Keberadaan pohon jejawi di mulut Kedung Gang Buntu mengusik hari-hari Henky van Kopperlyk. Dua penyanyi di stasiun bawah tanah, yang satu buta dan yang satu dapat melihat, tidak berhubungan secara darah, tapi takdir mengikat keduanya. Jebule belajar dari kisah para pemimpin besar dunia hingga menjadi presiden panutan sekaligus dibenci rakyat-rakyatnya. Tukang Cukur yang selalu hadir dalam setiap huru-hara dan dikabarkan suka mengguntingi kuping pelanggannya. Bik Rimang yang dielu-elukan justru setelah membunuh suaminya Jemprot, yang dibenci sebab kerap menghajar Bik Rimang. Atau suara pengumuman di bandara Amsterdam dengan bahasa etnik Jawa membawa ingatan pada Sandra Liangsi, yang menghilang setelah membunuh banyak orang.
ATAVISME adalah kumpulan cerita pendek terakhir Budi Darma yang sekaligus menegaskan kepiawaiannya sebagai pencerita ulung. Keajaiban yang muncul dalam setiap cerita membawa kedalaman pada setiap karakter dan ceritanya.
Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Semasa kecil dan remaja ia berpindah-pindah ke berbagai kota di Jawa, mengikuti ayahnya yang bekerja di jawatan pos. Lulus dari SMA di Semarang pada 1957, ia memasuki Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.
Lulus dari UGM, ia bekerja sebagai dosen pada Jurusan Bahasa Inggris—kini Universitas Negeri Surabaya—sampai kini. Di universitas ini ia pernah memangku jabatan Ketua Jurusan Inggris, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, dan Rektor. Sekarang ia adalah guru besar dalam sastra Inggris di sana. Ia juga mengajar di sejumlah universitas luar negeri.
Budi Darma mulai dikenal luas di kalangan sastra sejak ia menerbitkan sejumlah cerita pendek absurd di majalah sastra Horison pada 1970-an. Jauh kemudian hari sekian banyak cerita pendek ini terbit sebagai Kritikus Adinan (2002).
Budi Darma memperoleh gelar Master of Arts dari English Department, Indiana University, Amerika Serikat pada 1975. Dari universitas yang sama ia meraih Doctor of Philosophy dengan disertasi berjudul “Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novel” pada 1980. Di kota inilah ia menggarap dan merampungkan delapan cerita pendek dalam Orang-orang Bloomington (terbit 1980) dan novel Olenka (terbit 1983, sebelumnya memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 1980).
Ia juga tampil sebagai pengulas sastra. Kumpulan esainya adalah Solilokui (1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), dan Harmonium (1995). Setelah Olenka, ia menerbitkan novel-novel Rafilus (1988) dan Ny. Talis (1996). Belakangan, Budi Darma juga menyiarkan cerita di surat kabar, misalnya Kompas; pada 1999 dan 2001 karyanya menjadi cerita pendek terbaik di harian itu. Cerpennya, "Laki-laki Pemanggul Goni," merupakan cerpen terbaik Kompas 2012.
Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut-tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.”
First of all, mari kita komentari cover bukunya terlebih dahulu. Ini cakeppp bgtt woyy. Kek??? Baguuss bggtt😭😭 sekilas mirip kyk desain khas komik-komik amerika. Great Job, GPU!
bukunya berisikan kumpulan cerpen karya almarhum pak Budi Darma yang sebelumnya pernah dipublikasikan dari rentang tahun 2010-2021 kemarin. selama membaca bukunya jangan heran kalo isi kumcernya aneh-aneh dan absurd. dan sampai akhir aku belum bisa memahami 'maksud' yang disampaikan dalam isi cerpennya. tapi nikmati sajalah, serasa dibawa ke alam mimpi.
