Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!

288 pages, Paperback

First published January 1, 2007

Loading...
Loading...

About the author

Andrea Hirata

22 books2,482 followers
Under a bright sunny sky, the three-day Byron Bay Writers’ Festival welcomed Andrea Hirata who charmed audiences with his modesty and gracious behavior during two sessions.

Andrea also attended a special event where he and Tim Baker, an Australian surfing writer, spoke to a gathering of several hundred school children. During one session, Andrea was on a panel with Pulitzer Prize winning journalist from Washington, DC, Katharine Boo, which he said was a great honor.

The August event for the school children was very meaningful to Andrea, the barefooted boy from Belitung, as he made mental comparisons with the educational opportunities of these children, compared to what he experienced.

And now his own life story is about to become even more amazing, as his book Laskar Pelangi (The Rainbow Troops) is being published around the world in no less than twenty-four countries and in 12 languages. It has caught the eye of some of the world’s top publishing houses, such as Penguin, Random House, Farrar, Straus and Giroux, (New York, US) and many others. Translations are already on sale in Brazil, Taiwan, South Korea and Malaysia.

All this has come about because of the feeling of appreciation that the young Andrea felt for his teacher, Muslimah. He promised her that he’d write a book for her someday. This was because for him and his school friends, a book was the most valuable thing they could think of.

Andrea told a story that illustrated this fact. When royalties flowed in for him he decided to give his community a library. He spent a lot of money on books. He left the village headman in charge of administering the library. However, when he came back several months later, all the books were gone. People loved the books, but they had no concept of how a lending library functioned.

“Some of them could not even read, but they just loved to have a book, an object of great value and importance, in their homes. We will restock the library with books and this time it will be run by our own administration,” he laughed.

Andrea told this story as we sat in the coffee shop adjoining a Gold Coast City Library, one of 12 scattered around the city. One of the librarians, Jenneth Duque, showed him around the library, including the new state-of-the-art book sorting machine, for processing returns located in the staff area. As he saw the books being returned through pigeonholes by the borrowers and the computerized conveyor belt sorting them into the correct bin for reshelving, the sight made him laugh and prompted the telling of that story.

Andrea wrote the book for his teacher while in the employ of Telkom, but the completed manuscript was taken from his room, which was located in a Bandung student accommodation community. Whoever took the manuscript knew enough to send it to a publisher and that’s how Andrea, an unhappy postal service worker who had studied economics in Europe and the UK, became the accidental author of the biggest selling novel in Indonesia’s history.

He has since written seven more books.

Fast forward to 2011 and Andrea was in Iowa, the US, where he did a reading of his short story, The Dry Season. He was approached by an independent literary agent, Kathleen Anderson. They talked, but for six months there was no news until an email arrived telling him that one of the best publishers in the US, Farrar, Straus and Giroux, had accepted his book.

Then every week, more publishers said “yes” and now he has 24 contracts from the world’s leading publishers.

Andrea worked with Angie Kilbane of the US on the English translations of Laskar Pelangi and its sequel Sang Pemimpi (The Dreamer). Translators from several other countries have visited his home village in Belitung to do research.

“For a long time I wondered what was the key to the enormous success of my book,” Andrea said.

“I think there’s no single right answer. Perhaps people are fed up with writing focused on urban issues or esca

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6,166 (40%)
4 stars
5,561 (36%)
3 stars
2,752 (18%)
2 stars
490 (3%)
1 star
128 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 578 reviews
Profile Image for Hasna Diana.
78 reviews82 followers
January 31, 2008
Great adventuring!
I like this quote: "Jika ingin menjadi manusia yang berubah, jalanilah tiga hal ini: sekolah, banyak-banyak membaca Al Qur'an, dan berkelana."

mengutip dari sebuah paragraf dalam buku Edensor:

"Berkelana tidak hanya telah membawaku ke tempat-tempat yang spektakuler sehingga aku terpaku, tak pula hnya memberiku tantangan ganas yang menghadapkanku pada keputusan hitam putih, sehingga aku memahami manusia seperti apa aku ini.

Pengembaraan ternyata memiliki paru-parunya sendiri, yang dipompa oleh kamampuan menghitung setiap resiko, berpikir tiga langkah ke depan sebelum langkah pertam adiambil, integritas yang tak dapat ditawar-tawar dalam keadaan apapun, toleransi, dan daya tahan. Semua itu lebih dari cukup untuk mengubah mentalitas manusia yang paling bebal sekalipun."

jadi inget sebuah syair nasyid:
Berjalan bermusafirlah melihat keagungan Allah..

dan dalam beberapa ayat dalam Al Qur'an, Allah pun menyuruh kita berkelana..

"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS 67:15)

