Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Tiba-tiba di tempat asing itu sebuah suara bisikan terdengar, suara wanita tua yang asing di telinga Kara. “Kara,” suara itu memanggil namanya. Itu bukan suara Antessa dan bukan pula Petra, suara ini terdengar jauh lebih tua. “Si … siapa?” jawab Kara dalam hati. “Ini aku, Kara, Lisbet.” Kara tidak yakin ia mendengar dengan benar suara itu. Ia berfikir bahwa itu hanya sebuah halusinasi. Namun, ternyata suara itu tidak hanya didengar oleh Kara seorang diri. Antessa pun dapat merasakannya. “Di manakah kami, Lisbet?” ucap Kara. “Kalian berada di atas lempeng besar. Sebuah lempeng yang berbeda dari lempeng yang lain,” ujar Lisbet. Seketika Kara dan Antessa dibuat bingung dengan perkataan Lisbet mengenai lempeng tersebut.

***

Pasukan Kuil Kegelapan terus bergerak maju. Xar,Vichattan, dan Kuil Cahaya kebingungan menghadapi pasukan Kegelapan yang kian bertambah kuat. Munculnya peri kegelapan yang
meluluhlantahkan para peri pendukung cahaya dan terpecah belahnya keempat ahli waris cahaya semakin memperburuk keadaan. Belum lagi dengan semakin melemahnya kekuatan elemental dan juga kekuatan Xar karena ulah Khalash serta panglima-panglimanya.

Keadaan begitu buruk sehingga para pendukung cahaya harus menggantungkan hidup mereka pada seorang wanita gila dan buku-buku kuno yang dilindungi oleh ilmu sihir mematikan. Titik terang pun muncul, tetapi tak berlangsung lama. Karena tak seorangpun mengira rencana kegelapan yang sebenarnya.

425 pages, Paperback

First published August 1, 2010

4 people are currently reading
57 people want to read

About the author

Bonmedo Tambunan

8 books33 followers
Bonmedo Tambunan, affectionately known as Boni, wrote his first fantasy novel at seventeen. In 2009, his first novel, Xar & Vichattan: The Throne of Light, was published in Indonesia in Bahasa Indonesia. Boni’s subsequent works have also been published in Bahasa Indonesia. In 2016, the Xar and Vichattan: The Heirs to Light (The Throne of Light, Tempest, and The Four Bodies of Statera) series is translated into English and published as indie books.

Boni lives in Jakarta, Indonesia. Besides being a writer, he works as a banker. When he isn’t working or writing, you can find him doing exercises at the gym or spending his time in Jakarta malls.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
20 (30%)
4 stars
28 (42%)
3 stars
14 (21%)
2 stars
4 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 27 of 27 reviews
Profile Image for Andry Chang.
Author 56 books37 followers
October 18, 2010
18 October 2010
Sang Musafir dalam Prahara Xar & Vichattan

REVIEW NOVEL
XAR & VICHATTAN – Seri Ahli Waris Cahaya
Buku II: Prahara
Karya: Bonmedo Tambunan

Oleh: Andry Chang (www.vadis.tk)

Perjalanan Sang Musafir terus berlanjut. Selain berkutat di dunia fantasi magis ciptaannya sendiri, kadangkala timbul keinginannya untuk meninjau dunia-dunia lain, ciptaan para “pengkhayal” lainnya.

Syahdan, saat ia mendengar adanya petualangan lanjutan baru di ranah Xar & Vichattan, untuk kedua kalinya berpindahlah Sang Musafir di negeri yang kali ini dilanda prahara besar.

Tempat yang pertama kali dikunjunginya di dunia ini tentunya adalah Kuil Cahaya yang telah dibangun kembali, dan orang-orang yang pertamakali ditemui Sang Musafir tentu saja keempat tokoh utama, empat remaja para Ahli Waris Cahaya: Dalrin, Antessa, Kara dan Gerome. Tentu saja keberadaan Sang Musafir ini tak diketahui siapapun di dunia itu – disadaripun tidak.

Kali ini, para anggota “The Dream Team” ini bekerja sendiri-sendiri dengan alasan yang jelas. Selain terdesak waktu, tujuan utama mereka adalah menggagalkan usaha Khalash dan antek-antek Kuil Kegelapan menguasai seluruh dunia dan menghancurkan Kuil Cahaya lagi.

Jadilah Sang Musafir ikut serta dalam perjalanan “roller coaster”: Terbang bersama Antessa dan para peri, tenggelam dalam tumpukan buku dan terjebak di dunia lain bersama Kara yang berpengetahuan luas, merenung bersama Dalrin yang berjuang dalam konflik dan kedukaan dalam dirinya sendiri dan menjaga Desa Galad bersama Gerome, si pemberani yang bandel, “comic relief” dalam serial ini.

Walaupun sempat sukses dibuat penasaran dan agak lelah harus “berpindah-pindah tempat” di saat-saat kritis – seperti yang dialaminya pula dalam XV1, harus diakui, Sang Musafir sempat merasa tak ingin istirahat dan kembali dulu ke dunia asalnya sebelum tiba di ujung perjalanan keempat tokoh ini. Hasilnya: Prahara tak dapat ditolak, keunggulan tak dapat diraih. Kuil Xar bahkan sampai “hancur-hancuran”.

Logika Sang Musafirpun terusik. Ini bukan karena salah taktik, tapi semata-mata karena Kuil Kegelapan mendapat pendukung-pendukung baru yang kuat yaitu Diagoni dan Peri Kegelapan, Frigus Acerbus. para Ahli Waris yang belum matang benar dari segi kekuatan dan mentalitas, dan pendeknya pihak Kuil Kegelapan memang lebih kuat dari Xar maupun Vichattan.

Dalam perjalanan selanjutnya, Sang Musafir bertemu satu tokoh yang sangat menarik: Lisbet, seorang wanita tua yang “gila tapi tak gila, dan tak gila tapi gila”. Bagaimana bisa si tiarawati gila ini jadi kunci keselamatan Xar dan Vichattan? Inilah yang menurut Sang Musafir adalah salah satu daya tarik utama Buku II: Prahara ini.

Perjalanan Sang Musafir kali ini memang meriah, diwarnai dengan cinta, kecemburuan, pengkhianatan, balas dendam dan konflik-konflik pribadi antara Gerome dan Shiba, Petra dan Corbus, juga antara Kara, Antessa dan Dalrin, dan ditutup dengan finale yaitu pertempuran sihir yang tak terlalu mendetail tapi cukup epik di Kuil Cahaya antara para Ahli Waris Cahaya dan dua pelindungnya Amor si angsa raksasa dan Pietas si rusa raksasa melawan pasukan Kuil Kegelapan di bawah pimpinan Khalash.

Di akhir tahapan perjalanan yang seharusnya tuntas tapi rupanya menyisakan potensi ancaman baru yang lebih parah ini, setelah kembali ke dunia asalnya Sang Musafir terus mengingat beberapa kesan – yang tak tahan lagi akhirnya dituliskannya dalam bentuk review:

1. Banyak nama tokoh dari kalangan Xar dan Vichattan yang disebut, tapi mereka mendapat porsi peran yang lebih sedikit daripada di buku pertama Takhta Cahaya, seakan mereka hanyalah pemanis atau bahkan figuran. Tentunya ini bukan masalah karena sesedikit apapun peran mereka, itu peran yang penting agar cerita jadi terkesan lebih alami.

2. Kehadiran Khalash yang disebut-sebut sebagai Pangeran Kegelapan terkesan terlalu singkat di bab-bab akhir. Hanya sekali ia benar-benar turun tangan dan pada akhirnya ia “khalash” total. Ia terkesan terlalu gegabah untuk ukuran “The Ultimate Bad Guy”. Kalau saja ia mengindahkan peringatan Nolacerta dan Frigus, ceritanya pasti akan beda. Satu hikmah yang bisa diambil dari Khalash adalah keangkuhan dan sikap ultra-superioritas seseorang pada akhirnya akan menjatuhkan orang itu sendiri.

3. Menurut Sang Musafir, dunia X&V dalam peta yang tergambar apik di halaman depan nampak sangat sederhana: Satu kota, dua desa, hutan, gunung, gua, Laut Misty, tiga kuil, walaupun ada tambahan satu dunia baru dalam dimensi kegelapan: Vesmir. Sang Musafir lebih memilih “berasumsi” tempat-tempat yang tercantum dalam peta hanyalah yang berhubungan langsung dengan cerita, dan tempat-tempat “tersembuyi” lainnya akan ditambahkan seiring perkembangan cerita.

4. Plot-plot, taktik, intrik yang digunakan dan bahkan jalannya tiap pertempuran disampaikan dengan singkat, padat dan jelas – sederhana tapi cerdas, bisa diterima logika. Anak-anak setingkat SD mungkin akan mudah mencerna cerita ini, dan kalangan dewasa-muda akan menikmatinya. Sang Musafir yang adalah penggemar berat game-game role-playing (RPG) juga menilai kisah ini cukup “RPGlicious” dan “Mangalicious”. Bisa saja suatu hari nanti ada yang akan menawarkan untuk membuat X&V versi game dan manga pada penulis yang biasa dipanggil “Boni” ini.

Kesimpulannya, satu hal yang perlu diingat, bukalah pikiran, mainkan khayalan, buanglah segala mindset yang memperhitungkan faktor klise dan faktor kesederhanaan struktur dunia yang “sedaun kelor” ini. Nikmatilah perjalanannya, dan seperti halnya Sang Musafir, pembaca akan mendapatkan pengalaman yang mengasyikkan dan mengesankan pula, seperti menikmati masakan lezat ala kuliner, satu lagi racikan dari the Chef of Fantasy, Bonmedo Tambunan – compliments to the chef.