Sebetulnya, ketika membaca cerpen-cerpen Pak Budi Darma, saya selalu bersiap untuk tak memahami pesan apa yang tersirat, termasuk ketika membaca Atavisme. Benar saja. Beberapa cerpen dalam buku ini tak saya pahami “maksudnya”. Kendati begitu, saya tetap menikmati seluruh cerpen dalam buku ini sampai selesai berkat kelihaian Pak Budi dalam melukiskan karakter tokoh dan setiap situasi yang hadir.
Kemudian, kalau membandingkan Atavisme dengan Orang-orang Bloomington, berbagai cerpen, kecuali “Atavisme”, memakai latar dan nama tokoh yang ke-Indonesia-an. Pun, Pak Budi memasukkan nama-nama yang pernah atau masih hidup di dunia nyata, misalnya Daendels, Ahmad Fuadi, Maryam Mirzakhani, dan sebagainya.
Nah, empat cerpen, yakni “Pohon Jejawi”, “Presiden Jebule”, “Tukang Cukur”, dan “Kita Gendong Bergantian”, mengambil latar berbagai peristiwa sejarah di Indonesia. “Pohon Jejawi” mengambil waktu tahun 1920/1930-an, pada masa kolonialisme Belanda. “Presiden Jebule” berdasar pada peristiwa lengsernya Presiden Soeharto pada Mei 1998. “Tukang Cukur” terjadi saat Madiun Affair, alias Pemberontakan PKI 1948. Terakhir, “Kita Gendong Bergantian” berwaktu pada masa imperialisme Jepang. Sisanya terjadi pada masa sekarang.
Sekarang, mari lihat kutipan paragraf berikut: “Paviliun saya terdiri atas tiga bagian, semua kecil, yaitu ruang tamu paling depan, di belakangnya ada ruang tidur dan almari pakaian berukuran tinggi, dan di belakangnya lagi ada dapur, lalu, paling belakang adalah kamar mandi. Kalau mau mencuci, ya, bisa di kamar mandi, lalu menjemur pakaian basah di pekarangan depan.” (dalam Dujail, hlm. 106). Melalui satu kutipan tersebut, kemampuan Pak Budi dalam melukiskan tempat dalam cerpennya tak perlu diragukan lagi.
Terakhir, saya menaruh hati, tentunya, pada tiga cerpen, antara lain: 1. Darojat dan Istrinya (hlm. 41) 2. Lorong Gelap (hlm. 85) 3. Kita Gendong Bergantian (hlm. 155)
Cover yang menarik, terlihat sentuhan komik dan mural art. Budi Darma memiliki ciri kepenulisan di setiap cerpennya dengan unik. Bagaimana dia memberi nama setiap karakter secara lengkap beserta nama belakangnya, membuat pembaca harus mengingat dengan baik percakapan antar karakter.
Selain itu, keunikan kumpulan cerpen juga berada pada alur. Setiap cerita kebanyakan memiliki dua alur dan plot. Kedua plot cerita tidak ada kaitannya sama sekali, akan digabung di akhir cerpen, yang melahirkan tanda tanya kepada pembacanya.
Atavisme adalah sebuah kumpulan cerita pendek karya maestro sastra Indonesia, almarhum Budi Darma. Buku ini memuat 17 cerita pendek yang pernah dimuat di berbagai media dalam kurun waktu 2010 hingga 2021. Membaca setiap kisahnya seperti menyusuri lorong waktu imajinasi Budi Darma yang khas—penuh absurditas, kegetiran, dan kejutan-kejutan kecil yang tak terduga.
Sebelum masuk ke isinya, visual buku ini layak diapresiasi. Sampulnya digarap dengan apik oleh ilustrator Wulang Sunu—nama yang juga berada di balik visual buku-buku Budi Darma lainnya seperti Ny. Talis dan Orang-Orang Bloomington. Goresan dan warna pada sampul Atavisme seperti memberikan petunjuk samar tentang dunia sureal yang akan kita masuki di dalamnya.
