Mengapa Ken Dedes bersedia dinikahi oleh Ken Angrok, sementara dia sangat tahu bahwa Ken Angrok adalah pembunuh suaminya, Tunggul Ametung? Mengapa pula Ken Dedes mengungkapkan rahasia yang pada akhirnya menyebabkan kematian Ken Angrok? 'Tutur Dedes' menceritakan apa yang berkecamuk di benak Sri Nareswari yang menurunkan raja-raja besar Jawa ini dari saat ia lahir--ya, ia ingat kejadian yang mendebarkan itu--sampai menjelang moksa.
Bersumber dari 'Pararaton', Amalia Yunus menghadirkan sosok Dedes yang jauh berbeda dari yang selama ini lazim dikenal. Dedes bukan perempuan pasrah yang hanya berarti kehadirannya karena kewanitaannya bersinar, melainkan seorang pendekar yang pintar bersiasat, bertekad kuat, dan bisa mendapatkan sekutu-sekutu dari sumber tak terduga. Namun, apakah pilihan-pilihannya membuat hatinya damai?
Amalia Yunus lahir di Bangil, Pasuruan, dan saat ini tinggal di Bratislava, Slovakia. Ia meraih juara II Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2021 untuk naskahnya yang berjudul "Berat", yang kemudian diterbitkan dengan judul "Bagaimana Cara Mengurangi Berat Badan". Novel lain yang pernah ditulisnya adalah "Tutur Dedes: Doa dan Kutukan". Naskah dongeng berlatar sejarah Nusantara ini memperoleh penghargaan Pilihan Dewan Juri pada ajang Kelompok Penerbit Renjana Indonesia (patjarmerah) Mencari Naskah (2020).
Amalia Yunus menamatkan studi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Intercultural Communication and European Studies di University of Applied Sciences Fulda di Jerman. Semasa kuliah ia bekerja lepas sebagai penerjemah, penyunting, dan penyelaras aksara. Ia juga pernah berdinas di Kementerian Luar Negeri RI. Saat ini ia menulis di sela-sela pekerjaan penuh waktu dan hobi-hobi lainnya.
Tutur Dedes menceritakan ulang kisah Ken Dedes & Ken Angrok, tapi dari sudut pandang perempuan. Kalau dari blurb-nya, penulis tidak menggambarkan Dedes sebagai perempuan yg pasrah, tapi seorang pendekar yang bersiasat. Bayangin cerita tentang perempuan yg dianggap jadi korban patriarki, tapi berusaha melawan sekuat tenaga.
Latar di kerajaannya mengingatkanku pada The Red Palace yang ditulis oleh June Hur. Gak pingin spoiler, but this book give that badass & smart woman vibe 🔥
Ken Dedes bukan hanya wanita kuat, tapi juga perempuan yang calculated every move carefully 👌🏻 Pinter membaca keadaan, tau kapan harus “ngalah” dan mengidentifikasi celah. Baca buku ini berasa didongengin, tapi malah ga tidur2 karena ceritanya seru. Bagus banget 👏🏻👏🏻👏🏻 Pingin tepuk tangan standing ovation!
Cerita sejarah yang bener2 seru buat diikutin & tokoh perempuan yang menolak ramalan dan patriaki. Perempuan bisa punya pilihan dan tetap berkarya, ga didefinisikan pasangannya siapa.
Biasanya kurang suka sama hisfic karena antara terlalu lambat, atau terlalu sedih (looking at you, Pachinko😂). Tutur Dedes ini heroik, penuh politik & intrik. Pembunuhan, kekuasaan, kerajaan2 ada semua di sini. Yang bikin spesial emang karena dari sudut pandang perempuan ❤️
Aku bener2 merekomendasikan buku ini ke siapa pun, apalagi yg suka cerita2 berlatar kerajaan dan sejarah. Medium-fast paced, lovable character, isu yg diangkat juga menarik banget: inequality access for women & how education can change your life.
Seperti judulnya, buku ini merupakan sebuah kisah hidup yang dituturkan oleh Dedes, atau yang kita kenal dengan Ken Dedes. Kisah ini dimulai sejak kelahiran Dedes hingga akhirnya ia moksa.
Sebelumnya saya sudah pernah membaca kisah Ken Dedes dalam buku Arok Dedes karya Pram, tapi baru buku ini yang mengangkat Dedes sebagai tokoh utama dan pusat cerita, bukan hanya untuk melengkapi kisah Ken Arok. Dedes yang diinterpretasikan Amalia pun adalah sosok yang tidak hanya cantik, tapi juga cerdas, tangkas, dan ahli panah dan berkuda yang handal. Sebenarnya bukan cuma Dedes tokoh wanita berkarakter kuat yang ditampilkan oleh Amalia. Saya terutama tertarik dengan tokoh Anjani, patih dyah lodoyong, dan tentu saja Ken Umang.
Pada bagian tengah buku Amalia berhasil mengejutkan saya tentang interpretasinya akan tokoh Ken Umang, yang tentunya belum pernah ada dan sangat menarik. Mungkin saja ini dimaksudkan untuk memberikan kedekatan dengan isu gender dan seksualitas yang sekarang ini memang sedang cukup hangat, tapi tetap saja ini interpretasi yang menarik.
Awalnya saya agak berat untuk memberikan lebih dari 3 bintang karena saya sudah terlanjut terpikat dengab Arok Dedes karya Pram yang sangat unik, tajam, dan berdaging, yang sama sekali jauh dari mistisisme dan alam gaib. Tapi pada akhirnya bagi saya kedua buku ini sama istimewanya, dengan interpretasi dan pendekatan yang sangat berbeda
Ada banyak hal yang membuat saya sangat menikmati membaca Tutur Dedes. Saya terpikat dengan suara dan karakter Dedes dalam buku ini. Suatu penuturan yang lembut tapi juga kuat. Buku ini juga bisa menyampaikan kisah Dedes dengan ringan sehingga mudah dicerna bagi pembaca yang tidak terlalu menyukai fiksi sejarah yang berat. Karena ringan itu saya jadi lebih bisa menyerap dan mengingat kisah Dedes dan Arok dengan mudah. Ini adalah cara belajar sejarah yang menyenangkan. Saya belajar tentang Perang Ganter saat Tumapel mengalahkan Kediri dengan jumlah prajurit yang hanya 1/6 nya. Pada akhir cerita pun saya jadi tau bahwa ada Candi yang dipersembahkan untuk Ken Arok bernama Candi Kagenengan yang hingga saat ini belum jelas dimata lokasi tepatnya.
Sebuah novel debut yang sangat menarik. Selamat untuk Amalia dan untuk Penerbit Banana yang sudah menemukan naskah ini!
Membaca buku ini, aku membayangkan seorang nenek renta sedang duduk di kursi goyangnya di sebuah panti jompo, bercerita tentang masa-masa kejayaannya dengan nada bahwa ia belum move on dari semua itu, kepada sesama penghuni panti (yang kesemuanya melepaskan alat bantu dengar mereka sementara ia bercerita).
Bila selama ini kisah kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara selalu berpusat di sekitar sang raja, kisah kali ini diceritakan melalui sudut pandang Ken Dedes, permaisuri Ken Angrok pendiri kerajaan Singasari. Dedes diceritakan sebagai gadis putri brahmana yang berkemauan keras dan pemberontak, berlatih memanah dan berkuda serta gemar membaca. Ia bahkan membentuk pasukan pemanah berkuda yang semuanya beranggotakan prajurit perempuan, dan turut andil dalam pemerintahan. Dan tentu saja, kecantikannya melegenda.
