Jump to ratings and reviews

Corruption

Casablanca and Tangier provide the backdrops for Corruption , and erotic tale of morality about Mourad, the last honest man in Morocco. After a lifetime of resistance, Mourad finally gives in to the demands of his materialistic wife and accepts "commissions" for his just one envelope stuffed with cash, then another. Ben Jelloun's compelling novel evokes the dangers of succumbing to the daily temptations of modern life, as Mourad lives the consequences of betraying his existence.

144 pages, Paperback

First published January 1, 1994

Loading...
Loading...

About the author

Tahar Ben Jelloun

250 books2,279 followers
Tahar Ben Jelloun (Arabic: الطاهر بن جلون) is a Moroccan writer. The entirety of his work is written in French, although his first language is Arabic. He became known for his 1985 novel L’Enfant de Sable (The Sand Child). Today he lives in Paris and continues to write. He has been short-listed for the Nobel Prize in Literature.

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
51 (11%)
4 stars
144 (33%)
3 stars
170 (39%)
2 stars
46 (10%)
1 star
15 (3%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for nat.
127 reviews
March 22, 2011
Aku ragu-ragu untuk mereview buku ini atau tidak, karena nanti bawaannya akan curhat.
Tapi akhirnya kuputuskan untuk menulis, setelah kejadian tadi sore.

Baiklah review ini akan kuawali dengan cerita, bahkan mungkin hampir seisi review ini adalah cerita.

Saat mengepak barang-barangku di tas menjelang jam pulang kantor sore ini, aku mengambil buku ini lalu mempromosikan pada ibu-ibu yang duduk di meja depanku. Ini bukanlah ibu yang sama dengan ibu yang pernah berkata sinis dulu padaku.
"Bu, buku ini bagus lho," ujarku, "tentang kisah korupsi di Maroko yang mirip banget dengan di Indonesia."
Si ibu kaget melihat judul bukunya: KORUPSI. Tidak dibukanya, hanya dilihat sampulnya, depan-belakang. Aku berlanjut berucap, " Yang menulis seorang Maroko yang terinspirasi untuk menulis kisah korupsi yang terjadi di negaranya, setelah dia membaca buku dengan tema serupa karangan Pramudya Ananta Toer. Keren kan PAT."
Bapak-bapak di seberang mejaku langsung berkomentar, "PAT itu kan pengarang komunis."
"Iya itu, tapi ya dasarnya sastrawan, karena karyanya yg komunis itu dia dipenjarakan, tapi masih menulis buku di penjara juga," sahut Bapak lainnya.
Degggg. hatiku langsung berdesir. Wah-wah, ini diceritain tentang buku korupsi, malah membahas pengarang Indonesia, sekaligus menghakimi kalau dia itu komunis. Memang mereka kenal sama PAT apa ? Trus apa mereka pernah membaca karya-karyanya ? Tapi itu pikirku dalam hati, tak usahlah aku bahas isu ini di depan mereka, toh ini pengalihan isu.
"Jadi, inti ceritanya, di novel ini tokoh ini mengambil gratifikasi..bla..bla..bla..lalu dijadikan kambing hitam bla..bla..bla.. Mirip banget dengan kejadian-kejadian di Indonesia," ujarku serya mengingat beberapa curhat dari teman atau kenalan yang pernah menjadi PNS di "orde lama."
"Nah, ternyata seorang istri itu bisa membuat suaminya korupsi ya, kayak di buku ini," lanjutku.
"Iya, betul itu, sebagian besar seperti itu," sahut sang ibu dengan lemah lembut. Si ibu ini memang terkenal lemah lembut dan santun.
"Tokohnya kasihan banget deh Bu, udah pengin menikahi seorang yang sangat dia kagumi dengan gratifikasi yang dia ambil, eh ternyata wanita itu mencintai kejujurannya, bukan kekayaannya. Trus dia jatuh pula di kantornya, jadi sudah jatuh tertimpa tangga," lanjutku.
Obrolan terhenti di situ karena jam pulang kantor, semua sibuk mengemasi barang-barangnya dan pulang.

Itu semua kisah nyata.
Ini pemahamanku ya, kalau ada seorang yang pernah menerima gratifikasi, pasti malas untuk membicarakan gratifikasi.
Kalau ada seorang yang pernah korupsi, pasti tak mau ikut dituding korupsi, paling-paling ikut menuding yang korupsinya jauh lebih besar nilai nominalnya.
Kalau ada yang pernah menerima penghasilan fiktif (dari apa yang sesungguhnya tidak dia kerjakan), pasti akan melonjak protes kala penghasilannya itu berkurang dengan alasan pelaksanaan sesuai ketentuan atau dibilang ikut menerima bagian dari korupsi.
Apalagi tentang suap, tambah merasa bersalah kali ya, kecuali kalau sudah nggak punya hati.

Di duniaku, tak mudah berdiri mempertahankan suatu prinsip.
Ada yang menatap dengan sinis atau menganggap remeh dengan kata-kata seperti ini:
"Jangan sok suci nggak mau terima lembur fiktif. Kamu sekarang mungkin nggak butuh duit, tapi tunggu nanti kalo udah punya anak dan kebutuhan macam2, paling2 ya sama kayak kami2 ini atau malah lebih parah."

Ada juga yang 'menasehati' dengan berbagai macam alasan agar aku ikut menerima sesuatu yang seharusnya tidak kuterima dengan berbagai analogi yang nggak nyambung.

Ada yang merasa kalau mengambil penghasilan fiktif itu tidak masalah karena sudah dianggarkan; ataupun mencari-cari kegiatan agar bisa dijadikan alasan untuk lembur dan mendapatkan imbalan uangnya.

Aku bersyukur saat awal menjadi abdi negara ditempatkan di sebuah kantor yang pemimpinnya jujur dan mengajari kami yang muda-muda untuk nggak ikut-ikutan 'yang senior' serta mempertahankan integritas, keteladanan hidup sederhana pun ia berikan.

