Aku tinggal di Kabupaten Mappi, kota sejuta rawa, Papua. Cerita mini yang kutulis ini judul-judulnya berasal dari kaos anak-anak muridku, juga pada baju masyarakat kampung yang memanggilku guru. Para murid sering datang tak memakai seragam mereka (putih-merah) karena mereka tak mampu membeli seragam. Tapi mereka tidak miskin, mereka sangat kaya. Kaya akan adat istiadat. Kaya akan alam. Aku hanya ingin menulis cerita mini yang terinspirasi dari pakaian mereka.
Buku dengan 109 halaman ini bercerita tentang pengalaman penulis, Casper, yang bekerja sebagai guru di salah satu desa di Mappi. Tiap judul cerita, diambil dari tulisan di baju anak-anak yang bersekolah pakai baju bebas. Kalau dari penampakan fisik, buku ini tuh ukurannya kecil dan tipis. Tapi banyak hal menarik, kumpulan cerita sederhana tentang masyarakat desa, dan juga bagian yang mengingatkan, "Betapa bersyukurnya aku bisa hidup di kota tanpa kekurangan..." Buku yang bisa dibaca sekali duduk. Aku lupa foto halaman bukunya, tapi ada bagian yang bikin aku ingat sama senior di kampusku dulu yang pernah kerja di Mappi. Kalimat itu ialah potongan lagu 'Aku Tentara Kecil' yang bunyinya, "Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita?"
Hal yang bikin aku kagum ada di bagian akhir buku ini yang diambil dari sudut pandang editor? Atau penerbit? Aku ngga yakin. Jadi buku ini sebagian besar ditulis tangan. Penulis kesulitan ngetik ceritanya di laptop karena daya listrik tidak mampu. Sinyal pun susah. Tapi hal-hal tersebut tidak mematahkan semangat penulis untuk berkarya. Keren ya... Sebagai guru pun, aku harap jasa penulis bisa dihargai dengan layak. Aku juga berharap anak-anak di Mappi bisa makan cukup, tak perlu beli bensin banyak untuk genset kalau mau pesta.
Aku lihat buku ini sekilas lalu waktu ada yang meretweet foto promosinya, warna sampulnya yang terang menarik perhatianku. Cerita-cerita yang ada di dalamnya sangat membahagiakan! Aku suka sekali menyelami percakapan antara Pak Guru dan penduduk setempat, baik itu murid-muridnya maupun wali murid. Dalam buku ini, aku melihat kalau enggak ada yang lebih pintar dari yang lain. Semua, seperti umumnya manusia, sama-sama belajar dan saling mengajari.
Anak Asli Asal Mappi, adalah semacam sketsa dan fragmen dari kejadian yang dialami Casper saat mengikuti program Guru Penggerak Daerah Terpencil di Mappi, Papua. Kisah-kisah di dalamnya tanpa dramatisasi dan menampilkan apa yang tersentuh dari pengalaman indrawi si penulis. Cerita-cerita mini di dalamnya tidak berbicara atas nama atau tentang orang lain semata, namun yang paling penting adalah juga hidup dan berdiri bersama.
Premis ceritanya menarik, bahkan aku lebih suka kalo misalnya dibikin format wawancara saja / cerpen saja. Aku struggling dengan format percakapan yang pake tanda + - = gitu.... Jadi ga bisa beneran menikmati.
Kalian percaya ga sama 'kebetulan' ? Sepertinya pengalaman membacaku kali ini lebih dari sekadar kebetulan👀👍.
Siapa yang bakal nyangka aku baca buku ini tepat pas lagi ke Kabupaten Mappi 🤩. Padahal sebelumnya cuman iseng beli di Detakata Bookstore sewaktu birthday trip ke Makassar dengan dalih 'beli deh mumpung lagi kerja di papua tahun ini' 🌝. Semesta emang selalu suka bermain takdir dan membawa banyak kejutan ya tahun ini haha.
Ada 25 cerita pendek dalam 109 halaman yang dikemas secara ringan diiringi gaya penulisannya yang unik. Suka duka mengajar di pedalaman Mappi 👨🏫, asiknya berburu ikan dan durian buat makan siang 🐠, berangkat kemana-mana pakai perahu 🛶, bisa ketemu anak kangguru sama rusa, serunya ngadepin bocil yang polos dan kritis 👦🏻, sampai penggambaran suasana Mappi yang senyap tapi ramai dengan keragaman budaya 🔮 sedikit banyak bisa aku rasakan juga ternyata!!.
