Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Road to the Empire #1

The Road to the Empire: Kisah Takudar Khan, Pangeran Muslim Pewaris Mongol

Rate this book
Takudar, Arghun, Buzun, adalah tiga putra Tuqluq Timur Khan, penguasa kekaisaran Mongolia, keturunan Jenghiz Khan. Setelah pembunuhan terhadap Kaisar dan permaisurinya, Takudar, Pangeran Kesatu yang juga pewaris sah tahta kekaisaran, menghilang. Arghun Khan, Pangeran Kedua naik menjadi Kaisar dengan konspirasi dan bantuan Albuqa Khan, orang kepercayaannya. Sementara Buzun, Pangeran Ketiga, tetap mengabdi di kekaisaran, tapi dengan rasa rindu dan penasaran terhadap hilangnya sang kakak, Takudar.

Arghun Khan menjadi Kaisar dengan semangat ekspansi untuk menguasai dunia, melanjutkan kebesaran leluhurnya, Jenghiz Khan. Ia bahkan berambisi menaklukkan Jerusalem. Namun, dalam gerakan penaklukan dan usaha meluaskan wilayah kekuasaan dengan ambisi yang begitu besar, selalu rakyat yang menjadi korban. Termasuk di dalamnya masyarakat Muslim, yang sejak Khalifah Rasyidin telah menyatu dengan bangsa Mongolia sebagai warga minoritas.

Bagi masyarakat Muslim Mongol, membiarkan gerakan ekspansi berarti juga menyiapkan kuburan massal. Tak ada pilihan, perlawanan harus dilakukan. Pada saat bersamaan, Pangeran Kesatu yang dalam pelariannya diselamatkan oleh orang-orang Muslim, telah kembali. Meski tersisih, menggelandang, dan tak punya kekuatan pasukan, menegakkan kembali kebenaran sejarah adalah sebuah hal yang niscaya. Bersama orang-orang Muslim, Baruji alias Takudar Muhammad Khan merencanakan perlawanan untuk merebut tahta. Buzun, Pangeran Ketiga pun berada dalam dilema. Haruskah ia memihak salah satu kakaknya?

Di sisi lain, perempuan-perempuan yang ada di sekeliling Arghun, Takudar, maupun Buzun, memainkan peran masing-masing. Almamuchi alias Uchatadara, gadis dari suku Tar Muleng yang selama ini setia menjadi pelayan Takudar. Urghana, putri Albuqa Khan yang mencintai Buzun, tapi harus menghadapi kekerasan hati Arghun, yang juga mencintainya. Selir Albuqa Khan, Han Shiang, yang licik. Juga Karadiza, gadis Muslim lugas dan pemberani.

Maka, intrik dan konspirasi politik pun bertabur dalam novel ini. Berbalut kisah heroisme dengan bumbu romantisme yang tak berlebihan.

573 pages, Paperback

First published January 1, 2008

12 people are currently reading
401 people want to read

About the author

Sinta Yudisia

46 books93 followers
Penulis asal daerah poci Tegal ini, punya nama lengkap Sinta Yudisia Wisudanti. Penulis pernah kuliah di STAN Jakarta sampai tingkat II, mengaku aktivitas tulis menulisnya sebagai bentuk penyaluran dari hobinya berkorespondensi dan membaca. Tak heran kalau tulisan-tulisan fiksinya sangat beragam mulai melodrama, komedi, science fiction, historical fiction, sampai cerita-cerita perjuangan dengan latar dalam dan luar negeri yang kerap menghiasi berbagai media cetak, terutama majalah Annida.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
145 (45%)
4 stars
107 (33%)
3 stars
48 (15%)
2 stars
14 (4%)
1 star
5 (1%)
Displaying 1 - 30 of 46 reviews
Profile Image for Sylvia.
Author 10 books72 followers
November 9, 2009
Baguusss banget! Sama sekali nggak nyesel bacanya. Meskipun sempet jiper liat bukunya yang tebal itu.

Buku ini mengisahkan perjalanan Takudar, pangeran pertama kerajaan Mongol selama masa melarikan diri setelah terjadi pemberontakan yang membuat Kaisar dan Permaisuri tewas terbunuh. Takudar, memegang janji ayahnya sang Kaisar bahwa dia akan menjadi seorang muslim, akhirnya memeluk agama Islam dan tinggal bersama orang-orang Muslim.

Sementara itu adiknya, pangeran kedua Arghun Khan naik tahta menjadi Kaisar karena Takudar dianggap mati. Arghun Khan yang didampingi seorang penasehat yang juga kemaruk harta dan kekuasaan, menjadi seorang kaisar yang lalim. Tak memperdulikan bahwa perang merusak segalanya. Yang dipedulikannya hanyalah bagaimana dia bisa menaklukkan semua daerah di Mongol seperti halnya Jengis Khan, leluhurnya.

Buzun, sang pangeran ketiga awalnya tak ingin berpihak pada siapapun. Dia hanya pasif saja meskipun hati kecilnya menolak kekejaman kakak keduanya itu. Dalam gundahnya Buzun pun mencari Takudar, sekedar ingin memastikan bahwa kakak pertamanya masih hidup atau jika sudah mati dia ingin mengetahui dimana kuburnya.

Akhirnya Takudar dan Buzun pun bertemu. Takudar yang sudah menjadi seorang muslim berprilaku sangat lembut, begitu pula sahabat-sahabatnya di Madrasah Babussalam. Namun Buzun yang saat itu masih belum bisa menentukan sikap, memutuskan untuk kembali ke ibu kota.

