Lolo tidak menyangka bahwa ketika pulang ke Indonesia kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Toko sepatu dan rumah keluarganya disegel, sementara mama-papanya menghilang. Belum lagi kebingungannya pudar karena mendadak menjadi tunawisma, seorang pemuda menagih hutang orangtuanya sebesar dua ratus juta!
Sudah tentu Lolo yang baru berusia delapan belas tahun tidak bisa membayarnya. Maka Kingsley menyanderanya. Baginya, Lolo adalah jaminan. Ia memaksa gadis itu tinggal di "gudang"nya. Bukan apa-apa! Siapa tahu saat orangtua gadis itu muncul, mencari putrinya, dan saat itulah ia bisa mendapatkan uang yang berguna bagi masa depannya.
Namun seiring berjalannya waktu, keduanya bertambah akrab. Bersama mereka mencari tahu, kenapa orangtua Lolo yang sukses itu tiba-tiba bangkrut. Dan bahu-membahu pula keduanya berusaha meraih lagi kejayaan toko sepatu itu, mengembalikan kehidupan Lolo seperti sebelumnya.
Agnes Jessica adalah mantan guru matematika SMUK I BPK Penabur Jakarta. Karena ingin mengembangkan bakat seni, walau ia suka mengajar dan murid-muridnya juga suka diajar olehnya, ia keluar dan memilih berkarya sebagai penulis novel. Selain menulis, ia juga suka menggubah lagu, main gitar, keyboard, dan menyanyi. Ia sudah melahirkan sebelas novel yang berjudul Jejak Kupu-Kupu, Rumah Beratap Bougenvil, Dua Bayang-Bayang, Satu Abad Sekajap Mata, Peluang Kedua, Dongeng Sebelum Tidur, Bunga Yang Terbuang, Angan Sang Cinderella, Jakarta An Undercover Life, Noda Tak Kasamata dan Maharani. Selain memakai nama Agnes Jessica, ia kerap menulis dengan nama samaran Yoshiko Agunesu. Keiginan utamanya adalah bisa berkarya terus; keinginan kedua: bisa diterima di hati pembaca; dan keinginan terakhir: happily ever after. Bila ada yang ingin berkomunikasi melalui surat, silakan kirim ke PO BOX 1410 Jkb 11014, atau ke alamat e-mail: agnesjessi@yahoo.com.
Novel Sepatu Kaca ini mengawali kisahnya dengan seorang gadis bernama Penelope - atau lebih sering disebut Lolo, yang baru saja pulang ke Indonesia tanpa menyelesaikan sekolahnya di Sidney. Ketika ia tiba di Indonesia, ia baru mengetahui keadaan bisnis orangtuanya yang bangkrut, sehingga rumah dan toko mereka disegel. Terlebih lagi, Lolo tidak menyangka orangtuanya terbelit hutang sebesar dua ratus juta.
Kingsley adalah anak seorang pemilik bank yang hendak menagih hutang orangtua Lolo. Oleh karena kondisi yang mendesak, Kingsley akhirnya terpaksa mencari cara untuk mencari orangtua Lolo dan menagih hutang yang tidak mereka bayar. Awalnya ia berpikir bahwa ia tidak mungkin bisa melakukannya, karena keberadaan orangtua Lolo saja tidak diketahui.
Namun takdir sepertinya berkata lain, karena dengan mudahnya King menemukan Lolo, yang ia percaya mengetahui keberadaan orang yang dicarinya. Akan tetapi, ternyata Lolo sendiri juga tidak mengetahui keberadaan orangtuanya. Karena takut Lolo kabur, akhirnya King memaksa Lolo untuk tinggal di rumahnya. Selama itulah mereka bertambah dekat karena berbagai kejadian yang menimpa mereka.
