Masalah terbesar Remi: - Aneh - Sulit bergaul - Tidak punya teman
Remi, enam belas tahun, hanya satu dari sedikit populasi siswa aneh dan introver di sekolahnya. Bukan kutu buku, bukan juga genius perfeksionis. Sehari-hari hanya berkhayal, berkeliaran, dan menghabiskan waktu sendirian. Karena suatu mimpi, dia bertekad melakukan perubahan dengan melibatkan Kino, ketua kelasnya yang supel. Bersama Kino, dia memulai pemberontakan—Rebellion—yang mengajarinya hal-hal baru soal persahabatan dan pengembangan diri.
Namun, menginjak usia seperempat abad, usai ditinggal sahabat terbaik dan menghadapi kegagalan dalam meraih cita-cita, Remi merasa kembali ke titik awal. Dia pun mencari arti lain dari pemberontakannya melalui lewat kakak beradik—Emir dan Elang—yang mengantarkannya pada solusi baru: Resilience.
Bukan sekadar mengejar cinta, ini adalah perjalanan mencari jati diri ketika konflik terbesar adalah konflik batin yang berasal dari diri sendiri.
Resilience: Remi's Rebellion adalah buku keempat Nellaneva dengan tema coming of age/general fiction. Buku ini sedikit-banyak akan mengajak pembaca untuk menyelami paradigma seorang Remi, meningkatkan kepedulian terhadap gangguan mental, sekaligus panduan menjadi dewasa. Selamat membaca!
Dalam satu TED Talk-nya, Tim Tamashiro, penyanyi jazz, penyiar radio, dan pembicara di Kanada yang berasal dari Okinawa, mengatakan bahwa ada dua alternatif cara untuk menemukan ikigai atau alasan untuk hidup. Yang pertama adalah dengan melakukan side job, yang kedua adalah dengan menjadi sukarelawan paruh waktu. Untuk menemukan ikigai-nya, seseorang perlu melatih diri seperti seseorang yang terus berlatih karate sampai dirinya naik tingkat hingga mendapatkan sabuk hitam dan level-level di atasnya. Remi dalam cerita ini, kurasa mengambil pilihan kedua, dengan menjadi sukarelawan di banyak yayasan.
Ini adalah kali keduanya aku membaca buku ini sejak pertama kali aku membacanya di tahun 2020. Waktu itu, aku lebih banyak menangis karena sedikit-banyak aku tahu rasanya jadi Remi. Kali kedua ini, aku membacanya lagi untuk memproyeksikan segala rasa sesak yang menguburku hidup-hidup. Aku tak lagi menangisi persamaan nasib dan pola pikirku dengan Remi. Alih-alih, aku berusaha memunguti segala hal yang tadinya terlewatkan olehku saat membacanya pertama kali gara-gara terlalu sibuk menangis.
Kesanku setelah membaca novel ini lagi tidak berubah dari yang pertama. Belum pernah aku merasa seterwakili ini oleh sebuah novel. Seolah novel ini ditulis untukku. Bedanya, keluargaku nggak sedisfungsional keluarga Remi. Pada beberapa fase hidup, aku masih jauh lebih aktif, humoris, dan lebih berusaha menjalin hubungan dengan sesama manusia lain daripada Remi. Tapi dalam beberapa hal, Remi lebih berani menghadapi gejolaknya sambil terus menjalani hari daripada aku. Remi memiliki social anxiety yang parah, tapi dia melawannya dengan menjadi jurnalis lapangan yang mengharuskannya bertemu banyak orang untuk liputan. Berhadapan dengan deadline, keharusan presentasi proyek, menghadapi rekan-rekan kerja yang kurang ajar, meski akhirnya dia mengajukan pindah divisi, sih (dan berhasil pindah karena artikel buatannya mendapat sambutan baik).
