Terkadang, kita melupakan hidup yang harus tetap kita jalani karena menyesali sesuatu yang telah pergi. Seperti Zahra yang merasa kebahagiaan telah berlalu saat Daffa, anak pertamanya, menghadap Sang Pencipta. Dunianya mendadak hening. Tak ada lagi tawa. Semua tak lagi baik-baik saja.
Krisna pun merasakan yang sama. Saat Daffa pergi, ia tak hanya kehilangan satu, tetapi dua cahaya hidupnya. Zahra, istrinya itu lebih sibuk menyesali diri sendiri dan tak pernah lagi mengindahkan kehadirannya.
Jarak di antara mereka semakin lebar. Perpisahan, mungkin jadi satu-satunya jalan agar tak ada lagi yang terluka lebih dalam. Tapi, benarkah pilihan itu sanggup mengembalikan semangat hidup mereka berdua?
Ah, cinta mungkin terlalu sederhana. Terkadang, kata-kata menjadi terlalu rumit untuk mengungkapkannya.
Sefryana Khairil is a writer who published more than 10 books as a team or under her own name in several notable publishing house in Indonesia, like GagasMedia and Gramedia Pustaka Utama.
In her teenage years, she began to write fictions. Her first novel, You, when she was 15 years old. Following her debut, she continued to write as a freelance writer for number of magazines, such as Aneka Yess!, Gadis, and Kawanku.
Her sixth novel, Dongeng Semusim, was Chic Magazine's The Most Wanted Book and was Cleo Indonesia Magazine’s the Book of The Month for February 2010.
In August 2011, Dongeng Semusim, Rindu, Tanah Air Beta, and Coming Home exhibited at the Book Fair in Bern, Switzerland.
Waktu di Kopdar GRI Jaktim kemarin, Sefry bilang mau kasih buku terbarunya ini buat peserta kopdar paling keren (ehm!)... dan buku ini diangkatnya agar kami para peserta kopdar bisa melihat judulnya, yang langsung terbayang sebagai sontrek di dalam kepala saya adalah lagu hits pertama Grup Warna:
Rindu ini terasa indahnya, saat kau ada di sini Bersamaku berbagi rasa...
Lalu Sefry mengeluarkan pertanyaan, dan si peserta Kopdar GRI Jaktim paling keren itu bisa menjawabnya dengan sukses dan membawa hadiahnya pulang segera karena mau menyelesaikan soal2 buat Lomba Cepat-Tepat di sekolah minggu ini. Nah, soal2 selesai, makan malam di rumah dengan menu ikan peda sudah tercerna, saatnya leyeh2 menunggu kantuk. Ada itu, si Orang Laut Bajak Laut Raja Laut yang sudah seminggu dimulai tapi belum kelar2 juga. Bukan karena tebalnya, tapi karena BESARnya. Ah, makhluk2 laut itu terlalu besar untuk diletakkan di samping bantal... jadi baca saja si Rindu ini.
Entah kenapa, sambil rebahan di kasur, sontrek di dalam kepala saya langsung berganti dengan lagunya Farid Hardja:
Oooh... ini rindu... Katakan padanya, aku riiinduuu...
Waah, bab pertamanya langsung ada kematian! Daffa yang baru berusia lima tahun, putra tunggal Krisna dan Zahra mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Dan cerita mengalir dari kedukaan kedua orangtuanya, terutama ketidakrelaan Zahra atas nasib Daffa. Dia mulai menyalahkan dirinya sendiri, lalu mengabaikan dunia luar, termasuk suaminya. Hingga rumah tangga mereka terancam goyah.