Cerita-cerita mini dalam buku ini menarik, membacanya pun menyenangkan. Diceritakan dari sudut pandang penulis yang berprofesi sebagai seorang guru di daerah terpencil di Kabupaten Mappi, Papua, Saya bisa merasakan betapa luar biasanya pengalaman yang beliau peroleh selama mengabdi di sana. Sering juga Saya dibuat tertawa sendiri saat membaca percakapan antara penulis dengan murid-muridnya dan penduduk desa setempat. Percakapan sederhana yang kadang terkesan polos, tapi sangat bermakna.
Dari buku ini Saya menerima banyak pesan dan pelajaran, terutama soal bersyukur dan bahagia. Membaca gambaran kehidupan penduduk Mappi dalam buku ini, membuat Saya malu sendiri dengan diri yang masih suka mengeluhkan betapa melelahkannya menuntut ilmu, padahal saya belajar yang tinggal belajar saja, tanpa harus memikirkan masalah makan dan uang. Sangat berbeda dengan kondisi adik-adik yang diceritakan dalam buku ini. Bahagia mereka pun juga sangat sederhana.
Format penyajian bagian percakapan/ dialog dalam buku ini awalnya cukup membingungkan buat Saya, sampai sempat mikir "Ini dialog punya siapa ya?" Hahaha, tapi nggak butuh banyak cerita juga untuk terbiasa dan paham sendiri.
Pertama kali membeli buku ini karena tertarik dengan sampulnya dan sinopsis yang menjanjikan sebuah kisah dari anak-anak Mappi, Papua. Jujur, ini buku tentang Papua pertama yang aku baca dan aku menikmati pengalaman membaca buku ini. Aku bahkan membaca buku ini sebanyak 2x dalam minggu ini karena rasanya belum ingin berpisah oleh anak-anak disana.
Dalam buku Anak Asli Asal Mappi, Casper Aliandu (berasal dari NTT) menceritakan pengalamannya mengabdi sebagai guru sekolah dasar di Mappi. Buku ini sebagian besar disusun dalam format percakapan, dengan simbol +/-/= sebagai penanda siapa yang sedang berbicara. Selain menceritakan tentang murid-muridnya di Mappi, Casper juga menceritakan kesehariannya bersama masyarakat setempat dan aku pun memetik banyak pelajaran tentang Papua. Kisah-kisah dalam buku ini pun terbilang sederhana, namun kesederhanaan inilah yang membuatku merasa hangat.
Aku ngga bisa kasih rating berbentuk bintang, tapi aku sangat-sangat merekomendasikan teman-teman untuk membaca Anak Asli Asal Mappi. Terima kasih juga kepada Febi yang mendorongku untuk membaca buku ini <3
Sebagai orang yang belum pernah ke tanah Papua, saya amat menikmati membaca buku ini. Cerita sehari-hari dari Pak Guru Casper bersama para muridnya juga lingkungan di sana. Banyak hal yang terasa miris, ketawa getir sampe ketawa beneran. Tingkah polah anak-anak murid yang menarik untuk ditulis.
Kirain isinya bakal lucu-lucu konyol karena judulnya diambil dari tulisan-tulisan yg ada di kaos orang-orang di sekitar penulis. Tapi ternyata kisah-kisahnya dalem dan menyethylll.
Cerita mini (Cermin) yang hangat, ringan, dan membawaku kembali ke masa-masa pengabdian di pulau terpencil di ujung masa kuliah. Travelling melalui buku ini di Kabupaten Mappi dengan sejuta rawanya dengan narasi yang sederhana dari Casper Aliandu, seorang guru SD/pengabdi.
Di sini, ada kisah yang mirip dengan novel yang saya baca sebelumnya ("Kawi Matin di Negeri Anjing"), terkait orang miskin alias yang berhak, tidak dapat bantuan pembangunan rumah, sementara yang mendapat jatah itu adalah si kepala desa. Di kumpulan "cermin" ini, kenyataan pahit itu ditelan dengan seret setelah sebelumnya sang tokoh utama, Namu Guru berkata: "Itu namanya, Nabo, punya mata tidak melihat atau sekalipun melihat tetapi tidak ada hati."
