Tukang bakso itu merasa dirinya punya hak istimewa sehingga ia jengkel ketika mendapati seorang pemuda sedang teler di atas kursi Sukir. Tampaknya ia sedang mabuk. Mabuk agama. Ia meracau menyerukan kata-kata suci, menyebut-nyebut Tuhan dan surga, sambil matanya membelalak dan tangannya menuding si penjual bakso. Si tukang bakso mencubit pipinya: “Hai, kau masih di dunia. Ayo bangun, kerja. Jingan!” (cerpen “Kursi Sukir”)
***
Tak Ada Asu di Antara Kita adalah kumpulan cerpen perdana karya Joko Pinurbo. Ada 15 cerpen berilustrasi penuh warna di dalam buku ini. Tokoh-tokoh ceritanya jauh dari gemerlap, cenderung getir namun sekaligus jenaka. Ada ibu, anak, kakek, Pak RT, penjaga warung, guru, kursi, batu, copet, koruptor, dan tentu, asu tidak ketinggalan. Cerita mereka yang selama ini mungkin dekat dengan kita namun kadang luput dari perhatian. Sebagai kejutan, Jokpin menyisipkan satu puisi terbaru di dalam kumpulan cerita ini.
Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Selain ke bahasa Inggris, sejumlah sajaknya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan sejumlah sajaknya digubah menjadi komposisi musik.
(5,0⭐️) “Meja makan adalah tempat untuk merawat kegembiraan bersama.”
Ini adalah karya kedua dari Jokpin yang aku baca! Karena aku lagi suka baca cerpen, akhirnya aku beli di Gramedia Offline Store, tentu saja karena judulnya yang nyentrik dan covernya yang gemas ^^
Waktu aku baca blurbnya, wah cukup menarik! Dan tentu saja setelah kubaca, aku jadi paham karakter Jokpin ini mode nyastra-nya lewat satir dan kadang pengolahan katanya sungguh lugu dan jenaka, pula kurang lebih menggunakan tokoh-tokoh yang rasanya tidak asing bagiku—seperti pernah ketemu tapi dimana, ya? Jujur aku juga ga tau kalau ditanya ini genre-nya apa. Slice of life kali, ya?
Overall, aku suka! Ditambah setiap cerita pendek ada ilustrasinya yang colorful, jadi bikin semangat baca. Oh ya, cerita pendek yang aku suka karena menurutku paling unik adalah sebagai berikut:
1. Perjamuan Petang bersama Keluarga Khong Guan 2. ini ibu budi 3. Tuan Rumah 4. Cakrawala
Buku ini adalah kumpulan cerpen pertama dari Joko Pinurbo, yang terkenal dengan puisi-puisinya. Beberapa cerpen merupakan "perpanjangan" dari puisi yang pernah ditulis beliau.
Favorit saya adalah yang berjudul Perjamuan Petang bersama Keluarga Khong Guan. Kalau pernah membaca kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan pasti tidak asing dengan alur cerpen ini.
Sejujurnya, saya lebih menyukai tulisan puisi beliau jika dibandingkan dengan cerpen. Tapi saya mengapresiasi perjalanan kreatif beliau yang baru ini. Apalagi bonus yang saya dapatkan saat membeli buku ini adalah sebuah pouch dengan "gambar" puisi.
Kumpulan cerpen yang aslinya bisa dibaca sekali duduk. Bacaan yang tepat sambil mengawali hari, karena ceritanya yang lumayan ringan namun sarat akan makna, khas tulisan Pak Jokopin. Aku pribadi suka cerita yang tentang Keluarga Khong Ghuan, sama Guru Bahagia.
"Melihat tulisan "asu" di tembok, si anjing mendadak berhenti, kemudian menggonggong. Lelaki tua itu segera masuk ke dalam rumahnya, takut dituduh si anjing dialah yang telah menulis kata "asu"." (Cerita "Siraman Rohani")
Bukan Jokpin namanya kalau tidak bermain-main. Bagi yang sudah membaca beberapa karyanya pasti akrab dan mafhum jika senjata utama Jokpin adalah permainan kata yang menyihir, jenaka, puitis, nakal, dan tak tertebak. Tak Ada Asu di Antara Kita menjadi ruang bermain baru Jokpin dalam menunjukkan kepiawaiannya meramu cerita dan bermain kata. Kelima belas cerita di dalamnya memang kelihatan sederhana dan biasa. Namun, memuat isu-isu yang boleh jadi luput dari perhatian.