Saat kulihat lembaran-lembaran daftar hadir lembur fiktif di sebuah kantor 6 tahun silam, aku bertanya pada senior yang dapat kupercaya dan mendapatkan suatu pelajaran yang sangat berharga. Aku bisa menolak lembur fiktif, dengan menyatakan seperti itu dari mula, mesti konsisten dan tidak berubah-ubah.

Bukan tanpa godaan. Kadang ada yang muncul dalam bentuk seperti ini. Aku membantu atasanku untuk mengajar atau mengisi acara di instansi lain. Saat aku diberikan amplop honor, aku bisa menolak, karena aku tidak masuk surat tugas, hanya membantu. Sesungguhnya yang tidak masuk surat tugas, berarti tidak dianggarkan untuk menerima honor. Aku rela, karena kapasitasku adalah membantu atasanku.
Pernah sekali aku salah menerima honor tanpa bertanya. Ternyata aku tidak mendapatkan surat tugas. Malamnya aku telepon panitia, dan esoknya pagi-pagi sekali aku kembalikan honor itu ke panitia, dengan penjelasan seperti tersebut di atas, serta meminta selembar kuitansi yang telah kutandatangani, yang ternyata "KOSONG!!"
Bayangkan, kuitansi yang kosong kok bisa kutandatangani begitu saja ? Kalau nanti diisinya dengan pembelian alat tulis kantor dll demi cairnya dana, berarti aku ikut menjadi sarana korupsi dong ?
Huh, hampir saja. Dan kuitansi kosong itu masih kusimpan sampai sekarang sebagai bukti, kalau-kalau ada yang mempermasalahkan penolakanku di kemudian hari.
Beberapa bulan berselang aku malah mendapat kabar dari panitia acara tersebut yang menghubungiku untuk meminta bahan yang diajarkan waktu itu, karena filenya hilang. Konon Bapak Ketua Panitia yang dulu menerima pengembalian honor dariku itu sedang di rumah sakit karena kecelakaan. Wah, kaget! Tak tahu lah ya, tak ada hubungannya mungkin, tapi sedih mendengarnya.

Nah, cukup sampai di sini cerita (curhatnya).
Aku menyukai novel ini karena kisahnya yang amat sangat mungkin terjadi, alias mendekati realita, bahkan dengan fenomena di Indonesia, bukan tak mungkin itu terjadi di banyak orang dengan 1-2 penyesuaian.
Aku suka dengan pergolakan isi hati Murad saat dia mau menerima atau menolak segepok uang dalam amplop, serta bagaimana rasa bersalah itu membelenggunya.

Mengapa hanya 3 bintang ? Karena endingnya kurang menggigit menurutku, terlalu tergesa-gesa untuk diakhiri. Mungkin juga karena aku sebenarnya lebih ingin endingnya itu Murad kembali ke jalan yang benar dan perjuangannya kembali di jalan itu.

Yang jelas novel ini menjadi semacam pengingat bagiku. Ingat Murad, ingat pergumulan batinnya, jangan berani coba-coba. Jangan mendasarkan prinsip itu pada sebuah idealisme atau karena ingin merebut hati seseorang, namun harus dengan dasar yang lebih kuat, apalagi kalau dasarnya bukan karena cinta pada Tuhan ? Kiranya Tuhan menolong saya.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,396 reviews46 followers
April 14, 2011
Lebih dari sepuluh tahun lalu, seorang teman meminjamkan buku "Korupsi" karya Pramoedya Ananta Toer. Si teman pakai bisik2 kalau buku2 PAT ini tidak boleh beredar dan dibaca. Memang tahun 2000 itu Soeharto sudah tidak menjabat sebagai Presiden RI, namun bayang2 bahwa PAT adalah "komunis" dan karya2nya pun dituduh beraliran komunis masih melekat di lingkungan masyarakat kecil tempat saya tinggal dan beraktivitas. Makanya saya yang masih muda belia dan gampang ditakut2i dengan film "Pengkhianatan G 30 S/PKI" ini, membaca buku PAT edisi fotokopian itu dengan agak khawatir. Takut masih ada intel yang menciduk saya karena ikut2an komunis. Tapi kalau pun memang saya komunis, apa sih kerugiannya buat si intel itu? (Kalau memang ada, hehe..).

Ternyata oh ternyata, di buku PAT yang pertama kali saya baca itu, kok tidak ada hal2 mengerikannya? Saya tutup buku itu sambil penasaran: apa sih yang ditakuti oleh rezim Orba dari karya semacam ini hingga sampai dilarang dibaca? Kan ceritanya biasa saja, ada di alam nyata sehari2, seorang pegawai kecil terhanyut lingkungan sekitarnya untuk mencatut barang inventaris lembaga negara tempatnya bekerja. Alasannya, karena rumah tangganya butuh anggaran tambahan. Dari mencatut kecil2an sampai membesar, dan bahkan punya istri lagi. Setting ceritanya adalah masa Orde Lama, di mana sepuluh rupiah itu begitu berharga dan punya seratus rupiah di saku artinya kamu kaya.

Saya tidak ingat lagi persisnya, seperti apa jalan ceritanya. Yang jelas saya geleng2 saja. Catatan korupsi di nusantara ini sudah terjadi jauh sejak masa VOC, hingga bisa menjatuhkan (sementara) rezim Orba. Kenapa sampai sekarang tidak hilang2, ya sebagian bisa jadi karena pihak yang seharusnya menindak malah ikut melakukan penghilangan terhadap bukti2 korupsi mereka :).

