Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan

Rate this book
Terlalu banyak tuntutan untuk “melakukan ini” dan “melakukan itu” sering kali membuat kita kewalahan. Beberapa tuntutan membutuhkan kesabaran sampai batas tertentu dan membuat kita dibebani pikiran yang berlebihan. Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika menghadapi situasi seperti itu?

Dalam buku laris dari Jepang yang telah diterbitkan di beberapa negara ini, Dokter Tsuneko Nakamura—seorang psikiater yang berkarier selama hampir 70 tahun—berpendapat bahwa solusinya ada pada bagaimana kita mengompromikan perasaan dengan kenyataan.

Cara hidupnya yang memiliki kebiasaan melakukan hal baik dimulai sejak dari pikiran—dan membuat kita dapat menerima diri apa adanya—sangat bermanfaat bagi kesehatan fisik dan psikis untuk meraih kehidupan yang berkualitas. Berikut beberapa di antara pendapatnya:

• Tugas kita di malam hari adalah tidur nyenyak.
• Terima hal-hal kecil, dan kebaikan kecil akan menyebar.
• Akan lebih bahagia jika kita tidak berpikir harus bahagia.
• Menyerah bisa juga berarti memperjelas jalan hidup kita.
• Pilih mana yang harus dipikirkan saat ini dan mana yang tidak.
• Saat fisik dan hati sedang lelah, jangan melakukan sesuatu yang menambah beban.
• Jalin hubungan yang memungkinkan kita nyaman memperlihatkan kelemahan kita.
• Memahami sifat diri—apa yang disukai dan tidak disukai—lebih penting daripada membangun rasa percaya diri.

174 pages, ebook

First published January 1, 2018

81 people are currently reading
430 people want to read

About the author

Tsuneko Nakamura

2 books8 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
181 (43%)
4 stars
166 (39%)
3 stars
62 (14%)
2 stars
9 (2%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 126 reviews
Profile Image for raafi.
927 reviews449 followers
November 19, 2022
"Menekankan 'harus begini', kemudian bersikap ngotot, dan berpikiran sempit akan menyebabkan hilangnya fleksibilitas. Ketika fleksibilitas hilang, penderitaan pun akan bertambah. Akan muncul pikiran 'Padahal sudah berusaha keras, tapi kenapa tidak ada hasilnya?' dan mungkin akan melampiaskan kekesalan pada orang lain." (hlm. 60)


Judul buku ini sungguh on-point, terutama bagi para generasi now yang selalu merasa overthinking akan segala hal. Saya membayangkan buku ini seolah-olah dibuat oleh seorang nenek yang ingin memberikan petuah kepada cucunya tentang kehidupan. Saat mengetahui buku ini, dari hanya melihat judulnya, saya (yang juga mengaku sebagai generasi now) merasa butuh baca buku ini.

Dan benar saja. Penulis (Dokter Hiromi) adalah seorang dokter yang menuliskan pemikiran dan kisah hidup dokter seniornya (Dokter Tsuneko) yang usianya menjelang 90 tahun. Dokter Hiromi menulis seolah-olah Dokter Tsuneko-lah yang sedang menuliskannya. Sama persis seperti yang saya bayangkan tentang buku ini.

"Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan" terdiri atas 6 bab dengan masing-masing memiliki beberapa subbab. Ada bab yang membahas tentang bekerja dengan mengajak pembaca untuk mendefinisikan ulang tujuan dari pekerjaan yang selama ini dikerjakan setiap hari. Ada juga bab tentang efek tidak berharap pada hal-hal baik (ini bab yang menarik!). Lalu juga ada bab tentang wejangan tentang hidup tenang sehari-hari.

Penjelasan setiap subbabnya disampaikan dengan sudut pandang orang pertama yang menceritakan sejarah dan pengalaman yang dilaluinya. Lagi-lagi, persis seperti seorang nenek yang kerap bercerita masa lalunya. Pada setiap menjelang akhir, paragraf-paragrafnya berubah menjadi petuah-petuah bijak yang lumayan mendamaikan hati.

Entah kenapa, saya betul-betul merasa damai di sebagai besar subbab yang disampaikan di sini. Mungkin karena serasa diberi petuah oleh nenek. Tiap sowan ke rumah nenek, saya juga suka mendengar cerita-cerita mbah putri. Bahkan kadang saya gali-gali lagi cerita masa lalunya yang sebelumnya sudah saya dengar. Saya memang suka sekali menyimak/mendengarkan. Mungkin dari situ jugalah saya menyukai cara bertutur Dokter Tsuneko pada buku ini.

Buku ini juga disisipi kolom-kolom dari sudut pandang Dokter Hiromi yang menceritakan sejarah hidup Dokter Tsuneko. Dulunya, Dokter Tsuneko tidak kepikiran untuk jadi dokter. Namun, masa perang membuat Jepang butuh banyak dokter dan ketika ada kesempatan, ia memutuskan untuk studi kedokteran.

Kehidupannya semasa perang dan pascaperang yang begitu sulit sedikit-banyak memengaruhi pemikiran Dokter Tsuneko akan kehidupan. Ia lebih cenderung memilih hidup mengikuti alurnya dan lebih slow. Saya melihat pemikiran itu sebagai bentuk pesimistis; kita patut terima-terima saja dengan apa yang sudah diberikan kehidupan kepada kita.

Satu subbab yang terasa lumayan dekat yaitu subbab "31. Tidak masalah jika mati dalam kesendirian. Tidak ada gunakanya mengkhawatirkan cara kematian." yang menenangkan kita untuk bersikap biasa saja kalau tinggal sendiri kala hari tua. Dokter Tsuneko selalu berpetuah kepada anaknya yang sudah berkeluarga dan tinggal beda rumah dengannya untuk mengecek dirinya bila tidak kelihatan selama beberapa hari. Ini persis saat saya tinggal sendiri di kosan saya di Jakarta dan berpesan pada teman WhatsApp saya untuk menghubungi penjaga kos bila saya tidak membalas pesannya selama beberapa hari.

Dari semua wejangan yang diberikan sang nenek kepada cucunya (baca: saya) dalam buku ini, saya merasa ada dua hal yang bisa disarikan: hidup tanpa 'ngoyo' dan hargai kesendirian. Cara-cara agar hidup tanpa 'ngoyo' bertebaran di sini. Begitupun dengan berfokus pada apa yang bisa dikontrol oleh diri sendiri. Ini juga berhubungan dengan mindset yang perlu diubah agar hidup damai, walaupun untuk menghilangkan berpikir berlebihan memang agak-agak susah di zaman yang arus informasinya begitu deras seperti sekarang ini.

Akhir kata, ingatlah penutup dari Dokter Tsuneko berikut.

"Tidak ada ketentuan kalau kita harus menjalani kehidupan yang sama dengan orang lain. Bulatkan tekad bahwa 'ini hidup saya'. Bagaimanapun manusia hanya bisa menjalani hidup 'sebagaimana dirinya'. Cobalah untuk mengingat itu ketika merasa lelah hidup dipermainkan orang lain." (hlm. 148)
Profile Image for Patricia Wulandari.
10 reviews53 followers
December 17, 2021
Pertama kali kayaknya baca buku self-improvement yang ditulis oleh seseorang dengan karakter pasif: enggak ambisius, enggak punya goal dalam hidup kecuali untuk menjalani hidup dengan baik, enggak bercita-cita menjadi seseorang, dan lain-lain. Psikiater Tsuneko Nakamura bisa menjalankan hidup ala stoisisme karena pola pikir dan kondisi hidupnya. Dia dari keluarga miskin, besar di jaman PD II, rasanya waktu beranjak dewasa yang ada di benaknya hanya bisa hidup dari hari ke hari. Jadi di masa sekarang tentu saja dia menghargai hidup dengan sebaik-baiknya dan ya ingin menjalani hidup penuh kedamaian. Walaupun pola pikirnya bisa membuat seseorang menjalani hidup dengan damai, tapi rasanya enggak semuanya applicable untuk kaum produktif saat ini.