Sukses untuk Boni, dan Sang Musafir menunggu dengan sabar (dan penasaran) Xar & Vichattan Buku III. “Xar... Vichattan... Cahaya... Tunggu kedatanganku!” ucap sang Pangeran Kegelapan.
Profile Image for Kristiyana Hary Wahyudi.
51 reviews2 followers
February 5, 2011
CLICK UNDO : DI BALIK HALAMAN NOVEL XAR & VICHATTAN (sebuah resensi novel dikemas ala Kick Andy)

Undo : Kisah Xar & Vichattan sangatlah menarik untuk diikuti. Kisah tentang peperangan kebaikan yang dicerminkan oleh kekuatan Cahaya melawan kekuatan Kegelapan yang mewakili kejahatan ini digarap dengan sangat apik oleh pengarangnya. Kita akan bahas novelnya bersama tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya dalam acara CLICK UNDO hari ini dengan tema Di Balik Halaman Novel Xar & Vichattan karya Bonmedo Tambunan ini.

(applause pembaca)

Undo : Bersama kita sekarang sudah ada empat ahli waris cahaya. Kita akan perkenalkan satu per satu dari ujung sana... Ada Gerome yang selalu ceria...

Gerome : Hai, semua!!

Undo : Di samping kirinya ada Dalrin yang sangat gagah dan berwibawa.

Dalrin : Salam.

Undo : Kemudian ada Kara yang tampil dengan cantiknya.

Kara : Hai... terimakasih.

Undo : Dan terakhir, ada Antessa yang anggun.

Antessa : Salam, semuanya!!!

(applause pembaca)

Undo : Sekarang, kita mau tanya nih, bagaimana sih awalnya kalian bertemu? Mengingat kalian kan ada yang dari Xar ada yang dari Vichattan... Mungkin salah satu dari kalian bisa menceritakan!!! Kara?

Kara : Begini ya, awalnya adalah kunjungan rombongan Xar di istana Tiara... Pada waktu itu kami belum mengenal satu sama lain.. Nah, ketika aku dan Gerome mengajak Dalrin dan Antessa buat jalan-jalan di lorong istana Tiara, kami semua mendengar suara seorang wanita seperti memanggil-manggil nama kami satu per satu...

Gerome : Ya, betul... suaranya lembut sekali, aku bahkan tidak melupakannya sampai sekarang. Ternyata itu adalah suara almarhumah Pendeta Cahaya Luscia.

Undo : Ohh, begitukah, Gerome?? Di mana itu kejadiannya?

Gerome : Di sebuah gudang tua di sudut istana Tiara.

Kara : Singkat cerita, kami dibawa ke sebuah tempat yang ternyata adalah pegunungan Eros setelah kami memegang sebuah tongkat putih milik almarhumah Pendeta Luscia. Betul bagitu kan, Antessa?

Antessa : Iya, betul... Pendeta Luscia menyatakan bahwa kami adalah para ahli waris cahaya dan memberi kami misi untuk membangkitkan Kuil Cahaya..

Undo : Oke... kemudian apa usaha yang kalian lakukan untuk membangkitkan Kuil Cahaya? Apakah itu saja misi kalian?

Antessa : Cuma itu yang dikasih tahu oleh Pendeta Luscia, tapi akhirnya kami tahu untuk membangkitkan Kuil Cahaya kami perlu membangunkan dua roh cahaya Amor dan Pietas dari tidur mereka. Tetapi ternyata itu belum berakhir, masih ada tugas-tugas menanti seperti yang disebutkan di buku kedua.

Undo : Tugas-tugas apa itu? Coba disebutkan!

Antessa : Banyak sih. Masing-masing dari kami mendapat satu tugas.

Undo : Oh, jadi ceritanya berbagi tugas, begitu?

Gerome : Iya. Antessa pergi ke pusat bumi untuk ritual pengimbuhan cahaya pada Kristal Utama bersama para peri. Kara pergi ke Vichattan mencari tahu soal dari mana makhluk-makhluk kegelapan berasal. Dalrin ke Xar untuk memulihkan diri sedangkan aku bersama Amor ke desa Galad untuk menghadapi pasukan kegelapan. Bahkan Pietas mendapatkan tugas menjaga Kuil Cahaya.

Kara : Jadi intinya, kami berpencar. Semula kami mengira kami akan sibuk dengan tugas masing-masing, tetapi ternyata semua tugas saling berkaitan satu sama lain, meskipun dilaksanakan di tempat yang berbeda-beda. Seperti misal keberadaan Dalrin di kuil Xar ternyata bisa memurnikan kembali inti Xar yang bermanfaat untuk menjaga stamina Gerome dan para prajurit di desa Galad dalam menghadapi musuh. Kemudian aku dan Antessa malah sama-sama terjebak di Vesmir melalui pintu yang berbeda. Dan pada akhirnya kami berdua bisa keluar dari Vesmir ke Kuil Cahaya, Gerome menyambut kami, Dalrin mengirimkan imbuhan kekuatan Cahaya dari Xar untuk menghadapi serangan Khalash.

Undo : Ada apa, Antessa? Kelihatannya kamu murung?

Antessa : Tidak apa-apa. Aku Cuma teringat pada para peri kecil itu : Ventusia Flamman, Ignis Flamma, Unda Aqua, Sero Plantarum dan Terranum Humus. Jika kalian mendengarku : maaafkan aku tidak berhasil memulihkan Kristal Utama. (Kara menangis)

Kara : Kurang berhasil, Antessa. Kamu hanya kurang berhasil.

Gerome : Iya, betul, Antessa. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Santai saja! Hahaha

Undo : Ya, sudah. Jangan menyesal, Antessa. Mereka pasti bangga kepadamu.

Dalrin : Sudahlah, jangan menangis. Mereka tidak akan kecewa kepadamu. Itu bukan kesalahanmu, itu kesalahan peri jahat Frigus Acerbus.

Undo : Baiklah Sekarang beralih ke Dalrin...

Dalrin : Ya..

Undo : Dalrin, setelah ayahmu, panglima besar Terma, meninggal, kamu sempat merasakan ketidakpercayaan terhadap kekuatan cahaya. Nah, bagaimana kamu bisa mengembalikan kepercayaan itu kembali?

Dalrin : Ya, begitulah.. berkat bimbingan dari Biarawati Agung, aku bisa melalui semua ini. Sungguh berat rasanya menyatukan diri dengan kekuatan cahaya jika ada sesuatau yang menghalanginya. Tapi akhirnya, aku bisa meruntuhkan tembok penghalang itu pada saat yang yang dibutuhkan untuk memurnikan inti Xar yang telah dinodai oleh Corbus.

Undo : Pembaca, pada kesempatan ini kita juga kedatangan tamu, dua tokoh wanita yang berpengaruh di Xar dan Vichattan. Melalui proyeksi astral, mari kita sambut Biarawati Agung Mirell dan Tiarawati Utama Magdalin!

(applause pembaca)

Undo : Selamat datang, Biarawati Agung dan Tiarawati Utama!

Mirell : Salam

Magdalin : Salam juga.

Undo : Kita tadi sudah mendengar kisah perjalanan para ahli waris cilik ini dari awal mereka bertemu sampai akhirnya mereka berhasil menyelesaikan misi mereka dalam mendirikan kembali Kuil Cahaya dan juga misi-misi mereka selanjutnya. Bagaimana perasaan Anda berdua atas keberhasilan mereka?

Mirell : Yang pasti kami merasa bangga punya mereka, apalagi Antessa dan Kara adalah cucu-cucu kami. Bukan begitu, Magdalin?

Magdalin : Benar. Seluruh Xar dan Vichattan bangga memiliki mereka, para ahli waris cahaya. Samula kami sempat takut ketika mereka melakukan misi pertama. Tetapi Luscia telah meyakinkan kami bahwa merekalah yang telah terpilih untuk melakukannya.

Mirell : Dan Cahaya tentunya yang membuat mereka berhasil melakukannya.

Undo : Pembaca, Sesaat lagi kita akan menyimak kesan-kesan dari para tiarawan-tiarawati yang terlibat langsung dalam kisah ini lewat rekaman video berikut ini dari istana Tiara.

(memutarkan rekaman video para tiarawan-tiarawati istana Tiara)

Calborn : Mungkin yang bisa aku katakan di sini adalah di buku kedua, peran para tiarawan-tiarawati lebih jelas. Maksudnya adalah masing-masing memiliki tugas masing-masing. Aku menggantikan Felicia memimpin prajurit Tiara berjaga di desa Galad. Lahana juga ikut mempertahankan desa Galad. Keltus membantu menghubungkan tiarawati Lisbet dalam usaha mencari Kara dan Antessa. Kemudian Gelda pada akhirnya berperan penting dalam ritual sihir massal untuk melenyapkan Khalash..

Keltus : Yang belum jelas perannya hanya Valamir. Tapi dia cukup membantu menunjukkan tempat tinggal Lisbet.

Gelda : Bukannya pada waktu itu, dia sudah berperan dalam mempersiapkan penyambutan kedatangan tamu-tamu dari Xar, Keltus?

Valamir : Yang pasti, aku tetap bangga walaupun hanya mendapatkan peran-peran yang kurang penting.

Hahahaha (semua tertawa)

(rekaman video selesai)

Undo : Itu dia kesan-kesan beberapa tiarawan-tiarawati tentang peran-peran yang dilakoninya. Di sini kita juga kedatangan tiarawati Lahana dan biarawati Corry.

(applause pembaca)

Undo : Selamat datang, biarawati dan tiarawati!

Corry dan Lahana : Terima kasih!