Nah, kenapa jadi cerita "Korupsi"-nya PAT, bukan bukunya Tahar ini? Baiklah begini saja awalnya. Begitu membaca bahwa buku ini diinspirasi oleh bukunya PAT, sebenarnya saya tidak berminat buru2 membacanya. Jarang2 kan kalau ada karya "diinspirasi" oleh karya lain maka karya itu bisa lebih menggugah daripada karya aslinya. Jadi saya cuek saja pada buku ini sampai berbulan2, sampai ternyata saya lihat di toko buku, harganya lumayan terjangkau lah. Ada diskon pula :p.

Saya mulai membacanya, dan kemudian menyelesaikannya, dan jadi agak jengkel. Dari sisi cerita, baiklah, garis besar ceritanya sama dengan karya PAT. Settingnya di Maroko. Seorang pegawai negeri dengan gaji kecil yang hanya sebagai "butiran pasir" tidak mau ikut2an berlaku tidak jujur tapi lama2 berbelok juga ke jalan yang becek. Ternyata main becek2an itu enak, tapi bikin gelisah. Apalagi dirongrong oleh istri dan mertua yang cerewet dan matre... mana tahan? Hal yang bikin jengkel saya adalah cara bercerita yang sangat naratif sekali. Memang wajar sih kalau kita mengambil sudut pandang cerita orang pertama. Tapi capek juga setiap saat melihat Murad terus. "Aku merasa...", "Aku jengkel sekali", "Seandainya aku dulu menikahi Nadia...", "Badanku terasa lelah...". Hih, saya jadi merasa tokoh ini banci tampil sekali, hehe...

Tibalah masa untuk pembaca ini memberi bintang. Bintang satu, untuk penggambaran cukup detil masyarakat menengah Maroko. Mayoritas penduduk Maroko memang Muslim, namun sebagian kalangan kelas menengahnya punya gaya hidup yang nyaris sama dengan kelas menengah Perancis. Minum sampanye dan bir untuk teman makan siang, melakukan seks bebas tanpa beban, atau ritual agama dijalankan hanya sebagai tradisi.
Bintang dua, karena ada pernyataan yang agak konyol waktu si tokoh, Murad, kena penyakit kulit. Kata orang kantornya, si culas H.H. dan dokter kulit, itu karena Murad kurang luwes. Di sini saya manggut2. Begitu yah, kalau satu kecurangan lama2 jadi kebiasaan, kita memang tidak bakal terganggu lagi dengan kecurangan itu. Hmmm... pantes orang2 curang gak mati2... wong udah kebal :p
Bintang setengah, karena buku ini sudah jadi, sudah terbit di mana2. Gak kayak buku saya, belum mau keluar2 dari komputer.

Begitu sajalah.

Profile Image for htanzil.
379 reviews153 followers
December 15, 2010
Novel Korupsi ini ditulis oleh Tahar Ben Jelloun, seorang penulis dan penyair asal Maroko yang menuliskan karya-karyanya dalam bahasa Perancis. Novel ini mendapat ‘tempat’ tersendiri di kalangan sastrawan tanah air karena karyanya ini terilhami oleh novel “Korupsi” karya pengarang besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer.

Pada awal tahun 1990-an Tahar Ben Jelloun berkunjung ke Indonesia. Saat itu ia ingin sekali bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer yang sangat dikaguminya. Karena saat itu Pram tengah menjalani tahanan kota dan “demi kebaikan Pramoedya” maka ia mengurungkan niatnya untuk bertemu Pram. Namun walau tak sempat bertemu muka dengan Pramoedya, selama di Jakarta ia sempat membaca terjemahan bahasa Perancis novel Korupsi karya Pramoedya yang akhirnya mengilhaminya untuk menulis novel serupa dengan latar Maroko.

Pada tahun 1994 novelnya diterbitkan dengan judul L’Homme Rompu (Lelaki yang Patah). Dengan permainan kata “Rompu” (patah) adalah “corrompu” (korup) yang ia persembahkan untuk Pramoedya, tidak itu saja sebagian royalti dari penjualan novel ini juga ia berikan kepada Pramoedya. Sebagai ungkapan terimakasihnya Pramoedya mengirimkan sepucuk surat pribadi yang menurut Tahar “ditulis dengan sangat indah”.

Kini 16 tahun kemudian barulah novel Tahar ini diterjemahkan dan diberi judul yang sama persis dengan novel Pram yaitu ‘Korupsi’
Dalam novelnya ini Tahar mengisahkan tokoh Murad, seorang Insinyur lulusan perguruan tinggi di Perancis yang bekerja di Kementrian Pekerjaan Umum di Casablanca, Maroko. Ia adalah wakil direktur Perencanaan Pembangunan dan Pembinaan, salah satu tugasnya adalah mempelajari berkas pembangunan yang diajukan ke kementrian PU. Tanpa parafnya tak ada izin membangun, namun walau posisinya cukup tinggi gaji Murad tak mencukupi untuk menghidupi istri dan kedua anaknya.

Sebenarnya jabatan dan pekerjaannya yang ‘basah’ sangat memungkinkan ia memperoleh uang suap dari pihak-pihak yang membutuhkan legalitas dari dirinya, namun Murad memiliki prinsip untuk bekerja secara jujur dan tidak melakukan korupsi sehingga di kalangan rekan-rekan kerjanya ia mendapat reputasi sebagai “manusia besi”.

Sayangnya prinsip yg dipegang teguh oleh Murad tak sejalan dengan istri dan lingkungan kerjanya. Hilma, istrinya selalu mengomel dan menuntut ini dan itu, Hilma juga sering membandingkan kehidupan mereka dengan Haji Hamid, asisten Murad yang walau gajinya lebih kecil dari Murad namun Hamid lebih kaya daripada mereka.

Keteguhan Murad untuk bekerja secara jujur juga membuat ia menjadi ganjalan bagi rekan-rekan kerjanya yang berusaha mendongkel Murad dari kedudukannya. Ketika atasan maupun asistennya melakukan korupsi maka perilaku Murad yang bersih justru dianggap aneh sampai-sampai direkturnya sendiri memberi wejangan agar Murad lebih ‘luwes’ dalam bekerja dan memberikan alasan-alasan yang masuk akal agar Murad juga melakukan korupsi seperti mereka.

