Jump to ratings and reviews
Rate this book

Life Lessons: Two Experts on Death and Dying Teach Us About the Mysteries of Life and Living

Rate this book
Ten years after Elisabeth Kübler-Ross’s “An inspiring…guide to life, distilled from the experiences of people who face death” ( Kirkus Reviews )—the beloved classic now with a new introduction and updated resources section.

Is this really how I want to live my life?
Each one of us at some point asks this question. The tragedy is not that life is short but that we often see only in hindsight what really matters.
In this, her first book on life and living, Elisabeth Kubler-Ross joins with David Kessler to guide us through the practical and spiritual lessons we need to learn so that we can live life to its fullest in every moment. Many years of working with the dying have shown the authors that certain lessons come up over and over again. Some of these lessons are enormously difficult to master, but even the attempts to understand them can be deeply rewarding. Here, in fourteen accessible chapters, from the Lesson of Love to the Lesson of Happiness, the authors reveal the truth about our fears, our hopes, our relationships, and, above all, about the grandness of who we really are.

224 pages, Paperback

First published January 1, 1972

Loading...
Loading...

About the author

Elisabeth Kübler-Ross

131 books1,773 followers
Elisabeth Kübler-Ross was a Swiss-American psychiatrist, a pioneer in near-death studies, and author of the internationally best-selling book, On Death and Dying (1969), where she first discussed her theory of the five stages of grief, also known as the "Kübler-Ross model".
Kübler-Ross was a 2007 inductee into the National Women's Hall of Fame, was named by Time as one of the "100 Most Important Thinkers" of the 20th century and was the recipient of twenty honorary degrees. By July 1982, Kübler-Ross had taught 125,000 students in death and dying courses in colleges, seminaries, medical schools, hospitals, and social-work institutions. In 1970, she delivered an Ingersoll Lecture at Harvard University on the theme On Death and Dying. The New York Public Library also named, "On Death & Dying" as one of the "Library's Books of the Century."

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1,447 (49%)
4 stars
916 (31%)
3 stars
417 (14%)
2 stars
86 (2%)
1 star
34 (1%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for Shanifiction.
232 reviews70 followers
November 13, 2022
Apakah kalian Army? Buku ini dibaca oleh Yoongi dan Jungkook member BTS loh.. 👀

Life Lessons ini buku nonfiksi - self improvement. Jadi penulisnya mewawancari orang-orang yang berada di ambang kematian. Dari pengalaman mereka itu kita bisa belajar banyak hal tentang kehidupan seperti cinta, kehilangan, kekuatan, rasa bersalah, amarah dll.

Buku ini dibagi ke dalam 14 bab. Setiap babnya membantu aku dalam berpikir lagi mengenai hal-hal tertentu mengenai kehidupan.

Aku juga belajar banyak banget dari buku ini, yang bikin ngena karena di tiap bab ada pengalaman dari orang-orang yang udah di ambang kematian mengenai topik itu.

Gimana ternyata dipenghujung hidup banyak hal-hal yang disesali dan berharap waktu masih sehat/muda dulu bisa berpikir/melakukan hal yang nggak dilakukan.

Nyampe banyak banget hal yang aku tandai di buku ini. Kalau suatu hari nanti aku lagi down atau ngerasa butuh diingatkan kembali, tinggal buka lagi buku ini aja sesuai topik yang cocok. 🤧

Aku belum banyak baca buku self improvement, tapi menurut aku ini termasuk yang paket komplit sih karena nggak fokus di satu topik aja. Makanya aku suka bangeet.

Kalau misalkan kalian memang lagi butuh buku self improvement aku rekomendasikan buku ini buat kalian baca!