Salah satu hal paling memikat dari buku ini adalah penamaan tokohnya yang nyeleneh namun mengena. Nama-nama seperti Jigong, Jebule, Tarom, Dujail, dan Jemprot bukan sekadar nama; mereka menjadi karakter-karakter yang sulit dilupakan. Dalam cerita Dua Penyanyi, Budi Darma bermain-main dengan nama hingga menciptakan harmoni satir: Latiff Ariffin dan Latif Arifin, beserta pasangan mereka, Latifa dan Latifah, dan anak-anak mereka: Sulaiman bin Ariffin dan Sulaiman bin Arifin. Absurd? Mungkin. Tapi justru di sanalah letak kenikmatannya.
Salah satu ciri khas Budi Darma yang mencolok adalah gaya penulisannya yang seolah tidak pernah memberi “penutupan”. Cerita-ceritanya sering kali dibiarkan mengambang, seperti terhenti begitu saja. Ini bisa membingungkan, bahkan membuat pembaca bertanya-tanya: “Ini maksudnya apa?” Namun di balik itu, ada keunikan yang tak bisa ditemukan di penulis lain—sebuah penghayatan terhadap absurditas hidup yang jarang dibahas secara telanjang.
Dari seluruh kisah dalam Atavisme, ada lima cerita yang paling membekas di benak saya: - Dua Penyanyi - Sang Pemahat - Presiden Jebule - Darojat dan Istrinya - Sebuah Kisah di Candipuro Masing-masing membawa rasa yang berbeda, tapi semuanya menyajikan pengalaman membaca yang membuat saya berkali-kali tertawa bingung, mengernyit, lalu tak bisa berhenti memikirkannya.
Buku ini paling cocok dinikmati saat pikiran sedang longgar, di sore yang tenang, ditemani segelas es kopi. Karena untuk benar-benar menikmati Atavisme, Anda tak cukup hanya membawa logika. Biarkan otak Anda bekerja keras, tapi sediakan juga ruang di hati untuk menikmati segala keunikannya. Sebab, bahkan ketika otak Anda gagal memahami, hati Anda tetap bisa jatuh cinta.
Atavisme terdiri atas tujuh belas cerpen Alm Pak Budi Darma yg pernah terbit di berbagai media sejak 2010-2021.
Buku ini kaya rasa. Setiap cerpen punya rasa berbeda. Ada yang lucu, seram, mengharukan, bahkan ada yang bikin jijik.
Kekayaan rasa ini sebab tokoh-tokoh dalam buku ini unik, aneh, gak biasa, entah pikiran ataupun kelakuannya. Akan tetapi, pada sisi tertentu, tokoh-tokoh tersebut juga terkesan "biasa" seperti orang kebanyakan.
Pada cerpen Darojat dan Istrinya, misalnya. Mereka berdua tidak benar-benar tahu mengapa mereka menikah. Mereka sempat bimbang punya anak atau tidak. Kemudian, lahirlah Triman. Seperti namanya, Triman menerima semua perlakuan dan pemberian orang tuanya.
Cerpen Darojat dan Istrinya ini memperlihatkan orang yang tak yakin tidak akan bersungguh-sungguh dengan perbuatannya, contohnya pernikahan mereka. Pada cerita Triman, mereka memang tak yakin punya anak, tapi punya alasan, yaitu "Punya anak untuk main-main." Alhasil, mereka memang mempermainkan Triman.
Lalu, cerpen Tukang Cukur yang berlatar kegentingan sosial politik pada 1948-1949 di kota Kudus. Tukang cukur ini jenis orang yang selalu ikut huru-hara. Ikut dengan cara berubah dari identitas satu ke identitas lain, untuk mengamankan diri. Orang seperti tukang cukur ini meskipun terkesan seperti bunglon yang menyamar, mereka nyatanya ada dan banyak.