Saya bikin ulasan lengkap versi video di Youtube. Bisa ditonton di sini: https://youtu.be/KMMUzkauR0c.
Profile Image for Heni Mujaa.
168 reviews22 followers
September 9, 2021
salah satu buku yang berhasil selesai dibaca tanpa diselingi baca buku lain. itu pun ditahan-tahan karena ndak rela mau cepat habis (mana bukunya tipiiiss).

amat sangat tidak ada ekspektasi ketika mau baca. alah... palingan kayak buku-buku overrated yang lain. malah buku ini sama sekali saya belum pernah lihat review nya.

ternyata dokter tsuneko ini asli santuy binti malpus nan stoic abis. dan jadi ingin berteman dengan beliyo walaupun saya tau beliyo jauuuhh lebih tua dari saya.

kebetulan sekali kemarin sore saya konsul ke spesialis paru-paru di sebuah rumah sakit swasta di sini. entah kenapa kesan yang saya dapat dari pertemuan pertama saya dengan dokter itu, sama seperti ketika membaca tentang dokter tsuneko.

sama-sama berpembawaan ceria, hangat, dan santuy abis ke siapa pun. mereka juga terkesan tak ada beban hidup. padahal mereka hanyalah orang-orang bijak yang tau ke mana sebaiknya energi mereka digunakan. dan energi baik mereka ini amat sangat menular.

konsul perdana saya lebih terasa seperti nongkrong dengan teman daripada konsul dengan seorang dokter. banyak sekali tawa. banyak sekali hal-hal berguna yang dibicarakan. bahkan sempat juga beliyo berbagi pengalaman bagaimana 'medan perang' para nakes selama pandemi ini. mulai dr meninggalkan keluarga, rasa lelah yg tidak bisa lagi digambarkan, omongan masyarakat yg jahat, belum lagi hak mereka yg sdh tak lagi sebanding dengan beban kerja di lapangan. aduhh... dokternya tegar sekali, malah saya yang rembes sedikit 😣

demi apa pun, bertemu orang-orang seperti dokter mariani dan dokter tsuneko merupakan sebuah berkah. ibarat nyala yang walaupun kecil tapi hangat dan menenteramkan di sudut tempat mereka berada.

semoga stok sabar dan kuat kita masih panjang. banyak-banyak sehat dan bahagia dari hal-hal kecil di depan mata. kita lakukan saja apa yang bisa dilakukan hari ini. apa-apa yang tak mampu kita ubah, semoga Tuhan masih berkenan melebihkan keajaiban-Nya.
Profile Image for isaiah.
157 reviews
August 20, 2022
“Hidup sungguh seperti mendaki gunung, ada tanah datar dan ada juga puncak. Ada jalan rata dan ada juga jalan terjal yang curam.

Cobalah untuk memahami bahwa hal itu bukan hanya menimpa diri sendiri, tapi ‘memang begitulah hidup.’”

wah, pas banget aku pinjem buku ini sehari before my first day of work.

aku kepikiran mulu soal kerjaan ini.

“kerjaannya nggak sesuai passion aku, gimana ya nantinya?”
“aduh, pasti susah banget.”
“pasti aku nggak bisa.”

pokoknya, semua pikiran jelek masuuuk semua di otak aku. but then, i read this book a day before. tepatnya, malemnya.

waktu baca buku ini, pikiran aku beneran kayak kedoktrin sama isi bukunya. baru di bab awal aja udah bahas kerjaan. kayak, wah, memang takdir deh ini, ahaha.

it really calmed my mind. aku udah beberapa kali baca motivation books tapi menurut aku, yang satu ini—nenangin aku banget. serius deh.

nggak percaya? coba baca aja. 🫣
Profile Image for Tamara Fahira.
130 reviews8 followers
December 7, 2021
Buku yang bagus, membuka pikiran, terlebih mengajarkan kita supaya tidak ngoyo dalam mengerjakan sesuatu, tidak memaksakan diri, dan tidak membuang waktu untuk meratapi nasib jikalau semua tidak berjalan sesuai rencana (kalo kata orang mah woles aja, bro). Buku ini layaknya ‘empati’ bagi kita yang sering merasa “duuuh, ieu teh hirup aing kunaon siii???”

Queue di iPusnas akhirnya dapat juga, sempat nganggur di rak udah dibaca dan isinya boleh juga.

Salah satu quote yang saya suka:

Rasa lelah akan timbul jika kita bekerja dengan mencemaskan pandangan orang lain atau membiarkan diri terikat pada hal-hal seperti, penampilan, kedudukan, atau kehormatan. Mungkin kita akan roboh jika terus memaksakan diri seperti itu dan tak akan mampu bekerja untuk waktu yang panjang.” (hal. 5).
Berhentilah memikirkan hal-hal eksternal, yang terpenting adalah kedamaian batin kita sendiri dalam bekerja. Pemikiran ini cukup menyentil bagi saya pribadi sebab kalau saya sudah terlalu bersemangat dalam bekerja biasanya akan seperti ini, haha.

Selain itu, di lain bab juga terdapat penjelasan tentang hubungan antar manusia.

Menurut saya, mendekati hati orang lain adalah mendekat ke tempat yang sama dimana lawan bicara berada dan mendengarkan ceritanya. Sekalipun tidak bisa memberikan saran atau ide cemerlang yang membuka mata, tapi orang akan sedikit merasa lebih baik ketika ada seseorang yang mau mendekati posisinya dan mendengarkan ceritanya.” (hal. 47).
Karena kita bukan psikolog yang bisa memberi saran atau jalan keluar, setidaknya, dengan menjadi pendengar yang baik, orang lain akan lebih merasa dihargai ketimbang Anda memotong pembicaraan apalagi menyalahkan orang tersebut. Tidak perlu mengomentari kata-katanya, diam dan dengarkan saja. Bisa juga dengan ikut mengeluh dan saling bercerita yang seru.

Meskipun pemikiran-pemikiran bu dokter ini terkesan santuy abis (sotoy wkwk), beberapa pesannya cukup mendalam buat saya. Buku ini cocok ditujukan untuk orang-orang yang gila kerja, gila hormat, gila didengarkan dan gila-gila lainnya yang bikin orang lain ikut gila xD
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,430 reviews72 followers
December 12, 2023
Buatku yang sering susah move on jika terjadi konflik dengan orang lain yang pernah dekat denganku, apa yang ditulis buku ini begitu mengena.

Sekilas kasih sayang terlihat seperti hal baik, tapi jika cara pandang diubah kasih sayang bisa juga menjadi kengototan dan bukti keegoisan diri kita. Hubungan yang saling membelenggu dan saling bergantung tidak sehat dan tidak alami. Pasti melelahkan, bukan?

Saat orang lain memerhatikan kita, ucapkan terima kasih dengan tulus. Dan, terimalah kasih sayang yang diberikan dengan gembira. Sebaliknya, ketika orang lain pergi menjauh, biarkan ia menjauh.

Sikap "berterima kasih untuk apa yang datang, dan tidak mengejar apa yang pergi" pada akhirnya paling meringankan bagi kedua belah pihak. Bukan berarti disarankan untuk tidak memercayai orang lain, tidak berteman, atau hidup menyendiri. Saat ingin bersikap baik kepada orang lain, tentu saja Anda bisa melakukannya, dan Anda pun bebas untuk menghubungi orang lain jika memang menginginkannya. Anda bisa menuruti apa yang ingin Anda turuti, memercayai apa yang Anda percayai.

