Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sharp Objects

Rate this book
Fresh from a brief stay at a psych hospital, reporter Camille Preaker faces a troubling assignment: she must return to her tiny hometown to cover the unsolved murder of a preteen girl and the disappearance of another. For years, Camille has hardly spoken to her neurotic, hypochondriac mother or to the half-sister she barely knows: a beautiful thirteen-year-old with an eerie grip on the town. Now, installed in her old bedroom in her family's Victorian mansion, Camille finds herself identifying with the young victims—a bit too strongly. Dogged by her own demons, she must unravel the psychological puzzle of her own past if she wants to get the story—and survive this homecoming.

Librarian's Note: this is an alternate cover edition - ISBN 10: 0307341550 (ISBN 13: 9780307341556)

254 pages, Paperback

First published September 26, 2006

Loading...
Loading...

About the author

Gillian Flynn

22 books97.4k followers
Gillian Flynn is an American author and television critic for Entertainment Weekly. She has so far written three novels, Sharp Objects, for which she won the 2007 Ian Fleming Steel Dagger for the best thriller; Dark Places; and her best-selling third novel Gone Girl.

Her book has received wide praise, including from authors such as Stephen King. The dark plot revolves around a serial killer in a Missouri town, and the reporter who has returned from Chicago to cover the event. Themes include dysfunctional families,violence and self-harm.

In 2007 the novel was shortlisted for the Mystery Writers of America Edgar for Best First Novel by an American Writer, Crime Writers' Association Duncan Lawrie, CWA New Blood and Ian Fleming Steel Daggers, winning in the last two categories.

Flynn, who lives in Chicago, grew up in Kansas City, Missouri. She graduated at the University of Kansas, and qualified for a Master's degree from Northwestern University.

Review Quotes:
"Gillian Flynn is the real deal, a sharp, acerbic, and compelling storyteller with a knack for the macabre."
–Stephen King

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
432,920 (33%)
4 stars
505,968 (39%)
3 stars
257,509 (20%)
2 stars
58,988 (4%)
1 star
18,792 (1%)
Displaying 1 - 30 of 86 reviews
Profile Image for fayza.
229 reviews56 followers
October 30, 2016
Lagi-lagi plot twist nya yg bikin ngasih 5 bintang buku Gillian Flynn.
isinya orang sakit semua.
sakit.
sakiiiiittttt.
sakit.
titik.
bingung nge reviewnya.
mom-daughter relationship terkadang agak rumit, dan ternyata adaaaaa aja disease macam gt yg dialami Adora, or Amma, even Camille.
Setiap orang berpotensi membenci dirinya sendiri (karena kejadian di masa lalu, atau lingkungan), sih, bentuk ekspresi kebenciannya juga beda2, some tend to hurt theirself, while another hur other people.
Jangan deh, gakusah benci diri sendiri, berdamai sama diri aja mendingan, then get a better act, better life.
Duh, gimana ya, rudet ya reviewnya wkwkwkwkw

minusnya agak lama alur penyelidikan kasus, terlalu lama keliling2, tapi pas mendekati akhir mendadak serba cepet hwhw, but muuuch worh to read, apalagi yang suka cerita2 ttg org depresi wkwkw.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,061 reviews2,023 followers
March 28, 2015
I read in English but this review is written in Bahasa Indonesia

Memanfaatkan hadiah voucher elektronik yang senilai Rp. 100.000 dari lomba Dare to Blog, aku ingin mencoba lagi tulisan Gillian Flynn. Setelah bertanya-tanya kepada seorang teman, aku memantapkan diri untuk membeli buku ini.

Gaya Bahasa, Kosakata, dan Penyampaian
Aku tidak menyangka kalau ternyata tulisan Flynn pada buku ini tidak sesulit bukunya yang Gone Girl. Biasanya aku membutuhkan 50 halaman pertama untuk beradaptasi, tapi pada Sharp Object aku bisa langsung berada dalam "sepatu" tokoh utama.

Masih khas Gillian Flynn, kosakata yang digunakan tetaplah kasar dan blak-blakan. Begitu pula dengan cara penyampaian yang tidak bertele-tele. Sedikit sekali maksud-maksud kiasan yang tertulis. Pembaca bisa langsung memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Secara perlahan Flynn membongkar siapa tokoh utama dan permainan kata-katanya "menyesatkan".

Faktor penggunakan diksi yang membuatku menyarankan kalau buku ini lebih baik dibaca oleh pembaca dewasa. Kasar dan cukup mengintimidasi. Aku saja pada awalnya tidak menyangka kalau buku ini akan begitu "harsh". Siap-siap saja jika sebelumnya selalu membaca yang "baik-baik".

Plot
Permainan yang dilakukan oleh Flynn untuk mengkonstruksikan latar belakang tokoh adalah maju dan mundur. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, Flynn memberikan gambaran baik dari masa lalu tokoh utama dan ketika si tokoh utama mencoba mengoreksi dirinya sendiri. Kadang aku merasa bingung karena tidak begitu terlihat bedanya antara plot mundur dan plot yang maju (bahkan untuk tulisan koran itu sendiri). Tetapi aku rasa, jika pembaca benar-benar bisa mengikuti dari awal, tidak akan menemukan kebingungan.