Peperangan antara kaum muslim dan tentara Kaisar tak terelakkan lagi ketika Takudar akhirnya menerima kenyataan bahwa Arghun Khan harus dihentikan karena penaklukannya sudah banyak menelan korban. Apalagi kaisar Mongol hendak membantai kaum Muslim. Takudar tak bisa berdiam diri dan mereka pun akhirnya berhadap-hadapan beradu pedang demi mencapai tahta kekaisaran. Seperti halnya perang yang memakan begitu banyak korban, pertempuran satu lawan satu pun mengambil korban nyawa meskipun sudah diupayakan agar tak lagi banyak korban yang berjatuhan.

Ceritanya sangat memikat, dan membacanya seperti menonton film kolosal bertema kerajaan Mongol yang gegap gempita. Apalagi penggambaran pertempurannya yang demikian dahsyat. It really IS a GOOD book :)
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books175 followers
January 28, 2009
Novel ini benar-benar membetot segala rasa saya. Saya tersentak, saya bergemuruh, saya menangis, menelusur epik yang begitu detail dan kuat nuansa risetnya. Pemaparan tokoh-tokohnya begitu manusiawi. Tak ketinggalan, kisah romantika yang benar-benar berbeda, tak bergenit-genit dan mendayu-dayu tanpa arti. Bab demi bab membuat saya acap kali menarik napas. Dan sampai pada titik kata terakhir, saya tak mau novel ini tamat….
Profile Image for Akhi Dirman Al-Amin.
22 reviews6 followers
March 23, 2012
TENTANG CINTA, PERSAUDARAAN DAN PERJUANGAN

(Pelajaran Berharga Dari TRTTE)





Judul : The Road To The Empire (Kisah Takudar Khan, Pangeran Muslim Pewaris Mongol)

Penulis : Sinta Yudisia

Penyunting Ahli : Maman S. Mahayana

Genre : Novel Sejarah

Penerbit : Lingkar Pena Publishing House

Cetakan : I, Desember 2008



Sesekali, tanyakanlah pada anak – anak atau remaja di sekitar kita, “Siapa nama pahlawan yang mereka kenal?!”. Tak jarang, tanpa ‘merasa bersalah’, sebagian dari mereka menjawab dengan polos, “Spiderman”, “Wonder Woman”, atau bahkan “Doraemon”! Ajaib bukan?!

Maka, sejarah – sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi kita untuk mengarifi kehidupanpun menguap begitu saja.

Beberapa tahun terakhir, beberapa orang penulis tanah air mencoba menjawab kegelisahan ini dengan menghadirkan kembali sejarah dalam kemasan yang berbeda; fiksi, entah itu novel ataupun cerpen. Sebut saja di antaranya Tasaro (Pitaloka) , Sakti Wibowo (Tanah Retak), Agus Trijanto (Tonil Nyai di Ujung Senapan), Afifah Afra (Trilogi Bulan Mati) atau Langit Krena Hariadi (Gadjah Mada) yang mewakili generasi saat ini. Di generasi dahulu, bisa kita temui nama Pramodia Ananta Toer (Bumi Manusia), Abdul Muis (Suropati), juga SM. Ardan (Nyai Dasimah). Yang terbaru dan cukup populer adalah Sinta Yudisia dengan novelnya The Road To The Empire yang berhasil meraih Award untuk Buku Fiksi terbaik di ajang Islamic Book Fair 2009 lalu. Novel ini adalah sekuel dari dua novel Sinta sebelumnya, Sebuah Janji dan The Lost Princes. Sayangnya dua buku terdahulu ini kurang ‘terdengar’ gaungnya. Padahal, menurut saya pribadi, dua buku ini tidak kalah bagusnya. Hanya saja, secara kemasan, The Road To The Empire memang tampil lebih menarik dan menjual.

Novel setebal 586 halaman ini sangat kental nuansa Mongolnya. Kita akan dibawa oleh Sinta Yudisia, yang telah menulis beberapa buku best seller ini, ke dalam sebuah pertempuran bukan hanya fisik, tapi juga batin seorang pejuang mongol, Takudar Khan. Membaca buku ini, niscaya kita akan semakin menghayati nilai sebuah ikatan persaudaraan yang bukan disebabkan oleh aliran darah semata, tapi oleh sesuatu yang lebih dalam dari itu. Dan tanpa anda sadari, anda akan menangis atau mungkin tersentuh dan tertawa karenanya. Kisah yang sungguh indah dan inspiratif.

Novel ini bercerita tentang Takudar, Arghun dan Buzun adalah tiga putra mahkota dari dinasti mongol yang tercerai berai karena penghianatan Albuqa Khan yang dianggap sebagai tangan kanan Kaisar, tapi sebetulnya tak lebih seperti srigala berbulu domba. Ayahnya, Tulquq Timur Khan, juga ibunya Permaisuri Ikhata meninggal dunia dengan tidak wajar. Padahal kaisar Tulquq Timur Khan yang bijaksana itu mempunyai harapan yang mulia untuk mengembalikan kejayaan dinasti mongol dan menyatukan rakyatnya di bawah panji perdamaian yang kokoh tanpa dikotori pertumpahan darah dan kekerasan sebagaimana yang dilakukan leluhurnya. Tentu masih lekat dalam sejarah bagaimana kejamnya Jengish Khan yang mencatat sejarah berdirinya imperium Mongolia sebagai kekaisaran terbesar kedua di dunia dan yang paling masyur di dataran Cina itu dengan tinta darah dan peperangan.