Cerita ini (seperti biasa) mempunyai plot yang sangat menarik dan setiap konflik diselesaikan dengan sangat baik pada akhirnya. Setelah membaca 5 buku tulisan Agnes Jessica bulan ini, aku harus mengakui bahwa pengarang ini amat sangat berbakat. Gaya tulisannya sangat nyaman untuk dibaca dan membuatku betah membacanya dalam jangka waktu yang lama. :) Terlebih lagi, interaksi dan chemistry kedua karakter utama novel ini (King dan Lolo) menurutku sangat manis sekali. Pertengkaran kecil mereka yang menimbulkan keakraban pada akhirnya dapat dirasakan berjalan secara natural dan tidak terjadi secara tiba-tiba. Karakter favoritku dalam novel ini tentu saja King, karena dia adalah tipe cowok bad-boy yang bisa jadi menjengkelkan di satu saat dan menjadi sangat perhatian di saat yang berbeda. My favorite type of character! :D Aku sangat terkesan dengan novel yang satu ini! :):)
Suka bagaimana jalan ceritanya, hahaha, tapi realita banget ya? Ada cowok kayak King. Marah-marah gak jelas padahal ya gak ada apa-apa tapi paling gak setuju ya kalau sudah harus berpisah malah bikin cewek yang disuka membenci dirinya bukan malah memanfaatkan waktu bersama dan membangun kenangan :')
--- Sepatu Kaca --- Plot: Meski ceritanya tertebak, pembawaannya tetap menarik. Gaya bercerita: Ok.
Baca sinopsisnya langsung, ya^^. Saya beli novel ini karena membaca beberapa review indah mengenai buku ini. Dan ternyata... yah-- saya rasa saya akan menikmati buku ini seperti yang lainnya... andai saya lebih suka dengan tokohnya.
...Tapi nyatanya tidak Maksudku, saya suka-- tapi saya tidak suka hubungan mereka yang dipaksakan harus sama-sama.
Misalnya saja hubungan Penelope dan Kingsley. Ugh. Chemistry? Yang lain mendapatkan kesan seperti itu, tapi saya malah berada di gelombang otak yang berbeda. Mungkin karena saya super aneh dan tidak bisa merasakan cinta diantara mereka (selain cinta kebut di 15 halaman menjelang tamat). Saya lebih senang mereka menjadi sobat, dan Penelope bisa berakhir dengan pria yang lebih baik.
Lalu Kingslesy itu-- rasanya saya mau lempar ke ujung benua. Bukan hanya menjengkelkan, tapi sangat mengesalkan. Levin juga termasuk tokoh yang dipaksakan, tapi saya masih lebih bisa bersimpati dengannya. Tapi Kingsley-- duh tidak, terima kasih.
Sebenarnya saya tidak akan sebenci itu dengan King asal plotnya tidak berakhir seperti itu. Tapi yah, sebagai pembaca saya akan mangut-mangut saja dan menerima titah takdir penulis. Toh endingnya menyenangkan. Meski saya tetap lebih berpihak pada Levin.
Anyway. Daritadi saya curhat sampai lupa menceritakan progress kisahnya yang enak dibaca^^. Untungnya, Penelope juga gadis yang tegar dan menyenangkan. [7.8/10]["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>
Lolo -Penelope- yang sudah lama menuntut ilmu di Australia, kini mendapat berita dari kedua orangtuanya bahwa mereka bangkrut dan menyuruhnya untuk kembali ke Indonesia. Sekembalinya ke Indonesia, kehidupannya berubah 180 derajat. Papa-mamanya menghilang, toko 'Sepatu Kaca' milik kedua orang tuanya disita, dan rumahnya disegel. Dan yang paling parah ada seorang pemuda yang terus menagihnya uang 200 juta!
Lolo tentu tak bisa membayarnya. Sementara itu, lelaki itu -yang bernama King- tetap ngotot agar Lolo mengembalikan uang 200 juta itu, karena jika King berhasil mendapat uang 200 juta itu, maka masa depannya akan lebih cerah dan lepas dari cengkraman papanya yang seorang pebisnis.
King menahan Lolo di gudangnya sebagai jaminan agar Lolo tidak kabur. Keduanya menjalani hidup dengan susah secara bersama-sama dengan gangguan dari Michelle -teman Lolo yang sangat menyebalkan-, Levin -lelaki yang sangat mencintai Lolo-, dan juga papa King.
Kini apakah kebersamaan antara Lolo dan King bisa berubah jadi cinta? Atau...
Dulu baca novel ini pas SMP dan sekarang baca lagi setelah lebih dari 10 tahun karena udah lupa sama ceritanya. Premisnya oke walau agak klise (apalagi jika ditilik dari budaya ibu kota sekarang). Tips dari saya adalah membayangkan setting kisahnya di tahun 2008 (tahun terbitnya buku ini), agar terasa lebih masuk akal saja dalam visualisasinya di kepala.