Biar kalian yakin cocok atau nggak sama bukunya, cek aja kutipan-kutipan yang aku bagikan di postingan ini https://www.instagram.com/p/Ca9mg8UrGwm/
Aku kasih liat juga 14 bab tuh tentang apa aja.
Profile Image for Jess.
609 reviews144 followers
April 20, 2022
Buku ini mengambil beberapa pengalaman dari orang-orang yang berada di waktu-waktu terakhir hidup mereka, ditulis oleh 2 orang, yang masing -masingnya merupakan dokter dan ahli psikolog, buku ini menunjukkan bukan hanya tentang pasien-pasien mereka tapi juga berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Mengingatkan kepada kita ada hal-hal yang sebaiknya menjadi titik fokus kita sebelum semuanya terlambat, perjalanan-perjalanan kehidupan yang begitu berharga dan kadang sering diremehkan oleh orang lain.

Recommend bagi kita semua yang masih dalam pencarian jati diri, masih hidup dengan penuh penyesalan, yang masih wondering tentang apakah kita sudah merasakan kebahagiaan atau belum
Profile Image for Priskylla Anindya.
21 reviews
January 31, 2023
📚📖Buku ini menjadi salah satu buku yang berada di TBRku, selain karena buku ini sempat menjadi trend di kalangan booktok dan bookstagram, buku ini juga dibaca oleh Yoongi dan Jungkook BTS🐈‍⬛🐇. Well, Elisabeth Kübler-Ross bukanlah nama yang asing bagi mahasiswa Psikologi karena beliau yang menciptakan salah satu teori terkenal berkaitan dengan kedukaan, yaitu Five Stages of Grief. Buku ini juga tidak jauh-jauh dari kisah tentang kedukaan, bagaima orang-orang yang berduka itu mengatasi dukacitanya, juga bagaimana pandangan Elisabeth dan David mengenai perasaan duka tersebut. As I said before, referensi buku bacaan BTS itu berbobot dan kontennya berat, nah begitupun dengan Life Lessons ini💜. Aku butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan keseluruhan buku ini, selain karena kontennya yang berat, ada beberapa bagian yang membuatku merasa tidak nyaman dan beberapa kali aku harus mengambil jeda. Tapi, sesuai dengan judul bukunya, banyak banget pelajaran berharga tentang kehidupan yang bisa aku dapatkan sewaktu membaca Life Lessons🌱🌿

Buku ini dibagi ke dalam beberapa poin penting, yaitu love, authenticity, fear, play, surrender, forgiveness, happiness, relationships, loss, power, guilt, time, anger, dan patience.

