Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub

Rate this book
Seekor beruang kutub ditangkap oleh para pemburu dan dirumahkan di kebun binatang di Cile. Namun beruang bernama Baltazar ini bukan beruang biasa. Dengan kearifan dan selera humornya yang manusiawi, serta sudut pandangnya yang unik, ia merenungkan situasinya di dalam kerangkeng untuk melucuti problem-problem kemanusiaan seperti kewenangan dan kekuasaan, penghambaan dan kebebasan.

Karya tipis yang inspiratif, penuh makna dan permenungan yang menggugah. Ditulis oleh seorang cendekiawan dan politisi Cile pasca kudeta militer 1973 sebagai alegori politik tentang hidup di bawah kediktatoran, dan penyemangat bagi siapa saja yang sedang tertindas agar tidak menyerah dalam perjuangan mencapai kebebasan sejati.

——————————

Claudio Orrego Vicuña (1939–1982) adalah seorang sosiolog, peneliti sejarah, penulis, dan aktivis mahasiswa yang menjadi politisi dan anggota parlemen dari Partai Kristen Demokrat Cile. Pada 1973, kudeta militer Jenderal Augusto Pinochet bukan hanya menggulingkan presiden terpilih Salvador Allende, tetapi juga membubarkan parlemen yang membuat Orrego Vicuña tersingkir dari jabatannya. Novelet ini, satu-satunya karyanya yang ditulis sebagai karya sastra, diterbitkannya setahun sesudah kudeta dan dimaksudkan sebagai renungan hidup di bawah kediktatoran. Bukunya tentang orang hilang dan korban penculikan, Detenidos desaparecidos: una herida abierta, diberangus oleh rezim militer. Saat meninggal dunia pada usia 42 tahun, ia telah menulis lebih dari 30 buku.

68 pages, Paperback

First published November 15, 2010

9 people are currently reading
187 people want to read

About the author

Claudio Orrego Vicuña

7 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
111 (38%)
4 stars
141 (48%)
3 stars
29 (10%)
2 stars
4 (1%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 30 of 105 reviews
Profile Image for melmarian.
401 reviews136 followers
September 19, 2019
Bukunya tipis tapi sarat makna.

"Aku takkan pernah benar-benar bebas, tapi aku telah menaklukkan dunia sekelilingku dalam benakku. Dan ini sudah tertanam begitu dalam sampai tak ada yang bisa mengambilnya lagi dari diriku."
Profile Image for B-zee.
580 reviews70 followers
June 2, 2019
"Bolehlah dibilang aku mampu menemukan sejenis kebahagiaan yang orisinil. Bukan kebahagiaan karena melakukan apa yang ingin kulakukan, melainkan yang lebih dalam, yang berasal dari kemampuan untuk memahami mengapa terjadi seperti ini." (p.54)

Apakah kebebasan itu? Bebas berkeliaran di dunia kita tanpa sekat, di luar jeruji kurungan? Namun, apakah seorang gadis kecil yang telantar, tak ada yang mengurus, tak ada yang memberi makan, bisa disebut bebas? Ataukah beruang kutub yang dicerabut dari alam bebasnya bisa menjadi bebas karena makan minum dan perawatan yang didapatkannya dalam kandang? Apakah manusia-manusia berwajah kelabu yang berlalu lalang di jalan, sibuk dengan pikiran entah apa bisa disebut bebas?

Hal-hal ini yang coba disampaikan Baltazar, beruang kutub yang ditangkap dari dunia serba putih yang dinamis sejak remajanya, menuju dunia penuh warna di sebuah kebun binatang. Dari mata Baltazar, kita diajak melihat hakikat, perangai, dan tabiat manusia dari sudut pandang orang ketiga. Mungkin hal ini yang menjadikan buku kecil ini begitu istimewa, sudut pandang yang ditawarkan, yang tanpa tedeng aling-aling menelanjangi hal yang ragu kita akui.

Saat kita melihat sesuatu dengan sungguh-sungguh, yang mungkin kita lakukan dengan lebih baik saat menjalani hari yang kelihatannya monoton, justru kita menemukan bahwa segala sesuatunya dinamis. Dengan melihat lebih dekat, kita bisa mendeferensiasi dua sisi yang berbeda dari sesuatu yang kelihatannya sama. Kita bisa melihat jauh lebih dalam, dan itulah yang dialami Baltazar hingga dia meraih 'kebebasannya'.

Buku ini tipis saja, tetapi setiap kata dan kalimat di dalamnya memiliki kedalaman dan makna yang begitu penuh serta berlapis-lapis. Meminjam istilah yang pernah kugunakan di review The Little Prince, buku ini bisa menjadi sumber Scene on Three yang tiada habisnya. Kredit juga untuk penerjemahnya yang menggubah kata-kata dengan sedemikian indahnya.

