Jump to ratings and reviews
Rate this book

Aliansi Monyet Putih: Kumpulan Cerpen

Rate this book
“Aku adalah orang asing yang belajar di sini. Meskipun aku bicara bahasa selancar mereka, bekerja dengan mereka, bercanda dan tertawa akan hal-hal yang juga lucu bagi mereka, aku tetap orang asing. Mereka yakin, orang asing selalu kesulitan menyesuaikan diri. Selalu berbicara dengan logat yang berwarna. Selalu dimaklumi jika salah, atau bahkan selalu dianggap salah. Selalu mendapat nilai tambahan sebagai pemakluman karena nilai kami tidak bisa disamakan dengan nilai orang sini.”

Kisah-kisah dalam buku ini adalah potret para pendatang di Jerman. Mereka menghadapi kehidupan serbasulit dan tidak memiliki kesempatan berkompetisi secara adil. Di sisi lain, banyak juga yang kerap mendapatkan pemakluman sebab dianggap lemah dan warga kelas dua yang tidak menjadi masalah bila sesekali salah. Ketika dunia sudah tanpa pagar, mengapa kemanusiaan masih harus dipagari warna kulit, etnis, dan asal negara.

138 pages, Paperback

Published May 18, 2022

5 people are currently reading
68 people want to read

About the author

Ramayda Akmal

11 books15 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (13%)
4 stars
19 (37%)
3 stars
22 (43%)
2 stars
2 (3%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,044 reviews1,975 followers
June 5, 2022
Apa yang kamu sukai dari membaca kumpulan cerpen/kumcer?

Aku selalu takjub dengan bagaimana sebuah cerpen ditutup. Menurutku, menulis itu tidak mudah. Apalagi membuat sebuah cerita dengan jumlah kata yang dibatasi. Penulis yang mampu meramu cerpen bak pesulap jalanan. "Kecepatan" tangannya membuat pembaca fokus pada hal tertentu sebelum nantinya dikejutkan oleh trik yang mengundang decak kagum.

Tak terkecuali Aliansi Monyet Putih, kumcer teranyar @akmalayda (atau akrab disapa mbak Ayda). Apabila pernah mengikuti akunnya, pasti sudah tahu kalau mbak Ayda sedang berada di Jerman. Dan "keterasingan" dari tanah air menciptakan cerita-cerita menarik dalam kumcer ini.

Mbak Ayda menulis tentang tokoh utama berdarah Indonesia yang memiliki problem tinggal di Jerman. Topiknya terasa relevan dengan keadaan. Termasuk kondisi pandemi ini. Imigran, pelajar, pekerja dari negara di luar Jerman harus berusaha keras agar izin tinggalnya bisa diperpanjang. Atau agar beasiswanya tetap mengucur. Rupa-rupa usaha itu ditangkap oleh mbak Ayda menjadi cerita yang tak membosankan.

Misalnya pada cerpen "Lelaki yang Melempar Koin" yang kukutip pada gambar kedua. Seorang Indonesia menjajakan jasa pengantaran kebutuhan sehari-hari kepada orang-orang yg khawatir keluar rumah akibat pandemi. Permintaannya pun beragam, termasuk obat-obatan terlarang.

Aku juga suka dengan cerpen "Tuan Yang Mulia." Sebuah cerpen yang menggambarkan ironi antara kaum papa dengan anjing demi bantuan dari pemerintah.

Aliansi Monyet Putih adalah 11 cerpen yang bisa dibaca dalam sekali duduk. Sebuah kumpulan cerita tentang hidup sebagai "orang asing" di Jerman.

