Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Privileged Ones

Rate this book
Tugas akhir mata kuliah Publisitas berubah menjadi kompetisi bergengsi yang diadakan oleh Universitas Pandawa dan Change TV. Para mahasiswa harus menciptakan kanal YouTube berkualitas yang mampu mengimbangi gempuran konten sampah yang banyak beredar.

Masalahnya, Rara hanyalah mahasiswi miskin penerima beasiswa dari desa kecil di pelosok Banyuwangi. Kedua teman sekelompoknya pun bisa dibilang mahasiswi rata-rata. Tidak mungkin kelompok mereka mampu bersaing dengan kelompok Diva yang semua anggotanya terlahir dari keluarga kelas sosialita Jakarta. Jika diibaratkan perlombaan lari, Rara dan Diva memulai dari garis start yang sama sekali berbeda. Bagaimana mungkin mengalahkan orang-orang yang sejak lahir sudah memiliki segalanya?

Dengan dibantu Giri, seorang psikolog muda, kelompok Rara membuat kanal bertajuk Soul Diary. Mereka bertujuan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental. Sementara, kelompok Diva membuat kanal Second Chance Fashion yang mengusung tema upcycled fashion demi menjaga kelestarian lingkungan. Tak disangka, kompetisi sengit itu justru membuka mata Rara akan berbagai kenyataan hidup yang tidak ia pahami sebelumnya. Termasuk, tentang arti privilese yang sebenarnya.

248 pages, Paperback

Published March 30, 2022

24 people are currently reading
736 people want to read

About the author

Mutiarini

3 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
295 (47%)
4 stars
258 (41%)
3 stars
54 (8%)
2 stars
8 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 210 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,972 followers
April 27, 2022
Siapa sih yang nggak melalui usia awal 20an tanpa rasa inscure?

Namanya Rara. Dia merantau dari Banyuwangi ke Jakarta untuk kuliah. Awalnya ditentang keluarga karena menurut mereka lebih baik Rara segera menikah saja. Tapi berkat bantuan kakak tercinta, Rara tetap berangkat ke ibu kota.

Tetapi, begitu melihat Diva yg tampak cantik & berasal dari keluarga berada, nyali Rara menciut. Pasalnya, dia merasa nggak punya apa-apa untuk dibanggakan. Rara menganggap kalau prestasinya menyabet beasiswa setiap tahun ya gitu-gitu aja.

Rara dan Diva saling beradu asumsi. Kemarahan Rara membuatnya "bitter and salty" kepada Diva. Menganggap kalau Diva yang punya privilese pasti bisa memenangkan kompetisi kanal YouTube berhadiah Rp30juta itu.

Apa yang dirasakan Rara pernah aku alami juga. Sejak masuk SMP nomor 1 se-Surabaya, aku kerap merasa kecil. Melihat teman sekolahku yang ketika itu adalah anak pejabat, anak profesor, kok kayaknya aku tidak pantas ya berteman dengan mereka ya?

The Privileged Ones membuka "percakapan" tentang apa itu privilese. Apakah hanya terbatas pada materi saja? Disampaikan dengan ringan & gaya bahasa yang mengalir membuatku terharu. Kisah Rara & Diva terasa dekat.

Tidak hanya itu. Novel YA ini juga mengangkat isu kesehatan mental dan pemberdayaan perempuan. Aku suka sekali bagaimana @mutiarinimuti mengemas topik itu secara mulus & tidak terlihat dipaksakan.

Aku menyelesaikan The Privileged Ones dalam sehari karena cerita & pesan moral yang disampaikannya begitu bagus 🥺
Profile Image for Liliyana Halim.
311 reviews242 followers
September 7, 2022
Siapa pun kita, hidup tak akan pernah mudah. Namun, semesta selalu membuka celah bagi mereka yang menolak menyerah. (Hal 247).
.
Selesaiiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩. Masih suka cara berceritanya, emosinya juga dapat meskipun sejujurnya bagian awal agak membuatku kesusahan masuk ke dalam cerita kayak kadang nyantol kadang bingung sendiri dan sifatnya Rara itu cukup mengganggu untukku pribadi pada awalnya 🙈 (padahal mungkin aku juga seperti Rara ketika merasa insecure) tapiii setelah selesai baca menurutku baik orangtua maupun anak muda wajib baca buku ini. Aku akhirnya menikmati cerita di dalamnya dan semakin kebelakang semakin bagus, aku suka yang bagian What Privilege Really Means, juga nasehat Anggia untuk Rara 😍👍🏼 aku catat untukku pribadi. Banyak quote yang bagus di dalam novel ini. Aku suka channel Youtube yang dibuat oleh Rara, Sekar dan Anggun tentang “isu penting yang seringkali terlupa, yaitu kesehatan mental. Dengan cerdik mereka mengemas bahasan sulit ini menjadi konten yang muda dicerna dan dinikmati, sehingga kita tak hanya bisa berkaca, tapi juga belajar berempati pada narasumber”. Selain itu juga ada, “Jadi, dengan orangtua yang punya kemampuan pengasuhan yang baik, yang siap secara fisik, mental, maupun finansial, anak akan mampu membuat pilihan itu sendiri dengan penuh tanggung jawab. Pilihan untuk mengikuti kata hati, menjadi mandiri dan mewujudkan hidup yang berarti, bukan sekadar untuk menyenangkan orang lain.” Dan juga ada tentang perjuangan seorang istri maupun ibu. Pokoknya baca aja 👌🏼. Terima kasih Nui yang sudah menghadiahkan novel ini buatku 🙏🏼🥰.
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
June 9, 2022
"Kadang aku merasa bahwa orang sepertiku, seperti kita, nggak hidup untuk bahagia. Kita hidup untuk sekadar bertahan. Sejak kecil, nggak ada yang bertanya apa yang kusukai. Makanan, pakaian, mainan, semua serba seadanya. Aku harus terima saja. Aku nggak pernah punya pilihan...." (hlm. 52)


Sepertinya belum 10 tahun sejak istilah "privilese" masuk sebagai entri kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia (koreksi bila salah). Terkesan masih baru yang mana sebelum itu kita mungkin tidak memahami konsepnya. Digaungkan dengan nyaring oleh para netizen media sosial, privilese yang diserap dari kata bahasa Inggris "privilege" menjadi lebih banyak dikenali.

Buku ini kubaca berkat kiriman editor in-house penerbit. Pun jika tidak dikirimi, aku sudah mengincar buku ini sejak awal kemunculannya. Gambar sampul yang pinky nan menarik serta blurb yang menjanjikan membuatku menaruh buku ini ke reading list. Beruntungnya, ekspektasiku terpenuhi.

Kisah remaja ini berkutat pada seorang mahasiswi miskin tapi berprestasi bernama Rara. Ia punya otak yang cerdas tapi akses yang terbatas. Tak dinyana ia punya kebencian yang memuncak pada teman sekelasnya bernama Diva. Diva cantik, kaya, punya segalanya. Dalam sebuah kompetisi penciptaan kanal YouTube, Rara bertekad untuk mengalahkan Diva dengan cara-caranya yang terbatas.

Entah berapa kali penggambaran privilese disimbolkan pada buku ini. Sebagai novel remaja, penulis memberikan "tanda-tanda" begitu samar yang mungkin tidak disadari pembaca bahwa itu adalah suatu bentuk privilese. Ini bagus karena pembaca diajak belajar dengan perlahan-lahan tentang definisi, konsep, dan beragam bentuk privilese.

