It's just another "what I learned from this book".
Kami pindah ke Pondok Bambu saat saya baru memulai sekolah dasar. Sahabat pertama saya, yaitu teman yang akhirnya menemani perjalanan sepanjang enam tahun pulang pergi dari rumah ke sekolah adalah Joice, seorang gadis Batak. Menjelang Natal, dia akan meletakkan rumput di dalam sepatunya yang diletakkan di luar rumah. "Taruh rumput di sepatu, besok ada hadiahnya. Itu hadiah Natal, dikasih Sinterklas," katanya.
Hmm... asik banget. Selama enam tahun usia saya, keluarga kami tidak pernah Natalan karena kami Muslim. Kami merayakan Lebaran. Kalau Lebaran tidak ada hadiah, tapi ketupat selengkapnya, baju baru dan kue2. Tapi Sinterklas itu, kata Joice, memberi hadiah pada semua orang yang meletakkan sepatu berisi rumput. Jadi pada malam Natal, sebelum tidur saya sembunyi2 membawa sepasang sepatu saya ke luar, meletakkannya di bawah pohon jambu sambil meraup segenggam rumput halaman yang kurang subur tumbuhnya. Saya lupa membayangkan hadiah apa yang saya ingin dapat dari Sinterklas, tapi apa pun itu, pokoknya hadiah!
Besoknya, tentu saja libur Natal. Ibu memanggil saya dan menunjukkan sepasang sepatu yang tergeletak di bawah pohon jambu dengan petak2 rumput pitak di sekelilingnya. "Kamu kemarin lupa simpan sepatu, ya? Lihat tuh, sepatu kamu diseret musang sampai ke bawah pohon," kata Ibu. Saya hanya perlu melihat selintas, untuk tahu tidak ada tanda2 Sinterklas (atau musang) mampir semalam.
Ah, Sinterklas nggak asik. Saya cuma diam saja saat besoknya di sekolah Joice bercerita tentang hiasan rambut cantik yang diletakkan Sinterklas di sepatu sebelah kanannya.
Tunggu. Sepatu sebelah kanan?
"Di sepatu kiri, kamu dapat hadiah apa?"
"Ih, nggak ada lah. Sepatu kiriku di rak sepatu. Kan cuma sepatu sebelah kanan yang diisi Sinterklas."
Oh. Sinterklas rupaya nggak suka dengan anak yang meletakkan sepasang sepatunya pada malam natal. DIkira anak itu serakah, karena itu tidak diberi hadiah. Saya diam saja, merasa bersalah sendiri. Dan sampai sekarang ibu saya belum tahu balada sepatu berumput di pagi hari di bawah pohon jambu itu (di masa ibu menghabiskan masa remaja dekat kapel Mungkid di Magelang pun mungkin belum pernah ada ritual anak2 meletakkan rumput di sepatu pada malam natal). Apalagi karena besok2nya, saya makin besar, makin banyak makan, makin banyak belajar, makin pandai solat, makin rajin ngaji, dan makin gila membaca. Jangankan saya, Joice sendiri saat kelas 3 SD sudah tidak percaya lagi pada balada Sinterklas memberi kado... :p
Walah, tooong... Kenapa jadi nostalgia begini, yak? Kalau boleh berpendapat sedikit tentang balada si Entong Imran di kampung James Bond ini, maka cerita buku ini memang menarik. Singkirkan dulu perbedaan agama antara keluarga imigran ini dengan pribumi Inggris. Perbedaan ras jelas, perbedaan tingkat ekonomi, dan perbedaan standar kegantengan. Dan maklum saja kalau bocah cilik Imran cuma bisa ngomel2 tidak mengerti mengapa dia disingkirkan lingkungannya. Padahal dia juga tidak pernah solat kecuali saat diajak solat Jumat, tapi kok dia tidak boleh makan babi?
Jadinya, satu hal yang saya pernah bilang, kalau ada apa2 yang aneh pada pemikiran seorang anak kecil, lihat dulu dong apa yang sudah diajarkan orangtuanya. Saat orang tuanya tidak pernah mengajarkan apa2... ya... anak akan cari sendiri. Kalau pencariannya menyimpang ke jalan yang berbeda, yang salah ya orangtuanya, hihihi... *kebiasaan*
-Bagian berikut ditulis sambil merinding takut didatangi Entong Imran atau para penjaga malamnya. Hush-hush... jangan macem2 ya! *baca mantera paling top di GR minggu ini*-
Pak Imran, sekarang masih ngaji, nggak?