Penokohan
Tokoh utamanya bernama Camille Preaker, bekerja dalam salah satu media cetak di Chicago. Disebabkan oleh persaingan bisnis yang ketat, atasannya mengutus Camille melakukan liputan di Wind Gap, kampung halamannya. Camille Preaker diceritakan bahwa dirinya menolak untuk pulang, yang berarti ia harus kembali ke rumah orang tuanya. Hubungannya dengan ibu dan ayah tirinya tidak baik. Awalnya aku kira karena ibu Camille memutuskan untuk menikah lagi. Tapi ternyata tidak. Cara Flynn menggambarkan Camille ternyata cukup mengerikan. Pembaca akan mengetahui bahwa ada yang salah dengan diri Camille sejak bab-bab awal.

Tokoh yang cukup kuat lainnya adalah Adora, ibu Camille, dan Amma, adik tiri Camille. Keduanya seakan memiliki alasan mengapa Camille bersikukuh untuk tidak pulang ke Wind Gap. Semua latar belakang tokoh diceritakan dari mata Camille, membuat pembaca jadi ikut curiga dengan apa yang dicurgai oleh Camille.

Masih sama dengan Gone Girl, kekuatan yang Flynn tekankan untuk buku ini adalah terletak pada kekuatan tokohnya.

Ide Cerita
Gillian Flynn memang seorang penulis yang suka bermain-main dengan keadaan psikologis tokoh. Untuk buku Sharp Object ini tidak hanya satu tokoh saja yang memiliki kelainan mental dan jiwa, malah ada 3 tokoh sekaligus! Masing-masing digambarkan dengan berbeda-beda, begitu pula tingkat efek sampingnya pada lingkungan sekitar.

Tidak hanya itu, permainan Flynn juga menyangkut pada akhir cerita. Awalnya aku merasa bahwa pelaku semua kejahatan tersebut sudah bisa aku tebak. Namun, ketika aku akan merasa bahwa cerita sudah mau habis, ternyata masih ada suatu hal yang disimpan oleh Flynn, yang cukup mengagetkan karena pembaca merasa tidak memperhatikan hal itu sejak memulai membaca.

---

Kalau kata temanku, buku ini membuat kamu tidak bisa berhenti membaca. Kalau aku bilang, buku ini biasa saja. Hanya sekumpulan cerita dari tokoh yang memiliki kelainan secara psikologis, mendapati peran yang berbeda-beda, kemudian berkumpula dalam waktu dan tempat yang salah. Aku tidak merasa adanya rasa tegang ataupun ketakutan. Tidak ada bagian yang membuatku berhenti membaca saking kagetnya dengan plot twist yang ditambahkan oleh Flynn. Hanya hiburan semata.
Profile Image for Alvina.
741 reviews121 followers
November 27, 2014

That’s because the healthy,sweet-faced young girl was the second victim of what police presume to be a serial killer


Seorang anak perempuan dilaporkan hilang di Wind Gap, kampung halaman Camille Preaker. Setelah beberapa bulan sebelumnya seorang anak perempuan meninggal dengan misterius membuat kasus ini menggoda untuk diliput. Sebagai seorang reporter kasus kriminal di Daily Post Chicago, Camille ditugaskan atasannya untuk pulang guna melaporkan perkembangan kasus ini. Meski enggan, tapi Camille akhirnya toh menempuh perjalanan belasan jam kembali ke kampung halamannya tersebut.

Di Wind Gap, ia dihadapkan ke masa lalunya yang suram, yang sebenarnya sejak lama ia coba untuk lupakan. Lalu setelah beberapa hari,mayat anak hilang itu ditemukan, dengan kondisi sama seperti kematian anak sebelumnya, yaitu seluruh giginya dicabut. Polisi tidak banyak memberikan keterangan, kematian dua anak itu membuat Wind Gap menjadi kota yang makin suram. Gembok dan kunci dipasang di tiap pintu rumah, orang orang yang terbuka menjadi pemurung dan tertutup. Anak anak dikurung di dalam rumah setelah selesai sekolah, dilarang berkeliaran ke mana-mana, kota itu seketika diselimuti ketakutan yang pekat di tiap nafas warganya.

Sementara menyelidiki kasus kematian tersebut, Camille berjuang menghadapi masa lalu yang kembali lewat ibunya yang sinis. Hubungan mereka berdua memang tak pernah harmonis sejak kecil sampai di usia Camille yang sudah memasuki tiga puluhan sekarang ini. Ibunya jauh lebih menyayangi adik perempuan Camille yang bahkan meskipun sudah meninggal ketika Camille berusia 13 tahun, masih saja disayangi beliau. Sekarang perhatian ibunya tercurah pada Amma, adik tiri Camille, yang baru berusia tiga belasan tetapi memiliki kelakuan kekanak kanakan. Meski memiliki masalah pribadi, bukan berarti peliputan berita yang dilakukan Camille terhenti.

I just think some women aren’t made to be mothers. And some women aren’t made to be daughters


Sedikit demi sedikit, kita diajak mengupas apa yang sebenarnya terjadi di kota kecil tersebut. Serta dihadapkan ke kenyataan yang mengejutkan, rahasia tersembunyi para tokoh utamanya...
Sama seperti Gone Girl yang saya baca sebelumnya, di Sharp Objects ini juga banyak permainan psikologis. Tokoh tokohnya masokis, kisahnya tragis dan yah untungnya sih ga bikin nangis. :p

Kayaknya udah jadi ciri Gillian kalau di awal bakal lambaat alurnya, terus banjir detail, terus twist twistnya tak terduga. Kita bakal dituntun untuk menebak nebak, siapa pelakunya, tapi juga diberi tanda tanda lainnya untuk meragukan apakah tebakan kita itu benar atau nggak.

