“Ayah mau kau menonton tiga film bersama Ayah setiap minggu. Ayah yang pilih filmnya. Hanya itu pendidikan yang akan kau terima.”
David Gilmour, seorang kritikus film dan penulis asal Kanada, mengatakan hal tersebut setelah putranya, Jesse, yang berusia 16 tahun memutuskan untuk berhenti sekolah. Mungkin 99,9% orang tua lain akan merespons dengan amarah jika dihadapkan dengan situasi yang serupa. Namun, alih-alih larut dalam kekecewaan, Gilmour memilih reaksi lain dan bertanya, “Apa kau yakin?” yang dikemudian dijawab Jesse dengan anggukan penuh keyakinan. Maka, untuk tetap terhubung dengan anak semata wayangnya itu, ia mengusulkan sebuah "kurikulum" unik: menonton bersama tiga film per minggu.
Buku memoar yang sejujurnya terdengar sangat fiktif ini bukan hanya bercerita tentang film, tetapi lebih kepada dinamika hubungan ayah dan anak, pencarian identitas, dan sebuah proses pendewasaan dari relasi keduanya. Gilmour dengan jujur menggambarkan kekhawatirannya sebagai orang tua, betapa ia sering kali merasa gagal sebagai seorang ayah, dan momen-momen kehangatan yang muncul dari diskusi “klub film” yang mereka bangun.
Keputusan nonkonvensional yang secara sadar dipilih Gilmour seakan-akan mencerminkan prinsip parenting bahwa pendidikan tidak selalu harus formal. Kadang kala orang tua dapat menggunakan minat anak—dalam hal ini, film—sebagai alat untuk mengajarkan nilai, keterampilan berpikir kritis, dan komunikasi. Ia jelas memanfaatkan kecintaannya pada film untuk menjaga kedekatan dengan anak remajanya. Dalam ilmu parenting, membangun hubungan berbasis minat bersama (shared interest) mungkin memang salah satu cara efektif untuk memperkuat ikatan emosional.
Sederetan judul film-film klasik seperti The 400 Blows, Basic Instinct, RoboCop, North by Northwest, Giant, The Shinning, Annie Hall, hingga Breakfast at Tiffany's pun diputar dan menjadi bahan diskusi dalam klub film ayah-anak itu. Bermula dari tontonan film, diskusi-diskusi tersebut pada akhirnya mengarah pada topik-topik lain yang lebih serius, terutama hal-hal yang mungkin terasa ganjil untuk dibahas seorang anak remaja kepada ayahnya, yaitu tentang cinta dan hubungan lanjutan yang lebih intim dengan lawan jenis—maksudnya, secara seksual.
“Film-film itu sekadar menjadi wahana kami untuk meluangkan waktu bersama, beratus-ratus jam, dan juga sebagai pemecah kebuntuan sehingga kami bisa mengobrol dengan topik apa pun—Rebecca, Zoloft, benang pembersih gigi, Vietnam, impotensi, rokok.”
Meskipun membaca penuturan Gilmour terkadang membuat kening berkerut karena cukup sulit terkoneksi dengan budaya Barat yang serba bebas, tetapi lagi-lagi... dalam ilmu parenting, komunikasi dua arah yang jujur adalah kunci untuk memahami emosi dan tantangan yang dihadapi anak remaja, sehingga akan membantu mereka merasa didengar dan didukung. Terbukti setelahnya, memang banyak masalah hidup Jesse yang solusinya melibatkan saran dari Gilmour. Atau dengan kata lain, ayahnya memang terlalu banyak ikut campur dengan kehidupan sang anak—dengan konotasi baik maupun buruk.
Terus terang, bagian paling menarik dari buku ini adalah ulasan-ulasan dan trivia tentang film-film yang diputar di klub film mereka. Kritik David Gilmour terhadap para sutradara, aktor-aktor, dan beberapa plot film yang mereka tonton, jelas sekali menegaskan bahwa ia memang kritikus yang piawai.
Kemudian, bukan tanpa alasan kalau film-film yang dipilih Gilmour untuk ditonton bersama Jesse ialah judul-judul yang sudah pernah ia tonton. Selain menandakan kalau ia paham dengan apa yang ingin ia bahas selepas menonton film tertentu, ia juga mafhum kalau terkadang kita justru melihat sesuatu untuk pertama kalinya pada kesempatan kedua. “Kita harus tahu bagaimana hal itu berakhir sebelum kita bisa memahami betapa indahnya hal itu dirangkai sedari awal,” sambung Gilmour, yang entah kenapa terdengar sangat Sinefil™.
Mari kita tutup ulasan ini dengan kutipan lain yang tak kalah sinefil pula:
“Memilih film bagi orang lain adalah urusan serius. Seperti halnya menulis surat untuk seseorang, hal itu bisa mengungkap jati diri kita. Hal itu menunjukkan pola pikir kita, menunjukkan apa yang menggugah perasaan kita, bahkan terkadang hal itu bisa menunjukkan pendapat kita tentang bagaimana cara dunia memandang kita. Karena itu, ketika kita merekomendasikan sebuah film pada seorang teman secara menggebu-gebu, ketika kita berkata, 'Oh, film ini lucu banget kau pasti suka,' hal itu akan menjadi pengalaman pahit jika orang itu menemui kita keesokan harinya dan berkata sambil mengerutkan dahi, 'Seperti itu kau bilang lucu?'”