Bagi Rara, privilese sesederhana punya banyak pilihan (lihat halaman 168), punya keunggulan, hak istimewa, yang kerap didapatkan sejak lahir tanpa perlu berusaha (lihat halaman 181). Namun, privilese tidak berhenti sampai di situ. Pada halaman 184, manajer tempat Rara bekerja menguak bahwa privilese hadir dalam ragam bentuk: kesehatan, bakat, kecerdasan, orang-orang baik di sekitar, lingkungan tempat tumbuh dan tinggal, akses ke pendidikan, dan banyak lainnya (lihat halaman 184).

Konfliknya pun pelik, selain perseteruan dingin antara Rara dan Diva, Rara yang miskin juga dihadapkan pada nasib pernikahan sang kakak perempuannya yang berada di ujung tanduk. Pembaca diajak "nyesek" dan gemas dengan ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi pada buku ini; membeberkan keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki sebagian orang meski orang tersebut tak mengetahuinya.

Buku ini begitu padat sampai-sampai mungkin kamu bertanya-tanya, "Apa mungkin remaja bisa membaca buku semacam ini?" Aku akan dengan solid menjawab bisa. Ceritanya tetap mengalir bagai kisah remaja biasa. Buku ini juga kisah mahasiswi yang berbunga-bunga saat bertemu pujaan hati dan menggebu-gebu atas ketertarikannya akan tugas-tugas kampus.

Kisah Rara ini membuatku sesenggukan. Setelah membaca, aku diajak berefleksi tentang hak-hak istimewa yang kupunyai dan tidak kupunyai. Aku mungkin berkecukupan tapi sewaktu kecil hidup bersama orang-orang di sekitar yang kurang mendukung. Yah, tapi sebagaimana apa yang diucapkan Rara, aku pun akan melakukannya juga. Begini katanya:

"... Hidup bukan tentang mengalahkan orang lain. Hidup adalah tentang menggunakan privileses yang kita punya, apa pun itu bentuknya, untuk berguna bagi orang lain." (hlm. 243)


Buku bagus! Kalian semua kudu baca!
Profile Image for sal.
12 reviews2 followers
March 10, 2024
"Kalau modalnya cuma kerja keras, seumur hidup bapakmu ini juga sudah kerja keras! Kamu mau kerja keras kayak apa juga nggak akan pernah bisa kayak dia. Kamu, kita, cuma manusia kelas dua!"

Buku ini mengangkat tema privilese tidak hanya dalam hal kemampuan finansial, kecantikan, dan kesempatan saja namun juga hal-hal sesederhana dukungan, kebebasan, dan pilihan. Selain itu, buku ini juga membahas mengenai kesehatan mental dan juga kesetaraan gender. Despite all of the moral stories this book has, ceritanya mengalir begitu saja tanpa ada sedikitpun kesan dipaksakan. Sangat heartwarming!
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
October 15, 2022
Rara, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pandawa, mempersiapkan kanal Youtube dengan konten bermanfaat yang harus bisa mengimbangi gempuran konten sampah yang beredar di masyarakat. Bersama kedua sahabatnya, merke bukan hanya sekadar mengerjakan tugas akhir mata kuliah Publisitas itu untuk mendapatkan nilai terbaik. Rara punya harapan besar dengan hadiah yang dijanjikan dari kompetisi bergengsi kolaborasi kampusnya denganChange TV.

Terlahir dari keluarga miskin, Rara memutuskan untuk kuliah di Jakarta, meski kedua orang tuanya tidak merestuinya. Dukungan Indah, kakaknya yang juga tinggal di Jakarta, menjadi dorongan kuat bagi Rara. Indah membantu Rara untuk kebutuhannya di Jakarta, disamping beasiswa yang diperoleh Rara dan juga pekerjaan paruh waktu yang dilakukannya. Jika chanel Soul Diary yang digagasnya bisa menang, masalah keuangan bisa teratasi. Namun saingan terberat mereka adalah chanel milik DIva, teman sekelasnya, yang memiliki keluarga kelas sosialita. Diva jelas memiliki semua sumberdaya yang bisa mendukungnya. Jika dibaratkan lomba lari, Rara dan Diva tidak berangkat dari garis start yang sama.

Rara memilih mengangkat tema kesehatan mental di dalam chanel Youtubenya. Dia dibantu oleh seorang psikolog muda bernam Giri. Berbagai kasus mereka tayangkan untuk memberikan edukasi pentingnya memeprhatikan kesehatan mental seperti halnya kesehatan fisik. Tanpa Rara sadari, dirinya sendiri tengah bergelut dalam insecurity akan kemiskinannya. Sementara itu, Indah juga sedang bergumul dengan konflik rumah tangganya. Apakah impian mereka untuk bisa memiliki lebih banyak pilihan dalam hidup tidak bisa mereka raih?

Novel ini sangat bergizi. Ada tiga topik utama yang bisa saya pelajari dari novel ini. Yang pertama tentang sisi psikologis dan kesehatan mental. Bukan hanya satu contoh kasus yang dialami oleh tokoh utama, tapi ada beberapa kasus lainnya yang juga diangkat dalam novel ini. Yang kedua, tentang privilese, seperti judulnya. Seringkali kita memahami privilese itu sebatas ketersediaan materi dan sumber daya. Padahal setiap orang pasti terlahir dengan privilese-nya masing-masing. Kita sering terjebak memandang kelebihan orang lain dan hal-hal di luar kuasa kita, lalu mengecilkan privilese yang kita punya dan tidak berbuat apa-apa, padahal hal itu ada dalam kendali kita. Yang ketiga, bahwa tiap orang punya lintasan pertandingannya masing-masing. Saya mengutip paragraf terakhir dalam novel ini yang bisa kita jadikan pelajaran.

Siapa pun kita, hidup tak akan pernah mudah. Namun, semesta selalu membuka celah bagi mereka yang menolak menyerah.

Meski berada pada lini Young Adult, saya rasa novel ini bisa juga dibaca untuk orang dewasa. Bahkan oleh orangtua muda, karena ada ilmu parenting yang bisa diterapkan di dalamnya. Ini salah satu novel terbaik yang saya baca di tahun 2022.
Profile Image for Mawa.
172 reviews4 followers
June 26, 2023
Cerita yang mungkin banyak Gen-Z relate dengan Rara, cewek dr Banyuwangi yg pinter dan ambisius, namun terhalang biaya, iya dia miskin dari kampung kuliah di Universitas Pandawa.
Sedangkan Diva, temannya, punya segalanya, cantik iya, kaya iya, keluarganya dari orang ternama.
Ibarat lomba lari, Diva uda jauh duluan sedangkan Rara masih tertinggal. Beda Start.
Emang sih gak bisa dipungkiri, melalui Kompetisi kanal Youtube ini. Ide Rara lebih oke, Soul Diary, membahasa isu2 kesehatan mental. Di sisi lain konsep upcycled fashion jg gak kalah menarik, apalagi melibatkan banyak influencer sampe menteri.
Aku kalau jadi Rara juga minder alias insecure parah sih, kayak apapun yg dilakuin bakalan kalah karena secara biaya gak punya, networking juga terbatas.
Rara manusia biasa, tapi lewat kanal youtubenya sendiri akhirnya dia mulai mengerti dan menerima memang dia kalah secara privilige dengan Diva, tapi setidaknya dia tetap berusaha dan gak pantang menyerah.
Aku suka sekali pesan di buku ini.
Diva pun digambarkan dia memang sempurna tapi tetap namanya manusia jg ada celahnya, Diva jg ternyata iri dan insecure dg ketangguhan dan kepinteran Rara.
Pada akhirnya, yah manusia, hidupnya berbeda2, yg penting terus hidup dg baik kepada diri sendiri dan sesama.
Oh iya, aku jg suka ada romansa cinta tipis2 saat Theo diperebutkan Rara dan Diva, siapa yg menang nih? Haha. (Baca yaa biar tau jawabannya)
Sama aku juga suka Giri, dia tuh soft tapi keren gitu pemikirannya.
Recommend bangt deh buku ini !
Profile Image for Qomichi.
91 reviews2 followers
January 29, 2023
Apa yang ada di benakku mengenai novel YA ya cerita tentang transisi menuju kedewasaan, yang pasti main problemnya tentang konflik internal diri dari pikiran bocah ke lebih matang ttg dunia. Or something kind of. Dan novel The Privillaged Ones ini has it!