Undo : Tiarawati Lahana, apa pendapat Anda setelah mendengar kesan-kesan dari teman-teman Anda dalam rekaman video tadi?

Lahana : Mmm, bagiku secara pribadi, asal semua dilakukan dengan baik dan penuh pengabdian, peran yang kurang penting pun akan menjadi sangat penting. Aku tak peduli apakah aku mendapat peran penting atau tidak, yang penting aku akan berusaha melakukan apa yang harus aku lakukan demi keselamatan para ahli waris. Itu saja. Aku tidak akan mengkhianati mereka.

Undo : Anda akan menambahkan, Biarawati Corry?

Corry : Cukup satu kalimat saja. Kami tidak akan melakukan apa yang dilakukan oleh Biarawati Petra, Corbus dan Shiba. Maksudnya, cukup mereka saja yang disebut sebagai pengkhianat.

(applause pembaca)

Undo : Bicara tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Biarawati Petra, bagaimana pendapat Anda, Biarawati Agung Mirell? Apakah Anda merasa kecewa dengan Petra?”

Mirell : Kekecewaan itu pasti ada. Tetapi di balik itu, ada pelajaran yang bisa dipetik bahwa jangan terlalu percaya dengan orang lain. Aku hanya tidak yakin bahwa Petra benar-benar mengkhianati Cahaya. Ya. Dia telah mengkhianatiku, mangkhianati Xar tetapi dia tidak seperti Corbus yang mengkhianati Cahaya dan bersatu dengan Kegelapan. Oleh karena itu, Petra, di manapun kau berada, kembalilah kepada Cahaya, anakku! Jika mungkin, ajaklah Corbus juga kepada Cahaya!

Magdalin : Ya. Pengkhianatan Petra memang tidak disangka sebelumnya. Bertahun-tahun aku mengenalnya, tiada sesuatu yang buruk dengan dirinya, dan tampak setia kepada Mirell dan kepada Xar. Aku juga sempat terkejut mendengar berita pengkhianatannya itu. Benar-benar di luar dugaan.

Undo : Bagaimana dengan Dalrin dan Antessa, sebagai warga kuil Xar?

Antessa : Terimakasih. Aku cukup mengenal Petra sebagai Es-Xar terbaik. Dan ketika aku dan Kara berjumpa dengannya di Vesmir bersama Corbus, aku juga sempat terkejut. Tetapi menurutku Petra telah dipengaruhi oleh cintanya kepada Corbus. Bukankah mereka pernah menjadi sepasang kekasih sebelumnya?

Undo : Sekali lagi cinta mengalahkan segalanya. Kita hanya bisa berharap Petra kembali lagi. Dan jika dia kembali lagi, apakah Anda mau menerima kembali, Biarawati Mirell?

Mirell : Kurasa tidak, sebelum jiwanya dimurnikan dengan inti Xar.

Gerome : Maaf, bukankah cinta adalah salah satu manifestasi dari kekuatan Cahaya? Aku pernah mencoba menyerang Shiba dengan penuh kebencian dan rasa dendam dan itulah yang membuat kekuatan cahayaku malah semakin melemah...

Magdalin : Benar, Gerome. Oleh karena itu kami belum yakin sepenuhnya bahwa Petra benar-benar telah jatuh ke dalam kegelapan, karena dia masih memiliki perasaan Cinta.

Undo : Berbicara tentang perasaan cinta, katanya Dalrin dan Kara punya hubungan yang lebih dari sahabat, ya?

Gerome : Hahaha!!! Ayo, ngaku saja, Dalrin! Jangan malu-malu.

Kara : Bukan. Itu hanya gosip belaka. Kita berteman, kok! Maksudku, kita kan belum dewasa, jadi belum ada perasaan seperti itu... hahaha..”

Gerome : suittt suittt (bersiul)!! Kara dan Dalrin pacaran ni yee??”

Hahaha (semua tertawa)

Kara : Gerome!! Sini, aku cubit kamu!! Bikin malu saja!

Hahahaha

Magdalin : sudah, sudah.. Kalian boleh pacaran tapi tidak sekarang, ya? Perasaan Cinta itu perlu untuk memeperkuat kekuatan cahaya. Jadi tidak masalah bagiku, bukan begitu, Mirell?

(Mirell mengangguk dan tersenyum)

Corry : Gosipnya lagi, Lahana diam-diam juga suka dengan almarhum panglima Terma loh!!!

Undo : Oh ya??

Lahana : Ah, tidak!! Bohong itu!!!

Corry : Maggie yang cerita kepadaku.. hahaha

Lahana : Tidak benar gosip itu. Aku hanya mengaguminya saja. Tidak lebih dari itu. Tidak apa-apa, kan, Dalrin?

(Dalrin tersenyum malu)

Undo : Mmm, pertanyaan terakhir untuk Biarawati Mirell dan Tiarawati Magdalin! Katanya di sini ada beberapa kejutan twist yang tampaknya mengecoh pembaca selain pengkhianatan Petra tadi. Tolong dijelaskan!

Mirell : Ya, seperti yang tertulis, salah satunya adalah rencana untuk mengeluarkan Antessa dan Kara dari Vesmir. Kami sebenarnya akan menggunakan cara yang dikatakan oleh Corbus dengan perantaraan siapa itu, Magdalin???

Magdalin : Diagoni.

Mirell : Ya, Diagoni. Jadi rencana semula adalah kita akan mencari penyihir hitam Diagoni, meskipun kita belum pernah tahu bagaimana wujudnya, memaksanya membuka lubang hitam yang pasti mengarah ke Vesmir.

Magdalin : Tetapi memang Kara dan Antessa sangat cerdas dan berani. Mereka menggunakan cara mereka sendiri, mengambil risiko dengan berbaur dengan para ingenscorpus, melewati Gerbang Hitam di Vesmir yang langsung mengarah ke Kuil Cahaya. Hebat! (Magdalin mengacungkan dua jempolnya ke arah Kara dan Antessa).

(applause pembaca)

Undo : Nah, para pembaca, hari ini kita telah berbincang dengan para tokoh dalam novel Xar dan Vichattan. Dan dari perbincangan ini kita bis tarik kesimpulan bahwa segala sesuatu akan berhasil dilakukan dengan usaha keras, penuh pengabdian, kecerdasan, keberanian dan juga perasaan cinta. Semoga perbincangan ini bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih untuk para ahli waris cahaya dan juga biarawati Corry dan Tiarawati Lahana atas kedatangannya di studio ini, serta kepada biarawati agung Mirell dan tiarawati utama Magdalin atas kesediaanya berproyeksi astral untuk bisa berbincang-bincang dengan kita di tempat ini. Terimakasih juga untuk para pembaca yang telah mengikuti perbincangan ini. Sekian CLICK UNDO untuk hari ini, sampai jumpa pada kesempatan berikutnya!!!

(applause pembaca)
Profile Image for Luz Balthasaar.
87 reviews69 followers
November 21, 2010
Selesai tadi malam. Rating sebenernya 3.3

Kebijakan baruku kalau ngasih rating sekian koma sekian adalah ngelihat average ratingnya. Kalau lebih tinggi dari nilai yang kuberikan, bintangnya kubulatkan ke bawah. Kalau lebih rendah, kubulatkan ke atas.

Aku bukan baru pertama kali ngebaca X&V. Aku dah baca prekuel Prahara meski bukan yang edisi revisi. Aku ingat banget kalau yang kukeluhkan dari buku pertama itu adalah klisenya. Secara khusus, bahwa plotnya itu plot hantu LoTR, dan karakternya stock character yang nggak unik.

Sebab itu, rasanya menyenangkan melihat ada perkembangan dari segi plot dan karakter di X&V 2. Dari segi plot: Perkembangan besar. No more ghost plot! Yay! Cerita dipecah ke empat subplot sesuai empat tugas para ahli waris cahaya. Satu subplot secara khusus menarik buatku, seperti yang kusebut dibawah.

Dari sisi karakter, perkembangan nggak sebanyak di plot. Swordsman masih Swordsman, Healer masih Healer, Young Bratty Magician (yang kebetulan aku suka) masih Young Bratty Magician. Hermione masih Herm... whoops. But you get the idea. Kurang lebih karakternya sama, tapi ada sedikit perkembangan yang ditaruh di awal-awal. Ada masalah percemburuan-ria yang agak dilupakan begitu cerita dah maju, tapi ada juga yang ngaruh gede di dalam plot cerita.

Yang ngaruh lumayan gede ini adalah Hero Angst yang dialami si Swordsman. Yes. Our Beloved Hero Angst Trope. Ini menarik, hanya saja cara pemecahannya stock banget: with a lecture and a good ol' smack to the head from Big Daddy.

Okay... dia sedih karena kehilangan Big Daddy. Tapi ternyata dia bisa ngobrol dengan Big Daddy hanya dengan 'nyelem' ke dalam sebuah benda. So the angst is not that angsty after all.

Tapi baiklah, ada yang bisa diharapkan untuk berkembang lagi di buku ketiga.

Untuk secondary characternya, hmmm~kebanyakan mereka karakternya sama-sama aja. Yang berkesan buatku itu Keltus, Valamir, dan Lisbet, Corry. Itu karena ada bagian penting plot yang melibatkan mereka. Subplot "Where's Kara" ini bagus, dan barangkali yang paling non-stock dari seluruh bagian buku.