Buatku Remi itu kuat luar biasa. Tapi buat Remi sendiri, itu sama sekali nggak benar. Begitu banyak orang yang nggak sadar kekuatannya terbesarnya karena diberangus kecemasan dan ekspektasi pada dirinya sendiri :(
Kutipan di halaman 193 membuatku tercenung karena kebetulan aku sempat membaca sebagian buku The Art of Loving-nya Erich From:
Orang cenderung gegabah mendeklarasikan cinta tanpa benar-benar tahu apa yang mereka rasakan. Mengaku cinta padahal hanya suka fisik dan penampilan. Bilang sayang, padahal hanya mengagumi prestasi serta kelebihannya semata.
Novel ini tentang para manusia berpikiran kelam yang uniknya justru menyulut harapan. Semua orang berhak bahagia dan berusaha untuk mencapainya. Aku merasa terinspirasi untuk bangkit dan menggunakan waktu yang kupunya untuk mengasah lagi segala potensiku. Kali ini, semoga aku tidak berhenti karena rasa takut maupun rasa cemas. Aku ingin belajar lebih banyak lagi soal resiliens.
Masih banyak yang ingin kutulis soal novel ini, mungkin akan kusambung lain waktu. Sampai jumpa lagi, Remi.
Kesan pertamaku terhadap Remi, sejujurnya, enggak begitu baik. Bicara mengenai Remi sebagai karakter, Remi adalah karakter yang ditulis dengan baik, bahkan sejak awal. Personalisasinya jelas dan nyata, Remi betul-betul bisa jadi salah satu orang yang kamu temui di dunia nyata, mungkin pernah papasan di lorong sekolah waktu SMA dulu. Namun bicara mengenai Remi sebagai orang, Remi di bab-bab awal adalah tipe yang akan aku hindari. Kalau mau jahat, aku akan katakan bahwa masalah terbesar Remi bukan hanya aneh, sulit bergaul, dan tidak punya teman, tetapi juga terlampau judgemental.
Makanya, setelah baca tiga bab pertama dalam novel RESILIENCE: REMI'S REBELLION, aku harus rehat sejenak, tumpahin unek-unekku di jurnal untuk mengosongkan benak dari judgement pribadi yang sudah terbentuk terhadap Remi. Sambil berharap, ke depannya Remi akan berevolusi dan enggak lagi berpikiran begitu sempit terhadap orang-orang di sekitarnya. Seenggaknya, nilai plus bagi Remi adalah dia mau mengakui kekurangannya (termasuk pikiran yang sempit itu -- dia sendiri yang mengakui ketika, parafrase, mengatakan bahwa "Terlalu sering menyendiri membuat pikiran jadi sempit") dan bersedia melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Itu adalah satu kualitas yang kukagumi.
And she did! Enggak drastis, dan kadang-kadang Remi mengambil dua langkah maju hanya untuk mundur satu langkah. Namun, progresnya ada. Dan Remi sungguh beruntung karena dia punya teman-teman yang bisa menemaninya, mendukungnya, dan mendengarnya. Kino memang mendapat penghargaan paling besar dalam paruh pertama buku ini, bahkan paruh-paruh berikutnya. Namun, peran teman-teman Remi saat SMA yang lain, mulai dari Adit dan Candra, Vina dan Maura, sampai rekan-rekan Remi di klub ekskulnya enggak bisa dinegasikan begitu aja. Seandainya Remi cuma berteman sama Kino, dia enggak akan ke mana-mana yang terlalu jauh. Remi mungkin enggak 'menyerahkan diri' sepenuhnya pada teman-teman dia yang lain, enggak curhat pada mereka seperti dia curhat pada Kino, misalnya. Tapi kamu enggak harus melulu lebur sepenuhnya dengan semua temanmu. Dengan beberapa orang, kalian cuma klik pada sudut-sudut tertentu dan selebihnya berjalan sendiri-sendiri, dan itu pun bukan masalah. Itu yang bikin relasi pertemanan seru, karena banyak variasi dan sisi.
