Mereka juga bilang, tahta tak bisa membeli bahagia.
Semua itu hanyalah dusta dari mulut-mulut nestapa.
Harta dan tahta adalah segalanya. Nyawa pun layak ditumbalkan untuk mendapatkannya. Hingga akhirnya gerbang iblis pun terbuka...
Misteri bocah pembisik, danau maut penuh butiran emas, singgasana berdarah, pesugihan... Lewat tengah malam itu, bujuk rayu kegelapan mulai menuntun kaki-kaki anak manusia menempuh suramnya jalan pintas neraka.
sepertinya buku ini merupakan buku horror yang pertama kali kubaca, bukan, bukan karena aku ngga suka horror, aku suka banget. tapi biasanya aku baca komik, ataupun cerita yang berseliweran di internet.
lewat tengah malah merupakan kumpulan cerita horor dimana di dalamnya terdapat lima cerita berbeda, dan semuanya sama-sama horrornya. lalu, mungkin karena ia berlatar tahun 90an dan aku sendiri tinggal di jawa timur, menjadikan cerita-cerita ini lebih berasa horror lagi.
jujur aku tidak dapat memilih mana cerita favoritku disini, semuanya mempunyai horrornya masing-masing. tentang kehorroran rumah sakit di cerita pertama, tempat angker di cerita kedua, tentang pilihan lurah di cerita ketiga (jujur gara-gara cerita ketiga ini aku jadi bisa membayangkan kenapa kata orang-orang tua pilihan lurah ini selalu horror), ada bisikan yang menuntun kemenangan judi nomor di cerita keempat (nah disini aku juga merasa ngga begitu asing dengan cerita ini, karena sering mendengar cerita sekilas tentang orang-orang yang mendapat bisikan serupa), dan yang terakhir tentang pesguhan (yahh.. u know lah gimana horrornya pesugihan).
yang jelas dari cerita-cerita ini digambarkan bahwa perjanjian dengan iblis, bagaimanapun bentuknya, tidak akan pernah berakhir baik.
Pertama kalinya baca buku horor setalah berad-abad lamanya (karen aterakhir baca horor saat kelas 1 SMA lebih dari 5 tahun yang lalu) Aku suka banget dengan kisah-lisah horor yang di bawakan cukup kelenik dan berhasil membuat bulu kuduk berdiri. ada beberapa satu cerita yang udah aku pernah dengar atau lebih tepatnya premis ceritanya mirip rebutan kursi pemerintahan di jaman dahulu kala hasil cerita turun temurun dari orang tua di derahku. aku juga suka gaya menulis kak Sweta horor tapi estetik hahaha
Sebagian besar ceritanya menceritakan ttg akibat kalau kita membuat perjanjian dengan iblis. Ceritanya cukup mengerikan. Berasa horrornya. Sebagai catatan ini untuk usia 21+ ya karena ada part utk dewasa. Ada pesan menarik yg disampaikan penulis dari kumpulan cerpen dibuku ini. Diantara semua cerpennya, yg aku kurang suka itu cerpen paling pertama. Oh iya, tokoh utamanya laki-laki semua.
KENAPA SIH CERITA PENDEKNYA CEPET BANGET SELESAI???!!(yeee si Sukinah, namanya juga cerita-pendek! kalau panjang mah namanya skripsi!)
Aku kesal karena buku ini cepat banget selesai kubacanya. Sekali duduk, tanpa jeda, lalu selesai. Setiap kisahnya tuh kayak menyedot perhatian 100%. Bikin enggak bisa nengok kesana-kemari aku mikirin hal lain. SARANKU NIH YA: Baca buku ini tengah malam aja. Pas semua kerjaan duniawi udah selesai. DIJAMIN! aah, mantaaap ~
Di setiap pembuka cerita pendeknya, pembaca bakal disuguhi gambar ilustrasi awal cerita yang menurutku UNIK. Kenapa unik? soalnya ilustrasinya tuh semacem komik petruk gareng yang suka dijual abang-abang tahun 90an itu loh. Ada yang tahu? Gatau kenapa, tapi aku langsung keingetan itu masa pas lihat pertama kali. Vibes yang ketangkep tuh gitu....
SAMPUL BUKUNYA SUPERB!