**psst, ketika membaca Lelaki yang Melempar Koin, klien menyebut toko buku Thalia. Aku langsung teringat bahwa itu adalah salah satu toko buku favoritnya @nadawahyu . Semoga keadaan segera membaik sehingga aku bisa menyusul Nada & mampir ke sana.
Profile Image for raafi.
937 reviews455 followers
August 14, 2022
"Kamu tahu, Volker, berada di negeri jauh bagi orang-orang kami, adalah seperti bermain teater. Kami adalah aktor yang karakternya kami putuskan sendiri. Temanku, seorang muslim memilih melakukan dosa yang ini dan itu, tetapi tidak yang lain. Kalau tidak salah, ia main perempuan dan alkohol, tetapi dia tidak makan babi, tidak mau bertato, dan tidak memakai perhiasan-perhiasan." ('Aliansi Monyet Putih', hlm. 53-54)


Budi Darma. Mendianglah yang terlintas saat melakukan pembacaan cerita-cerita karya Ramayda Akmal dalam buku ini. Terlepas dari betul atau salah, begitu yang saya rasakan dalam 11 cerita di sini: asing, jauh, rumit, tapi juga dekat karena tokoh-tokohnya berkenaan dengan tanah air.

Bahkan pada dua cerpen awal, saya kesulitan untuk menikmati. Benar-benar sukar dipahami; entah itu karena latarnya (kesemua cerita dalam buku ini berlatar Jerman atau negara-negara sekitarnya), gaya penceritaan yang masih butuh adaptasi, topik cerita yang diangkat, atau mungkin ketiganya. Ajaibnya, sejak cerpen ke-6 ("Aliansi Monyet Putih") hingga seterusnya saya begitu menikmati. Mungkin mood saat baca cerpen ke-5 dan sebelumnya berbeda, tapi untunglah saya bisa menyenangi cerita-cerita karya pengarang yang satu kota kelahiran dengan saya ini. Hehehe.

Masalah-masalah mahasiswa yang belajar di luar negeri, para pekerja imigran, serta diaspora menjadi unsur yang paling banyak diperlihatkan dari cerita-cerita di sini. Entah mengapa pengarang menyoroti bukan yang indah-indah dari penghidupan mereka di luar negeri, tapi malah yang jelek-jelek (atau sopannya, yang pahit-pahit).

Beberapa cerita favorit saya dari buku ini: "Aliansi Monyet Putih", "Lelaki yang Menabur Rempah", dan "Bayi Cokelat". Honorary mention pada cerita "Pada Suatu Hari, Ombak, dan Camar".

Cobalah baca dan (jika sudah baca Budi Darma lebih dulu) memorimu akan menyejajarkan cerita-cerita dalam buku ini dengan cerita-cerita karya sang mendiang. Bukan berarti ini menjadi hal yang tidak baik dari karya ini sih. Toh secara keseluruhan, buku ini bisa saya nikmati meski sedikit tertatih di awal.
Profile Image for Hadiwinata.
49 reviews
June 29, 2022
Alamak, betapa dahsyatnya buku kumpulan cerita pendek ini!

Jika boleh saya bandingkan dengan buku Ramayda Akmal yang sebelumnya: Tango & Sadimin, sebab baru dua buku ini karya beliau yang sudah saya baca, kumcer Aliansi Monyet Putih saya rasakan jauh lebih berani, liar, menggebrak, menendang, personal, dan emosional.

Saya puas dengan kumcer ini. Dari sebelas judul yang terangkum di dalamnya, saya bahkan bisa mengatakan bahwa tidak ada yang tidak saya sukai atau komentari. Jarang sekali saya menemukan kumpulan cerita pendek yang seperti ini. Biasanya ada satu, dua, atau beberapa yang, saya rasa, tidak cukup baik untuk mendapatkan pengakuan atau apresiasi jujur dari lubuk hati saya terdalam.

Cerita-cerita pendek di dalam buku ini merupakan perpaduan yang pas antara pengalaman empirik, riset, sejarah bacaan (ada cukup banyak intertekstual di sini), cara pandang sang penulis dalam memandang realitas, serta bagaimana hidup ini seharusnya dihadapi.

Saya suka sekali bagaimana Ramayda Akmal merajut cerita, kata per kata, kalimat demi kalimat. Dari awal hingga akhir semuanya terbaca dengan rapi dan indah, baik per cerpen, maupun satu buku penuh. Beliau seolah menulis dengan hati-hati, lamat-lamat, dan penuh perhitungan. Tetapi, kenyataannya, bisa jadi juga tidak seperti itu. Bisa jadi frasa-frasa sastra yang indah dan seringkali mengajak untuk berpikir ulang mengenai hal-hal adalah kesehariannya dalam berbicara.

