Kayak digeprek dengan sambal level sepuluh rasanya saat Gendis diputusin Herman. Sudah lama pacaran, nyicil rumah barengan, eh malah ambyar. Katanya Gendis kegemukan. Katanya Herman mau hijrah dan nggak bisa pacaran lagi. Makan ayam geprek adalah cara Gendis mengobati patah hati sambil meratapi nasib. Kini ia cuma bisa lari dari kenyataan ketika jarum timbangan terus bergeser ke kanan. Sampai suatu saat, Gendis mengetahui fakta mengejutkan. Dimas, cowok ganteng pemilik warung ayam geprek langganannya, ternyata peserta maraton yang dulu pernah ia bully karena kegemukan. Cowok yang pernah menyumpahi dan mendoakannya supaya gemuk! Ya Allah… Dan semakin mengenal Dimas, Gendis merasa harus segera berbelok untuk menemukan tujuan hidupnya yang baru.
Sebenernya suka sama cara penulisannya. Cuman ga suka sama jalan ceritanya. Ga suka sama karakternya. Herman lah yang ga bisa ngehargain perempuan. Kasar banget omongannya ya ampun. Belum lagi Dimas juga, tak pikir lebih baik taunya sama aja...
Gatau sama yang lain. Tapi ga nemu dimana baiknya atau bahkan romantisnya ketika dipecat terus dengan alasan "nanti ada pekerjaan baru". Lalu dilamar, waktu kita bilang dia jahat karena sudah pecat kita, dijawab sama laki laki itu kalau dia punya pekerjaan lebih baik dengan GAJI duapuluhjuta dan rumah dan mobil.
GIRLS OMG DONT!!!!!!!!!!
Jujur, kayaknya kalau di posisi Gendis, sudah kudorong itu laki laki.
Belum lagi main langsung nikahin saat itu juga. Orang tua laki sudah tau. Orang tua perempuan sudah tau. Baju sudah dibikin.
Dear Dimas, dan laki laki lain di luar sana, dan juga perempuan lain di luar sana, ingatlah yang menjalani pernikahan itu adalah kamu dan perempuan itu. It is just so lame, when everyone knew but Gendis didn't. Dimas discussed about it to everyone, but Gendis herself, his wife to be.
Marriage is for both parties.
Yah itulah maaf jadi ranting. But the story lil bit not acceptable for me.
Apalagi bagian dikasih gaji 20juta. What a way to degrade the marriage itself. I feel bad i stopped to read on that page.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Jujur lumayan kegocek karena saya nggak ada bayangan sama sekali kalo buku ini "halal romance" saya pikir romance biasa. Tapi sebenernya saya gak masalah karena ada banyak buku (baik dari penulis indonesia atau luar) dengan genre tersebut yang saya suka. Namun sayangnya ada beberapa hal yg beneran menganggu saya sepanjang baca buku ini. Mari kita bahas dari yang saya suka dulu
Pros: -Gaya penulisannya enak jadi 320++ halaman bisa diselesaikan dalam sekali duduk -Ada beberapa part yg cukup menguras emosi sampe bacanya ikut deg2an sendiri (in a good way! -Part usaha Gendis buat jadi kurus lumayan seru (diet, olahraga, makan sehat). Penjelasan kalo diet bukan cuma gak makan nasi dll juga menurut saya oke.
Cons: -Nggak ada satupun karakter yang saya suka. -Karakter utama pria di sini parah banget (Dimas). Saya nggak ngerti kenapa hal ini bisa dianggep romantis. Semua hal dia lakukan semaunya sendiri nggak membiarkan si karakter utama wanita (Gendis) untuk diskusi atau negosiasi. Tiba2 kirim barang ini itu, daftarin kelas ini itu. Gendis mau balikin barang karena mahal dan dia nggak berkenan menerima, nggak dibolehin. Ada 1 adegan yang menurut saya parah banget. Bayangin tiba2 si Dimas jadi bos Gendis dan mecat si Gendis dengan alasan "saya ada pekerjaan yg lebih bagus buat kamu dengan penghasilan 20 juta sebulan yaitu jadi istri saya" gila banget. Tanpa nanya Gendis maunya apa, tanpa nanya Gendis cinta gak sama pekerjaannya, sayang gak sama temen2 di kantornya, seakan - akan ini cowok tau apa yang terbaik buat si cewek. Sorry banget menurut saya ini misoginis. Belom lagi Dimas tiba2 ngelamar Gendis di acara nikahan orang lain yg bikin spotlight acara jd ke mereka berdua bukan pasangan yang lagi nikah. Eh bukan cuma lamaran, tapi nikah di tempat juga. Astagfirullah. Bayangin jadi Gendis harus memutuskan saat itu juga (menurut saya ini menyepelekan Gendis sebagai pihak perempuan karena gak membiarkan Gendis berpikir dan memilih) -Orang tua Gendis nggak masalah anaknya dipecat karena tau anaknya akan dinikahi sama yg mecat. Halo?? -Gendis selalu berakhir NURUT sama Dimas walau awalnya dia berontak. Why :(
Saya lumayan suka dengan start dari buku ini tapi endingnya bener-bener bikin saya bengong. Buku ini jelas bukan bukan buku untuk saya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Gendis Utami atau disingkat Gendut yg memang sesuai dgn tubuhnya yg tambun tidak pernah menyangka akan diputusin oleh Herman, pacarnya selama 5 thn ini. Padahal selama ini Gendis yakin banget bakal menjadi Ny.Herman. Menurut Herman, Gendis skrg kelewat gendut dan jadi cewek pemalas, juga Herman kepengen hijrah jadi ogah pacaran lagi. Dan yg membuat Gendis shock berat, ternyata Herman sudah menemukan calon istri yg katanya sesuai dgn kriteria yg dia inginkan. Kejadian putus yg tragis ini terjadi di restoran Geprek Couple dan disaksikan seorang cowok ganteng yg ternyata pemilik restoran tersebut yg bernama Dimas. Dimas ini ternyata cowok yg 5 thn yg lalu pernah dicela Gendis karena kegendutan. Siapa sangka, sekarang Gendis yg berbalik jadi gendut. Pada awalnya Dimas puas melihat cewek yg dulu menghina dirinya skrg berada di posisi seperti dia dulu, tapi di sisi lain dia merasa berterima kasih pd Gendis karena berkat celaan Gendislah dia terpacu utk hidup sehat dan menurunkan berat badan. Merasa bersalah karena sudah menertawakan Gendis, Dimas memutuskan utk membantu Gendis menurunkan berat badan. Tapi benarkah cuma rasa bersalah yg membuat Dimas mati2an membantu Gendis? Lalu bisakah Gendis melupakan Herman? Dan siapakah perempuan yg tega2nya merebut Herman dari Gendis?