Kemudian, cerpen Tamu, berkisah pasustri yang baru pindah ke satu kota untuk membangun peternakan. Awalnya, si suami tak setuju beternak karena hewan-hewan itu akhirnya dibantai untuk dimakan. "Kamu kan makan daging ayam, daging sapi, ... dan daging-daging binatang lain," kata istrinya. Alasan si suami tak setuju juga sebab ia tak sampai hati melihat hewan-hewan disembelih.
Sikap si suami yang tak "sampai hati melihat hewan" disembelih ini bisa ditemui pada banyak orang, meski kebanyakan mereka juga makan daging hewan.
Buku ini beneran kaya rasa. Karena itu, saya merekomendasikannya untuk kamu yang mau mencari "kesegaran" dan berkenalan dengan banyak tokoh dari berbagai kalangan. Buku ini juga akan mengajakmu jalan-jalan, ke Surabaya, Lumajang, bahkan ke luar negeri.
Kumcer dari tulisan-tulisan karya Pak Budi Darma yang terbit di media. Hampir seluruhnya di Kompas. Karena itu, beberapa di antaranya sudah pernah saya baca. Atavisme sendiri diambil dari judul salah satu cerpen di buku ini.
Meski demikian, membaca ulang cerpen Budi Darma tetap saja menciptakan keasyikan yang mungkin hanya bisa dijelaskan pada orang yang sama-sama suka dengan tulisan beliau.
Tidak perlu diperkenalkan lagi bagaimana tipikal cerpen Budi Darma. Yang selalu menarik untuk saya adalah bagaimana Budi Darma membingkai cerita dalam fokus pada karakter para tokohnya, di samping hal-hal lain semacam plot dan alur.
Dalam dunia cerpen Budi Darma, semesta dibentuk untuk memperkenalkan, mendalami, hingga mengantarkan nasib para tokoh menuju takdir; atau apa pun itu, di akhir cerita. Seringkali ada keunikan disertai selera humor, tapi tidak meledak-ledak, ditambah sebagian lagi kesintingan untuk bisa menjelaskan perwujudan profil para tokohnya.
Karena formatnya cerpen, jika ada yang dirasa tidak perlu penjelasan lebih detil, akan langsung ‘dihabisi’ begitu saja oleh Budi Darma. Berbeda ketika beliau menulis cerita mini, atau novel. Eksplorasi psikologis karakter tokohnya bisa jauh mendalam. Juga bukan tipikal tulisan dengan narasi liris atau deskripsi berlebihan. Pak Budi semacam orang yang suka mengajak orang lain untuk berpikir, berjalan, dan mengambil keputusan dengan cepat.
Meski demikian, tulisannya tidak berarti ‘kering’. Dalam satu cerpen, bisa pembaca temukan gabungan potongan adegan dari beberapa topik yang dijahit dalam kecermatan.
Meski cerpennya sudah banyak bertaburan, tapi mengoleksinya dalam satu kesatuan semacam ini tetap adalah kesenangan pribadi.
@bukugpu @sastragpu apik mengatur terbitnya buku ini. Karena isinya tidak semua ‘baru’, maka pembaca dirasa membutuhkan lebih. Menggunakan strategi keapikan sampul hasil karya @wulangsunu serta promo pembelian buku disertai totebag, diharapkan berhasil menyandera mata (calon) pembaca.
Sebuah legasi berharga. Bagaimana pun, saya tentu dengan senang hati ingin merayakannya. 🎉
Atavisme, diambil dari salah satu judul cerita dalam kumpulan 17 cerita pendek terakhir karya almarhum Budi Darma yang dihimpun oleh GPU yang sesungguhnya pernah terbit di berbagai media (seperti Kompas, Jawa Pos, hingga MAJAS. Nanti ada halaman catatan publikasi cerpen tersebut terserak di harian apa saja) sejak tahun 2010 sampai 2021. Cerpen-cerpen dalam Atavisme ini tidak menawarkan hal baru—bagi penikmat karya beliau di cerpen koran Minggu yang bisa dibaca di Ruang Sastra, misal—sebab Budi Darma gemar menarasikan sisi gelap manusia dalam kisah yang serius, absurd, tetapi tetap menghibur. Meski demikian, membaca ulang cerpennya dalam buku ini saya rasa tetap menciptakan keasyikan, sebab, Budi Darma lihai dalam melukiskan karakter tokoh-tokohnya, tanpa mengesampingkan keutuhan serta kekuatan plot dan alur cerita.