Sudut pandang Dedes kukira menjadi daya tarik utama buku ini. Pada masa itu, perempuan seperti Dedes konon langka. Sayangnya, aku merasa gaya bercerita Dedes terlalu berlebihan. Ia berulangkali mengatakan hal-hal seperti, "seandainya aku tahu kejadiannya begitu, aku pasti..." atau, "kelak di kemudian hari kecantikanku akan diabadikan...", atau setiap kali seseorang mengatakan sesuatu padanya selalu diikuti dengan narasi panjang tentang segala perasaan dan pemikirannya. Narasinya terlalu boros dan mendayu-dayu (kurasa mata-mata kerajaan tidak perlu menggambarkan betapa 'terik matahari memanggang punggung para bujangga' atau betapa 'surili dan lutung yang bergelantungan di pepohonan tiba-tiba waspada' saat melaporkan hasil pengamatan mereka). Aku juga tidak paham kenapa setiap percakapan harus dicetak miring padahal sudah dilengkapi dengan tanda baca. Yang paling kocak dan membuatku menggeleng tak percaya, ketika Dedes dalam keadaan koma rohnya melayang berjalan-jalan menyampaikan pesan dan memata-matai seperti Susie Salmon.
Selebihnya, buku ini cukup seru sih, dan menyegarkan ingatanku tentang kerajaan Kediri dan Singosari yang pernah kupelajari di SMP dulu. Aku cuma berharap Dedes tidak sebegitu cerewetnya. Baru mau dilahirkan saja sudah bawel.
Aku tertarik membaca novel karena diceritakan dari pov perempuan. . 'Tutur Dedes' bukan hanya menceritakan tentang pembunuhan raja-raja besar Jawa, tetapi menegaskan bahwa perempuan bisa tangguh bahkan sanggup mengalahkan opresi laki-laki dengan menggunakan kecerdasannya. . Aku suka dengan narasinya yang mengalir dan puitis, juga deskripsi detail tiap tokohnya. Sayang di 3/4 perjalanan, aku sempat merasa bosan karena terasa datar walau terjadi perang yang sengit. But, overall novel ini bisa membuat aku jadi paham tentang drama kerajaan yang melibatkan Tunggul Ametung, Ken Angrok, Ken Dedes dan keturunannya. Aku berharap bisa menemukan buku-buku seperti ini lagi. .
berkisah tentang Ken Dedes, seorang gadis desa yang garis hidupnya telah diramalkan menjadi sebuah tragedi yang besar. titik kehidupannya terus berubah secara dinamis, bermula dari penculikan Tunggul Ametung terhadap dirinya, hingga pada akhirnya ia moksa nyaris tujuh dasawarsa setelahnya.
Amalia Yunus menceritakan kembali kisah Sri Nareswari dengan bahasa yang apik, cantik dan magis. seperti membaca buku sejarah, tapi tanpa rasa kantuk (ini beneran!), bukunya memang seseru itu!
dengan alur yang maju (terkadang maju jauh lalu mundur lagi ke masa sekarang, aku nggak tau gimana jelasinnya😭), penulis mengkisahkan pergejolakan dan konflik kerajaan, dengan keterlibatan Ken Dedes. mulai dari pergantian tahta, kemerdekaan Kerajaan Tumapel, Perang Ganter, dan seterusnya. semua itu dijelaskan dengan detail dan solid.
tapi yg perlu digarisbawahi, buku ini tetap fiksi. mungkin beberapa memang based on true events, tapi buku ini tetaplah fiksi dan nggak bisa jadi acuan yang scientific (?). but still this was a incridible ride!!
diawal buku ini nagih, tapi mulai ketengah gw merasa bosan. tapi diakhir buku gw sangat terpukau, mempunyai pesan moral yang kuat. gw kasih bintang 3 karena terlalu banyak penokohan sehingga membuat gw harus bersusah payah mengingat-ingat tokoh2ny, gw terkejut dibeberapa kejadian yang sat set sat set. tanpa basa basi.. rencana pembunuhan lalu tiba2 sudah terlaksana. tanpa diurai lagi.. secara keseluruhan. aku suka
"Hukum, di negeri ini, hanyalah pajangan. Orang bisa melakukan apa saja yang mereka mau, terutama para pembesar."
Reading Tutur Dedes is such an exciting experience. Gimana ngga exciting kalau karakter utamanya adalah seorang pendekar yang juga pintar calculating her move? Seru juga rasanya mengingat kembali kisah yang sudah pernah didengar semasa sekolah; Kisah Ken Dedes dan Ken Arok.
Tutur Dedes menceritakan kembali kehidupan Ken Dedes dari ia lahir sampai moksa. Berlatar di Jawa Kuno, Mba Amalia Yunus membawa kita kembali menyusuri sejarah yang dibumbui dengan politik, mitos, dan dongeng dengan bahasa yang ringan. Apik banget sih gaya penulisannya, to the point I was easily immersed with the story (something that I found it hard when reading historical fiction). Tutur Dedes benar-benar definisi buku yang kepengen dibaca terus karena seru, but I didn't want it to end quickly because I still want to read Dedes' journey. By the way, aku rasa teman-teman yang terbiasa membaca buku young adult ngga akan kesulitan membaca buku ini!
Ada satu kutipan di buku ini tentang kekuatan perempuan yang diibaratkan air; tampak tidak bahaya, tapi tetesannya yang terus menerus bisa melubangi batu sekeras apapun. Tampak tenang, tetapi bisa menghanyutkan bahkan kereta kuda pun. This quote sums Dedes' whole personality. Ia pintar melihat situasi, tau kapan harus bertindak di waktu yang tepat, mampu memilih sekutu yang mengutungkan untuk dirinya, juga menimbang keputusan dengan bijak. Ia juga mampu memanipulasi Tunggal Ametung selama masih menjadi selirnya.
Apalagi saat Perang Ganter, di saat inilah karakter Dedes ditonjolkan banget! Salut dengan taktik perangnya meskipun pasukan Kerajaan Singasari lebih sedikit ketimbang pasukan Kerajaan Kediri.
Enjoy banget bacanya. Kayanya kalau Mba Amalia nulis buku retelling lagi, aku langsung baca deh tanpa babibu!
“Kelak kamu akan mati oleh keris ini! Anak cucumu juga akan mati karena keris ini! Semoga tujuh raja mari ditikam keris ini.”
Satu lagi buku fiksi sejarah Indonesia that truly blown my mind. Sebelumnya aku belum familiar dengan cerita Ken Dedes sang raja yang membangun Tumampel atau yang lebih akrab dikenal dengan Singasari. Dari buku ini kita juga tahu, bahwa pada dasarnya Ken Dedes juga tak banyak disebutkan dalam sejarah, sebagai perempuan yang hidup pada zaman itu, peran mereka memang dianggap tak penting untuk dicatatkan, tapi pada kenyataannya kehadiran mereka merupakan inti dari kejayaan para pemimpin.
Aku bisa dengan jelas ngeliat gimana kak Amalia nyusun buku ini, well research! Apalagi dengan writing stylesnya yang sangat deksriptif namun tidak bertele-tele.
Truly enjoy this book, it’s so fun with a lot of twist and turn dan karakter-karakter dalam buku ini pun sangat kuat dengan perannya masing-masing.