Pada paruh kedua buku, ada Jois, Elang, dan Emir yang turut meramaikan hidup Remi. Elang adalah kejutan menyenangkan buatku. Beberapa kali aku baca cerita dengan tokoh penyandang disabilitas sebagai supporting role, rasanya agak terlalu mengawang-awang. Terlalu didewakan sebagai sumber 'inspirasi' bagi orang lain. Oh, mereka punya kekurangan, cacat fisik atau mental, tapi mereka tetap bertahan hidup dan terus berkarya, blah blah blah. Tapi Elang normal, layaknya remaja cowok seusianya, yang jail, sok tahu, suka ikut campur, dan sok ganteng sendiri. Tipe adik laki-laki yang ingin kamu uwel rambutnya sekarang lalu cekik lehernya lima belas menit kemudian.
Nellaneva juga berhasil menggambarkan Jois sebagai si teman nyentrik dan Emir sebagai si pangeran es tanpa menjadi stereotipikal. Stereotipe itu seperti asap dan api, mustahil ada kalau enggak ada orang yang menginspirasinya duluan. Tapi saat ini, seringnya orang yang ditulis berdasarkan stereotipe justru jadi tebang rata semua, tanpa quirk pribadi yang membedakan mereka dari orang-orang lain dengan sifat stereotipikal serupa. Singkatnya, tanpa menjadi manusia. Dalam satu ruangan penuh Si Teman Nyentrik dan Pangeran Es, Jois dan Emir bisa langsung kamu kenali sebagai Jois dan Emir, karena terlepas dari stereotipe sifat mereka, mereka punya kepribadian masing-masing yang mandiri dari stereotipe itu, menjadikan mereka individu alih-alih sekadar kumpulan karakteristik.
Secara keseluruhan, RESILIENCE: REMI'S REBELLION adalah novel yang amat kunikmati dan akan kurekomendasikan pada orang-orang. Ada beberapa hal yang enggak kusetujui dan/atau kusukai dari beberapa tokoh dan situasi dalam novel ini. But that's life. Fakta bahwa novel ini masih bisa tetap kunikmati terlepas dari ketidaksetujuan dan ketidaksukaan yang kurasakan, menurutku membuktikan bahwa RESILIENCE: REMI'S REBELLION sebagai novel dan Nellaneva selaku penulisnya enggak bisa diremehkan. Karena seperti yang kusebut di awal, sebagai orang, Remi muda mungkin enggak begitu kusukai, tetapi sebagai tokoh, dia brilian. Good characters don't always have to equal likeable characters.
Cerita yang bagus dengan komponen elemen yang cocok dan penulis yang baik akan tetap jadi cerita yang bagus, despite all the differences ye may have wit it.
Resilience : Remi's Rebellion merupakan novel kedua Nellaneva yang kubaca. Jika novel sebelumnya kental dengan nuansa fantasi, kisah Remi ini lebih cocok ke young adult.
Masih sama seperti novel sebelumnya, aku suka dengan gaya menulis Nellaneva. Kali ini Nellaneva mencoba mengisahkan kehidupan Remi dengan konsep buku harian. Bagaimana sosok Remi yang introver, tidak percaya diri, pesimis, aneh dan sejumlah kata yang sepadan dengannya mengisahkan kehidupannya.
Novel ini terdiri dari 2 bagian besar, saat Remi masih remaja dan Remi dewasa. Keduanya masih memiliki masalah yang sama : sulitnya Remi bersosialisasi dan memiliki teman. Jika di masa remajanya, ada Kino yang membantunya melewati masa remajanya. Di masa dewasanya, dia bertemu sosok Emir yang dingin dan ketus.
Aku suka bagaimana seakan aku mengintip rahasia terdalam Remi. Apa yang dia pikirkan, apa yang dia rasakan. Walaupun kadang aku pikir, dia itu kadang berlebihan dan terlalu banyak berpikir.