Pertama, sebel tingkat dewa dgn tokoh Herman ini. Kudunya dilempar ke kawah mordor cowok model gini sih. Pake alesan mau hijrah segala, padahal emang udah nemu cewek lain yg bening aja. Mana ceweknya temen Gendis sendiri, cewek jahat yg sengaja menyuplai snack2 ngga sehat biar Gendis jadi gendut biar Herman berpaling padanya. Kedua, dimana pula bisa nemu cowok macam si Dimas ini. Yg udah ganteng kayak Cha Eun Woo kw 2, baik hati dan ternyata tajir melintir pula. Ketiga, buku ini nuansa Islaminya kental banget, karena dikit2 ngebahas tentang hijrah. Lalu intinya sih daripada pacaran lama-lama terus ngga jadi, mendingan langsung nikah aja biar halal. Ya kalo putus dr cowok model Herman lalu langsung ketemu cowok yg kayak Dimas. Kalo dlm dunia nyata sih, boro-boro. Keempat, Jangan body shaming. Karena celaan yg kamu keluarkan suatu saat nanti bisa berbalik ke kamu sendiri. Kelima, mari kita diet!!
“Keluarga adalah perawat terbaik ketika kau menjadi pesakitan dalam lingkungan dunia yang kejam.”
“Luka akibat dikhianati tidak akan pernah sembuh dengan mudah. Kamu harus yakin, setiap rasa sakit dan kehilangan yang kamu rasakan adalah ujian dan cara Allah supaya kamu mau kembali kepada-Nya.”
“Buang amarahmu. Semakin marah, rezekimu akan tertutup. Energimu akan negatif terus. Meski sulit, maafkanlah mereka yang menyakitimu. Biar Allah yang nanti menentukan balasan apa yang sesuai untuk perbuatan mereka. Nggak usah sibuk mengurusi pembalasan sakit hatimu. Nggak usah membenci.”
“Aku percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Jadi kalau saat ini kamu sedang kehilangan, sedang bimbang dan kesepian, yakinlah semakin mendekat kepada-Nya, maka dia akan memberikan jawaban terbaik atas doa-doamu.”
Selesai dan sukaaa.. 😍 Aku baca novel ini ± dalam waktu seharian. Ceritanya bagus, walau di awal aku sudah bisa menebak akan seperti apa jalan ceritanya. Tetap tidak mengurangi minatku untuk segera menuntaskan ceritanya hingga akhir.
Aku suka bagaimana cara mbak Achi TM mengolah cerita dalam novel ini. Mbak Achi bisa membuat pembaca larut dalam kisah yang beliau sajikan. Aku sampai terbawa suasana, ikut serta merasakan bagaimana rasanya menjadi Gendis. Dari pengalaman kehidupan Gendis, banyak pelajaran yang bisa kita ambil.
Overall, novel ini keren. Rekomended banget buat dibaca. So, buat kalian yang belum baca novel ini, dan penasaran dengan kisah hidup Gendis. Langsung aja baca noval ‘Belok Kiri Langsing’ karya Mbak Achi TM.
Kemarin habis marathon nonton drakor Oh My Venus, trus baca novel ini. Ceritanya setema, tentang cewek gendut yang berusaha menurunkan berat badannya.
Gendis Utami memiliki bobot hampir 106 kg. Lima tahun yang lalu, dia menjuarai ajang lari demi memenangkan cinta Herman, pria yang ditaksirnya. Cintanya bersambut, Herman akhirnya menjadi pacarnya. Bersama Herman, Gendis merasa bahagia. Herman mencintainya dan tak pernah mengeluhkan tentang berat badannya yang semakin naik. Namun, akhir-akhir ini Herman mulai berubah. Dan akhirnya Herman memutuskan hubungan mereka karena tubuh gendut Gendis dan kebiasaan Gendis yang banyak makan.
Di tengah sakit hatinya, ada Dimas, cowok yang pernah dihina oleh Gendis lima tahun yang lalu saat body Dimas masih gendut dan Gendis masih kurus. Sekarang kondisi berbalik. Dimas mengajukan diri untuk membantu Gendis mengatur pola diet dan olahraganya agar berat badan Gendis turun. Gendis menjalaninya, meski dengan susah payah dan hampir menyerah.
Novel metropop ini menarik. Gendis sebagai tokoh utama dengan masalah berat badannya, dikisahkan natural apa adanya. Gendis yang banyak makan, malas olahraga, sampai semua upaya Gendis untuk memperbaiki diri. Tidak ada yang instan. Meskipun karakter Dimas yang hampir too good to be true. Unsur tambahan lainnya adalah nuansa islami. Tentang Herman yang memutuskan Gendis dengan alasan mau hijrah (tapi ujung-ujungnya tetap mempermasalahkan berat badan Gendis), da upaya Dimas menjaga ukhuwah antara dirinya dan Gendis. Ada lucunya, ada ilmunya. Komplit lah novel ini.
"Tiap orang diberi peran masing-masing, Gen. Kamu dikasih peran terluka, pasti ada seseorang yang diberi tugas untuk menyembuhkan lukamu."
Actual rating: 2.5 stars
Belok Kiri Langsing berkisah tentang Genis Utami, perempuan berusia 29 tahun yang struggle dalam kisah penurunan berat badan dan kisah percintaanya. Setelah diputusin oleh pacar lima tahunnya bernama Herman karena alasan kegendutan, Gendis berjuang mati-matian menurukan berat badannya dengan bantuan Dimas.
