#JBOYFRIEND SERIES (2010-....) Pillow Talk Good Fight With You (dengan Orizuka) All You Can Eat Guilty Pleasure
Come On Over As Seen On TV Marry Now Sorry Later Typo How To Stay Single What A Boss Wants
Mouth To Mouth Move Like Jagger Kissing Strangers Crying In My Porsche Jadi Kita Ini Apa?
#VIMANASINGLES (2015-....) Tiger On My Bed
SINGLE TITLES (2005-....) Jangan Bilang Siapa-siapa Boylicious Macarin Anjing Kissing Me Softly Coklat Stroberi Kepada Cinta (antologi surat cinta) Shit Happens (dengan Windy Ariestanty) Meet Lame Burn Baby Burn Remuk Redam
#HAWTERVERSE (2020-....) SOLAR DIRTY DESIRE TOO SEXY FOR MY EX HAPPINESS CAN'T BUY MONEY BAD BOY FROM HELL PRETTY LITTLE FLING PRIVATE PARTS NIKAH TAHUN INI JATUH CINTA TAHUN INI
The two stars below, symbolizes two compliments from me for this book:
1. Intriguing book cover 2. The fact that it got published
I wouldn't go further about how cliche the theme of 'friends with benefits' goes. There are several things that are simply not logical and doesn't suit GagasMedia's category of a book being published - weren't there rules about this in their website? About the fact that there can't be Mary-Sue characters and a cliche ending?
1. Mary-Sue characters aka flawless characters
There are no ugly people in this book.
So far (yes, I only finished half of the book and peeked the end of the chapter), the characters being introduced are either perfectly built boys or beautiful girls. Even Trina, the ex-girlfriend of Jo was described by Jo as an attractive girl, regardless from the 3rd person narrative mentioned how she dress was uberly tacky.
They're not just physically beautiful, no~ They're smart too. Take an example from Emi: She takes a bachelor degree with a GPA of 3.77 even if the studies she was taking were forced by her father. It doesn't make sense. She is a 'sex-addict', right? She must've been busy with one-night-stands rather than opening a book during her university years. Either that, she must've been really smart to multi-task - maybe even have sex while studying. But why does she end up working as an entrepeneur? With high GPA, a company must've had an eye for the beautiful and smart women, no?
Secondly, she said she is into open-relationship, then why does she fuss when Jo's making fun of the stocks of bra? Emi is able to undress herself easily to strangers, but is annoyed when someone's playing around with new-stocks of bra? Hnn...
As an extra: As a 'hunk', it does not make sense that Jo puts his ringtone with David Archuletta's Crush. David Archuletta's common fans are girls, I just can't imagine someone so manly as Jo listens to Archuletta.
2. Inspired or copying? There are several stuff that reminds me of scenes in chick flick movies I have watched.
When Emi enters Jo's house and said, "Something smells, did you jerk around?" doesn't it remind you a little of Jennifer's Body? Also the fact that Emi tries to calm herself by thinking of Gucci bag and flat shoes - very, very Sydney White's rival inspired. Or copying?
Maybe there are several other things that I've missed. I do sense a Meg Cabot inspired going on when the description of Jo's hot mess, the abs, the butt etc etc.
I am not fond of books that have bad grammar mistakes. I know Pillow Talk is supposed to be a teen-lit, but come on, even Meg Cabot still writes in proper spelling. I find myself cringing every time I find ato instead of atau or kalo instead of kalau.
3. High-maintanence characters You simply can't relate to an oversex character like Emi. Especially if you're an Indonesian. Reading this is like reading a bad Gossip Girl (the TV drama) fanfiction.
4. Miscs I don't know, does this author gets sponsored by Hanamasa, Alfamart, Unilever and all the rest of companies mentioned in the novel?
I wrote this critic simply to state that with these kind of fiction being indulged by the youngsters, I can see the reason why the Indonesian literature isn't progressing to a better stage. Fixing the grammar would be a start. Then the moral of the message or the aftertaste after reading a particular book would be the next to think about. Later, inspiring others to write would be the best achievement of a writer.
Simamora, I'm looking forward for your next work. A much more down-to-earth novel that makes more sense to Indonesian readers.
Emi berjalan maju, mengikuti gerakan Jo yang pelan-pelan mundur dan terduduk di tempat tidur. Ciuman mereka semakin dalam dan dia meletakkan sebelah kakinya di atas tempat tidur. Emi berada di atas pangkuan Jo, merasa sesuatu mengeras di balik celana jeans-nya. Wajah Emi merona ketika menyadari hal itu, tapi tidak terpikir untuk mengakhiri keintiman itu barang sedikit pun. Hal 346
Dan … terjadilah yang terjadi. Paragraf di atas bukanlah adegan pembuka dalam novel ini, tapi adegan itu terjadi setelah sejumlah ‘konflik’ perasaan yang terjadi antara Jo dan Emi. Padahal saat itu, seandainya Emi dan Jo punya akun fesbuk, statusnya masih it’s complicated. Hubungannya dengan Dimas masih menggantung, meski Dimas sudah melamarnya. Sementara Jo masih berstatus in a relationship with Feli.
Emi seorang perempuan yang menarik, dan buat dia ... one night stand is okelah… Sementara Jo digambarkan sebagai lelaki tampan bertubuh atletis. Mereka bersahabat sejak kecil. Namun belakangan, tumbuh benih-benih cinta dan nafsu di antara mereka. Sementara Emi berprinsip tidak akan pernah menjalin hubungan cinta dengan sahabatnya karena takut nantinya akan merusak hubungan persahabatan itu sendiri. Beralasan, karena dia memang pernah mengalami kejadian itu.
Di berbagai adegan, memang sudah terlihat kalau Emi sudah nafsu dengan Jo. Atau mungkin, mulai jatuh cinta pada Jo. Kalaupun iya, dia harus menepis perasaannya karena bertentangan dengan prinsipnya. Kalau disuruh milih pacar atau sahabat? Emi akan memilih pacar. Namun tidak dengan Jo, dia terkesan lebih ‘memprioritaskan’ Emi daripada pacarnya. Jo sepertinya sudah merasakan gejala-gejala jatuh cinta pada sahabatnya itu. Tapi sepertinya tidak yakin, apakah itu cinta atau sekedar suka atau malah nafsu … mungkin. Ringtone dan ring-back-tone telepon genggam Jo pun ikut menggambarkannya. “Has it ever crossed your mind. When we’re hanging, spending time, girl? Are we just friends? Is there more? Is there more?” Crush – David Archuleta.