Ayat-ayat yg lain: 3:137, 6:11, 16:36, 27:69, 29:20

so, happy travelling.. :)
Profile Image for Iqbal_rois.
3 reviews1 follower
January 8, 2009
”Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin liku-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka.”
Kini Ikal dan Arai bukan lagi para pemimpi. Impian keduanya dulu untuk dapat bersekolah ke Perancis, menjelajah sampai afrika telah tercapai. Berkat kerja keras dan pengorbanan, Ikal dan Arai berhasil mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Universitas Sorbonne Perancis-sebuah impian yang telah sejak lama mereka cita-citakan. Ikal berkutat dengan teori-teori ekonomi, sedangkan Arai sibuk dengan penelitian ilmiah biologinya.
Dan ketika liburan musim panas tiba, Ikal dan Arai membuat keputusan gila. Keduanya akan menjelajah Eropa dan Afrika dengan modal sebagai manusia patung!! Mereka menjelajahi dinginnya Belush’ye di bagian utara Rusia, dan menyeberangi panasnya padang pasir sahara di Mali. Mereka mengarungi Islandia di barat sampai ke Laut Kaspia di timur.
Tak lupa selama perjalanan itu, Ikal mencari sosok A Ling, cinta pertamanya yang hilang. Cinta pertama yang membuatnya tergila-gila. Cinta pertama yang menghadiahinya novel Seandainya Mereka Bisa Bicara. Cinta pertama yg mengenalkannya pada keindahan Edensor, sebuah tempat yang dipikir Ikal hanya ada di dunia khayal.
Penjelajahan usai, namun kuliah terus dilanjutkan. Ikal kemudian pindah kuliah ke Inggris. Sementara Arai pulang ke tanah air karena sakit. Siapa sangka kepindahan Ikal ke Inggris akan mengantarkannya ke tempat terindah yang sangat diidam-idamkannya; Edensor.
Edensor adalah novel ketiga dari tetralogi Laskar pelangi. Sebagaimana dua novel terdahulunya, Edensor mampu memukau pembaca dengan kata-katanya yang kaya makna. Metafora-metaforanya liar namun menggelitik, alinea-alineanya sarat ilmu pengetahuan. Gaya tuturannya yang mengalir membuat pembaca mudah memahami dari awal sampai akhir.
Profile Image for Hanis Khaleeda.
90 reviews10 followers
September 20, 2018
Edensor by Andrea Hirata.

- To be honest, ini adalah buku pertama yang aku pernah baca tulisan Andrea ni. Aku pun tak tahu yang buku ni wujud, sebelum ni aku tahu buku Laskar Pelangi tu je sebab lagu dia famous.

- Buku ni adalah novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang mana aku tak sempat habiskan lagi yang buku first tu.

- Apa tu Edensor? Mula-mula aku tak tahu apa tu maksud Edensor tapi dekat akhir buku ni baru aku tahu yang Edensor ni nama sebuah desa khayalan Andrea dan kekasih dia tapi at the end tempat ni wujud dekat England.

- Sebenarnya, buku ni cerita pasal pengalaman Andrea dan sepupunya masa travel seluruh Eropah dan Afrika dengan cara backpacker. Mereka ni belajar dekat Paris dan masa cuti musim panas mereka decide nak travel Eropah dan Afrika. Maknanya, ni kisah benar la.

- Banyak betul benda yang berlaku masa mereka ni tengah travel. Tapi ada satu benda yang Andrea ni semangat gila nak travel sebab dia nak cari A Ling, perempuan yang dia cinta masa zaman remaja dia. Gila kan? Penangan cinta, macam-macam orang akan buat. Hahahaha

- Masa aku baca buku ni dengan aku sekali dapat travel di 42 buah negara dengan mereka ni. Ya betul, kembara melalui pembacaan. Aku dapat tahu banyak benda, pasal sejarah, pasal orang-orang ternama yang aku tak pernah dengar pun sebelum ni dan banyak lagi !

- Nak travel jauh-jauh tapi takde bajet ? Baca lah !

#2018readingchallenge
#duniaBOOKku📚
#bukuempatpuluh
Profile Image for Lania Akhmetzyanova .
242 reviews1 follower
March 4, 2025
Kisah ini menggambarkan perjalanan seorang pemuda yang penuh tantangan, ketidakpastian, dan pencarian jati diri. Lebih dari sekadar petualangan fisik, cerita ini menyelami perjalanan batin yang menguji keberanian dan keteguhan hati. Karakter utamanya tidak digambarkan sebagai sosok yang sempurna, justru melalui kesalahan dan kegagalannya, ia terasa lebih nyata. Setiap langkah yang diambilnya penuh makna, mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang menerima dan memahami takdir.

Dengan gaya penceritaan yang lugas namun emosional, buku ini tidak hanya menawarkan ketegangan dan aksi, tetapi juga refleksi mendalam tentang kebebasan dan arti sebuah perjalanan. Setiap tantangan yang dihadapi tokoh utama menjadi simbol dari realitas kehidupan—bahwa manusia selalu dihadapkan pada pilihan sulit yang menguji prinsip dan keyakinan. Buku ini meninggalkan kesan mendalam, mengingatkan bahwa perjalanan terbesar bukanlah sejauh apa kita melangkah, tetapi seberapa dalam kita memahami diri sendiri.
Profile Image for Arif nur.
36 reviews14 followers
August 4, 2007
Kali ini Andrea mengeksploitasi cerita tentang bagaimana schock culture ketika 'anak udik' ketemu dengan peradaban lain, eropa. Dimana mana ternyata ide ini membuat sesuatu yang segar dan menarik. Dari jaman Charlie Caplin , Dono-Kasino-Indro hingga Extra Vaganza selalu memakai resep ini. Hal in juga dilakukan Andrea untuk melatar belakangi cerita pada laskar pelangi dan sang pemimpi, bedanya pada laskar pelangi berupa benturan antara 'budaya proletar' kaum 'kuli tambang melayu' dengan budaya elit PN Timah. Sedangkan di Sang Pemimpi antara budaya 'melayu udik' dengan budaya urban depok, bogor dan jakarta.

(Sepertinya ide pertentangan/konflik budaya ini memang selalu menjadi latar belakang cerita yang menarik, Nagabonar jadi 2 juga berhasil dengan membawa latar belakang ini.)

Memang seperti di dalam Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Andrea membawa kita dalam konflik budaya yang kemudian terjadi berbagai negosiasi cerdas. Dalam Edensor bentuk negosiasi ini cukup menarik, yaitu dengan menjadikan pertentangan budaya itu dalam bentuk paradoks paradoks yang menggelitik.