Kalo penulis sengaja bikin MC yg super nyebelin sampe bikin aku pengen teriak ke dia, ya penulis berhasil. Rara ini so Un-Likeable. Tipe anak paling pinter di kelas yg ngambis sama hasil akhir. Sejak chapter awal sampe menuju resolusi, aku pengen teriak setiap kali dia ngerasa insecure trs nyalahin keadaan. Setiap ngerasa gagal, nyalahin kenyataan. Padahal di sepnjang cerita aku ngerasa dia yang paling punya privilese di sini. Sahabatnya loyal, seniornya baik, dosen-dosen rela ngebantuin dia, dapet beasiswa, bisa kerja part time di tempat oke plus rekan kantor suportif dan boss yg royal. Belum lagi psikolog yg rela ngebantuin dia tanpa insentif material. Cuma dia nggak dapet dukungan doang dari bapaknya. TERUS DIA NGERASA DUNIA NGGAK ADIL SAMA DIA:) untung aja penyelesaiannya dan character developmentnya oke. Dan dia tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik sesuai harapan!

Topik yang diangkat dari cerita ini lumayan padet, insecure, kesehatan mental, feminisme, idelaisme. Jadi novelnya cukup padet dan berbobot untuk 240an halaman. Ceritanya lumayan page turner, mengalir, enak diikuti meski beberapa bagian terkesan sedikit dipaksakan dan konflik internalnya nggak tergali lebih dalam.

But over than that, cerita ini deserved more attention. Recomended!
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews854 followers
July 2, 2022
Mutiarini
The Privileged Ones
Gramedia Pustaka Utama
248 halaman
8.4 (Best Book)

Hanya dalam 250 halaman, Mutiarini secara efektif berhasil menyajikan isu privilese yang mudah dicerna remaja dan dengan sensitif menggambarkan berbagai macam masalah yang timbul dari ketimpangan kelas yang ada.

Di tengah-tengah pandemi tahun 2020, tiba-tiba saja Jerome Polin membuat utas terkait privilese. Menurutnya, saya kutip,
"Kalo semua hal positif yang mendukung kesuksesan seseorang disebut privilege, berarti kalo ditarik ke belakang, semua jadi privilege gak sih... Lahir di mana, kenal sama siapa, dll semuanya. Kayak.. semua kejadian dalam hidup itu kan nyambung gitu loh.."

The take is probably not as hot as he initially thought because the dude just defines what privilege is, but his intention to educate people on privilege is pure and true.

Mutiarini menyelesaikan The Privileged Ones beberapa bulan setelah Jerome Polin mencuit hal tersebut. Bedanya mungkin adalah Mutiarini sudah lebih dulu memahami jika privilese seseorang memang muncul dalam berbagai macam wujud. Dan itu salah satu poin yang ingin dia sampaikan dalam novel yang tipis, tapi padat ini; bahwa, memang, privilese berupa material dan penampilan fisik memang bentuk privilese yang paling kentara, tetapi privilese juga bisa berupa kecerdasan, dukungan keluarga, dan masih banyak lagi. Dan semua privilese itu menempatkan semua orang di garis start yang berbeda; semakin banyak privilese yang seseorang miliki, semakin jauh di depan garis start tempatnya berada. The Privileged Ones, menurut saya, berusaha mengingatkan bahwa pada hakikatnya, privilese bukan sesuatu yang buruk selama privilese itu digunakan untuk memberdayakan orang-orang yang kurang memiliki privilese.

Dengan topik yang lumayan kompleks semacam itu, Mutiarini secara impresif mampu menyajikannya begitu efektif, mengakhiri setiap subplot. Alurnya ditulis secara runtut, seakan-akan Mutiarini dengan patuh mengikuti kerangka cerita yang dia buat. Bagian pembukanya begitu efisien, menggambarkan latar belakang Rara dan keluarganya beserta dengan potensi konflik yang akan Rara alami ke depannya. Cerita kemudian bergulir dengan mulus, dan di saat yang bersamaan Mutiarini mulai memupuk benih-benih konflik yang telah dia tabur di bab pembuka. Hingga di puncaknya, semua konflik itu akhirnya bercampur baur menjadi satu. Mutiarini mungkin tak keluar dari pakem Freytag, tapi dia tahu bagaimana memanfaatkan piramidanya untuk menghasilkan cerita yang padat dan mengasyikkan.

Ada begitu banyak pesan yang bisa dikupas dari The Privileged Ones, mulai dari soal feminisme, kesenjangan kelas, hingga seksualitas. Kesemuanya itu disampaikan secara subtil, sehingga pembaca tak merasa terusik dan digurui. Kejadian yang ada di dalam buku ini bagaikan cuplikan kisah nyata yang dekat di sekitar kita. Jika mungkin ada satu keluhan, itu adalah penyelesaian konflik antara Diva dan Rara yang terlalu too good too be true dan juga bagaimana akhir hubungan antara Rara dan Theo rasanya terlalu sekilas, tapi hal ini mudah dimaklumi mengingat bukunya yang tipis.

The Privileged Ones juga berhasil menyuarakan isi hati tergelap sebagian orang yang dengki dengan privilese yang orang lain miliki. Kita terlalu sibuk mendongak ke atas sampai lupa mengingat apa yang sudah kita punyai dan menggunakan apa yang kita punyai untuk membantu orang lain. Ini mungkin salah satu pesan yang perlu diingat banyak orang, tak hanya remaja, tapi orang dewasa sekalipun. Di tengah-tengah gempuran kehidupan glamor dan perlente yang ditunjukkan orang lain lewat media sosial, sekaranglah waktunya untuk mengubah keinginan untuk memiliki kehidupan semacam itu menjadi kehidupan yang saling memberdayakan satu sama lain.
Profile Image for Amaya.
759 reviews58 followers
November 21, 2022
Aku mau berterima kasih buat penulis. Terima kasih, sudah menulis buku ini. Indah banget 😍

YA selalu diidentikkan dengan isu sosial, permasalahan lazim yang ada di sekitar, dan yang pasti menyangkut masalah dewasa awal, ya. Entah kenapa kadang2 efeknya sampai bikin pusing, nggak mood seharian, dan merenung lama. Well, buku ini justru bikin aku semangat. Iya, efeknya sampai sekarang masih ketinggalan, tapi dalam artian bikin segar.

Pertama, soal privilese itu sendiri. Kadang2 masih banyak yang mengira kalo dilahirkan dari keluarga miskin tuh nggak punyalah privilese, hanya orang2 kaya saja yang bisa merasakan. Misalnya, si A anaknya pintar, tapi lulus SMA akhirnya nggak lanjut pendidikan, kerja jadi pegawai di toko, dll. Sedangkan si B yang pintarnya sama dengan si A bisa sekolah sampai master di luar negeri. Ini soal privilese. B bisa lanjut sekolah karena orang tuanya kaya raya, bisa membiayai bahkan kalo dia mau ambil S3. See? Ujung2nya soal uang. Lalu di bab "What Privileged Really Means" anggapan itu ditepis. Yap, karakter di buku ini, Rara, mungkin nggak punya banyak uang untuk bisa menunjang pembuatan konten di Youtube-nya, tapi dia punya kecerdasan yang bisa dimanfaatkan. Privilese nggak melulu soal uang. Sebaliknya, jika punya banyak uang, tergantung manusianya mau memanfaatkan atau tidak. Orang2 yang terlahir dengan privilese berlebih nggak bisa disalahkan, apalagi sampai dibenci.