Membaca buku ini karena aku tertarik dengan judulnya, terlihat dari judulnya saja buku ini sudah menjadi buku yang akan menghibur dan ringan dibaca. Maka dari itu, yes buat aku buku ini cukup menghibur, walaupun plotnya standar dan mudah ditebak, tetapi tektokan dialog karakternya bikin menggelitik. Karakter Gendis juga menjadi karakter yang lucu, realistis dan menghibur buatku. Perkembangan karakter Gendis dari "si gampang tersinggung" menjadi Gendis yang bisa menahan emosi. Semua hal, mulai dari cerita dan karakter di buku ini terasa real. Maka dari itu, beberapa bagian membosankan dan berulang-ulang juga ada di buku ini dan menurut aku itu menjadi bagian yang membosankan.
Bagian akhir di buku ini yang menyajikan happy ending yang tidak bikin jengah, malah justru ada sedikit kelucuan membuat aku cukup menyukai buku ini keseluruhan. Buku ini menjadi "teman" bagi Anda yang sedang struggling untuk menurunkan badan dan/atau sedang kehilangan cinta. Pun, buku ini juga memberikan sedikit pengetahuan dan anjuran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
SAMPULNYA MENARIK MATA! LANGSUNG SUKA DEH! UNIK GITU ILUSTRASINYA ^^
Belok Kiri Langsing. Dari judulnya aja mungkin sudah bisa ketebak ya kalau novel ini akan mengangkat cerita soal 'badan'. Problema pemilik ukuran badan tertentu, gitu. Kalau di novel ini, karakter utamanya, Gendis, dituliskan punya bobot sampai 106 kg dengan tinggi badan 167cm. Besar banget, kan? Nah, disitulah masalah utamanya!
Gendis ini diputusin sama Herman, pacarnya yang sudah menjalin hubungan selama lima tahun. Sudah patungan DP rumah pula, malah diputusin. Alasannya? Gendis kegendutan! Makannya banyak dan punya kemungkinan susah punya anak karena ancaman obesitas. Halah dalah...
Membaca Belok Kiri Langsingtuh, seperti diingatkan dengan cara paling nyaman dan halus perkara 'menjaga tubuh'. Menjaga tubuh bukan berarti harus langsing aja, ya. Tapi benar-benar menjaga dan merawat tubuh titipan pencipta ini. Aku merasa, penulisnya care sekali dengan isu ini. Seperti ingin menyampaikan pesan tersirat kepada pembacanya tentang pentingnya menjaga tubuh. Dengan pola makan yang baik, olahraga teratur dan menyayangi diri sendiri lewat memaafkan, mendekatkan diri pada pencipta dan membuka hati.
Lewat Belok Kiri Langsing, jadi mencatat satu lagi tipikal pasangan yang baik: Menemani dalam proses dan mengingatkan tanpa lelah. Herman, mantan Gendis, dituliskan sebagai karakter yang sukses dalam karirnya. Membangun karir dari nol sampai meraih segalanya. Tapi tipikal pria yang inginnya diperjuangkan. Inginnya Gendis olahraga, diet, langsing, tapi tidak menunjukkan perilaku nyata yang mendukung prosesnya. Bah!
Sedangkan karakter Dimas? Jauh lebih bertanggung jawab. Ingin seseorang yang disayang sehat, dia menemani. Ada di garda terdepan. Mencari jalan keluar bersama. Datang lagi dan lagi meski Gendis rasanya sudah mau mati dengan proses diet sehat dan olahraganya. ITU BARU NAMANYA CINTA. Menunggu dia menjadi versi terbaik lalu menemani kita dan disamping kita? Tanpa mau susah payah menemani di setiap proses, egois namanya. Omong kosong.
Penasaran gak akhirnya Gendis bisa turun BB atau enggak? Kalau iya, coba deh baca novelnya. Aku rekomendasi nih. Ceritanya maniiiisssss sekali. Semanis coklat batangan cemilan Gendis!
Bagaimana sih rasanya jika kamu punya BB lebih dari 100kg tapi kamu punya pacar cakepnya ke mana-mana, terus udah pacaran 5 tahun dan sementara DP rumah bareng? Pasti seneng dong ya. Tapi bagaimana jika ternyata Pacar kamu mutusin secara sepihak dengan alasan kamu terlalu gendut? Tidak bisa menjadi istri yang akan melahirkan seorang anak? Dan alasan lainnya ia mulai hijrah dan ingin menikah dengan orang yang baru ia kenalnya dan ternyata orang itu adalah sahabatmu sendiri?
Sebelumnya saya mau ngucapin terima kasih banyak ke Mbak Achi, karena buku ini buat saya menjadi gemes dengan Herman. Faktanya, kebanyakan cowok jaman sekarang tuh kayak Herman ini, bilangnya sih cinta dan mau terima apa adanya, eh ada yang bening dikit di embat juga. Emosi banget nih saya tulisnya, sambil ingat-ingat perkataan si Herman itu, jahat banget deh sama Gendis.
Tapi bukan ujian namanya jika tidak sepaket dengan kebahagiaan, kan? Kisah Gendis ini sangat menginsipirasi banyak orang, terutama yang pernah patah hati. Kenapa? Karena patah hati yang dirasakan Gendis itu berkali-kali lipat dari omongan Herman yang memutuskannya karena ia ingin hijrah. Hijrah sih hijrah tapi nggak nyakitin hati orang juga kali, Man.
Dalam cerita ini juga diselipkan gambaran tentang bagaimana kamu menjudge seseorang dengan body shaming. Kita nggak pernah tahu, bagaimana perasaan orang yang sedang kita olok-olok karena kekurangannya. Sama seperti Dimas, akhirnya dengan tekad kuat menurunkan BBnya saat di olok oleh Gendis. Jadi, jangan ngejudge orang ya apa lagi karena body shaming. Itu nggak bagus, kan sudah ada UU nya juga.