❤️💞Love membahas mengenai bagaimana cinta, kedamaian hidup, dan rasa syukur menjadi harta tak ternilai yang dimiliki individu. Individu dapat memiliki kekuatan ketika individu tersebut memiliki cinta, kedamaian, dan rasa syukur. Poin kedua adalah authenticity yang membahas mengenai bagaimana individu melihat dirinya, melihat diri orang lain yang sesungguhnya, dirinya dan diri orang lain yang apa adanya. Karena kehidupan kita adalah kehidupan yang berharga. Life is about being, not doing. Poin ketiga dari buku ini mengenai rasa takut (fear), rasa takut adalah hal yang wajar dan normal dalam hidup ini, terutama rasa takut akan kegagalan. Tapi pada poin ini aku belajar bahwa kadangkala rasa takut yang aku rasakan itu bukan untuk melindungiku, tapi lebih kepada menahanku untuk berada di zona aman. Satu hal yang aku sadari adalah waktu yang aku miliki itu terbatas dan aku harus belajar untuk berani keluar dari comfort zone, it’s okay kalau mencoba dan gagal, itu tidak berarti kisahku berhenti ketika mengalami kegagalan. Poin berikutnya adalah play, iya play bermain. Pada bagian ini aku diingatkan untuk sedikit bersantai dan menikmati hidup karena terkadang yang kita butuhkan adalah hal-hal sederhana seperti bernyanyi, menari, berenang, memasak, bermain games, atau melakukan kesukaan yang lainnya tanpa memikirkan itu akan membuang waktu yang berharga. Poin berikutnya adalah tentang surrender, surrender di dalam buku ini berarti berserah ya bukan menyerah. Aku diingatkan untuk belajar berserah, aku mengerjakan bagianku sebaik mungkin, sisanya kuserahkan pada Tuhan dan semesta. Karena terkadang memang ada hal-hal yang tidak akan bisa kita kendalikan bagaimanapun kita berusaha melakukannya. Poin berikutnya adalah tentang forgiveness, bagian ini cukup berat buatku karena memang ada pengalaman yang membuatku semakin teringat akan proses memaafkan. Melalui bagian forgiveness ini aku belajar bahwa ketika kita memaafkan, itu bukan untuk orang lain melainkan untuk ketenangan dan kebahagiaan diri kita, memaafkan adalah cara untuk sembuh dan menjadi utuh. Aku juga belajar untuk melihat bahwa mungkin saja sebenarnya orang yang melukaiku itu tidak sengaja melakukannya, hanya saja memang dia sedang berada dalam kondisi yang tidak baik atau dia juga pernah terluka dan belum sembuh dari lukanya. Akupun juga pasti pernah berada pada posisi tersebut, aku tidak ingin menyakiti orang lain, tapi secara tidak sadar aku melakukannya karena aku belum selesai dengan luka di masa laluku. That’s why we need to learn how to forgive, right? Tapi sebelum kita memutuskan untuk memaafkan orang lain yang bersalah pada kita, kita harus belajar untuk memaafkan dan menerima diri ini atas apapun yang telah terjadi. Ada beberapa kalimat yang aku suka dan memberikanku insight, “If we were perfect, we won’t be here at all. And the only way to learn to forgive ourselves is to make a few mistakes. We did what we did because we’re human. If we did something so terrible that we can’t forgive ourselves, we can always give it to God to handle. We can say “God, I cant forgive myself yet. Can you forgive me and help me find forgiveness in myself?” Remember that forgiveness isn’t a once-in-a-lifetime task, it’s ongoing. It’s our spiritual maintenance plan. Forgiveness helps keep us at peace and in touch with love. Our only task is to try to open our hearts again.” Sewaktu membaca kalimat-kalimat tersebut aku diingatkan lagi untuk terus belajar memaafkan diriku dan ketika aku tidak mampu melakukannya, aku bisa meminta pertolongan Tuhan untuk memampukanku melakukannya. Why? Because He forgave me first and He’ll do it again and again. Kalau Tuhan saja memaafkanku berkali-kali, mengapa aku tidak bisa melakukannya terhadap diriku dan orang lain yang menyakitiku? Seriously, sewaktu mebaca bagian forgiveness ini rasanya seperti mendapat banyak nasihat dan dukungan, meskipun bagian ini juga banyak membuatku tidak nyaman. Berikutnya adalah tentang happiness, kebahagiaan. Tidak ada individu yang tidak ingin merasakan kebahagiaan, tapi terkadang kita bisa saja merasa bersalah atau takut saat bahagia. Ada satu kalimat sederhana di dalam buku ini yang membuat hatiku hangat ketika membacanya, “we feel guilty being happy, and we wonder how we can strive to be happy when so many people are less fortunate than we are. Or, as someone blatanly put it, “why shoould you be happy?” The answer is that you’re God’s precious child. You were meant to enjoy all the wonders around you.” Sederhananya, Tuhan mau kita bahagia karena kita anak-Nya, karena kita berharga untuk-Nya, dan memang kita ada untuk menikmati keajaiban yang ada di sekitar kita. Aku juga belajar bahwa happiness bukanlah tentang suatu hal atau suatu kejadian tertentu yang terlihat bisa mendatangkan kebahagiaan. Kita adalah penentu dari kebahagiaan itu, bukan hal-hal di sekitar kita.