Taruhlah ungkapan Andrea ttg. Kehidupan Mahasiswa Cerdas di Sorbonne yang disebutnya sebagai paradoks kedua: . " Sering aku merasa heran. Kawan kawanku The Brits, Yankee, kelompok Jerman, dan Belanda adalah para pub crawlwr kawakan. Mereka senang bermabuk mabukan. Tak jarang mereka mabuk mulai jum'at sore dan baru sadar senin pagi.Sebagian hidup mereka seperti bohemian, mengaitkan anting di hidung, mencandu drugs, musik trash metal, beriorientasi seks ganjil, dan tak pernah terlihat tekun belajar, namun mereka sangat unggul di kelas. Aku yang hidup sesuai dengan tuntutan dasa darma pramuka, taat pada perintah orang tua, selalu belajar dengan giat dan tak lupa minum susu, jarang dapat melebihi nilai mereka"

Dan juga di sana sini terjadi sentilan sentilan untuk negeri asal seperti cerita tentang pejabat Indonesia yang dilihatnya ada di Brussel, markas besar Uni Eropa, dengan muka rendah diri..'pasti urusan hutang' katanya. Tak kalah lucu cerita tentang tradisi 'sok wah' para pejabat yang mau meminta utang itu, katanya pejabat Indonesia datang ke pertemuan pembahasan utang itu dengan menyewa lomosin di Prancis sana, sedangkan orang orang jepang yang mau ngurus utang datang dengan hanya naik bis.( Ha..ha..ha. inilah kita..)

Membaca petualangan Ikal dan Arai keliling eropa dan afrika mengingatkan kita denga Novel 'SI Roy' nya Gola Gong dulu. Sepertinya khusus untuk Edensor kalau ada acara bedah buku, perlu datangkan Gola Gong sebagai pembanding atau second opinion.

Petualangan yang lagi lagi khas sebagai orang Indonesia yang berpetualang, dan lagi lagi motivasi petualangannya adalah karena Mimpi mimpi masa kecil ketika ingin menaklukkan sebagain muka bumi dan juga 'cinta sejati' si Ikal, demi menemukan A Ling yang terus dia cari. Dia aduk aduk dari pedalaman Skandinavia, Balkan sampai Pedalaman Zaire. Bayangkan gimana tersanjungnya A Ling dengan perjuangan laki laki ' bodoh' tapi ngagenin ini ha ha ha.

Terus Katya siapa ? Siapa Aqil Barraq Badruddin ? Bagaimana Ikal dan Arai membiayai perjalanan mereka ? Atau terus Edensor itu akan muncul dimana...? Yah baca saja yah, gak seru kalau diceritakan detail.

Yang jelas kali ini aku bisa baca edensor berulang ulang sampe puas, karena bukan seperti ketika baca Laskar Pelangi yang tak tamatkan di Gramedia, karena waktu itu lagi pengen baca buku tanpa harus beli (sekitar seminggu bolak balik ke gramedia..he...he..), atau Sang Pemimpi yang waktu itu mahal banget rasanya yang namanya konsentrasi.

Akhirnya, makasih Andrea..., Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor....sudah jadi latar belakang cerita hidupku.

Ada petuah ibu Muslimah yang dikutip Ikal di Edensor ini lagi, "Kalau ingin pintar, Bacalah Al Qur'an, Bersekolahlah , dan Berkelanalah......"
Profile Image for ratna.
42 reviews1 follower
December 22, 2008
Barangkali karena memang novel yg satu ini dimaksudkan sebagai mozaik, awalnya masing2 bab terasa lepas satu sama lain. Cerita-cerita lepas ini baru terasa utuh ketika sudah mendekati akhir.

Ada beberapa keanehan yang, kalau mau diteliti, bisa jadi mengganggu. Cerita tentang terpaksa semalaman di luar saat hujan salju di hari pertama mereka di Brugge misalnya. Memang kesalahan administrasi seperti itu bisa terjadi, memang benar kalau orang2 di sana jauh lebih individualistis. Tapi tetap saja.... masa sih ada Mr van der Wall yang sampai segitunya. Masa sih mereka ngga mampu menemukan jalan balik ke stasiun atau menemukan penginapan. Brugge itu sangat kecil, desa turis dan tempat tujuan wisata terkenal. Mungkin yg dipentingkan di sini memang momen kecerdasan Arai yg menggunakan humus utk menyelamatkan Ikal. Tapi mbok ya dipilih lokasi lain yg lebih terisolir gitu lho, biar lebih masuk akal.

Awalnya saya kira lokasi Brugge dipilih krn si pengarang akan mengeksplorasi suasananya (karena memang Brugge ini medieval village yg benar2 indah). Tapi ternyata tidak. Malah jadi aneh rasanya, kenapa mereka diberi akomodasi di Brugge yg jaraknya hampir 100 km dr Brussel, lokasi “supervisi” pertama mereka. Utk ukuran Eropa, jarak tempuh 1 jam lebih berkereta ini sangat jauh, padahal pasti ada banyak akomodasi lain yg bisa disewakan utk seminggu di sekitar atau di Brussel sendiri.

Beberapa lokasi lain yang disebutkan dalam novel ini juga kurang akurat. Tapi ya sudahlah. Mungkin memang sebaiknya novel ini dinikmati saja alurnya, tanpa harus terlalu memusingkan detil-detil. Karena terlepas dari segala keanehan tersebut, kisah pencarian dan petualangan Ikal ini asyik sekali untuk diikuti. Menarik sekali ide menjadi manusia patung serupa pasangan putri duyung tersebut. Dengan asesoris dan pose yg diceritakan, bisa dibayangkan mereka akan benar2 mencuri perhatian penonton.

Andrea Hirata rasanya kurang banyak mengeksplorasi suasana2 yg diceritakan di novel ini. Mungkin karena terlalu banyak tempat dan kesan yg ingin disebutkan. Misalnya, bagaimana pembaca bisa ikut membayangkan keunikan Ponte Vechio dan ikut merasakan kenapa si tokoh sangat ingin tampil di jembatan tersebut. Di sisi lain, yg diceritakan si pengarang memberikan nuansa yg berbeda. Bahkan seandainya tempat2 tsb sudah pernah dikunjungi, membaca kisah Ikal seperti memandang semuanya dg kaca mata yg berbeda, seperti mengalami petualangan yg baru dan segar.