Meskipun sama gilaknya, tapi saya masih lebih suka Gone Girl daripada Sharp Objects ini. Atau mungkin karena ini karya kedua yang saya baca, sehingga saya merasa "sudah mengenal" karakter tulisannya? #tsaah . Biar bagaimanapun, saya tetap akan merekomendasikan buku ini buat pecinta thriller atau tema tema psikologis. Keren!
Profile Image for ABO.
419 reviews46 followers
January 14, 2015
Nyicil baca dari tahun lalu Lebay sih, lebih tepatnya 2 bulan yang lalu. Bagian awalnya rada membosankan, tapi pas sampe ke pertengahan ketika clue mulai mengarah ke siapa pembunuhnya, buku ini berhasil bikin saya terjaga sepanjang malam.

This book is sick. This book made me sick. Chapter terakhir saja sudah bikin saya pening plus sedikit mual. Ditambah baca epilog-nya, SAKIT! GILA!

Pengin baca Dark Places!
Profile Image for Editanainggolan.
441 reviews12 followers
February 21, 2019
Sharp Objects - Gillian Flynn / 2006
Versi terjemahan oleh @bukugpu
ISBN : 978-602-03-3070-9, 336 halaman
Genre : mystery thriller
====================

Kalau sudah tentang kejiwaan atau agak condong ke psikopat, aku tidak pernah berusaha menebak siapa pelaku.

Kenapa? Karena sudah pasti tebakanku salah.

Jadi aku go with the flow saja. "Siapa pelaku" kalah pamor dengan: "mengapa dia melakukan itu".

Berbeda dengan sub genre suspense --yang aku lebih suka-- dari awal sudah diketahui siapa penjahatnya.

Namun, aku terkejut juga dengan ending buku ini.

Ada 2 klimaksnya.
Yang pertama, aku dapat memaklumi, dengan semua penjelasan dari awal hingga akhir, dan mengingat teguh ada kecenderungan atau penyimpangan, atau apalah namanya, pada pelaku, hingga hal keji dilakukan tanpa rasa bersalah.

Tapi yang kedua, I was like, you gotta be kidding me!!!! Masak sih??? 😳

Hmm... 😑
Buku ini sudah di filmkan, begitu selesai baca tadi malam, aku langsung nonton trailernya dan... aku merinding juga. 😅
Jenis film yang bagiku, ditonton 2-3 orang saja, sambil makan kacang. Jangan.. Jangan popcorn, kacang saja, jadi ada bunyi kletek2 pas ngupas, ampuh mengurangi ketegangan! 😂

Rate dariku: 3.5⭐
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,481 reviews305 followers
October 12, 2023
Bulan ini sepertinya saya gak mood baca suspense thriller sepertinya. Setelah "gagal" dgn "The Girl with the Dragon Tattoo", buku yg ini podo wae dgn tokoh utama yg masokis depresif alias sakit jiwa, dan ternyata satu keluarganya sama semua bahkan lebih parah.

Camille Preaker ditugaskan reportasi dimana dia harus kembali ke kota asalnya, Wind Gap untuk menyusun liputan mengenai pembunuhan dua anak perempuan. Dan dia tidak menyangka ini akan melibatkan keluarganya terutama ibu dan adik perempuannya yg sifatnya bertolak belakang dgn dirinya.

Membaca novel ini dari sudut pandang Camille sungguh sangat depresi. Belum lagi masa lalu ibunya, kematian adik tirinya dan sekarang adiknya yg cantik tapi sangat agresif ini sukar ditebak tabiatnya. Hal-hal bejat dan mengerikan mewarnai novel ini spt seks dgn kekerasan, obat-obat terlarang, darah (gore) membuat mual yg membaca (kalau menghayatinya).

Sampai sekarang saya masih tidak habis pikir dgn kebiasaan org depresi yg menemukan "kenyamanan/kepuasan" dgn mencabik-cabik, membeset-beset kulit mereka. Saya juga masih shock dgn pembunuhan sadis di novel ini, Kalau ada yg bilang sakit jiwa itu menurun ya di novel ini ada benarnya juga sih.

Dan novel ini memang bukan utk saya. Terlalu dark dan angst, mungkin psychological thriller model gini memang terlalu suram buat saya.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books237 followers
December 15, 2017
Camille Preaker ditugaskan untuk meliput peristiwa pembunuhan yang terjadi di Wind Gap, kota tempatnya tumbuh. Di kota yang menyimpan berbagai kenangan pahit itu, Camille harus berhadapan dengan ibunya yang tidak menyukainya, adik tiri yang bermuka dua, seorang pembunuh yang mencabuti gigi-gigi para korbannya, serta bekas luka yang dia bawa dari masa lalu.

Novel kedua Gillian Flynn yang kubaca. Ekspektasi saya cukup tinggi mengingat bagaimana Gone Girl begitu meninggalkan kesan.