Dari dulu juga saya sudah suka novel-novel AJ, seperti Debu Bintang, Rumah Beratap Bougenvil, Tunangan... Hmm?, dan lain-lain. Novel ini masih menampilkan gaya cerita AJ yang khas: terus terang dan kadang-kadang jenaka di beberapa bagian.
Selain Penelope, saya paling terkesan dengan perkembangan karakter Kingsley. Dia, menurut saya, lebih terlihat real dibandingkan yang lain berkat konflik, dilema dan backstory yang ia hadapi, apalagi ditambah dengan resolusi di bagian ending-nya. Tipikal bad boy yang cuek dan rebel, King mampu menunjukkan sisi pikirannya yang dewasa ketika ia mengakui bahwa ia tidak bisa menandingi ayahnya.
Overall, masih tetap suka sama cerita ini, meskipun gaya pengantar dialog-dialognya mungkin sudah tidak relevan lagi (karena yang namanya bahasa pasti akan selalu berubah seiring bertambahnya waktu). Kalau butuh bacaan ringan, novel ini bisa dijadikan rekomendasi.
Lolo tidak menyangka bahwa ketika pulang ke Indonesia kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Toko sepatu dan rumah keluarganya disegel, sementara mama-papanya menghilang. Belum lagi kebingungannya pudar karena mendadak menjadi tunawisma, seorang pemuda menagih hutang orangtuanya sebesar dua ratus juta!
Sudah tentu Lolo yang baru berusia delapan belas tahun tidak bisa membayarnya. Maka Kingsley menyanderanya. Baginya, Lolo adalah jaminan. Ia memaksa gadis itu tinggal di "gudang"nya. Bukan apa-apa! Siapa tahu saat orangtua gadis itu muncul, mencari putrinya, dan saat itulah ia bisa mendapatkan uang yang berguna bagi masa depannya.
Namun seiring berjalannya waktu, keduanya bertambah akrab. Bersama mereka mencari tahu, kenapa orangtua Lolo yang sukses itu tiba-tiba bangkrut. Dan bahu-membahu pula keduanya berusaha meraih lagi kejayaan toko sepatu itu, mengembalikan kehidupan Lolo seperti sebelumnya.
Novel ini sempat lama diendapkan di dalam lemari setelah setengah halaman buku dibaca, waktu itu entah kenapa berada di titik kebosanan sewaktu membacanya. Tapi tidak menyelesaikan bacaan sepertinya utang yang agak menghantui, selalu kepikiran akan mencoba menyelesaikannya tapi selalu saja tidak jadi. Hingga akhirnya tadi aku benar-benar berniat membacanya sampai tuntas. Dan hasilnya, suprise! Aku sangat menyukai novel ini, setengah halaman buku selanjutnya ternyata ceritanya lebih seru dan terkesan realistis. Chemistry antara Lolo dan King pun sangat terasa ketika membacanya, dan yang paling tidak kumengerti, entah karena sedang melankolis atau apa, aku sempat menangis pas mereka sepertinya akan berpisah dan setelah adegan kebakaran. Two thumbs untuk Agnes Jessica!
Saya kira awalnya ini novel dengan cerita berat yang bakal bikin saya give up di tengah jalan. Hal itu bisa saya simpulkan karna melihat cover dan sinopsisnya. Tapi setelah berperang dengan diri saya sendiri, saya mikir, bolehlah iseng aja baca. Begitu baca sampe halaman 40an, saya bisa menyimpulkan bahwa ini bagus... Bahasa nya gak berat, ceritanya seru, pokoknya bikin saya sbg pembaca penasaran akan apa yang ada di setiap halamannya. Jadilah saya baca ini sampe malem, mengorbankan jam tidur saya yang terbatas. Hahahaha konyol memang, but i have to say i love this book :)
bumbu cinta banyak tergambar pada "sepatu kaca" AJ, intriknya masih tidak "WAH" dan tidak begitu berkesan sehingga tidak membuatku mengingat potongan cerita. tetapi tetap mengasikkan menikmati karya AJ, tetap mengalir bagai air tanpa mampet.
i dont quite remember how the story begins, since i read it at junior highschool. the only thing i remember was...i fell in love with this book, this striy, and the characters. :)