Sejak baca Journal of Terror udah ngerasa kalau tulisan Sweta Kartika tuh Njowo abis gituloh. Jujur, aku suka nuansa khas Jawa yang diusung penulis di buku ini dan buku yang aku sebutkan itu. Aku pribadi merasa tipe cerita seram yang berdasar asal-usul suatu tempat, sejarah tertentu, atau yang ngulik budaya/adat suku tertentu tuh jauh lebih menyeramkan! Karena kan kita enggak pernah bisa benar-benar tahu apa yang terjadi di waktu lampau itu, sehingga segala kisah dan misterinya benar-benar seperti tertutup kabut tipis dan nusuuuuuuk banget di kalbu.
Ah, aku juga suka dengan pilihan kata/diksi buku ini. Suka juga dengan perumpamaan-perumpamaan yang digunakan, juga gambaran dialog singkat yang dilakukan. Kayak semuanya fit in their place aja gitu.
Jika beberapa pembaca lain mengatakan suka dengan cerita singgasana lurah, aku pribadi lebih merasa relate dengan cerita bujukan dalam bisikan. Berlatar Brebes tahun 1994, ceritanya tentang Aji yang dapat 'bisikan gaib' soal nomor judi/togel.
Baca cerita ini jadi inget cerita Ayahku. Dulu beliau bilang hal semacam itu lumrah sekali sewaktu dia muda. Nomor-nomor ditulis di jalanan, belakang warung, dan seperti di cerita, lewat bus yang lewat. Aku juga menerima cerita yang serupa dari si Mbah. Oh, tentu kisah mistis yang menyertai orang-orang yang berhasil nebak nomor juga turut diceritakan. Mangkanya, waktu baca cerpen ini aku merasa relate sekaligus ngeri.
Tipe-tipe cerita folklore Njowo macam gini orangtuaku pasti suka. Karena menurut mereka rasanya 'lebih dekat'. Yah, daripada cerita hantu-hantu yang lahir dari kebencian dan rasa penasaran namun berlatar kehidupan modern. Kisah-kisah mistis berbau klenik dan sejarah masa lalu gini jauh lebih menyeramkan. Aku sih setuju begitu.
bukan horor yang bener-bener sampe bikin bulu kuduk berdiri atau apapun itu. tapi bagus kok ceritanya buat diikuti. pesan yang disampaikan juga bagus. emang harta atau tahta yang didapat secara tidak halal akan menjadikan hidup sebenernya lebih sulit, tidak tenang, dan takut kehilangan.
Senang rasanya denger penulis favorit merilis buku baru. Udah kangen soalnya sama cerita horror karyanya. *ehem, aku masih nunggu Journal of Terror 3*. Buku terbarunya kali ini adalah kumpulan cerpen horror. Isinya ada 5 cerpen yang masing-masing memiliki tema berbeda, tapi sama-sama membahas keserakahan manusia.
Roh-roh Halus Itu Cerpen yang ini mengisahkan tentang pengalaman horor seseorang yang sedang menjaga tetangganya yang sakit di Rumah Sakit. Penampakan hantunya di sini cukup menyeramkan dan bikin aku sedikit mual.
Bukit Pemakan Jiwa Sekelompok orang pergi ke sebuah lembah untuk melakukan pemotretan kemudian menemukan tempat magis yang bisa menyihir jiwa mereka. Cerita yang ini lebih menegangkan daripada yang pertama.
Banjir Darah di Singgasana Lurah Ini nih cerpen yang paling mengesankan buatku. Mengisahkan tentang dua kubu yang memperebutkan singgasana Lurah. Banyak cara yang dipakai untuk sampai ke sana, dari mulai suap sampai ilmu hitam. Seru sekali. Saat baca cerpen ini aku merasakan berbagai maca emosi, seperti : sedih, marah, kesal, kaget, dan takut. All in lah.
Bujukan dalam Bisikan Baca cerpen ini tuh serasa cooling down setelah banyaknya scene berdarah-darah dari cerpen sebelumnya. Eits, tapi bukan berarti nggak seru ya. Cerpen yang ini mengisahkan seorang anak muda yang menjadi tulang punggung keluarga karena ayahnya sudah tiada. Menggambarkan bagaimana putus asanya anak tersebut karena keadaan dan tuntutan, hingga bertemu satu sosok yang selalu berbisik padanya.