Semakin lama membaca aku semakin memahami kenapa Remi menjadi pribadi seperti itu. Lingkungan keluarga yang seharusnya mendukungnya dan memberikannya kehangatan dan kepercayaan diri malah tak memedulikannya 😭😭😭
Campur aduk baca kisah Remi. Walaupun memang alurnya cenderung lambat karena konsep buku hariannya, tapi aku jadi bisa lebih dekat dengan Remi.
Secara keseluruhan, kamu suka dengan kisah mental illness kamu wajib baca novel ini
Kalau kamu seorang introver, maka ku rekomendasikan buku ini untuk kamu baca. Kenapa? Ini bagus banget. Kita bakalan nemuin banyak pelajaran bagaimana menenangkan pikiran-pikiran buruk yang kerap datang, bagaimana menyikapi sebuah masalah ketika tidak ada solusi yang tepat, bahkan bagaimana cara kita berbagai beban yang kita miliki tapi kita sendiri tak memiliki teman dekat sekalipun? Sedangkan keluarga tidak ada yang peduli.
Ku rasa masalah-masalah dalam kisah Remi ini related sama kehidupan sebagian orang. Tapi, ku beri tapi ya, baca buku ini harus benar-benar dalam kondisi stabil, karena akan cukup bahaya jika kita membacanya tapi kondisi hati dan pikiran sedang buruk. Bisa-bisa kita terbentuk menjadi pribadi yang lebih dari introver.
Kisah hidup Remi ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama yakni aku sebagai Remi, dengan konsep buku harian. Sehingga kita bisa tahu betul, bagaimana kondisi Remi setiap harinya. Up and down hidup Remi. Jungkir balik Remi menghadapi dunia yang mengerikan. Bagaimana menghadapi orang-orang baru yang masuk ke dalam hidupnya.
Buku ini tentang mental illness. Ditulis dengan apik dan menarik oleh penulis, sungguh tidak membosankan dan sedikit sarkas. Dan itu yang membuat pembaca sepertiku betah berlama-lama membaca buku harian Remi. Seperti sedang mengintip, baca diam-diam tentang satu persatu rahasia hidup seorang teman. Seru tapi terkadang, "wah aku banget ini 😭"
Kurasa salah jika hanya orang introver saja yang membacanya. Ku sarankan juga orang-orang yang bukan introver (ekstrover) agar membaca buku ini juga. Sehingga kamu sebagai bagian kaum ekstrover lebih peduli, peka, mengerti, memahami, bahwa gambaran kehidupan orang introver ya seperti Remi. Dari buku ini kuharap juga kaum ekstrover tidak melulu mengutuk kaum introver sebagai kaum yang aneh, payah dan mengganggap kaum introver sebagai produk sosial yang gagal. Menyakitkan sekali yaaa? Setidaknya setelah membaca ini, kaum introver dan kaum ekstrover mendapatkan pencerahan. Bagaimana caranya agar saling memahami, dan paling penting saling mengisi satu sama lain.
Di buku ini, kita juga belajar tentang psikologi. Banyak istilah-istilah baru. Ada beberapa istilah yang menurutku tidak terlalu asing, karena aku pernah mendapatkannya di perkuliahan. Aku jadi merasa diingatkan oleh penulis tentang ilmu tersebut.
Aku berterima kasih sekali kepada penulis, sudah menulis buku sebagus ini. Membuat pikiranku lebih berkembang. Terima kasih juga karena telah memberikan kesemoatan untuk membaca buku super keren di penghujung tahun 2018 ini!
Saya percaya, setiap dari kita memiliki sisi seperti Remi.
Beberapa hal di dalam novel ini membuat saya bernostalgia dengan diri saya semasa SMA. 6 tahun yang lalu mungkin. Berada di ekstrakurikuler Japanese Club. Lebih memilih novel ketimbang teman. Penyendiri semenjak SD. Walau saya tidak pernah dirisak (seingat saya) tapi, apa yang Remi alami juga saya alami. Bagaimanapun, saya berkali-kali menahan air mata. Remi, kamu hebat!!