Apa yang yang dimaksudkan di sini adalah jangan lupa kalau manusia tetaplah manusia, dan masing-masing menjalani kehidupan yang berbeda sejak awal sampai akhir. Dengan mengambil sikap ofensif bahwa pada akhirnya manusia seorang diri, kita tidak akan bersikap ngotot terhadap orang lain lebih dari yang diperlukan. Dengan begitu, anehnya, gerakan kita akan menjadi ringan. Kita tidak lagi terikat pada hal-hal yang tidak perlu, tidak takut lagi menjalani hidup apa adanya atau seperti apa yang diinginkan.

Hasilnya, itu akan memungkinkan kita menjalin hubungan dengan orang yang kita inginkan dan menciptakan hubungan antarmanusia yang baik.

Ketika timbul kemarahan yang amat sangat pada seseorang, atau merasa kesepian dan sedih, mungkin ada baiknya untuk mencoba berpikir seperti itu.

(halaman 29-30)


Semoga aku bisa menerapkan sikap ini dengan baik. Bismillah....

*

"Kalau orangtua memberikan cinta yang cukup, secara alamiah anak-anak mandiri dan menjauh. Jadi, sampai saat itu tiba sebisa mungkin pusatkan semua pada kebahagiaan anak. Kesampingkan dulu soal perkembangan diri sendiri, dan curahkan seluruh tenaga untuk fokus membahagiakan anak."(dr. Tsuneko Nakamura, halaman 138)
Profile Image for Fitra Rahmamuliani.
166 reviews3 followers
May 29, 2021
3/5 karena ya lumayan bagus penulisannya, simpel, tapi gak yang bikin berkesan banget gitu.

Buku ini dibagi jadi 6 bab, bab 1-5 full cerita dari sudut pandang Dr. Tsuneko, dan bab 6 nya baru diingetin kalo ada penulis satu lagi, Hiromi Okuda. Sukanya dari buku ini adalah ada 6 episode di setiap akhir bab tentang cerita kehidupan Dr. Tsuneko Nakamura sejak kelar perang dunia kedua sampai umurnya 89 tahun. Bagaimana relasinya dengan orang-orang terdekat, dan bagaimana "kebetulan" itu bisa jadi berkah.

Cuma menurut aku ini bukunya agak terlalu memperlihatkan bahwa hidupnya Dr. Tsuneko walaupun sulit, tapi kalau sesuai sama takdirnya, akan ada jalan dan orang-orang bakal ngesupport gitu. Cuma ntah kenapa agak berbeda dengan jaman sekarang yang "kebetulan" itu jarang terjadi. Yang aku agak kurang suka juga mungkin di pengulangannya, mungkin mereka curiga ada pembaca yang gak bakal baca episode di akhir bab, jadi di bab berikutnya kadang diulangi lagi kisahnya. Awalnya aku bingung "Bukannya ini udah dijelasin sebelumnya?" ternyata konsepnya gitu.

Di awal, aku sempat mempertanyakan apakah buku ini bisa menjawab dua pertanyaan yang aku pikirkan ketika lihat bukunya "Sebatas apa sih berpikir berlebihan?" dan "Kapan kita bisa menentukan hidup kita damai atau enggak?"

1. Sebatas apa sih berpikir berlebihan?
Dari buku ini, kayaknya dijelasin berpikir berlebihan itu ketika kita gak sabar, terlalu peduli urusan orang lain, gak tau batasan antara kita dan orang lain (keluarga termasuk orang lain), dan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

2. Kapan kita bisa menentukan hidup kita damai atau enggak?
Gak tau antara aku yang gak nyimak dengan benar ato enggak, tapi kurang lebih pas kita tidak menilai orang lain dengan "suka dan tidak suka", dan pas kita bisa kompromi dengan keseimbangan emosi dan lingkungan.

Mungkin oke buat kalian yang mau baca buku self-development tanpa sakit kepala atau baca bukunya dalam keadaan rileks dan tetap rileks. Tapi sayangnya kurang relate dan kurang insightful aja buat aku. Mungkin akunya aja yang gak cocok...
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
January 11, 2022
Aku beri Bintang 4 untuk buku ini. Buku ini mengajarkan kita untuk menerima apa pun keadaan yang kita terima hari ini. Tidak ada nasehat yang muluk-muluk dalam buku ini.

Melalui buku ini, Dokter Tsuneko coba memberikan contoh melalui kehidupannya. Bagaimana dia menyederhanakan setiap masalah yang dia hadapi dalam hidupnya.

Mungkin kalau istilah orang Jawa, sebutannya itu ‘Nerimo Ing Pandum’. Menerima kehidupan yang sudah disuguhkan semesta untuk kita. Ini bukan berarti kita pasrah dalam segala hal. Tentu saja, tetap harus ada usaha untuk memperbaiki apa pun yang menurut kita tidak baik-baik saja.

Seperti yang tertulis di buku ini. Sekilas kehidupan Dokter Tsuneko nampak terlihat flat. Dia seperti tidak memiliki cita-cita akan bagaimana kehidupannya di masa mendatang, dia tidak memiliki ambisi. Dia benar-benar menerima jalan kehidupan yang disuguhkan untuknya. Dia mempercayai bahwa itu adalah takdir hidupnya dan akan dia jalani sebaik mungkin.

Tentu sebagai manusia biasa, Dokter Tsuneko bukan tidak pernah mengeluh dengan keadaan yang dia terima. Namun, Dokter Tsuneko mencoba tidak bersikap berlebihan. Dia mengupayakan tidak memperumit setiap apa pun keadaan yang dia terima.

“Pokoknya, jalani saja hidup di hari ini, semua akan teratasi. Selama bisa makan kenyang, bisa tidur dengan aman, dan punya pekerjaan yang bisa menghidupi kebutuhan paling minimal, maka semua pasti akan baik-baik saja. Kalaupun ada sedikit hal yang tidak berjalan baik, tak perlu dipikirkan berlebihan.”
Profile Image for Niar.
61 reviews
December 16, 2022
buku yg sangat bagus untuk dibaca orang sepertiku yg selama hidup banyak menuntut ini itu kepada diri sendiri haha. apalagi aku sudah melihat secara langsung di dunia nyata sosok yg mirip dengan tsuneko nakamura. hidup tanpa ambisi yg berlebihan dan standar yg terlalu tinggi ternyata membawa energi tenang kepada sekitarnya juga. aku ikut merasakan energi bahwa hidup itu ga sekeras dan sesulit itu loh, kita bisa memilih kehidupan yg seperti itu bahkan di zaman sekarang. paling tidak ketika kita sedang sendirian.

cerita tentang kehidupan tsuneko nakamura, dibantu juga dengan sudut pandang hiromi okuda mengenai itu (ibarat testimoni dari org terdekat tsuneko) membuatku berpikir bahwa sesungguhnya kehidupan setiap manusia itu sama. entah seberapa tinggi kedudukan atau seberapa banyak yg manusia itu sendiri punya, semua sama. pasti akan ada kesukaran dalam hidup. bahkan mungkin orang yg terlihat hebat dari luar, lebih banyak merasakan kesukaran dibandingkan yg hidupnya biasa saja. semakin tinggi kedudukan semakin menuntut tanggung jawab yg sama besarnya bukan?

jadi, prinsip hidup jalani yg ada didepan mata dan mengambil kesempatan2 yg datang menurutku bukan hal yg buruk untuk diikuti. bukankah kehidupan memang seperti itu? dan aku suka bagaimana tsuneko berkata bahwa hidupnya tidak luput dari bantuan orang2 sekitar. kesempatan2 yg datang pun juga dari orang2 yg hadir dalam kehidupan tsuneko. apabila ada yg bilang bahwa karakter tsuneko ini terlihat pasif, bagiku tidak juga. hidup tanpa ingin menjadi orang lain dan berambisi ingin jadi sosok tertentu, bukanlah kesalahan dan pasif. bagiku, kehidupan seperti itu adalah pilihan dan tidak apa2 untuk memilihnya.

terakhir, aku juga suka kata2 "cukup menjadi sosok yg menerangi sebuah sudut", memberikan kehangatan dan cahaya meski hanya berupa cahaya kecil.
Profile Image for zaawithbooks.
57 reviews6 followers
May 5, 2022
Ada 6 bab dalam buku ini, disertai satu penutup. Isinya adalah apa tujuan sebenarnya kita dalam bekerja, cara menenangkan hati, juga cara agar kita bisa menjalani dua hal secara seimbang dalam hidup.