Sejak kejadian berdarah yang menimpa istana itu Takudar, putra mahkota, melarikan diri ke arah Barat dan memulai hidupnya sebagai rakyat jelata. Bayangan masa lalu yang seakan terus mengejar, bahkan sampai ke dalam mimpi adalah sebuah siksaan berat yang harus ditanggungnya sepanjang hidup. Iapun berganti nama menjadi Baruji dan menyusun kekuatan di sebuah madrasah pimpinan putera Syaikh Jamaluddin dan memeluk keyakinan yang dianut Syaikh Jamaluddin dan keturunannya.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Mampukan Takudar atau Baruji merebut kembali tahta dan mengubah wajah Mongolia yang penuh ceceran darah dengan cahaya yang cemerlang?! Apakah Takudar akan bertemu dengan saudara-saudaranya kembali? Sanggupkan Takudar melawan adiknya sendiri, Arghun Khan, yang memimpin Monggol dengan tangan besi?! Apakah takudar akan menikah dengan Yan Chi, yang selalu setia bersamanya?!

Semuanya akan terjawab dalam rentetan peristiwa yang seolah rententan pristiwa yang diolah secara indah oleh Sinta Yudisia dalam novel ini. Nuansa sejarah yang kaku dan membosankan berhasil ditepis oleh penulis paling prodkutif di jajaran aktivis FLP ini. Bahasa yang mengalir tajam adalah kekuatan utama novel ini.

* * *

“Menguras perasaan!”

Itulah kesan pertama saya usia membaca novel tebal ini. Cinta, penghianatan, persaudaraan, intrik, taktik perang dan segala hal seolah menyatu dalam novel ini. Hal ini semakin terasa karena Sinta Yudisia berhasil menggambarkan detail dan lattar Monggol dengan begitu indah. Membaca buku ini, kita seolah bisa merasakan nuansa oriental yang sangat kental dan hidup, khas Sinta. Yang saya perhatikan dari karya-karyanya, Sinta Yudisia memang adalah tipe penulis yang mau ‘bersusah payah’ melakukan riset untuk menghasilkan karya yang bermutu dan bernuansa.

Dialog – dialog yang padat dan kalimat demi kalimat yang disusun dengan indah serta penuh nuansa semakin membuat kita merasa berat untuk tidak membuka halaman demi halaman novel ini sampai akhir.

Lingkar Pena Publishing House, selaku penerbitpun betul – betul memperhatikan detail sampul yang sangat memikat dan epik banget. Nampaknya ini menjadi daya jual sendiri bagi novel ini. Bahkan Maman S. Mahayana, seorang guru besar UI yang telah malang melintang (jie….) di jagad sastra tanah air ikut mewarnai novel ini sebagi editor.

Namun, sayangnya, ada banyak kesalahan ejaan kata dalam beberapa lembar buku ini. Kesalahan kecil memang, tapi betapa mengganggunya. Lebih – lebih ketika membaca tagline judul novel ini; Kisah Takudar Khan, Pangeran Muslim Pewaris Mongol. Padahal dalam novel ini, Takudar Khan adalah putra mahkota atau ahli waris, bukan pewaris (yang mewariskan). Aneh sekali, bukan?!. Saya juga termasuk ke dalam golongan pembaca yang merasa ‘diremehkan’ dengan penggunaan tagline di banyak novel belakangan ini. Padahal, saya pikir, tanpa tagline-pun, pembaca cukup memahami seperti apa isi sebuah novel.

The Road To The Empire memang adalah judul yang cukup bagus. Namun, apakah tidak lebih baik jika diberi judul yang Indonesia saja?! Memang, belakangan ini, banyak penulis kita yang –maaf- merasa lebih pede memakai judul dengan bahasa asing, karena dianggap lebih mudah diserap pasar. Tapi jika tujuannya agar ide dalam tulisan kita bisa ditangkap, why not?! Namun, memakai judul dengan bahasa Indonesia yang membumi di masyarakat, saya pikir adalah sebuah langkah bijak yang juga harus dipikirkan oleh penulis.

Terlepas dari itu, bagaimanapun, The Road To The Empire, adalah sebuah novel yang patut diapresiasikan dan layak menjadi koleksi yang akan dibaca oleh generasi – generasi muslim ke depan, sehingga inspirasi – inspirasi positif dalam novel ini, agar kita terus berjuang membela dien, bisa terus berkibar sepanjang abad.

Lebih – lebih lagi, Sinta Yudisia dan para penulis perempuan FLP lainnya lahir di tengah euphoria penulis perempuan yang seolah berlomba ‘mengibarkan’ bendera sastra seputar kelamin.

Dan hey, Sinta Yudisia! Mengapa tak kau tulis sejarah Indonesia yang gilang gemilang dalam novelmu?! Saya percaya, banyak yang menunggu goresan pena emasmu! Teruslah berkibar dan jangan padam!***



Bima, Juli 2009
Profile Image for Mar.
16 reviews11 followers
July 14, 2009

Judul : The Road to The Empire
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Cetakan : I, Desember 2008
Tebal : 571 halaman

Janji Suci Sang Pangeran Mongol


Melihat cover dan judulnya, yang terbayang adalah sebuah kisah tentang kaisar, pedang dan peperangan. Melihat ketebalannya, yang terbayang adalah cerita yang demikian panjang dan pelik layaknya penggambaran kisah sejarah. Namun, membaca mulai lembar pertamanya ternyata cukup menarik dan mengundang rasa penasaran untuk mengikuti lembar-lembar selanjutnya.