Suka banget dengan ide mencari A Ling sampai jauh ke Afrika, suka dengan ide “berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, namun hasilnya nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri”. Suka dengan sindiran dan humor yg diselipkan di sana-sini. Suka dengan penutupnya yg manis, di mana Ikal tanpa sengaja menemukan Edensor, di tempat yg awalnya tidak bisa dia lihat keindahannya.

Karena, bagaimanapun juga, nikmat membaca novel ini, ya bintang 4 deh :)
Profile Image for Anna.
5 reviews1 follower
September 15, 2007
"Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu."
-Arai (Edensor by Andrea Hirata)-


Dalam salah satu cuplikannya, Edensor bercerita tentang filosofi pencarian. Pencarian akan hal-hal yang paling kita inginkan dalam hidup ini dan pencarian akan diri kita sendiri, ketika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya nihil, maka seharusnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apa pun keadaannya.

Ironis.

Baca buku ini malah membuat gw kembali mempertanyakan sejauh mana batas lo boleh terus mengikuti mimpi-mimpi lo. Padahal, bukankah Tuhan sendiri pun bilang bahwa Dia tidak akan merubah nasib suatu kaum melainkan kaum itu berusaha merubah nasibnya sendiri? Jadi dimanakah titik akhir dari segala ikhtiar, ketika lo mau gak mau harus menerima kenyataan itu sebagai takdir? Is there any kind of sign? A red light.. or something.. somewhere.. that tell you that it's time to stop? What if.. you misread it? What if.. that thing you've been after for all this time is just right around the corner? Just a few more steps away?

All in all,
another great book under the tetralogy of Laskar Pelangi.
Entertaining. Enlightening. Adventurous (ahh.. bikin tambah mupeng utk nge-backpack melihat dunia :p).
Totally recommended.
Profile Image for Pulung.
68 reviews12 followers
June 18, 2008
Yey!

He he he
Saya sudah membacanya! Dan saya mau angkat empat jempol (maksimal yang saya punya.. he he he) buat Andrea "Ikal" Hirata!

Coba bayangkan,
Setiap buku dari 3 buku dalam rangkaian empat bukunya ini (eh, kayaknya kita belom ada yang baca Maryamah Karpov sampai saat ini kan...) adalah buku-buku unik yang layak baca, dan asik pastinya.

Setiap buku yang saling berkaitan jalan ceritanya itu, ternyata juga bisa dinikmati sebagai "judul-judul mandiri" ha ha ha. Hebat menurut saya.

Ng,
Edensor memuat hal-hal unik yang sangat manusiawi, yang pastinya bisa dialami oleh pejalan manapun di muka bumi ini. Tapi, setelah hal-hal " biasa" ini dicatat Andrea dengan caranya yang sangat "Andrea" itu, jadilah cerita yang bisa membuat kita terhibur, terharu dan berpikir sekaligus! Dan seperti biasa, buku ini jadi punya nilai lebih justru karena nggak bombastis!!!

Buku manis yang sederhana tidak berarti kosong!

=P
-BuRuLi-
Profile Image for Harfianto.
6 reviews1 follower
December 20, 2007
Dari tiga buku Laskar Pelangi yang sudah terbit, buku inilah yang pertama kali saya beli dan baca. Mungkin karena yang pertama, saya memberikan nilai sempurna pada buku ini, ketimbang dua buku lainnya.

Masih bertema sama, kekuatan impian. Buku ini mengajak kita berani mengambil resiko mewujudkan mimpi-mimpi kita. Mungkin karena ini pertama kali yang saya baca, maka saya sempat bingung dengan kata edensor. Nama apakah itu gerangan. Namun karena ketidaktahuan itulah saya mengalami ekstate, ketika tahu ternyata edensor adalah sebuah desa di Inggris. Desa yang menginspirasi Andrea Hirata menuliskan semua kisahnya (saya kira seperti itu). Karena Edensor adalah pengganti cintanya yang dibawa pergi tokoh A Ling. Wanita manis dari masa kecilnya.

Dari tiga buku yang sudah terbit, saya masih menantikan hadirnya A Ling, untuk kembali mengisi hati Ikal yang kosong.
Profile Image for ainunsailah.
88 reviews15 followers
April 5, 2016
Kali ini. Andrea bercerita akan penaklukan mereka dari Eropah ke Afrika. Mimpi yang selama ini tak pernah mereka fikir akan jadi nyata. Keberanian bermimpi, bulat tekad, dan mungkin saja pendek akal. Kerana orang yang terlalu panjang akal menimbang-tara semua perkara pasti tidak akan pernah menjayakan misi pengembaraan bunuh diri itu. Tanpa kajian yang mendalam, tanpa bekalan cukup, perancangan rapi, bukankah pendek akal sekali penaklukan mereka?

Akhirnya, saya lupa. Ini cuma fiksyen. Adunan khayal, dan imaginasi.
Profile Image for Jonas Vysma.
30 reviews32 followers
October 24, 2018
Karya Andrea ketiga yang saya baca ini semakin mengukuhkan saya, bahwa Andrea adalah seorang pencerita yang baik. Ia menceritakan suatu pengalaman dengan gagasan yang penuh semangat dan menggiring pada hal-hal yang bersifat baik, seperti bermimpi, meraih mimpi, menaklukan mimpi hingga melampaui mimpi. Sehingga plot yang ia bangun tidak memperlihatkan kesengsaraan yang dialami tokoh dalam ceritanya saat sedang sengsara, namun hanya sedang menuju mimpinya, sedang mewujudkan mimpinya.