Sebelas cerita di buku ini, saya rasakan, begitu personal dan emosional. Pembaca sungguh diajak masuk ke dalam dunia-dunia yang terdapat di sana. Beberapa cerpen dituntaskan dengan baik dan saya menganggap cerita itu selesai. Tetapi beberapa cerpen seperti Kunci Kecilnya Sudah Hilang, Aliansi Monyet Putih, dan Bayi Coklat, saya rasakan, punya dunia yang begitu utuh. Saya ingin membaca kisah mereka yang belum lengkap tertulis di buku ini. Mungkin di buku lain. Saya menantikannya, termasuk karya-karya Ramayda Akmal, dalam bentuk apa pun itu, berikutnya.
Profile Image for fara.
284 reviews43 followers
September 29, 2022
Saya nggak tahu mengapa, cerpen-cerpen dalam kumcer ini secara personal justru lebih dekat dengan saya daripada karya Mbak Ayda yang pernah saya baca sebelumnya (Jatisaba), padahal dari segi pemilihan latar, tokoh, dan eksekusi cerita, Aliansi Monyet Putih sangat jauh dari keseharian pribadi saya; Jerman dan keterasingan-keterasingan yang kemudian dicurahkan Mbak Ayda dalam beberapa cerpennya. Seperti soal problematika mahasiswa yang belajar di luar negeri; cara mereka bertahan hidup di tengah himpitan realita yang makin mencekik, pekerja imigran, sampai kompleksitas perburuhan di "Bayi Cokelat" (ini adalah favorit saya karena jadi terbersit salah satu bab dalam Pasung Jiwa-nya Okky Mandasari) terkait lingkaran setan dalam kehidupan buruh yang memuakkan.

Adapun cerpen lain yang menjadi favorit saya adalah "Tuan yang Mulia" yang membahas ironi perbedaan perlakuan dari pemerintah dan masyarakat terhadap lelaki miskin dan anjingnya. Bagaimana Mbak Ayda menuliskannya kelewat sederhana, tapi ide dasar yang membangun jalannya cerita menurut saya justru menjadi kekuatan yang nggak tergantikan. Adapun untuk cerpen "Kunci Kecilnya Sudah Hilang", mungkin ini paling jarang disorot dan underrated di antara pembaca, tapi sumpah, ini mengingatkan saya pada gaya menulis author-author fanfiksi versi edgy nan classy dari AO3 dan Fanfiction.net. Bagaimana romansa dicitrakan serba gamang dan membingungkan adalah senjata author-author fanfiksi favorit saya, dan saya menemukannya dalam tulisan Mbak Ayda (yang jelas lebih sering menulis 'sastra'!). Aduh, pokoknya saya langsung hampa seketika.

Kalau dikomparasi dengan tulisan-tulisan Mbak Ayda yang sebelumnya, cerpen-cerpen di dalamnya memang tampak lebih berani dan menarik. Saya bahkan nggak bereskpektasi sebegininya saat membeli Aliansi Monyet Putih. Barangkali, kutipan favorit juga ada di dalam cerpen 'utama' yakni "Aliansi Monyet Putih" sendiri: "Kamu tahu, Volker, berada di negeri jauh bagi orang-orang kami, adalah seperti bermain teater. Kami adalah aktor yang karakternya kami putuskan sendiri. Temanku, seorang muslim memilih melakukan dosa yang ini dan itu, tetapi tidak yang lain. Kalau tidak salah, ia main perempuan dan alkohol, tetapi dia tidak makan babi, tidak mau bertato, dan tidak memakai perhiasan-perhiasan." (halaman 53-54)
Profile Image for Kuas Ajaib.
10 reviews1 follower
February 6, 2026
The chapter of the man throwing a coin 🤏🏿 🪙

To all the fellow expats out there: moving abroad for better jobs and a steady income is great. But there’s always that missing piece—the closeness of family. Who do we actually share our stories and hopes with? This is exactly what’s happening with Karam, a transporter at Asklepios Hospital, Germany.