Ken Dedes bukan cuma seorang perempuan yang diperebutkan oleh Tunggul Ametung & Ken Arok. Lebih dari itu, segala pemikiran & kontribusi Ken Dedes berperan penting terhadap kemajuan kerajaan Tumapel & Kediri.
Set in 1200's century in of one Indonesia's old Kingdom, Kerajaan Tumapel (later known as Singasari), Tutur Dedes is a light, detailed, and atmospheric historical fiction biography book.
Ken Dedes was an intriguing figure who sparked controversy in my history coursebook back then. How she was forcibly taken to be a concubine, helped the assasination of her husband, and later married the assassinator. Wow, sis was bold.
However, like so many other women figure in history, she was never given a chance in our history book to tell her piece. Not much of her story and role was recorded. She was known for her otherwordly beauty and her womb to birth kings. I appreciated how the author managed to provide that. To provide that Ken Dedes was a worthy queen, cunning, considerate, literate, and her life journey was no less important than those kings she birthed.
Tutur Dedes was more than an appropriate book to get to know her. It started with her childhood, her adventure with the archer, Anjani, the kindaping by Tunggul Ametung, her meetings and later deception with Ken Angrok who became her husband, followed by her life in Temapel kingdom. Her roles during the wartime, to the point where she has to pay for the price of her choices, and her death in the end.
✨️What I like from the story: - The character development of everyone involved is top notch. The revenge, or deserving punishment was all there. The deceptions and how the table turned 👌👌👌👌 the war!!! CURSES!!! BERTRAYAL!!!
- The plot. It flew effortlessly through her memory pieces even with no straight timeline.
- The language. A bit flowery in a way that captivate you.
- The setting was detailed and very descriptive. The FOOD omg. It takes no effort to imagine ourselves living in those days.
- The legends and myths. Even if it was more historical than fantasy, these two aspects were quite inevitable considering the time setting of this story.
Some minor notes from me personally would be: - I'd love to have more Dedes motherly figure. How the children were described along with their personalities. Their traits, distinctions, etc. Bcs later in the book, they were the ones who would take the throne, and looking at how bloody thay could be, some backgrounds might make a nice touch.
- The ending. It felt a bit rushy to me. I got this feeling that this book could be longer. A better explanation or plot or deception may be needed.
Overall, it captured Ken Dedes spirit well. How her character strived and how enjoyable it was for the readers to follow her journey.
ALL AND ALL, if you're looking for Asian historical fiction with cunning female lead and KINGDOMS LACED WITH DECEPTIONS , BETRAYAL AND CURSES, go read TUTUR DEDES🤌🤌🤌🤌
Amalia Yunus boleh-boleh saja dianggap pendatang baru. Karya “Tutur Dedes” yang telah menarik banyak perhatian pembaca, diterbitkan oleh @penerbitbanana ini memang adalah debutnya. Bagi pembaca, ada rasa penasaran. Selain bisa menjadikan karya ini sebagai patokan perjalanan karir penulis, pembaca juga berharap menemukan hal berbeda tentang apa yang ingin disampaikan sebagai ‘yang pertama’.
@penerbitbanana menyambut langkah awal ini dengan membuat konsep bagus : mengundang para pembaca pertama hadir dalam forum diskusi terbatas. Di sana kami menyampaikan opini, hasil pembacaan, sekaligus mengkritisi isi, sebelum buku terbit. Hal yang menurut saya; pembaca, bagus juga diikuti para penerbit lain.
Hasil pembacaan saya saat itu mengungkapkan kekuatan novel ini pada bagian narasi. Ia menjadi pencerita kembali legenda Angrok (Arok) - Dedes, dari perspektif Dedes. Deskripsinya panjang, berusaha menggambarkan banyak hal dan detil. Bagi pembaca yang awam dengan sejarah, atau masih ingin melihat sejarah bukan sebagai sesuatu yang sangat lampau, buku ini mendekatkan itu.
Para tokoh dan karakternya familiar di ingatan. Misal, Tunggul Ametung, Mpu Prapanca, Ken Umang, Lohgawe, dll. Hanya perannya yang mungkin saja terlupa. Buku ini mengangkatnya kembali ke permukaan dalam 341 halaman.
Sesuai judulnya, Dedes adalah tokoh utama. Perempuan yang berjasa melahirkan banyak keturunan Raja-Raja Jawa berpengaruh, tapi selama ini perannya mungkin belum dicatat baik dalam buku-buku sejarah arus utama. Ia hanya diingat sekilas sebagai perempuan cantik, selir, dan pusat konflik pertumpahan darah.
Perspektif inilah yang tampaknya ingin digeser oleh penulis, agar pembaca mendapatkan gambaran sosok Dedes lebih utuh.
Dedes di sini bertutur tentang kehidupan dan peristiwa di sekitarnya, tapi di sisi lain, secara tidak langsung menjadi penjelasan siapa dan bagaimana karakternya.
Legenda yang bersumber dari Kitab Pararaton ini sesungguhnya tak pernah mati. Banyak lapisan bisa ditelisik untuk memaknai peristiwa sejarah sebagai sesuatu yang bukan saja pernah terjadi, tapi juga usaha memanjangkan pengaruh hingga lintas generasi.
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2022
3,5 dari 5 bintang!
Ketika mengetahui ada buku yang mengambil sejarah dengan sudut pandang dari Ken Dedes hal ini membuatku tertarik untuk membelinya karena masih sedikit buku-buku sejarah yang mengambil sudut pandang dari perempuan. Seingetku aku baru membaca Cut Nyak Dien: Kisah Ratu Perang Aceh dan The Palace of Illusions yang juga mengambil sudut pandang perempuan sehingga kenapa tidak untuk membaca buku ini
Aku menyukai pemikiran Ken Dedes dari mulai dia diculik oleh Tunggul Ametung hingga sampai dia memikirkan nasib anak cucunya yang tidak bisa lepas dari keris laknat itu. Ken Dedes sendiri digambarkan dengan sosok wanita yang kuat dan tangguh dimana aku melihat pemikirannya, caranya belajar memanah dan berkuda, cara dirinya agar bisa menggali informasi semuanya berhasil memikatku.
Penulis juga berhasil merangkai kisah sejarah panjang di balik tokoh-tokoh kerajaan Kediri dan kerajaan singosari dengan apik. Kita diajak membaca kehidupan Ken Dedes dari sedari kecil hingga masa tuanya dengan melewati masa suka dan duka. Bahkan yang aku salutnya buku ini dilengkapi dengan daftar silsilah keluarga dan juga nama tokoh yang muncul di cerita ini
Referensi utama dari buku ini, katanya dari kitab Parataton. Aku banyak belajar sejarah yang betul dari sini. Tentang sebenarnya kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Yang di banyak buku2 pelajaran sekolah terkenal lewat kisah cinta mereka. Ken Arok jatuh cinta setengah mati pada Dedes sampai rela merebutnya dr Tunggul Ametung.
Padahal, meskipun emang iya, Arok terpukau, tapi tujuannya lebih ke memenuhi ambisi menjadi raja. Apalagi tau kalau bagian kewanitaan Dedes bersinar. Yang konon katanya, pertanda perempuan istimewa dan suci, yang bakal melahirkan para raja.