Buku ini juga, selain dari pengalaman Penulis, ia juga sisipkan tentang makna dari sebuah hasil pengkhianatan. Tidak ada yang baik-baik saja setelah dikhianati oleh orang yang kita cinta, tapi apakah dengan mencaci-makinya dia akan berubah menjadi baik ke kita? Nggak, kan? Jadi satu-satunya cara membalas orang yang menyakiti kita itu dengan cara memaafkan.
Bagaimana dengan balasan yang telah ia lakukan ke kita? Biarkan Allah yang merancangkan jenis pembalasannya. Sama seperti kita ingin mendapatkan jodoh yang baik dengan mendekatkan diri kepada Allah, maka Dia akan berikan yang sesuai apa yang kita lakukan selama ini. Jadi yang sedang patah hati, bersabarlah. Pelangi di hidupmu tidak lama lagi bersinar :)
"...Jadi kalau saat ini kamu sedang kehilangan, sedang bimbang dan kesepian, yakinlah semakin mendekat kepada-Nya, maka Dia akan memberikan jawaban terbaik atas doa doamu." (Hlm. 325)
➖➖➖➖➖
Sukaaa pake banget....❤ Mulai dari konflik, humor, sedih, patuah dan lainnya terasa pas dalam novel ini.
Bacaan selingan yg nggak bikin bosen. Justru dibuat ketagihan untuk lekas selesaiin....
Dari awal kesel banget sama Herman dan Gendis yang bucin. Huh! Di tengah-tengah muncul Dimas dengan segala kemisteriusannya dan juga kata-katanya yang super manis ngalahin manis gula.
Berkali-kali dibikin nangis sama banyak adegan di buku ini. Dan buku ini aku selesaiin dalam sekali duduk. Keren!
Bikin pengen diet tapi mau ada 'Dimas' juga buat aku dong! *halu* Lucu banget ceritanya. Sangat relatable. Cuma satu yang aku agak kurang sreg sih... sifat rahasia2annya Dimas. Bisa sampe sebulan nggak balas chat dll gitu... bikin merana aja u_u
Dari 2 buku achi tm yg saya baca temanya seputar obesitas dan ada nilai nilai agama yg diberikan. Gendis diputusin Herman karena gendut. Kok? Disini Herman katanya udah berusaha bertahan selama 3 tahun terakhir dimana semakin hari timbangan Gendis semakin ke kanan. Gemesnya Gendis itu g sadar2 kalo dia udah kegendutan banget, pengen nabok Gendis dah. Padahal segala macam penyakit obesitas udah mulai rajin nyamperin dia. Dimas sosok yg terdzolimi 5 tahun lalu saat Gendis masih langsing dan cantik. Berkat Dimas yg merasa berhutang budi pada Gendis lah akhirnya ia mulai diet. Disamping itu kajian rutin yg diadakan kantor nya yg tidak pernah absen diikuti Gendis membuka matanya bahwa dgn kelebihan berat begitu dia tidak menjaga dgn baik apa yg diberikan Allah padanya. Happy ending pasti nya dong, walopun udah ketebak endingnya, tapi ya g mesti jadi nikahan di acara Damar juga kali ya. Btw buat bacaan ringan yg lgsg kelar.. Baiklah saya cukup seneng bacanya
Aura buku ini FTV bangettttt, kalau versi FTV mungkin bisa dikasih judul "i heart you, tukang ayam geprek ganteng", eww cringe 😪
Engga terlalu suka dengan karakter2nya! Gendis yg agak childish. Dimas yg suka ga konsisten, dan B aja. Apalagi Herman, the type of man that i hate the most, worst!
Endingnya hmmm... Engga bisa cari hari lain??? Eh, ini spoiler ga? Haha. Tapi tipe2 buku begini pastinya happy ending lah ya.
Masih kureeeng liat kesengsaraannya Herman! *evil smile*
Novel ini bercerita tentang Gendis Utami yang dimulai dari kisah cintanya dengan teman kantor bernama Herman yang sudah berjalan 5 tahun. Selama 5 tahun itu, Gendis banyak berubah dari Gendis yang langsing dan cantik menjadi Gendis yang gemuk dan malas. Karena alasan itu pula, Herman memutuskan hubungan mereka yang sudah harusnya memasuki jenjang pernikahan. Di sini, aku mendukung keputusan Herman karena Gendis emang seolah gak peduli sama penampilan lagi dan jadi cewek pemalas. Namun seiring berjalannya cerita aku jadi kesal setelah mengetahui kebusukan cowok itu yang malah langsung nikah dengan sahabat Gendis sebulan setelah putus. Dan tindak tanduk Herman setelahnya malah bikin aku meradang.
Gendis sendiri setelah diputuskan oleh Herman terlihat susah move on dan bukannya memperbaiki diri malah jadi makin tidak peduli kesehatan tubuhnya. Beruntung dia bertemu Dimas yang membantunya untuk menjalankan program diet dan olahraga. Singkat cerita, Dimas dan Gendis menyadari perasaan cinta yang mulai tumbuh pada mereka sendiri namun sama-sama tidak tahu bagaimana perasaan lawan. Walaupun begitu, di akhir cerita mereka pun menikah dan hidup sebagai pasangan bahagia.
Yang perlu aku kritik dari cerita ini adalah timeline ceritanya yang berantakan. Di awal cerita dikatakan acara Fun Run akan diadakan dua bulan lagi, namun "dua bulan lagi" nya terulang di pertengahan cerita hingga mendekati akhir cerita yang membuat time stamp nya jadi tidak jelas. Selain yang ini, masih banyak momen-momen lain yang mengindikasikan latar waktu cerita yang tidak diatur dengan rapi.
Cerita ini sendiri bertemakan cerita muslim modern yang jarang sebenernya aku konsumsi. Banyak penceritaan tentang hijrah, walaupun aku temukan beberapa terasa agak memaksa.