"Karena keheningan adalah suara kebaikan, tak diragukan lagi bahwa kebaikan berlangsung diam-diam di setiap sudut dunia manusia." (p.45)
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
June 15, 2019
127 - 2019

Wow, ini beruang yang luar biasa.
Beruang yang diberi nama Baltazar ini mengajarkan banyak hal, tentang problem manusia dari sisinya yang beruang, tentang kebebasan.

Jelas buku ini menyimpan banyak makna, ketika dibaca menarik sekali Baltazar bercerita.

Sungguh 66 halaman yang mengajarkan banyak hal.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
July 21, 2019
** Books 77 - 2019 **

3,8 dari 5 bintang!

Buku tipis yang memberikan sarat makna akan kebebasan. Kebebasan dari perspektif seorang beruang bernama Baltazar yang patut direnungi oleh kita semua

one of my favorite short books stories in 2019! Dalem banget ini bukunya aku sampe tercekat membacanya >_<

Terimakasih Bookabuku atas peminjaman bukunya!
Profile Image for Rahman.
168 reviews22 followers
December 31, 2025
Awal-awal aku lumayan suka, tapi seiring waktu kutemukan diri tak terlalu sepaham sama yapping-an si Baltazar ini. Entahlah, kurasa pandangan-pandangannya itu cenderung naif dan ga se-deep itu. Dia memandang sekilas dan seketika terjun jadi filsuf yang berceramah tentang makna kehidupan dan manusia. Makin ke belakang narasi cerita semakin mengendur digantikan suara-suara atau gagasan-gagasan yang terasa milik penulis sendiri. Tokoh Baltazar terasa jadi corong penulis semata.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
September 30, 2019
Dari seekor beruang kutub yang terpenjara di Kebun Binatang di Cile, kita bisa belajar banyak tentang makna menjadi orang baik, tentang menjadi orang bebas walau kondisi fisik terkekang, tentang mencoba menemukan hal-hal luar biasa dalam kehidupan sehari-hari, serta untuk belajar tidak menyerah demi kemanusiaan.

Sebuah tulisan pendek tapi kisahnya dalam banget. Terjemahannya juga indah.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
December 3, 2018
Tak boleh membandingkan. Tetapi pas membaca ini, saya ingat alegori Orwell dengan suara dan adegan binatang dalam novel monumentalnya Animal Farm. Bedanya dalam novel super tipis ini benar-benar hanya ada satu tokoh beruang kutub bernama Baltazar. Tetapi semua yang diungkapkan Baltazar adalah renungan atas kemerdekaan, dan jiwa manusia yang menurut Baltazar adalah tidak jauh berbeda dengan kehidupan beruang kutub.

Tetapi, Baltazar kemudian sadar bahwa manusia sejatinya terkungkung dan Baltazar yang ada di kebun binatang dan dikerangkeng, justru lebih merdeka.
Profile Image for miaaa.
482 reviews419 followers
November 22, 2018
A 66 page journey of thinking, rethinking, self-arguments about what's life as human meant to be. Every chapter is an adventure, a learning process. Being confused, dependent, nostalgic, and the true meaning of being free. When was the last time you sit down and think about freedom?
Profile Image for ucha (enthalpybooks) .
201 reviews3 followers
August 30, 2019
baca tengah malam, putar lagu selow, larut dalam renungan Balthazar,
dan menyadari betapa menyedihkan menjadi manusia
Profile Image for Stella_bee.
496 reviews18 followers
September 21, 2020
Buku tipis nan bergizi.. 4 Bintang karena kurang suka dengan endingnya -.-
Profile Image for Muammar.
7 reviews
January 2, 2019
Buku ini bagus sekali. Berisi kenangan-kenangan Baltazar, seekor beruang yang "terpenjara" di dalam kebun binatang. Buku asyik karena terjemahannya begitu baik. Buku ini harus dibaca oleh setiap orang (egois memang saran ini, Hahaha), banyak pelajaran-pelajaran yang rasanya hatus dibaca oleh setiap orang. Renungan-renungan itulah inti cerita ini. Keren lah pokoknya.
7 reviews1 follower
May 30, 2022
Sebuah cerita fabel singkat tentang sisa hidup seekor beruang kutub di balik kungkungannya. Vicuña, melalui tokoh Baltazar menceritakan perenungan panjangnya tentang kehidupan biadab manusia dan betapa beruntungnya seekor beruang ketika ia meraih bebas takberbatas.