Kebacut Ini nih, cerpen terpanjang dalam buku ini. Kisahnya mengenai 3 orang teman yang mencoba membangun bisnis bersama tapi mengalami kemunduran dan mereka terpaksa mengambil alternatif lain untuk membuat hidup mereka lebih baik lagi. Ya... apa sih yang bisa menyelesaikan masalah keuangan secara instan kalau bukan pesugihan.
Semua cerpennya aku suka. Pengalaman aku membaca semuanya itu seperti naik roller coaster. Ada mas tenang dan tegang sampei ingin teriak gitu, naik turun. Kalau ditanya mana yang paling disukai aku akan jawab Banjir Darah di Singgasana Lurah karena itu yang paling mengesankan buatku. Semua cerita bikin seram dan merinding juga mengeksplore sisi gelap manusia. Tapi cerpen yang satu itu tuh berbeda. Lebih gelap dan kelam gitu.
Selain itu, aku juga suka dengan ilustrasinya (yang kalau nggak salah ingat, ilustrator nya itu penulisnya sendiri). Setiap bab punya cover sendiri dan ilustrasinya itu bagus. Terus ilustrasi covernya juga cantiiik. Aku suka banget. Detail banget loh. Kalau dari jauh sekilas cuman keliatan anak kecil mata satu sama tangan merah berdarah gitu, tapi kalau di zooom ada beberapa sosok lain di sana.
Bagi yang suka cerita horror, aku merekomendasikan sekali buku ini dan buku penulis ini yang lainnya (Journal of Terror. Kapan ya buku ke 3 nya rilis). Oh ya, buku ini memiliki rate usia 21+, jadi cerita di dalamnya nggak nanggung. Kalau ada scene berdarah-darah, pasti all out dan lumayan detail.
Seakan-akan menyelingi penulisan komik+novel Journal of Terror, pak pengarang memunculkan kumcer horor yang satu ini. Ada 5 buah cerita pendek penuh nuansa seram dengan tema berbeda-beda. Semuanya meremangkan bulu kuduk, apalagi seperti aku yang sukanya membaca malam-malam begini.
Roh-Roh Halus Itu Sebagai kisah pembuka yang sangat tepat untuk antologi ini, ada kisah pendek klise, tentang hantu-hantu bocah di pelataran rumah sakit. Pembukaan yang membangun ritme horor.
Bukit Pemakan Jiwa Berikutnya ada tempat angker yang bikin orang memunculkan sifat asli mereka. Lha iyo to, jenenge wae Bukit Sukmo Ilang, kok yo isih nekad mrono mung nggo poto prewed. Di sini yg menarik malah tokoh penggembala kambing misterius itu.
Banjir Darah di Singgahsana Lurah Yang ini tentang santet menyantet dan politik pelanduk yang mengambil untung saat gajah bertarung sama gajah. Bagus banget. Alurnya rumit pas, twistnya oke, endingnya juga gak berlebihan.
Bujukan dalam Bisikan Kalau ini aku kurang suka karena simpati dan kasihan sama tokoh utamanya. Setan juga butuh teman ya?
Kebacut Kisah ini sepertinya yang paling panjang, hampir setengah buku sendiri. Tema ceritanya adalah pesugihan dan tumbal. Sepanjang membacanya aku kok malah menunggu-nunggu azab buat si pelaku, wkwkwk, kayak pengin nyokurke gitu looo :') Ingat teman-teman, pesugihan hanya akan berujung malapetaka! *halah* hahaha...
All and all, menurutku ini cerpen yang ditulis sangat baik. Tidak membosankan. Dari cerita satu ke yang lain nuansanya beda sekali. Tokoh Aku di cerita pertama dituliskan agak kampungan, sedangkan Agung di cerpen kedua lebih metropolitan. Begitu juga Bayu di kisah ketiga, Aku yang kasihan di cerpen keempat dan si semprul Herlambang di kisah terakhir. Bukan cuma setting kisahnya yang berbeda, gaya ngomongnya juga berbeda, pola pikir karakternya juga lain. Sangat cocok untuk masing-masing. Tidak terasa satu suara di semua kisah.