Kehidupan ekonomi keluarganya yang serba kekurangan, salah satu anaknya yang sakit-sakitan, tekanan dari istri dan rekan-rekan kerjanya yang terus menggodanya agar melakukan korupsi lambat laun mulai menggoyahkan keyakinannya. Iman dan keteguhan prinsipnya benar-benar diuji ketika didalam sebuah berkas yang harus ditandatanganinya terdapat segepok uang dirham. Ketika itu hatinya galau karena uang itu lebih dari cukup untuk melunasi hutang-hutangnya sekaligus untuk mengobati anaknya, namun jika uang itu diambilnya maka runtuhlah prinsip anti suap/korupsi yang selama ini ia pegang teguh.

Tahar Ben Jelloun mengemas kisah Murad ini dengan memikat dan begitu hidup, pergolakan batin Murad terdeskripsi dengan sangat baik sehingga pembacanya diajak merasakan kegalauan hatinya dalam mempertahankan prinsipnya. Wejangan panjang lebar dari atasan Murad yang mencoba merasionalisasikan tindakan korupsi terkesan begitu masuk akal dan meyakinkan sehingga tak hanya Murad tapi pembaca novel inipun mungkin akan sedikit membenarkan apa yang dikatakan direkturnya itu.

Kehidupan sosial masyarakat Casablanca dan suasana kota, angkutan umum, lalu lintas, dan perilaku korupsi yang terdapat dalam novel ini juga terasa memiliki banyak kesamaan dengan kota-kota besar di Indonesia sehingga pembaca sejenak akan lupa kalau setting kisah Murad itu berada ribuan kilometer dari Indonesia. Tak heran rasanya kalau Casablanca ini merupakan sister city dari Jakarta, dimana suasana kota dan perilaku korupsi pegawai negerinya memiliki kesamaan.

Munculnya tokoh Nadia seorang janda cantik yang merupakan selingkuhan Murad turut mewarnai novel ini. Bagi Murad hanya Nadialah yang mengerti akan prinsip yang dianutnya sehingga bisa dikatakan Nadia tempat dimana dia bisa melepaskan ketegangan yang dialminya baik di rumah maupun di pekerjaannya. Melalui perselingkuhannya dengan Nadia ini maka Murad bukan seorang manusia sempurna, di satu sisi ia begitu kokoh mempertahankan prinsipnya sebagai pegawai yang ‘bersih’ namun di satu sisi ia memiliki kelemahan dalam hal wanita. Moralitasnya hanya pada negara namun hal ini tidak berlaku dalam hal hubungannya dengan wanita.

Pergulatan batin Murad dalam mempertahankan prinsipnya dan bagaimana ketika akhirnya ia harus mengambil resiko atas keputusan yang diambilnya, serta kisah cintanya dengan Nadia mengalir tanpa jeda di novel ini. Sepertinya memang penulis tak memberi kesempatan bagi pembacanya untuk berhenti membacanya karena novel setebal 231 halaman ini ditulis tanpa ada pembagian bab. Untungnya kemahiran Tahar dalam merangkai kisah dan terjemahan yang enak dibaca membuat novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi sehingga beberapa pembaca mungkin akan menghabiskan novel ini dalam sekali duduk.

Novel ini juga merupakan cerminan kehidupan birokrasi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan tingkat korupsi yang tinggi karena korupsi sudah mendarah daging dan menjadi sebuah hal yang wajar. Di novelnya ini pada akhirnya Tahar memberikan gambaran pada kita bagaimana seorang yang memiliki prinsip yang teguh untuk bekerja secara ‘bersih’ harus melawan arus dan menghadapi berbagai tekanan dan sistem yang membuat perilaku korupsi menjadi begitu mudah dan mentradisi.

Selain tekanan lingkungan dan sistem, seseorang yang seperti Murad juga mungkin bisa dikalahkan oleh karena kemiskinan yang dialaminya, hal ini sesuai dengan apa yang ditulis Tahar dalam kata pengantarnya bahwa “Di bawah langit yang berbeda, dan berjarak beribu-ribu kilometer, ketika didera oleh kesengsaraan yang sama, kadang-kadang jiwa manusia menyerah pada setan yang sama” (hal 12)

@htanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews33 followers
January 18, 2011
Korupsi bukan istilah baru bagi kita. Di belahan dunia manapun tidak bebbas dari korupsi. Hanya tingkat nya tinggi, sedang, ringan, atau bebas korupsi. Buku ini seolah cerminan negara kita, sama-sama negara berkembang, sama sama bekas jajahan negara Eropa. Tapi ada yang berbeda. Mereka dipimpin oleh raja yang pintar. Sebelum kita mengenal tokoh-tokoh maupun cerita dalam buku ini, mari kita intip sekilas data-data tentang Maroko.

Hari Kemerdekaan : 2 Maret 1956 (dari Perancis)
Sistem Hukum : berdasarkan Hukum Islam dan Perancis dan
Sistem hukum sipil Spanyol.
Kepala Negara : King Mohammed VI (Sejak 30 Juli 1999)
Kepala Pemerintahan : Perdana Menteri Abbas El Fassi (Sejak 19 September 2007)

Maroko terletak di utara Afrika, masih terdapat sengketa daerah Sahara Barat dimana antara Maroko dan Sahrawi Arab Democratic Republic (yang berkantor di Algeria) masih belum sepakat mengenai status wilayah itu. sementara itu, menurut situs www.cia.gov, Maroko merupakan point transit penjualan kokain yang berasal dari Amerika Selatan yang ditujukan ke Eropa Barat.