Tentu saja terlalu naif membacanya tanpa mengingat sejarah Cile tahun 1973 dan pesan terkubur yang perlu digali dari tulisan Vicuña. Terutama tentang kudeta militer oleh Pinochet (dan CIA) untuk menggulingkan Salvador Allende. Mungkin dari sanalah hulu kebejatan “manusia” kepada Baltazar. Mungkin juga tidak.

“Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub,” adalah alegori di bawah kediktatoran yang dilantunkan dengan santun dan lemah lembut. Terlebih terjemahan apik oleh Ronny Agustinus memberikan sastra Amerika Latin ini denyut hidup bagi penutur Bahasa Indonesia. Tiap halamannya, meski (sering) diremehkan jumlahnya, mampu mengantarkan pembacanya ke ruang ayal dan waktu yang tak terduga.

Saya mengerti betul buku ini ramai dikalangan pembacanya untuk ditelaah kembali. Tidak saya pungkiri rasanya jengah pula saya membaca review yang isinya hanya intisari-intisari dari buku ini. Ya, memang itu poin besar yang sering kita cari dalam sebuah buku.

Saya menemukan lubang kejanggalan besar dalam ulasan-ulasan yang melayar di dalam dunia maya. Masalahnya di sini adalah, saya ngeri betul kalau pembaca melewatkan poin yang paling penting. Latar belakang pembuatan buku ini. Tempat, waktu, tokohnya.

Dari halaman pertama, kita disambut profil singkat penulis yang menjelaskan sejumput cerita balik layar. Penulis adalah seorang mahasiswa, peneliti, dan aktif dalam Partai Kristen Demokrat Chile.
Pada 9/11 (11 September) 1973, terjadi kudeta militer oleh Pinochet menggulingkan Salvador Allende. Dari sinilah hulu dari segala kebejatan bermuara. Singkat bicara, Allende adalah seorang socialist yang sangat dikhawatirkan bila menjadi Presiden oleh beberapa oknum. Sampai begitu khawatirnya oknum ini, CIA mengintervensi. Mengejutkannya, Allende memenangkan pemilihan umum. Bukan kepalang aliansi oknum-CIA tadi memutar kepala. Sebut saja rencana Track 1 dan Track 2 digencarkan untuk menurunkan Allende. Dibolak-balikkan sedemikian rupa ekonomi Chile kala itu.

Menariknya, Rene Schneider yang kala itu menjabat menjadi pejabat Militer menolak untuk bersekongkol dengan aliansi tersebut, karena ia percaya sejatinya militer adalah untuk melindungi Chile, bukan untuk alat kepentingan oknum. Naik darah aliansi tadi, Schneider dibunuh, diganti dengan kepala lainnya. Blablabla, Allende juga tewas. Bunuh diri atau dibunuh, hanya tangan yang memegang pelatuk yang tahu.

Rupa-rupanya, pemimpin yang dianggap sebagai sahabat-Amerika-yang-bukan-komunis ini, bejat betul, seorang tirani, seorang diktator mutlak. Militer digunakan untuk mengendalikan sebuah negara, ya jadilah negara dimana penduduknya: duduk diam atau berontak hilang. Luar biasa atmosfir kebejatan politik kala itu, begitu di rasa Vicuña hingga Ia menuliskan novel ini selepas masa kudeta tersebut.

Mungkin bagi yang tidak tahu-menahu sejarah 1973 Chile—seperti saya ketika kali pertama membaca, akan menganggap ini sekadar cerita fabel tentang Beruang kutub yang dikerangkeng dalam Kebun Binatang. Beruang ini sendu melulu, terutama karena merenungkan kejahatan manusia, lalu berita mengejutkannya berada pada halaman terakhir, dinyatakan bahwa Beruang kutub itu dibunuh oleh penjaga kebun binatang. Tapi ketika membacanya kesekian kali, saya mengerti halaman-halaman buku ini bernas, menceritakan kebengisan manusia terhadap sesamanya.

Rasanya sudah cukup seuntai kalimat sinopsis di belakang buku menjelaskan intisari dari buku ini, sadar atau tak sadarnya nalar. Bunyinya begini:

“tentang hidup di bawah kediktatoran, dan penyemangat bagi siapa saja yang sedang tertindas agar tidak menyerah dalam perjuangan mencapai kebebasan sejati.”

Satu karya terjemahan Ronny Agustinus yang patut jadi renungan
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,093 reviews17 followers
September 6, 2020
Novel tipis yang bisa diselesaikan dalam sehari ini memiliki kisah inspiratif menggunakan sudut pandang seekor beruang kutub yang ditangkap dari tempat asalnya untuk dijadikan koleksi di kebun binatang.

Kurang lebih, Baltazar--nama beruang tersebut--merenungkan perjalanan hidupnya ketika sebelum dan sesudah ditangkap. Ia memikirkan arti kebebasan yang selama ini sering disalahartikan oleh sebagian besar manusia. Selain itu, ia memberikan pesan bahwa sepahit apa pun kondisi hidup, hidup harus tetap dijalani dan diperjuangkan.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
July 9, 2019
Aku. Mewek.