Kita nggak bisa memilih lahir di keluarga mana pun. Right?

Kedua, nggak tau apalagi yang bisa aku katakan, tapi satu kata waktu melihat kondisi Rara yang serba ngepas: nelangsa. Sumber keuangannya nggak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan sudah disambi bekerja tetap nggak bisa bikin dia sejahtera barang sebentar. Semuanya usaha yang dia lakukan itu rasa2nya percuma. Oh, pengin peluk Rara :'((( rasa frustrasi dia sangat bisa aku pahami karena pernah ada di posisi itu lalu kenapa akhirnya meledak. Yah, orang kepalanya penuh, terus didesak faktor lain yang bikin down, bisa jadi ya meledak, deh. Hanya saja menumpahkan emosi itu ke teman2nya atau orang nggak bersalah pun nggak bisa dibilang bagus. Iya, sebel banget nggak, sih, tiba2 dimarahin padahal udah berusaha keras, disalahin pula.

Terakhir, aku suka semua unsur intrinsik maupun ekstrinsik dalam buku ini. Aduh, apa, ya, perfect pokoknya. Kalaupun ada kesalahan teknis (maupun non), nggak akan terlalu berpengaruh karena selama bacanya enjoy aja. Tau-tau udah tamat. Rasanya greget banget—nano-nano, gado-gado.

Buku ini harus dibaca sekali seumur hidup, sih. Wajib. Aku menunggu karya2 penulis yang lain <3
Profile Image for Shafira Indika.
303 reviews237 followers
July 15, 2022
Wow. Just wow.

Buku ini baguss banget dan sangat layak buat diperbincangkan sama orang-orang. Aku rasa buku ini underrated yaa... sayang bgt dengan isi seperti ini.

"The Privileged Ones" sudah menghuni rak bukuku selama beberapa bulan dan aku belum tertarik buat baca. Pas selesai baca ini aku jadi agak nyesel... kenapa baru sekarang yaa kepikiran baca ini WKWKWK PADAHAL BAGUS BANGET ASLI!

Tentunya kita semua sering denger kata-kata 'privilege'. Seringkali kata-kata itu diungkapkan secara sinis dan seakan-akan merendahkan achievement seseorang yang dinilai punya 'privilege' itu, misalnya kyk "ah wajar aja dia bisa kuliah di univ X, dia kan punya duit banyak buat bimbel". Ya mungkin salah satu privilege dia adalah dia berkecukupan utk bayar bimbel itu, tapi... apakah itu berarti kita-kita yang ngomongin dengan sinis ini gapunya privilege juga?

Melalui buku ini, kita akan diajak untuk memahami kalo privilege tu bukan hal-hal yang bisa diliat aja—gampangnya, bukan hanya uang aja. Uang hanya salah satunya. Ada banyak variabel lain yang juga termasuk privilege, loh! Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan variabel-variabel itu. Dan lagi, hidup itu pasti ada struggle-nya. Kita gatau apa yang dihadapi orang lain, jadi jangan pernah mengecilkan pencapaian orang lain hanya karena dia punya sesuatu yang kita nilai sebagai privilege atau nganggep orang lain hidupnya mudah dan mulus-mulus aja macem jalan tol yaah(padahal jalan tol aja juga suka ada hambatan wkwkwk)!!

Soal narasi, aku sukaa bgt. Ringan dan mengalir ajaa gitu. Percakapan antar tokohnya juga ga kaku, seru diikutin. Apalagi yaa hmmm mnrtku udah okee banget sihh! Mungkin kalo boleh kasih saran sihh... bisa banget ditambahin terjemahan dari beberapa percakapan yang ada bahasa daerahnya (seperti yang di halaman terakhiran... sayang bgt halaman lainnya gaada hehe). Udah sihh itu teknis banget sebenernyaa karena secara cerita menurutku udah sangat enjoyable & pesannya juga tersampaikan dengan sangat baik. Definitely a must read!
Profile Image for Nureesh Vhalega.
Author 20 books153 followers
September 24, 2022
Akan reviu setelah berhasil menenangkan diri karena buku ini asli nampolnya 🥲🥲🥲

***

Oke, setelah kurang lebih 10 jam, aku merasa bisa nulis reviu. Tapi seperti biasa, aku harus memperingatkan reviuku subjektif dan seringnya salah fokus wkwk untuk premis silakan baca blurb ya, sangat sesuai.

Sejujurnya aku sempat mau skip buku ini, biarpun covernya warna kesukaanku. Aku berpikir bukunya bakal berat dan mungkin nggak akan bikin aku sesuka itu. Pas akhirnya nekat beli (aku memang impulsif) dan iseng baca (karena butuh buku "ringan" setelah maraton baca seri crime thriller), TERNYATA AKU SALAH. Buku ini memang cukup berat, tapi nggak menyiksa dan paling penting: aku suka banget!!!

Pertama jelas, modal penulisnya dalam merangkum cerita ya, berhasil banget Kak Mutiarini nulis secara padat dan ngena. Ngalirrrr gitu kisah si Rara. Aku nggak ada keluhan juga buat substansi atau struktur ceritanya, semua pas. Ibarat makanan, ini tuh 4 sehat 5 sempurna. Teknis sih masih ada yang harus diperbaiki, aku catat selusin, terus sudah aku laporkan juga ke penulisnya.

Kedua, topik yang diangkat. Sebenarnya ada banyak buku-buku YA sekarang yang secara implisit mengajak pembacanya untuk melek masalah kesehatan mental. Tapi, TPO ini bungkusnya dengan cara unik, rapi, tidak menghakimi, juga ngasih perspektif baru buatku. Sulit mendeskripsikan apa yang kurasa selama baca, pokoknya suka!

Ketiga, pendekatan untuk menyelesaikan masalah-masalah di buku ini nggak meninggalkan ruang untuk protes. Mungkin nggak sempurna, tapi menurutku pas. Jadi, apa-apa yang kutanyakan di awal tuh terjawab di akhir dan nggak ada bagian sia-sia.

Buku ini sangat kurekomendasikan ^^
Profile Image for myutokki ✶꩜ .ᐟ.
85 reviews12 followers
March 23, 2024
my score for this book: 4.5/5 (-5 because of Rara but that’s okayyyyyyy after i finished this book, i could understand her insecurities and her big struggles in life)

tmi: I’M CRYING WHEN I READ THIS BOOK, YK?????

i knew Rara’s feelings. privilege still the big thing matters when you face your life. you need it. but, i also realized that privilege isn’t always about beauty, money, and power. privilege can be being healthy, smart, surrounded by healthy and supportive family and friends. it also could be called as privilege. and everyone have it.

thank you Rara and everyone who have fought for their life. you guys did a great job and i’m proud of you! 👍🏻
Profile Image for Riona Primavera.
79 reviews6 followers
September 4, 2022
Buku ini sungguh memukau dan membuatku mengernyit di saat yang bersamaan.

Pertama-tama, aku pengen banget menyebutkan hal-hal yang kusuka dari buku ini. Disclaimer, review ini dibuat berdasarkan uneg-uneg dan pemikiranku sendiri tanpa bertujuan untuk menjatuhkan karya Kak Mutia yang telah ditulis dengan susah payah.

Menurutku, premis dan inti permasalahan yang dibawakan di buku ini itu sudah on point banget. Tentang rasa tidak aman seorang mahasiswa tingkat akhir, tentang apa arti dari privilese itu sendiri, tentang perjuangan seseorang yang memulai dari nol, dan hal lain yang tidak bisa kusebutkan. Semua itu penting untuk diketahui oleh masyarakat lebih luas dari kalangan mana pun dan itu dibawakan dengan baik sekali oleh Penulis.