Masih soal plot, ada twist 'pengkhianatan' seseorang di bagian akhir. I didn't see it coming, but not completely in a good way. Kayaknya terlalu tiba-tiba diputuskan "Ah, karakter ini berkhianat deh." Subplot pengkhianatan ini masuknya ga mulus. Apalagi karena setelah dibilang si X berkhianat, langsung ada penjelasan 'mekanisme' pengkhianatan itu. Bisa diterima akal sih, tapi bukannya lebih mulus kalau pengkhianatan itu diforeshadow dikit yah? ~.~

Keluhan berikut, ada bagian-bagian buku ini yang bikin aku bilang, "rush job!" Ada buanyak paragraf panjaaaaaaaa~ng dengan kalimat-kalimat penuh pengulangan kata yang sebetulnya bisa diedit. Lebih keren lagi, di bagian-bagian akhir ada salah ketik. Masak Pietas dipanggil Amor? Glekh. Mana ini gak sekali, tapi beberapa kali!

Beberapa porsi yang berisi penjelasan dan pertempuran juga kayaknya kepanjangan. Apalagi kalau udah banyak banget menyebut tentang "bola-bola" cahaya, kegelapan, dll, dst. Ga tau kenapa deskripsi "bola" ini sering banget diulang. After awhile, it gets tedious. Jadi aku sering mendapati diriku memakai jurus skip. Atau, kalau memang pas otak lagi kotor, menerjemahkan "bola-bola" itu ke dalam Bahasa Inggris untuk menghibur diri sendiri.

" shoots glowing balls." Wkwkwkwkwkw... Nice.

Selain itu typo nyaris ga ada. Layout agak bikin capek baca. Font yang dipake di buku ini kalau diitalic ga enak di mata, dan ada banyak percakapan suara hati yang diitalic. Setahu saia, suara hati itu cukup italic aj. Ga usah pake kutip lagi. Tapi memang kayaknya ini ga baku. Di seri Animorphs suara hati bisa ditulis di antara dua tanda lebih besar/kecil seperti ini >>

Cover keren, seperti biasa. Blurb di belakangnya juga bikin niat baca.

Satu hal yang kukira ada di prekuel Prahara tapi nggak kutemukan disini adalah bahwa prekuel X&V memiliki gaya bercerita yang lebih jelas dan plot yang lebih mulus, dan sama sekali ga ada kesan kalau buku itu di-rush.
Profile Image for Magdalena Amanda.
Author 2 books32 followers
February 20, 2011
Akhirnya hari ini selesai juga membaca X&V2 ini. :P Padahal ini buku terbitnya kapaaan, saya baru bacanya sekarang. Emang rada gak up to date saya dalam hal bacaan.

First thing first, ada sdkt perubahan yg sepanjang ingatan saya (tanpa membuka buku pertama edisi non-revisi) tidak ada di buku pertama: di bagian bab2nya sekarang ketambahan "hiasan" simbol. Belakangan, sesudah membaca lebih jauh, saya baru ngeh itu simbol elemen. Simbol anginnya agak2 ... gimanaa gitu, IMHO. :P Kalah impresif dibanding simbol lain, saya rasa.

Spasi buku kedua (lagi2 sepanjang ingatan saya tanpa membuka buku pertama edisi non-revisi) rasanya jauh lbh rapat daripada buku pertama. Itu buat saya oke malahan, jadi tidak terasa terlalu renggang. Margin, fine juga. Tapi ukuran font ... Duileh, pas di tengah2 buku, saya sampe bingung knp ini baca gak beres2, padahal The Sorceress selesainya cepat, tebelnya beda jauh gitu. Kemudian saya teringat salah satu review sempat mengatakan kalau ukuran fontnya memang kecil, mungkin itu sebabnya saya juga jadi tidak secepat itu membacanya.

Tapi, saya menduga, rasanya ada faktor lain yang menghambat progress membaca saya. Saya masih belum ngeh penyebabnya apa, tapi saya paling malash kok justru di bagian cerita Antessa-Kara. Mgkn karena bagian cerita mereka memang cenderung belibet perlu bantuan dari sana-sini.

Konflik batin Dalrin selesainya agak kelewat singkat. Well, tapi bisa dibayangkan kalau tiga perempat buku saya dikaish Dalrin lg bad mood, saya juga bisa2 mati boring dan lsg kirim e-mail ke penulisnya utk kasih tampuk protagonis ke Gerome.

Gerome-mon--julukan yang kayaknya pas mengingat dia sebentar lagi bisa jurus Ledakan Nova aka Nova Blast yg mirip pny Greymon dr Digimon--tadinya sempat saya kira bakal menimbulkan "masalah" baru terkait dengan Shiba, tapi somehow di buku ini selesai begitu saja. Sudah betulan selesai atau belum yah ini? :-?

Shiba dan karakter2 jahat lainnya saya rasa sedikit kurang kreatif dalam hal memaki-maki. Makian favorit mereka adalah "goblok". :P Entah ini hasil editan supaya bisa dikonsumsi anak-anak atau bagaimana.

Soal salah tulis nama dari Pietas menjadi Amor, itu sudah banyak dibahas di review2 lainnya, jadi saya tidak akan membahas panjang lebar selain berspekulasi kesalahan itu mungkin terjadi karena penulisnya sedang dikejar deadline diiringi ctar2 ganas dari pengawasnya. :))

Yang saya cermati malah gaya bahasa. Betul sekali, di buku kedua ini gaya bahasanya lebih tidak kaku. Penyebutan nama lawan bicara saat dialog sudah tidak mencapai taraf kelewat mencolok. Saya paling suka bagian Pietas: "Apa Corbus juga akan datang, Khalash? Sekalian saja kau gotong Kuil Kegelapanmu kemari!" :)) Damn, rite! Kata "gotong" itu memberi impresi tersendiri buat saya. :))

Tapi di sisi lain, saya memperhatikan gaya bahasanya terasa "janggal" di beberapa tempat. Terutama sekali saya mengamati kalau penulisnya agak pelit pakai kata "dengan" alhasil sering ada kalimat semacam "cepat dia melakukan sesuatu", tanpa kata "dengan" di depan "cepat". Ini variasi kalimat, tapi pernah di satu paragraf ada dua kali tipe kalimat seperti ini, rasanya jd sdkt mengganjal. Di satu kalimat lain yang saya lupa di halaman berapa, kata "dengan" ditaruh di depan kata "tergopoh2" (kalau tidak salah) padahal mnrt saya pribadi, sebenarnya malah kata "dengan" ini bisa dihilangkan.

Overall, sekuel ini action-packed dari awal hingga akhir. :D Mutlak sulit diikuti bagi mereka yang tidak membaca buku pertamanya. Terasa agak rush dari pace-nya tapi so far so good. :D

OT: Saat pertempuran terakhir di buku ini, saya sudah sempat memutar lagu nasional karakter FF VII bernama Sephiroth karena saya rasa cocok. Dengan hebatnya, mama saya di luar mengeraskan volume TV yang lg muter SM*SH sayangnya. orz

Hehe.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books235 followers
November 21, 2014
Judul: Xar & Vichattan: Prahara (Xar & Vichatan, Seri Ahli Waris Cahaya #2)
Penulis: Bonmedo Tambunan
Penerbit: Adhika Pustaka
Halaman: 425 halaman
Terbitan: Agustus 2010

Pasukan Kuil Kegelapan terus bergerak maju. Xar,Vichattan, dan Kuil Cahaya kebingungan menghadapi pasukan Kegelapan yang kian bertambah kuat. Munculnya peri kegelapan yang
meluluhlantahkan para peri pendukung cahaya dan terpecah belahnya keempat ahli waris cahaya semakin memperburuk keadaan. Belum lagi dengan semakin melemahnya kekuatan elemental dan juga kekuatan Xar karena ulah Khalash serta panglima-panglimanya.

Keadaan begitu buruk sehingga para pendukung cahaya harus menggantungkan hidup mereka pada seorang wanita gila dan buku-buku kuno yang dilindungi oleh ilmu sihir mematikan. Titik terang pun muncul, tetapi tak berlangsung lama. Karena tak seorangpun mengira rencana kegelapan yang sebenarnya.

Review

Buku kedua dari serial Xar & Vichattan. Jauh lebih baik dari buku pertama, menurut saya.

Dari segi pertarungan, tetap berhasil digambarkan dengan baik oleh penulisnya. Sesuai dengan judul bukunya, "Prahara", di sini memang ada banyak sekali perkelahian yang terjadi. Apalagi karena plot di sini terbagi 4 alur. Soalnya Dalrin, Antessa, Gerome, dan Kara terpisah karena melakukan tugasnya masing-masing.

Dari segi karakter, terasa adanya perkembangan yang signifikan. Keempat protagonis tampak mengalami remajanisasi di sini. Kalau di review buku pertama saya bilang mereka terlihat seperti anak 10 tahunan, di sini mereka terasa lebih remaja. Soalnya sudah mulai ada urusan cinta, dendam, hingga keragu-raguan.

Hanya saja soal "masalah remaja" yang saya sebutkan di atas itu kurang tergali di sini. Misalnya soal Dalrin yang punya rasa ke Kara. Di bagian depan hal ini banyak disinggung, tapi ke belakang sudah tidak ada tuh.

Selain itu, para tokoh antagonisnya juga mengalami perkembangan. Khalash yang merupakan tokoh jahat utama mulai menampakkan sisi yang lebih manusiawi. Motifnya yang semula hanya untuk "menguasai dunia" juga mulai sedikit tampak kedalamannya. Shiba dan Corbus juga mengalami pertumbuhan yang berarti di sini.

Minus untuk buku kedua ini datang dari penulisannya. Ada beberapa kali saya mendapati kalimat, baik dalam narasi maupun dialog, yang terasa tidak pas. Rasanya seperti ada satu-dua kata yang kurang, atau susunan katanya yang terbalik-balik. Sayangnya saya gak nyatet contoh kalimatnya OTZ

Ada juga beberapa typo di buku ini, seperti huruf kecil di awal dialog, dialog yang harusnya tertulis miring tapi tidak diberi italic, serta pemenggalan dengan tanda '-' yang tidak pada tempatnya.