Jadi, kemanakah arah hubungan mereka setelah “adegan ranjang” itu terjadi? Tetap jadi sahabat saja? Atau sabahat yang bercinta? Atau jadi kekasih yang bercinta? Well, Pillow Talk – Setiap Hati Punya Rahasia. Setiap novel juga punya rahasia, jadi baca sendiri saja ya…
Yang menjadi pertanyaan saya adalah, kenapa judulnya Pillow Talk? Menurut saya, tema dari cerita ini adalah pergumulan Emi dan Jo yang berusaha menepis rasa cinta di antara mereka yang dikuatirkan bisa merusak persahabatan mereka. Singkatnya, sahabat jadi kekasih. Memang, di bab sembilan yang berjudul “A brand new day (and brand new one night stand)” dibahas sedikit mengenai pillow talk. Saat Emi terbangun setelah menikmati sesi one night stand dengan seorang lelaki berambut pirang madu, tapi bu-ra-do alias bule rambutnya doang.
Ah, Emi kenal cowok tipe ini. Tipe yang didoktrinasi oleh orangtuanya supaya tidak nyaman dengan seks dan ketelanjangan. Tipe seperti ini juga yang langsung berpakaian meskipun saat itu seharusnya masih pillow talk. Tipe yang dia suka.Hal 202
Tapi kemudian …
… Tapi, dari gesturnya, jelas banget dia tipe orang yang ‘tinggal’. Tipe orang yang suka pillow talk. Tipe orang yang bakal negerepotin kalo nggak segera diusir.Hal 204
Dua paragraf yang saling bertentangan? Ya, kalau hanya membaca kutipan saya. Tapi tidak bertentangan kalau membaca seluruh bab.
Balik lagi ke masalah judul. Di bab 17 yang berjudul “What Happens in Bali…”, diceritakan bagaimana mereka (Emi dan Jo) terbangun di pagi hari dalam keadaan telanjang, kemudian berbincang-bincang. Mungkin ini yang namanya pillow talk. Saya mencoba meng-googling apa arti dari pillow talk, dan ini yang saya dapat dari http://en.wikipedia.org/wiki/Pillow_talk
Pillow talk is the relaxed, intimate conversation that often occurs between two sexual partners after the act of coitus, usually accompanied by cuddling, caresses, and other physical intimacy. It is associated with sexual afterglow and is distinguished from dirty talk which usually forms part of foreplay.
The content of pillow talk typically includes the sexual act itself, expressions of affection and appreciation, playful humor, casual anecdotes, and stories from childhood.[citation needed] A couple's pillow talk session is often used as a plot device in works of fiction and drama, such as movies and television. It offers a convenient setting for a couple to discuss relevant plot events or reveal new information to each other.
It also can consist of two or more friends talking late at night. The "pillow talking" generally takes place at night and involves talk of romantic interests. The friends do not have to be in the same bed, although this does happen occasionally.
Baiklah, mereka melakukan pillow talk yang aneh, karena perbincangan mereka malah mengaitkan Dimas dan Feli. Maksud saya, apakah saya perlu menyebut-nyebut perempuan lain setelah saya bercinta dengan pasangan saya? Tapi mungkin, Christian mencoba menjaga agar ending-nya tidak langsung tertebak. Hanya saja, urusan pillow talk ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan cerita novel ini. Atau, saya meluputkan sesuatu saat membacanya…?
Pertanyaan berikutnya, pada setiap pergantian adegan, selalu ada gambar sepatu perempuan. Sebenarnya saya suka kalau ada gambar-gambar di buku yang saya baca, bisa membantu menyegarkan mata yang sudah lelah mengeja huruf-huruf. Hanya saja, saya tidak mengerti apa yang diwakilkan oleh gambar-gambar sepatu itu? Mungkin ada yang bisa menjelaskan kepada saya.., please?
Di setiap bab, Anda akan menemukan kutipan-kutipan lirik lagu yang judulnya ada kata ‘friend’-nya. Sepertinya … novel ketujuh Christian ini sedikit dipengaruhi oleh “Stupid and Contagious” dan “Princess of Gossip” untuk ringtone HP-nya Jo. Atau, saya yang terlalu sotoy :)
Oh iya, saya agak terganggu dengan adegan mandi Jo yang lumayan detil, dan kenapa harus lebih dari satu adegan. Sebagai novel dewasa, saya malah berharap adegan yang satunya lagi adalah adegan mandi Emi. Setidaknya biar fair gitu, pembaca perempuan dapat bonus, dan pembaca lelaki juga dapat bonus hehehe *pembaca tidak mau rugi*
Akhirnya, saya harus katakan kalau saya hampir menyukai novel. Hampir? Ya, hampir … bukan karena ceritanya jelek. Tidak. Tapi, karena saya sudah beberapa kali membaca tema cerita yang seperti ini. Saya tidak berani mengatakan sering, takut melangkahi King of Metropop hehe.. Dan bahkan, cukup sering menyaksikannya di kehidupan nyata. Oh tidak, bukan one night stand-nya ya, tapi rasa cinta yang tumbuh dalam sebuah persahabatan. Di tambah – menurut saya – ‘konflik’ perasaan antara Emi dan Jo terlalu panjang, dan malah itu yang membuat novel ini terlihat tebal. Dan sebagai penggemar kopi di pagi hari – kadang di malam hari juga – saya suka dengan gambar cangkir di sampulnya.
tema buku ini klise banget.. co ce bersahabat tp diam2 saling naksir.. tp rasana di kebykan novel yg mengusung tema ini biasana tokoh ce yg diam2 memendam cinta sementara si cowo asik tebar pesona.. Klo di Pillow talk malah sebalikna.