Hal yang kutemukan sedikit lucu adalah ketika banyaknya tokoh nasional, hal-hal, atau brand-brand tertentu yang mengacu pada masa kini. Terutama pada orang-orang yang disebutkan pada buku ini ya. Mereka seperti (dan memang) berdasarkan orang yang ada di dunia nyata. Rasanya, kalau buku ini dibaca 20 tahun lagi, bisa jadi agak kurang relatable karena hal tersebut yang mengacu pada masa buku ini ditulis dan diterbitkan.

Selain itu, beberapa konflik seperti konflik tokoh utama dengan keluarganya juga menghadirkan ketegangan tersendiri. Apalagi mengingat orang tua karakter utama dengan pemikiran yang seperti itu dan kakaknya yang juga memiliki problem internal yang secara mau nggak mau mempengaruhi tokoh utama juga dari segi alur.

Penulis mengangkat tema konten Youtube dan psikolog juga menurutku terobosan yang bagus. Apalagi ketika proses konsultasi itu digambarkan dengan baik, membuka wawasan bagi yang belum pernah konsultasi dengan profesional. Bagaimana profesional dapat membantu seseorang dalam mengidentifikasi masalah dan mengarahkan, bukan sekadar menghakimi seperti yang terkadang kita temukan pada lingkungan dunia nyata.

Namun, terlepas dari itu semua, aku ingin mengungkapkan bagian yang menurutku kurang sreg di aku. Penggunaan bahasa Inggris yang terlalu sering dan bahasa daerah yang tidak ada terjemahannya membuatku sedikit kurang nyaman dalam membaca buku ini. Terutama penggunaan Bahasa Inggris itu kurasa terkadang tidak pada situasi yang tepat dan terlalu banyak yang jujur bikin bosan.

Untuk karakterisasi tokoh utama menurutku sudah bagus. Rara dengan segala rasa tidak amannya, rasa putus asanya, rasa harus melawan ortu yang tidak sejalan pemikirannya. Namun, untuk karakter lain, seperti karakter orang yang lebih dewasa dari Rara, (maaf!) terasa seperti orang cerewet yang memberikan pandangan atau nasihat yang kalau dibaca terasa kosong dan tidak bermakna.

Deskripsi yang terlalu kental juga membuat buku ini sulit menjadi page turner. Deskripsinya menurutku kurang luwes dan stagnan. Aku juga menemukan inkonsistensi cara orang berdialog di sini. Terkadang terasa formal (menggunakan bahasa baku), terkadang tidak. Meski aku tahu itu tergantung tokoh-tokohnya, tetapi kurasa jika Penulis memutuskan untuk menggunakan bahasa baku saja, itu akan menjadi jauh lebih baik untuk alurnya.

Akhir cerita ini juga kurang greget. Kurang menggigit. Rasanya akhir cerita seperti sudah ketebak dengan prompt yang (maaf!) klise. Aku nggak bisa mendeskripsikannya lebih lanjut karena aku khawatir dapat menjadi spoiler.

Terlepas dari itu semua, menurutku buku ini cukup enjoyable untuk dibaca. Kuhabiskan dalam sekali duduk karena topiknya terasa baru dan unik. Akhir kata, aku mengucapkan terima kasih pada Kak Mutia karena telah menulis buku ini. Review ini tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan karya apalagi Penulisnya.

Terima kasih.  Buku ini kuberi 3 dari 5 bintang.
Profile Image for vio 。 ₊°༺❤︎༻°₊ 。.
331 reviews152 followers
March 19, 2023
Actual rating: 3.5★

Baca ini dalam sekali duduk (tumben kan? Wkwkwk karena akhir2 ini buku yg dibaca pasti selesai paling lambat satu minggu). Sdh lama gak baca buku lokal jadi butuh waktu untuk bisa masuk ke cerita. Topik yang diangkat di buku ini bagus bgt walau aku kurang suka sama gaya penulisannya yang semi-formal, mungkin karena cerita yang diangkat kali ya? Tapi overall oke sih. Sejak debut pertamanya yang aku lumayan suka, aku selalu menunggu cerita apa yang akan beliau rilis. Ditunggu karya berikutnya, ya! ^^
Profile Image for An~.
13 reviews
March 25, 2022
Judul Buku: The Privileged Ones
Penulis: Mutiarini
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Penyunting: Vie Asano
Penyelaras Aksara: Lia Nurida
Penata Letak Isi: Bayu Deden Priana
Perancang Sampul: Orkha Creative
Tempat dan tahun Terbit: Jakarta, 2022
Jumlah Halaman: 248


Ulasan berikut sarat dengan pendapat pribadi (bersifat subjektif) berdasarkan pengalaman membacaku terhadap buku ini. Oh ya, ada spoilers juga, jadi tolong dipertimbangin lagi kalau mau lanjut baca.

Sebelum masuk ke ulasan, aku pengin nulis dulu tentang kenapa tertarik membeli buku ini, sampai bela-belain ikut pre-order dan dapat tanda tangan penulisnya.

Pertama dari judulnya: “The Privileged Ones”. Habis baca judul itu, aku langsung dibikin penasaran dong, soalnya asumsiku cerita ini pasti difokuskan dengan tema privilege yang dimiliki tokoh-tokohnya. Apalagi pas baca blurb disinggung istilah “kesehatan mental” yang mungkin bisa relate dengan keadaanku akhir-akhir ini. Terus karena udah penasaran, aku jadi kepo ini ditulis dengan POV berapa. Sebab, buat aku POV dalam novel itu bisa menentukan ketertarikanku selanjutnya. Pas aku kepoin sampel tulisannya di web GWP, ternyata Penulis memakai POV 3. Wih, jadi makin tertarik, berarti ini sesuai dengan ekspektasiku. Nggak POV 3 sebenernya juga nggak apa-apa sih, cuma selama ini aku memang lebih suka aja dengan penulisan cerita yang pakai POV 3.

Untuk sampulnya, menurutku keren banget. Simpel, warnanya kalem (nggak tau nama spesifiknya apa, mungkin coral pink? Atau salem?), dan tepat banget menggambarkan apa yang Rara pandang dari Diva. Di situ diperlihatkan gambar dua orang cewek di sebuah running track berbentuk angka 0 dengan posisi yang berbeda di lintasan masing-masing. Interpretasiku, tentu saja Diva yang pakai rok ungu, yang posisinya ada di depan Rara. Sebab, dari yang Rara pandang, ia dan Diva punya titik nol (start) dalam hidup yang berbeda.

Diceritakan di sini, Rara dan Diva adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pandawa, salah satu universitas negeri tertua di Indonesia yang berlokasi di pinggiran Depok. Mereka satu angkatan, dan sekarang sedang berada di semester 7. Bagi Rara, Diva itu punya segalanya. Dari lahir udah kaya. Udah cantik. Nggak perlu susah-susah mikir biaya kuliah. Bahkan bisa menarik perhatian gebetannya pula! Gebetan Rara di sini namanya Theo. Theo ini kakak tingkat Rara dan Diva yang merupakan asisten mata kuliah Publisitas. Dari interaksi Diva yang keliatan caper ke Theo, aku bisa menyimpulkan kalau cewek ini juga punya perasaan yang sama dengan Rara.