*Disela sebentar untuk ganti sontrek "Lagu Rindu" dari Kerispatih*
Tahukah engkau wahai langit Aku ingin bertemu membelai wajahnya Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah Hanya untuk dirinya
*sontrek di atas adalah hasil googling, padahal ga tau tu lagu bunyinya kayak gimana, hohoho...*
Inti dari buku ini memang itu. Kehilangan, dan bagaimana sikap kita menyikapi kehilangan itu. Tidak ada macam2 drama yang terlalu dipaksakan, atau tokoh2 yang kebanyakan. Oiya, memang ada gambaran tentang perpisahan yang berpuluh tahun dialami orangtua Krisna, sehingga ujungnya adalah bayang2 yang sama membuntuti rumahtangga Krisna dan Zahra sendiri. Mungkin yang agak membuat saya agak berpikir2 adalah tentang "sempitnya" dunia Krisna dan Zahra. Hanya ada keluarga (orangtua dan adik-kakak) serta sedikit teman2 kerja. Sambil bersikap (terlalu) sok tau, saya yang sedemikian tidak berempatinya manggut2, "Pantas Zahra dan Krisna segitu kelimpungannya kehilangan anak. Mbok ya ikut pengajian, gituuu... Curhat sama psikolog... Baca2 koran atau buku panduan... Ikut kegiatan sosial... Gabung goodreads, ikut kopdar... (haiyaah.., ngelantur!)..." hmm... yah, intinya biar mereka ga merasa jadi orang paling malang sedunia laaah....
Ah, maafkan saya, Krisna dan Zahra. Saya sendiri pun belum tentu bisa setegar kalian. Dan kalau rasa rindu itu kalau datang lagi, pasti cocok pakai sontrek ini (entah lagunya siapa ini, yang jelas bisa sambil goyang... :P ):
Kalau hatiku sedang rindu, pada siapa kumengadu Karna hati bertanya slalu, berlinanglah air mataku Rindu … mengapa rindu hatiku, tiada tertahan Kautinggalkan daku seorang …
Dan, terimakasih ya Sefry, untuk mengingatkan betapa banyak rasa rindu menginspirasi manusia...
-vera- peserta paling keren Kopdar Jaktim 2010 :))
Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang. Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan. Tak ada kesulitan yang tak dapat dimudahkan oleh ketekunan. Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran. Tak ada kehilangan yang tak dapat dileburkan oleh keikhlasan.
aku pernah berlarut-larut menangisi kehilangan aku pernah berlarut-larut tenggelam dalam kesedihan mungkin tanpa keluarga, sahabat, dan tangan-tangan yang menepuk pundakku agar selalu sabar, aku akan selalu terkurung dalam sedih tersebut.
saat kita kehilangan sesuatu, terkadang kita larut dalam kesedihan dan akhirnya lupa untuk bersyukur..
kehilangan yang mendalam bisa membuat kita lupa bahwa sebenarnya kita masih punya banyak hal. Masih punya kesempatan untuk bahagia.. Tuhan tidak pernah menghukum manusia dengan kesedihan, Dia hanya menegur kita untuk mensyukuri apa yang masih kita punya dengan kesedihan tersebut.
Apa yang Sefry tulis di sini sebenarnya cuma satu intinya, saat kita terpuruk dalam kesedihan jangan sampai hal tersebut justru membuat kita jauh dari orang lain, dari mereka yang menyayangi kita.
This world full of pain. I need someone who would help me through the rain, to comfort me when I'm sad, when I cry, and doing everything just to make me glad.
Dalam hidup terkadang Allah menguji kita. Satu hal yang pasti, saat ujian itu datang, jangalah kita terpuruk dalam kesedihan yang berlarut-larut.
saat kita kehilangan sesuatu, terkadang kita larut dalam kesedihan dan akhirnya lupa untuk bersyukur
Berat memang ketika kita harus kehilangan seseorang yang kita sayangi, untuk keluar dari lubang hitam kesedihan tak semudah membalikkan telapak tangan. Bersyukur dan dukungan dari orang2 yang menyanyangi kitalah yang dapat membuat kita dapat bertahan.
Seperti yang sudah-sudah, saya tertarik memboyong novel ini ke rumah karena cover yang unik-terlihat sedih- dan sinopsis di sampul belakang yang menggelitik serta membuat penasaran. Kali ini saya membuat keputusan yang tepat karena memilih novel ini untuk saya baca. Isi novel ini demikian indah dan bermakna.
Rindu, bercerita tentang lika liku perjalanan rumah tangga Zahra dan Krisna pasca meninggalnya Daffa, anak mereka satu-satunya. Dihantui rasa menyesal dan kehilangan yang dalam akan Daffa membuat Zahra lupa bahwa masih ada Krisna, suami yang juga membutuhkan dukungannya untuk bersama-sama melewati masa sulit ini. Krisna merasa Zahra terlalu egois karena ia hanya memikirkan perasaannya sendiri tanpa pernah mencoba memahami rasa kehilangan yang juga dirasakan oleh Krisna sebagai seorang ayah.