Di awal tiap cerpen juga ada ilustrasi pengarang. Hyiiii... merinding ih melihatnya, tapi teuteup balik dilihat juga 😅
1. Roh Roh Halus Itu: horor dan berdarah-darah, tanpa banyak cerita apa dan bagaimana kecuali tentang kematian anak-anak kecil tersebut. Awalnya ngeri, tapi lama-lama agak terlalu dibuat-buat. 2.5 ⭐ 2. Bukit Pemakan Jiwa: tidak ada kejutan yang gimana-gimana karena sejak awal cerita sudah di-spoiler dengan judul dan nama bukit yang menjadi setting. Tidak jelek tapi juga bukan yang bagus banget. 3 ⭐ 3. Bujukan Dalam Bisikan: Konsep hantunya menarik sekali, build-up juga keren. Bisikan terakhirnya ketebak, tapi secara umum endingnya sangat memuaskan. 4 ⭐ 4. Banjir Darah di Atas Singgasana Lurah: sangat dark dan gory untuk ukuran horor Indonesia, apalagi settingnya sederhana sekali yaitu pemilihan Lurah. Ketidakpastian di akhir cerita adalah pilihan ending yang sangat cocok untuk cerita segelap ini. 4.5 ⭐ 5. Kebacut: tidak jelas siapa yang salah dan siapa yang kebacut disini, jadi ketika hukuman hanya dijatuhkan padanya, aku merasa iba dengan karakter tersebut. Karakternya cerdas, ada jalinan cerita yang runut, dan ending yang dengan model loop seperti ini adalah ending favoritku untuk cerita horor. Favorit! 5 ⭐
Total 19 ⭐ / 5 = 3.8 ⭐
Kumpulan cerpen ini memaparkan satu tema yaitu tentang keserakahan manusia. Setiap cerita, kecuali cerita pertama, menunjukkan bagaimana manusia bisa menjadi sangat menjijikkan saat sifat serakahnya muncul tak terbendung. Tidak terjangkau hukum, bahkan moral pun tidak bisa menghentikan mereka (meniduri / menumbalkan anak sendiri juga dilakukan demi memperoleh apa yang mereka inginkan). Untuk penampakan dan rasa takut yang muncul, mungkin cerita pertama dan ketiga yang paling kuat (tapi aku paling suka hantu di cerita ketiga). Untuk kedalaman cerita dan eksplorasi karakter, serta kengerian dan akibat yang dimunculkan, cerita terakhir adalah yang paling bagus.
Buku yang berhasil ku tamatkan ditengah-tengah himpitan deadline skripsi dan tugas kulyah.
Tapi seseru itu semua ceritanya. Gak salah sih kak Sweta Kartika selalu bisa merangkum sebuah cerita horror yang membuat bulu kuduk merinding.
Ada 5 cerita pendek dalam buku ini yaitu : 1) Roh-Roh halus itu 2)Bukit Pemakan Jiwa 3) Banjir Darah di Singgahsana Lurah 4) Bujukan dalam bisikan 5) Kebacut
Jujur kalau disuruh pilih mana yg paling serem, susah bgt karna semuanya serem. Tapi yang banjir darah di singgasana lurah emang bener² gila bgt ceritanya karna berhubungan dengan ilmu santet. Kebacut jga serem sih tapi yg ini lebih ke banyak scne yg bikin kita jijik sendiri.
Di dalam buku ini pokoknya mengisahkan bagaimana keserakahan manusia dalam bidang harta dan kekuasaan juga bagaimana manusia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebahagiaan secara instan seperti pesugihan, berharap pada hal-hal yg tidak kasat mata, dll.
Banyak banget moral value yang bisa kita ambil dari buku ini sih...