“Semuanya memang lebih mudah jika kamu cantik dan kaya.” (Halaman 13)


Suatu hari, Bu Susan, dosen mata kuliah Publisitas memberi challenge ke para mahasiswanya berupa tugas akhir. Tugas ini dikerjakan secara berkelompok, berupa project pembuatan YouTube channel yang kontennya nanti dinilai dari sisi orisinalitas, pesan yang disampaikan, dan social impact. Bukan dari banyaknya viewers dan subscribers. Project ini bekerja sama dengan Alan Kartiwa, yang punya acara talkshow terkenal di TV. Rara berkelompok dengan dua sahabatnya, Sekar dan Anggun. Diva berkelompok dengan Farrah dan Jessica, kelompok yang membuat Rara insecure parah. Gimana nggak? Diva anak pengacara, Farrah anak pemilik production house, dan Jessica anak perancang busana terkenal. Mereka pasti dengan gampangnya bisa membuat konten tanpa kendala teknis. Sedangkan Rara cuma anak dari keluarga kelas dua di Banyuwangi, yang kuliah saja mesti dibiayai kakak kandungnya: Mbak Indah. Mana dia masih harus nyari uang tambahan dengan bekerja paruh waktu sebagai resepsionis dan kreator konten.

Awalnya, aku pikir Diva ini bakal angkuh seperti cewek-cewek kaya di sinetron gitu yang menindas pemeran utama yang miskin. Tapi sampai halaman 25, pas temen-temennya Diva ngomongin ide di warung Teh Nining, terus Diva minta pendapatnya Rara, ternyata justru aku yang mulai kesal dengan Rara. Nih, aku kutip jawabannya Rara di halaman 25:

“Buat kalian, konten sampah pun nggak masalah, kan? Toh fasilitas sudah lengkap di depan mata, tinggal minta.”


Bayangin, Diva udah nanya dengan ramah, baik-baik, nggak pake nyolot, eh … ujug-ujug dibales Rara dengan sinis kayak gitu. Duh, langsung ilfeel banget aku. Ini bukan soal siapa pinter, siapa kaya, siapa miskin, atau siapa ber-privilege lagi. Ini sih udah soal adab. Iri sama orang ber-privilege memang wajar. Aku juga ngerasain kok. Tapi kalau bertindak sampe segitunya, sampe ditumpahin dengan asumsi sok tau kayak gitu, padahal dirinya sendiri udah dibaikin, kok rasanya keterlaluan ya. Rasanya jadi beraaattt banget baca novel ini. Udah temanya berat, tokoh utamanya nyebelin pula.

Kelompok Rara berujung bikin project tentang kesehatan mental dengan judul Soul Diary, sedangkan Kelompok Diva membuat konten Second Chance Fashion, yaitu tentang fashion upcycle: memanfaatkan pakaian bekas untuk dibuat menjadi pakaian yang tampak baru dan stylish. Tadinya aku pikir bakal ditunjukin proses persaingan keduanya dalam membuat konten, dengan bab berselang-seling gitu. Misal bab ganjil nyeritain proses kelompok Rara, lalu berikutnya bab genap ganti nyorot kelompok Diva. Tapi ternyata cuma kelompok Rara doang yang disorot penulisnya.

Kelompok Rara bekerja sama dengan Giri, seorang psikolog muda yang punya masa lalu kelam. Aku suka tiap bagian Giri mewawancarai narasumber untuk keperluan konten Kelompok Rara. Karena aku pernah beberapa kali konsultasi ke psikolog, jadi udah tau gimana rasanya. Dan, uhm, ada satu narasumber yang kisahnya lumayan relate sama aku. :’)

Terus, menurutku Rara ini kesannya agak agresif ke Theo. Menurutku dia ini berani banget. I mean, agresif ya nggak apa-apa, namanya kan juga usaha. Tapi, kalau posisinya dia lagi iri, insecure terhadap privilege yang dimiliki seseorang, kenapa dia masih aja ngegasin perasaannya ke seorang lelaki yang juga ber-privilege? Tentunya privilege dalam arti yang Rara definisikan sendiri: keunggulan, hak istimewa, biasanya didapatkan sejak lahir tanpa perlu berusaha (halaman 181). Kalau udah jadian, apa Rara bisa jamin perasaannya nggak bakal insecure? Apa cukup dengan mengandalkan pendapatnya tentang Theo yang katanya sempurna dan beda dari semua laki-laki yang dikenalnya?

Entah ya, mungkin karena udah dibuat nggak simpatik duluan sama tokoh utamanya dari halaman 25 tadi. Apalagi pas dia marah-marah ke Sekar dan Anggun, sampai ngerendahin Anggun yang IPK-nya dua koma. Jadi baca buku ini tuh harus ngumpulin mood banget. Rasanya dari awal cerita sampai halaman 180-an ke atas tuh ibarat nungguin belanjaan yang dikirim lewat ekspedisi yang lemot, tapi ujung-ujungnya lega karena barang yang kupesan diterima dalam kondisi baik dan sesuai.

Seneng, karena akhirnya yang aku tunggu-tunggu muncul juga: character development!

Masalah finansial yang dihadapi Rara perlahan-lahan mengalahkan kekesalanku terhadap sikap dia sebelumnya. Seperti menyimak kisah rumah tangga Mbak Indah dan sulitnya Teh Nining mendapatkan biaya untuk pengobatan anaknya, lama-lama nggak tega juga sama ni orang, sampai-sampai harus ngadep ke Anggia (bos Rara di tempat kerja) buat minjem uang. Mana dia udah ada rencana mau berhenti kuliah dan pengin kerja full time. Untungnya, Anggia ini bijak banget. Dia mau dengerin cerita dan unek-unek Rara dengan kepala dingin. Mereka juga berdiskusi tentang apa itu privilege hingga Rara mengetahui sesuatu yang membagongkan bahwa Anggia udah yatim-piatu dari kecil. Coba simak deh omongan Anggia buat mengembalikan kepercayaan diri Rara ini:

“Ra, nggak ada seorang pun di dunia ini yang hidupnya sempurna. Tapi, kalau lo lebih memilih mengasihani diri daripada fokus pada hal-hal yang masih bisa lo perjuangkan, itu artinya menyerah dengan terlalu mudah. Lo bisa saja jadi orang tercantik, terkaya, atau terpintar di dunia. Tapi, kalau lo nggak bisa memanfaatkan itu semua, hidup lo tetap akan percuma.” (Halaman 185)


Pokoknya habis ini aku jadi suka dengan karakter Rara yang baru. Aku ikut terharu waktu dia minta maaf ke Sekar dan Anggun, apalagi waktu ke Anggun yang dia rasa paling tersakiti. Aku suka akhirnya Rara dan Diva bisa ngobrol, terbuka satu sama lain setelah pengakuan Theo kalau dia ternyata …. (Ah, yang ini biar jadi rahasia dulu deh. Nggak seru juga kalau dispoilerin semua. Hehe.) Aku kagum juga waktu Rara berani ngajak teman-temannya menggalang dana untuk anaknya Teh Nining. Di awal cerita, dia memang ngotot, bersikeras banget pengin menangin kompetisi pembuatan konten YouTube itu buat kepentingan diri sendiri. Terutama buat bayar biaya kuliah, sampe harus dikasih tau Sekar kalau dia insecure sama Diva. Tapi pada akhirnya dia mampu naik satu tingkat lebih dewasa setelah bisa bantu Teh Nining. Kerasa banget keikhlasan dia waktu mengandaikan kekalahannya. Di sini, Rara sudah siap kalau realitas nanti ternyata harus membuatnya cari cara lain biar nggak putus kuliah.

Lalu ..., setelah berjuang selama tiga bulan, jadi sebenarnya kelompok mana sih yang memenangkan kompetisi YouTube channel tersebut?

Jawabannya ada di halaman 237. :)

Oh ya, aku nggak tau apakah di cerita Young Adult wajib diselipin romance apa nggak, tapi romance antara Rara dan Giri di sini menurutku nggak perlu. Lebih suka ceritanya kalau hubungan mereka bersifat profesional saja. Dan lebih suka kalau diselipkan humor yang lebih banyak untuk mengimbangi keseriusan cerita. Ya tapi itu cuma pendapat pribadi sih. Untuk yang suka cerita dengan keseriusan yang kental, mungkin Anda bisa cocok dengan buku ini.