Dari cerita yang ditulis Sefryana Khairil ini, saya belajar memahami bahwa problema dalam rumah tangga tidak selalu diakibatkan orang ketiga atau masalah ekonomi. Seperti yang disajikan dalam cerita, rasa kehilangan yang besar juga dapat menjadi penyebab renggangnya hubungan antara suami dengan istri. Terkadang keinginan untuk melindungi orang yang kita cintai, justru melukai mereka. Seperti Zahra dan Krisna yang tenggelam dalam kesedihan masing-masing dan berusaha memendam perasaan mereka sendiri, justru berakibat buruk terhadap hubungan keduanya.
Saya rasa novel ini mengajak kita untuk introspeksi diri. Dalam kehidupan rumah tangga kita harus terbuka satu sama lain, karena kunci kebahagiaan ada pada kebersamaan dan rasa saling memahami. Bukankan suatu beban akan menjadi lebih ringan jika ditanggung bersama-sama ?
Saya suka dengan novel ini, dengan lirik-lirik lagu yang dituliskan pada awal setiap babnya. Penulis mengajak pembaca larut dalam cerita dengan kalimat-kalimat yang apik dan sarat makna. Oh ya, saya sangat terkesan dengan dialog antara Krisna dan Zahra di halaman 185, hingga saya merasa menjadi tokoh yang mengalaminya.
Ikhlas….hanya itu yang diperlukan manakala kita ditinggal selamanya oleh orang yang sangat kita cintai dan sangat kita sayangi.
Jangan tenggelam dalam kesedihan, terpuruk dalam duka yang dalam, yang akhirnya membuat masing-masing saling menyalahkan dan saling tidak bisa memahami.
Perasaan duka yang dalam bukan hanya milik Zahra saja yang mampu mengeskpresikan dalam setiap saat. Krisna juga merasakan duka yang dalam, tapi dia mencoba kuat dan tegar.
Dari awal hingga akhir, novel ini menyodorkan kepiluan saja. Ada rasa lelah, ngikutin sikap dan perasaan Zahra yang menurutku egois. Terkesan, maunya orang-orang melihat betapa dia kehilangan Daffa, hingga dunia yang ada dihadapannya tinggal sepi yang berkepanjangan….Krisna yang mencoba menghibur gak dihiraukan….hingga akhirnya daya tahan Krisna pun jebol.
Dalam duka yang mendalam, seharusnya mereka berdua yang begitu saling mencintai bisa saling menguatkan dan bisa saling menjaga.....bukannya saling menjauh.
Selalu ada yang bisa dipetik dalam setiap cerita. Semoga kita bisa senantiasa ikhlas dan tawakkal dalam menerima ujian.
Ketika kita kehilangan orang yang kita sayangi untuk selama-lamanya, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita akan terus terpuruk dalam kesedihan atau bangkit dan melanjutkan hidup dengan bahagia tanpa melupakan sedikitpun kenangan bersama orang yang kita sayangi itu?
Dibuku ini diceritakan tentang kisah kehilangan seorang anak satu-satunya, Daffa, yang dialami oleh Zahra dan Krisna. Kematian Daffa membuat Zahra sangat terpukul, hingga ia selalu bersedih dan menangisi kepergian Daffa. Dia tak peduli lagi pada dirinya sendiri ataupun pada suaminya. Keadaan istrinya yang demikian membuat Krisna semakin bersedih, dia tak hanya kehilangan anaknya, tapi juga perhatian istrinya.
Tak ada kemajuan dengan hubungan Krisna dan Zahra, malah semakin dingin dan mulai terjadi pertengkaran diantara mereka. Zahra menuding Krisna tak mengerti kesedihan yang dirasakannya. Krisna yang merasa lelah dengan semua kenyataan semakin emosi mendengar tudingan istrinya, lalu berteriak 'Apakah karena aku tidak melahirkan Daffa, lalu kamu pikir aku tidak bersedih atas kematiannya?'.