“Paling utama adalah selalu berserah lah hanya kepada Tuhan saja. ”
Udah pernah baca 2 buku karya author sebelumnya dan aku cocok. Jadi waktu baca ini juga udah gak ragu lagi. Buku ini adalah kumpulan beberapa cerpen dengan gaya penulisannya dan isi ceritanya yg horror dan menegangkan. Bener² serem Novel ini. Ngerinya berasa. Kalau ditanya dari semua BAB suka yg mana, susah sih milihnya soalnya semuanya aku cukup enjoy. Menurutku dari Novel ini author mau menyampaikan sebuah pesan bahwa kita sebagai manusia tidak boleh rakus, jangan takabur ataupun gelap mata sama harta kekayaan yang gak bisa dibawa mati. Tetap bersyukur dengan apa yg kita miliki dan bekerja keras dengan cara yg halal untuk mencari rezeki. Well, yg suka genre horror, this is for you! This was so good 👍
Novel ketiga dari kak Sweta yang aku baca. Sejauh ini narasinya selalu bisa menghipnotis aku sebagai pembaca. Imajinasiku selalu bisa masuk ke dalam cerita yang dibawakan.
Seperti di kumpulan cerpen horor yang satu ini. Ada 5 cerpen. dan cerpen-cerpen ini seolah disusun dari tingkat kengerian terendah sampai ke yang tertinggi. dari yang bulu kuduk meremang manja sampai ke meremang tegang.
yang paling aku suka dari kumcer ini, tiap-tiap cerpen seolah memiliki 2 kata kunci; lewat tengah malam dan ganjil. kejadiannya selalu lewat tengah malam, dan selalu ganjil.
Ini buku pertama dari Mas Sweta yang kubaca. Jujur, kaget karena aku menikmati banget beberapa cerpennya. Sayang begitu masuk cerpen beberapa bab (sebutannya cerbung, Nui 🤣) aku merasa kehilangan hal-hal yang di cerpen awal bikin excited. Aku cocok sama gaya nulisnya, tapi beberapa teknis masih ada yang perlu dicek lagi.
This is the first book I’ve read from this writer—and I like it! It’s easy to digest, and reading it feels like riding a wave: a bit thrilling, surprisingly captivating, and deeply satisfying.
The book contains five short stories. Each one stands on its own, but they all echo a haunting theme: human greed. Let me break them down for you:
1. Roh-roh Halus Itu – 3/5 This one tells the story of a man who’s asked to accompany an elderly patient at a hospital. One night, he steps out to smoke, feels drowsy… and then the mystery unfolds. Children’s laughter echoes, a leg without a body appears (yep, just the leg), and finally—a crying boy shows up, who draws him deeper into the unknown. Not my cup of tea. It didn’t terrify me or linger in my mind. Meh.
2. Bukit Pemakan Jiwa – 5/5 My absolute favorite!! A photography team and a couple head to a sacred site for a photoshoot. A local boy warns them—but they ignore him. What follows? Possessions. Accidents. Chaos. Why I love this one? The world-building, the atmosphere, the choice of words—chef’s kiss. I was holding my breath the whole time. So intense!
3. Banjir Darah di Singgasana Lurah – 4.5/5 Now this is a pure thriller. It’s about an ambitious man trying to become the village chief. Creepy part? This one hits close to home. My grandpa was a lurah back in the '80s—and yep, the black magic wars were real. Knocking on doors, banging sounds on rooftops, and once, they even found a blade buried in our house after a ritual scan. This story made me dizzy, anxious—I kept holding my breath. It’s dark, intense, and hauntingly familiar. I literally had to brace myself through the pages.
4. Bujukan dan Bisikan – 3.5/5 A young man becomes the breadwinner after his father dies. One day, he sees a boy—who’s clearly not human—whispering numbers that predict betting outcomes. I had to pause reading for a while because the ending made me feel nauseated. It’s so detailed and raw. Honestly, I’m still torn: is this horror, or is it schizophrenia? Either way, the ending stings.
5. Kebacut – 3.5/5 A wild story about someone who relies on demons and black magic. Honestly? It’s the only one that made me laugh. The main character is both relatable and absolutely unhinged. I didn’t hate him, but I was satisfied with how things ended. Not my favorite, but it has its own flavor.
Overall, every story in this book is worth reading. The cover? So dope. The illustration style hit me with a wave of nostalgia—it reminded me of the horror stories I grew up with. The visuals and vibe were just chef’s kiss.
But what I truly admire is the natural flow of the language—especially the use of Javanese. It doesn’t feel forced or gimmicky. Each story stands tall on its own—unique, haunting, and mesmerizing.
This book doesn’t just entertain; it reflects. It holds up a mirror to how human greed can turn people into something monstrous. Law can’t stop it. Morality fades. And when that greed takes over, horror is just the beginning.