Selain itu tertulis juga apa saja yang bisa kita lakukan agar tidak menaruh harapan berlebih pada sesuatu—sehingga kita tidak akan kecewa di kemudian hari, serta daya tarik dalam hubungan antar manusia.
Menurutku, buku ini bener-bener berguna untuk kehidupan kita. Bahasa terjemahannya sangat enak untuk dibaca.

Selain memberikan tips berdasarkan pengalaman penulis sendiri, terdapat kolom episode di setiap akhir bab yang berisi cerita berkaitan dengan apa yang sebelumnya dibahas. Jadi gak hanya teori biasa yang cuma bersifat menggurui.
Profile Image for Nureesh Vhalega.
Author 20 books151 followers
July 15, 2023
Nggak bisa komen yang lain, kecuali: terjemahan nggak luwes dan teknisnya tabrak lari. Hih banget 😭😭😭
Profile Image for saturn.
16 reviews
February 13, 2023
sebenarnya buku ini bisa selesai dalam sekali duduk. tapi kebetulan aku pas baca buku ini dapat distract dari luar jadi kehalang untuk melanjutkan membaca. bukunya sangat simple. aku suka buku self development yang seperti ini. tidak yang menggebu-gebu harus bisa a, b, c, d. bener-bener deskripsi hidup sederhana tuh beneran lebih nyaman dan tentam. sepertinya setiap orang wajib membaca buku ini sekali seumur hidup mereka karena bukunya benar-benar termasuk buku yang wajib dibaca. penyampaiannya enak, walaupun di beberapa bagian terkesan diulang-ulang karena menceritakan kisah dokter tsuneo juga, tapi tetap masih bisa dibaca.
Profile Image for Noyah.
28 reviews
December 23, 2024
Buku ini membantu kita untuk berpikir lebih sederhana dan apa adanya, tanpa harus mengikuti kemauan dunia dan kecepatan informasi sosial media.

Sebenadnya akar permasalahan dari overthingking adalah terlalu banyak kemauan di atas kebutuhan dan membandingkan diri dengan orang. Atau juga karena rasa rendah diri dan tidak mempercayai diri sendiri.

“Orang lain punya kehidupannya sendiri dan saya punya kehidupan ku sendiri”

Sebaiknya memang kita mencari garis batas antara diri sendiri dan orang lain, kadang kala itu yang bisa membuat kita hidup lebih tenang

Juga mulai berpikir lebih sederhana, kalau di hadapkan dengan sesuatu yang sulit jangan sedih/ marah berlebihan, kalau di kasi rezeki yang baik, janagn senang berlebih, berpikir lah “ah seperti itu saja?” “Ah yah sudahlah, jalani saja”
Profile Image for riris.
16 reviews
September 26, 2021
Baca pas kondisi ditempat kerja lagi gak baik-baik, jadi rasanya di bab-bab awal related banget sama keadaan.
Pesan-pesan dari Dokter Tsuneko terasa menguatkan dan menghangatkan. Pesan yang paling diingat, jangan takut hidup seorang diri karena memang gak akan ada orang yang 100% membantu dan menemani kita..
Profile Image for Erixa Putri.
127 reviews6 followers
January 18, 2022
Ratings : 5 🌟

Apa tujuan kamu menjalani hidup?

Semua orang, aku yakin, pasti akan memiliki tujuan dalam hidupnya dan akan berusaha mencapainya. Lantas, kalau sudah tercapai, apa yang akan kau lakukan?

Seorang teman pernah mengatakan padaku, ‘Apa sih yang kau cari di dunia ini?’ yang membuatku berpikir dalam dan bertanya pada diriku sendiri untuk mencari jawabannya. Sampai saat ini, aku belum menemukan jawabannya.

Setelah membaca buku ini, ada beberapa hal yang telah kemudian kusadari bahwa tujuan hidup bukan melulu soal berhasil dan sukses. Ada begitu banyak makna yang kemudian akan membuatmu berpikir kembali, apa yang kau harapkan dari hidupmu? Kalau harapan itu sudah tercapai, lantas apa yang mau kau lakukan? Pada akhirnya, pola itu akan berulang dan berulang hingga kau sendiri merasa bosan.

Koreksi aku jika aku salah. Tapi inilah pendapat setelah aku memikirkannya.

Dalam buku ‘Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan’ akan ada banyak pelajaran dalam kehidupan yang bisa kau pelajari. Aku mengambil beberapa hal penting yang mungkin akan berpengaruh besar dari banyaknya hal penting yang bisa kau pelajari dalam buku ini. Yang pasti, prinsip ‘You Only Live Once’ adalah prinsip yang kau harus kau pegang ketika membaca buku ini.

Yang pertama, terima pendapat positif dan buang jauh-jauh pendapat negatif dari orang lain. Awalnya aku ingin menuliskan, ‘jangan hiraukan pendapat orang lain’ tapi rasanya tidak mungkin kita hidup tanpa mendengarkan pendapat orang lain. Maka dari itu aku menuliskan, buang jauh-jauh pendapat negatif orang yang sekiranya tidak membuatmu nyaman dan dengarkan pendapat berupa saran, masukan atau pendapat-pendapat lainnya. Selain itu, sebisa mungkin menghindari pembicaraan yang menyinggung sisi buruk dari orang lain.

Kedua, jangan mengharapkan sesuatu terlalu tinggi. Ketika kau berharap tinggi akan sesuatu dan berakhir tidak sesuai dengan harapanmu, kau hanya akan mendapat kekecewaan. Kalaupun sudah terlanjur kecewa, bangkit dan belajarlah dari pengalamanmu. Berharap memang boleh, tapi saranku, jangan sampai kamu kecewa jika semuanya tidak berjalan dengan lancar.

Ketiga, seburuk apapun kehidupan yang kau jalani, seterpuruk apapun keadaanmu, segelap apapun masa yang sedang kau alami, jangan lupa untuk menjalani hidupmu.
Aku tidak akan bilang, berbahagialah, tersenyumlah dan lain sebagainya karena aku sadar bahwa dalam hidup keseimbangan itu ada. Ada saatnya kita bahagia, ada saatnya kita merasa sedih. Menurutku, itu hal yang wajar karena kita juga perlu merasakan manis-pahitnya hidup. Jalani saja hidupmu. Tanpa kau sadari, lama kelamaan kau akan merasakan kebahagiaan itu sendiri.

Yang keempat, jangan lupa untuk menjalin hubungan dengan manusia. Meskipun pada akhirnya manusia selalu berakhir sendiri, setidaknya jangan lupa untuk bersosialisasi dan menjalin hubungan orang lain. Seperti yang dikatakan Dokter Tsuneko dalam bukunya, Jalin hubungan yang memungkinkan kita nyaman memperlihatkan kelemahan kita. Karena biar bagaimanapun, keberadaan orang lain di sekitar kita secara tidak langsung juga mempengaruhi eksistensi diri.