Eniwei, novel ini ceritana cukup ngalir dan kocak.. tadina aq mo ngasih 4 bintang karena suka dg ceritana.. kemudian dikurangi satu bintang krn GA SUKA karakter Emi.. dan akhirna ditambah satu bintang lagi karena gw SUKA karakter Jo.. huahaha ribet amat :P
Kenapa gw ga suka karakter Emi : ~ dia tipe playgirl yg bs pacaran dg bbrp co sekaligus ~ doyan dugem (masih bs diterima) en One Night Stand (totally ga bs nerima!!!) ~ ga mo pacaran dg sahabat sendiri tp mo ML denganna.. istilahna Pasangan Kasual.. jadi bs bermesra2an layakna pasangan tp status teteup sbg SAHABAT ???!!!! En masihhh banyak lg tingkah2 Emi yg bikin gw gregetan. T_T
karakter Jo sebaliknya,lovable banget (buatku hehe) kalo Emi digambarkan ce yg agak2 liar,sebalikna Jo malah agak alim. hobina aja nonton kartun doraemon.. huahaha
Kesimpulan after baca nih nopel, Cowo dan cewe itu sebaikna jangan bersahabat terlalu dekat.. karena itu sangat tidak adil buat pasangan mereka nantina.. jujur,gw kasian banget dg para figuran di nopel ini.. alias para mantan2 Jo dan Emi..
Ps. utk ukuran nopel lokal,PT lumayan hot lhooo.. cukup byk adegan kissing yg cukup detail.. belum lg dua karakter utama yg saling napsu terus.. :D
Mengecewakan sekali. Saya merasa nggak ada esensi dalam ceritanya, intinya cuma sepasang horny twenty-something bestfriends yang napsu terhadap satu sama lain tapi terjebak dalam kondisi friendzone. Semuanya gara2 si cewek trauma pacaran dengan sahabatnya sendiri dulu terus hubungannya ga berakhir mulus, malah merusak persahabatan mereka.
Satu-satunya nilai lebih dari novel ini adalah gaya bahasanya yang cablak dan mengalir khas Christian Simamora. Tapi setelah 2 novel karyanya saya baca, saya merasa agak terganggu dengan frekuensi si pengarang menggunakan kata "cewek itu" atau "cowok itu" sebagai kata ganti orang ketiga. Rasanya maksa dan mengganggu setelah diulang beberapa kali. Ditambah lagi dengan banyaknya typo tanda baca, huruf kapital, bahkan penulisan nama! Bosnya Jo yang namanya Ethan Chang sempat disebut sebagai Erik Chang. Padahal saya baca versi cetakan kesembilan, bukannya seharusnya kesalahan2 semacam itu jadi minimal?
Dari segi karakter, saya nggak sreg dengan tokoh utama, Emi. Sorry to say, tapi cewek itu memang pantas kalau disebut slut, dan itu bukan tipe heroine yang pengen saya baca di novel2 saya. Bitchy, suka maksa, one night standnya keleleran (mau nggak mau saya jadi mikir untung nih anak nggak kena STD akibat kebiasaannya ini) alias penganut budaya seks bebas, bahkan punya orang juga diembat. Meskipun katanya nggak sengaja. Right, whatever. Puncaknya, bisa-bisanya Emi tidur dengan cowok lain sementara dia masih dalam status 'in a relationship', apalagi tahu kalau partner seks aka sahabatnya ini juga sudah punya pacar. Ugh, sejak kejadian itu saya jadi ilfeel juga sama Jo.
Kata-kata sahabatnya Emi, si Ajeng, bener dan ngena banget:
"How come lo bakal jadi istri orang tapi masih nafsu sama sahabat lo sendiri?"
Yup.
Emi juga terkesan whiny, childish dan immature, ironis sekali dengan IP nya yang kata pengarangnya sih 3,77. Pokoknya karakternya sama sekali nggak bikin saya simpatik. Ujung-ujungnya saya jadi nggak napsu baca ceritanya, skip beberapa bagian karena nggak sabar pengen cepet nyelesaiinnya dan move on. Phew. Nggak ada nilai moral yang bisa dipetik dari cerita ini. Not recommended.
Pillow Talk Pengarang: Christian Simamora Penerbit: gagasmedia Cetakan: III, 2010 Karakter: Jo, Emi, Ajeng 462 halaman
[baca ulang] “He will be a BOY FRIEND – never a BOYFRIEND” Itu adalah motto Emilia atau biasa dipanggil Emi. Karena punya kenangan masa lalu yang suram berpacaran dengan sahabatnya sendiri dia selalu menjauhkan hatinya dari Jo, sahabatnya sejak kecil. Dilain pihak, Jo sangat menciantai Emi sejak dulu, enggan mengungkapkan hatinya karena takut persahabatannya akan kandas. Jo mulai takut ketika Emi dilamar oleh Dimas, pacarnya yang mempunyai umur jauh darinya, tapi berkat usaha Dimas yang terus meyakinkan dengan romantisnya, Emi pun setuju untuk bertunangan. Jo menjadi murung, Emi berpikir itu karena dia baru putus dari Trisna, artis kelas teri yang sebenernya bukan tipe cewek Jo. Dia meminta Ajeng, teman sekaligus rekan kerjanya untuk mencarikan cewek untuk Jo, muncullah Feli. Pertunangan Emi pun batal karena Dimas ternyata sudah dijodohkan oleh mamanya dan sewaktu berkenalan dengan mamanya itu Diman mengatakan kalau Emi itu adalah temannya, karena merasa kecewa, Emi putus dengan Dimas dan memulai kebiasaan lamanya, one night stand. Sewaktu liburan di Bali, Emi sadar kalau dia mulai mencintai sahabatnya itu, tapi selalu ada perasaan takut karena dia tidak ingin mengulangi kesalahannya dulu, tidak ingin kehilangan Jo. Jo sangat cemburu melihat kedekatan Emi dengan bosnya dan disana juga dia mungungkapkan perasaannya, hmmm bagian ini paling favorit nih hehehehehe. Lalu gimana tuh nasip Feli? Temanya memang sudah sangat pasaran sekali, suka sama sahabat sendiri, tapi tidak pernah bosan membacanya. Mungkin yang membuat berbeda itu ada adegan dewasa yang memang terekpos disini, gak salah kalau dibelakang sampul tercantum “novel dewasa.” Aku suka karakter Jo, sanggup merahasiakan hatinya dan tahan akan kelakuan Emi yang suka gonta-ganti cowok dan gak jarang menceritakannya “kegitan mereka” padahal dia udah suka dari dulu. Sikap Emi yang plin plan juga lucu, gak biasa menguasai napsunya hehehehe. Ada beberapa typo dimana tidak ada tanda “ untuk memisah kalimat, apa ya namanya, gak tau ah bukan editor, suka covernya dan ada kalimat favorit di hal. 451, “Aku sebenernya pengen nglupain kamu—beneran banget, tapi kalau aku nglupain kamu…aku juga lupa caranya bahagia.”