Suasana semakin kacau hingga Zahra memutuskan untuk pergi dari rumah dan meninggalkan Krisna, sendirian! Apakah yang akan terjadi pada Krisna sepeninggalan Zahra? Akankah cinta harus berakhir dikala emosi sedang memuncak? Tak adakah masa depan bagi cinta mereka berdua?
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini adalah : 1. Kehilangan orang yang disayangi pasti akan terjadi pada tiap orang, yang terpenting bukan tentang seberapa besar kesedihan akibat kehilangan, tapi bagaimana kita harus melanjutkan hidup dengan bahagia tanpa melupakan orang yang kita sayangi dan tanpa melukai perasaan orang yang ada disekeliling kita.
2. Jangan pernah meminta seseorang yang 'sebenarnya' sangat kita sayangi untuk pergi menjauh dari kita, karna ketika dia berlalu, kita tak akan pernah tau apakah dia akan kembali lagi atau tidak.
3. Jika kamu bersedih, menangislah jika itu bisa membuatmu lega, tapi ingat masih ada hari esok yang dapat dijalani dengan berbagai kebahagiaan.
4. Disaat orang disekeliling kita sedang merasa sedih, support lah dia, dengan begitu mungkin kita dapat membantu menyelamatkan jiwanya dari keterpurukan.
buku kedua dari sefryana yang saya baca. kesannya masih tetap bagus. genre-nya menurut saya dewasa sih. tapi walaupun begitu, yang namanya cinta-cintaan mah pasti saya lahap habis. hehe. kesan yang paling mengena adalah pelajaran untuk bangkit dan betapa besarnya penyesalan gak akan mengembalikan semua hal yang sudah hilang.
disini saya benar-benar sadar kalau satu detik hidup itu begitu berarti. karena satu detik yang lalu di tempat pembelian sepedah mungkin bisa membuat daffa masih tetap hidup. tapi yang namanya takdir (lagi-lagi saya di ajarkan) tidak ada yang bisa mengubah. kita hanya bisa ikhlas dan mencoba menerimanya sebaik mungkin. sedih banget dan banget dan banget membayangkan jadi zahra disini. saya merasa mempunyai jiwa ke-ibuan walaupun saya belum mempunyai anak, dan menikah sekalipun. satu hal yang membuat saya tergelitik, cinta-cintaan yang sering di suguhkan teman saya di sekolah dengan umbaran yang berlebihan ternyata benar-benar tidak 'cukup' untuk menjalani masa depan nantinya.
dibutuhkan kejujuran, keterbukaan, keihklasan, pengertian, dan masih banyak lagi yang harus di munculkan bersamaan dengan rasa cinta itu sendiri. banyak pelajaran yang sangat berharga di dalamnya :D
Saya dapat buku ini dari teman, hadiah ulang tahun. Sudah lama saya mau tulis review-nya, tapi baru ingat sekarang.
Singkat saja. Alurnya lambat, cenderung membosankan. Terlalu banyak pergumulan batin yang itu lagi itu lagi.
Konfliknya dangkal, mudah ditebak penyelesaiannya. Sebenernya masalahnya sepele banget gak sih? Cuma herannya bisa jadi satu novel.
Cara penulisannya kadang bagus, kadang biasa saja. Ada kalimat yang indah, tapi ada juga kalimat yang diindah-indahin.
Konflik antara ayah dan ibu Krisna sebenarnya sub-plot yang bagus, tapi kurang dikembangan sehingga kesannya: "Udah? Segitu aja?"
Saya suka cara penulisan babnya. Simpel, keren. Saya juga suka kutipan lirik lagunya. Tapi agak kecewa sih, "Kenapa penulisnya gak taro kalimat cantik hasil tulisannya sendiri? Kenapa harus lagu orang lain?" Ya saya rasa pasti ada pertimbangannya sendiri.
Ada masa dimana kita begitu bahagia. Ada masa dimana kita begitu merana. Ada masa dimana kita harus merelakan semua yang telah terjadi dengan ikhlas. Ada masa dimana kita membutuhkan seseorang yang kita sayang untuk saling berbagi.
