Seoul Cinderella
Lia Indra Andriana
Penerbit Haru; Cetakan Pertama 2012
221 Halaman
***
Ini buku lama sekali .... Saya baca buku ini lagi-lagi ketika SMA, dan mungkin buku kesekian milik Lia Indra yang saya baca. Dan impresi saya: ini unik! Dan sebagai catatan tambahan, saya penyuka novel romansa. Jadi mungkin impresi saya dan pembaca lain akan berbeda.
ISI CERITA
Novel ini berlatar Korea, menceritakan pekerja Indonesia (TKI/TKW) yang bekerja di Korea Selatan. Pendek cerita, Nia (tokoh utamanya) bekerja dengan seorang pemuda Korea (Hyun Jun). Lalu, dengan masa lalu yang terikat, perasaan mereka tumbuh sama-sama.
KELEBIHAN CERITA
Bagi saya yang saat itu masih duduk di bangku SMA, romansa yang disuguhkan di dalam buku ini begitu mendebarkan. Bagaimana perasaan Nia dan Hyun Jun tumbuh sama-sama, bagaimana mulanya mereka saling tidak menyukai, lalu lambat laun mereka saling memahami dan jatuh cinta, saya menyukai tipe slow burn seperti ini. Dan novel ini sangat ringan, bahkan dibanding novel lain dari Lia Indra yang pernah saya baca.
Untuk saya sekarang yang bukan lagi anak SMA, saya merasa bahwa Kak Lia selalu memiliki dedikasi tinggi di dalam tulisannya. Well, kalau Kak Lia membaca ini (karena unggahan ini akan saya teruskan ke Penerbit Haru, hehe), saya mengetahui tulisan Kak Lia melalui kenalan Kak Lia yang mempromosikan novel Kak Lia di laman Facebook: Fans nya Rain dan Seven.
Dan, ketika membaca novel ini. saya menyadari bahwa Kak Lia selalu membawa dan berhasil mengemas jatuh cinta dengan cara yang berbeda-beda, namun tetap berhasil. Terlebih, Kak Lia selalu membawa profesi yang kadang terdengar asing bagi saya pelajar SMA saat itu. Dan, dengan profesi TKI, dengan segala pengenalan budaya Korea (bahkan novel ini katanya pertama kali diterbitkan tahun 2007 sebelum Kak Lia ke Korea), yang artinya Kak Lia punya kesungguhan dalam menulis.
Saya selalu berhasil masuk ke dalam cerita yang dibuat Kak Lia.
KEKURANGAN CERITA
Sebelum membaca novel ini, saya sudah lebih dulu membaca Seoulmate, Seoulmate is You, dan Khokkiri. Sehingga saya merasakan tema yang sangat-sangat lebih ringan dan konflik yang terlalu ringan untuk novel ini dibanding tiga novel sebelumnya.
Kedua, Kak Lia sering menggunakan bahasa Korea secara utuh di dalam novelnya. Dulu, saat saya merupakan penggemar fanfiksi Korea, saya merasa bahwa gaya menulis seperti itu sangat bagus. Tapi di umur ini, saya rasa itu tidak perlu karena tidak semua pembaca menggemari Korea, dan cukup menggunakan bahasa Indonesia saja untuk dialognya. Karena tentunya, buku ini pasti tidak hanya akan dibaca oleh penggemar Korea, dan memberikan dialog bahasa Korea yang sulit hanya akan memberi jeda membaca dan membuat antusiasme turun.