Kemarin, sewaktu saya mengajar di kelas 8 dengan materi Bakat. Saya membahas perihal bakat sosial. Saya mengatakan bahwa orang yg memiliki bakat sosial yang rendah itu tidak baik, tanpa saya berikan sebuah saran agar bakat sosial tersebut menjadi lebih tinggi. Saya sadari, sebagai calon konselor saya masih kurang belajar. Saat membaca kisah harian Remi, saya berencana menggunakan buku ini sebagai salah satu media dalam teknik konseling saya. Masalah Remi adalah masalah semua remaja. Ketakutan akan pertemanan bahkan masih dirasakan oleh saya yang sudah 20tahun ini. Mungkin ini pribadi, tapi ditinggal berkumpul oleh orang-orang yang saya sebut teman itu sudah cukup memuakkan.
Remi, dengan kesungguhannya walau pasang surut, dia tetap berusaha untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Karena sejatinya bukan seberapa banyak teman yg kamu punya, tapi seberapa berkualitas hubungan pertemanan kalian. Beruntung, Remi punya Kino. Saya iri.
------
Novel ini terbagi 2 bagian. Rebellion dan Resilience. Menceritakan Remi di tahun 2008 dan Remi di tahun 2017. Bagaimana masa lalu benar-benar membentuk kepribadian seseorang (terkutuklah saya yg semester kemaren ga serius di matkul Teori Kepribadian). Dari blurb sudah jelas sih bagaimana kisah Remi ini, tapi kalian tetap harus baca sendiri karena cara Remi berjuang itu luar biasa. Saya kagum! Akan saya rekomendasikan buku ini keapda murid-murid saya nanti.
Ada beberapa hal yg mungkin kurang untuk novel setebal 480hlm ini. Saya merasa kurang di bagian keluarga Remi. Saya percaya teori yg dibawa penulis perihal masa lalu seseorang membentuk kepribadian orang itu di masa kini. Tapi, peran ibunya kurang kejam, ayahnya kurang sadis, dan saudaranya kurang beringas. Eh tp ini jadi serem banget ya. Tp saya liat Remi jd keliatan tidak semenderita itu sebenarnya tapi semua itu hanya karena pikirannya saja. Padahal kalo penderitaan Remi di rumah lebih diekspos bakal lebih kentara akarnya dari mana. Dan, saya masih kurang ngerti sedekat apa sih hubungan Remi dengan Pamannya? Dan Kino, kenapa menjadi semenyebalkan itu?
Terlepas dari itu saya suka temanya, saya suka porsinya, saya suka selipan ilmu psikologinya, saya suka selipan-selipan nama penulis dunia nya, saya suka emosi yg diciptakan penulis, saya suka novel remaja dengan tema seperti ini. Saya juga suka covernya, Remi sekali.
Good job ka Nel, saya tunggu cerita-cerita sejenis Remi lainnya ya.
Cerita ini pernah kubaca waktu masih di Wattpad, dan mungkin satu-satunya cerita yang ada di library-ku 1 tahun belakangan sejak iPusnas dan Gramedia Digital mewarnai hari-hariku. Remi selalu kutunggu.
Hal yang membuatku menyukai Remi adalah karena ia terasa dekat, aku bukan Remi---dan tak punya Kino--- tetapi menjadi manusia introvert dan mendorong diri untuk lebih berjumpalitan di dunia yang luas ini, sungguh susah. Dan kutahu ada banyak manusia yang berperang melawan dirinya sendiri. Kusuka Remi sebab kuharap para remaja yang membaca sadar, masalah mereka tak hanya menyoal cinta seperti yang sering dibaca atau ditonton di kisah-kisah remaja. Nggak semua remaja berjuang mendapatkan tjinta pujaannya, beberapa berjuang untuk mencintai dirinya sendiri, menemukan dirinya sendiri, seperti Remi, aku, atau yang lain. Kusuka perkembangan Remi di sini, terasa perlahan, realistis, dan semakin dewasa. Ku tak bisa berkata banyak, jika kau ada waktu luang dan kesempatan untuk membaca Remi, bacalah. Tak akan rugi. Sukses untuk Kaka Dhira!