Nuansa cerita menjadi kunci utama novel ini. Gillian Flynn sukses membangun perasaan gelisah, marah, curiga, dan muak. Latarnya yang mengambil sebuah kota kecil juga menambah perasaan tidak nyaman dalam cerita.

"Bagaimana kalau kau melukai karena rasanya sangat menyenangkan? Seperti saat kau kesemutan, seakan-akan seseorang membiarkan sakelar menyala dalam tubuhmu. Dan tidak ada yang bisa mematikan saklar itu kecuali dengan melukai? Apa maksudnya kalau begitu?" (hal. 250)


Saya kurang begitu menikmati terjemahan novel ini. Kesannya kaku dan ada bagian-bagian yang terasa canggung, khususnya pada dialog. Kayaknya bakal lebih asyik kalau nanti mencoba versi bahasa Inggrisnya juga.

Yang saya kurang suka dari novel ini adalah misterinya. Walau awalnya terlihat seperti cerita detektif/investigasi pembunuhan, novel ini sebenarnya lebih ke arah masalah kejiwaan dan hubungan antar-karakternya. Teka-teki pembunuhan di Wind Gap tidak seberapa 'wah' dan karena sudah pernah lihat kejutan yang mirip di novelnya Agatha Christie, saya tidak terlalu kaget dengan akhir ceritanya.

Secara keseluruhan, Sharp Object adalah novel yang solid. Kalau kamu suka novel yang gelap dengan karakter-karakter yang menarik, maka Sharp Object adalah pilihan yang tepat.
Profile Image for Alexandra.
2,258 reviews128 followers
July 26, 2021
Wow, ini adalah buku ke-2 dari si penulis dan lagi-lagi tidak bisa kuantisipasi. Berbeda dengan genre sejenis, kisah ini berawalan dengan kejadian yang kelihatan "innocent" dan standar banget, seorang reporter kelas 2 ogah-ogahan mudik dipaksa editornya untuk meliput kasus kecil di kampung halaman. Dan dari sisi, walaupun awalnya bergulir lambat tapi plotlinenya mulai terbentuk. Makin dalam, makin besar, makin creepy. Seperti sebongkah batu kecil-kecil yang menggelinding dari tebing es yang curam dan menggulung makin besar dan menghempas pembaca.

Aku tak akan membuat summary isi cerita, karena aku ingin kamu bisa enjoy the ride dan membangun suspens sendiri. Tipe ceritanya yang tampil berlapis-lapis seperti mengupas bawang, memikatku dan membuat buku ini susah untuk ditaruh sebelum selesai. Karakter-karakter yang tampak sempurna dari luar tapi sakit di dalam. Kejutan-kejutan juga terus bermunculan setelah "kotak Pandora" kasusnya mulai terbuka, bahkan sampai halaman akhir. Aku suka kelugasan kisah ini dalam menggambarkan romance, dan tidak menglorifikasinya. Dan aku acungi jempol untuk author yang berani membuat seorang MC yang "sakit", jauh dari sempurna tapi berusaha keras untuk menyelesaikan kasus walaupun dirinya sendiri sangat menderita.
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews22 followers
September 7, 2016
Gila! Benar-benar gila!

Awal-awal memang agak membosankan. Namun, dari yang membosankan itu, sebenarnya penulis menghamparkan bagaimana kondisi (terutama kejiwaan) tokoh-tokohnya. Daaan, semakin ke belakang, buku ini semakin nikmat dilahap (dan semakin membuat mual dan gila, saya rasa). Apalagi di bab terakhir dan epilognya; kegilaan ini mencapai puncak dan detail yang semakin membikin manggut-manggut dan membisikkan kata "bangsat".

Sepertinya, saya akan mengidamkan Dark Places bulan ini. :(
Profile Image for Nindya Chitra.
Author 3 books22 followers
September 5, 2018
Gillian Flynn sepertinya hobi dengan yang hilang hilang. Hehe. Nggak semengejutkan Gone Girl tapi tetap menarik dibaca. Masih sama rasanya tulisan penulis, jenis bacaan yang nggak bisa dibaca cepat-cepat karena sarat informasi. Kadang-kadang harus berhenti untuk memahami. Tapi rasa sedapnya nggak berkurang. Suka!
Profile Image for Alif Syahrul Wahyudi.
129 reviews21 followers
April 26, 2020
3 bintang

Gak tahu mau bilang apa tentang cerita yang sakit ini. Hampir semua karakternya 'sakit', deskripsi yang detail kadang membosankan dan membuat bergidik. Trigger warning: banyak deskripsi tentang self harm dan penyiksaan. Awal yang membosankan mungkin karena berfokus pada membangun tensi, akhirnya ketegangan agak lama muncul.
Profile Image for Zaren.
47 reviews5 followers
June 2, 2024
*goodreads tolong diupdate biar bisa kasih bintang 4,5 (kayak letterboxd)

its niceee, mungkin agak lambat di alur ya, karena selain fokus di murder case, authornya juga fokusin kondisinya si Camille as the main character.
Profile Image for Nay.
Author 4 books86 followers
August 14, 2016
Pengalaman mengesankan saat membaca tulisan Gillian Flynn untuk pertama kalinya (Gone Girl) membuatku tidak ragu untuk mengoleksi Sharp Objects. Jadi saat membaca blurb di bagian belakang novel ini, aku mengalami sensasi rasa penasaran yang menyenangkan (Nah, Flynn, mari kita lihat apa kejutanmu kali ini). Ayo mulai membahas, apakah buku ini memenuhi ekspektasiku atau tidak.

