Jump to ratings and reviews
Rate this book

Teh dan Pengkhianat

Rate this book
Dari penulis karya sastra pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 kategori prosa., Semua untuk Hindia, hadir kembali tiga belas cerita pendek berlatar kolonial. Dalam Teh dan Pengkhianat kita diajak bertamasya lagi ke masa silam: ketika awal mula sepeda dipakai kaum bumiputra di Hindia Belanda, sewaktu wabah cacar mengancam sementara sarana dan prasarana transportasi masih terbatas, saat globe masih merupakan produk pencerahan budi yang mewah, tatkala rekayasa foto tidak bisa lai kecuali dilakukan dengan cara manual yang merepotkan, dan seterusnya.

Iksaka Banu menampilkan sejarah sebagai pergulatan manusia berikut susah-senang maupun kekecewaan dan harapan yang meliputi. Kebebalan ataupun nalar tiap generasi.

"Kehebatan Iksaka Banu adalah keberhasilannya 'menghidupkan' Belanda yang sudah pergi dari Nusantara sejak kita merdeka. Sebaliknya, penulis Belanda zaman sekarang gagal menampilkan pelaku utama Indonesia dalam karya-karya mereka, padahal kita sudah hampir tiga seperempat abad merdeka"--Joss Wibisono.

176 pages, Paperback

First published April 8, 2019

169 people are currently reading
1329 people want to read

About the author

Iksaka Banu

8 books85 followers
Iksaka Banu lahir di Yogyakarta, 7 Oktober 1964. Menamatkan kuliah di Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Bekerja di bidang periklanan di Jakarta hingga tahun 2006, kemudian memutuskan menjadi praktisi iklan yang bekerja lepas.

Semasa kanak-kanak (1974–1976), ia beberapa kali mengirim tulisan ke rubrik Anak Harian Angkatan Bersenjata. Karyanya pernah pula dimuat di rubrik Anak Kompas dan majalah Kawanku. Namun, kegiatan menulis terhenti karena tertarik untuk mencoba melukis komik. Lewat kegiatan melukis komik ini, ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama, ia memperoleh kesempatan membuat cerita bergambar berjudul “Samba si Kelinci Perkasa” di majalah Ananda selama 1978.

Setelah dewasa, kesibukan sebagai seorang pengarah seni di beberapa biro iklan benar-benar membuatnya seolah lupa dunia tulis-menulis. Pada tahun 2000, dalam jeda cuti panjang, ia mencoba menulis cerita pendek dan ternyata dimuat di majalah Matra. Sejak itu ia kembali giat menulis. Sejumlah karyanya dimuat di majalah Femina, Horison, dan Koran Tempo. Dua buah cerpennya, “Mawar di Kanal Macan” dan “Semua untuk Hindia” berturut-turut terpilih menjadi salah satu dari 20 cerpen terbaik Indonesia versi Pena Kencana tahun 2008 dan 2009.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
329 (30%)
4 stars
557 (51%)
3 stars
182 (16%)
2 stars
17 (1%)
1 star
3 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 250 reviews
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
May 14, 2019
1. Aku suka semua cerpennya. 2. Aku suka tema-tema yang diangkat dan cara pandang yang diambil. 3. Aku suka tambahan ilustrasinya. 123, Aku suka semuanyaaaa.... 😊

- Kalabaka
Cerpen tragis ini membuka antologi dengan gedoran keras. Setting Neira yang cantik bersimbah darah dan pengkhianatan Coen. Semakin miris karena diceritakan dari sudut pandang seorang Belanda yang masih memiliki nurani.

- Tegak Dunia
Haha... hipokrisi pecinta teori bumi datar inih.

- Teh dan Pengkhianat
Cerpen yang jadi judul kumcer ini terasa sangat menggigit karena salah satu karakternya -pengkhianatnya- adalah tokoh yang... hhhmm... cukup dekat dengan sejarah Jawa (Tengah) dan pahlawannya.

- Kutukan Lara Ireng
Kisah candu di tanah Jawa dan usaha untuk meregulasinya. Riset latarnya oke nih. Aku suuukaa twist dan endingnya.

- Nieke de Fliender
Jurnalisme investigasi dan sandungan terbesarnya.

- Tawanan
uhhm... aku suka cara pandang terbalik di mana orang2 Belanda di Belanda memandang dirinya sebagai pribumi saat masa pendudukan Nazi.

- Indonesia Memanggil dan Semua Sudah Selesai
Saatnya Belanda angkat kaki dari Indonesia, meski demikian cinta tanah air tidak sebatas bangsa dan warna kulit saja.

Profile Image for Hanif.
110 reviews71 followers
October 30, 2019
This review is far from being objective and based on my judgmental view.

The reason I started reading this is that: it won Kusala Sastra Khatulistiwa which the author won the prize for the second time; I saw him speaking in one of Ubud Writers & Readers Festival 2019 panels about historical fiction. On the panel, he stated that history tends to repeat itself and we could prevent similar events to reoccur if we are good history readers but Indonesians don't read history. Another speaker of the panel, Azhari Aiyub—who also won the same prize in the previous year, disagreed with him. He stated that readers couldn't prevent those reoccurring historical events—political power & human rights violation, politicide, colonialism, etc.— is because those important events were in the control of people in power which makes those things political. They happened because of ideological differences between groups not caused by people who don't read history. Based on Pak Azhari's disagreement, which I agree with him, my view is affected by him.