💕❣️Bagian berikutnya adalah persoalan relationships, pada bagian ini aku diingatkan kembali untuk tidak memberikan tanggungjawab kepada orang lain untuk membuatku bahagia, membuatku merasa aman, dan membuatku merasa utuh karena memang itu bukanlah tanggungjawab mereka. Berada dalam relationships tidak akan membuat kita sembuh dari luka-luka di masa lalu, jadi jangan berharap bahwa orang-orang itu akan menyembuhkan atau membuat kita utuh. Kita harus menemukan perasaan utuh dan lengkap di dalam diri sendiri, karena itu sebelum memulai sebuah hubungan kita harus memastikan bahwa diri kita sudah pulih dari luka masa lalu, sudah bahagia dan merasa utuh sebagai individu. Kalau kita tidak bahagia saat sendiri, kita juga tidak akan bahagia saat menjalin hubungan romantis. Berikutnya adalah mengenai loss atau kehilangan, Elisabeth menjelaskan bahwa ada 5 tahapan yang biasanya dilalui ketika seseorang mengalami kehilangan: denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Dari bagian ini, aku belajar bahwa setiap emosi yang dirasakan individu itu valid dan it’s okay untuk merasakan emosi-emosi itu. It’s okay ketika kehilangan lalu kemudian kita measa hampa, tidak berdaya, tidak berharga, marah, takut, sedih, kecewa, ataupun perasaan-perasaan negatif lainnya, karena untuk merasakan healing itu bukanlah sesuatu yang instan. Terkadang healing terasa seperti menaiki rollercoaster, terkadang kita merasa utuh lalu kemudian bisa saja tiba-tiba merasa putus asa, terkadang bisa saja terlihat progress yang begitu baik namun setelahnya kita merasa tidak berharga dan seperti kembali di awal kita memulai healing tersebut. It’s okay, that’s healing. You’ll heal, we’ll heal. We may not get back what we’ve lost, but we can heal. Poin berikutnya yang dibahas dalam buku ini adalah tentang kekuatan atau power, kadangkala ketika kita tidak mampu melakukan atau mengatasi sesuatu hal, kita merasa tak berdaya dan tidak memiliki kekuatan apapun. Tapi dari bagian ini, aku belajar bahwa kekuatan yang kita miliki tidaklah berasal dari kedudukan atau posisi, banyaknya materi, atau karir yang menarik. Kekuatan kita adalah ketika kita menjadi autentik, memiliki kejujuran dan integritas, serta menunjukkan kasih kepada orang di sekitar kita. Berikutnya adalah mengenai guilt atau rasa bersalah yang pasti pernah dirasakan oleh setiap orang. Di buku ini dijelaskan bahwa salah satu akar dari guilt adalah unhappy self-judgment yang biasanya diajarkan dari kita kecil, misalnya seperti kita diajarkan untuk selalu menjadi anak yang baik seperti harapan kebanyakan orang, tapi ketika kita dewasa dan tidak bisa menjadi anak yang baik sesuai dengan harapan, kita akan merasa gagal dan merasa bersalah. It’s okay ketika kita merasa bersalah, tapi rasa bersalah itu perlu diproses. “We can confess our feelings of guilt. When we confess, we release the burden of the secret and often encounter the grace of knowing that we’re loved by a power greater than ourselves. We can also learn that we’re still worthy of love from others. The key of healing is forgiveness. Forgiveness means acknowledging the past and letting it go. Anything that you think you’re guilty of can be cleaned and purified with forgiveness. You’ve been hard on others your whole life, and you’ve been even harder on yourself. Now, it’s time to release all these judgments. As a holy child of God, you don’t deserve to be punished. Once you forgive yourself and others, the guilt is no longer yours to keep. We don’t deserve guilt, we deserve forgiveness. When we learn this lesson, we’re truly free. Poin berikutnya adalah mengenai waktu atau time, aku belajar untuk menghargai waktu karena waktu yang kumiliki itu terbatas. Aku juga diingatkan bahwa hal-hal di masa lalu bukanlah rantai yang mengikat kita dan kita bisa menjadi pribadi baru yang lebih baik jika kita fokus pada masa sekarang. Berikutnya adalah mengenai anger, amarah itu emosi yang normal dan wajar dialami individu. Kita perlu mengekspresikan amarah dengan cara yang tepat dan bijaksana karena jika tidak diekspresikan dengan cara tepat atau amarah itu ditekan, amarah tersebut dapat menjadi masalah yang tidak terselesaikan dan akan menjadi semakin besar di kemudian hari. Bagian terakhir dari buku ini adalah mengenai patience, kesabaran. Well, talking about patience pasti bukanlah hal yang mudah karena dalam kehidupan kita diperhadapkan dengan banyak hal yang menghabiskan kesabaran kita. Tapi dari bagian ini aku perlu belajar bahwa jika sesuatu tidak bisa dirubah, aku perlu melihatnya bukan sebagai sesuatu hal yang “broken”, tapi aku perlu belajar untuk memiliki keyakinan di dalam setiap proses menghadapi hal-hal yang belum terungkap. Karena di dalam keyakinan yang kita miliki, tidak ada pengalaman yang sia-sia. Kita juga perlu mengingat bahwa Tuhan dan semesta tidak hanya bekerja di dalam situasi, tetapi juga di dalam kita.