Membaca buku ini mengingatkan kita semua bahwa hidup ini tak selalu berjalan seperti yang kita impikan. Pasangan yang telah menikah akan semakin lengkap kebahagiaannya ketika mereka memiliki seorang anak namun apa yang akan kita perbuat bila sang Maha Kuasa menginginkan anak kita kembali padaNya? Kita tak bisa terus membohongi diri sendiri kalau kehilangan tidak menggoreskan luka. Ketika sudah tak ada lagi tempat untuk berbagi kesedihan, maka saat itulah kita harus menerima cobaan itu dengan ikhlas. Percayalah bahwa Tuhan akan selalu memberikan segala yang terbaik untuk kita dibalik semua cobaan yang harus kita jalani.
Dari 2 buku Sefry, Dongeng Semusim dan Rindu. Saya jadi tau gaya tulisannya dan tema2 yang diangkat. Temanya sederhana. Masalah rumah tangga yang terlihat sepela tapi sering menjadi besar dan jadi masalah rumit bagi suami istri.
Entahlah, saya jd ikut terbawa suasana pertengkaran di buku ini, tapi sekaligus mbosen. Terlalu melow khas sinetron yang membuat penonton ikut sedih dan akhirnya menangis.
Terkadang, kita melupakan hidup yang harus tetap kita jalani karena menyesali sesuatu yang telah pergi.
They should know how to face it together... Kurang terbuka, tenggelam dalam duka, mementingkan ego dan seolah tak mau tahu dan mengerti perasaan orang lain... Padahal mereka bisa menghadapinya, bersama... T_T
Perasaanku saja atau novel ini kental sekali patriarkinya? Mulai dari nasihat ibu Krisna yang selalu harus mengutamakan suami (padahal ia sendiri tidak berbakti ke suaminya tapi selalu ingin anak lelakinya dinomorsatukan), sikap Krisna yang sangat tersakiti dan berlarut-larut hanya karena ditolak oleh istri padahal ia tahu mereka baru saja kehilangan seorang anak yang dikandung 9 bulan, dilahirkan, dibesarkan, dan meninggal di depan mata istrinya juga. Waktu yang dibutuhkan seseorang untuk sembuh dari luka, terlebih luka kehilangan itu sangat personal, 5 bulan waktu yang masih sangat wajar untuk berduka. Ini malah ditagih anak lagi dari kanan-kiri (bahkan dari keluarga sendiri dan sesama ibu-ibu yang harusnya lebih bisa memahami), suami juga mikirnya ingin punya anak lagi terus, suami merasa worthless setelah ditolak istri seolah hanya itu yang membuat ia punya value. Melihat istrinya tiap hari di kamar sang anak bukannya ingin menemani dan menghibur eh malah kabur. Yang paling menyebalkan adalah ketika istri pergi dan semua orang menyuruhnya pulang, hellooo suaminya saja tidak pernah menjemputnya ke rumah orang tua dan minta maaf ke mertuanya. Heran sama orang tua Zahra yang menyuruhnya pulang bukannya menyuruh Krisna menjemput. Flow ceritanya oke dan cukup page turner, tetapi terlalu banyak konflik intrapersonal sehingga ketika berkembang menjadi konflik interpersonal rasanya jadi membingungkan.
TERKADANG,cinta dan kehilangan berjalan beriringan,,,,,akhirnya stelah nganggurin nih buku slm 1/2 bulan,slesai jg q baca,,,slm ni nunda2 bca krn kyanya nih cerita perlu mental yg kuat buat bacannya,,,n ternyata q bener,,,,baca novel ini bener2 nguras emosi n air mataku*lebay*tp prcaya deh pas bca ni ga bkal berfikiran kita jd lebay hnya krn nangis bca novel karya SEFRYANA KHAIRIL ini,,,,dia salah satu penulis favoritku dgn novel2 yg sukses bkin pembaca mengharu biru,,,,,stelah baca COMING HOME n DONGENG SEMUSIM kupikir RINDU ga akan bkin q nyesek,,,ternyata q slah besar,,,justru di novel RINDU ini air mata ga brenti netes pas bca dr awal sampe akhir apa lg pas bca q dengerin lagunya GLEEN FREDLY/SEKALI INI SAJA tambah ngena bgt dihati dech,,,,,aduuh bkannya nulis resensi tp q mlh nulis kesan2ku bca novel RINDU ini,,,,,
TERKADANG,kita melupakan hidup yang harus tetap kita jalani karena menyesali sesuatu yang telah pergi ,seperti ZAHRA yang merasa kebahagiaan telah berlalu saat DAFFA,anak pertamanya,menghadap sang pencipta,dunianya mendadak hening,Tak ada lagi Tawa Semua tak baik2 saja,,,,,
KRISNA suaminya pun merasakan hal yang sama,saat Daffa pergi ia tak hanya kehilangan satu,tapu dua cahaya hidupnya, Zahra,istrinya itu,.lebih sibuk menyesalu diri sendiri dan tak pernah mengindahkan kehadirannya,,,,,
jarak diantara mereka semakin lebar,perpisahan mungkin jd satu2nya jalan agar tak ada lagi yang terluka lbh dalam,tapi benarkah pilihan itu sanggup mengembalikkan semangat hidup mereka berdua????