Meski kesemua ceritanya hangat, yang saya sayangkan tokoh utama di kumcer ini terlampau bijak, terlampau sempurna, dan tokoh lainnya serasa hambar polosnya. Memang saya sadar, cita rasa kumcer ini bak sashimi yang dimakan segar-segar, dengan segala budaya dan bahasa lokal Auyu, menampilkan cerita yang tidak diendapkan dulu. Namun, "masih ada jarak" dengan masyarakat Auyu yang belum bisa terjembatani dengan buku ini.
To be fair, buku ringan ini terasa berat karena format yang ingin disampaikan membingungkan.
Ada lebih dari 20 'cerita mini' yang disajikan dalam buku ini. Hampir kesemuanya berformat dialog antara guru (si penulis) dan anak muridnya, atau guru dan warga kampung (baik para wani maupun para nabo). Yang menarik adalah bagaimana penulis mengambil judul/tema dari "kaos anak-anak muridku, juga pada baju masyarakat kampung yang memanggilku guru."
Mengingat formatnya dialog, penyampaian kalimatnya malah tidak memakai struktur kalimat langsung yang memakai tanda petik dua sebagaimana umumnya. Kalimat dialog pada buku ini lebih seperti naskah drama berpenggal-penggal yang dimodifikasi. Memang terlihat lebih compact, tapi terasa tidak nyaman dan rada susah untuk beradaptasi. Rekan pengulas lain bahkan menyarankan lebih baik formatnya seperti wawancara saja.
Terlepas dari hal membingungkan tersebut, saya lumayan menikmati setiap dialog-dialog mini yang ada dalam buku ini. Ada satu cerita tentang si penulis (Pak Guru yang tidak bisa berenang) ingin menemani anak muridnya, Nabas, mencari ikan. Nabas meminta Pak Guru untuk menuruti perkataannya agar tenang supaya perahu tidak doyong dan tenggelam.
"Nabo biasa bilang, kami harus dengan perintah guru. Makanya, Nabo duduk tenang. Sekarang saya yang guru. Nabo jadi murid saya kalau di atas perahu." (hlm. 60)
Semakin ke belakang, cerita malah semakin menarik dan personal. Apalagi, cerita pemungkas berjudul "The Sky Is (Always) Blue" yang bercerita latar belakang penulis datang ke tanah Papua dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Ini mengingatkan saya pada relawan-relawan pengubah dunia sekitarnya yang suka ditayangkan dalam program televisi Kick Andy Heroes.
Saya pikir cerita-cerita penulis dalam buku ini potensial untuk digali lagi lebih jauh. Penulis bisa memakai metode antropologi untuk mengisahkan para anak murid dan warga di tanah Papua dari mulai asal-asul, adat-istiadat dan budaya, hingga keseharian. Pasti akan banyak yang bisa dieksplor.
Untuk saat ini, buku ini cukup untuk "memperkenalkan" saja.
Cerita mini yang ditulis Casper Aliandu, saat ia menjadi guru di di Mappi, salah satu kabupaten di Papua. Terinspirasi oleh kaos yang kerap dipakai pakaian para murid saat datang ke sekolah - karena mereka tak mampu membeli seragam merah putih dan baju masyarakat kampung, Casper Aliandu memotret judul-judul kaos mereka ke dalam cerita mini.
Tidak ada satu pun dari ke-26 cerita mini itu, yang tidak membuat saya terhenyak dan merenung. Pelajaran kehidupan yang disampaikan dengan sederhana dan indah.
Salah satunya, Not Just See but Observe. Casper bercerita tentang bagaimana anggaran desa dipergunakan untuk kepentingan pribadi rumah Bapak Kampung, mengorbankan janda dan bapak tua yang rumahnya memerlukan perbaikan. Betapa kita yang hidup di kota besar di Jawa, memaksakan bangunan rumah kita untuk di potret dan di bangun di Mappi sementara alam mereka tidak cocok dengan rumah berlantai keramik
Atau Fight the Gravity for Victory or Death, tentang kerasnya kehidupan mereka untuk hidup. Hasil alam yang menjadi alat penopang kehidupan mereka, dihargai dengan murah ketika dijual. Hasil alam yg ketika sampai di kota harganya menjadi berkali-kali lipat.