Buku ini berisi 5 kumpulan cerpen horor dengan cerita yang berbeda-beda. Di balik kisah-kisahnya yang bikin merinding, terselip juga adegan gore yang bikin mual, jijik, dan disturbing. Tapi satu hal yang jadi benang merah dari semuanya adalah tema yang diangkat: keserakahan manusia. Nggak cuma soal hantu dan hal mistis, tapi buku ini lebih membahas betapa horornya manusia saat dibutakan oleh ambisi dan tamak. Mereka gelap mata, bahkan rela menumbalkan nyawa, even darah daging sendiri hanya demi harta dan takhta.
Aku suka kelima ceritanya karena semuanya ninggalin kesan yang mendalam. Tapi kalau disuruh pilih yang paling favorit, aku bakal pilih Banjir Darah di Singgasana Lurah dan Kebacut. Dua cerita ini bener-bener gilaaa dibanding yang lain 😭
𝐁𝐚𝐧𝐣𝐢𝐫 𝐃𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐒𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐬𝐚𝐧𝐚 𝐋𝐮𝐫𝐚𝐡 tentang seseorang yang pengen jadi kepala lurah. Demi mewujudkan ambisinya, dia sampai ngirim santet ke lawannya. Pas acara pemilihan pun, chaos banget—ada adegan bacok-membacok sampai banyak warga tewas. Itu baru tingkat desa loh, kebayang nggak kalau dia nyaleg jadi presiden?😭
Sementara 𝐊𝐞𝐛𝐚𝐜𝐮𝐭 mengangkat cerita tentang pesugihan. Ceritanya cukup gila dan plot twist di ending-nya mind-blowing banget wkwk mana ada unsur time loop-nya pula🙂
Oh iya, meskipun ini buku horor, bukan tipe yang seremnya kebangetan kok. Masih aman dibaca malam-malam, asal jangan sendirian dan lewat tengah malam aja🫣🤫
𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐭: Kadang yang paling menakutkan bukan hantu atau makhluk gaib, tapi manusia yang nggak pernah puas. Karena saat keserakahan udah nguasai hati, batas antara waras dan gila bisa hilang seketika.
Rasa ingin punya segalanya bisa berubah jadi racun yang pelan-pelan mematikan nurani. Seremnya lagi, semua itu sering berawal dari hal kecil—rasa iri, dengki, atau keinginan buat “lebih” dari orang lain. Tapi begitu keserakahan udah tumbuh, dia bakal terus minta lebih dan nggak pernah puas.
Setiap manusia punya sisi gelap itu. Bedanya, tinggal sekuat apa kita bisa ngendaliin diri biar nggak tenggelam di dalamnya.
Kelamnya malam menyimpan rahasia terdalam. Kepingan kisah bertebaran, tertular dari mulut ke mulut saling berkesinambungan. Kini kisah-kisah itu terangkum dalam sebuah catatan. Kumpulan pengalaman mencekam, kisah nyata yang senantiasa berubah seiring rekaan dari segala penjuru zaman. Kisah-kisah yang berlangsung kala gelap kian mencekam di waktu hening tak bertuan.
Lewat Tengah Malam merupakan kumpulan cerpen misteri. Terdiri dari lima buah kisah para manusia yang melewati batas kekejian, hingga rela mengorbankan nyawa hanya demi keegoisan semata. Kisah tentang roh-roh halus penghuni RS Kembang Cempaka, Misteri bukit pemakan jiwa, kisah tragis perebutan singgasana lurah, misteri bocah pembisik, hingga pesugihan pembawa petaka.
Lewat kisah-kisah ini kita akan dibuat merinding ketakutan bukan hanya karena penampakan hantu atau hal-hal ghaib lainnya, namun juga karena rasa tamak dan egois yang diperlihatkan oleh para tokoh dalam cerita ini. Para manusia yang rela melakukan apapun hanya untuk memuaskan hasratnya semata.
Dalam buku ini juga banyak menampilkan adegan-adegan sadis dan berdarah, serta beberapa perilaku yang tidak menyenangkan. Oleh karena bagi kalian kurang nyaman dengan hal-hal tersebut, aku sarankan untuk menghindari atau menyiapkan mental yang kuat saat ingin membacanya.