Ah cinta mungkin terlalu sederhana,Terkadang kata2 menjadi terlalu rumit untuk mengungkapkannya,,,,,,
dsini awalnya q agak menyalahkan ZAHRA yang terlalu larut dalam ksedihan karna khilangan anaknya DAFFA sampai2 dia mengabaikan tugas sbagai istri dari KRISNA,,,namun bgtu bca terus menerus q mlai memahami isi hati ZAHRA,,,KARNA berat bgt bg seorang ibu yg kehilangan buah hatinya,,,,awalnya q juga salut sama KRISNA yg sabar bgt mnghadapi istrinya namun lmbat laun dia juga mrasa goyah krn bkn hanya ZAHRA yg mrasa khilangan DAFFA tp dirinyapun mengalami hal yang sama,,,,,sampai akhrnya rumah tangga mereka mnjadi dingin dan hilang keharmonisan diakibatkan rasa saling menyalahkan,,,,,tp ksadaran akan ktakutan khilangan lagi membuat keduanya sadar dan mampu membina rumah tangga yg hampir rusak dengan memperbaikinya dengan CINTA DAN KETULUSAN,,,,,,,karena TERKADANG cinta dan kehilangan BERJALAN BERIRINGAN namun cinta yang sejati mampu untuk mendahului atau menyingkirkan rasa kehilangan itu sendiri,,,,,cukup hanya dengan cinta dan pengertian,,,,,saluuuut bgt sama mba SEFRYANA KHAIRIL,,,,sumpaaah ini novel baguuuus n mengharu biru bgt daaah,,,,,,,
Rasanya saya akan merindukan bacaan seperti ini lagi. Domestic romance. Semestinya sih, memang sudah sepantasnya bacaan saya seperti ini, ya.
Saya sering mendengar nama penulisnya, namun inilah kesempatan pertama saya untuk menikmati karyanya. Suka sekali sama kavernya yang agak-agak metaforikal, mawar layu kering dan latar belakang warna papirus. Font-nya juga nggak neko-neko. Kesederhanaan yang menunjukkan isi bukunya dengan baik.
Inilah beberapa catatan saya selama membaca buku ini, yang selesai hanya dalam sekali duduk:
1. Seperti menonton film--itulah kesan pertama saya. Pemilihan sudut pandang orang ketiganya mengajak saya menyelami sisi Zahra dan Krisna (kadang tokoh lain) dengan berimbang.
2. Menurut saya, kalimat yang dicetak miring dan biasanya berbahasa Inggris yang suka terselip di awal paragraf/adegan itu tidak perlu. Tanpa penggambaran kata-kata itu juga, perasaan sedihnya sudah terasa. Malah cenderung mengganggu.
3. Porsi dialog lebih banyak dari narasi, sehingga ada informasi yang terasa samar seperti kejelasan pisahnya Bapak dan Ibu serta kronologi kecelakaan Daffa sampai-sampai Zahra yang harus disalahkan.
4. Tak ada yang lebih mewakili kegalauan dari lagu-lagu John Vessely di album-album pertama. Sekarang sih, dia sudah menikah lagi.
5. Ada kesalahan ketik minor, seperti wont (harusnya won't) dan kurang huruf, tapi bisa diabaikan.
6. Peran Ibu sama Ana bisa lebih digregetin lagi. Awalnya saya kira Ibu memang di-setting agak antagonis, yang dulunya tidak merestui Zahra atau gimana. Saat Zahra nyaris pisah dengan Krisna, beliau baru menunjukkan kasih sayangnya. Ini bikin saya bingung dengan karakternya karena tampak 'ujug-ujug'.