Setiap cerita, walaupun diceritakan dari Mappi, namun terasa dekat dengan kehidupan kita. Contohnya, The Real Children from Mappi, tentang kampanye caleg: - Ah, Nabo. Tadi Nabo punya maksud apa? Nabo bilang kami ingat, kami punya anak sendiri ... + Begini, Namu Guru, kampung yang Nabo tempati itu ada anak kami yang juga menjadi caleg. Daripada pilih orang lain lebih baik pilih anak asli kampung, asli Mappi. + Sudah tiga periode kami dapat tipu. + Cukup sudah, kami punya anak asli juga bisa jadi dewan.
Dan saya pun tersenyum-simpul membacanya, sambil mengingat sejarah masa lalu republik tercinta ini.
Cerita yang saya bagikan hanyalah salah dua dari ke-26 cerita yang dibagikan Casper Aliandu. Masih ada cerita lainnya, tentang hubungan dia dengan para muridnya ataupun kesulitannya saat menjadi seorang guru di Mappi.
Tidak salah buku ini masuk dalam 5 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021.
Buku ini berisi 26 cerita mini yang ditulis oleh Casper Aliandu, seorang guru (honorer, bila membaca curhatnya tentang gaji), tentang pengalamannya selama mengajar di Mappi, sebuah kabupaten di pelosok Papua. Mappi mendapat julukan Kota Sejuta Rawa karena 90 persen wilayahnya terdiri atas kawasan sungai dan rawa-rawa. Judul-judul cerita mini dalam buku ini diambil Casper dari tulisan-tulisan yang ada di kaus yang dipakai murid-muridnya ke sekolah – mereka terlalu miskin untuk memiliki seragam sekolah.
Cerita-cerita yang ditulis Casper berkisar pada kehidupan sehari-hari warga Mappi. Alam di sekitar sangat murah hati melimpahkan bahan makanan dan tempat berteduh sehingga walau miskin (dalam artian tidak punya uang), mereka tidak pernah kelaparan. Kaum lelaki di Mappi (nabo atau bapak-bapak) bertugas berburu sementara kaum wanita (wani atau ibu-ibu) bertugas mengolah sagu, memasak, mengurus anak-anak. Tingkah polah mereka yang lugu dan sederhana berhasil membuatku tersenyum-senyum sendiri, sungguh menghangatkan hati. Karena walau hidup mereka serba terbatas, mereka tetap bersyukur dan berbahagia.
‘Wani (ibu) jangan lupa membuat ena yang berukuran buku supaya Nosban (panggilan untuk anak perempuan) jangan menangis lagi. yang penting itu bukan tas sekolah, yang terpenting Nosban harus hadir di sekolah. Sebab yang belajar Nosban, bukan tas sekolah.’ -hal. 27
‘Kisah cinta yang tidak seimbang karena benar adanya bahwa kasih wani (ibu) tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali. Tetapi, kasih nabo (bapak) hanya menerima dan mengharapkan wani segera kembali.’ -hal 20.
Satu-satunya yang mengecewakan hanya betapa tipisnya buku ini, padahal aku geregetan ingin membaca lebih banyak tulisan Namu Guru Casper (sok tua banget gue).
Meski gaya penulisan Anak-anak dari Mappi terasa tidak lazim bagi saya—dalam bentuk dialog panjang seperti naskah drama, bukan narasi konvensional dengan tanda petik untuk dialog—saya justru menemukan keunikan tersendiri di situ. Penulis berhasil memanfaatkan format tersebut untuk menghadirkan percakapan yang hidup, seolah mengundang pembaca masuk langsung ke ruang-ruang interaksi para tokohnya.
Yang paling memikat bagi saya adalah cara penulis menuturkan keindahan alam Mappi, bersanding dengan realitas keras kehidupan di pedalaman Papua. Kita diajak menyaksikan pergulatan seorang guru SD yang harus menghadapi kemiskinan murid dan orang tua mereka, keterbatasan akses, serta dilema besar antara melanjutkan pendidikan atau mencari penghidupan di hutan. Persoalan gaji yang sering terlambat, kurangnya tenaga pengajar, hingga infrastruktur yang serba terbatas juga dihadirkan apa adanya, tanpa dramatisasi berlebihan.