Selain plot yang rapi, tulisan yang enak dibaca, novel ini buatku juga banyak pesan moral. Ceritanya bisa jadi edukasi untuk mengetahui bagaimana cara berempati, mengontrol perasaan sendiri, serta bergerak maju di saat-saat sulit. Pengalaman tokoh utamanya bisa jadi inspirasi untuk tidak mudah menghakimi orang lain.

Tokoh-tokoh di novel ini nggak ada yang cuma tempelan. Semua punya porsi peran yang pas. Tokoh yang paling aku sukai di cerita ini jatuh pada Diva, si anak orang kaya yang rendah hati. Aku pernah baca tulisan yang intinya gini: orang kaya yang beneran kaya biasanya nggak sombong. Selain aku pernah menemukannya sendiri, mungkin Diva pun adalah salah satu contoh yang dimaksud dari tulisan itu.

Di buku ini ada bahasa Jawa, tapi sayangnya nggak ada catatan kaki untuk terjemahannya. Padahal di akhir, ada catatan kaki untuk ucapan bahasa Sunda dari Teh Nining.

FYI, kalau ada yang merasa kesulitan mengartikan:

Inggih, Mbak = Ya, Mbak
Matur suwun = Terima kasih
Nyuwun sewu = permisi
Lha wong kowe wis ora nyambut gawe = Lha orang kamu sudah nggak kerja
Nduk = Nak (untuk anak perempuan)
Arep dadi opo? = Mau jadi apa?
Kowe iki wong wedok = Kamu ini perempuan
Pangestu = restu
Wis kono, ewangi ibumu isah-isah = Dah sana, bantu ibumu nyuci piring
Bapakmu yo ngono iku = Bapakmu ya seperti itu

Kutipan favoritku: “Karena tidak bisa menjadi diri sendiri adalah tragedi terbesar yang bisa terjadi pada seseorang.” (Halaman 110)

Terakhir, mau bilang makasih buat penulisnya karena sudah menulis cerita ini. Mohon maaf kalau ada kata-kata di ulasan ini yang kurang berkenan. Ten Years Challenge sudah ada di meja kamarku. Semoga setelah membacanya nanti, aku bisa menemukan isi yang nggak kalah menarik dari novel ini. :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Tike Yung.
174 reviews5 followers
February 18, 2023
Baca novel ini malah membuatku tiba-tiba kepikiran seandainya ada PH yang mau meminang dijadikan series, pasti bagus banget dehhh, soalnya plotnya bagus banget. Kayaknya jarang ada (mungkin belum ada) series atau film remaja Indonesia yg mengangkat tema seperti ini.
Profile Image for Agnes Meilina.
68 reviews10 followers
April 9, 2022
Baguss banget! Novelnya mengisahkan tentang Luna yang menghadapi insecurity dan menyebabkan hidup dan pemikirannya menjadi TOXIC. Masalah keluarga yang cukup pelik, privileged, persahabatan, meraih impian, mental illness, pernikahan, perjuangan seorang ibu membuat cerita ini jadi lebih geregetan.

Ekseskusinya bagus. Makna dan pelajaran yang bisa diambil dari novel ini banyak dan padat, tanpa menggurui. Pokoknya recommend banget sih!
Profile Image for Altami N.D..
Author 4 books38 followers
December 30, 2022
Buku ini bergizi banget! Harus banyak dibaca sama banyak orang, apalagi remaja. Buku ini gaya bahasanya ringan dan lincah. Langsung dibuka dengan konflik. Kaya yang sat set bat bet. Kalimat-kalimatnya lugas dan sederhana, tapi tema yang diangkat banyak, berlapis, dan sensitif. Tentang isu kesehatan mental, priviledge, kesetaraan gender, kemiskinan terstuktur, sampai kekerasan dalam rumah tangga. Semua ditulis dengan matang, informatif, tanpa terkesan menggurui. Pesannya pun tersampaikan ke pembaca dengan nyaman. Denyut cerita terjaga sampai akhir. Love it.

Aku bacanya cuma 2 jam! Udah lama lho gak baca buku selancar ini, tanpa terasa aku udah habis 3/4 bagian padahal niat awalnya cuma ngintip-ngintip. Dua jam yang bikin aku merenung, tercerahkan, dan terhibur. Dua jam yg bermakna dan ga sia-sia.

Kesempurnaan hanyalah milik Allah semata, ya wkwkw tentu buku ini juga tidak sempurna. Menurutku, karena tema yang diangkat itu kompleks dan beragam, di beberapa part aku merasa permasalahannya belum tergali maksimal dan pacenya kecepatan. Namun, aku tidak melihat itu sebagai kekurangan, aku melihat itu sebagai kesempatan emas. Mungkin memang harusnya dikembangkan di wahana lain, web series mungkin? Please PH notice this review! Gak akan kecewa kok kalian kalau adaptasi buku ini 🧡🧡
Profile Image for Lulu Khodijah.
440 reviews10 followers
October 12, 2022
Bagus banget jujur 😭 ada triggeringnya buat yg punya isu keluarga dan insecurities. Pesan yg disampaikan ngena banget huhu thanks for writing this author!
Profile Image for Asmira Fhea.
Author 7 books31 followers
January 3, 2024
Buku pertama yang dibaca di 2024!
Valuenya bagus, meski menurutku masih banyak yang ganjil dan belum terjelaskan, terutama tentang mereka youtubing. Hehe

- AF
Profile Image for lin.
49 reviews6 followers
January 9, 2023
4.2

Baca ini sekali duduk dan aku lumayan suka. Plotnya enggak biasa dan walaupun aku kurang suka narasinya yang kayak LKS overall isinya bagus banget! Aku yang awalnya sebel sama Rara pelan-pelan paham sih gimana posisi dia. Selain bicara soal privilese, bukunya juga memuat soal mental health dan kesetaraan gender. Btw, I'm not expecting the plot twist 😳
Profile Image for putreads_.
47 reviews3 followers
January 29, 2026
Aku kepengen buku fisiknya :"))) indah sekali ceritanya, sudah lama nggak baca buku young adult yang fokusnya tidak melulu soal percintaan

PORSINYA PAS, love ittt
Profile Image for Nidos.
302 reviews78 followers
June 11, 2022
10/10 my jam so I think it's only natural to wish I found this one, bcs I know this could be better under my spell WKWKW SORRY (NOT SORRY) JK 🤪
Profile Image for readwithsyll.
267 reviews
August 13, 2025
5 stars.

this was so much better than what i expected.
menceritakan tentang Rara, seorang perempuan yang harus pontang panting demi kuliah. Dimana bahkan bapaknya sendiri tidak menyukai hal tersebut dan beranggapan seorang perempuan lebih baik menikah.