Dalam buku Atavisme, Budi Darma menyajikan cerpen-cerpennya dalam suara beragam sekaligus menawarkan absurditas para tokoh beserta nasib dan takdirnya melalui sejumlah kisah, yang beberapa di antaranya, bernuansa magis, dan mengandung komedi tragedi dalam semesta ceritanya masing-masing yang terentang sejak zaman kolonialisme sampai kemerdekaan.
Selesai baca buku Atavisme karya Budi Darma. Bukunya berisi 17 cerita pendek yang pernah tayang di beberapa media dari tahun 2010 sampai tahun 2021. Sebagai penggemar tulisan Budi Darma, sudah menduga pasti banyak kejutan-kejutan yang absurd di setiap cerpen. Contohnya ada karakter namanya Dujail mata kanannya di jidat mata kirinya di bawah samping hidung.
Terus ada satu cerpen yang twist-nya komedi, kaget sih biasanya kan tragis haha. Ada juga yang bikin murka, tentang gak semua orang bisa jadi orang tua, masih terngiang banget.
Nah yang mencolok di setiap cerpen beliau yaitu nama karakter yang unik, ada Jiglong, Jebule, terus Jemprot. Bahkan di cerpen Dua Penyanyi ada karakter bernama Latif Arifin dan Latiff Arifin, iya ada ekstra huruf f haha.
Untuk latar cerpen di buku ini bervariasi, beberapa berlatar sejarah Indonesia. Kaya di cerpen Pohon Jejawi masa kolonialisme Belanda, terus Tukang Cukur pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 dan di Kita Gendong Bergantian di masa imperialisme Jepang, baca yang ini masih kesel sama kelakuan Jepang huaaa. Oh iya gula jawa muncul beberapa kali di beberapa cerpen, zaman dulu buat nahan lapar.
Milih cerpen favorit jujur sulit haha apik semua, cuma yang menurut ku paling wow: Dua Penyanyi, Darojat dan Istrinya, Lorong Gelap, Tamu, Dujail, dan Kita Gendong Bergantian. Bukunya bagus, sangat merekomendasikan bagi yang suka baca kumpulan cerpen dengan premis yang absurd tak tertebak.
ata.vis.me / atavisme/ 1. pemunculan kembali sifat-sifat (ciri-ciri) pada seseorang yang sudah lama tidak muncul pada generasi yang sebelumnya 2. adat kebiasaan kuno yang turun-temurun
Sesuai ejaan yang telah disinggung di awal, aku hanya memaknai kumpulan cerpen ini dengan kata–absurd, magic. Secara keseluruhan cerpen ini hampir mengandung unsur surealisme, that sometimes imaginable, and sometimes not. Dan aku adalah yang kedua, pfttt.
Meskipun hanya beberapa cerita yang bisa aku pahami, entah mengapa baca kumcer ini begitu mengalir. Dan kurang tau juga gimana caranya menggambarkan apa yang ada didalam buku ini.
Ada beberapa pesan tersirat yang sampai, ada juga yang tidak. Kadang juga ikut menebak akhir cerita yang mana malah melenceng jauh dari akhir yang sebenarnya. Dan lagi, aku tidak tahu bagaimana mengekspresikannya.