Karena kisah-kisahnya tampak lahir dari fragmen pengalaman penulis sendiri, pembaca dapat dengan mudah memahami konteks sosial, ekonomi, sekaligus emosional yang mewarnai cerita. Buku ini bukan sekadar catatan pengabdian seorang guru, melainkan juga potret realitas sosial yang jarang terungkap ke permukaan.
Anak-anak dari Mappi layak direkomendasikan bagi pembaca yang ingin memahami potret pendidikan dan kehidupan masyarakat di pedalaman Papua, juga bagi siapa saja yang tertarik pada kisah-kisah human interest yang dituturkan dengan jujur dan penuh empati.
Anak Asli Asal Mappi : Cerita-cerita mini dari Papua oleh Casper Aliandu
Seberapa banyak kalian membaca tentang Papua? Aku masih sangat sedikit untuk Papua yang sangat luas. Ini barangkali buku pertama selain laporan investigasi dan riset soal Papua yang aku baca. Cukup memalukan memang, tapi ya tidak apa-apa daripada tidak sama sekali.
Membaca tulisan #CasperAliandu ibarat bangun pagi hari dan minum teh hangat. Dia segar tapi menghangatkan. Ceritanya sederhana tapi dari kesederhanaan itu kita mendulang emas sebab banyak sekali pelajaran dari cerita Casper (Pemuda NTT) yang mengabdikan dirinya mengajar anak-anak sekolah dasar di Mappi. Selain itu kita belajar pula banyak hal soal Papua dari buku ini, bahwa tidak semua suku menyebut tas dari kulit kayu itu noken hingga luas Kabupaten Mappi hampir seluas Provinsi Jawa Tengah serta hal-hal lain yang barangkali membuat kita sadar bahwa Papua begitu kaya dan kita sebagai Indonesia begitu miskin.
Walaupun tulisan Casper kadang sulit dibaca karena campuran dialek Papua dan tanda -/+/= tapi menurutku masih layak diperjuangkan untuk dibaca. Namun ada satu pertanyaan bagiku, mengapa Casper memilih memberi judul tiap ceritanya dengan bahasa Inggris? Apakah ini perlawanan dari Bahasa Indonesia? 😉🤪🤭
Short but sweet, that's my overall comment on this book. Papua holds a special place in my heart as I'm lucky enough to go there several times for work, even though I've never been to Mappi. Papuan culture, ambience, and tradition felt quite remote to me the first time I went there, but getting to know more Papuans and going there for some number of times always makes me more curious. Now, I always look forward to any opportunity to go there.
I love how the author can transport me to Papua the moment I read the first story. The stories are short, yet each one is meaningful and reveals the author's wonderful personality. My line of work enables me to meet some 'guru penggerak' (teachers who teach in the most remote parts of the country) but I only really thought about what they go through after reading this heartwarming book. My favorites are "Life is nothing without love" (about some cultures that should not be preserved) and "Anak asli asal Mappi" (when the roles of the student and teacher are reversed when it comes to 'taming with nature').
Budaya memanglah budaya. Tetapi budaya yang membuat susah harus ditiadakan supaya kita berdaya.
Bravo Pak Guru Casper Aliandu, bt tunggu karya selanjutnya ee.
Cerita-ceritanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, sangat menarik simpati. Penulis menyebutkan bahwa hidup di Mappi itu dekat dengan alam, bahkan untuk makan pun mudah, tinggal memancing/berburu/mengambil tanaman dari hutan dan kebun. Cerita tersebut seolah-olah mengindikasikan pola kehidupan yang tidak kapitalistik di mana untuk bertahan hidup tidak hanya dengan mengumpulkan modal dan/atau uang. Namun, di beberapa cerita, terlihat juga bagaimana masyarakat Mappi "terpaksa" untuk berpikir materialistis, bahkan berpikir untuk menukar hasil bumi ke mie instan.