If Pak Iksaka had the purpose to explore the history of Dutch colonialism in Indonesia in a less black and white perspective, I don't see the point of this purpose. The hatred towards colonizer countries is harmless. In this context, I think that reverse-oppression won't happen to the Dutch. If Pak Iksaka also tried to get some empathy from the readers by telling through fair-skinned characters who tried to be 'fair' to Indonesian natives, it had failed to happen in my case. His writings are so dry and emotionless. Maybe those ideas could be explored in a longer form, not a packed form of short stories like this. My impression of him after finishing this book is that he's a white bootlicker.

I also disappointed with the lacking of women characters in this book. There's one short story though, but still, it was told through a male gaze. And now I'm surprised how this book won a prize. I couldn't find anywhere what the judges think of this work.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
April 6, 2019
Benar-benar buku yang menemani sabtu malam saya. Dituntaskan sekaligus lantaran penasaran sekaligus kangen cerita-cerita Mas Banu. Sejatinya kalau sudah membaca Semua untuk Hindia, kemudian Sang Raja (meski ini novel), kita tidak akan terlalu amaze dengan gaya bercerita dalam buku kumpulan cerpen terbarunya ini. Mas Banu masih berkutat dengan dunia nyamannya, yakni mengisahkan cerita berlatar kolonial Belanda. Dan suara yang ingin disampaikan pun hampir sama dengan kumpulan cerpen sebelumnya.

Gaya bercerita dan latar peristiwa cerpen masih sama. Suara-suara orang Belanda yang "cinta Hindia Belanda", tidak menyepakati kolonialisme, dan justru lebih berpihak kepada kemanusiaan. Bisa dibandingkan dengan kumpan cerpen pertamanya, memang suara dan sudut pandang hampir sama. Tapi memang ini yang ingin dibangun mas Banu, ya, dia mengambil sudut pandang Orang Belanda dan memandang gugusan pulau yang dijajah dan menggeliat bangun kesadarannya. Jadi, boleh tidak kalau Mas Banu menandaskan sikapnya untuk tidak kulit putih-sentris.

Ok! Kalau nukilan peristiwa ketika "perang" kita akan lebih kenyang di kumpulan cerpen pertamanya. Namun, ada beberapa cerpen di buku ini yang menurut saya humanis sekali dengan tidak menonjolkan perang yang menjadi bahan bakar cerita.

TEGAK DUNIA, VARIOLA, DI ATAS KERETA ANGIN salah tiga cerpen yang menarik untuk dibahas. Mas Banu memotret area lain selain apa yang dibayangkan pembaca ketika disuguhi narasi sejarah kolonialisme. Ada potret ketika wabah cacar membunuh banyak bumiputra maupun kelompok kulit putih. Lantas bagaimana gereja menyikapi kemunculan globe yang membantah pendapat heliosentris dan bumi datar? Lantas apa yang terjadi saat sepeda masuk di Indonesia?

Cerpen soal cacar dan sepeda menurutku sangat bagus untuk dibahas secara rinci.
Meski cerpen-cerpen "berdarah" masih tersaji, tapi tiga cerpen itu menjadi suara dan area baru yang seharusnya mas Banu perhatikan pula.

era kolonialisme, era reformasi, atau era-era yang lain hanyalah kaledioskop perjalanan sebuah bangsa. Dan aktor utama di setiap era adalah badan-jiwa bernama manusia. Maka mas Banu sejatinya punya banyaaaaaaaaaaaaaaaaaak hal yang bisa diceritakan selain "adegan berdarah", dan di buku ini itu sudah dimulai.
Profile Image for Fitrah.
46 reviews7 followers
August 18, 2021
4,4 dehh bintangnya.

Bagus banget sebenernya... Tapi nggak tau kenapa kayak kurang menikmati gitu loh diriku ini. Apa karena ini bentukannya cerpen gitu ya. Kek kan baru baca nih ya, ehh tetiba dah kelar, kan kesel yaa wkwk.

Ceritanya unik banget dah. Biasanya buku fiksi sejarah Indonesia tuh kan selalu sudut pandang pribumi melihat para penjajah gitu kan ya. Nah ini buku diputer nih, pake sudut pandang si penjajahnya, disini Belanda sih. Sumpah sih keren banget itu tuh, kek nggak biasa gitu kan.

Terus juga ada kayak pelintiran-pelintiran kecil gitu di ending nya woyy. Keren kali lahh.

Tapi diriku banyak juga kok part yang kayak hah hoh heh doang karena kagak ngerti wkwkwk
Profile Image for Panca Erlangga.
116 reviews1 follower
July 25, 2019
Lebih suka kumcernya yang dulu. Beberapa cerpen di sini datar begitu saja. Soal ilustrasi arsirannya, sangat memanjakan mata~
Profile Image for Kezia Nadira.
59 reviews6 followers
June 16, 2022
"Aku membayangkan, seperti apa mereka yang tanah airnya dikuasai bangsa lain selama ratusan tahun? Menjadi budak di negeri mereka sendiri." - (Mantan) Prajurit James Grisjman dalam cerita "Indonesia Memanggil".

Berkat kutipan itu, ditambah membaca seluruh kisah dalam buku ini, membuat saya percaya bahwa ada beberapa orang Belanda yang tidak setuju dengan cengkraman bangsanya terhadap bangsa kita dan memilih untuk ikut berjuang bersama bangsa Indonesia.

Buku ini adalah karya pertama Iksaka Banu yang saya baca, dan membuat saya ingin sekali membaca bukunya yang lain seperti "Semua untuk Hindia" yang memang sudah lama betah nongkrong di wishlist saya. Membaca "Teh dan Pengkhianat" sepertinya adalah hal yang sangat saya syukuri dalam hidup, karena bisa membaca sebuah fiksi sejarah yang dikemas dan disajikan dengan sangat menggugah seperti ini.

