Bunga Mawar's Reviews > Korupsi

Korupsi by Tahar Ben Jelloun
Rate this book
Clear rating

by
1007892
's review
Apr 13, 2011

it was ok
bookshelves: it-s-mine, fiction, translated-into-indonesian

Lebih dari sepuluh tahun lalu, seorang teman meminjamkan buku "Korupsi" karya Pramoedya Ananta Toer. Si teman pakai bisik2 kalau buku2 PAT ini tidak boleh beredar dan dibaca. Memang tahun 2000 itu Soeharto sudah tidak menjabat sebagai Presiden RI, namun bayang2 bahwa PAT adalah "komunis" dan karya2nya pun dituduh beraliran komunis masih melekat di lingkungan masyarakat kecil tempat saya tinggal dan beraktivitas. Makanya saya yang masih muda belia dan gampang ditakut2i dengan film "Pengkhianatan G 30 S/PKI" ini, membaca buku PAT edisi fotokopian itu dengan agak khawatir. Takut masih ada intel yang menciduk saya karena ikut2an komunis. Tapi kalau pun memang saya komunis, apa sih kerugiannya buat si intel itu? (Kalau memang ada, hehe..).

Ternyata oh ternyata, di buku PAT yang pertama kali saya baca itu, kok tidak ada hal2 mengerikannya? Saya tutup buku itu sambil penasaran: apa sih yang ditakuti oleh rezim Orba dari karya semacam ini hingga sampai dilarang dibaca? Kan ceritanya biasa saja, ada di alam nyata sehari2, seorang pegawai kecil terhanyut lingkungan sekitarnya untuk mencatut barang inventaris lembaga negara tempatnya bekerja. Alasannya, karena rumah tangganya butuh anggaran tambahan. Dari mencatut kecil2an sampai membesar, dan bahkan punya istri lagi. Setting ceritanya adalah masa Orde Lama, di mana sepuluh rupiah itu begitu berharga dan punya seratus rupiah di saku artinya kamu kaya.

Saya tidak ingat lagi persisnya, seperti apa jalan ceritanya. Yang jelas saya geleng2 saja. Catatan korupsi di nusantara ini sudah terjadi jauh sejak masa VOC, hingga bisa menjatuhkan (sementara) rezim Orba. Kenapa sampai sekarang tidak hilang2, ya sebagian bisa jadi karena pihak yang seharusnya menindak malah ikut melakukan penghilangan terhadap bukti2 korupsi mereka :).

Nah, kenapa jadi cerita "Korupsi"-nya PAT, bukan bukunya Tahar ini? Baiklah begini saja awalnya. Begitu membaca bahwa buku ini diinspirasi oleh bukunya PAT, sebenarnya saya tidak berminat buru2 membacanya. Jarang2 kan kalau ada karya "diinspirasi" oleh karya lain maka karya itu bisa lebih menggugah daripada karya aslinya. Jadi saya cuek saja pada buku ini sampai berbulan2, sampai ternyata saya lihat di toko buku, harganya lumayan terjangkau lah. Ada diskon pula :p.

Saya mulai membacanya, dan kemudian menyelesaikannya, dan jadi agak jengkel. Dari sisi cerita, baiklah, garis besar ceritanya sama dengan karya PAT. Settingnya di Maroko. Seorang pegawai negeri dengan gaji kecil yang hanya sebagai "butiran pasir" tidak mau ikut2an berlaku tidak jujur tapi lama2 berbelok juga ke jalan yang becek. Ternyata main becek2an itu enak, tapi bikin gelisah. Apalagi dirongrong oleh istri dan mertua yang cerewet dan matre... mana tahan? Hal yang bikin jengkel saya adalah cara bercerita yang sangat naratif sekali. Memang wajar sih kalau kita mengambil sudut pandang cerita orang pertama. Tapi capek juga setiap saat melihat Murad terus. "Aku merasa...", "Aku jengkel sekali", "Seandainya aku dulu menikahi Nadia...", "Badanku terasa lelah...". Hih, saya jadi merasa tokoh ini banci tampil sekali, hehe...

Tibalah masa untuk pembaca ini memberi bintang. Bintang satu, untuk penggambaran cukup detil masyarakat menengah Maroko. Mayoritas penduduk Maroko memang Muslim, namun sebagian kalangan kelas menengahnya punya gaya hidup yang nyaris sama dengan kelas menengah Perancis. Minum sampanye dan bir untuk teman makan siang, melakukan seks bebas tanpa beban, atau ritual agama dijalankan hanya sebagai tradisi.
Bintang dua, karena ada pernyataan yang agak konyol waktu si tokoh, Murad, kena penyakit kulit. Kata orang kantornya, si culas H.H. dan dokter kulit, itu karena Murad kurang luwes. Di sini saya manggut2. Begitu yah, kalau satu kecurangan lama2 jadi kebiasaan, kita memang tidak bakal terganggu lagi dengan kecurangan itu. Hmmm... pantes orang2 curang gak mati2... wong udah kebal :p
Bintang setengah, karena buku ini sudah jadi, sudah terbit di mana2. Gak kayak buku saya, belum mau keluar2 dari komputer.

Begitu sajalah.

4 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Korupsi.
Sign In »

No comments have been added yet.