Kontras dengan judul pada sampul, keberadaan asu-asu lain dapat ditemukan dalam beberapa ceritanya meskipun tidak lebih asu daripada asu-asu di Srimenanti. Judul serta keberadaan Subagus dalam cerita, dan anjing hitam di pembatas buku hanya dua dari banyak akal-akalan dan kenakalan Jokpin. Akal-akalan dan kenakalan lainnya tampak pula dalam pemilihan ilustrasi yang dijadikan sampul buku, anjing hitam yang mejeng di sampul, serta cerita-cerita yang dekat dengan kita dan sarat makna.
Sebagaimana karya-karya Jokpin yang lain, buku cerita Tak Ada Asu di Antara Kita juga memotret kejadian-kejadian yang sangat relate dengan kita, dan pasti mudah ditemui di sekitar, atau bahkan pernah kita alami sendiri. Keseluruhan ceritanya adalah cerita-cerita kita serta bukan cerita-cerita mewah yang berjarak dan sukar dicerna. Tidaklah salah menganggap kumpulan cerita ini sebagai buku permenungan diri. ❤️
Joko Pinurbo bukan nama asing dalam kesusastraan Indonesia. Puisinya begitu lekat dengan puisi deskriptif hingga hanya menunggu detik saja sampai ia memutuskan untuk menerbitkan seikat cerpennya.
Dalam "Tidak Ada Asu di Antara Kita", pembaca diajak menyebrangi gagasan puisi Jokpin yang familier bagi pembacanya dengan sejumlah kosakata yang sering (tapi tak kunjung usang) digunakannya. Sejumlah cerita terasa seperti perpanjangan puisi yang telah ia tulis, but in a good way. Harus diakui, Joko Pinurbo adalah pencerita yang hebat sebagaimana puisinya telah bersabda. Namun, TAAdAK gagap dalam bertutur, ia serasa ganjil untuk mengganjal pertanyaan: bagaimana cerpen seroang Jokpin? Beberapa cerpen seolah hanya rasa iseng untuk mengatasi rasa penasaran yang menghantui, seolah draft tulisan yang meminta pertanggungjawaban untuk diselesaikan. Namun, beberapa ceritanya adalah Jokpin pada sosok puncak (baca: "Kursi Ongkang" atau "Korban Hoaks". Ia tidak ragu membersamai ceritanya dengan kemahirannya bertutur kata.
Mengutip perkataan Jokpin saat Kuliah Ora Umum di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, beliau ditanya tentang perambahannya di dunia cerpen. Dengan santai dan menatap langit-langit Auditorium Soegondo lt. 7, beliau menjawab bahwa pembacalah yang menentukan tulisan yang dibacanya sebagai genre apa. Tulisan beliau adalah apa yang saya anggap sebagai garis buram dan mungkin adalah sebuah kekeliruan, jika saya menganggapnya sebagai cerpen:
Singkat kata, "Tidak Ada Asu di Antara Kita" adalah Joko Pinurbo dengan seperangkat alat ketiknya dan kosakata andalannya dengan segenap dan ganjilnya kekurangan dibayar tunai.
TAK ADA ASU DI ANTARA KITA, buku berkover oranye berisi kumpulan cerita pendek karya Joko Pinurbo. Terbit di Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2023 dengan tebal 103 halaman.
Apa yang kamu pikirkan setelah melihat buku berkover oranye ini? Iya, betul, gambar khas anak-anak sekolah dasar. Aku yakin, semasa sekolah dulu kamu setidaknya pernah menggambar seperti ini, walaupun sekali. Haha. Ah, sampai lupa, harusnya aku membuka paragraf kali ini dengan mengutip bagian prolog yang dikutip dari buku Salah Piknik, begini, "Pada sebuah buku cerita. Kepada pembaca yang sering galau, sedih, frustasi, kecewa, sakit hati, marah, dan merasa hidupnya hanya menunda kekalahan. Berceritalah, maka kau akan lucu."
Ada lima belas cerpen dalam buku ini. Semuanya menarik dan sangat diluar dugaan. Setiap membaca bagian per bagian dalam cerita, aku nyeletuk ke diri, 'Kok bisa-bisanya Pak Jokpin nemu ide sederhana kayak gini, tapi nyambung. Terus ini kok bisa begini begitu tapi tetap kocak dan menyentuh. Ah, pengamat yang andal banget, nih.'
