Aku tidak akan berhenti Berkarya atau memberi Mengulik dan mencintai Walau tidak memiliki Aku tidak akan berhenti Mungkin berlanjut setelah mati Tapi olehnya dibuat tidak sendiri Karenanya aku berhenti mencari
let me rant about the 'problem' (?) with modern poetry.
kalau bicara puisi2 jadul, pembaca akan diajak berpikir dua tiga kali untuk mencari apa arti puisi tersebut. dan itulah bagian seru dari membaca puisi.
Kalau puisi2 sekarang, aku bahkan gamau menyebut kebanyakan buku2 puisi modern sebagai puisi. daripada puisi, lebih bisa disebut buku harian penulis, catatan harian, curhatan, atau yang paling bagus bisa disebut lirik lagu.
nggak ada yang salah sih, mungkin masyarakat sekarang juga gamau pusing2 mikir ketika baca puisi dan lebih senang kalau puisi tsb relatable dengan mereka. tapi sekali lagi, aku menolak untuk menyebut tulisan2 tsb sebagai puisi.
dan yang paling 'curang' (not always in a bad way) menurutku adalah kalau udah nulis 'puisi' tentang depresi. karena apa? aku ngga bisa berani ngasih bintang. kalo aku kasih bintang bagus, berarti penulisnya berhasil me romanticize depresinya dengan baik dong? dan meromantisasi depresi itu bukan hal yang baik. puisi itu tersusun dari kata2 kiasan, dan kiasan ditambah depresi itu artinya romantisasi. tapi ya balik lagi, mungkin ada yang me nilai suatu puisi dari betapa relatable nya puisi itu sama pembaca, dan itulah metode yang orang2 gunakan dalam menilai modern 'poetry.'
rant ku selesai disini.
oke balik ke buku ini, jujur untuk 'puisi' berisi curhatan penulis tentang cinta dan depresi, penulisannya berima dan rapih, kata2nya juga unik, at least untuk yang dalam bahasa. cocok buat lirik lagu menurutku. bhs inggrisnya cringe.
tapi sekali lagi, mulai sekarang aku menolak untuk ngasih bintang untuk 'poetry' yang bertema depresi karena aku gamau menilali hidup orang begitu aja (?) dengan angka. Sulit kan.
seperti kata penulisnya di salah satu puisinya, aku rasa dia juga gabakal peduli orng mau ngasih nilai bukunya berapa.
Pertama lihat bukunya sih belum penasaran. Mulai penasaran ketika dengar lagu-lagunya di Spotify. Lirik-liriknya menarik. Ketika tahu menulis buku puisi saya mulai kepo deh. Puisi-puisi di sini mungkin terkesan sepele, semacam kumpulan catatan harian seorang wanita yang berjuta-juta ragam pengalaman, perasaan dan harapannya. Beberapa puisi yang ditulis dengan bahasa Indonesia justru kehilangan kekuatannya, menurutku. Tp kalo sudah menulis dalam bahasa Inggris, jadi menarik. Mungkin karena penulisnya juga lancara berbahasa asing dan bahasa Indonesia memang tidak selalu asik. Dan karena ini mediumnya adalah puisi, tidak semua pengalaman dan rasanya sampai ke pembaca. Dan bisa jadi setiap pembaca mengalami pengalamannya yang berbeda pula. Sebagai salah satu karya debut, buku ini sudah cukup menarik. Saya sih yakin semakin banyak karya yang dihasilkan oleh penulisnya, akan semakin baik hasil karyanya. Mari kita tunggu, kalo begitu.
Awalnya saya pikir ini puisinya pake bahasa Inggris ternyata nyampur bahasa Indonesia dan Inggris. Buku puisi ini dilabeli 21+ woho, memang beberapa kata-kata terasa 'dewasa' sih.
Puisi di dalam buku ini terasa curhat banget, dari hati sekali. Heidi menulis banyak hal yang secara gamblang dan terus terang sehingga mudah kita mengerti. Dia menulis soal perempuan, soal kekecewaaannya pada ayah, soal pacar, soal mertua, soal ibu dan omanya. Di beberapa sisi saya melihat Heidi seperti aktivis perempuan yang sedang ikutan IWD lalu beorasi di jalan :)
Covernya cuma warna hitam seolah mendefinisikan kekelaman dalam hati penulisnya. Penggunaan font dengan huruf kapital semua ini rasanya agak menggangu buat saya, karena di dalam etika (tak tertulis) ranah internet, huruf besar semua itu pertanda marah.
Puisi (yang ada judul) favorit saya : - Tubuh dan Depresi - Widya
Puisinya memang diperuntukkan untuk orang-orang yang sudah cukup umur. Dan sudah tertera di sampul novelnya.
Itu buku puisi yang pertama kali kubeli. Aku belum ada standart pasti untuk menilai puisi, tetapi aku pernah membaca beberapa puisi dari karya penulis ternama di internet.
Aku lumayan suka dengan kata-katanya, simple, dan aku bisa merasakan sesuatu yang tidak nyata. Jujur, membaca puisi cinta dengan kata-kata patah hati, membuatku ikut patah hati.
Puisi yang paling kusuka, puisi menuju akhir tentang sosok ibu. Aku berhasil menangis, dengan membayangkan sosok ibuku.
Tetapi puisi favoritku adalah ini: tentang laki-laki bermata biru yang jauh disana, tetapi ia merindukannya. Disini dia sudah menemukan lebih baik.
Aku tidak menulis puisinya detail, karena kemalasan ini.
Itu saja, maaf kalau ada kata-kata yang tidak mengenakan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Random aja baca Poem Book di IPusnas, se bagus itu ternyata, bertambah lagi lah wish list buku buat di belinya. Karena selain isinya yang menarik, warna dan ilustrasinya pun indah, dan sayang kalo ga punya di Rumah.
Aku kira Heidi itu cowo, eh setelah baca beberapa puisinya, kamu akan meragukan itu.
Duh, isi puisinya bener-bener bisa bikin saya senyum dari awal sampai akhir. Pemilihan katanya juga bagus sekali. Rima dalam puisinya juga rapi banget, indah, cantik. Saya nggak nyesel baca kumpulan puisi dari Heidi ini.
Ini merupakan buku puisi tentang harapan, ekspektasi, hal-hal menyakitkan, juga penyembuhan diri. Sebagai informasi, ternyata di dalam @poembookbyheidi ini ada banyak banget puisi yang berdasarkan pengalaman dan perasaan si penulis. Bisa dibilang, ia enggak segan menelanjangi dirinya sendiri demi berbagi kisah-kisah yang siapa tau pernah dialami pembaca dan ya... ada banyak tulisan yang relatable buatku! Makanya, aku sempat bergumam dalam hatu, "Pengin banget ketemu Heidi dan meluk cewek satu ini".
Puisi yang begitu berirama dan jujur. Looksnya diperhatiin bener, kertas item dengan fonts dan ilustrasi putih itu eye catching bangettt. Suka banget pokonya. Thanks to write it kak
“Because I don’t feel home even if I lock myself in the bedroom where I sleep in every night alone” Would be my favourite lines in this book🥺 fulfilling my 2020 with this book🥹