Namun disisi lain banyak pesan moral yang bisa kita ambil dari kumpulan cerpen yang ada di buku ini. Saat aku membaca kisah-kisah di dalamnya, entah mengapa aku merasa seperti melihat serial misteri lawas yang dulu sering ku tonton di TV. Btw, karena disampul buku ini ada tulisan Ganjil¹, kira-kira edisi Genap² nya bakalan ada juga enggak ya? Enggak sabar pokoknya 😆
Melalui kumcer dalam Lewat Tengah Malam, Mas Sweta semakin meyakinkan para pembaca bahwa dia tidak hanya jago gambar, tapi juga piawai menulis narasi. Pilihan kata dan pengaturan kalimatnya membuat kisah-kisah yang dia buat enak dibaca dan diresapi, bukan cuma sekilas doang terus lupa/tidak berkesan. . Lewat Tengah Malam menyajikan 3 cerpen, dan 2 cerpen agak panjang. Kontennya seram dan sadis, diperuntukkan bagi pembaca dewasa. Tema-temanya juga berat: tumbal, pesugihan, iblis ... Sungguh bikin bergidik. Tapi di saat yang sama juga mengingatkan pembaca bahwa sesungguhnya manusia amat lemah, jiwa dan raga. Mudah tergoda. Dan sesungguhnya hanya Allah tempat meminta. . Tidak banyak ilustrasi yang disuguhkan dalam buku ini, hanya di tiap awal cerpen. Gaya ilustrasinya terkesan jadul dan cocok banget dengan cerpen-cerpennya yang rata-rata latar waktunya tahun 90-an. . Kurasa akan ada buku lanjutannya, dan aku akan menantikannya dengan suka cita. Semoga banyak peminatnya ya, jadi proses penerbitannya bisa lancar. Aku optimistis sih, soalnya genre horor di Indonesia selalu ada peminatnya. Apalagi ini termasuk buku horor Indonesia yang berkualitas, yang ngga asal ditulis karena viral.
buku ini cocok digambarin dalam satu kata yaitu sifat manusia; rakus. yap. beberapa ceritanya yang soal lurah maupun cerita terakhir (yang kuanggap jadi highlight buku ini) semuanya kejadian karena keserakahan manusia.
ceritanya menurutku cukup realistis. pesugihan dan lain-lain, yang emang nyatanya ada aja yang percaya di kehidupan nyata. ada yang bukan cerita horror hantu gitu, sih, jadi kesan horrornya lebih kerasa karena hal-hal kayak gini mungkin banget beneran ada. ah ya, beberapa ceritanya tergolong 18+ jadi bisa menyesuaikan sama umur ya sebelum baca. karena ngga di satu dua bagian aja ada adegan 18+. dan ya menurutku agak menganggu dan kalau ga sedetail itu juga sebetulnya ga masalah dan ga ganggu ceritanya sama sekali.
ada cerita yang menurutku masih bisa dilanjutin, sih. jadi kurang tuntas aja rasanya. cerita yang tentang anak-anak itu, yang berawal dari lemparan batu. menurut aku akan lebih seru kalo diceritain kenapa anak itu bisa jadi kayak gitu dan kenapa si tokoh yang seakan-akan "dipilih" sama dia. padahal kalau diceritain bisa lebih menarik dan enggak bikin pembaca penasaran juga.
Sukaaaa banget sama kalimat pembuka-nya. Dan waktu buku ini selesai dibaca, oh kalimat tersebut make sense juga.
Atmosfirnya beneran bikin tegang & takut. Bukan, bukan takut karena hal mistis-nya, tapi takut ngebayangin apa yang dialami sama tokoh-tokoh disini karena perbuatan mereka sendiri.
Buku ini mengangkat kisah seputar kepercayaan masyarakat —ambil contoh pesugihan dan santet— bukan kisah-kisah hantu kayak kuntilanak berbaju merah. Sampe aku nulis review ini pun masih kepikiran sama beberapa cerita didalamnya. Emang ya manusia tu kalo punya hasrat berlebih mau aja ngorbanin apapun demi bisa mencapainya. Ngeri!!