Aku juga kurang suka penokohan Julia yang kerasa tanggung. Dia dianggap sahabat baik oleh Gendis, namun ternyata diam-diam dia sering memasok makanan dan cemilan buat Gendis cuma agar Gendis makin gendut dan Herman jadi gak suka lagi sama Gendis. Jelas itu udah ngegambarin betapa piciknya si Julia ini. Tapi gak tau kenapa setelah Julia berhasil dapetin Herman, penulis bikin Julia seolah menyesal padahal sebelum-sebelumnya dia santai aja berteman dengan niat terselubung sama Gendis. Aku prefer Julia kalo mau dijadiin antagonis tolong jangan tanggung-tanggung. Soalnya jadi kayak, dia tuh niat gak sih mau ngerebut Herman dari awal. Kok malah jadi gak enak gitu, pas udah berhasil ngerebut padahal emg itu tujuannya.
Kemudian ada scene dimana Herman bilang bahwa kekasih pengganti Gendis adalah orang baru yang akan pindah ke lantai kantor mereka. Hal ini seolah-olah memaksakan Gendis buat salah paham ke Weni si pegawai baru sebagai Pelakor. Padahal jelas-jelas Julia yang dimaksud oleh Herman, dari pertama masuk perusahaan juga kerjanya di lantai yang bareng Gendis. Jadi tambah gak masuk akal.
Awalnya aku akan beri bintang 3 namun berubah menjadi bintang 2 karena ending cerita ini yang menurutku kurang diakhiri dengan apik. Endingnya terlalu tidak masuk akal dan terkesan dipaksakan. Momen lamaran yang begitu terburu-buru setelah sikap dingin Dimas kepada Gendis dengan memecat dan kemudian tidak membalas chat ataupun berkomunikasi dengan Gendis lagi. Ya walaupun dijelaskan alasan Dimas bersikap seperti itu, tetep aja terasa tidak realistis dan agak bertolak belakang dengan sikapnya selama ini.
Karena aku tudak mengekspektasikan apa-apa pas baca ini. Jadi emang bacanya ngalir aja mengikuti alur cerita. Buat kalian yang mau membaca, cerita ini tetap recommended, namun siapkan diri karena banyak hal-hal yang bakal kalian kesel sama karakter-karakternya. Walaupun aku kurang saku dengan alurnya, aku mau apresiasi penulis untuk cerita yang menyimpan banyak banget pesan-pesan baik yang bermanfaat banget buat kehidupan!
This entire review has been hidden because of spoilers.
“Makan adalah cara terbaik mengusir kesendirian.” (hal 85)
Gendis Utami, seorang cewek berbadan gempal yang nasibnya apes banget! Dia diputusin oleh pacarnya, Herman yang sudah dipacarinya selama lima tahun, hanya karena dia gendut dan makannya banyak! Padahal, mereka berdua baru saja membayar DP rumah impian. Rasanya seperti dijatuhkan ke tanah setelah diterbangkan tinggi ke langit.
Hal itu tentunya membuat Gendut (sapaan karib Gendis) sangat kecewa. Dia memohon pada Herman untuk memikirkan kembali keputusan itu. Namun, cowok itu tetap teguh dengan keputusannya. Akhirnya, rasa patah hati itu dilampiaskannya dengan makan ayam geprek mozarela di Geprek Couple. Di sanalah cewek itu bertemu dengan Dimas, salah satu pelayan Geprek Couple, yang nantinya akan membantu Gendis menurunkan berat badan.
“Iman sifatnya naik-turun, Gen. Apalagi baru mau hijrah, banyak sekali godaannya. Bukan berarti kita bebas menghakimi orang yang nyakitin kita dengan sebutan munafik atau sebutan apa pun. Kita juga nggak punya hak buat menilai iman seseorang, apalagi menghakiminya.” (hal 88)
Novel pertama Achi TM yang saya baca ini memberi impresi yang bagus. Saya mudah sekali masuk ke dalam cerita. Penyampaian kisahnya juga mulus, mudah dipahami, dan nyaman untuk diikuti. Sudah pasti saya akan membaca karyanya yang lain.
Menurut saya, awalnya alur novel ini agak lambat. Diperlihatkan awal hubungan Herman dan Gendis, cara pacarannya, hingga pada kereganggan hubungan mereka. Diceritakan juga persahabatan Gendis dengan teman-teman kerjanya yang sama-sama sableng. Meskipun begitu temponya masih enak untuk diikuti.
Tensi mulai meninggi ketika Gendis diputus oleh Herman. Konfliknya menurut saya nendang banget. Reaksi masing-masing tokoh begitu realistis. Sahabat, kenalan, semuanya terlibat. Bahkan putusnya mereka bisa membuka pintu perkenalan lebih dalam dengan tokoh lain yang penting untuk menyelesaikan konflik cerita.
Satu hal yang membuat saya semakin menikmati novel ini adalah diberikannya nuansa religi yang nggak berlebihan. Setelah The Case We Met milik Flazia, akhirnya saya membaca novel dengan setting kota besar yang menceritakan kehidupan tokoh yang sarat dengan syariat islam di dalamnya.
Tokoh-tokoh dalam novel berlatar kota Jakarta ini dikisahkan sedang belajar hijrah. Gendis mulai berhijab, setelah lama ia mengumpulkan niat. Herman yang enggan pacaran-pacaran lagi setelah putus dengan Gendis. Pun Dimas yang begitu memperhatikan adab dalam bersikap. Seluruh syariat itu dimasukan ke dalam cerita, begitu menyatu, hingga saya sendiri nggak merasa digurui.
Pesan yang disampaikan novel ini banyak sekali. Seperti tentang melakukan sesuatu untuk diri sendiri, bukan demi orang lain, apalagi membalaskan dendam. Dalam buku ini kasus yang dibahas adalah diet. Lakukanlah diet untuk kesehatan diri sendiri, karena kita sama-sama tahu bahwa berat badan berlebih akan membuat kerja tubuh menjadi lebih keras. Kesadaran seperti itulah yang harusnya ditanamkan.