Naif kau beruang kutub. Bukannya garang menyeramkan, kenapa malah mellow, penuh pemikiran, bahkan manusiawi? Akhir kisahnya juga tragis banget sih.

Menurut sinopsisnya, kisah beruang kutub yang hidup dalam kerangkeng ini adalah alegori kisah hidup di bawah politik kediktatoran. Singkat, tapi terasa sampai ke hati nelangsanya.
Profile Image for Dion Sagirang.
Author 5 books56 followers
April 15, 2019
Menghabiskan buku ini di tengah-tengah gangguan kereta listrik. Sangat menikmati isi pikiran si Baltazar mengenai manusia. Namun saya yakin bukan hanya itu yang ingin disampaikan Claudio Orrego Vicuna dalam buku ini. Sama seperti pembaca lain, saya memahami hal lain, yang sangat pribadi pada buku ini.
Profile Image for Sandy.
32 reviews
January 3, 2019
Baltazar mengajarkan kita tentang apa makna kebebasan. Buat saya buku tipis ini menjadi warna tambahan bagi mulai dikenalnya sastra dari Amerika Latin di Indonesia.
Profile Image for Wilo.
84 reviews1 follower
June 22, 2020
First thing, kudos to Ronny Agustinus, brilliant translation!

Karya tipis nan inspiratif (Thin book--brings big inspiration) is a perfect way to explain this book. Reading this give you a lot of silent and thinking moment, about human and their unique characters and life. Talking about freedom and equality from the perspective of a Polar Bear living in a cage inside the zoo, a very interesting point of view.
Profile Image for febriani.
109 reviews6 followers
April 5, 2022
Buku ini dituturkan melalui sudut pandang seekor beruang kutub yang dinamai Baltazar. Baltazar pada mulanya hidup di Kutub Utara yang serba putih dan magis, namun kemudian ditangkap oleh "para pemburu anjing laut" dan menjadi salah satu koleksi yang dipertunjukkan di sebuah kebun binatang. Baltazar banyak merenungkan perbandingan hidup di Kutub Utara dengan kebun binatang, dan mengamati seluk-beluk manusia yang mengunjungi kebun binatang serta berinteraksi dengannya. Mungkin bisa dibilang cukup ironis, namun kurasa buku ini justru bercerita banyak tentang manusia melalui hasil pengamatan Baltazar.

Dari blurb di cover belakang buku ini, diketahui bahwa buku ini adalah sebuah alegori politik tentang kehidupan di bawah kediktatoran. Aku mulai merasakan sifat alegorinya pada akhir babak yang menceritakan tentang kenangan masa Baltazar jatuh cinta sebelum ditangkap manusia. Baltazar merenungkan betapa manusia, mungkin lebih khususnya manusia yang membuatnya menderita, tidak menghargai hidup, masa lalu dan impian-impian para beruang, mungkinnya lagi lebih dimaksudkan khusus pada beruang yang disekap manusia. Aku jadi merasa ini analog dengan pola relasi antara orang-orang yang memegang kuasa dengan mereka yang dieksploitasi atau dilumpuhkan kebebasannya oleh para pemegang kuasa tersebut. Terutama bahwa kemudian Baltazar membayangkan betapa mungkin para manusia tersebut juga memperlakukan sesamanya sebagaimana mereka memperlakukan para beruang seolah-olah para beruang tidak punya perasaan.

Perjalanan membaca buku ini terasa cukup baik hingga satu babak sebelum babak terakhir. Pada babak terakhir, Baltazar seperti memperoleh pencerahan yang bisa jadi baik jika saja ia tidak lantas memandang rendah manusia. Setelah memperoleh hikmah mengenai keragaman anak-anak manusia yang pada logikanya mengiringi keragaman manusia dewasa, serta hikmah mengenai kebaikan yang ternyata juga bisa ditemukan pada manusia, rasanya perkembangan pemikiran Baltazar arahnya jadi kurang konsisten kalau justru berujung pada pandangan merendahkan manusia secara umum. Selain itu, secara umum pula perenungan pada babak terakhir tersebut terasa terlalu mengawang-awang bagiku.
Profile Image for Sarah.
27 reviews19 followers
January 28, 2021
Novel tentang perasaan dan kenangan ini membuat saya memikirkan kembali keadaan dan kejadian pada hidup. Sering kali saya sebagai manusia terlalu abai dengan hal yang saya anggap kecil dan tidak penting, sekalipun itu makhluk hidup. Kenangan Baltazar yang tertulis ini telah menampar saya untuk belajar menghargai semua makhluk hidup, dan memandang segala hal tidak dari satu sisi. Renungan adalah yang menghampiri saya setelah saya menamatkan buku tipis ini dalam sekali duduk.
32 reviews
January 13, 2024
3.5/5 awal awalnya bagus kayak banyak dapet messagenya, tapi emang akhir akhir si beruang ini jadi superior merasa paling tau dunia, man dunia itu mah kecil bangettt kita gabakalan ngerti kecuali Allah, jangan sok tauu "you thought you know everything but you know nothing"🙏. ya sesuai sih sama akhir ceritanya yg penjaga kandang nembak beruang karena merasa direndahkan