Beberapa salah ketik lain yang saya catat:
- kata 'diingatannya' (hal. 171), yang harusnya dipisah, karena IMHO 'ingatannya' di sini menunjuk kata tempat.
- nama Pietas yang jadi Amor di halaman 378. Saya sampai bolak-balik nyari kapan Amor dan Gerome tiba di Kuil Cahaya

Nilai plus untuk tulisannya ada di dialognya yang sudah tidak terlalu telenovela. Bener kan, saya bakal lebih menikmati kalau dialog telenovela di buku 1 berkurang.

Secara keseluruhan, buku kedua ini lebih baik dari buku pertama. Pertarungannya tetap apik, tokoh-tokohnya mengalami perkembangan, dialognya lebih enak dibaca, serta ceritanya lebih seru dan membuat penasaran.

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2013 Indonesian Romance Reading Challenge
Profile Image for Truly.
2,767 reviews13 followers
August 7, 2010
Gemerlap Cahaya, hancurkan Gelap nan Pekat!
Gemerlap Cahaya, hancurkan Gelap nan Pekat!
GEMERLAP CAHAYA, HANCURKAN GELAP NAN PEKAT!
GEMERLAP CAHAYA, HANCURKAN GELAP NAN PEKAT!


Terikan Antessa seakan membelah langit!
Segala kemampuannya dikeluarkan guna menghadapi pihak musuh. Hanya keyakinan diri serta kepercayaannya pada cahaya yang mampu membuatnya bertahan.

Dalam buku ini kita diajak mengikuti petualangan empat anak pewaris tahta cahaya dari kuil Xar dan Vichattan. Antessa, Dalrin, Kara serta Gerome diuji kemampuannya untuk membuktikan mereka layak disebut sebagai pewaris tahta cahaya. Ditemani oleh Amor dan Pietas mereka menghadapi tidak saja pasukan kegelapan namun juga Panglima Maut Kuil Kegelapan, Khalash sang pemimpin kuil serta harus berhati-hati terhadap musuh dalam selimut

Apa yang ditakutkan oleh para pemimpin ternyata menjadi kenyataan. Pasukan Kuil Kegelapan terus bergerak maju. Jumlah pasukannya seakan tidak ada habis-habisnya. Walau sudah banyak yang dibasmi, namun sepertinya pasukan itu tidak berkurang sedikit jua. Kejadian aneh ini sempat menjadi bahan diskusi para pemimpin tinggi kedua kuil.

Saya sempat terheran-heran membaca bagian yang mengisahkan mengenai keberadaan makhluk kegelapan. Salah satu buku dari penerbit yang sama juga mengusung ide yang serupa. Makhluk kegelapan tidak dibuat oleh para pengikut kegelapan, namun berasal dari dunia lain. Entah kenapa hal ini terjadi. Bisa disebabkan kerena kedua penulis adalah teman menghabiskan waktu luang bersama atau memang kebetulan semata.

Sebenarnya dari sisi cerita, buku ini lebih "Gegap Gempita" dari buku pertama. Banyak adegan pertarungan seru antara para tokohnya, banyak kejutan yang muncul, pengkhianatan, serta banyak misteri masa lalu yang terungkap. Sepertinya penulis menjadikan buku satu sebagai dasar pembentukan cerita dan karakter para tokoh. Buku dua ini mengembangkan cerita serta para tokoh.

Namun yang sedikit memperlambat kecepatan saya membaca adalah pemilihan penggunaan huruf! Entah kenapa, untuk mata saya huruf yang digunakan serasa tipis dan kecil-kecil. Beberapa kali saya harus meletakkan jari di halaman sekedar untuk memastikan saya berada di baris yang benar

Ditambah dengan panjangnya baris yang membentuk sebuah paragraf. Ada sebuah paragraf yang terdiri dari 37 baris! Setahu saya memang tidak ada batasan yang menentukan berapa banyaknya baris yang ada dalam sebuah paragraf. Namun akan lebih elok jika setiap paragraf tidak terdiri dari banyak barisan kalimat

Tidak seperti buku pertama, buku ini lebih kaya akan bumbu percintaan. Tentunya bukan sembarang percintaan, namun dikaitkan dengan cerita yang ada. Penulis telah mampu memadukan sebuah kisah cinta dan fantasi secara apik, sehingga pembaca seakan larut dalam kisah romantis namun tidak meninggalkan sisi fantasinya.

Sementara itu, keberadaan glosarium di bagian belakang kembali membantu saya dalam memahami cerita ini. Misalnya saja saat ada cerita mengenai ES-Xar dan Ka-Xar, saya sedikit lupa mengenai perbedaan keduanya. Untuk itu, saya tinggal mencari di glosarium dan cerita kian bisa dinikmati

Untuk kesalahan pengeditan, saya hanya menemukan pemenggalan kalimat yang tidak tepat.. Misalnya meng-ingat di halaman 26, se-belum di halaman 232. Sedangkan untuk pembuat sampul buku, sepertinya sudah menjadi jaminan mutu! maklumlah sang tukang gambar sudah menjadi langganan penerbit komik-komik dunia.

Bagian yang saya paling suka adalah bagian saat Kara berada di perpustakaan sedang meneliti aneka buku bersama Tiarawati Gelda au Turina, salah satu penasihat tinggi Vichatan yang juga berperan sebagai sejarawan dan ahli magis istana. Bagian ini membuat orang yang selama ini berkata buku tidak berbahaya harus mulai meralat ucapannya. Buku bisa dijadikan sebagai teman namun bisa juga menjadi senjata.

Namanya juga fantasi, banyak hal yang luar biasa yang disajikan. Misalnya bagaimana mereka yang masih anak-anak dengan mudahnya menguasai elemen kehidupan dalam waktu yang relatif singkat. Sang tukang cerita sepertinya mampu membuat kisah fantasi ini menjadi sebuah kisah fantasi yang memiliki dasar dan uraian yang kuat, tidak sekedar fantasi yang kebablasan.

Buku ini juga tidak sekedar menawarkan adegan pertempuran dengan bumbu kisah cinta dan perebutan kekuasaan, namun memberikan pesan moral yang tersembunyi dalam untaian kalimat dan menawan. Saat membaca buku ini kita mendapat tidak hanya hiburan namun juga pencerahan jiwa.

Info dari facebook penerbit, buku selanjutnya akan dibuat dengan tambahan plot yang disarankan oleh para pembacanya. Untuk itu mereka mengadakan lomba menyusun plot. Kemampuan sang tukang cerita untuk menekan egonya sebagai penulis patut diacungkan jempol! Kesempatan yang diberikan penerbit agar para pembaca bisa berpartisipasi patut ditiru sehingga pembaca merasa dilibatkan, tidak sekedar membeli dan membaca buku saja.

Hem... jadi tertarik buat ikutan. Kira-kira mereka mau menerbitkan menjadi berapa seri yah...
Atur posisi serius ah...........................!

Catatan :
Jangan tertipu jika menemukan bagian cerita yang seolah-olah datar dan sudah semestinya, karena banyak kejutan yang tak terduga.
Profile Image for Yunita1987.
257 reviews5 followers
September 8, 2010
Xar & Vichattan – Seri Ahli Waris Cahaya – Prahara

Selesai buku kedua dari kisah 4 ahli waris Cahaya, dan akhirnya cukup membuat kita semua pembaca tercengang dan bertanya-tanya, bagaimana akhir dari kisah ini…masih belum bisa dijawab.

Buku kedua pastinya merupakan sambungan dari buku pertama, kisah 4 ahli waris cahaya (Antesa, Gerome, Darlin dan Kara). Perjuangan mereka semakin berat. Kalau dicerita pertama, masih menceritakan perjuangan mereka berempat untuk memanggil Amor dan Pietas serta membangun kembali Kuil Cahaya. Disini, setiap ahli waris cahaya mempunyai tugas yang berbeda-beda tetapi dengan misi yang sama yaitu menghancurkan kekuatan kegelapan dan juga pastinya membangun kembali kekuatan Cahaya yang sudah mulai hancur. WOW !!!!!!! Semakin seru duks pastinya.

Cerita pertama diawali dengan cerita enam peri dari Mata Air Para Peri, tetapi salah satu peri mereka dan merupakan ratu peri, harus mati ditangan kekuatan peri kegelapan, namanya Frigus. Frigus sendiri memiliki misi untuk mempengaruhi Kristal Utama dengan kekuatan kegelapan. Sehingga para peri memerlukan bantuan, dan Antesa memiliki tugas untuk berjuang dalam menyelamatkan Kristal Utama dari sikecil Frigus ( katanya sih kecil tetapi kekuatannya gede, gak percaya ??? cari tau aja sendiri ...gak nyesal kok). Sedangkan, Darlin yang masih mengalami kesedihan mendalam karena ayahnya baru saja meninggal, memiliki tugas untuk menjaga kuil Xar, sehingga karena kesedihannya itulah kekuatan Cahayanya semakin sulit untuk dikeluarkannya, disisi lain, ahli panglima kegelapan, Corbus datang kekuil Xar untuk menghancurkan inti kekuatan Xar dan ingin mencemarkannya dengan kekuatan kegelapan.

Cerita semakin seru, karena Garome yang ditemani dengan Amor (angsa raksasa) harus berjuang dalam pertempuran yang sengit dengan banyak monster dan salah satu panglima kekuatan kegelapan yang lain, Shiba. (benar-benar seru.......mau deh kalau difilmkan..hehehe....). Kalau Garome punya tugas untuk ikut dalam pertempuran, beda dengan tugas Kara yang hanya duduk diperpustakaan dan membaca (pasti bertanya-tanyakan, kok Kara tugasnya lebih gampang???), tapi kalau dipikirkan itu gampang dan tidak berbahaya, justru tugas Kara sangatlah mengerikan, Kara harus mencari tahu tentang dunia kegelapan dari buku yang ada di Ruang Terlarang (namanya aja uda mengerikan, apalagi masuk didalamnya ya).