"Teh dan Pengkhianat" adalah buku yang berisi 13 cerita pendek, yang keseluruhannya fokus terhadap masa kolonial Belanda di Hindia (Indonesia). Dari ke-13 cerita, 3 terfavorit saya adalah "Kalabaka", "Teh dan Pengkhianat", dan "Belenggu Emas". Memang, dari tipenya saja sudah cerita pendek, jadi setiap cerita tidak akan panjang seperti terdiri dari berpuluh-puluh halaman. Sayangnya, perlu fokus dan pendalaman pembaca terhadap cerita agar bisa paham maksud sejarah yang ingin disampaikan penulis melalui cerita tersebut. Sering kali saya merasakan cerita diawali dengan agak lambat namun diselesaikan dengan sangat cepat. Saya perlu terdiam sebentar dan berpikir bagaimana akhir cerita tersebut dan apa yang ingin disampaikan. Walau, akhirnya, saya merasa puas karena dapat melakukannya.

Oleh karena itu, saya jadi tergoda untuk membahas 3 cerita favorit saya.

1. Belenggu Emas
Cerita ini erat kaitannya dengan feminisme. Berkisah tentang Nellie, perempuan Belanda yang kebebasannya dibelenggu suaminya. Nellie adalah perempuan yang kritis dan cerdas, sangat melek terhadap diskriminasi orang Belanda terhadap bumiputera - yang sangat ditentangnya. Ketika Nellie sangat ingin seperti Aletta Jacobs, suaminya murka dengan konsep "The White Men's Burden"-nya. Akhirnya, Nellie nekat menemui aktivis perempuan Indonesia yang memiliki ruang dan akses untuk menyuarakan suara dan karya perempuan.

Saya sangat menyukai cerita ini. Apalagi kutipan tentang wanita "...sekadar menjadi perhiasan tak bernyawa" dan "...belenggu emas yang sering dipasang kaum pria untuk mengecoh wanita." Mengapa wanita tidak boleh mendapatkan hak yang sama seperti pria, hak untuk bersuara? Mengapa kita harus selalu patuh dengan iming-iming yang sebenarnya membelenggu kebebasan kita sebagai manusia bebas? Mengapa kita harus pura-pura bodoh dan menyembunyikan kecerdasan kita hanya untuk ego seorang pria? Mengapa kita tidak bisa menjadi perhiasan yang seutuhnya?

Cerita ini benar-benar thought-provoking. Oleh karena itu, cerita ini menjadi favorit saya.

2. Kalabaka
Bercerita tentang serdadu Belanda yang memutuskan untuk "berkhianat". Berkhianat di sini bukan dalam arti buruk. Hanya saja, ia memilih untuk berjuang membela keadilan dan membiarkan nyawanya dihunus pedang tajam algojo bangsanya sendiri. Ia meninju Gubernurnya sendiri yang mengeksekusi bumiputera salah satunya adalah Kalabaka. Kalabaka adalah seorang saudagar kaya di Banda, yang mana saat itu tidak memiliki pemerintahan namun diperintah dan diatur oleh sekumpulan saudagar kaya. Demi bisa mengambil komoditas pala dan fuli milik bangsa kita, Belanda rela melakukan segala cara. Belanda tidak mau mereka berdagang hasil produksi negeri kita sendiri, mau Belanda adalah mereka berdagang dengan Belanda dengan harga yang murah. Melihat perlawanan para saudagar kaya dan penduduk Banda, Belanda memfitnah para saudagar kaya penegak aturan dan pembuat keputusan atas tuduhan melakukan penyerangan dan penyergapan sampai mereka harus dihukum mati. Kata-kata terakhir Kalabaka adalah, "Apakah Tuan tidak merasa berdosa?!" kepada Gubernur Sonck yang memimpin eksekusi mereka.

Kutipan favorit saya adalah "...buatlah dunia barat yang pongah ini mengerti, betapa berdosa merampas hak hidup seseorang." Kutipan ini membuat saya berpikir begitu keras. Di cerita ini, Belanda datang tanpa apapun, ingin mengklaim hasil alam negeri kita dan membunuh kita apabila kita tidak membiarkannya dirampas begitu saja. Belanda menginjak kita untuk mengksploitasi hasil alam negeri kita, untuk memberi makan dan kehidupan bagi negaranya sendiri. Bahkan, Belanda rela mengeksekusi bangsanya sendiri yang berpindah sisi dan melawan kekejaman mereka.

3. Teh dan Pengkhianat
Cerita ini tentang Alibasah Sentot Prawirodirjo, tangan kanan Diponegoro saat Perang Jawa, yang berpindah sisi memihak Belanda karena kondisi keuangan yang memburuk dan harga pajak yang begitu tinggi yang tak bisa lagi ditolerirnya. Di sini, Alibasah Sentot Prawirodirjo berperang bersama Belanda melawan kelompok Cina di Indonesia yang tidak digaji sesuai kesepakatan ditambah disiksa secara berlebihan oleh pemimpin perkebunan. Ironis, bukan? Setelah berhasil melawan mereka, Alibasah Sentot Prawirodirjo berkata bahwa tugasnya yang baru adalah, "Sumatra Barat! Memadamkan perang di sana! Orang-orang Padri!"

Ironis, bahwa ada bangsa kita sendiri yang memutuskan untuk berbalik punggung karena 2 alasan, 1) mereka merasa bahwa mereka tidak diuntungkan dengan bangsa kita dan lebih diuntungkan dengan bangsa Belanda, atau 2) mereka muak dan jenuh dengan birokrasi rumit dan memuakkan penuh korupsi bangsa kita. Bisa jadi, bukan?