Membaca Edensor membuat saya menemukan semacam sebuah paradoks antara bersyukur dengan pemaknaan hidup yang realistis dan ambisi dalam mewujudkan mimpi. Di satu sisi hidup mesti bersyukur untuk tahu bahwa kita bukan manusia yang begitu malang, di sisi yang lain ada daya yang menggerakkan untuk kita tak sepatutnya hidup malang. Kegigihan Ikal & Arai sebagai tokoh sangat kuat karakternya mempengaruhi emosi pembaca. Saya tidak menemukan Andrea yang lihai mendeskripsikan suatu bentuk ruang pada ceritanya di novel ini, tapi saya menemukan Andrea yang membangun sebuah citra (dengan pemilihan diksinya) kegigihan & semngat pantang menyerah. Ia sangat fokus pada tokohnya disetiap mozaik.

Pertemuan Ikal dengan orang-orang yang menginspirasinya dulu digambarkan Andrea sebagai kepingan mozaik yang sedang dikumpulkannya, yang padahal juga tak sengaja & tak ada rencana untuk menemukan mozaik. Saya tertarik pada kedua tokoh utama Edensor, bagaimana mereka meyakini suatu ikatan yang mengikatnya tapi juga memecutnya untuk senantiasa semangat; cinta. Cinta mereka terhadap gadis-gadisnya, cinta mereka pada Islam, cinta mereka pada kenangan di Belitong, & pada keluarga mereka.

4/5 untuk serial ketiga Laskar Pelangi karena membuat saya kembali membuka lembaran diri saya tentang berpetualang, tentang petualangan yang seringkali gagal karena pertimbangan ini-itu.
2 reviews
April 26, 2011
Novel yang sangat menakjubkan, mengharukan, nan penuh makna. Kita akan dibuat terkesima ketika membacanya. Novel Edensor adalah novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi. Sungguh novel yang benar-benar mampu menghipnotis pembacanya lewat kata-kata sainstik ala Andrea Hirata. Menjelaskan kepada pembaca bahwa, sekecil apapun mimpi kita dimasa lalu itu merupakan energi luar biasa untuk menggapai masa depan. Seperti kata-kata mutiara Arai “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”
Dalam novel ini pengarang mencoba merampungkan lamunan cita-cita yang pernah ia torehkan semasa kecil dulu lewat dua tokoh Ikal dan Arai. Novel ini mengisahkan seorang pemuda kampung bersama teman yang juga sepupunya dengan segala keterbatasan mampu mewujudkan mimpi menjelajahi berbagai kota di dunia. Ikal dikisahkan sebagai seorang pemuda yang memiliki semangat menggebu, mimpi yang yakin tergapai, dan keluguan. Sampai-sampai membandingkan Adam Smith dengan Roma Irama. Sedangkan Arai dikisahkan sebagai pemuda yang tangguh, terkesan santai, tapi diam-diam punya pemikiran yang meletup tak terduga-duga. Awal kisahnya ketika Ikal dan Arai mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi Masternya di Universite de Paris Sorbone, Prancis. Kemudian barbagai perjuangan telah dilampauinya. Berbagai pernak-pernik kuliahan dikisahkan. Hingga kemudian petualangan menakjubkan menjelajahi berbagai kota diberbagai negara di Eropa dan Afrika.
Novel ini memiliki alur maju. Andrea dengan runtut dapat mengisahkan bagaimana Ikal dan Arai yang hanya dua orang pemuda kampung mampu melakukan penaklukan-penaklukan besar. Novel ini menyuguhkan kepada pembaca, salah satu bentuk mozaik pengalaman dari seorang Andrea Hirata. Dengan gaya orang akuan Andrea bercerita. Sulit dicerna, namun konsisten. Karena kisah-kisah di dalamnya merupakan simpul-simpul kejadian yang pernah Ia alami sendiri. Selain itu, dalam novel ini kita dapat melihat bagaimana seorang Andrea Hirata yang kampiun dalam bermetafora, kata-kata bijak dan akhir tiap mozaik yang mengejutkan dan tidak meninggalkan ironi dan satire yang sungguh akan membuat kita terpingkal-pingkal.
Membaca novel ini banyak manfaatnya. Selain syarat dengan pengetahuan dan pengalaman juga sebagai pendobrak motivasi. Novel ini seperti motivator ulung yang tiada bosan memberi motivasi dengan memadukan sastra, sains, fisika, kimia, biologi dan astronomi tentunya. Edensor benar-benar menggugah imajinasi, membawa khayal menembus batas mimpi!
Profile Image for Irwan.
Author 10 books124 followers
February 15, 2013
Buku ini sedikit lebih "berdaging" dibandingkan Sang Pemimpi. Saya paham betul dengan semangat tetralogi ini yang ingin memberikan motivasi. Tapi ada detil2 yang kurang meyakinkan. Seperti kejadian harus terlunta-lunta di luar, suhu minus 15 derajat, hingga harus gunakan humus untuk bertahan hidup. Kalo ini kejadiannya di Norway mungkin aku percaya, karena minus 15 derajat sering terjadi di musim dingin. Tapi kalo di Belanda, rasa2nya agak berlebihan. Kalo memang terjadi begitu, di norway datang saja ke stasiun atau gas station, gak usah sampai dramatis begitu. Apa emang begitu ya di Belanda?

Trus mengenai karakter2 dalam kelasnya, tampak sekali stereotipnya.
Mungkin sang penulis dalam hal ini atau penggambaran pengalaman luar negeri secara umum terjebak dalam sudut pandang "indonesia" yang diterapkan pada karakter2 asing yang dilihatnya. Ini memang tidak terhindarkan, tapi kalau diimbangi dengan detil2 yang personal dari karakter tersebut - detil yang tidak stereotipikal kebangsaan - mungkin karakternya jadi lebih utuh dan believable.

Profile Image for Arliawan A.
18 reviews1 follower
October 19, 2025
“Tuhan tahu tapi menunggu”
― Andrea Hirata, Edensor

Walaupun bila dibandingkan dengan Laskar Pelangi, buku ini agak kurang detail dan karakter-karakternya agak kurang kuat, Edensor mampu menjadi buku favorit saya sepanjang masa.