Cerita-cerita yang berhasil mengajak buat eksplor imajinasi dengan setting keseharian, dari tokoh-tokoh seperti seorang bapak, ibu, guru, murid sekolah, tukang bakso, ibu warung, orang-orang mampir di warung dengan percakapan random, bahkan pencopet, atau batu besar dan kursi di teras rumah.
Buku berkover mengenang masa kecil ini didalamnya terdapat ilustrasi, aku suka gambar-gambar di buku ini. Bahkan pertanyaanku tentang cerita Keluarga Khong Guan terjawab—selain puisi-puisi dalam Perjamuan Khong Guan—dalam cerpen Perjamuan Petang bersama Keluarga Khong Guan. Ah, yang menarik lagi, selain membahas tentang Keluarga Khong Guan, Pak Jokpin menyelipkan konflik kecil antar anggota keluarga, seperti Nyonya Khong Guan yang gaptek lengkap dengan respon respon Leo dan Pisces, "Semua tamu undangan merasa bahwa apa yang dialami Keluarga Khong Ghuan adalah pengalaman keluarga mereka juga. Memang begitulah keadaan keluarga-keluarga masa kini sejak ponsel menguasai kehidupan dunia yang fana ini." (21)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Another unplanned reading. Ke gramed niatnya mau menyaring dan menambah wishlist, tapi malah kepancing sama buku ini😭
Ga tahu Joko Pinurbo would be this funny dan usil dengan menulisnya. Cerpen di buku ini keren abiezzz dan lucu banget. Gaya menulis beliau di sini pun sebenernya nggak ndakik-ndakik yang sulit dipahami atau pakai kosakata indah yang sejuk dibaca seperti penulis lainnya (at least di cerpen ini). He has his own gituuu yang buat pas baca kayak jirrrr bisa banget doi ya???!!! jokesnya astaga
Buku ini ada 15 cerpen yang tokohnya saling berkaitan. Bisa dibilang kayak mereka ini di satu komplek lah, which make it's funnier. Paling lucu tuh cerpen yang Ini Ibu Budi sama Perjamuan Petang Bersama Keluarga Khong Guan. Pas baca udah kayak orgil cekikikan di lorong-lorong gramed.
My most fav adalah Perjamuan Petang Bersama Keluarga Khong Guan. Joko Pinurbo has his own imagination kenapa sosok Bapak di kaleng Khong Guan itu nggak ada, karena beliau yang ngelukis wkwkwk. Dan satu lagi, Kesunyian dan Kehangatan. Mungkin dibanding semua cerpen di buku ini Kesunyian dan Kehangatan adalah salah dua (satunya Cakrawala) yang lebih memberi kesan sedih di saat yg lain warna-warni hahahihi.
Kayaknya bakal lebih banyak baca karya beliau hehe
The late Joko Pinurbo was one of the few poets whose beautiful simplicity I deeply admired. Writers often tend to be overly elaborate, packing in flowery words that make my stomach churn and my brain tired. How can someone say so little with so many words?
Perhaps it’s his background as a poet that makes Tak Ada Asu di Antara Kita feel truly mind-blowing to me. I’ve never enjoyed a short story collection quite like this. The book feels both light and heavy at once. Through pithy sentences and stories that are simple yet socially relevant, mostly revolving around the everyday lives of humble neighbourhood residents and artists, Joko Pinurbo never fails to leave an impression.
He tackles reflective and timely themes like hoaxes and art censorship with lightly comedic, almost satirical touches, yet without diminishing the gravity of the issues. That balance is no small feat.
While I have to admit that some stories are weaker than others (at times feeling scattered) his command of language and insight confirms that he was truly a maestro of words.
My favourites: Ayat Kopi, ini ibu budi, Korban Hoaks.
Meminjam buku kepunyaan suami, barangkali buku ini memang bukan untuk saya. Not my cup of tea. Atau bisa jadi ekspektasi saya yang terlalu tinggi karena memasang standar puisi-puisi Jokpin yang sudah saya baca sebelumnya.
Berisi 15 cerpen, beberapa cerpen nampak digarap betul-betul serius, sedang sisanya seperti seadanya saja. Cerpen favorit saya adalah yang melibatkan warung kopi Bu Trinil. Penokohannya kuat, ceritanya pun membumi sehingga mudah untuk jatuh hati pada mereka.