Novel ini berkisah tentang perjuangan pangeran Takudar Khan untuk melanjutkan amanah ayahnya, Kaisar Tuqluq Timur Khan yang dibunuh dalam sebuah pengkhianatan. Pemicunya adalah, panglima Albuqa Khan tak suka dengan Tuqluq yang sedang terpikat oleh indahnya nilai-nilai Islam dan berencana akan mewarisi nilai-nilai tersebut pada pemerintahan Takudar Khan kelak. Setelah pengkhianatan dan pembunuhan pada Tuqluq dan permaisuri, pemerintahaan yang tercerai berai, digantikan oleh putera kedua kaisar, Arghun Khan yang kemudian memerintah dengan semena-mena. Cerita berlanjut pada rencana Takudar untuk menggulingkan rezim Arghun Khan yang selalu menumpas daerah-daerah minoritas termasuk wilayah muslim.

Diakhir bab, cerita menjadi seru ketika peperangan dimulai dan berlanjut pada peristiwa berdarah, perang saudara antara pangeran Takudar dan kaisar Arghun. Saat-saat mengharukan yang mampu membuat air mata menetes adalah ketika adik bungsu mereka, Pangeran Buzun yang berusaha melerai justru menjadi korban pedang Argun yang menembus ulu hatinya. Takudar demikian sedihnya dan tak menyangka, adiknya yang lama tak ditemuinya mati di tangan kakaknya sendiri, Arghun Khan.

Secara menyeluruh, imajinasi penulis demikian sempurna menghadirkan kisah kekaisaran Mongol dalam cerita ini. Dari mulai seting, penokohan, nama, hingga aksesoris dan istilah-istilah yang digunakan jelas didahului dengan riset sejarah yang tak mungkin sedikit. Cukup salut dengan deskripsi berbalur gaya bahasa metaforis yang membuat novel ini benar-benar hidup. Hingga layaknya sebuah film, kekaisaran mongol dengan rentangan abad yang silam, mampu dihadirkan penulis secara nyata. Tak heran, Choirul Umam berkomentar dalam endorsement novel ini, ”Sangat filmis, Sinta mampu menghadirkan Mongol pasca Jenghiz Khan dengan sangat memikat. Pun dengan karakter tokoh-tokohnya yang kuat.”

Membaca novel setebal 500 halaman lebih ini dirasa tak begitu menjemukan. Seting daratan Cina yang penuh liku dan strategi peperangan yang pelik, oleh penulis dibumbui dengan kisah-kisah romantisme antara kaisar dengan Urghana, putri panglima Albuqa Khan yang cantik, dan juga Takudar Khan yang diam-diam menyukai Almamuchi, pelayannya yang sangat setia.


Sejumput pesan penting yang tertangkap dalam novel ini adalah, bahwa ikatan akidah/keyakinan mengalahkan ikatan darah. Takudar yang mencintai Argun Khan, saudara kandungnya sendiri, harus rela menggeser rasa ibanya pada Argun Khan dan memeranginya demi mengemban janji suci sang ayah menegakkan pemerintahan yang adil. Namun entah disengaja atau tidak oleh penulisnya, simpul kepribadian Argun Khan yang mencerminkan kebengisan dan kejahatan yang membedakannya dengan kedua saudaranya hanya ditonjolkan di akhir cerita. Sehingga di awal cerita, sempat terselip bias keraguan untuk menetapkan bahwa Arghun Khan layak untuk ditumbangkan.

Novel yang tak biasa dibanding novel lainnya yang menyodorkan tema normatif yang tak jauh dari kekinian. Melalui nilai sejarahnya, secara tak langsung novel ini mencerdaskan pembaca yang tak mengetahui seluk beluk sejarah Mongolia dengan Jenghiz Khan-nya. Juga, terselip tanpa sadar, bahwa ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari nilai sejarah yang diramu penulis melalui sebuah cerita. Sebuah perjuangan menyeluruh dari rakyat yang setia pada pemimpin yang adil, mengagumi kekuatan ikatan persaudaraan dalam agama, serta keyakinan yang mengharukan ketika kebatilan akhirnya tumbang dan dikalahkan oleh kekuatan yang tak terduga. Setidaknya, seperti saat membacanya, gambaran deskripsinya yang nyata mungkin akan semakin tampak seru jika novel ini diangkat menjadi film kolosal di layar lebar. MARDIANA (diana20377@gmail.com)
Profile Image for Toffan Ariefiadi.
Author 1 book10 followers
June 23, 2010
4,5 bintang!

Bagi sebagian orang novel berhalaman tebal cepat membuat mereka bosan dan mungkin malas untuk membacanya, tetapi tidak untuk novel ini.

Takudar, Arghun, dan Buzun adalah tiga putra Tuqluq Timur Khan, penguasa kekaisaran Mongolia, keturunan Jengiz Khan. Semasa hidupnya Tuqluq Timur Khan berjanji kepada Syaikh Jamaluddin bahwa ia akan menjadi seorang Muslim usai menyatukan Mongolia. Belum sempat menunaikan janjinya terjadi kudeta yang menewaskan Tuqluq Timur Khan dan Permaisuri Ilkhata. Sebelum meninggal, Tuqluq Timur Khan telah mewariskan janjinya kepada Takudar, sedangkan Syaikh Jamaluddin kepada Rasyiduddin.

Tuqluq Timur Khan memimpin Mongolia dengan sangat bijaksana dan arif, namun semua berubah setelah kematiannya. Kekaisaran Mongol beralih kepada pemimpin yang kejam dan sangat mencintai peperangan.

Arghun, Pangeran Kedua naik tahta secara otomatis dengan penuh konspirasi atas bantuan Albuqa Khan, panglima kepercayaan Kaisar Tuqluq setelah Pangeran Kesatu, Takudar, pewaris sah tahta kekaisaran menghilang bersama pelayan setianya. Sementara Buzun, Pangeran Ketiga, tetap mengabdi di kekaisaran dan sesekali mencari tahu keberadaan Takudar.