Dari ke 17 cerita, ada beberapa yang memang aku suka; -Tukang Cukur -Lorong Gelap -Pokrol Bambu Martoyo -Kita Gending Bergantian
Karena bingung mau nyampein apa lagi, just saying that I'm really impress dalam penggambaran latar di setiap cerita. Pak Budi Darma selalu berhasil membuat detail-detail lokasi yanng looks like real. Try it when you want to know!
Kumpulan cerpen "Atavisme" karya Budi Darma terdiri dari 10 cerpen. Setiap ceritanya memiliki tema unik namun tetap terhubung melalui eksplorasi sisi gelap, kompleksitas manusia, dan hubungan sosialnya.
Hal menarik menurut saya yang ada di buku ini:
1. Gaya Bahasa yang Distingtif
Budi Darma menggunakan bahasa yang lugas tetapi penuh dengan ironi dan humor gelap. Narasinya sering kali terasa datar secara emosional, tetapi di balik itu ada ketegangan psikologis yang sangat kuat.
2. Eksplorasi yang menarik
Cerita-cerita di dalamnya mengeksplorasi sisi gelap manusia, seperti hasrat, iri hati, dan kebencian, yang sering kali muncul dalam situasi-situasi ekstrem.
Gaya narasi yang tidak konvensional dalam gaya menulis Budi Darma terkadang absurd, dan bisa menjadi tantangan bagi pembaca yang terbiasa dengan cerita linear atau langsung.
Menurut saya buku ini cocok untuk pembaca yang menyukai cerita dengan tema mendalam, karakter kompleks, dan gaya narasi yang tidak biasa.
Gara-gara buku ini aku jadi mengenal kata baru, atavisme. Sederhananya ini adalah situasi di mana kita dipertemukan (kembali) dengan seseorang yang pernah akrab dengan kita. Bisa saja suadara, teman akrab, atau pasangan. Begitu pula kisah tokoh Bodas dengan Susan dalam salah satu cerpen yang juga menjadi judul buku kumpulan cerpen ini, Atavisme.
Bodas dari Surabaya. Susan dari Amerika. Mereka langsung jatuh cinta begitu pertama kali bertemu. Lalu, menjalin hubungan sebelum kemudian mereka kembali ke kota masing-masing setelah lulus kuliah. Bodas mendirikan kantor konsultan psikologi. Susan maju sebagai calon wali kota.
Seperti sebagian besar cerpen dalam buku ini, Atavisme juga mengakhiri ceritanya dengan absurd. Khas Budi Darma. Begitu pula 16 cerpen lain di buku ini. Cerita-cerita Budi Darma hampir selalu berakhir dengan cerita tak terduga.
Dengan penulisan yang unik, tiap cerpennya ngasih kesempatan kepada pembaca buat mengaitkan hubungan antara cerita dengan kehidupan pembaca. Memang kelihatan sukar dimengerti, tapi itulah yang menjadi daya tarik cerpen-cerpen Budi Darma. Alias dibawa asik aja guys (walaupun isinya full orang mati, hehe).
Entah kenapa yang paling keinget alurnya itu cerpen "Suara di Bandara", tapi kalo buat feel dan latar yang paling kerasa ada di "Tukang Cukur". TAPI, setiap ceritanya punya their own way to reach the readers. Kayak, kalo baca judul cerpennya lagi suka keinget salah satu tokohnya, terus out of nowhere jadi ngerasa punya ikatan sama tokohnya, padahal namanya aja cerpen, yang mana kita ketemu tokoh itu cuma sebentar.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membaca karya Budi Darma serupa menyelami pemikirannya yang magis. Maka dari itu sy enggan terburu-buru dan lebih memilih untuk menikmati alur cerita yang disajikan. Pun sudah sy perkirakan jika nantinya pasti akan menemui banyak sekali kebingungan tersebab dalam proses pembacaanya sy banyak dipertemukan dengan ihwal yang tersirat. Namun, seperti biasa gaya khas beliau justru menahan sy untuk tetap membacanya hingga tuntas.