Selain 3 cerita di atas, masih banyak sekali cerita yang sangat menarik di buku ini. Tentang wabah Variola yang menyerang Bali dan beberapa wilayah di Indonesia yang dalam cerita ini juga menyiratkan bahwa beberapa orang Belanda merasa persatuan darah kulit putih dengan bumiputra adalah hal yang bejat dan tidak berakhlak, tentang tawanan perang imbas dari dilanggarnya Perjanjian Renville Agustus 1947, tentang debat antara apakah dunia bulat atau datar, tentang diskriminasi orang Belanda terhadap bumiputra dengan cara mengatur cara berpakaian, kutukan lara ireng atau 'kutukan' bangsa kita yang kecanduan opium hingga rela memberikan apapun untuk dapat madat, dan masih banyak hal lainnya yang dapat kita pelajari.

Buku ini memanjakan mata kita dengan beberapa ilustrasi di setiap ceritanya yang mendukung imajinasi kita saat membaca, membuat cerita seakan-akan menjadi hidup.

Saya sangat menyukai buku ini dan sangat merekomendasikannya. Banyak sekali hal yang saya dapatkan, baik dari segi pemahaman sejarah maupun pemahaman isu sosial yang terjadi jaman kolonial, yang terlalu banyak apabila saya jabarkan dan tuliskan di sini. Intinya, selama ratusan tahun Belanda menjajah kita, memang kita belajar banyak dari peradaban mereka: teknologi, budaya, pendidikan, keahlian, dan lainnya. Tapi hal tersebut bukan berarti kita tidak lebih beradab sebagai manusia daripada mereka, seperti yang mereka selalu katakan. Di bagian cerita "Semua Sudah Selesai", orang Belanda mengkritisi Soekarno dengan mengatakan bahwa tidak akan mudah mendirikan sebuah negara apalagi didirikan oleh bumiputra yang malas dan bodoh. Seakan-akan kita adalah kuman dan mereka begitu suci sehingga tidak sudi disandingkan dengan kita. Tapi, tidak semua orang Belanda seperti itu. Selain hal-hal baik yang mereka ajarkan, ada beberapa dari mereka yang bahkan kehilangan nyawa oleh bangsanya sendiri akibat membela kita.

Ratusan tahun dijajah Belanda seharusnya membuat kita menjadi manusia yang lebih cerdas dan merdeka dari segala hal, dan saya bilang negara ini belum sepenuhnya merdeka. Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, dan penjajahan bukan saja berarti kolonisasi negara lain atas negara kita - tetapi juga dirampasnya hak kita. Negara kita masih memiliki penjajah dalam dagingnya, penjajah bukan dari bangsa Eropa yang berkulit putih, tapi mirisnya sesama bumiputra.
Profile Image for Marina.
2,041 reviews359 followers
December 14, 2019
** Books 121 - 2019 **

3,7 dari 5 bintang!

Buku ini sebenarnya sudah cukup lama tersimpan di galeri Gramedia Digital Premium saya dan awalnya tertarik sama covernya yang keliatan banget kalau ini buku genrenya historical fiction. Ketika mengetahui bahwa buku ini memenangkan salah satu penghargaan bergengsi yaitu Kusala Sastra Khatuliswa tidak ayal lagi saya semakin ingin untuk membaca buku ini tapi lagi-lagi keinginan itu tertahan dengan adanya keinginan saya untuk membabat buku timbunan ketimbang membaca buku non-timbunan

Akhirnya keinginan itu berhasil diwujudkan dengan ketika Goodreads Indonesia mengadakan acara Ngobrol bareng dengan Mas Iksana Banu mengenai buku ini yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 November 2019 di Ojo Koes. hari senin atau selasa sebelumnya mas Ucha meminta tolong kepada saya untuk membantunya dalam memandu acara ini. Haha mau gak mau saya harus membaca buku ini sampai habis bukan? LOL setelah membaca buku ini saya baru tahu kalau buku ini ternyata kumpulan cerpen bukan roman yang saya pikirkan sebelumnya

buku ini adalah karya pertama mas Iksaka Banu yang saya baca sebelumnya. Saya bahkan belum membaca Ratu Sekop dan cerita-cerita lainnya dan Semua Untuk Hindia dan ternyata kumcer ini sungguh sangat mengasyikkan untuk dibaca!

Saya menyukai kisah Kalabaka yang menceritakan tentang ketidakadilan yang diterima oleh penduduk di Banda yang tidak bersedia menyerahkan pala dan fuli di jaman era VOC

Tegak Dunia yang juga berhasil menyentil saya dengan tema yang lagi dibincangkan saat ini mengenai orang-orang yang percaya dengan teori bumi datar vs dengan teori bumi bulat

Teh dan Pengkhianat yang menceritakan kisah pembelotan dari Sentot Prawirodirjo ke Belanda yang dahulunya beliau adalah tangan kanan Pangeran Diponegoro

Ada juga Di atas kereta angin yang menyindir jaman belanda dulu dimana kaum pribumi sebaiknya tidak menaiki fiets milik orang belanda

Belenggu Emas yang mengenalkan saya dengan Roehana Koeddoes dimana selama ini saya hanya mengetahui RA Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Cut Meutia dan Christina Martha Tiahahu sebagai tokoh pahlawan Indonesia

semua sudah selesai mengenai kisah berjualan roti di masa kemerdekaan indonesia

Habis membaca buku ini saya langsung borong buku Sang Raja dan Ratu Sekop sekalian tidak lupa meminta tandatangan si penulis hehe.. Untuk saya penggemar buku-buku historical fiction karangan mas Iksaka Banu membawa hawa segar untuk fiksi sejarah Indonesia! :)