Ini buku sebenernya udah dipinjemin Winda lamaaa bangets, ada kali (hampir) setahun, hahaha.. tapi berhubung gua lagi ngga tertarik baca buku selain buku anak2, jadilah kebanyakan ngendon tanpa disentuh :p
Nah, sekarang? Mari kita mulai baca :))
~.*.~
*terharuu*
Akhirnya gua kelar juga baca buku yang tebelnya lumayan bener boww.. 450an halaman!
Secara keseluruhan.. mm.. gua kurang nyaman baca buku dengan gaya bahasa seperti yang ada di novel yang satu ini, yang mana antara dialog and non dialog, dua2nya sama2 ngga formalnya, huahahahaha..
Ini masalah selera aja sih sebenernyaa :p
Teruss.. gua juga kurang nyaman baca cerita yang tokohnya orang Indonesia tapi sex scene bertebaran di mana2 dan terasa 'wajar' sewajar makan buat kelangsungan hidup, huehehehe..
Again, ini juga masalah selera :)
Berikutnyaa..
Pas awal2 baca beberapa lembar pertama, gua hampir saja meninggalkan nih buku saking ngga tahannya seperti yang gua sebutkan di atas, ahahahaha.. tapii.. ngga tau kenapa, akhirnya gua terusin, sambil mikir, "Mungkin gua-nya aja kali yang udah kelamaan hanya baca buku cerita anak2 jadinya rada2 kaget pas balik baca buku yang targetnya buat pembaca 'dewasa'".
Setelah selesai baca, I gotta say.. ada sesuatu yang rada 'nagih' dari cara pengarang ini bercerita, hahaha, yang bikin pengen lanjut baca sampai akhir :p
Ada satu hal yang rada2 aneh sih..
Di halaman 149 disebutkan kalo Emi diajak Dimas ketemuan ama ortunya di acara nikahan kakaknya Dimas and di baris berikutnya jelas2 disebut kalo Dimas anak bungsu dari 3 bersaudara.
Tapi eh tapii.. di halaman 174 donks dibilang "untuk ukuran anak tunggal yang sangat dekat dengan ibunya", lhoo? Kedua kakaknya yang diceritain di halaman 149 itu dibuang ke mana? :p
Terus di awal2 khan diceritain kalo Emi dan Dimas beda 15 tahun, si Emi baru 24 tahun sementara Dimas udah 39 tahun, ehh.. di halaman 193 pas Emi bilang ke nyokapnya Dimas kalo dia teman kampus, kok percaya ya?
Maksud gua.. emang sih beberapa cewek terlihat lebih tua dari usianya tapi 15 tahun itu rentang waktu yang lumayan jauh lhoo.. masa iya tampang 24 seumur ma tampang 39? :D
Satu, saya nggak pernah tinggal di Jakarta jadi saya kaget banget baca pikiran-pikiran tokoh-tokoh utamanya yang bener-bener seolah-olah seks udah menguasai semua bagian otak mereka. Bukannya saya anak yang polosnya kebangetan juga sih, tapi bener-bener nggak nyangka novel lokal ternyata isinya sama aja kayak novel luar.
Dua, saya ngerasa kayak lagi baca draft pertama. Banyak banget huruf kecil yang mestinya kapital dan salah ketik yang nggak ngenakin baca. Terus kata-kata yang diulang di paragraf yang sama bikin kerasa repetitif. Dan bahasa Inggrisnya! Banyak banget yang grammar-nya rada-rada miring. Sebenernya semua ini bisa banget diatasi dengan sekali lagi dibaca ulang sama penulis/editornya dan dibenerin. Sayang sekali.
Tiga, temanya sebenernya pasaran banget ya. Tapi cara nyampeinnya lumayan asyik dan bikin saya penasaran dengan, bukan bagaimana endingnya, melainkan bagaimana dua orang ini sampe ke endingnya yang udah ketebak banget bahkan dari liat sinopsisnya. Terlepas dari pembicaraan soal tubuh lawan jenis yang menurut saya way more than needed, cerita ini cukup adiktif. Buktinya saya namatin novel ini cuma dalam dua hari, yang dalam kamus saya berarti saya menaruh banyak harapan. Dan, dengan nyuekin poin satu dan dua, saya cukup puas.
Cukup bikin saya penasaran pengen baca karya Christian Simamora yang lain, soalnya buku ini buku pertama dia yang saya baca. :)
Saya baca buku ini sudah tiga tahun yang lalu, pinjem dari temen kantor. BUkunya tebal dan enak untuk dibaca. Tapi lama-kelamaan boring juga kalau membaca buku setebal itu hanya untuk tema sahabat mencintai sahabat sendiri. Kalimat yang bertele-tele, si cewek penyuka one night stand, dan si cowok sendiri nggak bisa move on dari si sahabat? Entahlah, kalau saya menjadi si lelaki, saya tak akan sebuta itu cinta mati dengan cewek tidak jelas macam (siapa namanya saya lupa). Suka gonta ganti pasangan, penyuka one night stand, pergaulan tidak jelas. Bagaimana nanti kalau dia menjadi seorang ibu kalau tingkah lakunya saja seperti itu? Dan buku ini tidak ada pesan moral yang bisa didapatkan. Dan sangat disayangkan sekali karena buku ini dibuat oleh editor, justru malah membuat buku ini terlihat sekali tidak berkualitas. Penggunaan bahasa yang seenaknya, terlalu tebal namun sama sekali tak berbobot, dan adegan-adegan tak senonoh yang dengan gamblangnya ditampilkan. Heran sekali dengan budaya Indonesia. Kalau editornya sendiri yang buat, terserah mau dibuat seperti apa. Padahal di luar sana, masih banyak sekali naskah-naskah yang jauh lebih bagus dan berkualitas ketimbang milik simamora ini. Semoga saja penerbit lebih selektif dan memiliki tujuan yang baik di tahun 2015 ini, dan tentu saja editornya tidak seenaknya sendiri membuat buku-buku picisan seperti ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel ini benar-benar sesuai dengan label yang terdapat di belakang buku ini, yaitu: Novel Dewasa. Beberapa adegannya ada yang agak "ehem-ehem", namun penjelasannya tidak terlalu gamblang - meskipun pembaca tentunya masih bisa mengerti.
