What do you think?
Rate this book


248 pages, Paperback
Published March 30, 2022
"Kadang aku merasa bahwa orang sepertiku, seperti kita, nggak hidup untuk bahagia. Kita hidup untuk sekadar bertahan. Sejak kecil, nggak ada yang bertanya apa yang kusukai. Makanan, pakaian, mainan, semua serba seadanya. Aku harus terima saja. Aku nggak pernah punya pilihan...." (hlm. 52)
"... Hidup bukan tentang mengalahkan orang lain. Hidup adalah tentang menggunakan privileses yang kita punya, apa pun itu bentuknya, untuk berguna bagi orang lain." (hlm. 243)
"Kalo semua hal positif yang mendukung kesuksesan seseorang disebut privilege, berarti kalo ditarik ke belakang, semua jadi privilege gak sih... Lahir di mana, kenal sama siapa, dll semuanya. Kayak.. semua kejadian dalam hidup itu kan nyambung gitu loh.."
“Semuanya memang lebih mudah jika kamu cantik dan kaya.” (Halaman 13)
“Buat kalian, konten sampah pun nggak masalah, kan? Toh fasilitas sudah lengkap di depan mata, tinggal minta.”
“Ra, nggak ada seorang pun di dunia ini yang hidupnya sempurna. Tapi, kalau lo lebih memilih mengasihani diri daripada fokus pada hal-hal yang masih bisa lo perjuangkan, itu artinya menyerah dengan terlalu mudah. Lo bisa saja jadi orang tercantik, terkaya, atau terpintar di dunia. Tapi, kalau lo nggak bisa memanfaatkan itu semua, hidup lo tetap akan percuma.” (Halaman 185)
"Hampir tidak ada manusia yang bebas dari trauma emosional. Selama kita belum mampu menerima dan memaafkan diri sendiri, orang lain, serta berbagai kondisi di masa lalu, kita akan selalu berjalan dengan membawa luka batin. Luka yang tanpa sadar kita proyeksikan pada orang-orang terdekat dan memengaruhi cara kita berinteraksi dengan mereka. Hal ini kontra-produktif dan hanya akan menciptakan luka baru yang lebih segar."