If you are thirsty and in need of some local horror stories intake, spiced up with some gore and twisted elements, this collection of short stories will be the right complement for you. Without the "based on true story" gimmick, this book is certainly will exceed your skeptical expectation, not to mention that the author himself is already a great story teller of a number of graphic novels and novels as well, thus you can also find some illustration inside. This book comprises of 5 short stories, i.e. 3 shorter short stories, and 2 longer short stories (isn't it novella?). And if you are planning on trying this book, rest assured that the third and the fifth short story will be your absolute favorite. All in all, y'all should give it a try!
Penulisannya bagus, ceritanya juga bagus, tema ceritanya menurutku gelap sekali.. ada pesan di setiap cerita, aku benar2 baca tengah malam, ngga jadi takut sih, cuma jadi ngeri, itu yang ceritanya ke bukit yang bikin hilang jiwa, ngeri sekali, masih penasaran kemana hilangnya pengantin berdua, padahal baru preweding, udah hilang, tapi kalau jadi film kurang bagus, jadi hilang kengeriannya.. Intinya suka sama bukunya, gaya penulisannya seperti buku2 sastra menurutku.. bagus sekali.. terimakasih banyak..
Aku sukaa sama ceritanya yang berlatarkan lingkungan masyarakat daerah yang masih kental kepercayaannya terhadap hal-hal yang berbau klenik. Cukup sukses bikin aku celingak celinguk sana sini karena serasa diawasi sama sesuatu saat baca buku ini. Ada beberapa chapter awal buku yang aku rasa tidak memberikan kesan seseram itu dan malah bikin aku bertanya "hah apasih?". Tetapi, saat di pertengahan buku, cerita-ceritanya mulai memberikan kesan mencekam dan alur cerita dan juga konfliknya makin rumit + seru sekali. Pada akhir halaman, aku dibuat shock, kaget, dan bertanya-bertanya karena banyak sekali hal yang patut dipertanyakan dari chapter terakhir buku ini.
Aku suka sekali gaya Sweta Kartika memberi nyawa pada ilustrasi yang ia tuliskan di tiap lembar buku ini. Gaya menulisnya rapih, tidak terburu-buru, dan tulisannya 'bernafas'-entah bagaimana menjelaskannya. Tiap-tiap karakternya mampu membangun dunia mereka masing-masing dengan baik, dan meski tiap cerita tidak berkaitan satu sama lain, Sweta mampu merakitnya jadi semesta yang menyatu. Ini adalah satu-satunya buku horor lokal yang menurutku pantas dan layak baca. Nggak sabar berburu karya Sweta Kartika lainnya!
Setelah membaca journal of terror, lanjut membaca buku ini. Buku ini tentang manusia yang tamak akan uang dan kekayaan, cerita-cerita yang tentu saja bakal berakhir dengan malapetaka. Kesan horrornya kurang, rasanya seperti membaca cerita misteri sih.
Tapi, cukup suka sama jalan ceritanya. Walaupun endingnya ada beberapa yang mudah ditebak. Bisa jadi penulisnya terinspirasi dari cerita-cerita lainnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Nggak sengaja tahu judul ini gara2 diskon di gramedia kemarin. Awalnya nggak ada ekspektasi besar karena bukunya Sweta sebelumnya yang Journal Of Terror - Kembar ternyata nggak serem2 amat, tapi buku ini beda.. Saya suka sama cerita2 di dalamnya, horor dan tegangnya dapet.
Saya malah butuh waktu untuk menghela napas setelah menyelesaikan tiap babnya. Sengaja memberi jeda untuk lanjut ke bab berikutnya.
Intinya sih, buku ini jauh di atas ekspektasi saya. Keren banget!
"Sebagai manusia, justru akulah yang ingkar pada kesepakatan kami. Iblis seperti Nyi Rangkah yang selalu digambarkan penuh sifat licik nyatanya justru amat memegang perkataannya." ( Hal. 213-214)
100/10. novel horror pertama yang gue beli dan menurut gue bukunya SEBAGUS itu, parah. Kesan horrornya dapet, apalagi atmosfer ngerinya pas lo lagi baca sendirian di kamar malem-malem. Walaupun bahasanya baku tapi masih bisa dipahami. Next time gue bakalan baca karya-karya Mas Sweta yang lain kalo kaya gini.