This part hits hard, especially if you’re into the #kaburajadulu movement or part of the sandwich generation (at least that’s how I see it).

The Bottom Line: Even when we speak the language fluently, work alongside them, and laugh at the same jokes, we’re still 'the outsiders'. We speak with a colorful accent. We’re often tolerated for our mistakes—not because they’re kind, but because our value is never seen as equal to the locals. It’s the bittersweet reality of being an expat.


Cheers to everyone surviving and thriving far from home! 🍻
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
297 reviews6 followers
June 2, 2022
Merupakan sekumpulan cerita pendek dengan latar kota-kota di negara Jerman. Berkisah tentang "struggle" para pendatang yang kerap kali diperlakukan tidak sama. Tentang hak-hak kemanusiaan mereka yang direnggut secara paksa.

Cerpen ini memberikan gambaran lain kehidupan para pendatang di Jerman. Dimana selama ini, potret kehidupan para pendatang acapkali digambarkan dengan kemudahan dan hal-hal yang menyenangkan. Tapi layaknya kehidupan, akan selalu ada sisi kelam yang menyertai dan tak terelakkan.
Profile Image for Iin Farliani.
Author 6 books5 followers
January 13, 2023
Dua cerpen berjudul Kunci Kecilnya Sudah Hilang dan Aliansi Monyet Putih bisa saya katakan sebagai dua cerpen paling utuh dalam buku ini. Kunci Kecilnya Sudah Hilang mengetengahkan hubungan seorang perempuan dari keluarga Jawa bernama Sarah dengan Druv, laki-laki India putra seorang Brahmana. Cerpen ini begitu dingin menggambarkan relasi rumit keduanya yang melibatkan kekerasan fisik dan emosional. Perihal identitas dalam cerpen ini berkelindan dalam “ruang interior”. Pembaca sudah diberitahu hal itu dari bagian di narasi pembuka cerpen melalui penyebutan “tubuh”__suatu lokus paling dekat dari seseorang untuk mengidentifikasi dirinya__ sebelum sampai kepada siapa tokoh yang akan dihadirkan. “Tubuh” di sini memainkan peran penting sebagai salah satu kode traumatik yang akan banyak bertaburan di sekujur cerita. Fitur “Tubuh” sebagai pintu masuk bagi pembaca untuk mengenali cara pandang tiap tokohnya. Tubuh dalam kacamata Sarah adalah lokus yang paling sering dihakimi. Selain “Tubuh”, ada pula fitur “Cermin” di sini yang tak hanya bekerja untuk menghubungkan jejaring pengalaman Sarah dalam melihat dirinya sendiri melalui “aktivitas bercermin”, tapi juga menegaskan bahwasanya pengalaman ketubuhan Sarah selalu dalam ingatan yang negatif.

Bila cerpen Kunci Kecilnya Sudah Hilang berbicara persoalan identitas melalui pengalaman ketubuhan, di cerpen Aliansi Monyet Putih perihal identitas berkelindan dalam “ruang eksteriror” di mana persoalan politik, pendidikan, kaum intelektual, dan gaya hidup saling memenuhi pembacaan dalam gerak yang dinamis. Berbeda dengan fitur “Cermin” yang menghubungkan Sarah dengan masa lalu di tanah kelahiran, di cerpen Aliansi Monyet Putih ada fitur “Kretek” sebagai penghubung Marquis dengan tanah asal. Tidak seperti Sarah yang melihat “Cermin” sebagai sesuatu yang mengancam, Marquis menganggap “Kretek” adalah bentangan nostalgia yang menghangatkan hati: Cuma satu ini yang tidak mau kuubah. Selain nikmatnya, aku punya ikatan yang kuat dengan kretek. Kepulan asapnya seperti televisi yang menayangkan kenangan dan peristiwa-peristiwa dalam hidupku. (Hal.53)