Masalah semakin rumit, KENAPA? karena Antesa yang tidak bisa mengalahkan kekuatan Frigus, akhirnya masuk ke lubang hitam dan lima peri akhirnya harus mati. Darlin dan Magdalin masuk jebakan yang dibuat Corbus, dan ada KEJUTAN disini terjadi (makanya wajib dibaca nih), Garome dan Amor yang mulai melemah karena kekuatan Xar yang semakin redup dan Kara yang berada di ruang terlarang, menghilang disaat membaca buku Kegelapan.

Oh tidaaaaaakkkk,,,kudu dibaca terus dan terus,,,,,,biar jangan mati penasaran dengan kisah perjuangan 4 ahli waris cahaya.
Kesimpulan dari buku ini, akhirnya dapat saya mengatakan bahwa banyak kejadian-kejadian yang mengerikan, mencekam, menegangkan dan membuat kita terkejut.
Dari awal cerita, kita sebagai pembaca akan sulit untuk menerka bagaimana akhir ceritanya. Jadi dari pada menerka-nerka lebih baik dibaca nih sampai akhir.

So intinya, Selamat membaca buat yang belum membaca karena bingung takut kecewa dengan ceritanya. Percayalah !!!!,,,ini buku fantasi yang keren.
*sambil harap-harap cemas, menunggu buku ketiganya*

Btw, Selama membaca buku ini, sepertinya masih ada beberapa kata yang perlu diperbaiki.
Contoh :
Hal 63 -> ”Sero, apabila Pintu Bumi adalah satu-satunya jalan ke Kristal Utama, bagaimana seorang peri kegelapan dapat masuk kesana? Tanya Kara”
Mungkin, bukan Kara tetapi Antesa. Kan dari cerita ini, Sero sedang bersama Antesa bukan Kara.

Hal 378 -> ”Anak-anak, kalian sedang apa? Cepat alirkan cahaya kepada! Jerit Amor”
Mungkin bukan Amor, tetapi Pietas, karena Amor dari cerita ini masih bersama Garome.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,358 reviews43 followers
February 8, 2011
Kemungkinan ini imbas dari jarak membaca buku 1 dan 2 serial ini yang cukup jauh... dan kemungkinan juga jarak terbit buku 1 dan 2 yang lumayan jauh juga.

Waktu baca buku 1, saya terkagum2 dengan energi pengarang menghadirkan sekian banyak tokoh dengan plot yang cukup rapat. Aksi2nya menghentak. Jadinya cukup mendebarkan lah buat pembaca. Kita jadi ingin tahu jurus2 apa dan dengan cara bagaimana tokoh2 jagoan mengalahkan para antagonis.

Buku kedua, dari judulnya jelas2 bakal bersambung deh. Judulnya aja "Prahara", bukan sebuah judul yang akan mengakhiri kisah kepahlawanan yang memihak pada protagonis. Pastinya di buku ini jagoannya harus kalah dulu deh, untuk nanti membalas dengan kegemilangan di buku selanjutnya, hehe...

Dan di awal... yaaah... kok tokohnya jadi nambah peri2an? Walau aksinya adalah pertempuran, tapi dialog2nya mulai kedodoran buat saya. Jenis hurufnya yang cilik2 dan rapat2 mulai lagi mengganggu. Makin lama dibaca, makin sering saya berhenti sejenak untuk menengok, masih seberapa tebalkah perjalanan membaca kali ini. Apalagi ada yang aneh dari dialog2nya. Rasa "orang Indonesia"nya keluar banget. Maksud saya, kok dialog2nya nyaris seperti sinetron. Berasa nonton Shiren Sungkar dan Chelsea Olivia, tapi sinetronnya sinetron laga. Nah lho...?

*sok tahu banget nih si bunga mawar. emang kapan ya terakhir kali dia nonton sinetron? yang namanya chelsea olivia aja ga ngerti deh kayak gimana tampangnya. kalo shiren sungkar mendingan lah. bertahun2 lewat tiap malem, pasti kelihatan lah pas mampir ke dapur ambil minum. kenapa ya pake ada sisipan ga penting ini??? kenapa juga dibaca? udah sana, lewatin aja!*

Laluuu... ke mana itu si Khalash, kok mainnya di episode ini cuma sebentar? *kangen tokoh antagonis:p*

Demikianlah beberapa pertimbangan kecil yang tidak penting dan membuat buku ini belum bisa saya beri 3 bintang.

tambahan
Setelah bikin review ini, saya berkelana ke laman goodreaders lain yang sudah membaca buku dengan rata2 rating 3.86 bintang ini. Sampai hari ini (8 Februari 2011), dari 28 yang mengaku sudah membacanya, 5 orang kasih bintang 5, 15 kasih 4 bintang, 3 orang dengan 3 bintang, dan satu orang menyematkan 2 bintang. Benar mungkin kata Pangeran Harun, hobi si orang terakhir ini adalah memberi bintang yang berlawanan dengan selera massal :)
Profile Image for Bonmedo Tambunan.
Author 8 books33 followers
January 19, 2011
Rekan-rekan sekalian,

Xar & Vichattan - Prahara, adalah kelanjutan dari Xar & Vichattan - Takhta Cahaya, dari seri: Ahli Waris Cahaya. Untuk rekan-rekan yang sudah membaca buku pertama dari seri ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Di Prahara, rekan-rekan akan kembali dilibatkan dengan konflik-konflik yang ditulis dengan semakin mendalam, antara Negeri Vichattan, Kuil Xar, Kuil Cahaya dan juga Kuil Kegelapan. Kara, Antessa, Gerome dan Dalrin akan semakin diuji kemampuan dan ketegarannya, di dalam menjalankan peran mereka sebagai ahli waris Cahaya. Di Prahara, dunia Xar, Vichattan dan daerah sekelilingnya semakin dibuka, memperkenalkan konsep-konsep baru yang semakin memperkokoh universe dari Xar & Vichattan. Juga yang menarik ditelusuri di Prahara adalah bagaimana beberapa tokoh protagonis dan juga beberapa tokoh antagonis semakin mendapat sorotan di dalam Prahara, yang akan memberikan twist-twist baru di dalam cerita.

Selamat menikmati.

Bonmedo Tambunan

Merged review:

Rekan-rekan sekalian,

Xar & Vichattan - Prahara, adalah kelanjutan dari Xar & Vichattan - Takhta Cahaya, dari seri: Ahli Waris Cahaya. Untuk rekan-rekan yang sudah membaca buku pertama dari seri ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Di Prahara, rekan-rekan akan kembali dilibatkan dengan konflik-konflik yang ditulis dengan semakin mendalam, antara Negeri Vichattan, Kuil Xar, Kuil Cahaya dan juga Kuil Kegelapan. Kara, Antessa, Gerome dan Dalrin akan semakin diuji kemampuan dan ketegarannya, di dalam menjalankan peran mereka sebagai ahli waris Cahaya. Di Prahara, dunia Xar, Vichattan dan daerah sekelilingnya semakin dibuka, memperkenalkan konsep-konsep baru yang semakin memperkokoh universe dari Xar & Vichattan. Juga yang menarik ditelusuri di Prahara adalah bagaimana beberapa tokoh protagonis dan juga beberapa tokoh antagonis semakin mendapat sorotan di dalam Prahara, yang akan memberikan twist-twist baru di dalam cerita.

Selamat menikmati.

Bonmedo Tambunan
Profile Image for Marchel.
538 reviews13 followers
January 31, 2011
1. Gw masukin shelf misteri, karena cerita ini di tengah jalan tau-tau jalan ceritanya bikin penasaran. Penasaran, bagaimana bisa panglima kegelapan bisa bersama pimpinan tertinggi Es-Xar...upss spoiler.

2. Ahhh, kok masih ada salah sebut seh.
-Hal 63, "Sero, apabila Pintu Bumi adalah satu-satunya jalan ke Kristal Utama, bagaimana seorang peri kegelapan dapat masuk ke sana?"tanya Kara. Lho kok Kara? Kara kan di perpus Vichattan. Yg pergi ke Kristal Utama kan Antessa.
-Hal 378, beberapa kali Pietas disebut Amor. Pietas kan yg berjaga di Kuil Cahaya, Amor kan sedang bersama Gerome masih bertempur di desa Galad.
-Hal 384, lagi Pietas disebut Amor. Halah, gw baca jd binun. Fantasi gw kacau nih, lagi asyik2 "ngeliatin" Pietas, Kara ama Antessa lagi perang mati-matian eh tau2 ada tulisan Amor. Byaarr, Gambar Pietas berantakan jd Amor. Hekh, "terlempar keluar" cerita deh. Aduhh, sebel kalo begitu. Kurang 1 bintang.

3. Kok para peri masih bisa menggunakan kekuatan alam? Kan Kristal Utama sudah tercemar. Agak aneh plot ini.

4. Penjelasan lempeng dunia nya menarik.

So, cerita ini wajib diteruskan. Masih banyak pertanyaan yg terjadi di akhir cerita.

Bagaimana dengan Shiba? Apa Kalash bener2 tewas? Corbus "naik pangkat" kah? kalau Kalash ga tewas, berarti bisa ada 2 pangeran kegelapan dunk.

Frigus Acerbus n Nolacerta bisa mati atau tidak?