Terimakasih Gramedia Digital Premium!
Profile Image for Ms.TDA.
235 reviews3 followers
February 13, 2025
Penyajian 13 cerpen dg latar kolonialisme era Belanda hingga Indonesia Merdeka ini memaparkan betapa MANUSIA nya mereka walaupun dg status Penjajah itu sendiri. Ternyata banyak yg tidak setuju dg sistem pemerintahan maupun sosial yang sudah terbentuk ditempat. Jadi bingung, siapa penjajah sesungguhnya disini? Siapa yg bisa disebut sebagai kawan? Cukup menarik⚓️🏴‍☠️
Profile Image for Ren Puspita.
1,477 reviews1,016 followers
April 6, 2025
4 bintang

Suka dengan gaya tulis & penceritaan Iksaka Banu. Bakal nyari buku - buku beliau yang lain. Sayangnya karena ini cerpen, banyak yang endingnya gantung.

RTC
Profile Image for Ainay.
418 reviews78 followers
June 4, 2020
Sukaaak! Kumcer yang ini memiliki timeline berurutan mulai dari awal kedatangan Belanda hingga hengkangnya mereka pasca kemerdekaan. Aku pribadi lebih suka ini daripada Semua untuk Hindia meski sama-sama bagus.

Dalam Tegak Dunia dan Variola, ditunjukkan bahwa manusia-manusia mabuk agama (dalam hal ini pemuka agama Belanda) sudah percaya bumi datar dan antivaksin. Gambarannya serupa dengan kondisi bumiputera masa kini wkwkwk.

Sejujurnya aku gabisa memilih mana yang paling kufavoritkan, karena semuanya bener-bener oke dan memorable. Tapi, cerpen dengan judul Teh dan Pengkhianat itu ... wow. Jadi ingin menggali lebih jauh tentang Perang Jawa berikut tokoh-tokoh pentingnya.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
April 26, 2019
Sangat tidak masalah bila tema-tema yang diangkat Iksaka Banu dalam kumpulan cerpen ini mirip Semua untuk Hindia. Saya rasa banyak hal yang masih bisa digali dari zaman kolonial dan tetap menarik. Membaca Teh dan Pengkhianat memberikan saya pengetahuan baru dan berbeda dari Semua untuk Hindia.

Saya suka semua judul di buku ini. Kalaupun saya diminta memilih cerpen yang benar-benar membuat saya tercengang dan riset lebih mendalam, itu adalah "Kalabaka" dan "Teh dan Pengkhianat". Ah, rasanya seharian saya berkutat di internet mencari setiap nama, peristiwa, tempat, dan tanggal yang disebutkan di cerpen tersebut.
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
July 16, 2023
Mungkin karena terlalu kagum dengan "Semua untuk Hindia", saya jadi semacam kurang puas dengan kumcer ini. Masih dengan cerita latar kolonial, namun bagi saya, "Teh dan Pengkhianat" tidak sedramatis kakaknya. Ini selera pribadi saya, karena saya lebih suka prosa yang dramatis dan "sinematis". Kumcer ini tenang mengalir, lebih ke panggung diskusi tentang moralitas di era kolonial, bahkan ada yang serta merta bagai monolog (cerpen "Semua Sudah Selesai"). Mungkin karena latar sejarahnya, sebagian besar sudah pernah saya ketahui, jadi saya tidak sekepo itu mengulik kembali tiap cerpennya. Saya menikmati peraduan moral orang Belanda di fajar kemerdekaan Indonesia, namun selalu saya bandingkan dengan "darah yang ditumpahkan" dari "Semua untuk Hindia".

Pada akhirnya, saya menempatkan "Teh dan Pengkhianat" sebagai peraduan kepala (pikiran), dan "Semua untuk Hindia" sebagai peraduan tangan (fisik). Di mana dari keduanya, pikiran dan tangan, dapat ditarik kesimpulan yang sama, bahwa bukan dengan pikiran dan tangan kita dapat menghapuskan penjajahan, namun justru dengan hati. Hati yang terletak antara pikiran dan tangan yang mampu menggerakkan tokoh-tokoh kumcer ini untuk menyongsong hari baru umat manusia, yang lebih setara, saling menghargai, dan yang terpenting, hanya hati yang mampu membuka mata dan membuat malu bila melihat betapa kejamnya kolonialisme yang sudah dianggap wajar selama ini.
Profile Image for mars.
45 reviews1 follower
December 31, 2025
cukup menarik. biasanya novel hisfic selalu pakai POV orang Indonesia. di sini beda. POV nya datang dari orang Belanda. jadi sedikit banyak paham apa pemikiran mereka tentang bumi jajahan. orang eropa merasa dirinya paling superior digambarkan dengan jelas di novel ini.
Profile Image for Ira Booklover.
689 reviews45 followers
January 15, 2020
Saya sempat galau saat memutuskan untuk membeli buku ini. Galau mau membeli buku cetak atau buku digitalnya saja.

Kalau membeli buku cetak, saya harus pergi ke ibukota provinsi yang memakan waktu kurang lebih 10 jam pulang pergi perjalanan darat. Itupun kalau stoknya ada.

Kalau beli online saya takut tak keburu karena buku ini rencanya mau dibaca untuk ikut Tantangan Baca Goodreads Indonesia Bulan Januari dengan tema Buku yang Mendapat Penghargaan pada 2019. Belum lagi masalah ongkos kirim yang besarnya bisa untuk beli satu buku lagi. Kalau beli buku digitalnya, yaah, saya kurang nyaman saja sih membaca buku digital.

