku-buku Jared Diamond.
March 24, 2009
akhirnya dapat juga nih buku, maklum susah nyarinya, di amazon.com dan situs jual buku lainnya di internet sangat mahal hehehe... hari keberuntungan...
Displaying 1 - 16 of 16 reviews

