🔥✨In the end, memang tidak mudah untuk menyelesaikan buku ini karena konten yang dibahas memang berat, mengenai kehidupan, permasalahan-permasalahan hidup, bahkan hingga kematian. Tapi menurutku buku ini bagus banget untuk berefleksi tentang kehidupan bukan hanya dari pandangan Elisabeth dan David, tetapi juga dari cerita hidup yang dituliskan dalam buku ini. Aku jadi penasaran gimana pendapat Yoongi dan Jungkook saat mereka berdua membaca buku ini? Gimana pandangan dan cara mereka menghadapi masalah-masalah hidup? Gimana pandangan mereka mengenai penyakit dan kematian? Ah rasanya ingin sekali mengajak dua manusia itu berdiskusi, pasti bakalan banyak banget dapat insight dan pandangan yang baru👀👀
Profile Image for Hani.
36 reviews
January 12, 2023
Adalah penting bagi kita untuk mengetahui esensi dari kehidupan. Apakah untuk sekedar ajang memenuhi mimpi-mimpi, lantas apa yang kamu lakukan ketika semua mimpimu terpenuhi?
No! Hidup adalah tentang hidup, menjalani semuanya dengan seksama ‘nyata’.

Sering kali kita mengharapkan kehidupan berjalan dengan mulus tanpa jatuh. Itu bukan hidup yang sebenarnya. Berterimakasihlah pada dirimu yang masih bertahan hingga kini dibalik perjuangan yang tak terhitung, kamu hebat!

Life Lesson, sesuai dengan artinya pelajaran kehidupan. Buku ini membawamu untuk mengeksplorasi makna kehidupan yang sesungguhnya melalui sudut pandang pasien-pasien yang sekarat.

“Apakah kamu baru benar-benar hidup ketika kamu akan mati?” Ofc, semua orang tak menginginkan ini. Tapi, tanyakan kembali, apakah kamu telah benar-benar hidup sekarang?

Salah satu sub babnya perihal waktu bermain. Penting bagi kita sebagai manusia tak peduli berapa usiamu untuk memiliki waktu bermain. Karena itu akan membawamu untuk mengenal lebih dekat dengan inner childmu. Kamu akan belajar bahwa dirimu sesungguhnya butuh untuk dibahagiakan.

Banyak sekali pengajaran yang dapat aku petik melalui buku ini, dan selamanya buku ini akan menjadi deretan buku yang akan aku baca ulang saat aku berada pada titik terendah.
Profile Image for Erixa Putri.
130 reviews5 followers
April 6, 2022
Kaya judulnya, buku ini tentang Life Lessons—pelajaran hidup. Wrapped in 14 chapters, kita bakal tau kalo ternyata makna hidup itu dalem banget dan kalimat populer yang bilang, 'hidup itu singkat', 'hidup itu cuma sekali', 'hidup terlalu berharga buat disia-siain' bakal terlintas di pikiranmu setelah baca buku ini. Cause that's what happen to me.