Kembali ke buku ini, menceritakan seorang pegawai negeri yang bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum Maroko. Namanya Murad. Posisinya cukup berpengaruh, ia menjabat sebagai Wakil Direktur Perencanaan dan Pembinaan. Ia cukup terdidik. Ia memperoleh gelar sarjana ekonomi dari Universitas Mohamed V di Rabat, serta gelar insiyur dari sekolah di Perancis.

Jabatannya sangat penting dan diincar orang. Ia mempelajari berkas proyek dan jika ia menyetujui, ia akan memberi paraf. Tanpa parafnya, tak ada izin membangun. Pilihan hidupnya untuk tidak menerima amplop atau sejenisnya dari pihak rekanan, ternyata memiliki konsekuensi yang besar. Gajinya yang kecil, ia alokasikan untuk membiayai hidup bersama istri dan kedua anaknya. Tak cukup dengan gajinya, ia pun berutang dengan pemilik warung. Istrinya, Hilma, terus memprotes Murad. Bahkan Hilma mengina Murad dengan mengatakan bahwa Murad bukanlah laki-laki sejati.

Sebenarnya dengan latar belakang Murad yang berpendidikan sarjana ekonomi dan insinyur, merupakan nilai tambah untuk pilihan hidup yang lebih baik. Ia sebenarnya dapat menjadi Akuntan di perusahaan besar. Namun, mungkin Ben Jelloun ingin tampaknya memberi nuansa pada cerita ini dimana mencari pekerjaan tanpa melibatkan orang dalam adalah sesuatu hal yang hampir mustahil. Murad pun 'terjebak' dengan pilihannya sebagai pegawai negeri. Keluarga baru terbentuk. Anak-anak bertambah besar, kebutuhan keluarga meningkat seiring dengan deret hitung, sementara pertambahan gaji mengikuti deret ukur.

Konflik besar terjadi. Antara Hilma dan Murad sudah tak terjalin lagi cinta. Yang muncul dalam rumah tangga mereka lebih sering pertengkaran. Dan parahnya, Hilma menyerang Murad dengan kata-kata, yang lebih tepat penghinaan, "kamu seperti bapakmu!" (Hlm 54). Bagi Murad, harga dirinya sebagai laki-laki betul-betul pada titik nadir. Konflik rumah tangga ini menarik bila kita kaitkan dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Shaunti Feldhan (dalam For Women only, 2004), yang menyimpulkan: banyak lelaki akan lebih memilih untuk tidak dicintai, daripada tidak dihormati. Berkebalikan dengan perempuan, justru dalam benak perempuan rasa dihormati bukanlah sesuatu yang terlalu penting jika dibandingkan dengan rasa dicintai dan diperhatikan.

Apa yang dialami oleh keluarga Murad, saya yakin banyak terjadi juga di Indonesia. Jika kita bertanya, mengapa ada korupsi? tersedia banyak jawaban. Saya kutip dari buku "Korupsi Mengorupsi Indonesia" (2010) tulisan "Memahami Korupsi" sebagai berikut.

Menurut Arvin K Jain, "Corruption: A Review", Concordia University, Journal of Economics Survei, Vol.15 No.1, 2001. Korupsi terjadi jika tiga hal terpenuhi, yaitu:
1) Seseorang memiliki kekuasaan termasuk untuk menentukan kebijakan publik dan melakukan administrasi kebijakan tersebut,
2) Adanya economics rents, yaitu manfaat ekonomi yang ada sebagai akibat kebijakan publik tersebut, dan
3) Sistem yang ada membuka peluang terjadinya pelanggaran oleh pejabat publik yang bersangkutan.



terlepas dari aspek di atas, masih banyak penyebabnya. Entah karena harga diri atau karena membandingkan diri dengan kehidupan rekan sejawat yang hidupnya berkelimpahan harta. Maka tak heran, kasus pajak yang melibatkan Gayus Tambunan. Orang-orang seperti senior maupun rekan kerjanya turut berkontribusi membuat Gayus ikut "meniru" perilaku tersebut.

Apa langkah yang selanjutnya yang diambil oleh Murad adalah membiarkan dirinya pada pilihan-pilihan yang dilema itu. Antara menerima dan tidak amplop yang disisipkan di berkas, meninggalkan Hilma serta berpaling kepada Nadia, sepupunya, atau pergi meninggalkan semuanya? Mungkin sisi karakter laki-laki inilah yang hendak ditonjolkan oleh Ben Jelloun. Betul bahwa buku ini adalah semacam tribute pada Pramoedya Ananta Toer yang juga menerbitkan buku serupa, namun konflik tokoh di dalamnya jauh menurut saya lebih menarik didalami daripada korupsinya itu sendiri. Sebab korupsi sendiri adalah deviasi dari kemurnian, kejujuran, keadilan dan ketulusan manusia.

Ada sebuah disertasi yang membahas karakter laki-laki dan perempuan pada novel yang berjudul asli "L'Homme rompu" ini. Namun sayangnya, saya tidak berhasil mendapatkan softcopynya. Judul lengkapnya adalah Male-female relations in Tahar Ben Jelloun's "L'Homme rompu" and "La Nuit de l'erreur" oleh Shonu Nangia, Wayne State University.

Sosok Ben Jelloun juga masih baru bagi saya. Masih ada novel karangan beliau yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Saya pernah lihat covernya di web, tapi susah menemukannya kembali. Menurut saya, karya Ben Jelloun ini layak mendapat perhatian, mungkin karya beliau yang lain perlu juga dibawa ke Indonesia agar kita pun tahu cerita di dunia sana, seperti pada penutup kata pengantarnya: Cerita yang sepintas sama tetapi sesungguhnya berbeda ini, baik secara lokal maupun universal, adalah hal yang mendekatkan kami. Ya, kami, para pengarang dari Selatan, meskipun wilayah Selatan ini berada di timur jauh.