So, setelah ditimbang-timbang, akhirnya saya memutuskan untul membeli buku digitalnya saja. Karena setelah saya cek sana sini, buku ini tidak terlalu tebal. Saya rasa mata saya masih bisa diajak kompromi untuk membaca buku setebal 164 halaman saja.

Oke, sekian curcolnya. Dan inilah dia, buku Teh dan Pengkhianat, pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 kategori prosa. Haduh, saya kalau mereview buku pemenang penghargaan macam ini rada kurang pede gimana gitu. Siapalah saya ini.yang menulis review saja masih amburadul. Jadi, kalau ada kata-kata saya di review ini yang ngawur atau sotoy mohon dimaklumi ya, hihihi.

Teh dan Pengkhianat, setelah membaca blurb-nya, saya bersemangat sekali untuk membaca habis ketiga belas cerita pendek yang ada di dalam buku ini.

Apalagi setelah membaca cerita pendek pertama yang berjudul Kalabaka. Saya benar-benar tak menyangka ceritanya bakalan seperti itu. Kisahnya diceritakan dengan gaya surat yang ditulis oleh seorang ayah kepada anaknya.

Sang ayah diceritakan sebagai orang Belanda yang masih memiliki nurani. Yang berontak ketika melihat perlakuan kejam bangsanya terhadap orang-orang Banda. Haduh, perasaan saya jadi campur aduk setelah membacanya.

Hanya saja, kekaguman saya terhadap cerita pendek pertama ini jadi buyar karena di akhir cerpen ini, tertulis "Jatiwaringin, Oktober 2018". Saya sempat lola sebentar. Saya kira mungkin ada kesalahan cetak tanggal, sebelumnya akhirnya saya ngeh kalau "Jatiwaringin, Oktober 2018" itu adalah tanggal ditulisnya cerpen ini oleh si pengarang, bukan tanggal ditulisnya surat sang ayah kepada anaknya itu, *tepokjidat*.

Kedua belas cerita pendek berikutnya adalah Tegak Dunia, Teh dan Pengkhianat, Variola, Sebutir Peluru Saja, Lazarus Tak Ada di Sini, Kutukan Lara Ireng, Di Atas Kereta Angin, Belenggu Emas, Nieke De Flinder, Tawanan, Indonesia Memanggil dan Semua Sudah Selesai.

Favorit saya berikutnya setelah Kalabaka adalah Semua Sudah Selesai. Seperti judulnya, cerpen ini menceritakan tentang situasi di saat kependudukan Belanda terhadap Indonesia sudah berakhir. Orang-orang Belanda dipersilakan pulang kembali ke negerinya. Sayangnya, setelah beratus tahun berada di negeri orang, memilih menetap di Indonesia atau kembali ke negeri sendiri sama-sama menimbulkan resiko bagi orang-orang Belanda tersebut. Somehow, cerpen terakhir ini membuat hati saya dag dig dug duer dengan keputusan akhir yang diambil oleh tokoh utamanya, hahhah.

Cerpen Teh dan Pengkhianat serta Tawanan juga menarik perhatian saya karena dimasing-masing cerita tersebut terdapat tokoh pengkhianat. Hanya saja di Teh dan Pengkhianat, pengkhianatnya dari pihak Hindia sedangkan di Tawanan, pengkhianatnya dari pihak Belanda. Mereka berkhianat karena alasan situasi dan kondisi mereka masing-masing. Saya merasa ... errr... sedikit sedih saat mengetahui alasan kenapa kedua tokoh dari masing-masing cerpen tersebut memutuskan untuk berkhianat kepada bangsanya.

Next, kutipan favorit saya dari buku ini ada di cerpen Indonesia Memanggil. Kutipan tersebut adalah:

"Kalian harus tahu, mental bumiputra seperti kanak-kanak. Pemalas. Manja. Takkan mampu berdiri sendiri tanpa bantuan kita. Mereka akan menyia-nyiakan sumber alam yang sangat besar ini tanpa diolah menjadi apa pun yang bermanfaat bagi kehidupan. Persis seperti yang dilakukan nenek moyang mereka sebelum kedatangan orang Eropa."---hlm. 146

Haduh saya merasa tertohok sekali dengan kutipan di atas. Terutama di bagian "pemalas, manja, dan takkan mampu berdiri sendiri". Saya merasa "kualitas-kualitas" negatif itu ada pada diri saya sendiri, hiks.

At last, saya bingung mau cuap-cuap apa lagi. Saya sangat suka buku ini. Terutama karena latar zaman kolonialnya serta cerita-ceritanya yang dikisahkan dari sudut pandang orang Belanda dan pesan moral yang terselip di setiap cerita.

So, saya beri 4 dari 5 bintang untuk buku ini. I really liked it.
Profile Image for Nizu.
18 reviews1 follower
May 13, 2022
Berisi kumpulan cerpen dengan latar waktu yang berurutan mulai dari kedatangan Belanda sampai hengkangnya mereka dari tanah Indonesia.
Tiap ceritanya selalu menarik, fakta sejarahnya padat, disajikan dengan bahasa yang cukup mudah dipahami, dan diselipkan beberapa ilustrasi yang memanjakan mata. Bener-bener keren!
Profile Image for Faris Abdala.
110 reviews8 followers
March 15, 2020
Setelah lama aku hanya membaca fiksi dalam Bahasa Inggris, aku merasa jauh dari sastra Indonesia yang dulu menjadi konsumsi harianku. Maka aku memulai kembali melakui buku ini setelah melihat buku ini menang Kusala Sastra. Terbukti pilihan itu tepat.