Ken Dedes ini mengingatkan aku pd tokoh Rara Mendut, di buku karangan Y.B Mangunwijaya. Sama2 membela prinsip dan takdir seorang perempuan. Sama2 berani, pintar. Tapi Ken Dedes menurutku jauh lebih dewasa. Dedes luar biasa cerdik meskipun harus mengorbankan idealismenya sbg perempuan yg pengen bebas, kabur dr istana.
Dia survive, berjuang hidup supaya bisa balas dendam lewat cara2 yg lebih berguna. Berguna buat dirinya sendiri dan orang lain seperti mensejahterakan kaum pendeta, asal muasal orang tuanya.
Dedes nggak lantas kabur dari takdir yg nggak disukainya sbg selir Tunggul Ametung. Dia berontak tp pada akhirnya ikut2an bersiasat politik. Dia gaining power dg mnmbah pengetahuan dn belajar memanah.
Penggambaran Dedes sbg simbol perempuan kuat dan cerdas bener2 bikin semangat. Perempuan itu sebaiknya jangan gegabah, sembrono. Katanya…pakailah kekuatan air, jangan letusan gunung berapi. Air yg kelihatannya tenang tp dalam, senyap tapi diam2 menghanyutkan.
Kisah jatuh-bangunnya Kerajaan Tumapel (Singasari) yang dituturkan melalui suara Ken Dedes, sosok yang selama ini hanya berada di latar belakang.
Terlepas dari keakuratan fakta, penceritaan kembali atau retelling selalu menarik, sebab memberikan sudut pandang berbeda. Saya suka keperkasaan para perempuan dalam kisah ini. Ken Dedes, Anjani, Ken Umang... mereka ikut membentuk jalannya sejarah, bukan sekadar hadir.
Kalau baca kisah-kisah ini tuh ya, kayaknya pada gemar banget melontarkan kutukan. Tujuh keturunanmun akan mati di tangan keris Mpu Gandring, benih kaummu akan musnah dari dunia... Dan dikabulkan semua sama dewa-dewa... Jadi ya udah cuma bisa pasrah aja karena semuanya sudah ditakdirkan. Mau lari ke mana juga nggak bakal selamat. Seperti kisah-kisah pewayangan juga.
Intinya, manusia memang hanya menjalani takdir, tapi selalu persiapkan diri sebaik-baiknya agar hidup yang diberikan tidak sia-sia.
(Lalu teringat obrolan ramai di twitter beberapa waktu lalu. Saat Ken Angrok muda, Universitas Oxford sudah berdiri di Inggris. Andai Ken Angrok memilih merantau untuk kuliah, mungkin tidak ada pertumpahan darah di Kadiri dan Tumapel. Tapi tentu saja itu bukan takdir Ken Angrok 😃)
"Semoga pikiran-pikiran jahatmu dihilangkan dan engkau mendapatkan pencerahan. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sadhu... sadhu... sadhu..."
Menceritakan tentang Ken Dedes dari awal kelahirannya, pernikahannya dengan 2 raja Tumapel, kehidupan pernikahannya, anak-anaknya hingga akhir hayatnya.
Menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu dari sudut pandang Ken Dedes, membuat pembaca mampu merasakan betapa lembut dan kuatnya hati seorang Ken Dedes.
Buku ini page turner sekali. Ditulis dengan sangat mengalir kosakata yang mudah dipahami dan alur yang cepat, tapi emosi Ken Dedes selaku karakter utama tetap tergambarkan dan tersampaikan dengan baik kepada para pembaca.
Seandainya buku pelajaran sejarah di sekolah ditulis dengan indah dan mengalir seperti buku Tutur Dedes ini, rasa-rasanya sejarah akan menjadi pelajaran favoritku 😁.
Terima kasih sudah menelurkan karya ini, Kak Amalia Yunus. Ditunggu karya hebat lainnya 😁
top 1 buku yang aku baca di 2024 sejauh ini! Suka banget, karena beneran membawa cerita baru dari memori kita, yang mungkin kebanyakan tahu Ken Dedes dari materi IPS kerajaan hindu buddha. Mengangkat kisah sejarah dari sudut pandang Ken Dedes, perempuan tangguh yang jarang kita dengar sudut pandangnya. Dan menurut aku pribadi pembawaan penulis sangat ciamik, bener-bener memberikan kesan yang dalam tentang seorang Ken Dedes yang selama ini kita tahu seakan "diam saja".
Buku ini keren banget. Buat kalian yang suka cerita-cerita sejarah, atau suka cerita yang berhubungan dengan perempuan, wajib banget baca buku iniiii
she is an icon, she is a legend, and she is the moment!! #girlboss
Novel ini membawa angin segar ke dunia historical fiction Indonesia. Selama ini kita selalu disuapi dengan kisah sejarah yang haus akan kekuasaan dan kekayaan, tapi novel ini membawa sesuatu yang berbeda!!. Suara dari peran pendukung dan wanita pula tentang kesetaraan gender dengan pembawaannya yang ringan.
Mengangkat Ken Dedes sebagai tokoh utamanya dari lahir, punya privilege untuk akses pendidikan dan memanah, diculik, hingga akhirnya jadi selir. Novel ini benar benar membuktikan segalanya ttg patriarki di zaman kapan pun bahwa menjadi seorang wanita itu ternyata gak mudah (banyak keterbatasan, padahal perempuan sama kuatnya, sama pinternya, seharusnya diberi kesempatan yg sama!!).
Dalam kisah Singosari, sejauh ini saya mendapatkan dua lensa. Pertama dari buku sejarah sekolahan yang membosankan, dingin, & anehnya memberikan bobot mistis pada kutukan keris Mpu Gandring serta pengaruhnya dalam garis penguasa. Kedua dari novel "Arok Dedes" karangan Pram yang memberikan bobot politis amat kuat pada kehidupan kerajaan di Jawa kala itu beserta upaya2 ulung Ken Arok menggalang massa, kekuatan, & dukungan.
Amalia Yunus tampaknya datang dengan pertanyaan menarik: di mana perspektif perempuan di kisah ini?
Ken Dedes selama ini hanya dikenal sebagai istri Tunggul Ametung & kemudian diperistri Ken Arok. Suaranya tenggelam dalam heroisme pria2 haus kuasa, dari generasi ke generasi. Tak digumuli bagaimana perjuangannya menjalani hidup yang sungguh berwarna. Mulai dari proses bertumbuh sebagai anak pemuka agama, diperistri paksa, suaminya dibunuh, diperistri pembunuh suaminya, melihat suami barunya meminang kekasihnya yang lama sebagai istri kedua, menghadapi perang & berstrategi dengan ulung, membesarkan anak2 dalam konteks kerajaan ekspansif, melihat lagi suaminya dibunuh bahkan oleh anaknya sendiri, melihat anaknya dibunuh anaknya yang lain, & menjalani kehidupan di antaranya dengan ketangguhan khas hingga ajal menjemput.
Amalia menuliskan semua di atas dengan indah, seolah2 Dedes sendiri yang menuturkan kisah hidupnya, beserta segala doa & kutuk. Imajinasi yang dimainkan mendobrak cara pandang akan kisah2 kerajaan yang begitu maskulin. Sisi femininitas perempuan berdaya yang mana Dedes digambarkan begitu hidup. Perempuan yang bagaikan tetesan air yang pelan2 menghancurkan batu. Sisi keperkasaan lemah lembut yang unik, yang juga ditampakkan oleh Anjani, sang pemanah yang menjadi mentor Dedes, juga oleh Ken Umang yang begitu memesona Ken Arok.