Ben Jelloun lahir di Maroko pada 1944. "Ibu saya buta huruf Ayah tahu cara membaca tapi. adalah seorang penjaga toko. Kami memiliki kehidupan yang sangat sederhana, tanpa musik atau buku, kecuali Al Qur'an." katanya.

Ia belajar filsafat di universitas Rabat, dan, setelah dibebaskan dari kamp militer di Ahermemon tahun 1968, ia mengajar selama tiga tahun di sekolah di Tetuan dan Casablanca, sebelum pemerintah memutuskan bahwa filsafat dapat diajarkan hanya dalam bahasa Arab klasik. Pada tahun yang sama, 1971, souffle jurnal sastra, yang ia tulis, dilarang, dan ia berangkat ke Perancis.

Di Paris dia meraih gelar doktor dalam psikiatri sosial, meneliti impotensi seksual di kalangan migran Afrika utara di rumah sakit. "Saya bukan dokter, taorang kepercayaan, "kata dia. "Luka-luka migrasi memukul saya di wajah:.. laki-laki yang hancur secara psikologis. aku pikir, seksualitas naluriah atau alami, tapi itu sangat terkait dengan perlindungan dalam dan konteks budaya." (sumber: http://www.guardian.co.uk/books/2006/...)

@hws27012011
Profile Image for Azia.
243 reviews11 followers
August 13, 2012
Buku ini menceritakan kisah hidup Murad,seorang insinyur yang bekerja di kementerian Pekerjaan Umum Maroko. Pegawai negeri yang hidup sederhana,jujur dan bermartabat. Posisinya cukup penting tanpa parafnya tidak ada ijin membangun. Dengan gajinya yang standar untuk menghidupi keluarganya,membayar yang sekolah anak-anaknya, dan sewa rumah tidaklah cukup. Ia kerap berutang pada warung tetangga. Murad mempunyai asisten bernama Hamid. Secara jabatan,Hamid berada di bawah Murad tapi gaya hidup Hamid berbanding terbalik dengan Murad. Hamid tinggal di vila,mempunyai mobil mewah,berlibur ke Eropa,mampu ke Mekkah dua kali setahun.

Murad bukannya tidak tahu ada negoisasi di luar kantor. Ia pun mendapatkan pemberian-pemberian dari pemohon ijin. Pemberian tersebut bentuknya bermacam-macam seperti Amplop penuh uang, kambing sewaktu Idul Adha, tiket pesawat untuk Umrah bahkan wanita cantik. Semuanya dikembalikan kepada pengirimnya. Murad dikenal mempunyai integritas 'manusia besi'. Pemohon ijin akhirnya mencoba

'Aku cuma tahu bahwa apa yang disebut mereka "sistem" itu tidak cocok bagi orang-orang seperti aku. Aku adalah sebutir pasir yang masuk ke dalam mesin korupsi itu dan menjadikannya berderit'

Kelurusan Murad membuat berang istrinya,Hilma. Hamid menyeret keluarganya ke dalam kemiskinan. Hilma ikut membantu pemasukan keluarga dengan menerima jahitan. Hilma membandingkan Murad dengan ipar-iparnya yang sukses. Karena pengaruh lingkungan dan keluarganya,Hilma jadi lebih menuntut. Mereka sering cekcok dan yang bisa membahagiakan Hilma adalah uang. Murad merasa cintanya pada Hilma terkikis pelan-pelan. Ia mulai memikirkan Nadia, sepupunya yang janda.

Direktur,atasan Murad, sudah cukup mengajarkan tentang 'keluwesan'. Namun Murad memiliki perbedaan pandangan dengannya.Bathin Murad seringkali dilema ketika ia berhadapan dengan amplop uang. Apakah ia terima atau dikembalikan. Jika diterima,ia bisa melunasi hutang-hutangnya dan untuk biaya berobat anak perempuannya,Karima.

Sebuah berkas dari Tuan Sabbane diserahkan Haji Hamid. Berkas itu terdiri dari dua amplop. Salah satu amplopnya berisikan uang dan tidak ada keterangan di sampulnya. Namun maksud hati Tuan Sabbane sudah jelas. Jumlah uang tersebut sama dengan empat kali gaji Murad. Jika melakukan hal tersebut dalam 2 minggu saja,ia bisa kaya. Sewajarnya tiap berkas harus mengikuti prosedur dengan melalui proses tender bersama yang lain. Ah proses tender itu hanya formalitas. Kembali bathinnya berperang.

'Kalau kulakukan hal itu,aku tak akan bisa mundur lagi. Itu akan menjadi awal dari jeratan. Kehidupanku akan berubah. Akan ada satu amplop dan amplop lainnya'

Murad akhirnya memilih mengosongkan amplop dan menyelipkan uangnya dalam buku tebal Jean Paul Satre. Murad merasakan dirinya menjadi orang lain. Pembenaran muncul. Ia tidak mencuri,tidak mengambil apapun dari siapapun. Ia hanya mempermudah seseorang untuk melakukan pekerjaan. Sementara itu kehidupan rumah tangganya goyah,hubungan Murad dan Nadia semakin dekat. Murad sering mengunjungi rumah Nadia. Buku tebal yang berisikan uang pun dititipkan di rumah Nadia.

Amplop pertama sudah dinikmati,berikutnya datang lah amplop kedua yang berisi dollar karena yang mengajukan dari perusahaan Amerika. Ketika menghabiskan ‘uang-uang pelicin’ kerapkali ia merasa gundah namun suara hatinya ia abaikan saja. Bercak-bercak putih muncul di wajah Murad,seolah-olah kulit dan tubuhnya menolak uang haram tersebut. Tak lama kemudian,Murad mendapat kunjungan dari 'tuan-tuan dari komisi'. Ruang kerjanya digeledah. Hasilnya Murad diskors dan dituduh menggelapkan harta rakyat. Yang dimaksud harta rakyat adalah mesin tik tua yang ia bawa pulang ke rumah. Tuduhan tersebut kesannya dicari-cari oleh 'tuan-tuan dari komisi'. Murad berdalih ia hanya meminjam (tanpa niat mengembalikan) dan bukan mencuri. Skorsing membuat Murad tidak mempunyai kekuasaan lagi. Tanda tangannya tiada arti.