Apa semua yg terkena bola-bola (duh apa ga ada istilah lain biar bisa membedakannya) hitam pasti masuk ke lempeng hitam (ituu yg ada monsternya banyak)?

kalau anggota pasukan kegelapan mati, roh nya pergi ke mana? lempeng hitamkah? atau lempeng yg lainnya? Kalo ke lempeng hitam, lah berarti Shiba n dll, yg masuk lewat lubang hitam menunggu gerbang kegelapan, sama aja mati.

Nah loh, kok gw jd banyak bertanya ya ^_^

Nice story, perangnya keren.
32 reviews1 follower
July 18, 2016
Tempest is the second book in this epic series. It not only continues the fascinating story, it adds much more richness and detail. It follows the chosen few (Heirs to Light) to fight darkness. I loved continuing with these endearing characters. You'll get completely enveloped in this expansive tale. A lot of working parts come together to run the machine, keeping you hooked. War is brewing and various civilizations and worlds are at stake. There is magical sorcery, mythical creatures like Fays, powerful abilities and beautiful storytelling. I loved how many strong, empowered, female characters this series features. I especially love Kara as she fights for the light. I respect her loyalty and bravery. This book has been translated and made available for English readers. I love the different perspective and traditions the book includes. It gives the fantasy story authenticity and uniqueness that I don’t usually see in this genre. I highly recommend this fiction novel! I’m an adult, and I love these books. But, if you know a young person who enjoys reading, you should get this for them.

Profile Image for Dewi Kirana.
Author 2 books20 followers
October 13, 2010
Original review by Dewi Putri Kirana
Fine Tuned for Fikfanindo by FA Purawan and Luz B.

(Hosted by Guest Faeries: Pamanus Sotoyus dan Ceweka Sinisa)

Pada suatu siang, DPK, seorang pembaca XAR & VICHATTAN: Prahara terlihat mendaki pegunungan berbatu. Berkali-kali ia merutuk gelisah, lalu memeriksa peta. Tiga hari sudah berlalu sejak ia meninggalkan Desa Cimea. Padahal, pedagang bertubuh tinggi besar dan membawa pedang-yang menjual peta itu-berkata bahwa Hutan Eros harusnya sudah tampak setelah dua hari perjalanan.

Sebentar kemudian DPK menemukan sebuah gua kecil di sisi tebing. Menurut peta, gua itu seharusnya bukan gua, tapi sebuah cabang jalan biasa. Biarin deh, pikir DPK. Ia sudah sangat telat. Sang pengarang, Bonmedo Tambunan, pastilah sudah lama menunggu. Dan kalau gue kelamaan, takutnya Om Boni keburu disantap ingenscorpus. Hiii~!

Review selengkapnya dapat dibaca di Blog Fikfanindo
Profile Image for Bondan Stanislaus.
5 reviews7 followers
January 7, 2013
Saya beruntung dapat membaca X&V trilogi langsung tanpa terputus.

Pada buku ke 2 kepiawaian bonmedo semakin jelas terlihat:tokoh-tokohnya mulai punya bayang-bayang dan hitam putihnya mulai menjadi kelabu. Plot yang dibangun bagai anak tangga mulai terasa semakin mencekam,dan memang butuh ruang lebih luas yang telah disediakan oleh X&V pertama dalam membangun plot supaya tidak membosankan, namun juga "kesesakan" oleh ketegangan yang ditimbulkan terasa pas.

Kalau banyak buku kedua hanya terasa sekedar jembatan bagi buku pertama dan ketiga trilogi, buku karya Bonmedo Tambunan ini jelas bukan termasuk golongan ini. Lebih dari sekedar jembatan, ia adalah nyawa kisah ini. Kita dibawa masuk lebih dalam menyelami para tokohnya dan mulai ikut terlibat kepelikan konfliknya.
6 reviews
July 14, 2016
This was a great sequel to the first book in the series and truly an epic fantasy adventure full of more twists and turns as the plot moves along nicely and interesting. The characters have become even more endearing and the action in the book makes you sit on the edge of your seat going through pages frantically as the author takes you on an epic journey full of suspense and adventure.This is the continuing saga of the four chosen ones (the warriors of Light) as they fight to keep the darkness from taking hold from the previous book. The story is a well written with a descriptive and rich language that helps to admire the story and I also like the fact that it came with a glossary for the explanation of some terms used in the book.
Profile Image for Shandy Yeo.
134 reviews4 followers
June 5, 2014
Judul: Prahara (Xar dan Vichattan #2)
Penulis: Bonmedo Tambunan
Publikasi: Indonesia, Juli 2010

Kembali lagi Penulis menyuguhkan petualangan yang menegangkan. Penjelasan dari Penulis disampaikan dengan jelas dan berkesinambungan. Hanya saja tokohnya tidak banyak bertambah. Contohnya, tokoh-tokoh yang berkepentingan dalam perang dan monster-monster kegelapan. Seharusnya, selain cerita yang lebih panjang dan pertempuran yang lebih seru, ada juga tokoh-tokoh baru yang bermunculan. Begitu juga monster-monster kegelapan seharusnya tidak terbatas pada beberapa jenis saja.

Pokoknya, novel ini sayang untuk dilewatkan. Sihir benar-benar terasa keberadaannya ketika novel ini mulai bercerita.
Profile Image for Bondan Stanislaus.
5 reviews7 followers
August 30, 2016
Tempest, the second book of Xar & Vichattan Series, is not merely a bridge between the first and the third book. It is the turning point where the main characters leave their childhood and start their journey towards the grown up world. You can feel the development of each characters, body and soul, brain and heart; their lost innocence, their fear and tribulation, their struggle and their bravery.
The simple story that began with the first book become more complicated with a lot of surprising turns.
As I said before in my review for the first book,you can feel more tense and more involved in the story when you read in English version. A journey past the darkness and light.
23 reviews2 followers
September 8, 2010
Lanjutannya semakin seru, langsung lanjut ke peperangan yang dilakukan oleh kegelapan ke tahta cahaya dan perjuangan empat ahli waris cahaya yang tak habisnya. Begitu juga dengan serangan yang dilakukan kegelapan tidak segan-segan untuk menyerang Xar dan Vichattan secara langsung dan taktik yang sangat bagus untuk merebut kekuasaan.
Lanjut buku ketiganya gimana ya? Mm....sepertiny ada ide ini. Perjuangan belum berakhir.
Profile Image for Pro  .
113 reviews41 followers
January 12, 2011
Suka sama ceritanya, suka sama gaya menulisnya. Saya bukan pembaca fantasi yang taat, jadi kalau saya bisa membaca dengan lancar, pasti cerita fantasinya menyenangkan. Seri buku ini termasuk seri buku fantasi yang sanggup membuat saya bertahan membacanya. Saya menikmati cerita fantasi di buku ini.
Profile Image for Inge.
150 reviews3 followers
May 4, 2012
SERU!! Banyak banget petualangan, pertempuran juga kejutan2 di buku ini...

Walau tokohnya makin bejibun tp gak seberapa mengganggu lah...

Belum lg ending yg mengejutkan ngebuat gak sabar baca buku selanjutnya...


Review lengkapnya di : http://bacaaninge.blogspot.com/2012/0...
Profile Image for ana.
244 reviews42 followers
August 19, 2010
"Berpotensi sequel!" jerit saya dalam hati ketika menyelesaikan buku ini.

pengembangan ceritanya bagus. banyak hal2 yang tak terjawab di buku sebelumnya mendapat penjelasan di buku ini.

kekurangannya itu tadi, berpotensi sequel! ARGH!
Profile Image for Dian Achdiani.
207 reviews26 followers
May 6, 2014
Seruuuuuu! Sesuai pengharapan, keseruannya meningkat dari buku 1. Dari yang ceritanya hitam-putih, mulai ada abu-abu. Dan meninggalkan cliffhanger juga tuh...

Tapitapitapi, buku ini banyak banget kata 'maaf'-nya. Dikit-dikit tokohnya minta maaf, dikit-dikit minta maaf...

Lanjut ke buku 3!
Profile Image for Maulidi Zikri Nur.
28 reviews
December 30, 2018
Pada buku dua ini ceritanya lebih berfokus kepada Kuil Cahaya yang sudah berdiri kembali seperti yang diceritakan pada buku pertama. Pada Buku Dua ini pembaca jadi tau sejarah hubungan antara Xar, Vichattan, dan Kegelapan, dan Cahaya

Namun, Konflik yang terdapat pada cerita sangat cepat sekali selesainya. Buku Dua ini menurutku dikhususkan untuk mengenal sejarah dari masing-masing elemen dan berfokus untuk memecahkan masalah bagaimana cara Kara dan Antessa agar bisa selamat. Padahal sebenarnya adegan action nya itu masih bisa diperpanjang lagi, biar Pasukan Kegelapan ini tampak kalau mereka sangat kuat. Kalau adegan action nya singkat doang, jadinya Pasukan kegelapan ini sangat lemah.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
June 6, 2012
Judul Buku : Xar & Vichattan buku dua : Prahara
Penulis : Bonmedo Tambunan
Penyunting : Arie Prabowo dan Leony Siregar
Penerbit : Adhika Pustaka
Cetakan Pertama : Juli 2010
Tebal : 428 halaman, paperback
ISBN : 978-979-19991-3-7

Sebelumnya saya mau wanti wanti dulu, buat yang belum membaca buku pertama, ada baiknya berhati hati membaca review saya. Soalnya kalo dianggap spoiler buku pertama ya... begitulah.. secara kan ini buku kedua :D

Setelah Kuil Cahaya berdiri, ternyata masih ada bahaya yang mengintai dunia. Dimulai dari Frigus Acerbus, Sang Ratu Peri, yang mencoba mengimbuhi Kristal Utama dengan kegelapan. Ratu Peri yang memilih jalan kegelapan ini bertujuan untuk membuat energi utama alam yang kekuatan sihirnya luar biasa itu bisa digunakan oleh para pasukan kegelapan. Yang bila terjadi dan berhasil, maka akan membuat mereka akan dengan mudah menggunakan kekuatan alam untuk melakukan kejahatan.