Dan yang terakhir, jangan lupa untuk memahami dirimu sendiri. Meskipun kau sudah menerapkan empat saranku tadi, semuanya akan sia-sia jika kau tidak memahami dirimu sendiri karena kunci dari segala kunci dalam kehidupan adalah memahami dirimu sendiri. Apa yang kau mau dan tidak, apa yang kau sukai dan yang tidak kau sukai, apa yang membuatmu nyaman dan membuatmu tidak nyaman. Hanya kau sendiri yang bisa menentukannya. Bukan orang lain.
Profile Image for Maya Murti.
205 reviews8 followers
February 13, 2022
Jarang-jarang saya baca buku self-help. Buku ini banyak yang ngantre di ipusnas, dan pas banget kontennya cocok dengan kehidupan saya saat ini, huhuhu...

Dokter Tsuneko adalah seorang psikiater yang lahir pada tahun 1929. Saat buku ini terbit, usianya sudah mencapai 89 tahun dan masih bekerja di rumah sakit. Di buku ini, ia menceritakan pengalaman hidupnya dan memberi insights tentang kehidupan. Tidak ada teori-teori psikiatri yang dituliskan di sini, hanya penuturan sederhana yang langsung bisa dicerna pembaca.

Dokter Tsuneko memberi berbagai pandangan hidup tentang pekerjaan, hubungan manusia, kesendirian manusia, mengetahui batas diri, mengatasi lewah pikir, dan bersabar dalam kondisi yang tidak ideal. Banyak hal yang saya catat dari tulisan buku ini. Poin yang banyak diulang dalam bukunya adalah 'jangan khawatir berlebihan, lakukan apa yang ada di depan mata dengan hati ringan'. Tentu pesan-pesan di baliknya tidak sesederhana itu, tetapi mengagumkan juga ada seseorang seperti dr. Tsuneko yang bersifat grounded yet gentle.
Memperkirakan serta mempersiapkan masa yang akan datang barangkali memang penting, tapi sia-sia saja jika kita mencemaskan apa "yang saat ini tidak bisa diubah."
Karena metode self-help itu bersifat cocok-cocokan, maka ada baiknya memodifikasi saran untuk diri sendiri. Sebagai contoh, saya adalah seseorang yang punya keinginan di masa depan. Tentu saya tidak bisa menelan mentah-mentah saran dr. Tsuneko tentang 'hidup untuk hari ini'. Tetapi dari bukunya, saya mendapat insight tersendiri bahwa cita-cita, passion, atau apapun itu hanyalah titik mula yang mengarahkan manusia. Berhasil tidaknya ia mencapai cita-cita sudah bukan dalam kuasanya sendiri, melainkan ada campur tangan arus kehidupan. Dan ia harus belajar berdamai soal itu.
Profile Image for Arvia Maharhani.
231 reviews29 followers
March 5, 2021
Buku ini tidak terkesan menggurui karena penulis seperti menceritakan hal-hal yang telah terjadi di hidupnya dan bagaimana ia mengatasinya. Selain itu, antara 1 bab dengan bab yang lain disisipi kisah hidup Dokter Tsuneko.

Selama membaca, aku merasa cara penulis mengatasi masalah di hidupnya seperti menerapkan Stoisisme (maaf karena aku suka banget sama Filosofi Teras jadi kalau ada hal-hal yang agak mirip Stoisisme aku excited dan mencoba mikir mungkin ini penerapan Stoisisme di kehidupan nyata HAHA).

Tapi, aku juga agak bosen selama membaca buku ini. Mungkin aku agak kurang cocok karena tiap subbab (rata-rata) cuma dituliskan dalam 2 lembar hmmm kayak kurang mendalam aja. Harus kuingat bahwa buku ini bukan textbook kayak buku motivasi lainnya~

Inti yang aku ambil dari buku ini bahwa setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Santai saja, fokus dengan apa yang ada di depan mata. Fokus dengan diri sendiri. Semua yang ada di dunia ini tidak mungkin 100% cocok dengan kita, jadi jangan ambil pusing. Pada akhirnya kita akan mati seorang diri.

"Berterima kasih untuk apa yang datang, dan tidak mengejar apa yang pergi"

3,8⭐
Profile Image for Laily.
29 reviews
September 16, 2025
Nilai-nilai nasihat yang tersampaikan begitu ringan dan mengalir. Isi buku juga mudah dicerna berkat kisah kehidupan penuh perjuangan dari psikiater Dokter Tsuneko.

Sangatt direkomendasikan untuk siapapun yang ingin merasakan hidup dengan air pikiran yang lebih tenang. Walau tentunya penjelasan di dalamnya masih kurang diseimbangkan dengan nilai spiritual.
Profile Image for Tara Ardellia.
22 reviews
July 15, 2021
Apapun yang berlebihan memang tidak bagus. Seperti kata Dokter Tsuneko Nakamura, selama bisa makan kenyang, bisa tidur dengan aman dan punya pekerjaan yang bisa menghidupi kebutuhan paling minimal maka semua pasti akan baik-baik saja.
Profile Image for Akaigita.
Author 6 books237 followers
May 7, 2022
Baca buku ini kayak dengerin nasihat nenek untuk santai aja menjalani hidup. Sayangnya nenekku sendiri orangnya ambisius, jadi dr. Tsuneko ini seperti sosok nenek yang hilang :')
Profile Image for Citra Rizcha Maya.
Author 5 books23 followers
July 27, 2025
Stoik Ala Dokter Tsuneko : Hidup Itu Hanya Perlu Dibuat Ringan

Buku ini seperti pelukan diam-diam dari seorang nenek. Ringan, tapi menguatkan.

Menjadi psikiater hingga usia 89 tahun? Bayangkan mendengar curhatan manusia nyaris seumur hidup, dari yang waras sampai yang bikin gila. Apakah karena beliau sangat mencintai pekerjaannya? Ternyata tidak juga, haha. Beliaupun sama seperti kebanyakan kita.

Kebetulan di akhir Minggu ini saya sedang berduka, rasanya hampir setiap bulan, saya seolah harus memiliki hari untuk bersedih karena hormon. Badan lelah dan tanpa daya, kepala saya akan meromantisasi masa lalu dan mencemaskan masa depan, agar aman saya menarik diri dari kehidupan sosial, memilih hanya bergelung di kamar dan bersedih. Dan, tanpa sengaja menemukan buku ini di linimasa iPusnas, saya merasa seolah dipanggil untuk membaca dan harus segera sembuh.

Hidup Damai Tanpa Pikiran Berlebihan, karya Tsuneko Nakamura dan Hiromi Okuda, bukan buku teori psikologi. Ini seperti buku harian dari seorang nenek Jepang yang bijak, sabar, dan sudah kenyang dengan pahit-manis kehidupan. Ringkas, hanya 174 halaman, tapi mengendap. Saya membacanya sambil berbaring, dan bangga karena kali ini saya bisa menamatkan buku tanpa terdistraksi oleh notifikasi dan pikiran sendiri.

Awalnya, saya tak berharap banyak. Cover-nya tak menggoda. Tapi saya merasa terhubung dengan dokter Tsuneko. Kami sama-sama perempuan, menikah, bekerja, memiliki tinggi yang sama dan pernah merasa ditinggal oleh dunia. Saat membaca kisahnya, bagaimana ia bertahan dengan suami yang gemar minum dan royal pada teman, bagaimana ia mencari penghasilan tambahan demi anak-anaknya, saya merasa sedang duduk di beranda rumah nenek, mendengarkan cerita hidup yang (tak) sederhana tapi sarat makna.