Sebetulnya buku ini menurutku ditulis dengan sangat baik. Setiap bagian diceritakan dengan tidak membosankan, membuat pembaca bisa menikmati setiap halaman.
Tema "percintaan sahabat" ini sepertinya sedang sangat nge-trend belakangan ini (entah mengapa). Akan tetapi, muncul beberapa pertanyaan di pikiranku sendiri tentang tokoh-tokoh yang ada dalam cerita ini. Apakah "kejadian Santo" yang diungkit-ungkit terus itu begitu traumatis sehingga membuat Emi tidak mau pacaran dengan Jo? Tetapi entahlah, karena aku sendiri belum pernah mengalami hal yang sama. :)
Dan mungkin agak sulit bagiku untuk menyukai Emi - menurut penjelasan tentang karakter dan pemikirannya, karena aku secara pribadi beberapa kali tidak setuju dengan cara berpikirnya. Namun justru karena keunikan karakter tokoh dalam cerita ini sepertinya yang membuat novel ini sedikit berbeda dengan cerita "bestfriend love" yang lain.
Meskipun begitu, buku ini tetap berhasil menghiburku dan aku bisa katakan bahwa buku ini tidak membosankan. :)
Buku ini abis dalam 2 hari. Gua sangat menikmati buku ini, well, sampai 3/4nya ketika sudah mulai ketebak gua mulai males2n bacanya. hehehe ...
Ceritanya ttg persahabatan yang menjadi cinta. Simpel sih idenya, tapi krn dibawainnya asik, jadi gua terbawa juga sama jalan ceritanya. ide yang simpel ga basi karena cara penyampaiannya asik.
Personally, gua ga ada komplain apa2 ttg tokohnya. Karena ya gua ga mau protes. Penokohan bukan urusan gua sbg pembaca. Kalo byk orang bilang si Ems terlalu berani ato gimana, ya mnrt gua sih, sah2 aja. Bukan ga mungkin disini ada orang kyk Ems.
Gua suka deh dengan gaya cerita Christian di novel ini yang menjurus2 gitu tapi ga murahan. hahay.. Meskipun endingnya ketebak (banget!), tapi ya sudahlah ya. Malah gua bilang, sangat realistis dan ga mengada-ada. Jd it's okay.
Suka deh pokoknya. jadi, 4 out of 5. good enough. 4 untuk : Ceritanya realistis,dekat sama kehidupan sehari-hari (gua). Gimmicknya dapet. Konfliknya dapet. Tokohnya karakternya kuat2. 1 untuk : moodnya mayan terjaga (ya sampe 3/4nya ketika mulai ketebak. hahaha)
Sebenarnya saya bukan fans berat genre romance. Tapi saya selalu tergila-gila sama novel yang memberi sorotan mendalam pada karakternya. I must say, Pillow Talk succeeded in building lovable characters through piles of conflicts. Konfliknya sebenarnya sangat biasa, tapi di sinilah keahlian Christian dalam mengembangkannya menjadi sebuah worth-to-read.
Dialog-dialognya lincah dan sangat catchy, sekaligus bisa memorable di beberapa bagian. This is indeed, Christian's most memorable work so far. I'm giving 4 stars, with all pleasure after reading it.
Endingnya bisa ditebak :) cukup enak dibaca, walau temanya dah umum banget.. cinta dan persahabatan gitu deh.. n rada dipanjang-panjangin di bagian belakang.
Dan.. gak vulgar ah :P *menurutku lho* Adegan mandi? ada.. tapi biasa-biasa aja:) Adegan ranjang? ada dikit.. tapi tidak deskriptif kok..
Udah ah.. lagi males bikin repiu panjang.. *hihihi, emangnya pernah? ngerepiu aja jarang*
gue paling anti sama buku dari Indonesia, tapi gara2 buku ini pandangan gue berubah drastis. gue suka karakter Jo (Joshua) n Ems, kayak bercermin soalnya
penuturan yang manis dari Christian tentang persahabatan yang mengabaikan rasa saling sayang di antara mereka. Sungguh tidak mudah membina persahabatan untuk tetap jadi persahabatan.
Let say, aku bilang ini tuh cerita klasik persahabatan. Kenapa? Karena pasti tau dong ya, kalo rumornya 2 orang sahabat, apalagi cewek dan cowok, mereka nggak akan bisa murni sahabatan. Entah salah satunya bakalan suka apa gimana, yang jelas nggak mungkin nggak ada yang namanya cinta nggak tumbuh di hati mereka. Nah, hal ini juga terjadi sama Emi dan Jo.
Setiap kisah cinta pasti punya cerita dong, pastinya. Dan menurut aku, meskipun klasik, cerita Jo sama Emi tuh asik buat diikutin. Meskipun kadang sambil baca sambil geregetan juga sama Emi dan Jo, tapi kita dibuat seolah kita sedang berada disana, ngamatin kelakuan mereka berdua yang aslik bikin jengkel, kasian, ngetawain.
Di cerita ini, Emi diceritain sebagai cewek yang playgirl sekaligus penikmat one night stand. Dia gonta-ganti cowok buat nyari the one-nya dia. Dan disaat dia udah yakin sama cowok pilihannya, Dimas, dia malah dikecewain sama Dimas. Akhirya dia memilih kembali ke kehidupannya dia yang lama. Yaitu jadi penikmat one night stand. Tapi apa dia bahagia sama pilihannya itu?
Satu hari, Jo dapet kesempatan liburan bareng anak-anak kantor Aloe International. Liburan kali ini, Jo ngajak Emi sebagai salah sau orang yang boleh diajak ikut liburan. Selama disana, Emi mulai deket sama bosnya Jo, Ethan Chang. Dan Jo jealous banget nget nget. Disaat Jo nyoba berbagai cara buat ngejauhin Pak Ethan dari Emi, Emi sendiri malah bingung sama sikap Jo. Tapi dia mencoba menyadarkan dirinya sendiri. Bahwa perlakuan Jo ini adalah perlakuan kakak cowok ke adik ceweknya. Cuma Pak Ethan yang sadar kalo emang Jo suka sama Emi. Pas Pak Ethan bilangin hal ini ke Emi, Emi malah ketawa dan cuma nyangkal gitu aja. Padahal dalam hati bertanya-tanya. Dasar si Emi yak.