Di bawah bayang-bayang Albuqa Khan, Arghun menjadi Kaisar yang sangat ambisius dan bersemangat menaklukan dunia. Sebagai Panglima Besar Mongol dan satu-satunya penasihat Kaisar, Albuqa Khan dengan mudah menyetir Arghun untuk bertindak sesuai keinginannya. Albuqa Khan meyakinkan Arghun akan wasiat Jengiz Khan kepada putra-putranya bahwa hanya ada satu matahari di langit dan meneruskan ekspansi Mongol ke wilayah barat ke arah jantung dunia: Jerusalem. Arghun yang berhati keras dan mudah terpengaruh ucapan Albuqa Khan mulai menyiapkan pasukan demi mewujudkan cita-cita Jengiz Khan tersebut.

Sementara itu dalam pelariannya, Takdir Tuhan mempertemukan Takudar dengan Rasyiduddin atau Salim di Syakhrisyabz. Di wilayah muslim Mongol tersebut Takudar berikrar menjadi seorang Muslim dengan nama Islam Takudar Muhammad Khan. Agar tidak membahayakan dirinya, Takudar lalu menyembunyikan identitas diri dengan menyamar menjadi rakyat jelata dan mengubah namanya menjadi Baruji.

Bersama orang-orang Muslim, Baruji merencanakan perlawanan dan menggalang pasukan untuk merebut tahta kekaisaran. Kepercayaan umat Muslim akan janji Kaisar Tuqluq Timur Khan terwariskan kepada Baruji. Mereka percaya bahwa Pangeran Kesatu akan memenuhi janji tersebut. Bagi Muslim Mongol, Baruji adalah sebuah harapan, Asa akan sebuah keadilan dan naungan bagi ribuan rakyat dalam prahara.

Layaknya sebagian besar fiksi lain, novel ini pun berbalut bumbu romantisme dengan kehadiran perempuan-perempuan yang memiliki peran masing-masing. Uchatadara atau Almamuchi, dayang pribadi Pangeran Kesatu yang mendapat mandat dari Permaisuri Ilkhata untuk melayani dan menjaga Takudar meski harus berkorban nyawa. Urghana, putri Albuqa Khan yang dicintai Arghun tapi mencintai Buzun. Selir Albuqa Khan, Han Shiang yang sama liciknya dengan Albuqa Khan. Juga Karadiza, gadis muslim pemberani dan lugas.

Novel ini adalah jawaban dari kisah panjang menggetarkan yang dimulai oleh "Sebuah Janji" Kaisar Tuqluq Timur Khan untuk menyatukan Mongol di bawah kepemimpinan kekaisaran Muslim dan pelarian lama nan melelahkan Takudar dalam "The Lost Prince".

Selamat membaca!
Profile Image for Truly.
2,765 reviews13 followers
March 13, 2010
Buku ini termasuk buku yang membutuhkan lama untuk dibeli.Nyaris 2 tahun. Pertama kali lihat dan membaca sinopsinya sudah terlarik. Lihat harga ternyata STD. Namun lihat cetakannya langsung ngacir dengan teratur. Niat mau ngintip rak buku teman2 kok kelewatan terus

Di IBF, buku ini dipasangi tulisan diskon 40 % dengan manis, sepertinya sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak jadi membelinya. Dengan menguatkan hati, lembar demi lembar halaman buku ini saya buka. Lembaran yang ada mengajak saya berpetualang.

Penulis yang melakukan riset dengan baik sehingga mampu menceritakan sebuah rincian tanpa kesan menggurui sepertinya sangat langka. Buku ini dibuat tanpa maksud menonjolkan satu golongan dan menjatuhkan yang lain. Isinya hanya menguraikan sebuah keadaan saja.Kisah peperangan yang sering kali berkesan kejam diimbangi dengan kisah romance yang mendayu-dayu.

Kesulitan saya hanya suka lupa nama-nama tokoh karena merupakan nama asing yang sering kali mirip. karena cetakan yang menyedihkan buat mata saya, makanya bintangnya dkurangi satu.

Kalimat yang paling berkesan dalam buku ini (untuk saya pribadi) ada dihalaman 459. " Seorang lelaki biasa yang tidak sebijak Abubakar, tidak sekuat Umar, tidak sekaya Utsman, tidak secerdas Ali. Hanya pemuda dhaif yang meyongsong kebangkitan"
Mau satu dung.............! ^_^
Profile Image for Herdi Rap.
15 reviews6 followers
March 19, 2010
Aku hanya Seorang lelaki biasa yang tidak sebijak Abubakar, tidak sekuat Umar, tidak sekaya Utsman, tidak secerdas Ali. Hanya pemuda dhaif yang meyongsong kebangkitan (hal 459)

berlatar belakang kekaisaran Mongol masa pemerintahan Tuqluq timur khan yang merupakan keturunan ketiga dari Jengiz khan.Masa dimana mulai masuk dan diterima pengaruh Islam di kekaisaran Mongol.
Tuqluq timur khan yg bersikap 'menerima' dan berjanji akan mendalami Islam pada salah seorang ulama menimbulkan bara dalam sekam di kerajaan.sikapnya yg seolah melindungi kaum muslim di mongol menimbulkan pemberontakan bahkan pembunuhan dirinya dan permaisuri..meninggalkan tiga orang putra pewaris tahta mongol,Takudar,Arghun khan dan Buzun.
Takudar sebagai pangeran kesatu yg setelah pembunuhan ayah ibunya melarikan diri ke pemukiman kaum muslim demi melanjutkan janji ayahnya.Ia akhirnya memeluk Islam.menyusun strategi untuk 'kembali' ke kekaisaran demi mendengar bagaimana kacaunya mongol dibawah pimpinan Arghun khan,adiknya.

