Satu Truk Pasir
Pernah baca, seorang manipulatif tak punya cukup daya juang menyabari jalan panjang meraih impian, jiwanya dangkal tak muat menampung luka-luka dan kekecewaannya saat gagal. Untuk melindungi diri dari rasa sakit kegagalan, sering memilih memalsukan reaksi lingkungan. Karena impian menjadi orang kaya terlalu sulit, mereka memilih memalsukan kemiskinannya, menjual kepalsuan, dan sebagai gantinya mereka terpuaskan dengan reaksi lingkungan yang percaya mereka seperti yg dicitrakan.
Begitulah Gondo sang supir truk pasir. Kalau kita memakai ukuran orang waras untuk menilainya, pasti kita berpikir dia sangat bodoh, unrealistic, dan konyol. Tapi Emha berhasil sedemikian rupa men-deliver kepedihan dan kesesakan jiwa Gondo yang sudah putus asa 24 karat, ia seperti sudah tinggal sedetik lagi terjun ke bibir jurang, tapi ia melawan, menciptakan kepalsuan tempatnya berpegang terakhir kali dari jatuh. Sakitnya, sempitnya, terasa sekali.
Sembilan putra-putri anugerah terindahku Tuhanku
Ini favorit untuk alasan yang sangat personal. Orang-orang tulus seperti si "aku" ini sering saya temui. Saya akan memandang mereka dengan heran, ingin masuk ke dalam kepalanya dan melihat cara berpikirnya. Jujur buat saya "Aku" ini orang bodoh, orang malas, orang egois, seperti dikatakan kakaknya. Berlindung di balik "nrimo" padahal yang sebenarnya ia malas menjalani beratnya memperbaiki nasib. Tapi sekali lagi, Emha sangat berhasil menjelma menjadi si "aku" dan memetakan jalan pikiran dan perasaan-perasaannya dengan sangat akurat. Emha berhasil membawa saya masuk ke alam pikiran orang-orang sejenis "aku". Saya paham, tercerahkan, dan terjawab.
Saya menikmati semua cerpen di buku ini. Emha membuat alam pikiran tokoh-tokohnya sangat mudah dimasuki.