Ngga kayak buku yang lain, aku nangis baca buku ini (and I swear, this is the first non-fiction book that made me cry!) karena tiap cerita yang dituliskan disini bener-bener ngebuat aku berpikir lebih dalam tentang kehidupan yang udah kujalani, tentang masa lalu, masa yang lagi dijalani, sama masa depan.

14 bab untuk 14 hal yang penting dalam kehidupan. Rasanya kehilangan, cara memaafkan, cara berpasrah, merasakan cinta, mengatasi ketakutan, memanfaatkan kekuatan, memahami waktu, dan hal lain yang 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 bisa banget dijadiin pelajaran dalam hidup.

Jujur aja kalo aku spill disini, rasanya captionnya ngga akan cukup karena banyak banget yang pengen aku utarain abis baca buku ini. Aku bahkan sempet ngambil jeda buat nangis sambil mikirin kata-kata dalam buku itu yang selalu terngiang-ngiang di otakku
Profile Image for Astala.
104 reviews
July 6, 2023
Life Lessons
by Dr. Elisabeth Kübler-Ross & David Kessler

⭐4,8
Buku bergenre self improvement ini berisi mengenai 14 pelajaran yang selamanya akan dipelajari selama hidup. Buku yang menuntun pembaca untuk menyadari akan kehadirannya hingga pelibatan Tuhan dalam hidup.

Buku yang tahap demi tahap pelajaran yang dibahasnya begitu relate dan hangat penulisannya. Suka sekali dengan cara penulis menjelaskan mengenai untuk memperbaiki jiwa yang (mungkin) kehilangan arah harus kita perbaiki dulu kesadaran akan eksistensi diri sendiri, kesadaran akan orang lain, hubungan akan sesama manusia, cinta yang ada disekelilingnya hingga akhirnya mampu melibatkan Tuhan dalam setiap kesedihan, kebahagiaan maupun segala hal yang terjadi dalam hidupnya.

Seperti yang sudah², buku genre self improvement seperti ini sangat cocok dibaca ketika sedang dibutuhkan, jadi ini masuk kesalah satu buku yang (mungkin) nantinya akan aku reread berkali-kali di beberapa bagian yang ku butuhkan.

Buku yang hangat dan menemani🌸
Profile Image for Ardina Alth Mora.
501 reviews16 followers
December 11, 2021
🌼Buku non fiksi yg satu ini memang tidak tebal dan tidak berisi tips-tips menjadi hidup yg sempurna. Untuk aku secara pribadi, buku ini memberi seperti wawasan beberapa hal tentang bagaimana kita terhadap orang lain atau dengan emosional kita.
.
🌼Isi buku ini terbagi 14 chapter, beberapa diantaranya tentang life lessons “relationship”, power, guilt, fear, anger, forgiveness dan happiness. Chapter” ini juga termasuk yang menjadi highlight buatku, tentang bagaiamana kita menghadapi ketakutan kita, mengelolah emosi kita -anger-, dan tentang memaafkan dan kebahagiaan.
.
🌼Selain bahasa bukunya yang mudah dimengerti, juga untuk setiap chapter ada cerita yang menjadi gambaran untuk setiap life lessonsnya yang kadang jadi suka sedih sendiri sih bacanya. Mungkin kita juga sudah perna mendengar atau sudah tau tentang beberapa life lessons di buku ini tapi tetap rekomen dan buat aku pribadi seperti reminder ke diri sendiri. Terlepas beberapa bagaian yang dikaitkan dengan Tuhan 🤗.
Profile Image for Riza.
169 reviews7 followers
December 24, 2023
Dan buku ini itu terkenal dg 5 stage of grieving atau 5 tahap berduka. Dan isinya itu gak cuma 5 tahap berduka aja. Tapi banyak pelajaran hidup lain dg total 14 bab pembahasan. Mulai dari pelajaran tentang kebenaran, cinta, hubungan, kehilangan, kekuatan, rasa bersalah, waktu, ketakutan, amarah, permainan, kesabaran, pasrah, memaafkan, dan kebahagiaan.