Selengkapnya esai saya perihal buku “Aliansi Monyet Putih” bisa dibaca melalui link berikut:
https://www.dialektikareview.org/2022...
Profile Image for Launa.
249 reviews51 followers
December 27, 2023
Rating: ★★★✩ (3.5/5)

"Puisi adalah cinta pertamaku. Seperti cinta pertama pada umumnya, kami tidak pernah berjodoh. Tapi namanya cinta pertama, tentu tidak bisa dilupakan. Kegagalan itu, kurindukan dan kubawa ke mana-mana." (Cerpen Peniup Harmonika halaman 22)

Mengetahui persoalan-persoalan nyata di luar negeri melalui orang yang mengalami—atau seenggaknya melihat—secara langsung selalu menarik bagiku. Bagi orang yang bukan dari kelas atas sepertiku aja hidup di negeri sendiri udah sulit, apalagi di luar negeri. Selain karena penulis kesukaan, rasa penasaran atas kehidupan dan kesulitan-kesulitan yang dialami para imigran di Jerman memantik aku membaca kumcer ini.

Lewat tokoh-tokoh yang seorang buruh, pelajar, transporter, dan migran dari berbagai negara, kak Ayda secara gamblang memotret kepedihan dan perjuangan hidup mereka—bagaimana mereka bersiasat ketika menghadapi masalah, mempertahankan hal-hal yang dianggap sebagai bagian dari diri mereka, dan menjalani hari-hari berat dengan tabah agar bisa bertahan hidup.

Cerpen yang paling kusuka: Bulan Lemon, Tuan yang Paling Mulia, Aliansi Monyet Putih, Lelaki yang Melempar Koin, dan Bayi Cokelat. ❤️ Resensi lengkap menyusul~
Profile Image for Faris Alaudin.
8 reviews
February 3, 2025
"'Kamu pasti tak tega melihat budakmu yang tua ini menjadi semakin jelek. Bolehkan jika kubelikan Mathilda satu buah celana juga. Aku harus memperjuangkan cintanya agar ia mau menjadi pelayanmu juga Tuan. Sisanya akan kita habiskan di Lidle untuk membeli roti dan selai yang banyak. Hari ini benar-benar indah,' Joachim berbicra sendiri sementara Tuan menggelosorkan badan di trotoar seperti kelelahan." dalam "Tuan yang Palung Mulia".

"Bahkan ketika aku punya niat baik, semua harus lewat persetujuan pasar, para kapitalis itu. Aku membiarkan iblis-iblis menuntunku melakukan kebaikan. Itu lucu dan menyedihkan. Aku menamai kedelai-kedelai rasa daging itu sebagai kedelai etik." dalam "Kunci Kecilnya Sudah Hilang".

"Marquis mantap mengganti kewarganegaraan. Alasannya sederhana, supaya bisa pergi ke mana-mana dengan mudah." dan "Ia rajin menumbuk sendiri jamu dari resep ibunya, yang seorang transmigran dari Solo," dalam "Aliansi Monyet Putih".

"Institusi ini harus mengganti nama, meninggalkan semua atribut berbau kolonialisme, dan menjaring sebanyak-banyaknya mahasiswa dari negara-negara non-Eropa, terutama daerah yang mereka rujuk sebagai oriental itu, untuk meredam semuanya, mengadilkan segalanya.", "Dan para pendatang itu, di pagi hari, bibir mereka seperti pisau tajam merobek-robek Eropa, tapi di malam hari tubuh mereka meliuk mesra dari satu bar puisi ke bar pusi lainnya, dari satu pelukan bule ke pelukan bule yang lain.", dan "Ingatkah kamu, hari ini tepat dua tahun yang lalu kamu pulang dari Asia. Waktu itu, di bandara kami hampir tidak mengenalimu. Kamu sangat kurus dan gelap, Nak!" dalam "Lelaki yang Menabur Rempah".

"Pembicaraan tentang tubuh, cinta, dan bahasa ini tidak pernah gagal membuat tawa dan api pada diskusi mereka.... Baru dini hari mereka pulang dalam kenyang omong kosong intelektual dan kelegaan bahwa hari mereka berlalu dalam keselamatan." dalam "Pasa Suatu Hari, Ombak, dan Camar".