Murad pada dasarnya orang yang jujur. Semua pekerjaan dilakukan sesuai alurnya. Yang membuatnya ia tergoda adalah desakan dari lingkungannya. Istri dan asistennya mempengaruhinya untuk korupsi. Dua kali menikmati uang amplop tapi ia justru diskors karena masalah sepele. Sementara orang-orang yang menikmati uang berjuta-juta seperti Haji Hamid tetap menikmati hidup tanpa gangguan.

Novel ini merupakan bentuk solidaritas pengarang Tahar Ben Jellaun kepada penulis Indonesia,Pramoedya Ananta Toer. Tahar sangat mengagumi karya-karya Pram. Penulis Maroko ini sempat berkunjung ke Jakarta namun ia tidak bisa menemui Pram. Saat di jakarta,ia membaca karya PramYang berjudul korupsi (1954) dan mengilhami buku yang berjudul sama dengan kasus yang terjadi di Maroko.

"Di bawah langit yang berbeda, dan berjarak beribu-ribu kilometer,ketika didera oleh kesengsaraan yang sama,kadang-kadang jiwa manusia menyerah pada setan yang sama" – Tahar Ben Jellaun.


Profile Image for Meta Morfillah.
765 reviews26 followers
October 13, 2015
Judul: Korupsi
Penulis: Tahar ben jelloun
Penerbit: serambi ilmu semesta
Dimensi: 233 hlm, cetakan I november 2010
ISBN: 978 979 024 073 5

Inspirasi bisa datang dari karya orang yang dikagumi. Seperti halnya novel korupsi ini. Penulis yang berdarah Maroko namun menetap di Prancis ini, mendapatkan inspirasi menulis novel ini dari idolanya, Pramoedya Ananta Toer. Tahun 1990-an, saat ia berkunjung ke Jakarta demi menemui Pram--yang saat itu masih menjadi tahanan--namun gagal, lalu malah menemukan karya Pram yang diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, berjudul korupsi. Yaa... judul yang persis sama. Penulis sengaja membuatnya sama, tetapi dengan latar Maroko demi menghormati Pram--saya sendiri belum pernah membaca karya Pram berjudul "Korupsi" itu. Bahkan, sebagian royalti buku ini diserahkan untuk Pram. Wow!

Novel ini sendiri mengisahkan tentang seorang lelaki teguh pendirian bernama Murad yang menjabat Kepala bagian di Kementerian Pekerjaan Umum. Ia begitu tegas menolak korupsi, meski ia tahu bahwa asistennya, Haji Hamid dan direkturnya menjalankan praktik itu. Ia tetap berusaha menjaga diri dan wewenangnya dari suap menyuap. Hal itu ia lakukan selama 20 tahun masa kerja. Hasilnya adalah hidup miskin. Bahkan kedua anaknya tidak mendapatkan cukup liburan. Anaknya yang sulung, sulit menembus beasiswa kuliah karena tak memiliki koneksi. Anaknya yang bungsu, tidak mendapatkan fasilitas kesehatan memadai untuk penyakitnya. Tapi yang lebih menjengkelkan adalah rongrongan istri dan keluarga istrinya yang begitu materialistis dan tak menghargai prinsip hidupnya. Di mata mereka, ia adalah lelaki yang gagal. Semua itu perlahan menggoyahkan dirinya, yang sudah terlalu lelah berjuang sendirian. Pada rumah--terutama istri--yang ia harapkan dapat menguatkannya, justru kian melemahkannya. Hingga ia memimpikan sepupunya, Nadia, yang kini menjanda dan teguh pendirian menjalani hidup yang baik dan sederhana. Konflik batin dalam dilema moral pun menjadi isu utama dalam novel ini. Betapa menyedihkan, menjadi orang jujur dalam sistem yang korup. Bagaimanakah endingnya? Apakah Murad akan tergiur dengan upaya rekannya yang kerap membujuknya untuk menerima uang suap? Bacalah novel ini untuk mengetahuinya.

Gaya penulis dalam novel ini cukup mengalir. Bahasanya mudah dicerna, ringkas, dan gamblang. Bahkan dalam hal fantasi erotis, penulis menggambarkannya dengan apa adanya. Alur dan konflik yang dimainkan pun semakin mempertajam kesulitan yang dialami sang tokoh utama. Hitam dan putih yang perlahan mengabu, membuat tokoh utamanya terasa begitu natural dan manusiawi. Gambaran tentang kultur di Maroko yang ternyata tak jauh berbeda dengan Indonesia menimbulkan rasa miris. Terlebih saat deskripsi bahwa kebanyakan pelaku itu disimbolkan dengan pemeluk agama yang taat. Semacam kritik atau sindiran tajam untuk orang yang mengaku baik beragama, namun lupa berakhlak. Hanya saja, menjelang ending yang menyedihkan, saya merasa terlalu lama mengulur-ulur penyelesaian konfliknya.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"... bahwa di bawah langit yang berbeda, dan berjarak beribu-ribu kilometer, ketika didera oleh kesengsaraan yang sama, kadang-kadang jiwa manusia menyerah pada setan yang sama." (Hlm. 12)