Penulis juga mengingatkan pembaca tentang syariat Islam yang kini mulai banyak terlupakan. Tentang adab, cara bersikap, kerja keras, juga tentang jodoh. Buku memperlihatkan pada pembaca betapa Dimas bisa menahan berbagai hal, seperti amarah, kata-kata yang berpotensi menyakitkan hati, hingga nafsu duniawi.
Perihal jodoh pun demikian. Bahwa pacaran lama-lama nggak lantas membuatnya menjadi jodoh kita. Siapa tahu selama ini mereka yang pacaran hanya sedang menjaga jodoh orang lain? Pasti hanya kekecewaan yang didapat, seperti yang Gendis.
Sarat akan pengetahuan untuk diet dan sehat. Aku suka novel ini.
Belok Kiri Langsing menceritakan tentang Gendis Utami yang punya berat badan 100 kg lebih. Diputusin Herman, pacar setelah lima tahun bareng (tepatnya diselingkuhin sih, dengan orang yang sudah dianggapnya sahabat). Alasan diputusinnya apa? Karena kegendutan! Serunya, kemudian Gendis ketemu dengan Dimas, lelaki yang pernah dikatainya ‘berbadan besar’ lima tahun lalu saat dia sendiri masih langsing-langsingnya. Mau tau sekarang penampilan Dimas gimana? Kalau kata Gendis sih mirip Cha Eun Woo haha.
“Sumpah nih perut, senang banget nyangkut di ujung meja. Aku menahan napas sebentar supaya bisa keluar” –Hal. 16.
Menggunakan POV orang pertama, Gendis, ini novel ngakaknya parah deh. Kocak banget. Dan manisnya jangan tanya, kelebihan banget. Gendis orangnya urakan plus malas, tepatnya ketika dia udah gendut. Hidupnya jadi ngga sehat, nyemil micin juga parah. Dan itu juga salah satu alasan Herman mutusin dia. Sakit sih buat Gendis, tapi ada benar juga kata Herman. Biar Gendis ini sadar, hidupnya udah ngga sehat. Bentar-bentaran udah darah tinggi, bentar-bentaran udah vertigo.
Manisnya, semua perilaku Dimas ke Gendis. Yaa ampun, tapi si Gendis sering banget ngga peka. Btw, setelah putus sama Herman, Gendis ‘dipaksain’ diet sama Dimas sampe dibayarin semua keperluannya, diatur jam makannya as well as makanannya. Udahlah, emang ini Dimas manis banget. Baper, sumpah!
Aku keseringan lapar saat baca novel ini, banyak banget makanannya. Si gendis tukang makan, belum lagi deskripsinya ditambah Dimas jualin geprek lagi. Fix, pasti dibikin lapar.
Aku ngga ada masalah saat membacanya, gaya bahasanya aman banget. Termasuk page turner bahkan, aku ngga bisa berenti baca.
Novel ini juga termasuk islami. Dimas, imam idaman. Cara dia dekatin Gendis, berkedok ‘balas budi’, sempat tarik ulur juga dengan Gendis. Aku suka. Yaa, kadang ada kesal juga, napa kode-kodenya manis banget tapi bikin Gendis bingung. Ciyus deh, Dimas kalau ngomong bawaan bikin baper.
Overall, aku sangat jatuh hati dengan novel ini. Aku rekomendasikan untuk semua membaca novel ini. Untuk yang ingin diet, aku saranin buat baca ini, siapa tau bisa nerapin pola dietnya. Untuk hidup lebih sehat, baca ini juga. Nyentil banget deh.
“Kematian sudah ditentukan Allah. Namun Allah menugaskan kita untuk menjaga tubuh kita. Olahraga dan menjaga pola makan adalah ikhtiarnya, tawakkalnya tetap kepada Allah. Dengan sehat kita bisa ibadah dengan lebih kusyuk” –Hal. 213.
Kata-kata di atas nyetil banget di aku. Suka banget makan aneh-aneh, terus ngeluh sakit ini sakit itu. Apalagi saat shalat, udah bilang sakit kakilah, pusinglah pas sujud atau rukuk. Ada aja lah pokoknya. Membaca novel ini mengajarkan aku untuk hidup lebih sehat, itu impress yang paling utama setelah membaca ini. Terima kasih kepada Penulis atas tulisan yang cantik dan sehat ini.
Oiya, Gendis Utami disingkat jadi Gendut, loh. Parah, kan? Hhahah
Harus kuakui, hampir 250 halaman sangat membosankan. Berkali-kali aku ngintip ke belakang, kapan Dimas bakal nongol dan dapat porsi lebih banyak, tapi yah buku ini soal pengembangan karakter Gendut, ups maksudnya Gendhis Utami.
Info-info dump (atau TMI, ya?) di awal itu bukan hal yang bikin gembira, malah bikin lesu, sampai berniat biat dnf aja, tapi dikasih tau katanya buku ini bakal diangkat ke layar lebar, jadi penasaran gimana cerita (plus endingnya). Yap, lagi dan lagi ini soal tubuh yang gendut. Emang, kata2 orang tuh kadang nyakitin, tapi yang ngomong nggak merasa bersalah. Meanwhile, punya tubuh gemuk sampai menjurus ke obesitas juga nggak bagus sama sekali.
Gendhis ini gambaran wanita karier yang doyan ngemil di sela-sela kerjaan yang menumpuk. Saking doyannya ngemil sampai mengubah imej dia dari 5 tahun lalu yang menjadi juara acara lari Fun Run dengan berat badan ideal ke kategori yang dia sendiri ogah datang karena nggak tahan lari, euy. Aduh, entah kenapa aku nggak nyaman membaca karakter Gendhis ini, walaupun ini real. Mana dia dikhianati dua orang terdekatnya lagi.