Sebenarnya sih pelajaran hidup yg dibahas di buku ini itu kalau kamu seorang muslim sudah kita pelajari dari Al-Qur'an. Jadi ketika membaca buku ini aku sambil berpikir oh iya ini kan memang begitu. Hehe

Kalau menurutku buku ini meskipun seperti itu tetap worth it untuk dibaca.
Profile Image for Kursi Seimbang.
175 reviews22 followers
March 31, 2022
[4.5/5] Terima kasih banyak kepada pihak Penerbit Spring yang mengirimkan ARC dengan ulasan jujur sebagai gantinya! Informasi terkait edisi terjemahan Indonesia belum ditambahkan di Goodreads, jadi aku track di edisi lain dulu (I'll switch it to the right edition later when the information related is already added). Ulasan lebih lanjut ada di sini.
Profile Image for Novita.
190 reviews14 followers
May 26, 2023
Kalau butuh buku buat refleksi diri, buku yang buat jadi lebih menghargai diri dan waktu. Bisa coba baca buku ini.

Selama baca aku enjoy banget karena dibuku beneran kayak lagi dengerin orang-orang yang diambang kematian ini cerita soal hal-hal yang ingin mereka rasakan.

Dan hal tersebut belum sempat terlaksana karena mereka dulu terlalu fokus pada hal-hal lain seperti pekerjaan dan lainnya.

Beneran kayak buku muhasabah diri.
Profile Image for Piii.
46 reviews1 follower
June 29, 2025
Tentang pelajaran hidup yang diambil dari cerita-cerita teman terdekat, kerabat atau kenalan penulis. Banyak pelajaran yang diambil seperti mencari kebenaran, cinta, hubungan terhadap oranglain maupun keluarga, memaknai waktu dan lain-lain. Ada beberapa kutipan yang aku suka banget, “Terkadang, masing-masing dari kita harus bertatap muka dengan titik buta kita sendiri” dan “Marilah berlatih untuk bersikap baik dan memaafkan diri sendiri seperti halnya yang kita lakukan kepada orang lain.”
Profile Image for Rizty Annisa.
22 reviews
May 20, 2022
Goosebumps all the way, berasa ‘ditampar’. Banyak bgt naro highlights di buku ini. Salah satu bagian yg saya suka, “Our guilt so often comes from our childhood because we were raised to be “prostitutes” dst…”, a harsh truth :D
17 reviews
April 11, 2023
Ini ku bacanya pelan2 banget karena sayang2 gitu kalo cpet habis
Profile Image for Anggun  Nurfadillah.
34 reviews2 followers
October 4, 2023
butuh 2 bulan nyelesainnya. krn ga betah terus-terusan dikorek apa yg selama ini coba buat ngga dihadepin alias anaknya suka lari dr problem kehidupan lol. tp tetep harus selesain apa yg udah dimulai, so here i am.

another fyi, yoongi sm jungkook jg pernah baca buku ini‼️

of course buku yg tak baca mostly bts-related xx
Profile Image for Hardyanti Regina.
24 reviews
July 11, 2022
Buku mengulas Pelajaran Hidup oleh Elisabeth Kubler-Ross dan David Kessler.

“Saya suka buku ini; . Setiap bab dari buku ini memiliki judul kata tunggal, seperti Rasa Bersalah, kekuatan dan Hubungan, dan setiap bab memberikan kata-kata bijak yang membumi yang diilustrasikan oleh cerita sehingga mudah untuk memahami poin yang dibuat.