Yang menarik, buku ini tak bicara tentang sukses atau motivasi besar. Ia bicara tentang bertahan. Tentang bangun, makan cukup, tidur cukup, dan terus bekerja meski hidup tidak ideal. Seperti kutipan di halaman 72,

“Meski menghadapi kondisi yang melelahkan, selama masih bisa makan, bisa tidur, jiwa raga sehat, tak ada salahnya untuk bersabar sedikit dan terus berusaha.”

Ada kelegaan yang aneh setelah saya selesai membaca. Tapi sayangnya saya mengacaukannya sendiri. Entah kenapa saya justru menonton Marriage Story sesaat setelah itu, dan semua ketenangan mental yang barusan saya peroleh mendadak runtuh oleh keribetan perceraian orang lain. Tapi, bahkan dalam kekacauan itu, seolah dokter Tsuneko berbisik ke dalam kepala saya: “tak apa-apa lelah, asal jangan menyerah.” (Cat: Cerai itu ribet, pernikahan dokter Tsuneko awet karena dia menunda perceraiannya.)

Hiromi Okuda menulis buku ini dengan gaya hangat, seperti murid yang sangat menghargai gurunya. Ia tak hanya menceritakan siapa Tsuneko Nakamura, tapi juga mewariskan cara berpikirnya: bahwa hidup bukan tentang menghindari penderitaan, melainkan berdamai dengannya.

Saya kira, ini semacam stoik versi Jepang yang kawaii. Filosofinya bukan “cuek”, tapi “selow”. Bukan “tegar”, tapi “biasa saja juga tidak apa-apa.” Dalam dunia yang bising, berisik, dan sibuk membandingkan pencapaian, suara Tsuneko adalah pelan-pelan yang menenangkan. Tidak mendramatisasi hidup, tidak juga mengabaikannya. Hanya... menerima.

Akhirnya, bukan ‘nasehat’ dalam buku ini yang paling membekas buat saya. Tapi bayangan tentang seorang nenek, yang bekerja dengan semangat hingga hampir 90 tahun, tetap tersenyum, dan bilang:
"Kalau kamu masih bisa tidur dan makan, kamu baik-baik saja."
Saya akan mengingatnya. Mantra hidup ringan dari hari ke hari.

Hidup Damai Tanpa Pikiran Berlebihan
Tsuneko Nakamura & Hiromi Okuda
Gramedia Pustaka Utama, 2021
174 halaman, ISBN: 978-602-064687-9
Profile Image for Asdar Munandar.
169 reviews4 followers
January 26, 2024
Judul: Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan
Penulis: Tsuneko Nakamura, Hiromi Okuda
Penerbit: BPK Penabur
Tahun Terbit: 2021
Tebal: 192 halaman
Genre: Pengembangan Diri

Resensi

Dalam buku "Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan", Tsuneko Nakamura, seorang psikiater dengan pengalaman lebih dari 70 tahun, membagikan pengalaman dan pemikirannya tentang bagaimana menjalani hidup yang tenang dan damai, tanpa dihantui oleh pikiran-pikiran negatif.
Menurut Nakamura, salah satu penyebab utama stres dan kecemasan adalah overthinking, atau berpikir berlebihan. Ketika kita terlalu sering memikirkan hal-hal yang tidak pasti atau tidak dapat kita kendalikan, kita akan merasa cemas dan khawatir. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental kita.

Untuk mengatasi overthinking, Nakamura menyarankan kita untuk belajar menerima kenyataan dan tidak terlalu memaksakan diri. Kita harus menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Ada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, dan itu adalah hal yang wajar.
Selain itu, Nakamura juga menyarankan kita untuk fokus pada hal-hal yang positif dalam hidup kita. Ketika kita bersyukur atas apa yang kita miliki, kita akan merasa lebih bahagia dan damai.
Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Nakamura juga menyelipkan kisah-kisah nyata dari pasien-pasiennya untuk memperkaya pemahaman kita tentang permasalahan overthinking dan solusinya.

Secara keseluruhan, buku ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin belajar menjalani hidup yang lebih tenang dan damai. Buku ini dapat membantu kita untuk memahami penyebab overthinking dan cara-cara untuk mengatasinya.

Kelebihan Buku
• Penulis adalah seorang psikiater dengan pengalaman lebih dari 70 tahun, sehingga buku ini memiliki dasar ilmiah yang kuat.
• Bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dipahami.
• Terdapat kisah-kisah nyata dari pasien-pasien penulis untuk memperkaya pemahaman pembaca.

Kekurangan Buku
• Beberapa poin yang disampaikan oleh penulis mungkin sudah cukup umum diketahui oleh pembaca yang sudah familiar dengan topik pengembangan diri.

Riwayat Singkat Latar Belakang Penulis
Tsuneko Nakamura lahir di Osaka, Jepang, pada tahun 1933. Ia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Osaka pada tahun 1957 dan memulai karir sebagai psikiater pada tahun yang sama.
Nakamura telah berpraktik sebagai psikiater selama lebih dari 70 tahun. Ia telah menangani berbagai macam pasien, mulai dari orang-orang dengan gangguan mental hingga orang-orang yang mengalami stres dan kecemasan dalam kehidupan sehari-hari.
Nakamura juga aktif menulis buku dan artikel tentang kesehatan mental. Bukunya yang berjudul "Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan" telah menjadi best seller di Jepang dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Quotes dari Buku
• "Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan kejutan. Kita tidak bisa mengendalikan segalanya, dan itu adalah hal yang baik. Ketika kita menerima kenyataan, kita akan merasa lebih tenang dan damai."
• "Bersyukur adalah salah satu cara terbaik untuk mengatasi overthinking. Ketika kita fokus pada hal-hal yang positif dalam hidup kita, kita akan merasa lebih bahagia dan damai."
• "Beristirahatlah dengan baik. Tugas kita di malam hari adalah tidur nyenyak."

Kesimpulan
Buku "Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan" adalah buku yang bermanfaat bagi siapa saja yang ingin belajar menjalani hidup yang lebih tenang dan damai. Buku ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang penyebab overthinking dan cara-cara untuk mengatasinya.
.

Profile Image for Safira Nadifah.
44 reviews
March 16, 2022
# 🚀 The Book in 2 Sentences

1. Hidup tak sesusah yang kita bayangkan selalu hadapilah dengan tenang
2. Menerima kenyataan yang terjadi bukanlah jauh dari ambisi.

# 🎨 Impressions

Buku ini ditulis oleh seorang psikiater dari Jepang yang sudah berusia 89 tahun owoow... sudah begitu tua tetapi masih tetap menjalankan karirnya seolah ia masih berusia 20 tahunan. Dia selalu menceritakan keadaan hidupnya selama ia menghadapi segala permasalahan pasien-pasiennya, tak terlalu menyenangkan juga pekerjaan tersebut baginya tetapi ia tetap harus menjalankannya dengan ikhlas karena dokter tsuneko bukanlah dari keluarga yang berada.Bermula dari keadaan negara Jepang yang sangat genting yakni masa-masa Perang, dokter tsuneko banyak mengalami ujian yang sangat menguji kesabarannya. Segala lika-liku kehidupannya ditulis dalam buku ini, dimulai dari hal-hal indah yang terkesan sampai dengan hal-hal yang tak begitu indah baginya.

Menurut saya ketika saya membaca buku ini., saya merasa sedang *healing.* Penulisnya sangat membuat pembaca yakin bahwa tidak hanya kita saja yang mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana kita melainkan ya semua nya juga pernah merasa begitu dengan alur yang disertai prolog kehidupan dokter tsuneko.