Saya membaca buku ini pertama kali 13 tahun silam, sebagai seorang anak sekolah menengah pertama dari sebuah pulau kecil di kaki Sulawesi. Buku ini menceritakan dua sahabat, Ikal dan Arai, dari sebuah kampung di Belitong, yang berani bermimpi setinggi langit untuk melanjutkan pendidikan ke salah satu universitas terbaik di dunia. Membaca kisah dua sahabat ini menerjang semua halangan, mencari sekecil apapun kesempatan, dan akhirnya berhasil sampai ke Paris untuk berkuliah dan berkeliling Eropa sampai Afrika, terasa seperti membaca sebuah buku science fiction, cerita yang hampir mustahil terjadi.

Hari ini, saya menamatkan buku ini lagi, entah yang keberapa kali. Bedanya, saya tidak lagi merasa seperti membaca sebuah dongeng yang mustahil. Semua mimpi patut diperjuangkan. Terima kasih Endensor. Terima Kasih Andrea Hirata.

Melbourne, 2 Maret 2021
Profile Image for Qhist Ma.
96 reviews64 followers
September 12, 2012
The best among four.. hampir hilang kata2 bila baca bermula dari helaian pertama hingga perkataan terakhir..

this book wake you up.. and strongly recommended..jangan risau kalau tak faham..sebab andrea hirata sangat universal.. dan genius..

"Berkelana tidak hanya telah membawaku ke tempat-tempat yang spektakuler sehingga aku terpaku, tak pula hanya memberiku tantangan ganas yang menghadapkanku pada keputusan hitam putih, sehingga aku memahami manusia seperti apa aku ini."

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”

" Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!"

lepas baca, perasaannya - walau apa pun yang terjadi, yang akan terjadi..silakan terjadi.. ~

Profile Image for Arifa Hilma.
35 reviews1 follower
February 4, 2014
seperti serial pendahulunya, Edensor ini menurut saya miskin konflik. Semuanya terkesan sekadar perkenalan dan cerita perjalanan dengan lika-likunya yang memang harus begitu.

Tapi inilah kekuatan buku ini yang berhasil menggerakkan tangan dan hati saya sampai tidak menyisakan bintang kosong di rating!

Berapa banyak penulis dengan ide cerita yang brilian tapi pembaca harus bertahan dengan "penyiksaan" di bagian perkenalan?
biasanya bagian perkenalan (sejauh novel2 yang saya baca) cenderung serba salah: terlalu panjang membosankan, terlalu pendek karakternya kurang kuat.

Cerita tentang masa-masa manis kecutnya kuliah, mulai dari kelabakannya Ikal dalam pelajaran, sampai godaan perempuan Jerman yang juga sahabatnya yang jenius dan anggun.

Diantara semua novel Laskar Pelangi, Edensor meraih urutan nomor 1 favorit disusul Sang Pemimpi, Laskar Pelangi, dan terkahir Maryamah Karpov. Gaya bahasanya itu boi, dan tentu saja... lawakannya!

Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
April 30, 2013
Buku ketiga Andrea berkisah tentang petualangan Ikal dan Arai di Eropa.Edensor adalah daerah yang tertulis di surat cinta dari A Ling, wanita yang selalu dicintainya yang tanpa disangka-sangka ditemukan Ikal. Perjalanan mereka sendiri cukup berat, dengan berbagai cobaan dan rintangan yang dihadapi bahkan maut pun hampir menghampiri. Semuanya bersumber dari keterbatasan uang namun keinginan yang kuat ingin menjelajahi Eropa mengalahkan semuanya. Saya suka sekali membaca petualangan mereka, sedih namun juga lucu dan yang pasti menginspiras untuk tidak menyerah mengejar mimpi.













Profile Image for Nuni.
49 reviews6 followers
August 8, 2008
sebagai referensi untuk yang mau tau kehidupan mahasiswa Indonesia di luar negeri, buku ini sedikit banyak berhasil menggambarkan hal tersebut [kalo ada yg beda nanti gw revised review ini setelah ngerasain sendiri]...
tapi soal idealisme mengejar mimpi..hhmm... berhasil menggambarkan betapa tipisnya antara persistent sama naive...
untuk ending nya...walaupun digambarkan sebagai mimpi yang tercapai tapi terkesan kosong..karena membuat saya lalu bertanya "so what..?" apa setelah itu ikal siap meninggalkan dunia karena sudah menemukan edensornya???????
Profile Image for Maria Michelle Angelica.
10 reviews
June 29, 2014
Speechless dengan Andrea. Entah apa yang terjadi, tapi ketika membaca bab-bab akhir saat ia berkeliling dunia itu, saya tak bisa lepas. Penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dikala saya terus membaca novel-novel lain hanya karena berharap semua menjadi sesuatu yang lebih dan mencapai endingnya; Edensor ini membuat saya tak ingin menyelesaikan endingnya karena hampir tak terasa ternyata ini semua sudah halaman akhir dari novel tersebut. Baguslah!
Profile Image for Afdhaliya.
5 reviews10 followers
December 4, 2007
“...Karena jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apa pun keadaannya... (hal 268).”

Bang Ikal, kalimat ini benar2 membuatku tersentak :D
wuaaaaaaa.....



