Menemukan 'Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini' (NKSTHI) adalah sebuah ketidaksengajaan yang menghibur. Dari mana lagi kalau bukan dari media sosial Instagram. Ilustrasi yang menarik dan berwarna bersatu padu dengan kumpulan kutipan kata-kata yang tidak terlalu bijak, jujur, dan apa adanya. Kontennya seolah menyuarakan hati insan-insan di dunia yang sehari-harinya berusaha bersikap manis, tegar, bijak, dan penuh syukur, namun jauh di lubuk hati terdalam sering juga ingin mengeluh. Tidak mengherankan, karena 'sambat' (bahasa Jawa) memang berarti mengeluh.
Ketika tahu ada versi bukunya, saya langsung penasaran. Eits, jangan salah, walau judulnya mirip, ini bukan sequel dari buku 'Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini' (@nkcthi) yang sedang naik daun itu. Saya sekadar memperingatkan, takutnya Anda kecewa. Saya sendiri belum membaca NKCTHI. Namun, meskipun ada kemiripan judul atau ilustrasi, saya jamin kitab sambat ini berbeda, tidak mengandung kata indah dan petuah bijak. Yang saya ingat, waktu Mario Teguh dulu sedang naik daun, muncullah akun Mario Rapuh yang isinya justru demotivasi. Yaah.. kira-kira begitulah perumpamaan kedua buku tersebut.
NKSTHI dibagi ke dalam empat bagian utama, yaitu Sela-Sela Kelas, Sela-Sela Kerja, Sela-Sela Hati, dan Sela-Sela Hidup. Tidak ada tokoh atau jalan cerita tertentu, hanya potongan keluhan dari realita hidup yang kita hadapi sehari-hari. Hampir setiap halaman membuat tersenyum, tertawa, bahkan gumaman, "Iya banget!".
Tentu ada proses kreatif yang luar biasa di balik buku ini. Di tengah gempita media sosial di mana kita ingin sekali menampilkan sisi baik diri kita, tak bisa dipungkiri banyak kegetiran hidup yang kita hadapi. Tak ada salahnya berhenti sejenak dan menertawakan kegetiran itu. Walau buku ini sama sekali tak menawarkan solusi, cukuplah kita anggap sebagai hiburan sejenak. Hehe.
Saya tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam mencerna dan menikmati buku ini. Namun, bagi yang tidak terlalu familier dengan bahasa Jawa, mungkin ada sedikit tantangan karena sebagian kutipannya merupakan bahasa Jawa atau campuran bahasa Indonesia dan Jawa. Untuk mengatasi hal tersebut, sang penulis telah menyediakan kamus singkat di halaman depan.
Kekurangan buku ini bagi saya adalah bukunya terlalu cepat selesai dibaca. Mengingat harganya yang cukup mahal (untung belinya pakai o*o jadi dapat cashback haha..), kok rasanya belum puas membacanya ya. Rencananya buku ini saya jadikan kawan perjalanan mudik besok. Tapi belum berangkat mudik, eh sudah khatam. Begitulaah.. harus ada sesuatu yang dikeluhkan, bukan?
"Jika ada bagian-bagian dari hidup yang pantas untuk disyukuri, bukankah ada juga bagian-bagian dari hidup yang patut untuk disambati?"
"Aku, yang gemar sekali menghirup oksigen dan menghembuskan 'hadeh'".
- NKSTHI