Camille Preaker, seorang reporter biasa-biasa saja (tanpa kinerja atau prestasi yang mengesankan) terpaksa harus berkunjung ke Wind Gap, kota kelahirannya, untuk mengumpulkan berita mengenai kasus pembunuhan. Untuk alasan yang samar Camille benci kembali ke Wind Gap dan harus bertemu kembali dengan Adora (ibunya yang dingin), Amma (adiknya yang aneh) serta Alan (ayah tirinya yang kaku). Ternyata tak hanya pertemuan itu yang menjadi masalahnya. Masalah terbesar adalah ketika kau pulang ke kampung halaman dan baru menyadari bahwa selain memiliki pembunuh berantai misterius, tempat itu penuh dengan remaja-remaja yang “sakit”, wanita-wanita yang hanya bisa bergosip serta polisi yang tidak becus bekerja. Padahal dahulu Camille adalah bagian dari mereka, salah satu gadis populer yang menjadi idola sebagian remaja di kota itu.

Ada banyak hal terkait masa lalunya yang membuat Camille ingin segera menuntaskan tugasnya dan angkat kaki dari sana. Kasus pembunuhan dua anak perempuan yang seharusnya menjadi bahan beritanya menemui jalan buntu. Semua penduduk menunjukkan empati, ikut berduka cita terhadap kematian kedua bocah malang tersebut dan tidak memberi jalan terang bagi kasus itu. Sampai kemudian, satu persatu dari mereka mulai membuka suara, dan mengungkapkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang menjadi penyebab terpilih dua bocah korban pembunuhan tersebut.

Aku tidak percaya semua semua orang menolak menyadari ini.” Meredith melihat ke sekeliling ruangan. “Kau tidak mendengar ini dariku, oke? Anak-anak perempuan itu, Ann dan Natalie, mereka….” (hal 209)

Aku tidak akan membahas lebih jauh karena sedikit tambahan penjelasan lagi akan menyebabkan kurangnya efek kejutan saat membaca novel ini. Aku mengagumi bagaimana penulis sangat ahli dalam membuat trik-trik yang menyesatkan pembaca, ia juga melakukan ini di novel yang kubaca sebelumnya. Pertama-tama kalian akan sibuk menjadi detektif, atas izin penulis mengumpulkan bukti-bukti dan dengan yakin menarik kesimpulan sendiri, namun mendekati ending kalian akan merasa tolol dan menyadari sepertinya itu kesimpulan yang salah.

Itulah yang kulakukan sepanjang membaca, membuat tebakan-tebakan di kepalaku dan mengabaikannya kemudian. Karakter Camille si tokoh utama membuatku berhati-hati hingga akhir. Novel ini menggunakan PoV 1 dan itu hanya berarti satu hal, kau jangan sekali-sekali memercayai secara total apa yang diyakininya karena bisa jadi ia dirancang untuk menyesatkan pembaca (aku agak belajar dari pengalaman yang ternyata tidak terlalu berpengaruh di sini).

Selain diajak untuk memecahkan teka-teki kasus, hubungan antara Camille dengan orang tua dan Amma saudara perempuannya meninggalkan kesan tersendiri. Aku ikut merasakan luapan emosi yang dipendam Camille saat menghadapi mereka semua. Seperti saat Adora menyesali kematian saudara perempuan Camille yang lain bertahun-tahun lalu.

Dan sekarang kau kembali, dan yang bisa kupikirkan hanyalah, ‘Kenapa Marian dan bukan Camille?” (hal 199)

Atau saat Alan dengan tidak tahu dirinya berusaha mengusir Camille dari rumah itu.

… kamu membuat ibumu sakit. Aku harus memintamu pergi kalau kondisinya tidak membaik.” (hal 218)

Begitu juga dengan sikap aneh Amma yang sering kali membuatku mengerutkan kening karena tak paham, apa sebetulnya yang ada dalam kepala gadis itu. Mereka berhasil membuatku bingung dan sedikit “murka”. Karakter-karakter dalam novel ini kuat, tentu saja. Kecuali Richard yang terasa samar dan menurutku agak tidak konsisten. Ngomong-ngomong soal Richard, tolong ingatkan aku untuk menghajarnya saat berpapasan di jalan. Astaga, dia mengesalkan. John Keene jauh lebih patut dipertimbangkan dibanding dirinya.

Aku sepertinya sudah menyebutkan kalau penghuni Kota Wind Gap ini terdiri dari orang-orang yang sakit tidak normal. Bahkan kalau harus memilih, kupikir cuma Curry dan Vickery (redaktur dan polisi yang menangani kasus) yang memiliki pikiran jernih dan bisa dianggap normal. Tapi aku menikmati kegilaan-kegilaan mereka karena itu malah semakin menarik.

Konfliknya seru, tak diragukan lagi. Tentunya tidak sekompleks Gone Girl karena dari jumlah halamannya saja sudah berbeda jauh. Tapi aku cukup puas dengan penyelesaian yang dipilih penulis. Dan mengenai kemampuan penulis memanipulasi pikiran pembaca, ini agak subjektif, hanya karena tebakanku meleset bukan berarti aku menganggap pembaca lain tak bisa menebak dengan tepat arah pikiran penulis. Mereka yang sudah terbiasa membaca novel-novel seperti ini mungkin akan berpendapat lain.