Profile Image for ddian.
15 reviews9 followers
November 22, 2012
sebenarnya baca ini, karena buku ini salah satu national best-seller. Tapi, personal saya tidak menemukan sesuatu yang greget, malah menurut saya fokusnya jadi kemana-mana. Dia ke Eropa itu karena mengejar mimpi atau mau mengejar si A Ling ;)
Satu-satunya yang saya suka (tetep masih ada yang saya suka) adalah kata-kata di awal buku, sangat puitis dan bergairah.
Profile Image for Gladys Edward.
24 reviews
July 3, 2020
Sebelumnya saya belum pernah ke Eropa namun ketika membaca buku Edensor ini yakni buku ketiga ini saya merasa benar-benar seperti dibawa berkeliling Eropa hingga Afrika. Seakan diajak untuk ikut menjelajah benua Eropa dan Afrika. Dimana tekad, keinginan serta mimpi yang besar akhirnya bisa terwujud! Sungguh buku yang sangat menginspirasi!
Profile Image for Dita.
362 reviews17 followers
November 1, 2007
Ternyata ekspetasi saya salah. Saya kira, ini hanya akan menjadi another 'Laskar Pelangi'. Tapi ternyata, Andrea Hirata mampu bertutur memikat melalui buku ini. Semangatnya meraih mimpi, dan latar belakang berbagai kebudayaan membuat kisahnya di Edensor menarik untuk diikuti. Saya suka.
Profile Image for Retno Devina.
18 reviews
January 14, 2014
Kamu orang yang belum pernah punya mimpi yang bikin kamu bahkan susah tidur????
baca buku ini. belom pernah punya mimpi yang bikin setiap kita melihat sesuatu maka mimpi itu mewujud di depan mata mu??? baca buku ini.
sumpeh, g ada matinya.
Profile Image for Arum.
7 reviews
July 19, 2007
Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi2 itu....
mimpi adalah harapan, harapan kadang tak seindah kenyataan, tapi berjuang itu pasti, karena kita tak kan pernah mendahului nasib (ehem...huk3)
Profile Image for yrita.
36 reviews
November 30, 2007
gaya penulisannya khas sekali, ada unsur melayu yang kental
lebih tepatnya aku sangat suka buku ini , buat mata terbuka
7 reviews1 follower
Read
September 20, 2018
Mozaik ## membuat aku terpaksa 'selongkar' balik Sang Pemimpi.
Profile Image for htanzil.
379 reviews152 followers
July 7, 2009
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”

- Arai

Semua orang pasti memiliki mimpi. Namun hanya sedikit orang yang berani menjadikan mimpinya sebagai tujuan hidupnya dan berusaha dengan segala upaya untuk mewujudkan mimpinya. Tak sedikit orang hanya menjadikan mimpi sebagai angan-angan yang seolah tak mungkin terjangkau, sehingga ia menyerah pada mimpinya, melupakannya, dan tenggelam dalam rutinitas hidup yang menjeratnya.

Ikal dan Arai adalah pemimpi yang berani. Walau terlahir dalam keluarga sederhana di Belitong, mereka memiliki mimpi setinggi langit. Mimpi yang diperolehnya dari Pak Balia, guru SMA-nya.

“Murid-muridku, berkelanalah, jelajahi Eropa, jamah Afrika, termukan mozaik nasibmu di pelosok-pelosok dunia. Tuntut ilmu sampai ke Sorbonne di Prancis, saksikan karya-karya besar Antoni Gaudi si Spanyol.” (hal 34)

Kalimat Pak Balia itu begitu menyentuh, menggelisahkan hati dan pikiran mereka dan menyimpannya sebagai mimpi yang harus mereka raih. Walau untuk menjelajahi Eropa bagaikan punguk merindukan bulan, mereka tak menyerah dengan keterbatasan mereka dan terus berusaha untuk mewujudkannya. Mimpi itulah yang menjadi benang merah dari seluruh kisah kehidupan Ikal yang kemudian ditulisnya dalam bentuk novel hingga lahirlah apa yang disebut sebagai Tetralogi Laskar Pelangi. (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov).

Setelah sukses di dua novel terdahulunya, kini terbitlah novel ketiganya “Edensor”. Jika dalam Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi Ikal bertutur mengenai mimpinya dan usahanya untuk meraih mimpi-mimpi besarnya. Di buku ketiganya ini, apa yang menjadi impian mereka benar-benar terwujud. Dalam Edensor mereka benar-benar telah berada dalam tanah yang telah dijanjikan oleh mimpi-mimpi mereka.

Masih dalam gaya bertutur dan penyajian yang sama seperti di buku keduanya, dimana Andrea merangkai kisah-kisahnya dalam penggalan-penggalan mozaik kehidupan. Demikian pula dalam Edensor. Kisah-kisahnya pendek-pendek saja (5-10 hal) sehingga di buku setebal 288 halaman ini memuat 44 mozaik/bab yang ditulis dengan lancar dan memikat Tak heran banyak pembaca mengaku membaca buku ini dalam sekali duduk.

Di sepuluh mozaik pertama, novel ini kembali mengisahkan kisah-kisah Ikal semasa masih di P. Belitong, bekerja di Bogor, hingga keberangkatannya menuju Sorbonne-Prancis. Di bagian ini ada beberapa kisah yang menarik antara lain kisah kelahiran si Ikal, bagaimana perjuangan Ibunya agar bisa melahirkan tepat pada tanggal kelahiran PBB (24 Oktober) agar kelak Ikal bisa menjadi juru pendamai. Lalu ada pula kisah bagaimana nama Ikal yang sebelumnya pernah diberi nama Aqil Barraq Badruddin harus diganti karena dirasa memberatkan. Namanya diganti menjadi Wadudh, dan akhirnya diganti lagi menjadi Andrea Hirata. Nama yang tak lazim bagi seorang anak melayu di Belitong.

Di mozaik-mozaik berikutnya barulah novel ini menceritakan mengenai pengalaman Ikal dan Arai di tanah impiannya – Sorbonne - Prancis. Hal ini menarik karena mengungkap bagaimana mereka harus menjalani kehidupan di sebuah dunia yang benar-benar baru. Ketika baru saja Ikal dan Arai menginjakkan kaki di Belgia, mereka terlunta-lunta di jalan dan didera cuaca dingin yang menggila yang hampir saja merengut nyawa mereka. Geger budayapun dialami oleh mereka, Ikal menemukan berbagai paradoks antara apa yang dilihatnya di Eropa dengan keadaan di tanah kelahirannya.

Dan yang paling menarik dari novel ini terdapat di mozaik 31 hingga selesai. Di bagian ini dikisahkan pertaruhan Ikal dan kawan-kawannya untuk mengelilingi Eropa pada saat liburan musim panas. Masing-masing membentuk kelompoknya sendiri-sendiri. Ikal berpasangan dengan Arai. Yang menang adalah mereka yang dapat menempuh paling banyak kota dan negara. Yang kalah harus mengurus laundry peserta lain selama tiga bulan, dan yang paling memalukan, harus menuntun sepeda secara mundur dari museum legendaris Le Leouvre ke gerbang L’Arc de Triomphe dimana di sepedanya digantungi pakaian-pakaian rombeng.

Ikal dan Arai melakukan perjalanannya sebagai backpaker. Untuk membiayai perjalanannya mereka harus rela menjadi pengamen seni, yaitu menampilkan seni patung dimana Ikal dan Arai menjadi patung dan berdandan sebagai seekor putri duyung. Perjalanan mereka penuh tantangan, ketika kehabisan uang, mereka harus makan daun-daunan mentah untuk bertahan hidup. Namun Ikal dan Arai tak pernah menyerah, mereka manusia yang hidup dalam mimpinya. Hanya berbekal impian, keberanian dan tekad untuk memenangkan taruhan, mereka akhirnya mereka mampu melakukan perjalanan ke 42 negara di Eropa, Rusia hingga menjejakkan kakinya ke Afrika!

Ketika kembali ke Paris, Ikal kembali menekuni kewajibannya sebagai mahasiswa. Ia tenggelam dalam risetnya. Berita buruk diterimanya karena Prof Turnbull, pembimbingnya akan pensiun dan pulang kampung dan bekerja di Sheffiled Inggris. Khawatir tesisnya terbengkalai, Ikal terpaksa mengikuti exchange program ke Shieffield Hallam University untuk melanjutkan risetnya dibawah bimbingan Prof Turnbull. Kini Ikal semakin dekat dengan Edensor, sebuah desa di Inggris yang selama ini hanya dibacanya di novel karya James Herriot pemberian A ling, gadis Hokian pujaan hatinya.

Di novel ketiganya ini Andrea tampaknya masih konsisten dengan gaya bertuturnya di dua novel terdahulunya. Kalimat-kalimatnya kerap menggunakan metafora-metafora yang mengejutkan dan mampu membuai pembacanya untuk masuk dalam kisahnya. Tak hanya kisah serunya berpetualang ke berbagai negara yang akan diperoleh pembacanya, dalam setiap kisahnya Andrea juga senantiasa menyelipkan berbagai perenungan bijak yang membuat pembacanya bergetar dalam haru, miris atau tersentuh semangatnya ketika membaca kisah-kisahnya.

Selain menyentuh pembacanya, novel ini juga menyajikan kelucuan-kelucuan yang menghibur. Walau kadar kelucuannya tak sampai membuat pembacanya tertawa-tawa seperti di novel keduanya, dalam edensor sisi humornya antara lain terdapat dalam pencarian Ikal terhadap pujaan hatinya A Ling. Untuk mencari jejak A Ling, ia mengandalkan kecanggihan Internet. Ia memasukkan nama A Ling di search engine dan menemukan nama itu berada di berbagai negara dan kota di Eropa,. Dengan modal ini maka setiap Ikal mengunjungi negara tertentu dia menyusuri alamat yang diperolehnya dari internet. Kelucuan merebak ketika ternyata nama A Ling yang diperolehnya ternyata seorang wantia tua, nama sebuah tempat, hingga nama merk obat kuat.

Bagi mereka yang suka melakukan perjalanan traveling ala backpacker , novel ini juga memberikan berbagai tips yang menarik seperti negara-negara mana yang menghargai para backpacker, fungsi baju second skin untuk mengatasi dingin, pengalaman bergaul dengan backpacker kanada, tempat-tempat tidur yang aman apakah di aman, di emper toko, di terminal, dll, termasuk cara membaca arah dengan membaca rasi bintang belantik

Dari berbagai kisah yang dimunculkan dalam buku ini, tampaknya Andrea memang sosok yang sarat pengalaman hidup dan pengetahuan, selain mampu menebar semangat dan inspirasi bagi pembacanya untuk berani mewujudkan mimpinya, di novel ketiganya ini kita akan melihat Andrea juga dengan cerdas memadukan sains, fisika, kimia, biologi, ekonomi, sastra, dan tak ketinggalan kritik-kritik sosial terhadap indonesia yang dilihatnya sebagai paradoks dari pengalamannya hidup di luar negeri. Yang tak kalah menarik adalah monolognya dengan ekonom dunia Adam Smith yang menyerang kaum monetaris yang bersekongkol mengumpulkan uang agar begara seperti Indonesia tergadai karena berhutang.

Dari ketiga karya Andrea, saya rasa novel pertamanya tetap lebih dahsyat dibanding Sang Pemimpi dan Edensor. Bukan berarti dua yang terakhir buruk, namun dalam Sang Pemimpi dan Edensor, ekplorasi karakter tokoh dan peristiwa tak sedalam Laskar Pelangi. Mungkin ini akibat gaya betutur Andrea di novel kedua dan ketiganya yang dipenggal-penggal dalam peristiwa-peristiwa yang dialaminya sehingga lebih menyerupai cerpen dengan benang merah yang kuat, yaitu mimpi Ikal dan Arai.

Namun terlepas dari perbandingan antara novel pertama, kedua, dan ketiganya. Dari tiga karya Andrea yang telah diterbitkan , ketiga-tiganya sangat berpotensi dalam memberikan letupan inspirasi bagi pembacanya untuk tidak menyerah dalam mengejar mimpi.

Semua telah kami rasakan, dalam kemenangan manis yang gilang gemilang dan kekalahan getir yang paling memalukan, tapi tak selangkah pun kami tak mundur, tak pernah. Kami jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan bangkit lagi. (hal 277)

- Ikal -


@h_tanzil
Displaying 1 - 30 of 578 reviews