7. Sam kadang sok asyik, ih...
8. Hubungan Zahra dan Krisna juga alurnya yang mulus menjadi poin penting sekaligus kekuatan cerita ini. Sedihnya dapet banget. Saya belum berkeluarga, apalagi punya anak, tapi hanya dengan membaca buku ini saya jadi tahu rasanya dan berempati.
Sisanya, semua sesuai porsi. Karakter Zahra dan Krisna, atmosfer kehilangan dan memulai kembali, cara mempertahankan hubungan yang berlandaskan cinta dan pernikahan. Wah, berat, ya.
Setelah ini, saya jadi tak ragu untuk mencicipi tulisan Mbak Sefryana lagi... terutama yang tentang kehidupan rumah tangga keluarga muda. Semoga saya kecipratan (kemampuan menulisnya, maksudnya. Bukan berumah tangganya. Ya, yang itu juga boleh, sih).
Dari hasil googling, saya mendapat hasil kalau kematian anggota keluarga, terutama anak, menjadi penyebab nomor satu hubungan pasangan suami istri menjadi retak, bahkan bisa menyebabkan gangguan jiwa. Novel karya Sefryana ini mengangkat konflik rumahtangga Zahra dan Krisna, setelah kematian anak semata wayang mereka, Daffa, akibat kecelakaan.
Konflik yang dibangun dalam novel sebenarnya klise, namun karena alur cerita teratur dan tidak melompat-lompat, membuat novel ini cukup menarik untuk dibaca. Sayangnya, seperti ingin mempertahankan keteraturannya, jalan cerita jadi terasa lambat, terutama pergumulan bathin Krisna, terhadap hubungan antara bapak dan ibunya yang terasa mengganjal.
Tokoh-tokoh cerita dalam novel ini pun tak banyak, sehingga memudahkan pembaca. Akhir cerita terasa kurang menguras emosi, mungkin Sefryana tak ingin terjebak anggapan, bahwa konflik rumah tangga bisa berakhir dengan perpisahan atau bahkan perselingkuhan.
Cari novel ini benar-benar susah. Udah cari di TokBuk nggak ada, di Oltokbuk juga nggak ada. Akhirnya, ketemu juga, meski second yang penting kan bisa baca.
Novel ini, menceritakan tentang sebuah rumah tangga. You know, menjalani sebuah rumah tangga itu nggak semudah yang kalian bayangkan. penuh lika-liku dan cobaan.
Di novel ini, cobaan dari pasutri ini adalah kehilangan seorang anak mereka satu-satunya. kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai. Membuat mereka merasa, kehilangan segalanya, padahal is not the end. Kehilangan emang sih menyakitkan, tapi kan bukan berarti setiap kehilangan itu artinya the end of the world kan? mungkin, kehilangan itu terbaik buat kita dan suatu saat akan ada pengganti kehilangan itu yang lebih dan lebih baik dari sebelumnya :)
over all, saya suka karya kak Sefryana ^.^ Waiting for other books kak
Kalo judulnya 'Rindu' maka aku yg jadi pembaca 'Kecewa'. Sebenernya idenya bagus lho, aku bahkan sampe bela2in beli stlh baca sinopsisnya. Tp kecewa banget ketika isinya g sebagus sinopsisnya. Adegan2nya terlalu singkat, jadi g sempet ngangkat emosi pembaca. rata2 per adegan cm satu setengah halaman, trs diganti adegan berikutnya. gonta ganti adegan plus karakter, jd sama sekali g enjoy. krn dr awal suasana duka itu sudah kental, terus selanjutnya jg masih sama, akibatnya emosi di novel ini jadi flat. sayang banget>.<
ceritanya lagi beres2 buku, keselip ini novel diantara buku pelajaran. buka2 sekilas malah keterusan. baiklah kita ulas sedikit tulisan mba sefry. aku rasa penulis yg satu ini suka dg alur maju mundur setelah aku baca karya barunya TOKYO. ya, rindu ini bercerita tentang zahra, seorang yg tidak mudah menerima kehilangan buah hatinya, Daffa. karena sikap zahra yg makin hari makin menyesali dirinya sendiri, Krisna merasa terbebani. ia hampir saja kehilangan istri dan rumah tangganya. tapi akhirnya happy ending :))
1 lg karya kak Sef tentang pernikahan. Kali ini ngebahas tentang sepasang suami istri, Krisna dan Zahra yang harus menerima kenyataan pahit yaitu kehilangan anaknya. Anak mereka, Dafa meninggal Karena kecelakaan tepat di hari ulang tahunnya.