Lagi-lagi gak dibuat kecewa sama karya-karyanya Ka Nellaneva. Selama baca, aku ngerasa relate sama Remi huhuhu. Walaupun di bagian awal-awal agak ngerasa ngebosenin tapi mulai di pertengahan udah mulai seru! Suka banget ceritanya terkesan santai tapi isinya berbobot. Oiya, btw sesekali aku ikut baper plus greget sama Emir!!😭
Kenapa gak dibanyakin aja novel kayak gini ya.. lebih banyak menceritakan tentang social anxiety, nihilis, overthinking, dll (yang cenderung banyak dialami remaja jaman sekarang) karena masa remaja bukan cuman soal cinta-cintaan aja.. Apalagi novel ini pake PoV 1, yang bikin ceritanya lebih real dan pembaca bisa merasakan apa yang Remi rasakan.. Oh ya, karakter yang paling aku suka disini adalah Jois 😁 Ku berharap ada Jois di kehidupan nyata yang mau jadi sahabatku huhu Terimakasih Kak Nellaneva, ceritanya bagus, 😍 ku tunggu karya selanjutnya untuk segera diterbitkan hehehe..
Banyak yang aku rasain ketika baca buku ini. Kadang rasanya seperti melihat diriku sendiri, kadang juga tidak. Sebetulnya aku baru tau ada istilah "Resiliensi" baru-baru ini tapi aku tidak sempat mencari tahu, tapi lewat buku ini, aku jadi mengerti.
Sedikit banyak buku ini ngasih aku pengertian tentang menjadi dewasa. Dengan diksi yang cantik dan mengalir aku menemukan bahwa untuk bangkit kembali dari keterpurukan butuh self resilience yang besar. Hal itu salah satunya bisa didapat dari dukungan dan kasih sayang orang sekitar.
"Mungkin yang manusia butuhkan cuma orang-orang yang tepat untuk menyelamatkan mereka."
Sehabis membaca buku ini, aku jadi sangat menyayangi karakter Remi, she's indeed an inspirational character. Dia jujur dan apa adanya, punya prinsip dan mau berubah untuk menjadi lebih baik dan juga berani. Aku suka sekali dengan character developmentnya.
Buku ini sangat-sangat membantu aku untuk keluar dari lubang hitam bernama kecemasan dan juga menambah kepedulianku terhadap kesehatan mental, kita tidak pernah tahu seberapa kuat kita sebelum kita menyadarinya. Walaupun hanya untuk bertahan hidup setiap harinya, sejauh ini kita sudah melakukan yang terbaik.
fiuhhhh selesai cukup menguras emosi, bagaimana dari awal remi memulai sosialisasi dengan lingkungan sekitar, minta bantuan siswa detensi, mulai dekat dengan temen sekelas, sampe akhirnya ketemu jodoh. ya begitulah kisah perjalanan remi yang ditulis di "jurnal" nya.
kisah remi ini keknya relate sama kebanyakan remaja menuju dewasa. mengenai jati diri, anxiety, masalah keluarga, sekolah, masa depan, karier, overthinking, dan apapun masalah psikologis lainnya.
kisah ini fiksi memang, tapi kok kesannya kayak nyata dan begitu dekat dengan lingkunganku. bahkan aku sendiri adalah "copy-an dari remi"
resiliensi, gimana cara kita bisa bangkit dari kemurungan yang menimpa kita. lingkungan juga bisa berperan sangat penting membantu penyembuhan luka batin ini. kadang kita emang bisa menyelesaikannya sendiri, tapi ga jarang kita butuh orang lain yang mau mendengar dan bisa dijadikan sandaran sebagai penopang kita tetap kuat menjalani kehidupan yang keras ini. kita harus menghadapi masalah, bukan lari menghindarinya.