Sangat dramatis,tidak bertele-tele,intrik dan konspirasi politik bertabur dalam novel ini. Heroisme berbalut bumbu romantisme yang memikat dan menggetarkan..
Salut buat Sinta Yudisia..
Profile Image for Nenangs.
498 reviews
July 4, 2009
2/3 bagian awal buku ini rasanya berjalan terlalu lambat. Mungkin bahkan 3/4 bagian. Ada sih bagian2 menarik terselip disana-sini, misalnya waktu Almamuchi mendapatkan kitab rahasia sejarah, atau bagian pertemuan (& perpisahan) Almamuchi dengan ibunya.

Mungkin setelah bagian pertemuan Buzun dengan Rasyiduddin dan seterusnya, barulah buku ini benar2 menarik perhatian saya.
Entah kenapa, mungkin karena saya berharap lebih banyak "action" dalam buku ini.

Kekurangan lain, banyak sekali salah ketik (typo) nya. Butuh editor dan proof reader yang lebih handal? :P
Profile Image for Ziyy.
643 reviews24 followers
January 28, 2011
saya pribadi sangat menikmati membaca buku ini,
mulai benar-benar menikmati buku ini lewat dari halaman dua puluh-an..

detil-detil yang tersaji terkait latar zaman mongol berjaya sangat terasa.
apik sekali penyajian dara sejarahnya.

romantisnya pun dapet banget..
ampe dibikin nangis..
apalagi sama ukhuwah antara Takudhar dan Salim
membuat saya mengingati ukhuwah yang kental antara Anshar dan Muhajirin.
top banget lah.
sukaaa
hhee :-D
Profile Image for Happy Zahrotin.
6 reviews
July 17, 2010
worthwhile readinggg. bagus banget. awal bacanya sih emang rada2 'abot' bahasanya, karena pengarangnya menggambarkan berbagai latar dengan cukup detail dan puitis sekaliii. cukup banyak tokoh yang terlibat dalam karya epik ini tapiii keindahan bahasa dan karakter tokoh benar2 bisa bikin i lov the figures mulai dari takudar, salim, dkk. SUPERB BOOK!
23 reviews
August 24, 2013
bacaan ringan yang sarat gizi. barusaja menyelesaikan buku ini. dan masih... terguncang. penulis berhasil menguliti sisi psikologis pada tiap-tiap tokoh yang berperan. kebimbangan, pergolakan batin, keteguhan, dan rasa-rasa lain yang mewarnai novel ini membuat saya merasa demikian dekat dengan para tokoh. really worth to read! \[°●°]
Profile Image for Ming Wei.
Author 22 books288 followers
September 16, 2019
I found this book engaging from start to finshed, cannot think of one negative to say about it, without getting any plot spoliers, it really is well written, very interesting, really enjoyed it. I was impressed by the book cover, the story is easy reading and flows at a nice pace throughout. No editorial errors, an excellent book from start to finsh.
5 reviews1 follower
May 22, 2009
keren bangeth!!!!!!!
di indonesia masih cukup sedikit orang yang mw bersusah payah membuat buku dengan genre seperti ini
walaupun akhir ceritanya cukup membuat sakit hati, it's ok!
salut sama mba sinta
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,030 reviews64 followers
September 7, 2011
Penyajian epiknya sangat bagus, tapi mungkin bisa diperjelas lagi latar waktunya...supaya bisa ikut menelusuri kisah dari Takudar secara non-fiksi. Untuk label buku yang bertuliskan "Novel Dewasa", agak gak setuju karena menurutku buku ini layak dibaca para remaja
Profile Image for mona.
29 reviews
January 7, 2011
Fii aamanillah, Aisyah, pendekar padang rumput Tar Muleng. <-- can't forget this scene :)

Like the way the author tells all the things in this book. love, pain, and love above love. ^_^
Profile Image for Suci ays.
19 reviews8 followers
August 1, 2011
Lama sekali buku ini masuk dalam waiiting list, Alhamdulillah jumat kemaren buku ini beserta sekuel keduanya "Tahta Awan" sampai dengan selamat sentosa di kamarku terbungkus rapi kumplit dengan tanda tangan dan pesan spesial dari sang penulis ^_^. Maklum beli langsung pada penulisnya Mbak Sinta Yudisia.

Ini bukan buku pertama Mbak Sinta yang kubaca, jadi tidak kaget dengan deskripsi panjang diawal menjelaskan duduk perkara ihwal pelarian sang Pangeran Pertama Takudar Khan. Meskipun seret diawal (secara daku memang rada enggan baca deskripsi yang terlalu panjang ^_^') tapi setelah sampai sekitar sepertiga, cerita mulai menglir lancar malah membuatku enggan melepaskannya seolah menuntut untuk segera menamatkannya. ^_^

Dalam pelarian inilah Takudar khan dan pelayannya berganti nama menjadi Baruji dan Almamuchi (bener ga nih tulisannya?) bertemu dengan Rasyiduddin yang juga berganti nama menjadi Salim (my fav character in this story ^_^), mereka berdua bekerja sama demi mengembalikan hak sang pangeran pertama akan Tahta Mangolia dan mengembalikan kejayaan Islam.

Mbak Sinta benar - benar membuatku teraduk - aduk emosi, mulai dari geregetan sama Baruji yang kerap meragukan ketulusan Salim (bagian paling aku benci), pada Urghana yang gegabah. Sayang pada kepolosan Buzun yang sangat menyayangi kedua saudaranya, dan dilema yang dia hadapi.