Sejak kejadian itu rumah tangga mereka tak lagi sama. Semakin hari semakin dingin, hingga puncaknya mereka berpisah.
Ya intinya kek gitu yaa. Lagi dan lagi nemuin kelebayan disini. Tapi ya balik lagi sih ke diri gue sendiri yg belom merit jadi gk tau gimana2nya.
buku ini beda, bukan cerita2 cinta remaja, atau janda yang udah cerai, bukan juga tentang retaknya rumah tangga karena adanya orang ketiga. Tentang dua orang yang berusaha terus bersama dan bersatu setelah kehilangan "kebahagiaan". Dua orang yang saling mencintai dan... setia. Aku suka, cerita ini ngga kya sinetron atau FTV yang terlalu bnyak cobaan,, masalah-masalah yang ada di novel ini memang benar adanya di dunia nyata
Buku pertama Sefryana Khairil yg saya baca. Gaya berceritanya mulus, nyaris tidak ada yg bisa saya keluhkan ... sampai akhirnya saya sadar kalau ternyata tidak ada yg berkesan juga. Alurnya lambaaatt sekali, mau aja nggak jadi2, sampai saya nyaris ikutan stres bersama Zahra dan Krisna. (>> Berarti novelnya berhasil deng ya? :p)
Masih akan mencari pinjeman buku Sefryana Khairil yg lain lg, hehe
Dari awal ke tengah alurnya lambat. Berasanya stuck disitu-situ aja. Konfliknya juga kurang beragam. Memang sebagian besar hanya soal kehilangan si anak dan pertengkaran Krisna dan Zahra aja.
"Cinta itu terlalu sederhana. Terkadang, kata-kata menjadi terlalu rumit untuk mengungkapkannya."
Saya selalu suka dengan tema cerita seperti di buku ini. Tentang proses kebangkitan diri dari keterpurukan selepas kehilangan salah seorang anggota keluarga.
Suasana cerita yang sendu cenderung suram mampu ngebuat cerita ini jadi hidup. Mungkin bagi yang lain akan terasa membosankan, karna melulu sedih. Mayanlah yah, bisa buat pelampiasan saat ingin nangis pas kepala dengan brengseknya ingat mantan . *eh
Yuhu selesai ^^ suka!! Quotes-nya keren2 lagi /kegirangan/ paling suka yg ini : "Aku mau kamu terus bersinar di tengah matahari dan hujan yg selalu membawa keajaiban dalam hidupku" -page 233
dan asal tau aja Quotes-nya aku catat loh, maklum novelnya pinjeman hihihi jangan kasih tau mbak sefry ya :p
Reading through the pain and the healing process of the characters in this novel, I learn that everyone could have experience this kind of lost at least once in their life. It’s nice to share the feeling and see it from other people eyes.
Pesan moralnya bagus, tetapi satu konflik (kematian Daffa) dibahas lama sekali (watak tokohnya juga terasa rapuh) sampai satu novel sehingga terkesan bertele-tele. Dari awal sudah bisa ditebak ke mana jalan ceritanya. Dialog antar tokoh terasa membosankan dan terasa tidak hidup. Tetapi penulisan deskripsinya bagus, penggunaan kata dan rangkaian kata pada deskripsi juga baik.
hmmmm.... bingung dg ceritanya, kayaknya tokoh2nya egois gitu yaa... sampai beberapa halaman saya kesel sama zahra dan krisna gara2 keegoisan masing2, hmmm sudahlah. tapi, sedih sih ngebayangin kalo liat anak meninggal krn kecelakaan didepan mata, hiks... btw, ceritanya bagus buat dibaca pas kita nunggu.