terus agak sedikit rasis ya wkwkwk
Profile Image for Dedy Ahmad Hermansyah.
42 reviews3 followers
September 10, 2022
Baltazar. Begitulah beruang kutub itu dinamai oleh para pengunjungnya. Melalui masa-masa pengurungan di kebun binatang Chile setelah ditangkap di daerah asalnya yang dingin, Baltazar—atau Si Beruang Kutub—mencoba merenungi kehidupan, khususnya pada makna kebebasan dan kemerdekaan. Dari renungannya itu, kita akan jatuh kagum pada cara pandangnya yang dalam tentang karakter manusia yang penuh kontradiksi: baik-buruk, hitam-putih, dan sebagainya.

Barangkali kita, manusia ini, butuh jarak untuk mengenali diri kita sendiri. Terkadang butuh keterkungkungan untuk bisa memahami kebebasan, butuh kondisi ketertindasan untuk mengenali apa itu kemerdekaan. Baltazar—atau si beruang kutub kit aini—hadir sebagai jarak itu, yang memberi perspektif lebih jernih tentang apa arti menjadi manusia, kenapa manusia bisa saling berbeda satu sama lain, dan bagaimana manusia bisa merebut kebebasan dan kemerdekaan yang hakiki.

Sungguh fabel yang sangat indah. Cerita yang dingin, suara beruang yang hening di tengah keramaian, dan nuansa nyaris gelap pada seluruh halamannya. Namun demikian, kita bisa menangkap ada olok-olok dan humor tidak langsung terhadap diri manusia. Baltazar sungguh beruang yang berhasil menjadi filsuf dengan caranya sendiri.

Kisah tentang si Baltazar alias si beruang kutub ini sungguh sederhana: tentang dia sendiri yang terjaring bersama anjing-anjing laut oleh pemburu dan dimasukkan ke dalam kebun binatang. Kisahnya terentang dalam sepuluh bagian atau bab yang pendek-pendek. Bab-babnya diberi judul mengikuti alur cerita yang maju. Misalnya, “Hari-hari Penuh Ketakutan”, “Hari Penamaan”, “Hari Persahabatan”, “Hari Pembangkangan”, “Hari Nostalgia”, dan lain-lain. Dilihat dari judul-judul tersebut, kita akan menangkap kesan pula bagaimana si beruang kutub memaknai setiap hari dengan perenungan fisolofis.

Sepanjang hidupnya di dalam kerangkeng kebun binatang, di situlah dia bertemu manusia-manusia berbagai wajah dan karakter. Dia menganalisa manusia itu, lantas merenungkannya. Perenungannya tidak melulu tentang manusia yang datang ke kebun binatang, namun juga dia menarik momen nostalgik ketika dia masih tinggal di daerah atau dia menyebutnya: kampung halaman. Kita bisa membacanya dalam bagian “Hari Nostalgia”. Dia bernostalgia tentang dunia beruang yang menurutnya punya dunia fisik dan batin alaminya sendiri, juga cerita asmaranya sendiri. Nostalgia ini sendiri menambah pemahamannya sendiri terhadap karakter manusia.

Masih pada bagian “Hari Nostalgia” ini, kita akan bertemu dengan narasi-narasi yang sungguh manis dan menggemaskan. “Ingatan akan cinta pertamaku, misalnya. Sebab beruang juga tahu cara kasmaran….Aku harus mengakui bahwa ini adalah cerita tak terucapkan sebagaimana seharusnya setiap cinta pertama. Jelas bahwa akulah yang diam-diam mabuk kepayang tanpa si dia tahu apa-apa.” Hmmmm…

Narasi-narasi berbeda nuansa akan silih berganti. Selain nuansa manis seperti baru saja dikutip di atas, kita akan menemukan banyak lagi narasi-narasi lain, seperti narasi filosofis. Misalnya, ketika si beruang kutub kita ini mulai tiba pada kesimpulan apa itu kebebasan ataupun kemerdekaan. “Itulah yang menjelaskan mengapa meskipun aku dikerangkeng, ak merasa kebebasanku bertumbuh. Memang masih bolong-bolong dan tak sempurna, tapi setiap hari lebih baik dibanding manusia-manusia di sekelilingku… Aku takkan pernah benar-benar bebas, tapi aku telah menaklukkan dunia sekelilingku dalam benakku. Dan ini sudah tertanam begitu dalam sampai taka da yang bisa mengambilnya lagi dari diriku.”

