Memahami pola asuh orangtua kita buatku bukan untuk menyalahan metode mereka. Tapi untuk memperbaiki bagaimana sebaiknya membangun dan menjalin relasi dengan orang lain.
Sembari menunggu buku teranyar Philippa Perry dikirimkan (karena aku ikut pre-order di Konyv), aku mencoba membaca Couch Fiction. Seperti yang bisa dibaca pada judul, buku ini disuguhkan dalam bentuk fiksi & bergambar.
Alkisah seorang pria datang kepada Pat, seorang psikoterapis. Awalnya dia skeptis kalau konseling dapat membantunya menghentikan kebiasaan klepto--yang kemudian mengancam hubungannya dg kekasihnya.
Pada sesi kedua, lelaki ini berniat untuk nggak kasih cerita sebenarnya perihal masa kecilnya dulu. Baginya, masa kecilnya dg kebiasaan klepto ini nggak nyambung. Cuma buang-buang waktu aja. Tapi bagi Pat, hal ini berkaitan.
Singkat cerita, apa yang harus dilakukan lelaki ini nggak bisa sekadar "berhenti" tapi tau akar masalahnya. Kalau pakai bahasa gambalng, "Kamu ini diapain orangtuamu sih kok bisa jadi klepto? Hidupmu berkecukupan, sekolahmu oke, sekarang jadi pengacara." Tapi Pat nggak mungkin bilang gitu langsung ke kliennya, kan? 🫣
Sepanjang buku, pembaca bakal dikasih suguhan narasi gimana praktik psikoterapi dilakukan. Memang nggak bisa covering all the "magic" things yg dilakukan psikoterapis. Namun bagiku, hal ini bisa kasih gambaran gimana tindakan kita masa kini ada pengaruh dari cara kita dibesarkan.
Bagian favoritku tentu saja soal Attachment Style. Sedikit banyak membantuku meraba-raba apa yang terjadi di masa kecil dan bagaimana dampaknya bagiku sekarang. Termasuk dalam menjalin relasi dengan orang lain.
Meski ada "studi kasus" yang dibawakan dalam Couch Fiction, tapi bahasanya tetap ramah untuk pembaca pemula. Perry menekankan (lewat karakter Pat) bahwa psikoterapi nggak akan berhasil tanpa keinginan internal kliennya, mau sebagus apapun kualitas konselingnya.