Lagi, penulis menyelipkan do and don't dalam Islam di sini. Banyak yang bisa diambil sekaligus menampar sih karena kadang masih menyepelekan soal kesehatan. Daaaan aku jengkel setengah mati waktu tau apa penyebab Gendhis berubah dari 60 kg ke 110 kg. Astaga, ada yaaa modelan manusia jahat kayak gitu. Sampai detik ini kalo ingat aku masih speechless 😅 berharapnya dua villain itu dapat balasan yang setimpal sih, walaupun di sini dijelaskan soal memaafkan dalam konsep Islam. Memaafkan itu susah, tapi kita juga nggak bisa terus-terusan benci sama orang sedangkan orang itu bahagia. Yang ada rezekinya jadi susah karena energi kita negatif terus. Yah, well, pikiranku emang demen melihat para penjahat dapat balasan langsung di dunia alih2 akhirat.
Apakah buku ini worth to read? Probably yes. Apalagi yang suka office romance (ada kok, tipis2). Aku sendiri kurang ngena bagian awal2 dan entah nggak tahan sama slow-burn-nya. Bukan tipe yang menyajikan alur lambat menarik, sih. But, setelah (sekitar) 250 halaman, alurnya mulai cepat dan bikin gemes banget. Romance-nya bukan tipe yang jelas banget, malah bisa dibilang tipis (namanya juga bukan mahram yeee), tapi bikib greget bukan main.
"Intinya, izinkan aku membantumu untuk diet, ya. Ini bukan tentang rasa bersalah. Ini tentang pengen lihat kamu sehat!" (hal.253)
Bila dilihat dari judul, kita dapat menangkap bahwa novel ini nggak jauh-jauh dari berat badan. Dan inilah yang menarik. Ada apa dengan berat badan?
Buku ini menceritakan tentang Gendia Utami yang sering disapa dengan Gendut yang memiliki badan jauh dari kata langsing dan memiliki kekasih bernama Herman. Mereka sudah menjalin hubungan selama lima tahun dan itu cukup membuat Gendis merasa percaya diri, karena dengan badannya yang gendut dia bisa memiliki kekasih yang tampan.
Mereka bahagia, seperti pasangan biasanya yang saling bahagia. Herman tetap peduli pada Gendis dan memasang wajah sangar ketika ada orang yang memanggil Gendis dengan sebutan Gendut. Kisah ini berlanjut sampai Herman mengajak Gendus untuk mengkredit rumah mereka berdua.
Namun, semenjak mereka membayar DP rumah, ada yang berbeda dari Herman. Dia menjauh dan membuat Gendis harap cemas. Dan BOM! Herman memutuskan Gendis dengan alasan "kegendutan". Herman merasa bahwa nanti hidupnya akan kesulitan bila menikah dengan Gendis. Tentu saja, Gendis sangat marah dan kecewa. Dulu dia adalah perempuan langsing dan cantik dan sangat pantas bersanding dengan Herman yang ganteng dan memiliki profesi bagus.
Di lain sisi, ada Dimas, owner dari Geprek Couple. Dimas memiliki tampang yang ganteng dan pendiam. Dengan beberapa alasan, Dimas menjadi dekat dengan Gendis. Dia selalu mengingatkan Gendis untuk hidup sehat. Bahkan dia sampai memberikan sekarung pepaya untuk menu sarapan Gendis!
Bukan hanya itu saja, banyak sifat-sifat manis Dimas yang buat aku geregetan. Novel ini bukan hanya membahas tentang dunia percintaan, tetapi agama juga diikut sertakan dalam buku ini.
Moral value yang aku dapat dari buku ini. "Jangan terlalu mencintai seseorang, karena akan terasa sulit ketika dia membuat kita kecewa. Selain itu, kita tidak boleh memandang orang hanya dari segi fisik. Dan yang terakhir, novel ini mengajarkan kita untuk hidup sehat dan menjaga tubug yang diberikan Tuhan untuk kita."
Buku ini bagus dan aku kasih recomended ini buat kalian 🍂
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ceritanya so-so aja. romancenya dikit dan nggak bikin greget. Jujur awalnya nggak tau kalau ini novel islami, tadinya udah mau stop baca karena dari halaman awal hingga 100an cukup membosankan tapi akhirnya dilanjut juga karena penasaran sama Dimas, ya walaupun ketebak banget sih dia sebenarnya siapa.
Belok Kiri Langsing bercerita tentang Gendis, si cewek gendut yang hobi makan, cukup pemalas dan agak jorok sebenarnya yang diputuskan Herman, pacarnya selama 5 tahun demi gadis lain yang ternyata adalah sahabatnya sendiri. Gendis mengalami patah hati hebat, di moment sakit hatinya itulah ia bertemu Dimas, si cowok super alim yang dulu pernah diejek Gendis gendut. Dimas yang sekarang menjelma menjadi cowok yang atletis dan tampan. Awalnya Gendis sangat membenci cowok tersebut karena terlalu mengatur Gendis namun lama kelamaan Gendis mulai merasakan perasaan berbeda terhadap Dimas. Apakah itu artinya Gendis sudah bisa move on dari Herman?
Well, menurut saya wajar banget sih kalau Herman mutusin Gendis. Ya abisnya Gendis sendiri memang pemalas dan jorok. Apartmen selalu berantakan, cucian dimana-mana. Bahkan untuk sekedar mencuci baju saja harus pakai jasa laundry karena nggak bisa atau nggak mau bergerak sedikitpun.
Sebagai seorang wanita karir, pekerja kantoran dia juga terlalu jor-joran terhadap gaya busana dan penampilanya. Makanya menurut saya pribadi wajar jika cowoknya mulai ilfeel sama dia wkwk.
Tapi terlepas dari profil tokoh Gendis sendiri yang kurang menyenangkan, Herman itu sebenarnya memang brengsek. Sayang dia hidup di novel Islami jadi nggak ada yang namanya balas dendam. Kalau engga mungkin sudah dicincang-cincang buat makan ikan di Danau Toba!
Lalu Dimas yang.. em gimana ya? Dia taat agama, sedang berhijrah dan ya udah gitu aja. Cowok ala-ala novel agamis ya gitu-gitu doang kan.
Perhatian tapi nggak bikin greget. Nggak ada kontak fisik, nggak ada jalan berdua, nggak ada adegan romantis. Tiap dialog selalu diselipi ilmu-ilmu agama jadi berasa diceramahi wkwk.