Secara umum novel ini memenuhi ekspektasiku dan aku sudah siap untuk membaca buku selanjutnya (masih dari penulis yang sama), Dark Places.
Profile Image for aRee.
91 reviews4 followers
February 10, 2017
Rasanya terganggu membaca kisahnya. Saya bukan penggemar cerita ngeri dan seram. Tapi buku ini, entah bagaimana, membuat pembaca terpikat menyelesaikannya. Meski hati ngeri dan berulang kali bergidik. Entah dimana daya tariknya sampai orang yang merasa ngeri berusaha menguatkan diri untuk menyelesaikan ceritanya. 4 bintang karena..masalah selera. Untuk penyuka genre ini saya rasa akan memberi 5 bintang.
Profile Image for Nur.
137 reviews
August 1, 2016
Awalnya sempet ngga mau ngelanjutin baca novel ini, karena -ya Tuhan! Detail penulisan yang dilakukan oleh Gillian Flynn dalam novel ini keren banget, dan aku mengaguminya, tapi entah kenapa itu membuat aku bosan T_T Dan, aku memutuskan untuk tetap membaca novel ini karena, SERIOUSLY, aku penasaran banget siapa sih yang udah ngebunuh si Ann dan Natalie ini. Gillian Flynn hebat banget deh bisa bikin aku penasaran sampai akhir :")

[Warning!! Hati-hati bisi ada spoiler]

Dugaanku tersangkanya emang si Adora sih, dan Amma tingkahnya mencurigakan banget setelah membaca berbagai petunjuk yang didapatkan oleh Camille. Tapi tetep aja, ternyata pembunuhnya emang ada dua sih :') Dan pas memasuki halaman-halaman terakhir, alurnya berasa cepeeeeeeet banget. Makanya menurutku, masih terasa ada yang kurang. Mungkin pas bagian akhir, harusnya si pelaku kedua itu diceritain sedikit lebih banyak lagi.

Membaca buku ini, aku jadi tahu sindrom MBP. Kan jadi nambah hal baru untuk diketahui yaa :") Aslina aku ngga nyangka kalau ada Ibu yang sengaja membuat anaknya sakit, supaya anaknya bisa bergantung kepada Ibu tersebut. Si "Ibu" ini pengen ngerasa dibutuhin gitu lho sama anaknya. Astaga :( Apakah ada jenis Ibu yang seperti itu di dunia ini? :(

Ah pokoknya ada banyak hal yang menarik yang diceritakan di sini :") Dan aku cukup mengerti dengan garis besar yang diceritakan oleh Gillian Flynn dalam novel ini ^^

Akhirnya, aku sudah membaca semua buku Gillian Flynn yang sudah diterjemahkan oleh Gramedia. Huhuhuhu. Rasanya aku harus berterima kasih sama Gramedia karena sudah bersedia menerjemahkan dan menerbitkan novel-novel Gillian Flynn yang penuh dengan 'orang-orang' sakit di dalamnya :"D Well, aku selalu penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh 'orang-orang sakit', selalu seperti itu. Dan selalu menarik untuk membaca novel-novel dari Gillian Flyn, selalu menjadi pengalaman membaca yang mendebarkan ^^

Aku merekomendasikan buku ini buat kamu yang suka sama cerita thiller, mystery, murder, dan orang-orang sakit di dalamnya ^^ kkkkk~ Selamat membaca!
Profile Image for Rina Suryakusuma.
Author 17 books113 followers
August 14, 2016
Jadi kalau diurutkan, maka SO ini masuk peringkat 2 setelah Gone Girl.
Gone Girl masih lebih memukau walau part 1 nya tergolong lambat, cuma twist-nya juara terlebih saat mulai memasuki part 2

SO ini memiliki pace yang lebih rata
Sejak awal baca, aura tegang dan sakit jiwanya udah dapat
Lebih mengerikan lagi karena semua horor ini terjadi di Wind Gap, kota kecil yang beraura bosan, tapi bahkan mimpi2 buruk terjadi di kota ini

Selamat datang di dunia Camille yang jauh dari sempurna.
Reporter dunia kriminal yang harus berurusan sekali lagi dengan masa lalu yang belum selesai, untuk membantu menyelesaikan penbunuhan di masa kini

P.s Ms. Flynn benar2 juara dalam membuat karakter wanita sakit jiwa, bermasalah dan 'gelap'
Profile Image for Fahri Rasihan.
479 reviews126 followers
August 15, 2016
Ternyata cerita di Sharp Objects ini tidak sebagus Gone Girl dan Dark Place, mungkin karena ini karya pertama Gillian Flynn jadi masih banyak kekurangan dalam buku ini. Selain jalan ceritanya yang terlalu mudah ditebak, jalan ceritanya juga terlalu bertele-tele sehingga membuat saya cukup bosan membacanya.
Profile Image for Sadam Haidir.
29 reviews1 follower
July 17, 2016
"Kadang-kadang saat kau membiarkan orang-orang melakukan sesuatu kepadamu, sebenarnya kau melakukannya pada mereka."