Membaca buku ini serasa menonton film Kingdon of Heaven, filmis banget emang. Mata berasa panas saat pasukan Rasyiduddin terpojok apalagi saat Ia dan beberapa sahabatnya harus menjadi tawanan, disiksa begitu rupa oleh prajurit Arghun Khan, marah pada kebejatan Arghun dan jendral - jendralnya yang telah berbuat nista, rasanya pengen jambak rambutnya (cewek banget neh marahnya, jambak - jambakan ^_^).

Sempet deg - degan pas Takudar Muhammad Khan memilih kembali pada sahabat dan pasukannya yg ditawan menolak untuk mundur, mendapati sahabatnya disiksa tak bergeming saat ia mencoba membangunkan, seolah kejadian itu nyata aku pun berdoa, jangan mati salim, jangan mati....

Rada kaget sih, ternyata dari tangan seorang muslimah terlahir sebuah novel yang penuh dengan intrik - intrik politik dan adu ketangkasan bela diri, saluuuut. Makanya aku berani memberikan semua jempol ku (dua jempol tangan dan dua jempol kaki) untuk buku ini.

Setelah ini "Tahta Awan" telah menunggu untuk dibabat habis, tapi harus menunggu hingga week end, secera kl hari kerja waktu mepet banget. Benar - benar harus menahan nafsu untuk menyimpan "Tahta Awan", masih ada Mushaf yang harus tetap jadi prioritas. Tapi sepertinya pertahanan sudah mulai goyah, pagi ini saat mengembalikan "The Road To The Empire" ke lemari "Tahta Awan" melambai - lambai menggoda, hasilnya sempat curi - curi beberapa lembar, ga pa pa deh asal tilawahnya g lupa ^_^
Profile Image for Kurnia Dwi Aprilia.
216 reviews4 followers
June 7, 2017
Bercerita tentang Kekaisaran Mongolia, warisan Jenghis Khan. Kekaisaran ini dipimpin oleh seorang raja yg arif dan bijak bernama Tuqluq Timur Khan yg kemudian menyatakan dirinya memeluk Islam. Namun keisalam sang raja menjemput kematian baginya dan sang satu. Mereka dibunuh oleh orang kepercayaan dan menyisakan 3 orang pangeran yg salah satunya diamanahi untuk membawa kerajaan pada nafas Islam. Pangeran pertama yg mendapat wasiat ini dipersaudarakan anda dengan seorang anak dari syekh yg mengenalkan islam pada sang raja Tuqluq Timur Khan. Namun karena pangeran pertama terancam nyawanya, maka dia melarikan diri dengan dayang setianya, Almamuchi, ke Babussalam yg merupakan tempat tinggal Rasyidudin, saudara andanya, dan tinggal di tengah2 umat muslim.
Sejak pangeran pertama meninggalkan kerjaan, kekaisaran kemudian jatuh ke tangan pangeran kedua yaitu Arghun Khan yg kejam karena pengaruh Albuqa Khan. Tinggal pula bersamanya pangeran Ketiga, Buzun, yg tidak punya kekuasaan yg besar untuk melawannya meski dia juga adalah seorang bangsawan.
Di sebelah barat, Takudar dan Rasyiduddin beserta orang2 muslim memupuk kekuatan untuk menggulingkan kekuasaan Arghun Khan yg semena-mena dan berhati serigala. Kaum muslim mendukung Takudar untuk menjadi pemimpin kekaisaran Mongolia dan membawa nama Islam ke dalam kepemimpinannya. Upaya-upaya itu semakin menguatkan tekad kaum muslim untuk berjihat setelah melihat kemalangan yg ditimpa rakyat Mongolia, dan pertumpahan darah yg terus dilakukan untuk melebarkan kekuasaannya. Rakyat dipaksa membayar pajak, tidak terpenuhi kesejahteraannya, pembantaian2 kejam dan sadis bagi pembangkang, sementara raja bermegah mewah dengan kekuasaannya. Namun perjuangan itu tidaklah mudah. Takudar pada akhirnya harus merelakan dirinya melawan rasa cinta kepada saudara kandung dan bangsanya sendiri demi meraih kekuasaan yg menjadi haknya. Lalu pertarungan itu pada akhirnya memakan banyak korban berupa orang2 yg dicintainya pula.
Happy ending memang, tapi tidak semua bagian endingnya menggembirakan.
Penulisnya keren banget. Ceritanya, syairnya, susunan katanya, dan tentu seluk-beluk mengenai peristiwa yg terdapat dalam cerita sangat memukau. Riset yg dilakukan penulis tidak asal-asalan dan wajib diacungi jempol. Tidak mudah membuat sebuah karya yg seperti ini. Tidak ada adegan cinta menye-menye, tapi pada porsi yg pas dan sesuai dengan tujuan alur cerita. Membaca novel ini rasanya seperti membaca cerita fakta, bukan fiksi. Entah bagian mana saja yg merupakan fakta sejarah yg benar2 terjadi dan bagian mana yg hanya tambahan penulis.
Oleh sebab itu, jadi penasaran dengan cerita sesungguhnya dan kelanjutan dan kisah kepemimpinan kaisar muslim Mongolia.
Profile Image for Felita.
1,218 reviews52 followers
April 26, 2012
pertama kali pas baca sinopsisnya, ga ngira yg bikin penulis indonesia. lebih kaget lagi pas beres baca. wow.....

sang penulis bener2 mampu menghidupkan dunia mongol. lbh senang lg ada sentuhan islamnya. walaupun ga nyata, anehnya tulisannya bener2 bisa membuatku merasa ada di dalamnya.