Bab Hubungan, misalnya, berbicara tentang berakhirnya hubungan dan bagaimana menerima bahwa beberapa hubungan hanya memiliki akhir yang alami. Ini menjelaskan bahwa hubungan tersebut akan memenuhi tujuan menjadi benar bagi orang tersebut pada waktu tertentu, tetapi juga memberi orang tersebut kebebasan untuk mengakui bahwa hubungan tersebut telah berakhir secara alami tanpa merasa bersalah.

Buku ini juga mengajarkan self love "mencintai diri sendiri berarti meruntuhkan pilar pilar yang menghalangi"

Memahami arti dari kehilangan. "Hidup adalah tentang kehilangan dan kehilangan adalah hidup itu sendiri, hidup tidak berubah dan kita tidak bisa tumbuh tanpa kehilangan"

Thoroughly recommended reading for anyone. !! So what u waiting for ?!


🌟🌟🌟🌟/4,7
Profile Image for Andahh.
84 reviews6 followers
November 24, 2024
Sebuah buku yang mendalam dan inspiratif, berfokus pada proses yg dpt diperoleh dri menghadapi kematian dan kehilangan. Buku ini mengajak pembaca untuk lebih memahami kehidupan melalui perspektif yg lbh dlm ttg nilai-nilai kemanusiaan.

Buku ini terdiri dari sejumlah "pelajaran hidup" yg mendalami topik seperti cinta, kesalahan, kebahagiaan, hubungan, dan perubahan.
Melalui kisah nyata pasien-pasien yang berada di ambang kematian, buku ini juga menyampaikan betapa singkat dan berharganya hidup. Dan menekankan bahwa banyak orang baru menyadari arti penting hubungan dan hal-hal sederhana dalam hidup saat mereka menghadapi kematian.

Byku ini juga menyalurkan pengalaman mereka dalam bentuk refleksi yang dapat diambil maknanya untuk kehidupan sehari-hari. Meskipun buku ini berbicara tentang kematian, tujuannya adalah untuk membantu kita lebih baik dalam menjalani kehidupan yang lebih baik dan penuh cinta.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Erenizky.
26 reviews1 follower
June 20, 2023
Sesuai judul bukunya, buku ini memberikan banyak pelajaran hidup; tentang kebenaran, cinta, hubungan, kehilangan, kekuatan, rasa bersalah, waktu, ketakutan, amarah, permainan, kesabaran, pasrah, memaafkan dan kebahagiaan.

Pelajaran-pelajaran itu diperoleh dari hasil wawancara penulis kepada orang-orang yang berada di ambang kematian. Kisah-kisah mereka disampaikan dalam buku ini untuk kemudian penulis tuliskan interpretasinya tanpa terkesan menggurui pembaca. Sehingga aku pun dapat merasa nyaman ketika membacanya bahkan hingga ikut merenung mengenai pelajaran tersebut. Ketika membaca buku ini, aku sering melihat kembali diriku sendiri, hidup yang sudah kujalani sendiri, dan hidup yang ingin kucapai di kemudian hari. Setiap kali aku menyelesaikan 1 bab dalam buku ini, aku tidak bisa terburu-buru untuk lanjut ke bab berikutnya karena aku sibuk meresapi pelajaran di bab tersebut.

Selain karena narasinya begitu nyaman, aku juga menyukai bagaimana penulis terkadang mengkaitkan tulisannya dengan agama tanpa menyebut agama tertentu seolah ikut menunjukkan kalau apapun agama pembacanya, semua agama itu baik. Jadi, walau terkedang menyinggung agama, tapi tetap terkesan universal.

Aku juga menyukai bagaimana buku ini lumayan menguras energiku. Karena kemudian, aku merasa lebih tenang. Aku juga menyukai bagaimana setiap bab dalam buku ini saling berhubungan sehingga memang lebih baik dibaca secara berurutan.

Intinya, sebagai orang yang hampir tidak pernah menyelesaikan buku self improvement, aku sangat senang bisa menemukan dan membaca buku sebagus ini.
Displaying 1 - 18 of 18 reviews