Kalau pun ada satu hal yang ingin saya tanyakan pada Jokpin: "Ada apa dengan kata - pembangunan -?". Karena ia muncul berulang secara konsisten di banyak cerpen sepanjang buku.
Jika kamu mencari buku ringan yang dapat dibaca sekali duduk, antara 30 - 45 menit, dengan cerita yang merakyat dan tak muluk, disela dengan puisi, maka buku ini cocok untukmu.
…. Kasbulah diam-diam tersenyum melihat Pak Susantuy menutup tulisan “asu” dengan cat. “Tak ada asu di antara kita”, kata Kasbulah kepada Salindri. Di buku ini terdapat 15 cerita pendek dan beberapa dari cerita itu adalah “perpanjangan” dari puisi yang pernah beliau tulis. Buku ini mengangkat sekumpul kisah kehidupan sehari-hari dan latar yang digunakan juga sangat dekat yaitu rumah, teras rumah, pekarangan rumah, pos ronda, pasar, dan warkop. Bahasa yang digunakan sangat lugas dan diksi-diksinya sederhana dan mudah dipahami. Namun, makna yang terkandung dalam setiap cerita sangat dalam, mengajak pembaca untuk berpikir. Selain itu, Pak Jokpin selalu khas dengan humor dalam tulisannya yang menambah asyik cerita. Hanya butuh sekali duduk aku sudah menyelesaikan buku ini. Cerita favoritku dalam buku ini adalah cerita yang berjudul “Perjamuan Petang bersama Keluarga Khong Guan”. Kalau kamu sudah pernah membaca kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan pasti tidak asing lagi dengan alur cerpen itu. Silakan kamu temukan bukunya, baca, dan apa cerita favoritmu?
ini ibu budi. ibu budi menunggu budi di atas bangku di trotoar kota yang riuh sekali. ibu budi lelah mencari budi kian kemari, di mana-mana ibu budi bertemu budi, tapi tidak bertemu budi yang ibu budi cari. (ini ibu budi, hal. 64)
Bernostalgia dengan sampul buku yang unik dan berbeda, kemudian berlanjut penasaran dan mencari-cari keberadaan asu pada cerpen-cerpen Jokpin, sungguh itu asu tidak sekadar menghantui setiap kisah, melainkan juga pada kover—lagi mejeng santuy, Ges—dan pembatas bukunya.
Kita mengenal sosok Joko Pinurbo atau akrab dipanggil Jokpin sebagai sosok yang melahirkan banyak puisi yang tokcer. Tak Ada Asu di Antara Kita merupakan kumpulan cerpen perdananya, menyajikan kisah yang terlihat biasa dengan konflik sederhana, tetapi mengusung isu sehari-hari.
My first JokPin book. Sebelumnya hanya tahu beliau adalah penulis puisi. Begitu tahu ada kumcer juga, langsung beli! Setelah baca dua buku kumcer sebelum ini (Manifesto Flora & Sihir Perempuan), sorry to say, this kumcer is quite boring. Ide-idenya terlalu sederhana dan berakhir dengan ending cerita yg tidak jelas. Berkali-kali setelah selesai membaca satu cerita, saya mbatin, “lho terus? Iki maksude opo? Ngene tok tah?” Maybe some people will get it, but again, sorry, it’s not for me 🙏🏻 Yang saya suka dari kumcer ini adalah cover dan ilustrasinya. Sangat eye-catching. Cerita favorit saya cuma satu yaitu “Siraman Rohani.” Karena penjabarannya yg masuk akal kenapa seseorang bisa menjadi nakal atau jahat. Dia tidak terlahir demikian, melainkan society lah yang membuat mereka menjadi jahat. Sisanya, maaf, jika penasaran bisa dibaca sendiri.
📚 Tak Ada Asu di Antara Kita ✍️ Joko Pinurbo ⭐️ 7/10
Peringatan: Buku ini benar-benar asu. Tidak banyak yang beralur maju, banyak bicara masa lalu yang membentuk karakter atau situasi sekarang. Bagi yang suka baca puisi-puisi Jokpin, beberapa nama dan cerita mungkin terdengar familiar, seperti keluarga Khong Guan.
Tokoh-tokoh di kumpulan cerita ini seperti 'Jokpin Universe' dengan Bu Trinil, Subagus, Markiwo, dan sebagainya.