Novel fiksi historis ini adalah tentang mereka ulang & memberdayakan suara perempuan yang lantang namun begitu ingin dibungkam laki2. Kisah ini mengajak kita memandang Singosari maupun kisah sejarah & legenda lainnya dengan menggemakan pertanyaan yang harus lebih sering diucapkan: sudahkah melihatnya dari perspektif yang terpinggirkan?
Walaupun beberapa bagian agak membingungkan karena timeline maju mundur, dan ditulis dari POV orang pertama yang berbeda-beda, pada akhirnya buku ini satisfying buat diselesein.
Awalnya aku coba cross-check untuk tau mana yang fiksi mana yang fakta. Tapi ternyata sumber aslinya—yang adalah kitab Pararaton—juga membaurkan fakta dan fantasi. Kisah Ken Dedes juga cuman dibahas sedikit di sana. Jadi ya inilah kisah paling “lengkap” yang bisa kita dapat tentang wanita hebat ini 🥲
Scene perangnya seru! Suka juga nemuin banyaj hal yang disinggung sedikit di awal, tapi ternyata jadi poin penting plot di akhir, rasanya kaya every happenings are meaningful.
Isu gender juga diangkat di sini. Seperti Anjani yang harus membuat busur panah sendiri karena tidak ada yang membuat busur panah untuk perempuan. Ada juga cerita Ken Umang yang… ah udahlah baca aja hehehe.
Narasi yang dari dulu sering kita temukan perihal Ken Dedes ialah ia hanya dikenal sebagai pendamping Tunggul Ametung dan Ken Angrok. Namun dalam novel Tutur Dedes - Doa dan Kutukan (2022) karya Amalia Yunus, kita melihat Ken Dedes sebagai pusat, tampil sebagai perempuan cerdas yang tak patuh pada derita keadaan. Amalia Yunus menggeser posisi Ken Dedes dari yang minor menjadi inti. Dengan teknik analogi yang digunakan di beberapa bagian, kita melihat bagaimana Ken Dedes membahasakan diri dengan segenap kemampuannya. Ada “pertarungan senyap” antara Ken Dedes dan Tunggul Ametung yang dibandingkan seperti sunyinya dunia semadi dengan dunia kasatmata yang kacau-balau. Ada kekacauan perang yang keadaannya mirip dengan situasi ketika Ken Dedes dilahirkan sehingga semangat untuk hidup saling beirisan dengan pertaruhan akan kematian. Ada repetisi fitur “cermin” yang ternyata kelak menjadi siasat perang yang digunakan Ken Dedes, strategi itu pun menuai keberhasilan. Sisinya sebagai perempuan kuat kita dapati di sebagian besar isi novel, pun sisinya yang manusiawi kita temukan ketika ia menyesal tak bisa memberi waktu dan tenaga berlebih untuk merawat anak-anaknya dengan baik.
Hal paling menonjol dalam novel ini adalah keluar-masuknya narator di antara waktu cerita (masa hidup Ken Dedes) dengan waktu penceritaan (narator sebagai agen yang menyapa pembaca masa kini). Antara waktu cerita dan waktu penceritaan itu menimbulkan tensi atau ketegangan. Pembaca ikut menyelami kehidupan masa lampau, tapi oleh narator kemudian disadarkan bahwa semua itu hanya dongeng. Ketika narator berperan sebagai Ken Dedes, pembaca seolah berada pada masa kerajaan Tumapel melihat semua yang terjadi dengan paduan berbagai referen yang saling memperkaya dan memperkuat alur cerita. Sebaliknya ketika narator bertindak sebagai agen, ia mempertebal kesan bahwa pembaca sedang disuguhkan “dongeng modern” dengan gaya penceritaan yang amat lancar.
Beberapa referen yang bisa kita temukan di antaranya teknik memanah, cara membuat busur, perawatan tali busur, tata cara mandi anggota kerajaan, seluk-beluk kehidupan selir, cara belajar berkuda, cara mengusir ular berbisa, ramuan obat dan masakan. Risiko menyusupkan banyak referen dalam fiksi seringnya membuat “beban” dalam cerita, tapi dalam novel ini takaran berbagai referennya “betul-betul pas”. Tidak sebagai tempelan, namun berpengaruh pada semesta cerita yang dibangun, menimbulkan spektrum yang luas. Misalnya pada bagian ketika pembaca memperoleh banyak informasi perihal busur panah, di situ kita juga mendapati bagaimana pandangan karakter tokoh Anjani yang merasa belum ada siapa pun yang pernah memikirkan untuk membentuk pasukan perempuan sehingga para perajin hanya membuat busur panah yang ukurannya besar dan berat, hanya mampu dipanggul oleh laki-laki. Ken Dedes pun belajar pada Anjani bagaimana membuat busur panah yang nyaman untuk digunakan perempuan.
Hal menarik lainnya, judul setiap bab yang mempertegas judul utama “doa dan kutukan”. Setiap bab diawali dengan kata “semoga” yang menyiratkan harapan atau doa, tapi secara ironi isi babnya pun kutukan. Bagian menarik yang mempertegas situasi doa dan kutukan itu semisal konflik penguasa dengan pemuka agama. Sangat menarik melihat upaya mahabiksu mengingatkan sang Prabu akan hak-hak rohaniwan yang dihilangkan akibat zalimnya kekuasaan.
Akhirnya, membaca novel ini kita seolah disuguhi lanskap yang kaya warna. Hingga bab terakhir, barangkali kesan yang tertinggal seperti iringan kupu-kupu pada kematian Ken Dedes yang perlahan menjelang.
Tutur Dedes: Doa dan Kutukan dibuka dengan mistis dan ditutup pula dengan itu. Penokohan Ken Dedes di buku ini tentu saja menarik jika dibandingkan dengan sumbernya, Pararaton. Layaknya Helen di Perang Troya, Ken Dedes menjadi tokoh menarik dengan moral yang agak abu-abu. Penggambaran Ken Dedes sebagai perempuan yang tidak hanya kuat, cerdas, dan mandiri tetapi juga feminin terasa segar karena tidak biasanya perempuan diizinkan kuat dan feminin di dalam sejarah. Namunn, aneh rasanya ketika kecerdasan itu tidak dimanfaatkan dalam beberapa momen penting. Misalnya, ketika Ken Dedes harus menyembunyikan keris Mpu Gandring tetapi yang dipilihnya malah ujung sudut kamar, atau ketika Anusapati meminta pendapat Dedes mengenai hak warisannya, hingga ketika Anusapati meracuninya. Selain itu, Ken Dedes juga terkesan hipokrit ketika menceritakan tentang nasib Ayu Aryanti, sehingga narasi pemberdayaan perempuan yang dibangun di awal buku lewat karakter perempuan kuat seperti Ken Dedes, Ken Umang, dan Anjani, terkesan sia-sia ketika Ken Dedes, salah seorang perempuan kuat itu, menepiskan penderitaan perempuan lain. Padahal di bab sebelumnya Ken Dedes sudah disadarkan akan privilise yang Ia miliki.