Buku pertama di tahun ini yg kukasih rating 5/5 dan aku ga akan ubah ratingnya.
Impresi pertama pas baca buku ini tuh, "agak pick me ya." Karena di awal jelas sekali Remi terkesan meng-ekseklusi perspektif dia dan merasa semua orang itu sampah.
Tapi lama-kelamaan mulai paham kenapa Remi sesinis, se-bitter, dan sesarkas itu sama orang-orang di sekitarnya. Aku suka bukunya yg realistis, suka karakter Remi yg lugas dan jujur.
Dari awal baca aku ga ber-ekspetasi apa-apa. Baca review buku ini & blurb-nya juga nggak. (Jadi aku benar-benar gak punya ekspektasi apapun saat baca) but surprisingly aku suka banget. Lebih suka lagi saat baca endingnya, tbh kalo endingnya ga sebagus itu mungkin rating dariku ga akan sampai 5. Ngikutin Remi remaja sampai Remi dewasa ternyata bikin aku terharu juga.
Eksekusi konfliknya pun gak lebay kayak sinetron. Sempat khawatir liat adik Emir, takut anak ini rupanya sakit keras atau apa, ternyata enggak HAHAHAHAHAH.
Aku mau bahas karakternya satu-satu tapi kayaknya lain kali aja^^
Awal membaca, cerita masih dapat diikuti. Namun, mendekati bagian kedua, ceritanya cukup membosankan.
Cerita dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama tentang Remi yang memiliki masalah dalam bersosialisasi. Lalu bagian kedua adalah tentang Remi saat usinyanya 25 tahun.
Aku suka semuanya. Konfliknya real. Komplainku cuma 1. Kenapa enggak dipisahin aja sih yang bagian 1 biar jadi teenlit. Yang bagian 2 jadi young adult. Jadinya harus ngawasin putriku yang baca supaya mandeg di bagian 1. Emaknya puyeng dan aslinya males mikir😁😁😁 kalau harus menjawab hal-hal 'berat' tentang filosofi hidup ke anak 13 tahun.
Buku ini menceritakan tentang pengembangan diri seseorang dan jujur ... ini bener-bener nguras perasaan dan emosiku.
Dimulai dari tampilan dulu deh. Covernya sederhana tapi menarik banget. Sukak! Lay outnya juga rapi jadi mata gak pegel.
Nah sekarang, mulai deh. Baru memasuki bab pertama aku sukses dibikin mewek. Mungkin karena aku mengalami masalah yang sama dengan Remi---overthinking---dan jadi bisa relate banget. Dan apa yang Remi rasakan sama keluarganya .... jujur aku terpelatuk di situ makanya mewek :'D
Aku suka tokoh Remi. Dia ga muna, kuat, takutan, tapi mau berubah. Bagaimana karakternya bisa berkembang bener-bener bikin aku kagum karena sejauh ini ya, ini adalah salah satu buku dengan pengembangan karakter terbagus yang pernah kubaca. Cara penulis bisa membuat dia "break her walls & bubble" bener-bener bikin aku terpana. Ga terburu-buru juga ga bertele-tele. Bener-bener pas.
Mungkin aku hanya butuh sedikit lebih banyak peran dari chara lain seperti Adit, Rian, dkk kali ya. Tapi selebihnya, bener-bener fine dan since ini berupa buku harian, wajar kalo Remi ga begitu ceritain mereka di sini.
Dan aku suka banget sama tokoh Emir. Cara karakternya berkembang juga bagus. Aku suka cara Ka Nellaneva ga bikin sifat dia berubah kaya apa yang biasanya terjadi di cerita-cerita romance (you know lah, cowo dingin cuek tau-tau jadi peduli, romantis, dkk). Aku suka bagaimana si Emir ini tetap pada karakternya. Dan sejauh buku ini juga, karakter Emir bener-bener sukses bikin kepo se kepo-keponya banget.