Yang saya suka dari Dimas cuma 1 dia sat-set. Eh ada 1 lagi deng, perhatian puollll, udah itu aja. Selebihnya dia mirip Fahri di Ayat-ayat Cinta 😅😅
Cerita tentang perkantoranya cukup lucu, terutama sahabat-sahabat Gendis. Banyak plot twist yang sebenar nggak twist-twist banget tapi menarik buat dibaca.
Awalnya bikin shock dengan hubungan Gendis dengan Herman yang udah 6 tahun ternyata harus kandas begitu aja karena.... Rahasia hehe. Semakin banyak halaman yang dibaca ternyata kisahnya kembali manis, bukan sama Herman dong pastinya. Suka deh sama sosok Dimas, walaupun agak cringe di beberapa bagian kalo lagi ngobrol sama Gendis.
Buku ini lumayan bagus. Walaupun lumayan banyak bumbu Islami, tapi masih bisa dibaca sampai bikin senyam-senyum sendiri. Buku ini mengajarkan kita untuk melakukan hal yang baik untuk diri kita sendiri seperti menjaga kesehatan, bermurah hati memaafkan orang yang pernah membuat salah besar kepada kita, dan bersikap baik dengan semua orang. Tapi agak disayangkan karena alur bukunya terasa semakin lama semakin cepat karena tokohnya sibuk-sibuk hehe.
Overall, sangat ringan untuk dibaca!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pertama, aku nggak tau kalau buku ini termasuk buku yang lumayan agamis, tentang hijrah, atau pacaran halal.
Kedua, aku nggak suka semua karakter di dalamnya.
Ketiga, aku nggak suka gimana karakter laki-laki (Herman & Dimas) bertindak. Bahkan begitu juga dengan Gendis si main character.
Keempat, marriage is all about two people.
Part-part terakhir di buku ini sangat menjemukan, bikin geregetan karena alur yang luar biasa mengecewakan. Sebagai perempuan sangat menyangkan untuk bertemu tokoh seperti Dimas. Is he even know how to treat woman? stop hanya dengan kata-kata puitis itu. So done!
Tapi, aku pikir semua ini masalah selera dan sangat subjektif. Di luar sana aku yakin banyak yang akan memuji karakter seperti Dimas.
Novelnya lucu, nyaman & ringan utk dibaca. Yg lucu adalah nama tokoh utamanya. GENdis UTami klo disingkat GENDUT (panggilan dari tmn² kantornya) sesuai dgn bentuk badannya, tinggi 167 cm, BB 99 kg. Wkwkwk. Dari BB 60 kg lohh. Dan punya penyakit darah tinggi juga. Ga kebayang dia bisa menghabiskan 3 mangkuk mie ayam sekaligus. Lol. Overall, aku cukup suka dengan Novel ini.
Aku gak berharap novel ini bagus yang gimana banget, tapi sayang hasilnya juga tidak terlalu memuaskan. Penyebab utamanya ada pada perkembangan karakter. Dari tokoh utama wanita sampai peran pembantu. Sifat para karakter juga gak sesuai dengan umur mereka, banyak pembahasan yang di ulang-ulang. Aku gak masalah dengan kebetulan2 tapi kalau terlalu banyak juga kan bosan.
Iseng baca bukunya, isinya menyenangkan dengan alur yang ringan tapi banyak pesan-pesannya! Kisah romance dan ada unsur religinya, tapi ga berlebihan sama sekali👍🏻🩷
Suka banget after-taste setelah bacanya. The kind of book that makes you want to be a good person, recommended!🏅🌟🌷
3,6* Saya lebih menikmati ini daripada Cincin Lama Belum Kembali. Mungkin karena dramanya nggak seheboh CLBK. Humornya juga lebih ngena. Semoga kalau diangkat di layar lebar pemerannya nggak bikin kecewa. Hehehehe...
nyeritain perjalanan diet gendis. Aku kesel banget sama Herman. Herman tuh suka bodyshaming terus nikah sama Julia ( bestinya gendis ) kek..... terus ketemu Dimas dan gendis pun mau diet. yaa Dimas ni kulihat lihat cowo baik lah beda sama herman. dan ni endingnya happy
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel yang keren..Judulnya juga unik, membaca novel ini jadi inget film atau buku imperfect karya meira anastasia. Dengan tema yang hampir sama yaitu berat badan, penampilan fisik dan cinta. Perbedaanya kalau di imperfect disoroti juga karir tokoh utamanya, kalau di novel ini, tidak terlalu disorot, meskipun ada juga porsi cerita yang mengkaitkan fisik dengan pekerjaan, yaitu saat tokoh utama diberikan tawaran bonus dari bosnya kalau berhasil menurunkan berat badan. Perbedaanya lainnya di novel ini lebih banyak tragisnya karena cowoknya meninggalkannya dengan alasan kegemukannya, sedangkan di novel imperfect, justru cowokya menerima apa adanya.
Kalau saya baca di profil penulisnya, novel ini terinspirasi dari kisah nyata penulisnya sendiri, Penulis mengalami hal yang sama yaitu mengalami berat badan berlebih dan berjuang untuk menurunkannya. Mungkin karena ada bagian dari kisah nyatanya penulis sendiri, jadi pesannya sampai ke pembaca, saya seolah merasakan apa yang tokoh utama rasakan. Saat dia disakiti, dan di ledekin oleh sekitarnya karena fisiknya, saya jadi sering membayangkan saat muda dulu, pernah body shamming, meski bukan karena berat badan, tapi anggota badan lain.. dan memang itu menyakitkan , tidak terlupakan untuk jangka waktu lama. Nilai plus dari novel ini di sisipin juga nilai-nilai dakwah ,mendekatkan diri kepada Allah , merawat tubuh kita untuk sehat sebagai bagian dari bersyukur. Menegaskan juga tentang rahasia jodoh yang sudah ditakdirkan Allah, secara tidak langsung ajakan untuk tidak pacaran lama dan lebih baik segera dihalalkan, daripada lama-lama jagain jodoh orang :) Novel yang relateble dengan kehidupan sehari-hari.