temanya : the lost prince di kerajaan mongol. takudar, sang pangeran digambarkan tidak sempurna. ada ketakutan dan kecemasan tuk mengambil alih. bahkan seingatku pertama dia ga terlalu berminat kembali ke kerajaannya. tapi tindakan sang adik yg semena2 menggunakan kekuasaan sementara takudar, membuat takudar berpikir ulang. hasilnya udah bisa ditebak.tapi prosesnya itu loh..sempat ada perang antara kakak-beradik ini.dan mba sinta jg ga segan mematikan salah satu tokoh tidak bersalah yg berhubungan dg takudar.

kisah intrik kekuasaan di buku ini tergolong sederhana, ditambah rasa setia diantara teman2 baru takudar plus romance, walaupun ga banyak. penulisannya yg agak mendetail dan tiap tokoh dibikn cerita, bikin mata ga bisa lepas. well. acungin 5 jempol bwt mba sinta. penasaran cerita keduanya gmn. lanjut ke buku berikutnya.
Profile Image for Arifa Hilma.
35 reviews1 follower
August 12, 2016
tokoh-tokoh yang tulus, yang kejam, yang bengis, licik, semuanya berebut tempat di hati pembaca.
kita akan merasakan beban seorang pangeran pelarian yang menjadi tumpuan harapan rakyat jelata dan miskin.
kita juga akan bertemu gadis tangguh dan tulus yang tak terhindar dari bahaya demi bahaya demi memegang janjinya.
ada juga kaisar muda, cerdas dan tampan yang berhati singa penguasa negeri matahari terbit hingga negeri matahari terbenam namun cintanya tak terbalas.
kemudian kita akan menemui gadis cantik dan mulia, penuh talenta seni hingga beladiri yang dicemburui selir dan dayang-dayang.
dan siapkan diri kalian menemui pemuda shaleh yang cerdas, bijaksanan dan tulus.
oya, saya sarankan jangan terlalu kesal sampai merobak-robek buku ketika janda dari keluarga bangsawan mengucapkan kata-kata manisnya yang beracun...
Profile Image for Rida.
43 reviews3 followers
December 16, 2014
buku ini superb.
yah semoga tidak berlebihan. namun menurut saya ini salah satu novel karya anak bangsa yang apik. cerita yang disampaikan naratif, sehingga perlu sedikit usaha untuk mencernanya.
mungkin ada beberapa istilah mongolia yang mungkin sedikit mengganggu karena arti katanya ada di halaman sebelumnya sehingga sulit untuk mencari lagi.
kemudian ada beberapa kata yang salah huruf.
Tapi over all isi bukunya oke. ceritanya ngalir dan saling berkaitan. menguras emosi antar tokoh serasa menonton filmnya (berharap ini dibuat film). hhehe..
salt mba sinta.
saya mau beli lagi seialnya. ga sabar baca kelanjutannya Takudar dkk.
Profile Image for Zahra Muthmainnah.
16 reviews
January 29, 2014
Aku udah baca semua serinya. tapi yang benar- benar punya aku cuman ini doang sisanya minjem hehe
udah lama sih bacanya, sekitar empat tahun lalu.
Setiap tokoh yang diciptakan bikin aku jatuh cinta banget sama buku ini.
paling suka sama pasangan Arghun dan Urgana. Seandainya mereka bersatu:')
Pas baca geregetan banget. sayang sosok sempurna Arghun harus jahat:( itu paling ngeselin
dan urghana mati itu bikin jedotin kepala hehe lebay.
Good job deh buat Mba Sinta. empat bintang aja ya, nggak berani kasih lima. kan nggak ada hal yang sempurna:)
Profile Image for Yulina.
1 review
January 19, 2014
Biasanya, buku yang saya anggap bagus dilihat dari rasa yang ditinggalkan setelah membacanya. Dan buku ini meninggalkan rasa haru, pedih, sesak, getir. Cerita yang mengaduk-aduk perasaan. Mbak Sinta seperti menarik perasaan saya ke arah yang salah. Ketika membaca, tanpa sadar saya berkata dalam hati: 'tolong, jangan! jangan terjadi seperti itu!'. Tapi hal-hal yang tidak saya inginkan tetap terjadi. Dan saya ikut terluka bersama tokoh di dalam cerita ini.




Profile Image for Febyan Kafka .
479 reviews15 followers
January 8, 2014
ngenes baca ending kisah cinta Buzun dan Urghana. Satu pelajaran yg kupetik adalah, mencapai cita cita mulia memerlukan pengorbanan besar.Seperti yg dialami Takudar.Banyak trivia tentang sejarah mongol yg berkaitan dengan buku ini, nanti akan aku ulas di blogku ;-)
Profile Image for Thomas Utomo.
Author 7 books5 followers
September 25, 2014
Bacanya dari pinjaman teman. Itu pun bajakan. Jadi kualitasnya nggak bagus. Ada bagian-bagian halaman yang ilang, terbalik juga. Tapi overall, isinya bagus. Bahasanya gurih--meminjam istilah HB Jassin.
Profile Image for Anisah.
120 reviews3 followers
July 16, 2013
Bagus banget. Kaya baca gajah mada versi islami
Profile Image for Shabrina Ws.
Author 14 books30 followers
February 5, 2014
Baguuuus banget. Keren dari segala sisi.
Seperti nonton film. Bacanya sudah lama, tapi masih terasa sampai sekarang.
Profile Image for Kirana Winata.
27 reviews
December 18, 2015
Nice action and so filmis.

Beberapa bahkan tak menyangka jika novel ini ditulis oleh seorang penulis yang berasal dari Indonesia, asli, tulen. :)
1 review
July 20, 2020
Saya sudah membacanya dulu kala, namun smpai saat ini masih menunggu di filem kan. Please
Displaying 1 - 30 of 46 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.