"Apa artinya menyesuaikan diri? Itu artinya melakukan berbagai hal seperti yang dilakukan orang, menutup mata bila perlu, menyisihkan prinsip dan idealisme, tidak menghalangi 'sistem' yang berjalan, pendeknya belajar maling dan berbagi keuntungan dengan yang lain. Aku tidak bisa begitu. Bohong pun tak bisa. Aku tidak cerdik. Aku cuma tahu bahwa apa yang disebut mereka 'sistem' itu tidak cocok bagiku. Kuakui bahwa aku menyenangi peran ini. Peran ini unik, jarang, dan perlu ada. Aku mengabdi meskipun istri dan anak-anakku tidak bisa hidup dengan leluasa. Itu kebanggaanku. Aku sadar kebanggaan itu tidak menolong mereka." (Hlm. 24)

Meta morfillah
Profile Image for Rifai  Sumaila.
12 reviews4 followers
December 20, 2010


Murad seorang insinyur yang bekerja sebagai seorang pejabat di Kementrian Pekerjaan Umum di Casablanca, Maroko. Dengan jabatannya yang terbilang penting di institusi tersebut, Murad justru tidak begitu menikmati kehidupannya. Banyak sekali ujian kehidupan yang harus ia lewati.

Sebagai seorang yang mempunyai prinsip, Murad sangat tidak menyukai budaya korupsi yang merajalela di institusi tempatnya bekerja. Namun sang istri Hilma, justru mempunyai pandangan yang berbeda dengan Murad, sang istri yang sangat matrealistis memandang Murad bukanlah lelaki sejati, karena tidak bisa berbuat seperti rekan-rekan kerjanya yang menghalalkan praktik korupsi sebagai jalan untuk mencapai kemewahan hidup. Hampir setiap hari konflik terjadi, mewarnai kehidupan rumah tangga mereka, semua masalah sama, selalu bermuara kepada uang.

Murad merasa terintimidasi dengan keadaan yang ada, baik di rumah maupun di lingkungan kerjanya, semua orang seolah mendorongnya perlahan untuk mulai berani mencoba mengikuti budaya buruk itu, korupsi. Ditengah keputus asaanya lah, sosok Nadia yang merupakan sepupu jauhnya, seolah hadir, untuk menjadi pendukungnya, pendukung dari tindakannya untuk menjauhi korupsi.

Tokoh yang lain yang juga menarik adalah sang assistant Murad, Haji Hamid namanya. Walaupun kedudukannya dibawah Murad, namun yang aneh, Haji Hamid, hidup lebih berkecukupan, gaya hidupnya mewah, tak jarang setiap orang baru yang datang, menganggap Haji Hamid lah atasan Murad bukan sebaliknya. Rahasianya, ternyata Haji Hamid pandai memanfaatkan pekerjaannya untuk meraih harta sebanyak-banyaknya dengan cara korupsi. Sering pula Haji Hamid membujuk Murad untuk melakukan hal yang sama, bahkan memancingnya dengan segepok uang, yang terbungkus rapih dengan amplop, yang sering kali secara sengaja diletakkan Haji Hamid di meja Murad, lengkap dengan dokumen-dokumen yang harus ditanda tangani Murad, sebagai syarat untuk mendapatkan uang-uang tersebut. Akankah Murad akan tergoda untuk mengikuti jejak Haji Hamid??...

Buku ini, menawarkan cerita yang cukup menarik, banyaknya konflik yang bermunculan serta beragam, selalu bermuara kepada inti dari cerita buku ini yaitu mengenai korupsi. Yang unik, kita tidak menjumpai chapture, atau bagian-bagian serta bab- bab, sebagai pemisah atau jeda dari kisah satu ke kisah lainnya di buku ini, semua kisah terangkai jadi satu dari awal hingga akhir cerita.

Profile Image for Dion Yulianto.
Author 25 books198 followers
May 9, 2011
Sungguh, ceritanya sangat sederhana...tentang seorang suami yang menjaga integritas dan prinsipnya melawan korupsi...namun akhirnya tumbang juga karena tekanan istri-keluarga dan juga lingkungan. Lewat buku ini, kita tidak lagi memandang seorang koruptor secara hitam putih, tapi abu-abu, karena lingkungan dan pembiasaan lah yang telah menjadikan korupsi ini begitu menjamur dan mewabah. Ceritanya memang sederhana, namun pesan yang disampaikan, kritik-kritik yang terlontarkan lewat untaian kalimat2nua sungguh menohok kesadaran kita. bahwa, setiap orang--betapapun idealisnya--dapat tergoda untuk melakukan korupsi...maka berhati-hatilah hehehe *sok jago atuh, pdhal ini juga korupsi waktu di kantor bat FB an, ampon dah*

makasih bwt someone special yang telah menghadiahkan buku ini, sekaligus memperkenalkan saya dengan karya luar biasa ini. I Lov U
Profile Image for Rayya Tasanee.
Author 3 books23 followers
April 9, 2015
Novel ini ditulis karena terinspirasi oleh novel Korupsi karya Pramoedya Ananta Toer.
Mengkisahkan seorang pegawai negeri sipil di Maroko (kalau di Indonesia mungkin jabatannya setara Eselon 3) yang jujur tapi mengalami dilema karena tuntutan ekonomi.
Menggunakan POV 1. Terlalu banyak monolog dan terkesan seperti curhatan. Saya sedikit terganggu dengan kehadiran tokoh Nadia yang ditemui di jalan. Tokoh tersebut datang hanya sebagai selingan. Tanpa kehadiran tokoh itu pun cerita tetap bisa berjalan.
Profile Image for Iva Kurnia.
22 reviews2 followers
March 15, 2011
Agak lama dan tersendat-sendat juga baca buku ini..
Kisahnya menarik karena ternyata korupsi yang mengakar gak hanya terjadi di negara kita aja tp juga di belahan dunia lain.

Meskipun begitu, tidak semua orang berjiwa korup.. masih ada orang yang berusaha mempertahankan integritas dan kejujuran seperti Murad meskipun akhirnya goyah juga di tengah kemiskinan keluarganya..

Kisah yang menarik,tapi sayangnya saya belum menemukan "greget" di buku ini.. :)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews