Sebenarnya yang saya baca bukan versi Inggris, tapi Indonesia. Saya cantumkan yang berbahasa Inggris, karena tidak berhasil menemukan versi Indonesia di Goodreads.
Penguasa-Penguasa Bumi, Don Richardson ( versi Indonesia).
Sejujurnya saya kewalahan membaca pada halaman-halaman awal. Salah satunya karena istilah-istilah Yali yang dipakai Don. Tiba-tiba ada kembu-vam, dokwi-vam, kembu, yogwa, osuwa, homia, domil-mil. Padahal, di sisi lain, saya belum juga berhasil menghafal nama-nama tokoh yang seakan-akan berebut tempat dalam satu halaman. Selain itu, saya merasa cerita kian mencekam, bahkan sebelum mencapai halaman 90-an dari 444. Semakin kewalahan.
Tapi seperti ada yang mendorong saya untuk terus membaca, meski pelan-pelan. Cerita yang bagi saya “cukup gelap” itu mulai meluntur pada bagian dua: Di Balik Pegunungan. Lalu muncul sanjak Rudyard Kipling yang membuat perasaan campur-aduk ketika membaca baris-barisnya untuk pertama kali. Beberapa kali bahkan seperti sedang menjadi Stanley Albert Dale (Stan Dale), tokoh utama yang hari-harinya mirip dengan baris-baris dalam sanjak Kipling. Sanjak “Seandainya”. If.
“..Seandainya engkau dapat berpikir, tetapi tidak mengukuhi pikiran sebagai sasaran
Seandainya engkau dapat tenang menghadapi kemenangan ataupun kehancuran
Dan memperlakukan kedua penipu itu sama saja;
Seandainya engkau dapat tahan mendengar kebenaran yang telah kauucapkan
Diputarbalikkan oleh orang-orang jahat untuk dijadikan perangkap bagi orang-orang bodoh;
Atau melihat apa yang kaukasihi dengan segenap jiwamu dipatahkan orang,
Lalu engkau membungkuk untuk memungut dan memperbaikinya dengan alat-alat yang sudah usang;
…”
Stan adalah mantan Anggota angkatan Darat Australia yang kemudian, hingga akhir hidupnya, setia melayani kebutuhan rohani suku Yali di Distrik Ninia, Lembah Heluk, dataran tinggi Papua. Waktunya pada 1961 hingga menjelang 1970.
Ia terbang jauh dari Sydney untuk membuka mata suku Yali, bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dan baik dibandingkan segala jimat dalam yogwa-yogwa (rumah tempat pria Yali biasa beraktivitas dan menyimpan senjata) mereka. Ia ingin suku Yali merasakan Tuhan, bukan roh-roh Kembu.
Namun, tentu saja, usaha Stan tidak berjalan lancar. Tapi ia tak pernah menyerah. Ia naik turun lembah, masuk keluar desa, berhari-hari, dengan hanya berbekal ubi. Kalau boleh saya bilang, tidak banyak orang pada masa sekarang yang bisa melakukan apa yang diperbuatnya.
Ada beberapa kalimat Don –yang bagi saya- telah mempermudah bayangan pembaca terhadap sosok dan kehidupan para misonaris (khususnya Stan) di Lembah Heluk. Kalimat itu berupa beberapa bagian sanjak Seandainya, juga yang saya temukan pada halaman 353:
“Orang yang hidup seperti Stan dan Phil (Phil Masters, rekan Stan) tidak mempunyai “daging lebih” pada tubuhnya.”
Stan dan Phil meninggal dunia di dekat suatu air terjun di Desa Seng. Napas mereka habis sepenuhnya, setelah dihujani puluhan anak panah yang dilepaskan para tokoh perang Desa Seng. Tragis. Sangat menyedihkan. Buku baik. Cerita nyata yang… gila… luar biasa.
Salam hormat untuk orang-orang dari negeri jauh yang rela menanggalkan banyak hal demi kebaikan di tanah kami.