Suatu hari Rara mendapat tugas untuk membuat channel youtube yang punya impact ke anak bangsa sebagai tugas kuliah. tapi dengan persaingat sengit dengan teman-temannya terutama untuk kaum priviliged, emangnya bisa?

bukannya tidak adil ia harus susah payah bertahan hidup sedangkan ada kaum yang dengan gampang mencapai sukses?

buku ini beneran menceritakan pandangan hidup ‘privilege’ dan juga mengangkat isu mental health di era sekarang ini.

jujur suka banget dan aku merasa character developmentnya ada, karakternya dibikin serealistis mungkin dimana kita sebagai pembaca bisa relate dengan mereka. plot nya sebenarnya cukup bisa ditebak, tapi masih tergolong bagus.

gaya bahasanya tertata bagus dan aku sangat suka gimana buku ini mendidik dan punya moral yang bagus. terus juga membahas mengenai perspektif hidup berbagai orang.

i enjoyed this dan as a young adult book, ini bagus banget dan sangat cocok untuk pembaca generasi muda!
Profile Image for ˚ ༘♡ ⋆。˚ Ren *ೃ༄.
126 reviews5 followers
June 27, 2025
03/26/24
waktu lagi baca buku ini aku juga lagi ada tugas untuk bikin pidato yang bertema kan "pentingnya pendidikan bagi generasi muda" di sekolah, mungkin karena latar belakangnya kurang lebih sama yaitu tentang pendidikan jadinya aku ke inget buku ini waktu lagi nulis :)

aku kagum BANGET sama tokoh tokoh perempuan di buku ini, rara yang orang nya sangat passionate, mbak indah yang penuh dengan mimpi dan hati yang besar, teh nining yang pantang menyerah, dan diva dengan ide nya yang kreatif dan (don't be shock) sifatnya yang humble :D

padahal aku pikir buku ini hanya akan membahas privileged dan rara with her insecurities, tapi buku ini juga mengangkat topik topik yang lain! :(( dengan topik topik tersebut diringkas menjadi satu buku ini termasuk ringan loh.

a short, light, and insightful read to help you opened up your mind about some issues from different perspective!

06/27/25
bener ya, kalo baca buku untuk kedua kalinya itu antara makin suka sama makin aware sama kekurangan dari buku tersebut. kalo aku makin suka sama buku ini bahkan pada bacaan kedua kali ini (♡´▽`♡), bahkan aku sampe nangis karena terbawa karena emosional yang dirasakan oleh rara. i will never get tired to mention about how i admire every women in the book! :(( i hope that more people would read this book, the type of book you need to read at least once in your life (♥_♥)
Profile Image for Adrindia Ryandisza.
Author 16 books28 followers
March 16, 2022
The Privileged Ones. Cerita tentang dewasa tanggung dengan masalah kehidupn yang tidak tanggung-tanggun.

Well-written. Risetnya juga terasa sekali diaplikasikan dalam ceritanya.

Suka sekali dengan antagonis yang tak kasatmata, tetapi nyata. Perasaan insecure, kerdil, dan tidak berdaya itu seperti racun. Sayangnya, memang tidak semua orang bisa mendapatkan penawar racun itu.

Terima kasih telah menulis cerita yang apik dan ciamik.
Profile Image for Gen.
72 reviews11 followers
February 26, 2023
“Hidup bukan tentang mengalahkan orang lain. Hidup adalah tentang menggunakan privilese yang kita punya, apa pun itu bentuknya, untuk berguna bagi orang lain.”

Lagi, aku membaca buku yang membahas tentang kesehatan mental dan buku ini berhasil membuat aku merasa kalau aku nggak sendirian serta bersimpati ke setiap karakter yang ada di buku ini. Buku ini juga membuat aku sadar kalau terkadang hanya melihat ‘one side of coin’ dan cepat menilai orang lain, padahal ada banyak yang tidak aku tahu.

Buku ini bercerita tentang Rara, mahasiswi tahun ketiga yang sekarang menjalankan studinya jauh dari tempat tinggalnya dan merasa kesulitan selama menjalankan ini, entah karena orangtuanya yang tidak setuju dia mengenyam pendidikan atau merasa kesusahan untuk mencari uang demi menopang kehidupannya. Selain itu, Rara juga memikul beban bernama perasaan tidak percaya diri.

Menurutku, isu yang dibahas oleh buku ini menarik, karena tidak cuma berfokus pada perasaan tidak percaya diri yang Rara (beserta orang lain rasakan) tapi juga mewadahi para karakter yang ada di buku ini untuk menceritakan beban yang sudah lama mereka pendam melalui kanal YouTube yang dikelola oleh Rara, Sekar, dan Anggun (Soul Diary) dan didampingi oleh tenaga profesional bernama Giri.

Konflik yang diangkat pun lumayan pelik, mulai dari Rara dan Diva yang diam-diam merasa inferior terhadap satu sama lain, Rara yang cenderung menyalahkan keadaan karena dia terlahir di keluarga yang (menurutnya) miskin, dan kehidupan kakak Rara (Indah) yang membuat pembaca turut bersedih, berempati, serta bersimpati.

Aku sendiri suka bagaimana penulis menggambarkan semua ini dengan baik, apalagi tentang privilese, sehingga aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh semua karakter. Dalam beberapa kesempatan, I feel seen, too. Aku merasa kalau aku tidak sendirian, karena ternyata beberapa karakter yang diceritakan dalam buku ini juga bernasib sama denganku. Singkatnya, menurutku buku ini termasuk bacaan yang lebih dari baik untuk dibaca oleh remaja maupun orang dewasa sekalipun. Bagiku sendiri, buku ini bisa meningkatkan awareness tentang kesehatan mental kepada para pembaca.

Selama membaca buku ini, aku diajak untuk reflecting, terlebih lagi dengan privilese yang aku punya serta bersimpati kepada orang-orang. Aku kasih 5 bintang, deh. Buku ini tipis namun ada banyak hal penting yang bisa kita pelajari dari sini.
Profile Image for Gita Swasti.
324 reviews40 followers
September 5, 2022
"Hampir tidak ada manusia yang bebas dari trauma emosional. Selama kita belum mampu menerima dan memaafkan diri sendiri, orang lain, serta berbagai kondisi di masa lalu, kita akan selalu berjalan dengan membawa luka batin. Luka yang tanpa sadar kita proyeksikan pada orang-orang terdekat dan memengaruhi cara kita berinteraksi dengan mereka. Hal ini kontra-produktif dan hanya akan menciptakan luka baru yang lebih segar."


“If you rise, I fall.”
Ungkapan ini menyampaikan temuan studi baru yang menunjukkan mengapa orang-orang berprivilese cenderung menentang kebijakan pro-kesetaraan maupun skema kesejahteraan lainnya*. Orang berprivilese menyukai akses eksklusif, alih-alih membaginya pada yang kurang 'beruntung'. Kesetaraan mengancam status quo dari yang diistimewakan.

Adalah Rara, mahasiswa berekonomi pas-pasan. Bisa kuliah saja merupakan keberuntungan besar meski tertatih-tatih menjalaninya karena kendala biaya. Ia menyoroti kehidupan Diva, teman kuliahnya dengan ketenaran dan kekayaan yang bergelimangan. Ketika mereka dihadapkan pada sebuah tugas kuliah, Rara bersikeras memenangkan kompetisi tersebut dengan segala keterbatasannya.

Diva bisa saja tidak segigih Rara karena ia dikelilingi keistimewaan-keistimewaan yang membuat langkahnya lebih ringan. Namun, bukan berarti semuanya berjalan mulus berkat adanya keistimewaan tersebut. Saya mengagumi bagaimana Mutiarini memotret ragam-ragam privilese secara implisit. Mutiarini mengajak pembacanya berpikir mana yang terlihat biasa dan mana yang terlihat istimewa.

Kisah Rara dan Diva bukan perkara siapa yang antagonis dan protagonis. Keduanya menunjukan bagaimana tatanan hidup mereka dirasakan dalam sistem yang dibangun di atas ketidakadilan & diskriminasi struktural. Bagaimana kepentingan egois dijalankan untuk mempertahankan status quo. Bagaimana ketika kita mengidentifikasi diri dengan kelompok tertentu, dan melihat perbedaan yang terjadi dengan kelompok lain, apakah ada dorongan untuk mengurangi kesenjangannya? Mari berpikir.



*If you rise, I fall: Equality is prevented by the misperception that it harms advantaged groups - N. Derek Brown, Drew S. Jacoby-Senghor and Isaac Raymundo (https://www.science.org/doi/10.1126/s...)
Displaying 1 - 30 of 210 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.