The Last Concubine, yang dalam bahasa Indonesia berarti Selir Terakhir, adalah sebuah epic love-story, kisah cinta seorang gadis muda Jepang yang harus menerima takdirnya menjadi selir seorang shogun, bertepatan dengan peristiwa runtuhnya kekuasaan Keshogunan Tokugawa, pada tahun 1800-an. Membaca buku ini, membawa kita kembali ke era Edo, zaman kuno Jepang yang luar biasa, penuh keajaiban yang membuat takjub, yang segera akan menghilang bersamaan dengan Jepang yang membuka dirinya terhadap Barat.
Kisah dalam buku ini dimulai ketika tokoh utamanya, Sachi, seorang gadis desa berusia 11 tahun, anak angkat kepala desa Kiso, diangkat menjadi dayang adik kaisar, Putri Kazu. Sachi yang lincah dan berparas cantik, yang memiliki wajah mirip dengan sang Putri, mencuri perhatian Putri Kazu yang sedang singgah di desa Kiso, dalam perjalanannya menuju Edo untuk menikah dengan sang shogun Tokugawa, Lord Iemochi. Sejak saat itu Sachi tinggal di istana perempuan dalam Kastil Edo, di mana para perempuan yang memasuki kastil akan berada di sana sampai akhir hayat, karena mereka adalah milik sang shogun.
Penulis buku ini menggambarkan dengan apik mengenai kastil Edo, sebuah istana yang berisi 3000 perempuan dan hanya seorang laki-laki, sang shogun. Bagaimana keindahan alam dalam istana yang dilengkapi dengan taman, danau, sungai, dan air terjun, keindahan kimono yang dikenakan serta wangi aromanya yang menawan, disulam indah dengan lukisan pemandangan alam membentang dari punggung sampai ujung kaki.
Bagaimana peraturan dan tata tertib dalam istana, tata krama dalam bertemu dengan sang shogun, di mana perempuan harus selalu menundukkan kepala, bahkan mengangkat kepala hanya dibolehkan sebatas melihat kaos kaki sang shogun, bagaimana persaingan yang terjadi di antara para dayang, bahkan antara ibu Suri dan sang menantu, Putri Kazu, dituturkan dalam dialog yang santun.
Sachi yang hanya anak seorang petani, melewatkan hari-harinya di istana dengan belajar menjadi perempuan istana yang terhormat, perempuan yang harus menjaga dirinya dengan tidak boleh memperlihatkan apa yang dirasakannya. Selalu bersikap tenang tanpa perubahan air muka. Bagaimana cara berjalan, cara bicara, membaca, menulis, membuat puisi, bermain alat musik, bahkan belajar bertarung sebagai seorang samurai. Karena istana itu hanya dihuni perempuan, maka mereka harus bisa bertarung untuk melindungi dirinya jika suatu hari ada yang menyerang.
Perubahan drastis hidup Sachi tidak berhenti sampai di situ. Empat tahun kemudian, Putri Kazu menawarkan Sachi menjadi selir sebagai hadiah untuk sang shogun. Sachi harus menjalani proses pernikahan dengan sang shogun, dan segala tata krama dalam kedudukannya sebagai selir, mengadakan kunjungan kepada janda-janda selir shogun yang sebelumnya, harus menghadapi mereka yang cemburu dan iri hati padanya. Beruntung Sachi, ada Taki, sahabatnya yang setia yang menjadi dayangnya sejak ia diangkat menjadi selir.
Namun kehidupan di istana yang serba tercukupi tidak bisa dirasakan lebih lama. Dua tahun kemudian, Lord Yoshinobu, shogun ke-15 yang menggantikan Lord Iemochi, menyerahkan kembali kekuasaan pada kaisar. Perang pun terjadi. Orang utara yang ingin mempertahankan klan Tokugawa harus berhadapan dengan orang selatan yang hendak merebut kastil Edo.
Demi menyelamatkan Putri Kazu, sebagai balas budinya, Sachi rela menyamar menjadi sang Putri dengan dengan menaiki joli sang Putri pergi jauh meninggalkan istana untuk mengalihkan perhatian musuh. Beruntung Sachi, dayang sekaligus sahabatnya yang setia, Taki, bersikeras menemani ke manapun Sachi pergi. Berdua dengan Taki, Sachi merasa siap menghadapi apapun. Maka petualangan keduanya di dunia luar pun dimulai.
Perjalanan panjang Sachi dan Taki meloloskan diri penuh suka dan duka. Pertemuan dengan tiga orang ronin yang menyelamatkan mereka, Toranosuke, Shinzaemon dan Tatsuemon, pertarungan yang penuh darah, bertemu dengan perampok, prajurit selatan, menguji keduanya sebagai perempuan istana yang tangguh. Tak bisa dihindarkan pula benih-benih cinta yang mulai bersemi di antara Sachi dan Shinzaemon. Namun terhalang karena perbedaan status, Sachi yang mantan selir, sementara Shinzaemon hanya seorang ronin, samurai tak bertuan, cinta itu hanya bisa dipendam walaupun semakin berkembang dalam perjalanan mereka, sampai akhirnya tiba di desa Kiso, di mana Sachi bertemu kembali dengan ayah dan ibu angkatnya yang telah lama dirindukannya.
Saat itulah, Sachi diberitahu bahwa ayah kandungnya, Daisuke, telah datang ke desa itu mencarinya. Demi diberitahu bahwa Sachi telah lama meninggalkan desanya untuk menjadi dayang di istana Edo, Daisuke yang sekarang telah menjadi pejabat pemerintahan kekaisaran, langsung menuju istana Edo untuk mencari dan menyelamatkan Sachi.
Dilema melanda Sachi. Apakah Sachi akan menetap dengan damai di desa Kiso bersama ayah dan ibu angkatnya? Akankah Sachi dapat bertemu kembali dengan ayah kandungnya, juga ibu kandungnya? Akankah terkuak masa lalu Sachi? Lalu, kepada siapa Sachi akan melabuhkan hatinya? Kepada Shinzaemon? Ataukah kepada Edward, laki-laki tampan berkebangsaan Inggris yang jatuh cinta pada Sachi? Ataukah Sachi memutuskan untuk tetap terikat setia sebagai janda dari sang shogun?
Yang menarik dari buku ini adalah buku ini cukup kaya dengan informasi tentang sejarah keshogunan Tokugawa, apalagi kehidupan di dalam istana perempuan kastil Edo, serta tentang kondisi Jepang yang sedang mengalami masa peralihan, dari kebijakan politik tertutup beralih ke politik terbuka, di mana terjadi kerusuhan di mana-mana, perang, pertempuran antara pihak kekaisaran dan yang masih setia dengan keshogunan Tokugawa.
Lesley Downer, penulis buku ini mengakui bahwa menulis The Last Concubine memberikan kesempatan kepadanya untuk membayangkan dirinya berada di dunia Jepang kuno yang penuh keajaiban dan berharap membawa para pembaca buku ini bersamanya. Menurut saya, dia berhasil melakukannya, bagaimana dengan Anda?
**
Quote:
”Kau seharusnya tahu, kita tak pantas untuk bertanya. Kau hanya harus menanggungnya” (kata Taki kepada Sachi)