Aku merasa Jokpin Universe jadi keunikan karya Jokpin kali ini sekaligus jadi 'easter egg'. Easter egg lain adalah di permainan kaidah bahasa seperti cerita 'ini ibu budi'. Saya baca ini berulangkali untuk dapat rasa yang berbeda antara membaca sebagai 'Ibu Budi', 'ibu Budi', dan 'ibu budi'. Makin dibaca makin terasa usilnya Joko Pinurbo di sini.
Ekspektasi saya sudah cukup tinggi untuk kumcer yang satu ini. Apa lagi dari penulis kesukaan saya, Jokpin. Tentu, nggak bisa saya pungkiri kalau Jokpin punya keunikannya sendiri dalam menulis. Diksi dan penyusunan kalimatnya seringkali jenaka namun mengena. Sayangnya, dalam buku ini, saya dibuat agak kecewa atas kematangan isi kumcer di dalamnya. Hanya ada 2 cerpen yang cukup memuaskan bagi saya. Sementara sisanya terasa belum menjadi naskah yang utuh dan agak dipaksa untuk diselesaikan. Masih banyak yang belum tuntas dan mengambang.
Ya, tapi nggak papa, sih. Kekurangan dari buku ini nggak akan membuat saya berhenti baca karya-karya lain dari Jokpin. Nyatanya, karya beliau sangat menghibur dan bisa dijadikan pelarian ketika hidup sedang pahit-pahitnya😂
Sejujurnya aku tidak menikmati buku ini. Walaupun isinya kumpulan cerita pendek, tapi aku sulit mencerna T______T bahkan membaca buku yang hanya 100 halaman ini lebih lama dibanding baca novel fiksi 300an halaman.
Buat pembaca gen Z sepertiku, tata bahasa dan jokes dalam buku ini terlalu bapak-bapak jaman dulu. Ditambah lagi ada selipan-selipan tulisan seperti puisi yang semakin membuatku bingung kemana arah ceritanya. Rasanya kaya minjem buku dari rak bacaan eyangku.
Mungkin banyak yang suka dengan kesederhanaan cerita dari buku ini, tapi maaf banget buku ini gak cocok dengan selera bacaanku 🥲 meskipun ilustrasi di dalamnya menarik (covernya pun juga).
Siapa yang nggak kenal legenda penulis puisi ini? Berhubung kemarin-kemarin ada kelasnya beliau tentang buku barunya ini, akhirnya aku minjem salah satu temenku yang merupakan penggemarnya. Jokpin yang biasa nulis puisi jadi nulis cerpen? Hasilnya gimana? Menurutku pribadi, kurang dari puisinya banget (dan ini wajar banget, beliau sendiri yang bilang). Kebiasa nulis yang padat terus dipanjangin, tentunya susah. Meski begitu, cerpennya ada yang menarik banget meskipun ada yang biasa banget. Yang jelas cerpennya hampir sama dengan puisinya, sederhana aja, nggak ndakik-ndakik, dan lucu.
Tak Ada Asu di Antara Kita merupakan Kumpulan Cerpen perdana karya Joko Pinurbo yang menyajikan cerita-cerita dengan konflik yang sederhana namun begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kepiawaian penulis dalam berpuisi menambah semarak cerita-cerita yang ada. Beberapa kata menjadi berima dan puitis (ala Jokpin).
Bahasa yang digunakan oleh penulis juga sangat lugas dan harafiah sehingga sangat mudah dipahami, dinikmati dan diikuti alur ceritanya. Buku ini cocok sebagai bacaan siapa saja, bahkan yang tidak suka baca sekalipun.
Tidak sebagus puisi2nya, cerpen2 Jokpin terkesan ngalor ngidul tanpa plot yang jelas dan endingnya diending2kan karena seolah penulis sudah kehabisan ide. Seperti draft awal yang tidak matang. Saya penyuka cerpen nggantung dan surreal, tapi tidak yang terasa 'apa adanya'.
Meskipun demikian, ada juga cerpen2 yang saya suka. Misalnya, "Kesunyian dan Kehangatan" serta "Cakrawala". Dua cerpen ini terasa dekat dan nyata. Ada ruh si penulis di dua cerita tersebut.