Satu kejadian di Bali, bikin Jo sama Emi mulai kehidupan baru di Jakarta. Mulai dari Emi yang emang nggak mau ngelanjutin hubungannya sama Dimas. Emi yang mulai buka usaha clothingnya. Termasuk pembaruan hubungan Emi sama Jo. Tapiii.. tetep ada tapinya, Emi yang kali ini mulai ragu sama Jo. Takut kalo hubungan mereka naik satu tingkat di atas persahabatan, dan mereka berakhir nggak cocok alias putus, nanti bakalan kejadian kayak Santo, cowok masa lalunya. Dan end up, mereka jadi saling menghindar.
Setelah saling menghindar yang entah siapa yang mulai, Emi mulai kangen sama sosok Jo. Sama kebiasaan mereka. Apalagi Jo, lagi kerja di luar kota. Setiap Emi kangen, Emi cuma bisa dengerin suaranya lewat lagu yang selama ini selalu Jo pake buat ringtone hpnya.
Apa yang bakalan dilakuin Emi pas Jo balik? Udah deh, yang belom punya bukunya, beli bukunya aja. Daripada daku spoilerin. Ini aku cerita segini panjang aja pasti ada yang udah pengen tau, kepo-kepo.
Akhirnya kelar juga baca buku ini! Bukannya gimana-gimana sih, masalahnya pas baca buku ini, ada ajah interupsinya, jadinya gak kelar-kelar. Bayangin deh, minjem buku ini dari awal bulan Juni dan baru kelar 3 hari yang lalu! Artinya: hampir 3 bulan baru beres! Eh tapi, emang baru sempet dibaca sejak 2 minggu lalu kok. Wkwkwkwk. Ooops! Malah jadi curhat ~.~"
Intinya sih, aku gemes banget liat hubungan Emi-Jo! Jo itu such an adorable and hot guy! Salut deh sama kesabarannya menghadapi kelakuannya Emi! Sedangkan Emi itu sepertinya hidup untuk menyusahkan Jo! Eh beneran ini! Bikin sirik emang, tapi mau gimana lagi ya... mereka sudah berteman sejak masa kanak-kanak!
Kehidupan Emi yang jahilliah bener nampak sangat kontras dengan kehidupan Jo yang nampak slow, terutama dalam kehidupan percintaan. Kalau Emi sudah menghabiskan banyak malam bersama pria-prianya (baik yang memang berlabel pacar maupun tidak), maka Jo sepertinya lebih menikmati kehidupan percintaan yang "aman".
Seperti yang bisa ditebak di awal kisah, "dari temen jadi demen" pun memang terjadi pada Emi da Jo. Bedanya, Bang ChrisMor punya gaya penulisan yang lumayan bisa bikin pembacanya kejang-kejang ^^. Kadang kita dibawa pada adegan yang seolah bakalan pas menutup kisah mereka, eh tau-tau malah konflik lagi ujung-ujungnya.
Endingnya sih sudah bisa ketebak ya! Tapi kok buatku terasa kurang greget gimana gituh! Oh well, this is my 1st experience reading Bang ChrisMor book. Aku masih punya beberapa buku lagi sih. Semoga buku-buku lainnya bisa lebih cihuy dan gak sekedar mengumbar adegan hot semata ^^
DEWATASLOT merupakan situs penyedia layanan taruhan online terbaik di Asia yang menyediakan permainan terpopuler dan lengkap di kelasnya. Nikmati berbagai pilihan game seperti sportsbook, e-sport, slots, idn-live, tangkas, live casino, togel hingga tembak ikan di satu tempat.
DEWATASLOT hadir sebagai standar kualitas terbaik pilihan jutaan player yang memiliki sistem enkripsi tercepat. Didukung dengan teknologi terkini yang menghadirkan permainan bebas hambatan ataupun bug. Rasakan sensasi betting online unik, seru dan menantang lewat tampilan dan desain atrakrif. Jangan lewatkan promosi, event dan bonus menarik yang Dewataslot bagikan setiap harinya. Daftar Dewataslot sekarang.
Masih dalam periode sikat abis buku bangse. Makin banyak yang kubaca, makin yakin juga kalau bukunya memang cocok dijadiin sweet escapism atau bacaan ringan dengan romance unyu/nyebelin tapi nagih. Since aku baca buku bangse yang keluaran 2019 duluan, baca buku terbitannya tahun 2010 ini memang beda. I rather say tulisannya memang makin enak, tapi ternyata penulisan nggak bakunya udah ada dari dulu (ex: kalo, ato). Honestly, emoticon sama keterangan nggak pentingnya memang nggak begitu bikin nyaman, and I'm glad di buku-bukunya yang sekarang nggak gitu, sekalipun, yeah, makin panas LOL.
I'm torn between 2 and 3 stars (FWB ini cliche bener dan karakternya terlalu.. uh, gitu deh). Bacanya cepet sih, tapi lebih karena pengen cepet-cepet ke bagian dua curut ini pinter sama perasaan masing-masing, so 2.5 it is.
Sekalipun aku rasa kemungkinan besar belum ada buku bangse yang bisa kukasih full stars, he's officially become my anticipated author. 👌
Novel yang bikin aku jatuh cinta sama karya-karya babang selanjutnya. Ceritanya ngalir gitu aja, selalu ada surprise yang bikin aku tercengang saat babang menggambarkan interaksi antara Jo dan Emi. Ga ada bosan-bosannya deh baca buku ini. Apalagi gambaran karakter si Jo kayak nyata banget buat aku, bahkan aku bisa membayangkan sosok Jo secara visual itu kayak apa. Emi yang emosional tapi apa adanya, bikin aku gemes sekaligus kagum. I love this novel soooo much.