Novel pertama Gillian Flynn, Kisah tentang orang-orang 'sakit'.
Profile Image for Yummie.
184 reviews3 followers
December 19, 2017
Buku ini mengisahkan tentang Camille Preaker, seorang reporter dari Daily Post Chicago, yang mendapat tugas meliput berita pembunuhan di kota kelahirannya, Wind Gap. Bosnya, Curry, ingin agar koran mereka bisa jadi terkenal dengan liputan berita pembunuhan di kota kecil tersebut. Camille yang sudah bertahun-tahun tidak pulang kampung merasa enggan untuk kembali ke Wind Gap, bukan hanya karena ibunya yang jarang berkomunikasi dengannya, tapi juga adik tirinya yang berumur tiga belas tahun, kematian adik tirinya yang sudah bertahun-tahun lewat, dan kesan yang tidak ingin dirasakannya.

Benar saja apa yang dipikirnya, setelah kembali tinggal di rumah besarnya yang bergaya Victoria, ia mendapati adik tirinya, Amma, bersikap sangat aneh; kadang sangat menyebalkan kadang menyenangkan. Adiknya yang populer di Wind Gap ternyata berteman dengan kedua korban pembunuhan berantai. Ann dan Natalie, kedua korban pembunuhan ditemukan kehilangan gigi mereka.

Camille berusaha keras mencari-tahu tentang pembunuhan tersebut, baik dari polisi maupun keluarga korban. Namun usahanya tidak berjalan mulus. Ada polisi dari daerah lain, Richard Willis, yang sedikit sekali memberi informasi. Keluarga korbanpun tidak terlalu banyak memberi informasi. Saat mencari data tentang pembunuhan tersebut, Camille berhadapan dengan fakta bahwa adik tirinya sedikit mirip dengan mendiang adiknya, Marian.

Penyelidikan Camille mengenai pembunuh berantai mendorongnya menggali dan membongkar masa kecilnya yang suram. Ia banyak menemukan hal-hal aneh di kota kelahirannya itu.

Penulis novel yang juga menulis best-seller Gone Girl yang sudah difilmkan begitu tajam menggambarkan suasana kota Wind Gap yang sedikit kelam, suasana khas pedesaan yang didominasi peternakan, anak-anak remaja yang bertingkah dewasa dan kehidupan para orang-orang dunia barat. Banyak sekali gambaran tentang anak-anak remaja yang terlibat kehidupan seks bebas, rokok, obat terlarang, minuman beralkohol, dan pesta ala barat. Biarpun novelnya ala Barat yang tak sesuai dengan budaya Indo, ya tetep seru aja bacanya.

Alurnya maju-mundur, menceritakan tentang masa lalu Camille dan masa sekarang saat ia bertugas menjadi reporter. Penggambaran tentang tokohnya juga sangat oke: Camille yang menutupi masa lalunya, Amma yang menyebalkan, Adora yang sok ngebos, Allan yang terlalu santai, sampai Ricahrd si polisi yang katanya ganteng tapi nyebelin karena pelit info. Endingnya sangat tak terduga. Dari awal, pembaca diajak menerka-nerka siapa pembunuh kedua gadis kecil itu. Dan ternyata… Ah, sungguh di luar dugaan! *Saya sampe teriak dalam hati: Whatttt?? Si itu adalah pembunuhnya? Ya ampun…!!*
Profile Image for Ayacchi.
755 reviews13 followers
July 12, 2020
4.5 stars

Sick! Buku ini penuh kebejatan dan penyakit yang membuatnya gagal mendapatkan bintang 5. Well, saya menikmati setengah akhir buku ini semalaman, tapi bukan karena pergaulan bebasnya, lol.

Sharp Objects sudah lama bertengger di list saya dan merasa harus membacanya setelah apa yang terjadi dengan Gone Girl. Sinopsis yang kurang menarik dan rasa malas membuat saya terus menolaknya sampai seorang teman membacanya dan saya merasa tertantang. Oke, inilah waktunya! Akhirnya.

Terjemahannya nggak enak dibaca. Meski sangat mirip dengan aslinya, bahasanya terlalu kaku jika diterapkan di sini. Seandainya penerjemah mau berkhianat pada bahasa aslinya dan mencoba tambal sulam kata penghubung dll, menurutku buku ini akan lebih mudah dan enak dibaca.

Dari segi cerita.. cerita bergerak ke arah yang nggak kuduga. Awalnya saya pikir ini hanyalah kasus pembunuhan berantai pada umumnya, yang hanya perlu dicari pelaku dan motifnya. Tapi ternyata lebih dalam, lebih pelik, dan lebih gila dari kelihatannya. Benar-benar apa ya, ini lebih dari Gone Girl, tapi saya nggak bisa menggesernya dari tempat favorit. Karena Gone Girl itu cerdas (saya suka wanita cerdas) dan halus. Sedangkan Sharp Objects, walaupun memang bagus sekali dalam alur dan penceritaannya, tapi dia meninggalkan rasa takut akan masa depan, insecurity akan kemungkinan-kemungkinan buruk.