Aku tertarik sm beliau krn beberapa kali dengar puisi2nya. Jd pas ke gramed, aku pilih bukunya. Tp kupilih buku ini (cerpen). Awalnya ekspektasiku bakalan seseru ky kubaca buku2 rusdi mathari. Ini bukunya bagus, ada bberapa cerpen yg kusuka,tp ada cerpen jg aku tdk mengerti maksudnya. Ada kalimat2 yg keren banget didlm buku ini. Apakah ini rekomen utk dibaca?iya dong, ga nyesel jg beli buku ini,sekaligus mengenang sosok almarhum lwt bahasa2nya yg satir & jenaka
✅ Banyak permainan kata khas Jokpin. Kocak & bermakna. ✅ Tokoh-tokohnya merakyat, kayak penjaga warung, tukang bakso, pak RT, anak sekolah, pencopet dll ✅ Bonus puisinya “Salam Monyet” bikin sumringah
Cerita-cerita di buku ini sederhana. Bisa dibilang minim konflik. Itulah kenapa kumpulan cerpen ini cocok dibaca kalau kamu cari bacaan ringan yang bisa habis dalam 1 kali duduk.
Menghadiahi diri di hari Valentine dengan membaca kumpulan cerpen ini pagi tadi. Sangat Jopin lah tentunya. Ada yang bikin berkerut kening, ini apa sih ceritanya, ada yang bikin ketawa sambil berpikir, nakal emang bapak satu ini. Tapi yang paling aku suka, cerpen yang berjudul “ini ibu budi” dan “Perjamuan Petang bersama Keluarga Khong Guan”.
Tulisan cerita pendek dengan bahasa khas Jokpin. Ringan dan menghibur. Sedikit mengulang beberapa isi puisi tapi kalau kalian pembaca karya karya jokpin pasti langsung nangkep. Pengambilan sisi kehidupan yang selalu positif walau kehidupan yang tergambar dalam cerita biasa biasa saja. Yah POV orang Jogja
Lebih menyukai karya-karya puisi Joko Pinurbo dibandingkan novela/kumpulan ceritanya. Tapi ini buku pertama jadi ya okelah. Sederhana namun juga ada beberapa hal kompleks di sini. Saya menyukai ilustrasi berwarna yang ada di hampir awalan setiap judul cerita. Jadi bisa ada gambaran ini ceritanya gimana.
Jokpin yang lebih dikenal sebagai penyair membuat kumpulan cerpen? Jawabannya adalah kumpulan cerita singkat yang memikat. Seperti halnya puisi, kisahnya bertabur metafora yang lincah melalui kursi goyang hingga kopi.
Akhirnya Joko Pinurbo menerbitkan kumpulan cerpen, ceritanya lucu-lucu khas Jokpin. Membaca cerpen demi cerpennya ada ketawa karena lucu. Beberapa judul memang lucu, mirip dengan tokoh Sukab yang diciptakan Seno Gumira. Judul favorit : - Kursi - Cakrawala
Mereka bangkit berdiri dan berangkulan. Pharjudi meng- ucapkan kutipan puisi Leon Agusta yang sangat indah: "Se- mua sudah dimaafkan sebab kita pernah bahagia." Markiwo membalas: "Semua sudah dimaafkan sebab kita pernah goblok bersama."
selalu suka dengan buku kumcer, apalagi ini karyanya alm. jokpin sang pengarang legendaris. ♡ ceritanya ringan semua, cocoknya dibaca kalau lagi senggang. aku suka bagaimana alm. jokpin masih menggunakan banyak kiasan bahkan dalam cerpen. totally loving it!
every single time i finished reading one of the stories i thought to myself is that it. it contains mostly of what feels like unfinished works and just super dissapointing. reading them feels like a waste of time. ada banyak story yang punya konsep yang bagus, tapi gitudeh
Sebuah buku kumpulan cerpen yang menyenangkan! Awalnya beli karena penasaran JokPin yang biasa ku kenal karena Puisinya, kalau buat cerpen seperti apa yah. Ternyata sangat menarik! Rasanya seperti mendengarkan seorang teman bercerita tentang mimpi di tidurnya yang super random dan quirky, setiap hari satu mimpi yang diceritakannya 🤣 Suka juga dengan ilustrasi di buku ini. Konsep “gambar anak SD” sangat sesuai dengan vibes dan tema kumpulan cerpen ini.
Top 3 cerpen favorit: - Anak Batu, Anak Hujan - Kursi Ongkang - Perjamuan Petang Bersama Keluarga Khong Guan