Selain itu, buku ini memiliki pacing yang aneh. Halaman satu kita berencana membunuh, halaman selanjutnya sudah terbunuh. Halaman satu Prabu Dandang Gendis tewas, halaman selanjutnya kembali ke narasi hari pertama Perang Ganter. Hal ini terlihat makin jelas setelah kematian Ken Angrok, narasi terasa semakin diburu-buru. Ken Angrok tewas, Anusapati naik takhta, Anusapati tewas, Tohjaya naik takhta. Pilihan penulisan narasi di beberapa bab terakhir ini membuat fokus buku bukan lagi tentang sudut pandang Ken Dedes, tetapi bagaimana imajinasi penulis tentang kejadian Pararaton. Namun, mungkin saja penggunaan pacing yang terburu-buru ini memang keinginan penulis untuk menggambarkan power vacuum yang terjadi sepeninggal Ken Angrok. Jika iya, maka pilihan tersebut menarik secara konsep tetapi melelahkan untuk diikuti.
Secara keseluruhan, Tutur Dedes: Doa dan Kutukan adalah buku yang asyik dan lumayan menggugah pikiran. Tidak satu dua kali aku temukan diriku, ketika membaca buku ini, tertarik mencari lebih dalam tentang sejarah Singhasari dan kebudayaan Jawa yang belum benar-benar aku kuasai kecuali ketika di kelas sejarah waktu SMP dulu. Ken Dedes, yang diceritakan kepadaku sebagai seorang dewi, digambarkan sebagai manusia yang tidak sempurna di buku ini dengan pilihan hidup yang baik serta buruk sehingga walaupun agak bertentangan dengan pesan pemberdayaan perempuan, penokohoan Ken Dedes tetap terasa manusiawi dan dekat di hati. Meskipun memiliki penokohan yang inkonsisten dan pacing yang agak berantakan, Tutur Dedes: Doa dan Kutukan menjadi buku bacaan yang wajib dibaca untuk penggemar fiksi sejarah terutama untuk kalian yang menginginkan perspektif perempuan di zaman ketika suara perempuan tidak dituliskan di prasasti-prasasti sejarah.
Buku ini mengangkat kisah tentang Ken Dedes yang dulu hanya ku ketahui sekelumit kisahnya dari buku sejarah zaman SMP. Dulu aku hanya tahu bahwa Ken Angrok membunuh Tunggul Ametung yang merupakan Akuwu Tumapel dan menjadikan Ken Dedes sebagai permaisurinya. Buku ini menceritakan versi lebih panjang dari kisah itu dari sudut pandang Ken Dedes.
Dikisahkan Ken Dedes lahir dari kasta Brahma yang merupakan kaum terpandang pada masa itu. Pada masa kelahirannya, ia mendengar suara yang mengatakan bahwa namanya adalah Dedes. Suara itu pun berkata bahwa Dedes akan menjadi perempuan yang punya kuasa dan akan melahirkan raja-raja hebat namun akan ada akhir yang sepi yang menanti Dedes di akhir hayatnya. Suara itulah yang ku rasa menjadi inti dari kisah di buku ini karena seberapa kuatnya Dedes menghindari takdirnya, semesta tetap membawanya menjalani kehidupan yang memang sudah digariskan sejak ia lahir.
Ayahnya membesarkan Dedes agar menjadi tangguh seperti anak laki-laki dan berkat hal ini Dedes tumbuh menjadi perempuan yang gigih dan keras kepala. Namun kehidupannya jungkir balik ketika ia diculik oleh Tunggul Ametung dan dipaksa menjadi selirnya tanpa restu dari orang tua Dedes. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Dedes di istana Akuwu Tumapel pada saat itu tapi karena Dedes dibesarkan sebagai perempuan yang tangguh, ia tetap berusaha untuk melawan sampai akhirnya Ken Angrok menuntunnya pada kebebasan yang ia dambakan.
Sebenarnya, jika dirunut secara keseluruhan, isi buku ini tidak melenceng jauh dari sejarah yang pernah ku tahu dan penulisnya sendiri bilang bahwa ia memang berpegang dengan fakta-fakta sejarah. Namun karena dalam sejarah kisah tentang Ken Dedes hanya disebutkan tipis-tipis, ada banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benak penulis hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjawab pertanyaannya sendiri dengan membuat sosok Ken Dedes yang tangguh, berkemauan keras, dan penuh pertimbangan. Aku suka dengan cara penulis membawakan kisah ini langsung dari sudut pandang Ken Dedes secara detail sampai aku tahu apa yang ia pikirkan dan rasakan. Beberapa peristiwa penting seperti Ken Angrok yang membunuh Tunggul Ametung dengan keris setengah matang buatan Mpu Gandring dan Perang Ganter pun diceritakan dengan sangat detail yang membuatku seolah sedang menonton film seru yang gak mau aku pause sampai ceritanya selesai. Aku juga jadi penasaran dengan Kitab Pararaton yang menjadi "kiblat" sejarah yang terjadi dalam buku ini.
Secara keseluruhan, aku sangat menikmati isi buku ini yang terasa fresh dan memberi sudut pandang baru tentang sejarah Indonesia
Nama Ken Dedes tidak asing untuk orang Indonesia, tapi biasanya pemahaman tentang sosoknya tidak lepas dari Ken Angrok (atau Ken Arok) dan kisah mengenai keris buatan Mpu Gandring. Melalui Tutur Dedes, Amalia Yunus mengisahkan cerita hidup Dedes dan kepribadiannya sebagai individual yang terlepas dari pasangan hidupnya.
Buku ini jadi menarik karena dua hal: sudut pandang perempuan dalam sejarah yang memang didominasi lelaki, dan kelihaian penulis dalam mendekatkan sejarah dari ratusan tahun silam ke masa kini. Meskipun Pararaton, kitab yang menjadi sumber utama novel ini tidak bisa dibilang sebagai sebuah sumber sejarah murni, kisah yang ada di dalamnya memberikan gambaran tentang tatanan sosial politik masa Jawa Madya. Buat saya pribadi, melekatnya budaya Hindu-Buddha di masyarakat kala itu menjadi sesuatu yang menarik, mengingat sekarang baik penganut Hindu atau Buddha malah menjadi minoritas di Indonesia.
Tutur Dedes juga menceritakan tentang identitas gender: bagaimana sejak dulu pun perempuan kesulitan mendapatkan tempat di masyarakat, dan yang kedua, tentang identitas yang memang bisa berubah. Sosok Ken Umang di buku ini terlahir dengan anatomi perempuan, tapi dia meminta untuk menjadi laki-laki agar bisa mencapai lebih banyak hal dalam hidup. Meskipun begitu, akhirnya Ken Umang tetap bisa menjadi ibu untuk empat anak Ken Arok. Buat saya, ini jadi pengingat bahwa konstruksi sosial soal gender dan orientasi seksual bisa jadi sangat dinamis tergantung budaya dan waktu -- dan tentu saja, membuat saya mempertanyakan kenapa kita akhirnya terpaku pada satu definisi atau norma yang sempit di masa kini.
Meskipun memikat, Tutur Dedes terasa tergesa-gesa di paruh kedua buku. Dinamika antara Ken Dedes dan Ken Angrok selama pernikahan tidak dibahas terlalu dalam, kadang hanya selintas saja untuk menggambarkan rumitnya hubungan mereka mengingat masa lalu Dedes, kelas sosial Angrok, dan juga posisi Ken Umang. Meskipun Dedes digambarkan mangkat dan terlepas dari samsara, saya sendiri penasaran tentang perjalanan spiritual Dedes sehingga dia bisa moksa. Banyak pertanyaan lain yang muncul, tapi belum terjawab karena buku terlanjur selesai.