Buku ini menyajikan 13 cerpen yang berlatar zaman kolonial belanda dengan karakter belanda. Tema-tema umum yang sering muncul adalah karakter belanda yang bersimpati dengan rakyat pribumi, pertentangan antara progres dengan kekolotan (terutama oleh pihak agamis), dan kesetaraan pribumi dan belanda.

Mayoritas cerita ditulis dengan baik dan mampu menarik pembaca ke zaman tersebut. Zaman yang mungkin sangat tidak familiar bagi mayoritas generasiku yang tidak mendapat perspektif yang lengkap mengenai sejarah. Selama ini pelajaran sejarah masa kolonial hanya membahas kekejaman belanda dan perjuangan kemerdekaan. Buku ini menyajikan aspek kehidupannya, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan bagiku.

Aku sangat menikmati membaca buku ini dan rasanya aku akan membaca juga buku lain dari Iksaka Banu yang katanya lebih bagus dari ini, yaitu Semua Untuk Hindia.
Profile Image for Steven S.
701 reviews67 followers
May 23, 2019
Teh dan Pengkhianat adalah cerita-cerita yang membawa kehidupan kolonial di masa sekarang. Menyenangkan membaca buku ini karena selalu ada kisah yang menarik. Tentang hidup di jaman lampau, orang-orangnya, keluh kesahnya, dan perjuangannya.

Semua saya baca terkecuali satu cerpen yang pernah dimuat di majalah Majas.

Sebagai pelengkap catatan ini saya menamatkan buku ini sedikit demi sedikit. Ini tak lebih karena menurut saya, dibutuhkan ketahanan dan mood yang kena untuk masuk dalam ceritanya. Jadilah satu hari cukup satu cerita. Layaknya satu suapan cerita per harinya, namun tak kala ada waktu yang pas, dua tiga cerita terakhir saya sambut layaknya teman yang sedang bercerita. Hingga tuntas dan tandas.

Sebagai penutup. Membaca Teh dan Pengkhianat kan lebih lengkap jika menonton juga percakapan sang pengarang di youtube penerbit yang bersangkutan. Ada rasa dan makna tertentu yang bisa diraih.
Profile Image for Khalid Hidayat.
46 reviews19 followers
February 17, 2025
Sebagaimana "Semua Untuk Hindia", kini Iksaka Banu kembali menyajikan 13 cerita pendek bergenre fiksi sejarah dengan latar era kolonial dan dengan orang-orang Belanda sebagai lakon utama. Aku hanya bisa terkagum-kagum karena penuturan kisahnya sangat halus, dalam arti, kisah fiksi sejarah ini sekalipun fiksi namun tak mengabaikan/mengaburkan fakta sejarah yang ada. Dan sebaliknya pula, penuturan sejarahnya tidak kaku sehingga amat terasa bahwa ini masih suatu cerita fiksi yang disusun dengan cemerlang. "Teh dan Pengkhianat" sangat menarik dibaca dan layak terpampang di rak buku teman-teman pembaca yang suka mengoleksi buku-buku bergenre fiksi sejarah.
Profile Image for Citra Maudy.
24 reviews
October 12, 2020
Kumpulan cerita pendek dengan tema sejarah yg ditulis Iksaka Banu ini berhasil membuat saya tetap menggandrungi karya beliau. Membaca tulisannya seakan terbawa pada jalanan dengan lanskap seperti kota lama di Semarang atau Surabaya. Saya yakin ceritanya ditulis dengan observasi yg bukan main-main, sebab itu tampak mulai dari bahasa, logat, pakaian, atau detail kebiasaan sang tokoh. Karya ini memang sepadan dengan penghargaan yg didapatkannya.
Profile Image for Pepero.
84 reviews16 followers
January 19, 2023
I'll be honest, but I never the type that enjoy short stories collection, I always feel it to be lacking.

Despite liking the writing style in here, just like any other short stories collection I didn't like it.

It felt like each story is just a random chapter that been taken from a longer stories, and it make me craving for more only to realized the next chapter is just a new story with a new theme.

So yeah I will only give it a 3 star, since it just not my preference
Profile Image for Muhammad Mada.
18 reviews4 followers
May 19, 2019
Cerpen tegak dunia dan variola menyadarkanku bahwa orang orang bigot dalam beragama dan kaum anti vaksin bukanlah sesuatu yang baru di era modern bahkan mereka sudah eksis pada zaman kolonial belanda.
52 reviews7 followers
October 13, 2022
Selama ini cerita tentang Belanda-Indonesia pada masa penjajahan hampir selalu dari sudut pandang Indonesia. Melalui buku ini kita diajak mengamati apa yang dirasa dan dilema orang Belanda saat menetap di Hindia. Terdapat banyak cerita singkat dalam setiap halaman memuat keresahan sampai perasaan setiap tokoh. Namun karena disajikan secara singkat, rasanya setiap cerita terasa 'kurang' dan menggantung. Beberapa kalimat yang membekas,

"Namun kata tuan Van Geloofig, hidup menjadi pelaut menjauhkan kita dari surga."

"Jauh dari surga? Tentu saja!" Kapten Van de Vlek terpingkal. "Kami gemar mabuk dan selalu mampir ke tempat pelacuran di setiap pelabuhan. Tidak pernah berdoa, kecuali saat kapal diserang badai. Itupun sesungguhnya bercampur sumpah serapah."
— hlm. 33


Pada bab 'Lazarus Tak Ada di Sini' terdapat sosok yang dulunya penjajah, terbaring di sel(?) Dia sadar membunuh bukan hal yang Tuhan sukai, ia juga sadar mereka yang melawannya, juga terpaksa melakukan.