Kata “sederhana” ialah kata yang paling cocok untuk mendeskripsikan buku ini. Dari awal hingga akhir, semua dijadikan sangat *simple* oleh penulis, baik itu dari segi hubungan antar manusia, cara menghadapi dibawah tekanan, ilmu *parenting,* kekeluargaan, membangun karir, dsb. Begitu banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa kita dapatkan dari buku ini, semuanya dirangkum menjadi sebuah bacaan yang sangat jauh dari kompleksitas, sangat sederhana hingga semua kalangan pun bisa mengerti dan bisa dicoba dalam kehidupan sehari-harinya.


💡 **TIDAK MASALAH JIKA TIDAK SEMPURNA**



# ✍️ My Top 2 Quotes

- Dalam hidup ada saja hal yang tidak menyenangkan hati.Kita tak bisa mengubahnya.Oleh sebab itu, cobalah berlatih untuk mengubah cara kita menerimanya.
- Percuma saja terus mengkhawatirkan hal di masa yang akan datang, toh nantinya tidak akan berjalan sesuai rencana. Tentu saja selama kita masih hidup akan ada beragam masalah yang muncul.
Profile Image for Sita R.
67 reviews
June 27, 2022
Buku ini menuliskan tentang kiat-kiat bagaimana menjalani hidup damai dan tenang ala psikiater jepang Dokter Tsuneko Nakamura. Diselingi cerita perjalanan hidup sang psikiater di tiap akhir bab, buku ini cukup gamblang menjelaskan bagaimana tidak perlu memikirkan hal yang memang tidak perlu dipusingkan.

“Tidak ada yang namanya harus bahagia”
Harus begini adalah suatu beban”
“Fokus pada apa yang saat ini yang harus dihargai dan bertindaklah pelan-pelan”
“Apa yang ada di depan mata adalah yang utama”


Pandangan buku tersebut mengajarkan bagaimana menjalani hidup dengan santai dan berfokus pada apa yang ada di depan mata kita, meskipun tidak melarang pembacanya untuk memiliki ambisi atau target hidup tertentu (seperti halnya sang Psikiater).

Buku ini juga mengajarkan bagaimana baiknya menjalin hubungan dengan manusia, rekan kerja, teman, maupun keluarga, agar terhindar dari rasa kecewa dengan mengetahui batasan antar hubungan manusia dan tidak menganggap kebahagiaan dan kepuasan ditentukan oleh orang lain, objek, materi, atau capaian orang lain.

“Tidak ada habisnya jika kebahagiaan ditentukan dari penghasilan, lokasi dan luas rumah, sekolah dan pencapaian anak, makanan yang disantap, seberapa perlentenya dandanan, dan lain-lain.”

Meskipun dalam buku ini menyebutkan tiap manusia adalah pribadi yang berbeda jadi tak bisa selalu memiliki tujuan yang sama, namun juga tetap berprinsip untuk berbuat baik dan menghargai orang lain.

“Tiap manusia adalah pribadi berbeda yang masing-masing memiliki keinginan sendiri”
“Jangan pelit melakukan kebaikan kecil, akan lebih baik jika banyak membantu”


Pada bab-bab akhir, buku ini membahas mengenai hubungan orang tua-anak dimana dokter Tsuneko berpendapat bahwa kebahagiaan anak adalah yang utama.

“Ada banyak dokter yang merawat pasien, tapi bagi anak-anak hanya ada satu ibu.”

Meskipun minim ilustrasi, terjemahan ke bahasa Indonesia bagus dan cukup mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya lugas dan jelas.

Rekomendasi
4.5/5
Rekomended buat yang butuh penyemangat saat sedang ribet dengan kehidupan, dengan tebal cuma 170an halaman cocok buat yang gak suka baca self improvement tebel-tebel.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Shinta A.
37 reviews
December 9, 2022
Moto hidup dr. Tsuneko:

"Berharap jadi sosok yang bisa menerangi sebuah sudut. Buat saya, cukuplah jika saya bisa menerangi satu sudut dalam lingkungan di mana saya berada meski tanpa kesuksesan atau kiprah. Saya merasa cukup jika bisa menerangi orang-orang di sekitar saya dengan cahaya hangat sekalipun hanya berupa cahaya kecil."

dr. Tsuneko adalah seorang psikiater. Sosok yang menyenangkan. dr. Tsuneko mampu membesarkan hati setiap orang. Khususnya, pasien-pasiennya. Juga termasuk aku si pembaca bukunya.

Membaca perjuangan dr. Tsuneko, yang telah hidup sejak masa peperangan di Jepang hingga menjalani lika-liku, suka-duka, jatuh-bangun kehidupan, alih-alih merasa takut, aku malah menjadi lebih berani dan semangat lagi.

Ternyata kuncinya hanya satu yakni, berusaha membuat hari kita ringan 🥲

Ada dua hal penting yang dr. Tsuneko sampaikan agar kita menjalani kehidupan dengan hati yang ringan:

👉 Cari tahu dan pahami kondisi diri. "apa saja hal yang kita suka dan tidak suka?" dari situlah kita akan tahu apa yang kita butuhkan.

Kita tidak perlu memaksakan sesuatu yang akan menyakiti diri kita sendiri.

👉 Orang lain memiliki kehidupan sendiri dan saya punya kehidupan sendiri.

Memberikan batasan memiliki makna kita menghargai segala kebutuhan diri sendiri dan pilihan orang lain. Kita menyadari bahwa setiap orang memiliki preferensi yang berbeda-beda.

Membaca buku dr. Tsuneko ini seperti mendapat validasi. Bahwa tidak apa-apa memikirkan diri sendiri dahulu sebelum memikirkan urusan orang lain. Sungguh tidak apa-apa menilai kesanggupan diri kita sebelum melakukan sesuatu. Juga tidak apa-apa bila kita memilih teman dan lingkar pertemanan seperti apa yang baik untuk diri sendiri.

Terima kasih dokter untuk segala pencerahan. Terima kasih sudah mengajari tentang kebijaksanaan 🥲

--
Buku ini ditulis oleh dua psikiater: dr. Tsuneko Nakamura dan dr. Hiromi Okuda (murid dr. Tsuneko yang terinspirasi dengan kehidupan dr. Tsuneko dan menginisiasi agar buku ini dituliskan).
Profile Image for Jihan Aulia Zahra.
20 reviews2 followers
June 25, 2023
Buku penyelamat dari reading slump-ku! Sengaja cari buku ringan untuk membangkitkan keinginan membaca buku, jadilah memilih Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan. Buku ini ditulis oleh psikiater dari Jepang yang kini usianya sudah 90 tahun, sudah melewati berbagai kejadian besar dunia, termasuk Perang Dunia II. Membaca buku dari dr. Tsuneko membuatku sadar kalau selama ini aku tuh hidup "terburu-buru". Entah apa yang dikejar, tapi dr. Tsuneko kemudian bercerita tentang bagaimana pelan hidupnya bikin aku tahu bahwa gak ada yang perlu diburu-buruin kok dalam hidup.

Membaca buku ini super pelan, hampir satu bulan, padahal cuman sekitar 150 halaman aja, karena aku mau pelan-pelan membuka halaman per halaman. Mendadak jadi stoic untuk beberapa saat, pengen banget coba hidup super slow yang gak memusingkan hidup, just let go of everything. Menangis ya menangis saja, sedih ya sedih saja. gak perlu menahan emosi. Tapi, aku jadi bisa mengambil kesimpulan (sementara dan siapa tau salah) bahwa orang-orang yang stoic dan hidup damai itu adalah orang-orang yang secara emosional sudah lebih 'mature' karena mereka dapat mengontrol reaksi dari sebuah kejadian yang menimpa mereka. Yang aku suka juga dr. Tsuneko membuat bab per bab ini pendek-pendek dan langsung to the point, jadi bagaimana ketika menghadapi A, bagaimana jika tiba-tiba kita mengalami kejadian tidak menyenangkan, bagaimana kita menjumpai perasaan tertentu yang mengganggu kita.