Buku ini berisi sejumlah cerpen Budi Darma yang sebelumnya sudah pernah terbit di media cetak. Namun akan terus menjadi baru, sebab ia akan menemui takdir yang beragam (ditangan para pembacanya).
Sisi dark Budi Darma dalam menulis cerita. Suka banget sama cerita ceritanya. Beliau bisa banget menarasikan isi dari pikiran pikiran jahat manusia dalam sebuah cerita yang serius, tidak ringan, tapi menghibur. Sesuatu tentang gula jawa yang ada di setiap bagian bukunya. Apakah pembaca Atavisme mengalami makan gula jawa, kalau iya kita pernah di posisi yang sama, dan mungkin banyak hal di buku ini yang akan relate dengan kehidupan yang keras. Tapi ada hal manis yang selalu bisa kita andalkan disaat kita lapar bukan?
Tentu. Saya tertarik buku ini gara-gara covernya. Kayak bukan Budi Darma gitu sih, pas baca buku ini KRL Solo-Jogja sebelah nanya, apa itu buku komik saking menariknya.
Kumcer kali ini Budi Darma banyak menulis soal Jepang, yang terasa sadis dan gak sedikit berujung tragis. Beberapa tokoh muncul lagi di judul lain, sehingga seperti memang bersambung gitu.
Judul favorit : - Sang Pemahat - Sebuah Kisah di Candipuro - Lorong Gelap
This short stories collection is one of the concept books. As what appears as it title Atavisme, all the main character are established under atavism. They are connected with stories, characters, or events in the past based on some kind of similarities or identity. For me, this collection is not Budi Darma’s best, but it is still enjoyable to find atavism weaved in all the stories. Some of their characters even lives in more than one stories.
Reading Budi Darma’s stories was as nice as when you ate your favorite pizza. Even though some stories in this book weren’t better than the stories in his previous collections, Bloomington and Hotel Tua, they’re still fun to read. My favorite story in this book is Atavisme ofc.
Buku ini adalah karya terakhir Almarhum Pak Budi Darma, walaupun rata-rata cerpen di dalam buku ini ditulis di usia tua Pak Budi Darma tapi keliaran khas Pak Budi Darma masih terjaga dengn baik. Salut!
Buku yg selalu saya bawa ke mana-mana dari awal tahun, tapi baru saya rampungkan hari ini (akhir tahun). Antara saya yg susah meluangkan waktu atau cerpennya yg tak menarik utk membuat saya meluangkan waktu? Entahlah.
Ya saya menikmati kisah-kisah ini. Setiap cerita memiliki cerita lagi. Berlapis-lapis. Ini bagian dari keunggulankah kemampuan dalam mengembangkan cerita pendek.
Ini karya pertama Bapak Budi Dharma yang saya baca, walaupun ada beberapa cerita yang saya kurang paham maknanya tapi hebatnya bisa bikin saya penasaran baca terus sampai halaman terakhir
Bagi pembaca Budi Darma, membaca ulang cerpen-cerpennya merupakan aktivitas yang menyenangkan. Tak berbeda ketika membaca Atavisme, mungkin kita akan disuguhkan kembali cerita-cerita yang telah kita jamah sebelumnya.
Cerpen-cerpen Budi Darma selalu membawa identitas dan ciri khasnya sendiri. Maka tak heran jika merayakan terbitnya Atavisme sebagai penghargaan atas karya-karya beliau. Meski berbeda saat membaca "Orang-orang Bloomington", yang memakai latar Bloomington—tentu saja, saya dibuat akrab dengan Atavisme sebagai layaknya murni 'produk lokal'.
Satu-satunya cerpen yang paling berkesan bagi saya adalah "Lorong Gelap" (halaman 85). Selebihnya, saya menikmati cerpen demi cerpen dalam buku ini sebagai bacaan yang membahagiakan. Terima kasih, Pak Budi Darma. Swargi langgeng.