Sungguh hasil perenungan yang jembar dan dalam. Inilah yang menjadikan buku super tipis ini justru menyimpan pasokan air yang bisa membanjiri samudera pikiran kita dengan berbagai pemahaman tentang filosofi kebebasan dan kemerdekaan.

Kisah si beruang kutub kita berakhir tragis. Dia mati ditembak di dalam kandangnya sendiri. Dia meninggal tanpa peringatan duka selayaknya. Malahan, isu pemberitaan menyatakan bakal ada tindakan mencari pengganti si beruang kutub kita ini.

Buku ini memang bisa dibaca sekali duduk, tapi alangkah baiknya jika dibaca dengan pelan dan khidmat. Karena setiap kalimatnya penuh binar dan kilau. Jangan baca buku tipis ini dengan terlampau buru-buru.

Buku ini ditulis oleh Claudio Orrego Vicuna, penulis asal Chile, negara di Amerika Latin yang pernah sohor oleh kudeta berdarah Augusto Pinochet yang didukung oleh Amerika Serikat, menyingkirkan pemerintahan demokratis Salvador Allende. Nah, pada momen kisruh politik inilah si penulis novel ini hidup. Jadi kisah tentang si Baltazar atau si beruang kutub kit aini bisa juga dibaca sebagai perenungan bagaimana hidup dalam masa kediktatoran—di mana manusia dikerangkeng oleh rezim yang zalim.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
November 10, 2019
Sebuah kisah unik tentang seekor beruang arif, humoris dan penuh perenungan yang menjadi korban dari kebiadaban manusia. Diceritakan Baltazar bukanlah seekor beruang putih dari Kutub pada umumnya. Dengan perenungan dan pemikirannya dia berusaha memahami bagaimana manusia, Tuhan, cinta dan kehidupan yang ada di sekitarnya dalam waktu-waktunya berdiam diri di dalam kandang beruang sebuah kebun binatang di kota. Sebuah alegori menarik tentang bagaimana binatang memahami manusia -- alih-alih manusia memahami binatang dan alam-- dan berusaha menerima semua yang terjadi dalam hidupnya sambil beranggapan bahwa "kuperoleh kebebasanku saat berada di balik jeruji penjara dan bahkan aku menganggap diriku lebih tinggi dibanding para pengurungku." Hal. 66.

Kisah Baltazar menjadi bahan perenungan bagi manusia untuk bisa memahami dunia dan isinya dari sudut pandang seekor binatang yang direnggut paksa dari habitatnya hanya untuk menjadi bahan tontonan di kebun binatang kota. Baltazar yang awalnya takut dan cenderung menutup diri kemudian menemukan semacam oasis bagi pikirannya dalam bentuk berbagai interaksi dengan anak-anak kecil yang sering berbagi makanan kepadanya. Sebagaimana juga manusia, Baltazar pun menceritakan kisah cintanya sewaktu masih menjalani kehidupan di Kutub. Menganggap bahwa "itulah hari-hari keceriaan dan kegembiraan tak bertepi, dengan kebaruan-kebaruan yang terus terasa menyegarkan." Hal. 32.

Baltazar menggambarkan kisah cinta dengan pengalaman yang bisa dibilang sama dengan apa yang kita alami sebagai manusia. Sebuah kisah cinta monyet yang manusia paham betul, tak ada dari kisah itu yang bisa menjadi nyata atau diselamatkan. "Beruang-beruang betina, yang kelihatan biasa saja sewaktu kecil, sekonyong-konyong bersinar dengan cara yang berbeda, dan aku mendapati bahwa mereka memancarkan kebetinaan yang membuat jantungku berdetak lebih kencang, menyebabkan kebungkaman-kebungkaman panjang yang memalukan dan, paling parah, kikuk terbata-bata." Hal. 33. Manusia mana yang tidak merasakan perasaan itu pada cinta monyetnya dulu?

Pada akhirnya saya harus menempatkan kisah Baltazar sebagai salah satu buku favorit saya, kisah pendek yang ganjil tetapi sarat makna ini sudah selayaknya mengisi rak buku para penggemar kisah-kisah yang ditulis oleh para penulis Amerika Latin. Belum lagi ditambah dengan begitu kayanya buku ini dengan kalimat-kalimat yang quoetable. Lebih jauh semoga bisa menjadi salah satu buku yang menawarkan bahan renungan dan pemikiran baru bagi pembaca yang baru mengenal Baltazar. Mungkin saya harus menahbiskan si beruang Kutub menjadi salah satu cendikiawan dari bangsa binatang.
Profile Image for Nyut.
123 reviews1 follower
April 1, 2024
Beruang yg punya pikiran dan perasaan yg lebih jernih daripada manusia-manusia yg sudah mengurungnya.