"Dan terutama mahasiswa yang bisa jadi kiriman orangtuanya telah lama kering, atau butuh ekstra uang untuk gaya hidup baru berupa liburan tiap bulan, atau untuk dikirimkan pulang demi citra kesuksesan." dalam "Bayi Cokelat".
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books51 followers
September 12, 2022
Mulai baca udah lama. Tapi baru sempet menyelesaikan beberapa cerpen hari ini.

Aliansi Monyet Putih ini, mungkin juga karena sama-sama membicarakan keasingan, sepanjang pembacaan mengingatkan saya dengan Orang-Orang Bloomington-nya Budi Darma. Hehe. Bedanya, topik yang diangkat di sini lebih banyak, menangkap latar waktu serta cuaca pagebluk-pandemi, dan settingnya di Jerman.

Ada 11 cerpen dan semuanya bercerita tentang 'keasingan' menjalani hidup di Jerman. Dibanding novel Jatisaba, Aliansi Monyet Putih ini masih 'kalah' dari beberapa sisi. Di Jatisaba, narasinya liar dan sangat natural. Bahkan konfliknya pun kompleks. Mungkin karena yang ini formatnya cerpen kali, ya? Entahlah.

Namun, terlepas dari itu semua, Ramayda Akmal tetap salah satu penutur cerita yang cukup meyakinkan di kesusastraan Indonesia.
Profile Image for Nike Andaru.
1,653 reviews112 followers
December 12, 2022
100 - 2022

Sebenarnya punya buku Ramayda Akmal yang lain juga, tapi ya gitu deh tergerak untuk baca buku yang ini dulu, selain karena terhitung baru terbit, sepertinya lebih mudah dituntaskan dalam sekali duduk.

Kumpulan cerita ini sepertinya settingnya di Jerman, menariknya hampir seluruh cerita tentang bagaimana kehidupan di sana, tentang gelandangan, tentang pekerja imigran, tentang mahasiswa asing yang studi di sana, hingga Aliansi Monyet Putih yang terasa banyak menyentil budaya Jawa.

Judul favorit :
- Pada Suatu Hari, Ombak dan Camar
- Tuan yang Paling Mulia
- Aliansi Monyet Putih
Profile Image for Wahyudha.
451 reviews1 follower
April 8, 2023
Dinamika kehidupan anak perantauan di luae negeri menjadi bahan utama untuk kumpulan cerpen ini.

Apa yang menarik? Tentu saja persoalan tentang culture shock, soal bertahan hidup dengan caranya sendiri (tak ada lagi kadar baik-buruk), perubahan nama juga perubahan identitas sesaat.

Mungkin dalam cerpen para tokohnya sama-sama memiliki mimpi-harapan yang sama yakni KEMBALI.
Profile Image for Alexaaa.
79 reviews
July 4, 2023
Kumpulan cerita pendek menarik dan sangat personal. Cerita yang harus diseriusi, tapi tidak diseriusi juga. Ringan namun membuat kita berpikir dan mempertanyakan kembali budaya yang kita anggap biasa di sekitar kita. Mencicipi rasanya menjadi minoritas saat terbiasa menjadi mayoritas, maupun sebaliknya. Atau bahkan tidak pernah pas menjadi keduanya dan terasing? Tempat kita tinggal kadang bukan jawaban kita merasa diterima.

Cukup menarik untuk bisa menyelami cara berpikir tiap karakter berbeda dengan pengaruh budaya barat, khususnya Jerman dan perbandingan kehidupan di tanah air. Sangat personal. Ada beberapa cerita yang betul-betul saya nantikan kelanjutannya, namun ternyata yaaa ini kan cerpen. Pada saat akan dapat gregetnya, ternyata sudah di penghujung bab. Saya mau menbaca karya lainnya dan menantikan karya lain yang serupa.
Profile Image for Nurria Betty.
Author 4 books4 followers
January 21, 2023
Cakep banget cerpen-cerpennya. Lovveeeee... ❤️❤️❤️❤️❤️
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.