Tutur Dedes adalah bacaan yang menyegarkan dan menyenangkan. Sejak membaca Wolf Hall trilogy karya Hilary Mantel, saya berharap akan ada karya serupa di Indonesia: yang membuat sejarah terasa dekat, meskipun kita terpisah ratusan tahun; yang membuat kita bisa menyelami dan mempertanyakan kembali kejadian di masa lampau, di tengah tren pengaburan fakta dan sejarah yang sering terjadi di negeri ini.
3.9/5!!! Aku bingung mau kasih berapa bintang. Aku suka buku ini, tapi gak cukup suka untuk membuatku ngasih 4 bintang.. tapi karena di Goodreads cuma bisa milih antara 3 atau 4, ya udah aku pilih 4!!!
Jujur rasanya agak canggung baca novel dalam Bahasa Indonesia, lebih canggung lagi berusaha nulis ulasan dalam Bahasa Indonesia...
Sejak kecil, aku suka baca dongeng, suka juga diceritain sama nenek. Dulu pas mudik, aku & keluargaku kadang mengunjungi candi Prambanan dan Borobudur, dan selama perjalanan, Eyang Uti suka mendongeng tentang legenda-legenda Indonesia, kebanyakan yang cuma fiksi, sih.
Ken Dedes memang bukan fiksi ya tapi tokoh dari sejarah. (Aku familiar dengan nama Ken Dedes, tapi lupa siapa dia, ceritanya gimana). Tapi aku tetap langsung tertarik sama Tutur Dedes pas tau kalo ini suatu re-telling yang berfokus ke seorang perempuan.
Penulisannya ya kayak dongeng, aku suka. Tapi karena udah lama banget gak baca novel Bahasa Indonesia, rasanya agak canggung. Bagian akhir juga lumayan page-turning, tapi sayangnya cerita tentang perang ditulis secara nggak runut. Aku pribadi kayaknya bakal lebih suka kalo bagian akhir yang tentang Perang Ganter diceritakan secara runut dibanding diceritakan akhirnya, lalu lompat ke suatu titik, lalu balik lagi ke titik awal.
Buku ini mudah untuk aku nikmati juga karena ceritanya women-centric, iya lah, sejarah dinarasikan oleh Ken Dedes sendiri di sini. Aku jadi ngebandingin buku ini sama Ariadne karena Ariadne juga salah satu buku woman-centric yang belum lama ini aku baca, dan aku lebih suka penulisan Tutur Dedes dan karakter Dedes dibanding Ariadne. Karakter Ken Dedes terasa natural banget, gak selalu kuat, gak selalu berani. Dedes punya moral yang baik, tapi gak luput dari kesalahan. Penulisannya juga enak banget, pemikiran-pemikiran dan narasi Dedes gak bikin aku merasa terganggu atau kesel kayak pas aku baca Ariadne haha.
Secara keseluruhan, aku cukup menikmati buku ini. It helps that it is so short and so didn't take much of my time haha.
P.s. jadi pengen baca tentang sejarah kerajaan-kerajaan Indonesia sampe akhirnya jadi republik. Dulu dipelajarin pas sekolah, tapi sekarang apa yang aku pelajarin tentang itu udah menguap semua wkwk
Bak dongeng Eropa, cerita sejarah Kerajaan Tumapel diramu kembali menjadi kisah indah dari sudut pandang seorang wanita, Dedes, sang ibu dari para raja agung.
Yang pertama tertangkap membaca Tutur Dedes adalah bahasa berceritanya terasa modern. Kebetulan, saat saya dapat kesempatan membaca pertama kali, saya sedang membaca Arok Dedes karya Pram yang sangat intens itu, jadi langsung terasa. Tapi keduanya sama-sama begitu memikat, dengan sudut pandang yang betul-betul berbeda. Tutur Dedes dengan gayanya yang "baru" membuat masa kerajaan di Jawa terasa dekat, namun suasana "lampau" tetap terjaga dengan dengan hal-hal ajaib dan keadaan sosial politik yang digambarkan secara utuh dan detail.
Selanjutnya, sangat terasa Tutur Dedes betul-betul ditulis oleh dan dari kaca mata seorang wanita. Perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, serta reaksi-reaksi yang dituliskan, tersampaikan dengan sangat jelas. Adegan Ken Dedes diculik dan dipaksa oleh Tunggul Ametung terasa sangat nyata dan membuat saya menahan nafas.
Keluwesan berceritanya juga membuat saya tidak bisa berhenti membuka halaman selanjutnya. Amalia Yunus menjalin dongeng lokal dan dunia dengan sangat luwes, sehingga kisah Dedes yang tertulis sangat sedikit di Pararaton itu terasa lengkap dan wajar. Mungkin kamu akan merasa akrab dan mengenali ceritanya tapi juga secara bersamaan terasa begitu baru. Kenapa di awal saya bandingkan dengan dongeng Eropa? Soalnya gambaran kalau dengar cerita fantasi dan mahluk halus Indonesia, pertama yang muncul di kepala seram-seram. Hehe. Dan di buku ini, gambaran itu hilang tanpa terasa aneh.
Karakter-karakter wanita di samping Ken Dedes juga tidak kalah menarik, seru juga kalau dibuatkan seri tutur lainnya.
Bonus poin buku ini, begitu banyak makanan yang diceritakan dengan sangat menggiurkan dan membuat saya lapar.
Buku ini sangat menyenangkan. Cobalah kamu juga baca.
Kali pertama membaca blurp buku, saya teringat salah satu diskusi dalam festival literasi beberapa tahun silam. Kurang lebih, salah satu pembicara berkata bahwa Indonesia punya banyak dongeng, mitos, legenda, dan kisah menarik yang dapat diceritakan kembali dari sudut pandang lain. Saya setuju dengan pendapat beliau. Mengapa retelling menjadi pilihan? Buat saya, selain memang ladang inspirasi, retelling juga jadi jalan untuk mengingatkan kayanya budaya kita—tidak kalah pasti dari retelling dongeng Brothers Grimm, yakin.
Jadi, ketika melihat buku Tutur Dedes, ikrar untuk puasa membeli buku saya langgar dulu.
Sesuai judul, Tutur Dedes mengambil sudut pandang Ken Dedes tentang peristiwa terbentuknya Kerajaan Tumapel. Dalam buku ini, Dedes bukan sekadar pemain pendukung, tapi muncul sebagai penyebab, perencana, hingga pelaksana—ia turut berstrategi dan berperang dalam Perang Ganter.
Saya tidak akan membahas alur cerita karena sedikit banyak dapat diakses dalam dokumen-dokumen sejarah. Yang ingin saya catat, meski mengikuti jalannya peristiwa dari sudut pandang orang pertama, saya masih merasa Dedes yang dihadirkan penulis berjarak dari peristiwa itu sendiri—ia terasa dingin, terlalu tenang, tidak terlibat, seolah yang ia ceritakan bukan ia sendiri yang mengalami, seakan masih membaca dari sudut pandang orang ketiga. Baru menjelang kematian Ken Angroklah saya merasakan ‘kehadiran’ Dedes—ada emosi di sana yang membuat saya sebagai pembaca ingin memeluknya. Hanya itu catatan yang sedikit mengganggu. Selebihnya saya menikmati penuturan kisah ini yang sarat dengan unsur budaya—satuan waktu dan berat, kuliner, tata negara, bahasa, religi, dan penggambaran kehidupan kala itu. Selebihnya pun, saya dengan senang hati merekomendasikan buku ini pada siapa saja yang tertarik dengan retelling kisah dari negeri sendiri.