Gaya penulisan sederhana, seperti orang biasa yang berkisah. Penulis yang sekaligus pemilik sudut pandang utama dari buku ini terkesan menggurui ketika berdialog dengan warga setempat, bahkan yang lebih tua. Mungkin di tiap-tiap sistem masyarakat berbeda, tetapi karena saya lahir dari tempat yang penuh perasaan tidak enak, saya merasa sikap penulis dalam buku ini kurang nyaman untuk dibayangkan.
Overall, buku ini bagus dan membuka mata saya terhadap hidup yang berbeda dari yang biasa saya hadapi atau dengar. Semoga dari sini, saya bisa menambah perspektif dan bisa berpikir dari sudut pandang Saudara/Saudari di Mappi juga sebagai upaya centering-decentering suatu isu.
"Anak-anak itu manusia. Maka yang perlu diasah itu pikiran, perasaan, dan perilaku mereka. Tiga hal itu harus benar-benar tajam. Tujuan menjadi tajam adalah untuk mereka dapat bekerja memenuhi ke- butuhan hidup mereka di masa depan." (h. 50)
23 cerita mini dari pedalaman Mappi, salah satu kabupaten besar di Papua, yang areanya sebagian besar adalah rawa-rawa. Untuk saya si anak kota, membacanya memberikan pengalaman serta rasa yang baru. Menyelami kehidupan saudara sebangsa nan jauh disana. Miris namun begitulah faktanya. Betapa ketimpangan itu benar adanya.
Ditulis oleh seorang Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT) yang bertugas disana selama 2 tahun. Cerita-cerita mini ini adalah kisahnya. Satu cerita hanya terdiri antara 2 hingga 4 lembar saja. Bentuknya lebih banyak dialog antara beliau dengan muridnya dan masyarakat disana. Sederhana, tapi begitu mengena.
Selain itu, disisipi pula kritik-kritik sosial mulai dari pembangunan yang masih banyak 'digerogoti' di sana-sini, kondisi guru dan pendidikan di daerah terpencil, hingga ketidakpekaan 'orang kota' yang menginginkan keseragaman tanpa mau memahami kondisi setempat.
It's about Papuan children. How they dream big similar to their city folks. They want to achieve lofty goals of preparing their children to become civil servants. There are also cases where they don't believe that school will help them out, local food aid like porridge.
The story about a girl crying because she doesn't have the same bag as the city folks can be a good story about social comparison and looking toward your own culture of bag, which is the noken.
The simple lesson are what carries the story. Importance of reading literacy in We Started with Trust or trusting someone younger than us to impress us with fishing skills or breakdancing
The only thing lacking is that the story is not explored in depth. The story of their Papuan children and the Author lives would be more meaningful if one story was explored further and fewer stories in number compared to around 20ish story presented.
If you're interested in reading more of my work, I have a substack discussing book and personal reflection. Go read it out! https://menherra.substack.com
Cerita-cerita dalam bukunya sederhana sekaligus hangat sekali. Membayangkan Wani dan Nabo dalam cerita, anak-anak sekolah dasar dengan segala perilakunya, dan Mappi yang tanpa aliran listrik, berjarak 60km dari ibukota kabupaten.
Cerita paling menyentuh adalah saat panen rambutan tiba. Berapa dua karung rambutan dihargai, bagaimana keuntungannya dibagi, dan indomie yang dianggap sebagai lauk yang bisa dimakan bersama sagu.
Cerita tambahan di akhir buku menguatkan rasa kagum saya terhadap Casper. Mengabdikan diri untuk mengajar di pedalaman papua, bukan pilihan populer yang diambil anak muda kebanyakan. Salut!