Perilaku Amma dan Adora sangat menarik untuk dikulik dari segi psikologis. Ini salah satu hal keren dari buku ini. Dan di sini, kembali saya melihat lingkaran setan. Kata-kata seperti 'like father like son' dari sisi berbeda. Sebenarnya ini kasus yang sangat umum dan lagi-lagi menimbulkan insecurity kalau si anak mengalami perlakuan yang aneh atau kurang menyenangkan. Like, kamu nggak mau mengulang sejarah, mengurus anakmu sebagaimana orang tua memperlakukanmu. Tapi karena kamu hidup dalam lingkungan itu, dan mungkin sampai nggak tahu keluarga yang 'normal' itu seharusnya seperti apa, akhirnya kamu terjebak dan melakukan persis seperti yang orang tuamu lakukan. Entah pengaruh nature, nurture, atau keduanya yang membaur.

So, walaupun saya merasa terpana dan cukup menikmati ceritanya, ini bukanlah buku yang ingin saya miliki dan pajang di rak buku saya. Terlalu berbahaya.
Profile Image for Ikbal  Fakula.
298 reviews4 followers
October 13, 2021
Tidak ada hal lain yang kuinginkan selain menjadi tidak sadar lagi, terbalut dalam gelap, pergi.
--p. 58

---

Saya awalnya gak nyangka sama sekali kalau untuk membaca novel ini hingga selesai akan menghabiskan waktu nyaris dua Minggu. Salah saya juga sebenarnya, karena terlalu sering menunda dan memang ya, dua Minggu ini lebih berat dari beberapa Minggu sebelumnya. Jadi untuk membaca saya lebih ke pasang surut.

Tapi terlepas dari itu, Sharps Object merupakan karya yang sangat bagus. Saya sangat suka dengan karakteristik dari tokoh utama kita, Camille Preaker. Saya dan dia memiliki beberapa kesamaan dalam cara berpikir. Dia juga melakukan itu. Beda sedikit sih, dia mengiris kulit untuk menorehkan kata-kata, saya cuma sekadar nyilet doang.

Mungkin yang baru awal-awal baca, buku ini akan sedikit berat. Saya juga merasakannya. Sejak awal membuka buku, bahasa yang digunakan penulis itu bagaimana ya menyebutnya. Bukan bertele-tele, namun kalau di saya ya, gampang aja buat kehilangan detail karena saking terlalu banyaknya detail dalam tiap kalimat penulis itu. Mungkin ini salah satu faktor di samping masalah yang saya alami Minggu ini sehingga membaca buku ini memakan waktu yang sangat lama.

Alur cerita dari buku ini nyaris sama dengan gaya penulisannya. Ribet. Bikin pusing. Nyaris membuat saya berhenti untuk membaca ketika sudah tiba di pertengahan buku. Namun buku ini spesial, saya tahu. Soalnya saya pernah melihat sebuah postingan ig yang mengatakan kalau buku ini memiliki ending yang sangat ambyar.

Well, mengenai soal itu, bisa saya bilang lumayan benar sih. Plot twist dan ending lumayan memukau. Saya sebenarnya sudah menebak dari awal siapa pelaku pembunuhan dalam cerita ini, dan voilaa! Ternyata benar.

Namun yang saya sukai dari endingnya adalah motivasi dan apa yang mendorong pelaku untuk melakukan itu. Itu asli sih, keren sekaligus mencekam.

Happy reading:)
Profile Image for Kartini NRG.
77 reviews
March 20, 2022
Aku suka narasi dan dialognya yang anti basa-basi. Pengenalan tokoh, cara berpikirnya, prinsipnya, dan pekerjaannya, semua dideskripkan dengan cara yang menarik di awal cerita. Vibenya kayak baca tulisan Windry Ramadhina. Semua terasa pas, dan membuatku memikirkan proses editing yang panjang dan berliku-liku di balik kesan page turner itu—atau memang penulisnya saja yang sudah jago ya.
Cerita dibawakan oleh Camille Preaker, seorang jurnalis yang nggak jago-jago amat. Bekerja di perusahaan koran yang cukup bagus tapi tidak bagus-bagus amat juga. Camille bernarasi dengan cukup lugas dan berani. Deskripsinya dalam dan detail di beberapa bagian. Memperlihatkan apa yang menjadi fokus Camille sesuai dengan backstorynya. Camille memiliki luka masa lalu yang menjelma trauma dan membuat ia punya pemikiran sendiri tentang sosok ibunya. Cukup seru mengikuti perjalanan Camille mencari bahan untuk beritanya sekaligus mengungkapkan misteri di keluarganya sendiri.
“Menurutku ada wanita yang tidak berbakat menjadi ibu. Dan ada wanita yang tidak berbakat menjadi anak perempuan.” - 152
Aku suka gaya bahasa penulisnya. Tidak berbelit-belit dan menggerakkan cerita dengan baik. Plot twistnya juga keren. Menjelang ending, aku dibuat khawatir akan apa yang akan menimpa Camille. Padahal sebelumnya ia terasa tidak diancam bahaya, toh target dari pembunuh yang berkeliaran itu adalah anak kecil. Tapi di bagian akhir, penulis berhasil membuatku bersimpati pada Camille dan ingin sekali dia selamat.
Soal cover, jujur kurang suka sih. Mungkin efek warnanya yang lemah, fontnya yang terlalu biasa. Terasa effortless aja sih menurutku. Selain itu, nggak nemu hal lain yang tidak aku suka.
Novel ini cocok banget buat yang suka domestic thriller, dengan ketegangan yang tidak terlalu intens tapi tetap menjerat hingga akhir.

Rating: 4.5/5.0
Displaying 1 - 30 of 86 reviews