2/5 Terlalu panjang—dan melelahkan—untuk sebuah cerita yang sebenarnya biasa saja. Banyak sub-plot yang kalau dipangkas pun, jujur tidak memengaruhi cerita. Kedua tokoh utamanya sama sekali nggak lovable, baik Emi maupun Jo, mungkin ini juga yang membuat saya malas-malasan baca (terlebih untuk Emi yang, serius, saya sampe rolling-eyes beberapa kali karena kelakuannya). Untung diksinya ngalir seperti biasa walaupun masih terganggu dengan beberapa penulisan deskripsi 'ato', 'mo' dan sebagainya. Ah, dan lagi-lagi, kurang suka dengan penyelesaian konfliknya.
Kisah emi dan jo yang dr sahabat jadi pasangan beneran tuh luar biasa. Sahabat rasa pacar atau pacar rasa sahabat komplit disini ada smua rasanya.Dan lagi2 bang Christian simamora ini berbakat banget bikin hati pembaca ikut deg deg an.
2.5 bintang terlalu biasa, konfliknya biasa aja, padahal biasanya bg chrismor walopun biasa tapi ngeracik kalimatnya menarik tapi gatau kenapa yang ini kok berasa biasa aja ya..
Ga baca sepenuhnya, beberapa di skip keburu bosen dan langsung baca menuju ending. Salahkan mood mungkin lagi ga ok buat baca ini. Well mungkin lain kali coba baca lagi.
"Aku sebenarnya pengen ngelupain kamu--beneran pengen banget. Tapi kalau aku ngelupain kamu ... aku juga lupa caranya bahagia." (hlm 451)
Untuk kesekian kalinya saya membaca #JBoyFriend karangan Christian Simamora. Dan dengan mengesampingkan ceritanya yang gitu-gitu melulu, saya harus adil dengan memberikan apresiasi kepada penulis karena konsistensinya dalam berkarya. Penulis ini konsisten dengan model tulisannya, yang memang disukai oleh pembaca. Dan, ketika pembaca sudah jatuh cinta dengan karyanya (atau dengan salah satu tokoh ganteng-atletis-sixpack-kayaraya yang namanya berawalan dengan huruf J), penulis sudah bisa dibilang menemukan jalannya. Dengan konsisten berkarya di jalannya tersebut, bisa dipastikan karya-karyanya akan selalu ditunggu oleh para pembaca setia. Dan Christian Simamora adalah salah satu penulis yang seperti itu. Dia konsisten berkarya, dan pembaca pun konsisten menyukai karya-karyanya.
Kali ini, kita akan bertemu dengan salah satu J yang bernama Jo. Cerita cinta yang diangkat juga sebenarnya klise, yakni dari sahabat jadi cinta. Sepasang sahabat yang sudah dekat sejak SMA, lalu keduanya diam-diam saling jatuh cinta. Hanya saja, masing-masing terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Keduanya takut bahwa cinta dan persahabatan seharusnya dua hal yang seiring sejalan, bukan dicampuradukkan. Karena, sebagaimana pengalaman, banyak persahabatan yang hancur ketika romantisme muncul di antara keduanya. Jo dan Emi sama-sama tidak menginginkan hal itu terjadi. Bagi keduanya, haram hukumnya jatuh cinta kepada soul mate elu sendiri.
Tapi, kadang, hidup memang lucu (dan ChriMor mampu menangkap ironi kehidupan ini dengan cerdik dalam karyanya ini). Sekuat apapun kita menolak, kadang godaan cinta terlalu kuasa untuk diabaikan. Baik Jo maupun Emi sama-sama mengagumi satu sama lain. Antara keduanya adalah sebuah hubungan saling memahami dan saling mengerti, hubungan yang jauh lebih kental dari sekadar sahabat tapi juga tidak bisa dibilang sebagai hubungan antarkekasih. Di mana ada Emi maka di situ ada Jo. Dan, kedua kekasih masing-masing juga harus paham bahwa antara Jo dan Emi tidak boleh dipisahkan. Mereka harus berbagi. Jo adalah Emi dan Emi adalah Jo, tapi keduanya bukan sepasang kekasih, belum.
Letupan-letupan hasrat berulang kali muncul di antara kedua insan beda jenis kelamin ini. Tapi, keduanya sama-sama mencoba menutupinya dengan berpacaran dengan orang lain. Tapi, sepandai apapun cinta ditutupi, ia akan mendobrak keluar pada akhirnya. Tarik ulur hubungan pun terjadi dan mewarnai sepanjang dan sebagian besar buku ini. Jo yang ngebet pengen pacaran sama Emi. Emi yang mau tapi takut. Jo yang hampir menyerah sama Emi. Dan, Emi yang galau harus menerima Jo atau tidak. Sebenarnya ceritanya gitu-gitu mulu dan bikin ngantuk. Tapi, gaya bercerita penulis yang memang sudah “dapet” adalah magnet yang ampuh untuk membuat pembaca terpaku dalam halaman-halamannya.
Tiga bintang saya berikan untuk novel ini, terutama karena ceritanya yang sepertinya terlalu panjang dan diulang-ulang, padahal endingnya juga gitu-gitu juga. Kemudian, saya juga kurang suka sama sosok Emi yang menganut gaya hidup free sex. Penulis memang bebas mencipta tokoh yang gimana aja dan seperti apa aja dalam novelnya, tetapi—berbeda dengan wanita-wanita lain dalam seri JBoyFriend yang bitchy-nya elegan—si Emi ini bener-bener bitchy yang—maaf—ngilani karena prinsip hidupnya yang menganut seks bebas. Mungkin, Jo bisa menerima Emi apa adanya karena dia sahabatnya sejak SMA. Tapi, entah kalau cowok lain.
Untuk jempol, saya tujukan pada teknik menulis seorang Christian Simamora yang unik sekaligus menarik dengan caranya sendiri. Ceplas-ceplos, sangat terbuka, dan agak-agak dewasa. Penggambaran karakternya juga sangat kuat dan tidak tanggung-tanggung, begitu juga alurnya yang walau klise tapi entah bagaimana mampu membuat pembaca betah berlama-lama menatap buku yang bisa dibilang tebal ini. Dan, sebagaimana di review-review sebelumnya, saya masih sangat menantikan Christian Simamora menulis seri #JBoyFriend dengan tokoh yang asli Indonesia, misalnya Jatmiko atau Jarot.