Selain itu, aktivitas kegelapan di seputar Desa Cimea mulai meningkat. Anehnya, kekuatan kegelapan tersebut menyebar dengan cepat sekali. Padahal jarak antara Desa Cimea dengan Kuil Kegelapan cukuplah jauh sehingga seharusnya penambahan jumlah pasukan kegelapan agak mustahil dilakukan dengan cepat dan terus bertambah banyak tanpa adanya pergerakan aktivitas kegelapan dari Kuil Kegelapan ke Desa Cimea.
Hal ini membuat petinggi Xar dan Vichattan kebingungan, mereka curiga jangan-jangan kegelapan memiliki kekuatan untuk mendatangkan pasukannya dari alam lain yang bisa langsung dihadirkan di sekitar Desa Cimea.

Karena itulah dilakukan pembagian tugas bagi para pemegang kekuatan cahaya. Kara ke Vichattan untuk mencari referensi buku-buku di Ruang terlarang yang sekiranya dapat memberi titik terang tentang kehadiran pasukan kegelapan yang sangat cepat, Antessa pergi ke Kristal Utama untuk mencegah Ratu Peri melakukan pengimbuhan kegelapan. Amor dan Gerome pergi ke Desa Galad untuk membantu pasukan Xar Vichattan melawan pasukan kegelapan, Pietas bertugas menjaga Kuil Cahaya, sedangkan Dalrin kembali ke Xar.

Setelah kehilangan Ayahnya, Dalrin merasa kehilangan kepercayaaan kepada kekuatan Cahaya. Padahal syarat utama bagi pemegang kekuatan cahaya adalah percaya pada cahaya itu sendiri. Kehilangan sumber utama membuat Dalrin belum mampu mengendalikan kemampuan cahayanya dengan baik, tidak seperti sebelumnya. Ia berubah menjadi pendiam, emosional dan tidak percaya diri, karena itulah ia ingin belajar mengendalikan kemampuannya di Kuil Xar, tempat ia tumbuh dan dibesarkan selama ini.

Banyaknya tugas yang harus diselesaikan oleh pemegang kekuatan cahaya membuat buku ini padat berisi tentang kisah-kisah seru mereka. Seperti Gerome yang akhirnya tahu siapa yang membunuh orang tuanya, lalu Kara yang menghilang ketika membaca buku hitam di Ruang terlarang perpustakaan. Antessa bersama para pimpinan peri yang harus menemukan jalan menuju Kristal Utama sebelum terlambat, lalu Dalrin yang menemukan kembali Ayahnya melalui Pedang Al Kamra.

Ide yang muncul dari penulis tentang lempengan yang menandakan perbedaan dunia mau tak mau membuat saya kagum. Meski agak sulit juga pada awalnya membayangkan perbedaan lempeng ini, terlebih saat jiwa seorang wanita gila meluncur di antara lempeng-lempeng demi mencari tahu keberadaan seorang pewaris cahaya.

Penokohan keempat pewaris cahaya makin kuat, mungkin karena mereka diceritakan secara terpisah dan berjuang dengan misi yang masing-masing emban. Antessa yang sensitif, setia kawan lalu Kara yang kutubuku, pencetus ide-ide berani dan tidak mudah menyerah bersama Gerome yang emosional, tidak sabaran, cuek dan Dalrin yang cenderung kalem, masing-masing menjadikan cerita di buku ini makin berwarna.

Sayangnya karena terlalu padat, saya agak lelah membaca buku ini. Mungkin karena isinya pertarungan dan lebih sering tokoh-tokoh utamanya agak ’nelangsa’. Untuk typo dan penulisan nama tokoh yang keliru, sama seperti yang dibahas beberapa reviewer di Goodreads, muncul terutama di beberapa bagian akhir cerita. Seperti kekeliruan penulisan Kara yang seharusnya Antessa, dan nama Pietas yang berali-kali disebut Amor.

Bagaimana kisah para pewaris cahaya di buku ini? Sanggupkah mereka mengerjakan tugas mereka sendiri-sendiri? Siapa yang pergi, siapa yang datang dan siapa yang berkhianat?

Baca buku ini dan temukan sendiri jawabannya :)


Profile Image for Franci.
23 reviews8 followers
March 5, 2012
Kisah ini berawal dari serangan tak terdeteksi terhadap pemimpin Kuil Xar dan Istana Vichattan serta munculnya kilasan masa depan yang menunjukkan keterlibatan empat orang remaja: Antessa & Dalrin dari Xar, Kara & Gerome dari Vichattan.

Pertemuan empat remaja tersebut mengawali rangkaian peristiwa besar. Kuil Kegelapan bangkit dan kuasanya mulai memberikan teror. Semua kalang kabut dan bersiap untuk perang. Sementara itu, Kuil Cahaya yang sudah lama runtuh tidak lagi memiliki pengikut. Cahaya seakan tak berdaya.
Ketidaksengajaan perjalanan mereka melewati gudang tua akhirnya membuka tabir misteri bahwa sesungguhnya mereka merupakan pewaris kekuatan cahaya, yang akan menjadi lawan tanding kuasa gelap. Lalu bagaimana remaja-remaja tersebut akan mengalahkan pengikut kegelapan yang telah berpengalaman dan tersohor?

Berbagai kemelut bermunculan. Antessa yang tenang, Dalrin yang ksatria, Kara yang ceria, dan Gerome yang tak pikir panjang terpaksa harus berpisah dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada secara bersamaan.
Banyak emosi hadir. Rasa kesetiakawanan, ketidakpercayaan akan cahaya, kesedihan terhadap meninggalnya orang yang disayang, kecemasan tidak mampu menjalankan tugas, semangat menyelamatkan kristal cahaya dan para peri, serta munculnya bibit suka dan cemburu? Hehe. Dan layaknya hidup, pahit dan kegagalan turut hadir menghiasi jalannya pemenuhan misi.

Di lain pihak, kekuatan gelap sudah lengkap dengan para panglima dan bala tentara yang mengerikan dan tak tertandingi hanya dengan kekuatan elemental tanah, air, api, udara dan tanaman. Monster kegelapan, peri-peri, naga hitam berkepala dua perwujudan roh kegelapan, angsa putih dan rusa putih perwujudan roh cahaya pun ikut berperang!
Tak diduga-duga, muncul penghianatan! Tapi siapa yang berkhianat pada siapa? Kisah cinta berbeda dunia sempat menyerempet di tengah-tengah pertempuran. Penipuan, kekecewaan, berpalingnya cahaya pada gelap, apakah semuanya sungguh sudah terlambat?

Pertempuran di Kubah Cahaya tak tanggung-tanggung menyeret semua orang untuk menghabiskan daya sampai titik darah penghabisan. Seru. Ada sesuatu yg terjadi. Argh, lalu kemana tampuk kekuasaan akan bergulir?

Sungguh mecurigakan...

Apakah suatu pertemanan dan cinta akan menjadi gelap yang membenci?
Apakah pihak yang cemburu akan berpaling ke kuasa gelap? Apakah Sang Penguasa Gelap akan bersekutu dengan Sang Pengkhianat? Atau Sang Pengkhianat cukup tangguh untuk memulai peperangannya sendiri? Semuanya masih tanda tanya besar!

Memang terdapat sedikit kesalahan tulis dan kekakuan bahasa. Tetapi ceritanya yang seru dan sarat emosi membuatku mengabaikannya. Buku Satu berangkat dengan awal yang ringan. Buku Dua menjadi lapangan pertemuan intrik-intrik. Grafik keseruan terus menanjak dan menyisakan rasa penasaran. Buku Tiga harus menjadi jawaban atas semua pertanyaan! Hehe.

---

(dibalik cerita)

Komen cover: Ya ampuun, siapa si sexy di Buku Satu itu? Lahana? Btw, cover Buku Dua keren!
Nama tersulit utk dilafalkan: Xar.
Istilah komplikasi: gabungan biarawan, tiarawan, pendeta, penyihir, kuil, cucu. Biara?
Tokoh wanita fav: Antessa atau... Lisbet, ya? Huhuhu...
Tokoh pria fav: Sejauh ini Corbus!
Scene fav: Perang kegelapan dan cahaya di Kubah Cahaya (lokasi tepatnya disamarkan. Hehe). Beberapa hari ini aku masih melihat kilasan-kilasan perangnya. Keren.
Scene paling berkesan: Kisah cinta seseorang di Kuil Kegelapan. Dasar bodoh kau, XXX! Kenapa, kenapa, kenapa...?
Profile Image for Speakercoret.
478 reviews2 followers
February 8, 2011
seruuu, banyak pertempurannya.. mungkin makanya dikasih judul prahara ya *nuduhpagipagi*

sayangnya, td pagi pas baca diangkot, di hal 378 kok berasa aneh, terus ke 379 baru engeh, ini lagi cerita pertempuran Antessa, Kara dan Pietas, kok hal 378 ditulis amor? balik lagi ke 378 halaman itu, baca ulang, 6 kali Pietas disebut Amor...

dan hal 384 begitu lagi, paragraf terakhir 2 kali Pietas kembali disebut Amor... sayang, jadi mengganggu sekali, karena awalnya bikin saya ga yakin, apa saya melewati bagian Amor memasuki pertempuran, ternyata salah nama :(

------------------------------------------------------------------------
tetep jadi keingetan buku wiro sableng :p
Displaying 1 - 27 of 27 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.