Terakhir, betapa kata “semoga” menarik perhatian karena ia bisa menjadi harapan atau justru kutukan.
Berawal dari iseng-iseng membaca samplenya di Google Playbook, saya penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Bab pembukanya sangat menarik dan tanpa pikir panjang saya bergegas mencari versi cetaknya. Beruntung saya mendapatkan buku dengan tanda-tangan si penulis.
Menyenangkan sekali bisa membaca buku ini di awal tahun, jadi semangat untuk lebih banyak membaca buku-buku yang berkualitas.
Buku ini menceritakan kembali tentang isi kitab Pararaton, yaitu sebuah kitab tentang raja-raja Jawa.
Saya pernah membaca Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer yang penuh siasat, strategi dan politis. Namun buku yang ini menawarkan perspektif yang berbeda. Buku ini menceritakan dari sudut pandang Ken Dedes, perempuan yang melahirkan keturunannya lalu kemudian menjadi raja-raja besar di Jawa..
Cerita bergulir sejak ia masih dalam kandungan sampai ia mangkat, seru sekali. Hal-hal yang dipikirkan dan dirasakan Ken Dedes tentunya cewek banget ya.
”Kekuatan laki-laki itu seperti letusan gunung berapi. Laki-laki yang tidak bisa mengendalikan kekuatannya akan menimbulkan kerusakan yang luar biasa dalam waktu singkat, bahkan bisa berbahaya bagi dirinya sendiri.
Sementara kekuatan perempuan itu seperti air. Tampak tidak bahaya, tetapi tetesannya yang terus menerus bisa melubangi batu sekeras apa pun.
Setiap kali harus membela diri atau melawan laki-laki, jangan pernah terpancing untuk menggunakan letusan gunung berapi karena kamu tidak punya. Gunakan kekuatan air
Selain itu ada nuansa mistis yang menarik hehe, seperti kehadiran Genderuwo bernama Buto Ijuk dan Buto Lumut yang tinggal di hutan Gunung Kawi. Lalu kemunculan kakek pertapa yang misterius dengan ramalannya. Kesaktian orang jaman dulu selalu membuat saya takjub.
Sesuai judulnya, tentu saja buku ini dihiasi dengan kalimat doa dan kutukan. Diantara doa dan kutukan yang betebaran di buku, kutukan Mpu Gandring kepada suami Ken Dedes yang bernama Ken Angrok menjadi poin utama isi kitab Pararaton.
”Kelak kamu akan mati oleh keris ini! Anak cucumu juga akan mati karena keris ini! Semoga tujuh raja mati ditikam keris ini!”
Ken Dedes, hidup bersama kutukan yang selalu menghantuinya itu. Serapat apapun ia untuk menyembunyikan keris Mpu Gandring, toh pada akhirnya keris tersebut tetap ditemukan.
Takdir membawa Ken Dedes menjadi saksi kematian raja-raja tersebut. Satu demi satu tewas ditikam keris Mpu Gandring sampai akhirnya ia pun mangkat.
Puas sekali baca buku ini. Tanpa ragu saya ngasih bintang lima.
Yang paling aku suka dari buku ini adalah konsep ceritanya.
Tutur Dedes: Doa dan Kutukan adalah judul yg menurutku catchy. Ketika melihat judul-judul di daftar isi, lantas aku paham kenapa judulnya diberi tambahan "doa dan kutukan".
Setiap bab dalam buku ini mengisahkan perjalanan Dedes. Uniknya, tiap bab diberi judul "Semoga..." yang mengawali satu kalimat berisi doa atau kutukan. Kalimat ini akan diucapkan oleh salah satu tokoh dalam bab tersebut, dan menurutku itu memberi kesan magis yang kuat sekali!
Bab pertama mengisahkan tentang Dedes, si bayi tak bernama, yang mengingat dengan jelas malam kelahirannya. Narasinya cantik, setiap kalimat bisa dipahami dengan mudah meskipun terselip beberapa kata dalam bahasa Jawa kuno.
Cerita dipercepat sampai Dedes tumbuh jadi gadis kecil yang cerdas. Ada banyak detail yang hilang saat masa-masa pertumbuhan Dedes. Begitu pun ketika ia berguru pada Anjani rasanya terasa begitu cepat dan nyaris tidak berpengaruh apa pun pada plot.
Cerita hidup Dedes kemudian menuturkan betapa ia adalah seorang wanita yang cerdas, tabah, dan berani. Narasi dari penulis saat mengisahkan Dedes yang berada dalam 'tawanan' Tunggul Ametung turut membuatku (dan pembaca lain, pastinya) ngilu dan jeri.
Tadinya aku berharap akan membaca lebih dalam kisah cinta Ken Dedes dan Ken Angrok, tapi yang dikupas lebih dalam justru kisah hidup Ken Angrok.
Riwayat hidup Ken Dedes memang sulit sekali dicari. Jadi aku maklum kalau cerita ini pace-nya tidak konsisten. Ada beberapa kejadian yang mungkin hanya dikira-kira oleh penulis. Tapi berhasil menuliskan satu kisah utuh dari sudut pandang Ken Dedes dan memberikan kesan kuat akan karakter Dedes—adalah luar biasa!
Tutur Dedes adalah sebuah kisah yang menceritakan Singhasari, mulai dari berdirinya Singhasari hingga kematian Ken Dedes, dari sudut pandang Ken Dedes. Buku ini membuka sudut pandang baru tentang kisah-kisah heroik dan kematian para raja di Singhasari. Apa yang sebenarnya ada dalam benak Ken Dedes yang melihat semua darah yang bercucuran di negeri yang kaya raya itu.
Meskipun buku ini adalah sebuah historical fiction, namun buku ini juga bisa menjadi sebuah rujukan sederhana tentang pengetahuan Singhasari. Dalam buku ini, kita diajak bersama-sama melihat sebuah tragedi ketika Ken Dedes dipaksa menjadi selir Tunggul Ametung—akuwu Tumapel pada saat itu. Dan bagaimana Ken Dedes secara diam-diam menaruh amarah dan menyiapkan kebebasannya dari Tunggul Ametung—hingga ia kemudian bertemu dengan Ken Arok.
Dibandingkan dengan para raja Singhasari dan tokoh-tokoh lelaki lainnya yang terlibat dalam Singhasari, bagiku tokoh utama yang membuat banyak peristiwa berdarah di Singhasari adalah Ken Dedes. Ken Dedes yang katanya tubuhnya—terutama bagian kemaluannya—berkilau dan bercahaya itu digambarkan akan menjadi seorang wanita yang melahirkan raja-raja Jawa. Dan dari berita itulah, Ken Arok kemudian menginginkan Ken Dedes. Ia pun membunuh Tunggul Ametung. Mulai dari pembunuhan terhadap Tunggul Ametung dengan keris sakti Mpu Gandring inilah peristiwa berdarah lainnya secara turun-temurun terjadi di Singhasari.
Bagi saya, buku ini bukan hanya sebuah fiksi belaka. Buku ini menjadi rujukan bagaimana ketamakan orang akan kuasa benar-benar menghancurkan suatu bangsa besar. Yang seharusnya dibaca oleh para petinggi di atas sana.