I couldn't say buku ini bakal menjawab semua pertanyaan dari berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan yang membuat gundah hati (seek your nearest therapist, okay?). Yang bisa aku jamin ketika selesai membaca buku ini adalah: hidup lah pelan-pelan, nikmati setiap saatnya, rasakan setiap emosi yang muncul, tetap belajar terhadap hal-hal lain yang memang dibutuhkan. Se-alpha pun hidup, terkadang kita butuh istirahat untuk jeda sekenak, dan buku dari dr. Tsuneko akan menjadi media yang paling tepat untuk beristirahat.
Profile Image for Day Nella.
247 reviews5 followers
July 25, 2024
"Percuma saja terus mengkhawatirkan hal di masa yang akan datang, toh nantinya tidak akan berjalan sesuai rencana." Hal 86
-
Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan
Tsuneko Nakamura
Hiromi Okuda
Alih bahasa Faizal
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Edisi Digital, 2021
Baca di Ipusnas
-
Baca buku ini amat menenangkan, apalagi ditulis oleh seorang Doker dan Psikiater, di mana beliau dalam buku ini menceritakan proses dirinya mendapatkan inspirasi dari seorang Dokter Tsuneko yang memiliki pengaruh besar pada dirinya akan makna kehidupan dan perkembangan pada tujuan hidup.
-
Dalam buku ini kita dibuat untuk memahami apa yang sebenarnya kita inginkan sebagai manusia? Validasi dari orang lain atau validasi untuk diri sendiri?
Apalagi tuntutan hidup tidak sesederhana yang dilihat, selalu ada hal yang diluar rencana yang berakhir membuat semua target tidak tercapai, termasuk dalam menyelesaikan masalah. Baik dalam bekerja atau pun kehidupan sehari-hari.
Belum lagi bila datang omongan negatif yang datang dari beberapa penjuru, membuat semua ketenangan yang didapatkan menjadi ketakutan tersendiri dan pada akhirnya menjadikan kekhawatiran yang masih belum bisa dipastikan kalau hal tersebut benar atau tidak dan apakah berpengaruh pada masa depan.
Toh, hidup bukan tentang mereka, tapi tentang pribadi masing-masing.
Jadi tidak perlu mencemaskan hal yang belum pasti.
-
Membaca buku ini tuh beneran kasih insight positif bagiku. Meski sejujurnya kurang nyaman dengan teknik penulisannya. Meski begitu aku cukup menikmati apa yang dipaparkan penulis.
Recommended banget buat kalian yang suka buku tentang kehidupan seperti ini. Personal rate 3,8/5
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hëb.
170 reviews7 followers
January 2, 2022
Percuma saja terus mengkhawatirkan hal di masa yang akan datang, toh nantinya tidak akan berjalan sesuai rencana -hal.68


Aku tidak sengaja menemukan buku ini dalam daftar best seller di Gramedia Digital. Karena tertarik dengan judulnya, jadilah aku membaca buku ini. Secara garis besar, isinya terbagi dalam 6 bab yang memuat sub-bab, masing-masing hanya 2-4 halaman saja. Isi buku ini ibarat esai-esai pendek dari Tsuneko Nakamura, seorang pskiater yang sudah bekerja selama 70 tahun. Ada juga cuplikan mengenai kisah hidup penulis yang dibuat bersambung dalam setiap bab. Sebagai pskiater, penulis sepertinya menekankan anjuran untuk tidak terlalu berpikir berlebihan dalam menjalani hidup. Sesederhana dengan berbuat semampunya, menerima kegagalan, fokus pada apa yang ada di depan mata, dan tidak menjadikan bahagia sebagai keharusan. Dua bab yang paling menarik buatku adalah bab 1 "Apa Tujuan Bekerja?" dan bab 4 "Kembali Menenangkan Hati". Sebagian besar tulisan dalam dua bab tersebut terasa relate dengan kondisiku sekarang.

Pada akhirnya, aku memberikan 4 bintang karena pembahasan dalam sub-bab yang terlalu "sederhana". Namun buku ini akan aku rekomendasikan sebagai salah satu buku yang dapat meredakan rasa overthinking yang barangkali sedang ramai dialami banyak orang.
Profile Image for ami ☆ ⁺‧₊˚ ୭.
156 reviews18 followers
February 25, 2022
salah satu buku non fiksi terbaik yang pernah kubaca. kayak segala aspek dibahas di buku ini dan ngga banyak basa-basi, poinnya langsung disampein jadi sebagai pembaca pun aku merasa lebih mudah inget isi bukunya.

yang menarik, buku ini ngga cuma membahas poin-poin sebagaimana buku non fiksi pada umumnya, tapi juga menceritakan dari mana asal pemikiran-pemikiran yang dituangkan ke dalam buku ini. kita tahu kayak gimana latar belakang penulis yang bisa melahirkan pemikiran dan tulisan dia yang luar biasa ini.

ngga bertele-tele jadi poin tambahan banget buat aku, jadi bacanya tuh kayak ngga lama (karena sejauh buku non fiksi yang pernah aku baca, pasti banyak basa-basinya). entahlah, aku suka banget sama buku ini. semua bab punya poin yang sama pentingnya dan kalimat-kalimat yang ada di sini juga gampang diinget, jadi buat diterapin ke kehidupan sehari-hari akan jauh lebih mudah (udah coba sendiri hahaha).

beberapa motto yang diterapin sama dokter tsuneko di dalam hidupnya juga motto yang belum pernah kudenger dari mana pun (baik buku atau di kehidupan sehari-hari). salah satu motto menarik yang diterapin adalah supaya bertahan hidup sama suaminya sampe nanti anak-anaknya nikah (meski hasilnya setelah anak-anaknya nikah pun dokter tsuneko dan suaminya masih lanjut lol).
Profile Image for gh.
93 reviews
December 15, 2022
Sangat beruntung bisa membaca buku ini di waktu dan keadaan yang tepat. Sosok cerita Dr Tsuneko Sungguh menginspirasi di masa muda ini.

Beberapa kutipan yang ingin saya simpan untuk diri saya sendiri :

Yang jelas 'waktu yang akan menyembuhkan' dan itu akan menjadi obat terbaik agar tidak dipermainkan oleh ingatan (hal 85)

Namun, hidup tidak bisa hanya mengandalkan suara hati, diperlukan kebijaksanaan. (hal 145)

Tugas di malam hari adalah 'tidur nyenyak.' Kalau pun ada hal besar yang merisaukan, pikiran lagi besok setelah bangun. (hal 78)

Mengenal batasan dan selalu menarik garis penentu jarak. Jika terlalu dekat dengan orang lain, bagaimana pun juga akan muncul kesempatan untuk bersentuhan dengan sisi buruk mereka.

Pada dasarnya manusia itu sendiri. Kesendirian itu baik. (hal 137)
Sia sia memikirkan hal di masa depan.

Yang penting bisa tidur tenang, makan cukup, keluarga damai, maka hidup tenang dan tidak ada yang perlu dirisaukan.

Kepuasan manusia tidak ditentukan oleh orang lain. Tidak ada ketentuan kalau kita harus menjalani kehidupan yang sama dengan orang lain. Bulatkan tekad bahwa "ini hidup saya." bagaimana pun manusia yang bisa menjalani hidup "sebagaimana dirinya." Cobalah untuk mengingat itu ketika merasa lelah hidup dipermainkan orang lain. (hal 148)
Displaying 1 - 30 of 126 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.