Aku suka bagaimana dialek orang papua (aku) terwakilkan dengan baik dalam tulisan ini. Dari candaannya, sarkasnya semua dituturkan tidak dengan cara yang berlebihan, jujur sangat kunikmati. Sebagai anak yang lahir besar di Papua, saya mengerti akan keseharian anak-anak di kampung yang biasanya lebih mementingkan aktivitas di hutan atau sungai dibanding duduk diam dan mencerna materi di dalam kelas. Percakapan antar murid, warga dan Namu Guru juga singkat namun memberi kesan yang mendalam. Terimakasih Namu Guru atas pengabdianmu di tanah Papua, semoga Tuhan membalas segala jasamu dengan hal-hal baik. May your sky is (always) blue 💙
Berasa sedang berada di Mappi. Warga Mappi nampak sangat menghargai profesi seorang guru. Guru di sini, bahkan serupa google yang harus tahu banyak hal karena sering dilempari pertanyaan-pertanyaan tak terduga oleh murid juga wali murid. Bahasa yang digunakan seperti kita sedang mendengar dongeng dari orang tua sepuh di kampung. Ini juga semakin menguatkan keyakinan saya kalau orang Papua memang pandai bercerita. Beberapa kali saya berjumpa dengan kawan Papua mereka bisa bercerita banyak hal yang tidak kita bayangkan sebelumnya dan itu selalu menghibur.
Dikemas dengan bahasa yang mudah dimengerti dan topik yang tidak terlalu berat, buku ini sangat cocok untuk dibaca di perjalanan saat liburan. Buku karya Casper Aliandu ini cocok untuk dibaca semua kalangan, karena di dalam bukunya banyak pesan—baik yang tersurat ataupun tersirat. Di dalamnya pun kita dapat sedikit-sedikit belajar tentang bahasa dan budaya di Papua, yang dilengkapi dengan terjemahan di bagian bawah halaman.
Menurut saya, mungkin buku ini akan lebih baik lagi jika dialognya ditulis dengan kalimat langsung, sehingga lebih mudah untuk dibayangkan.
Berkisah tentang pengalaman penulis saat mengajar di Kampung Taim, Kabupaten Mappi. Walau belum pernah ke Kabupaten Mappi, tapi cerita-cerita singkat yang disajikan cukup familiar dengan kampung halamanku sehingga membuatku kangen rumah.
Mungkin ada beberapa hal yang sedikit mengganjal buatku, yaitu judul tiap bab, aku masih bertanya-tanya kenapa harus dengan Bahasa Inggris? Lalu format percakapan dengan tanda (+, -, =) yang sedikit membuat kurang nyaman, serta dialeg yang terkesan aneh buatku yang notabennya adalah pengguna dialeg Papua.
Tapi overall, aku suka dengan buka ini serta beberapa pesan moral yang sering diselipkan di tengah-tengah cerita.
Seperti komentar-komentar pengulas yang lain, format penulisan dalam buku ini cukup membingungkan. Terlepas kekurangannya, buku ini masih bisa dinikmati. Saya yang baru pertama kali membaca cerita dengan latar belakang Papua sedikit mulai terbayang bahasa-bahasa yang dekat digunakan masyarakat Papua, aktivitas keseharian anak-anak di sana, dan jadi tahu value yang dianut masyarakat Papua terhadap seorang Guru— didengar dan dituakan.
Tertarik dengan buku ini saat tidak sengaja melihat posting review buku AAAM di instagram. Langsung searching dan check out.
Percakapan-percakapan Pak Guru dengan murid-muridnya atau wali murid atau tetangganya cukup menarik. Kadang membuat tersenyum, bahkan tertawa, dan semua percakapan ini mengingatkan kita untuk rajin bersyukur.
Beberapa percakapan yang berkesan adalah tentang cita-cita jadi Wiro Sableng 212 dan tentang bagaimana Rambutan jadi Supermi.
Casper gemas sekali bercerita tentang (sekilas) kegiatannya sebagai guru di Mappi. Walau formatnya kadang membingungkan, sungguh kagum dengan dedikasi Casper yang sabar dan banyak pemakluman. Juga senang melihat interaksi masyarakat yang selama ini ku tidak tahu. Di sisi lain sedih juga pastinya melihat kesenjangan pendidikan dan pembangunan karena ah ya kita tahu lah.
Buku tipis yang bisa dinikmati pelan-pelan untuk asupan keceriaan.
Membaca buku ini membuat saya langsung teringat Mappi, lengkap dengan rawa, ketinting, gastor, mama, tate, dan hal-hal lainnya. Casper mampu menyuguhkan cerita sehari-hari dan sederhana, maka karenanya terasa begitu dekat dan nyata. Terlebih, Casper memilih cara unik untuk setiap judul cerita-ceritanya, judul yang dia ambil dari setiap tulisan di kaos-kaos yang dipakai anak-anak muridnya.