Beruang kutub bernama Baltazar ini diambil paksa dari habitat aslinya oleh manusia, yg dilihatnya seperti perwujudan iblis. Dia yg selama ini hidup bersama kawanannya, dan bersahabat dengan alam liarnya yg dingin dan tenang, harus menerima kenyataan bahwa hidupnya kini terkurung di sebuah kandang. Sendirian. Tanpa teman.

Di bagian penggambaran kehidupan awal Baltazar ini aku benar-benar merasa sedih membayangkan kehidupannya yg tiba-tiba jungkir balik. Apalagi membayangkan ketakutan yg dirasakan Baltazar dari awal manusia datang ke habitatnya, merusak alam, membunuh kawanan anjing laut, sampai penangkapan dan pengurungannya. Sedih. Tapi kenyataannya memang manusia seegois itu, sampai lupa kalau dunia ini bukan cuma untuk kita tinggali dan nikmati sendiri. Manusia juga sering lupa kalau makhluk lain juga punya perasaan dan bisa merasa sakit dan ketakutan seperti kita.

Tapi kemudian Baltazar mulai berdamai dengan keadaan. Bahkan dia mulai melihat sisi-sisi positif dari pengurungannya. Dia jadi sering mengamati manusia di sekitarnya dan mulai merenungkan kehidupannya. Sampai dia mempertanyakan apa itu arti kebebasan dan kebaikan. Tubuhnya memang terkurung, tapi pikirannya bebas. Dia bebas mengamati, berpikir dan berpendapat. Dia bebas menaklukkan dunia di sekitarnya dengan pikirannya. Sedangkan manusia yg bebas bergerak, banyak yg terkurung pikirannya, yg membuat mereka berwajah kelabu di mata Baltazar. Bagian ini sebenarnya menggambarkan kehidupan masyarakat Cile di masa kepemimpinan diktator saat penulisan novel ini.

Lalu untuk kebaikan, pada awalnya Baltazar menganggap manusia adalah makhluk keji tanpa perasaan. Hingga pada suatu hari dia melihat seorang gadis gelandangan kelaparan dan kedinginan di depan matanya. Dia sedih karena seperti tidak ada orang yg peduli untuk membantu si gadis. Hingga tiba-tiba ada wanita baik menghampiri si gadis, dan membawanya pergi entah kemana, untuk menolongnya. Saat itu Baltazar mulai sadar kalau manusia itu makhluk yg ternyata masih punya setitik kebaikan dalam hatinya. Kebaikan yg masih mungkin ada lebih banyak lagi di luar sana, di luar batas penglihatannya dari kandang yg mengurungnya.

Kayanya butuh baca dua kali biar bisa lebih meresapi isi pikiran si beruang. Gk masalah. Toh bukunya tipis, tapi isinya berbobot.
76 reviews
October 9, 2025
do you like Laut Bercerita? have you ever read about the thirteen missing activists of 1998, the thousands of enforced disappearance in East Timor, or the stories of Farhan and Reno who were recently taken and haven’t returned after more than a month? have you read about the Global Sumud Flotilla and the hundreds of native Palestinians captured by the apartheid regime? do you ever wonder what went through their minds in captivity, what kind of darkness they had to endure, and whether evil truly won?

this allegorical novel doesn’t give a direct answer to that, but it carries the same weight. the same sense of being trapped, the same fear, confusion, and fragile tenderness that exist behind the prison bars. this book captures the loneliness and quiet resistance of a polar bear forced to live in a zoo, displayed as entertainment for the public, yet able to think on freedom more than us all

Balthazar, as the people in the zoo later name him, contemplates life and rediscovers the essence of liberty within the confinement that holds him. he sees how power manifests through uniforms and symbols, and how NONE OF THAT can truly imprison his mind. his quiet reflection rooted in Pinochet’s dictatorship, where the machinery of fear and control turned even silence into a political act. the white polar bear’s captivity becomes an echo of those dark years; of people taken in the night, of voices censored and memories buried under official narratives. through Balthazar’s thoughts, we see how domination operates through violence and the slow normalization of obedience, the kind that Chileans, and many of us elsewhere today, have had to unlearn to reclaim our humanity