Tepat ketika aku hendak membuat tanda salib ia menahan tanganku, "Jangan panggil 'anak' aku bukan anak-anak. Dan tak usah repot dengan aneka doa itu. Aku pasti masuk neraka." Bibir letnan Stijfhart yang kering dan pecah-pecah itu bergetar.
— hlm. 78
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,090 reviews17 followers
October 19, 2023
Sebenarnya saya ingin membaca 'Semua untuk Hindia' terlebih dulu, tapi ternyata saat itu ketika sedang berkeliling toko buku, yang saya lihat adalah buku 'Teh dan Pengkhianat' dan akhirnya memutuskan untuk membelinya.

Berisi 13 cerita pendek bertema zaman kolonialisme Belanda yang saat itu masih berkuasa di Indonesia. Meskipun fiksi, saya jadi bisa mengetahui tokoh-tokoh nyata yang belum pernah saya dengar sebelumnya, seperti Karaeng Pattingalloang dalam judul 'Tegak Dunia' dan Sentot Ali Basyah dalam judul 'Teh dan Pengkhianat'. Selain itu, sudut pandang yang dipakai di sini didominasi oleh sudut pandang pertama orang Belanda yang peduli dengan masyarakat pribumi. Jadi, sangat menarik bahwa penjajahan tidak dipandang dengan hitam-putih seperti orang Belanda pasti jahat dan masyarakat pribumi pasti baik.
Profile Image for Hari.
59 reviews6 followers
July 25, 2025
bagussss
aku gak menyangka kalo ini ternyata cerpen.
sebenernya aku baca ini agak bosen sih, bukan karena bukunya ga bagus tapi kayaknya emang genre nya bukan yang aku suka kali ya jadi agak lamaaa selesaiin nya.
Dari buku ini, seolah olah kita dikasih sudut pandang orang Belanda karena POV nya di semua cerpen ini tuh dari orang Belanda. Dari mulai orang Belanda yang masih punya empati sama pribumi, sampe yang b4jingan juga ada (maaf).
aku suka beberapa judul di buku ini.
1. Kalabaka -> aku kayak salut aja sama ml nya karena dia berani bersuara apa yang dia rasa ga adil. dia masih berempati dibanding temen temen sesamanya.
2. Variola -> endingnya menurutku heartwarming sihh hehehhe
3. Belenggu Emas -> aku suka gimana disini mengangkat topik kebebasan perempuan untuk mandiri dan gak bergantung sama lelaki
4. Indonesia Memanggil -> iniii agak merinding sih apalagi baca suratnya wkkwk
5. Semua Sudah Selesai -> ini jugaa merinding karenaaa kayakkkkkk, finally!!!
Profile Image for qip.
8 reviews
January 20, 2023
Buku tentang penjajahan Indonesia, yang sudut pandang seluruh cerpennya diambil dari sudut pandang si penjajah. Ada cerita-cerita yang aku suka, ada juga cerita yang kurang aku suka. Bacaannya cukup ringan, namun di beberapa bagian menurutku agak membosankan dan membingungkan. Still enjoyable, though.

Favoritku dari semua cerpen-cerpen ini salah satunya adalah Lazarus Tak Ada di Sini, 90% isinya adalah dialog antara letnan yang sekarat dengan seorang pastor, yang mempertanyakan pantaskah ia dan apakah ia akan diterima Tuhan, padahal dia sudah membunuh begitu banyak orang? Aku suka bagaimana si pastor enggak menyalahkan ataupun membenarkan tindakan yang diambil si letnan—biarkan Yang Maha Adil untuk mengadili.
Profile Image for Sanya.
90 reviews8 followers
August 9, 2020
Mungkin saya harusnya membaca novel Iksaka Banu terlebih dahulu ketimbang kumpulan cerpennya ini. Di luar dugaan, saya suka. Iksaka Banu tampak sangat berhati-hati memfiksikan sejarah, dan saya suka kehati-hatiannya itu. Mungkin nanti saya akan membaca karya-karyanya yang lain lagi. Ohya salah satu cerpen juga memberikan informasi yang saya butuhkan tentang sejarah perdagangan (dan hubungannya dengan konflik masyarakat) yang ternyata memang sudah kisruh sejak zaman penjajahan Belanda.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
January 11, 2020
Bacaan pembuka di tahun 2020. Berisi 13 cerpen berlatar kolonial. Beberapa cerita yang saya suka adalah tentang KaraengPattingaloang, pemimpin Kerajaan Tallo yang mencintai ilmu pengetahuan, dan cerita tentang Rohana Kudus, tokoh emansipasi wanita yang menerbitkan surat kabar Sunting Melayu.
Profile Image for ersa n..
10 reviews4 followers
October 31, 2021
yang suka fiksi sejarah pasti udh tau kl karyanya Iksaka Banu selalu TOPP!! fav chapter : Lazarus Tak Ada Di Sini, moral valuenya dapet bangett. Kl dibandingin sama buku Semua Untuk Hindia, aku lebih suka yg ini karena ceritanya lebih nempel dan lebih wah aja rasanya, but both are soOo good <3
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,355 reviews43 followers
August 21, 2020
Membaca Semua untuk Hindia beberapa tahun lalu, saya terpukau. Buku itu bisa saya selesaikan seharian saja.

Buku ini, walau kisahnya membentang dari masa VOC membantai penduduk Banda tahun 1600-an hingga zaman nasionalisasi perusahan Belanda di Indonesia tahun 1950-an, ternyata perlu waktu lima hari untuk saya baca.
Displaying 1 - 30 of 250 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.