Buku ini bercerita tentang bagaimana persahabatan berubah menjadi cinta. Standard memang. Bahasanya sangat ringan, konflik nya juga ringan banget. Seperti kebanyakan cerita nyata juga, kalau terkadang, persahabatan bisa berubah menjadi cinta sepasang kekasih. Begitu juga yang dialami oleh Jo dan Emi (tokoh utama dalam novel ini). Ternyata mereka telah memendam rasa suka, sejak dulu mereka masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Sampai akhirnya mereka tumbuh dewasa, rasa itu ga hilang dari mereka. Kedekatan mereka yang boleh dibilang kadang menjadi batu sandungan bagi pasangan masing-masing. Oiya, mereka sendiri sebenarnya memiliki pasangan loh. Namun jauh di lubuk hati Jo dan Emi, sebenarnya merka saling cemburu terhadap pasangan masing-masing.
Buku ini bercerita sangat simpel dan sederhana. Penuturan bahasa nya pun sangat sederhana. Mungkin inilah buku yang durasinya paling cepat saya baca, sampai halaman terkahirnya. Ga butuh sehari looh. Mungkin karena cerita dan bahasanya yang simple. Sebenarnya dari awal, saya sudah bisa menduga bagaimana akhir dari kisah Jo dan Emi. Hanya saya penasaran, seperti apa, konflik yang terjadi diantara mereka, jadi saya lahap habis semua lembarannya. Penuturannya juga sangat simple. Di beberapa bab, ada terselip sedikit bagian sex. Hanya sedikit memang. Dan ada satu bagian yang lost, di kala Emi datang untuk dikenalkan dengan ibunya Dimas, sebagai calon istri, tapi ternyata, ibunya Dimas memiliki wanita lain, sebagai calon istri anaknya kelak. Saat itu, Emi merasa hancur, dia menghubungi Jo, yang sedang pedekate dengan Feli, sepupu Ajeng (teman dan rekan Emi), setelah itu lost aja gitu. Apa yang Jo katakan pada Emi saat itu, jadi seolah di skip. Karena pemaparan setelahnya, justru tentang bagaimana Emi memiliki hubungan One Night Stand dengan pria yang belum dikenalnya. Sangat tidak nyambung menurut saya. Ada beberapa bagian, yang seingat saya juga, seolah-olah ga nyambung dengan yang sebelumnya. Karakter-karakter dalam novel ini juga,sangat simpel, tidak ada tokoh yang antagonis misalnya, yang menjadi pengganggu hubungan antara Jo dan Emi. Justru masalah timbul dari diri mereka sendiri. Sesuai dengan temanya yaitu novel dewasa, jadi terselip adegan-adegan dewasa juga di dalamnya. Ceritanya yang ringan mampu membuat saya ingin tau bagaimana kelanjutan kisahnya. Sebagai buku Christian Simamora pertama yang saya baca, buku ini kurang sukses, membuat saya terkesan dan bilang woooww. Terlalu biasa. Perjalan persahabatan yang berubah menjadi perasaan cinta. Sorry to say, tapi saya ga bisa kasih bintang banyak untuk rating buku bacaan saya, cukup 3 bintang aja kali ini. But eniwey, itu penilaian secara subjectif yaa. Mungkin ada yang suka juga cerita di dalam buku ini. Karena ini semua hanyalah maslaah selera. Hehehehe...
Sebenernya 3,5 bintang sih, tapi nggak pa-pa lah. Empat bintang pun, novel ini sebenernya worth it kok.
Kejadian demi kejadian di sini sesuai banget sama keadaan di dunia nyata, entah gimana Kak Christian jago banget merangkai kata sampe aku nggak ngerasa kalo ini fiksi. Walaupun aku emang nggak ngerti apa tujuan/motivasinya Jo sama Emi, aku tetep bisa menghayati dan mendalami karakter sekaligus kebiasaan mereka. Itu juga sih yang bikin aku nyalahin dan nyumpah-nyumpahin bapaknya Emi pas udah nyampe klimaks mau ke akhir. Kan Emi nggak percaya hubungan monogami gara-gara dia tuh.
Buat Jo, aku emang nemu banyak tokoh kayak gini, like, sering banget. Nah, yang bikin beda justru kepribadiannya, kesukaannya, dan caranya bereaksi sama cewek-cewek (atau keadaan dan tokoh-tokoh lain). Aku ngerasa Jo manusiawi aja. Tapi yah, emang berkebalikan banget sih sama Emi. Aku kaget banget sama fakta yang terkuak pas mereka di Bali. Emi udah ke mana-mana, eh... Jo masih di situ-situ aja. (If you know what I mean, wkwkwkwk.)
Informasi demi informasi yang dijabarin di sini pun sesuai. Nggak sekadar tempelan. Kerjaannya Jo, misalnya. Di bagian hampir akhir, ngaruh banget ke cerita. Terus, keberadaan Ajeng--dia emang penting banget. Nggak sok-sok nasihatin doang atau apa lah. Pokoknya penting dan kudu ada buat Emi.
Plot twist sih, menurutku nggak ada. Cuman aku nggak nyangka aja pas udah ketemu Dimas sama Santi itu. Aku awalnya juga se-desperate Jo kok, nggak bisa ngebayangin gimana bisa nentang Emi dan blablabla (disingkat karena spoiler). Jalinan ceritanya sederhana dan nggak mudah dipahami, tapi aku seneng karena bikin penasaran.
Gaya bahasanya juga beda banget dari kebanyakan novel yang pernah kubaca, kesannya jadi stand out. Semacam gebrakan baru, gitu(?). Tapi aku nemu beberapa typo sih, lupa di halaman berapa. Yang paling inget ya costumer yang harusnya customer itu, yang muncul beberapa kali (tiga kalo nggak salah, CMIIW). Well, still, aku percaya cerita ini bagus dengan caranya sendiri.
Ada beberapa quotes yang ngena banget... menurutku, nggak terlalu berhubungan sama kehidupan Jo atau Emi sih, tapi cocok buat realita di alam semesta #halah.
"Sejak awal dunia ini dibuat, Tuhan menambahkan 'nggak adil' sebagai bagian dekorasinya." --hlm. 298 (Eh, jadi inget ada kalimat yang aku suka pas di bagian mencapai akhir, semacam Emi harus menghadapinya, siap nggak siap.)
"Nggak ada yang benar-benar bisa menggambarkan situasi di masa depan--" hlm. 308 (Masih ada lanjutannya, tapi bagian ini yang bikin aku mengangguk-angguk setuju. So true.)