I can’t thank Mbak Firda enough for recommending this book, read it in one sitting haha. it’s available from Marjin Kiri under the title Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub, and also on archive.org. it left me quiet, aching, but strangely comforted. in this current regime, where freedom is shrinking in every corner, this book feels like a gentle hugs: even when everything is taken from us, our mind remains free, and that is where resistance begins
15 reviews
February 11, 2023
Buku tipis setebal 68 halaman ini menceritakan tentang seekor beruang kutub (yang kelak dinamai Baltazar) yang ditangkap oleh para pemburu yang kemudian ditempatkan di kandangnya di sebuah kebun binatang. Ketika berada di dalam jeruji kandangnya, Baltazar banyak melihat, bertanya, memikirkan, dan membandingkan antara kehidupannya sebagai seekor beruang kutub dengan kehidupan para manusia yang dilihatnya dari dalam kandangnya. Tidak jarang Baltazar melihat sesuatu yang aneh/bertentangan dari dunia manusia yang sulit diterima oleh logika beruang kutub yang dimilikinya. Semua itu adalah bagian dari sebuah proses dimana pada akhirnya Baltazar menemukan sebuah kesimpulan, dirinya berhasil mencapai kebebasan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya meskipun dengan kondisi dirinya dimana dia dikurung dalam kandang jeruji besi, yang ia yakin tidak akan dapat dipahami oleh manusia, yang hanya memandang dirinya sebagai beruang kutub koleksi kebun binatang yang dikurung dalam sebuah kandang.
Buku ini sendiri mengingatkan saya dengan Animal Farm karya George Orwell yang menggunakan hewan sebagai alegori dimana penulis berusaha menyampaikan gagasan-gagasannya. Hanya saja dalam buku Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub ini hanya ada satu tokoh yaitu si Baltazar (beruang kutub) yang mana banyak melakukan monolog internal mengenai berbagai hal. Meskipun singkat, buku ini layak dibaca untuk merenungkan kembali, baik tentang perasaan maupun pikiran yang selama ini telah kita yakini. Terimakasih untuk penulis Claudio Orrego Vicuna, penerbit Marjinkiri, dan Ronny Agustinus sebagai penerjemah, atas kerjanya dalam menghasilkan karya yang apik ini.
"Hari itu aku paham apa itu kebaikan. Dan aku juga paham bahwa itu hanya terjadi dalam semacam keheningan, seperti heningnya pohon-pohon di hutan atau gunung-gunung es besar di lautan... Karena keheningan adalah suara kebaikan, tak diragukan lagi bahwa kebaikan berlangsung diam-diam di setiap sudut dunia manusia"
Profile Image for Yanti Lengo.
14 reviews
May 14, 2019
Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub.

Waktu melihat katalog Toko Buku Fanu, judul buku ini sudah sangat menarik perhatian lebih tepatnya penasaran seperti apa isinya.
Setelah hampir dua bulan lebih mejeng di meja di samping tempat tidur, akhirnya selesai juga ia dibaca di subuh hari ini.
Novelet karangan Claudio Orrego Vicuna, yang diterjemahkan oleh Ronny Agustinus, diterbitkan penerbit Marjin Kiri dan setebal 68 halaman ini dibuka dengan, "Barangkali perbedaan antara kita dan binatang hanyalah mereka tidak bisa berbicara, kendati mereka bisa berpikir dan merasa." Dan demikianlah bagaimana sembilan part dari buku ini bercerita dari sudut pandang seekor beruang yang bisa berpikir, menganalisa, merasa dan berbicara bukan dengan suara melainkan dengan tatapan mata.
Bagian pertama buku ini dimulai dengan kisah hari pertama Baltazar, dari balik jeruji besi dengan kilas balik kenangannya akan keluarga di bagian bumi yang ditutupi hamparan es.
Bagian saat Baltazar mengenang kembali cinta pertama yang tak pernah ia miliki, membuat saya teringat akan beruang sahabat Masha saat berusaha mencari perhatian beruang wanita dengan segala upaya gagah-gagahannya-bagaimana ia merasa cemburu, kurang lebih sama dan bukankah si Beruang sahabat Masha hampir tak pernah bersuara?
Kisah-kisah lainnya ditulis Orrego dengan sangat menarik. Saya membuat catatan lebih banyak tentang kebenaran hidup-seperti berbicara dengan diri sendiri-tersenyum sendiri-dari buku yang jumlah halamannya tak lebih tebal dari selembar roti tawar.

Akhirnya dari balik jeruji besi, Baltazar menemukan arti terpenjara, kekuasaan, kebebasan, kebaikan dan kebahagiaan. Sebuah permenungan panjang yang sangat mendalam dan inspiratif. Buku tipis dan kecil ini menurut saya buku yang harus masuk dalm list buku "wajib baca" (wajib punya)
Displaying 1 - 30 of 105 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.