Aku ga menemukan kesalahan penulisan sih sejauh ini. Jempol banget untuk yang ini. Typo ga ada samsek.
Terakhir ... aku bener-bener berharap buku ini bisa jadi best seller. Serius. Pesannya bener-bener bagus. Dan kurasa remaja seumuranku harus baca buku ini. Remi harus bisa dikenal banyak orang. Aku merasa tertolong banget sama buku ini dan aku mau banyak orang juga tertolong sama buku ini.
Buku ini bikin kita jadi melek sama mental illness. Dan bikin yang punya masalah mirip kaya masalahnya Remi jadi ngerasa punya harapan di masa depan dan mikir "HEY I'M NOT ALONE YA TERNYATA. RUPANYA ADA JUGA ORANG YANG SEPERTIKU!" Dan itu bisa memotivasi mereka untuk terus berjuang.
Terima kasih kepada Nellaneva karena sudah membuat cerita ini. Semuanya terasa real dan bikin aku punya harapan lagi :'D
This book doesn't deserve 5 star lmao IT DESERVES ∞ STARS ✨
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Tapi, katamu hidup enggak ada makna" "Justru karena hidup enggak ada maknanya maka kita yang harus memberi makna"
Those words hit me so hard. So hard. ==
Ini pertama kalinya bagiku baca novel bertemakan mental illness, anxiety. Dan sebagai pertama kali Remi bisa berikan pengalaman membaca yg penuh makna buatku.
Dibuat dengan POV 1 sehingga bisa paham betul karakter Remi selaku pemeran utama. Meski begitu karakter-karakter yg lain juga berkembang dengan baik. Gaya penulisannya pun mudah dipahami. Saat membaca Remi terkadang terasa seperti membaca diriku sendiri. Aku menemukan beberapa kemiripan antara aku dan Remi.
Buku ini tidak melulu menceritakan tentang pergolakan Remi. Persahabatan antara Remi-Kino dan Remi-Jois juga dibangun dengan epik. Hubungan kekeluargaan Emir dan Elang pun berhasil membuat iri. Terselip sedikit adegan romantis dan itu sama sekali tidak mengganggu.
Karakter favoritku adalah Elang! Sungguh hebat bagaimana anak semuda itu dengan keterbatasan fisiknya bisa tetap 'utuh' dan selalu ceria.
Ada beberapa adegan yg membuatku terharu hingga berkaca-kaca. Tapi adegan surat Kino sukses membuatku banjir air mata. Been there done that 😢. Adegan Remi kehujanan menunggu jemputan sepulang dari Baluran menuju Yogyakarta pun sukses membuatku tersipu-sipu. Entah kenapa aku sangat suka penulisan adegan itu hehee.
Aku rasa buku ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan. Tidak peduli ekstover atau introver, tua atau muda, buku ini bisa memberikan makna tersendiri bagi pembaca.
Baca buku ini rasanya seolah-olah menjadi Remi sendiri, merasakan suka-dukanya dan melalui segala perjuangannya. Part I sukses bikin hati hangat, senyum seiring Remi berkembang menjadi sosok yang lebih dia inginkan, cengar-cengir seraya ikut merasakan keceriaannya bersama Kino. Enggak bisa enggak ikut nangis bareng Remi, enggak bisa enggak ikut tertawa sama Remi. Pokoknya emotional rollercoaster banget. Part II benar-benar inspiratif, banyak banget moral yang bisa diambil dari buku ini. Aku membacanya cukup cepet dan langsung tenggelam dalam keseharian Remi, pengalamannya, terang-gelapnya. Suka banget sama buku ini, selalu. Mungkin Remi enggak tahu, tapi dia sendiri udah begitu bermakna buatku :)
Membaca dan ikut masuk ke proses pencarian jati diri karakter di buku ini bikin aku merenung, nostalgia, dan mereset kembali. Kayak ada ikatan emosional karna ditulis dengan format buku harian, tapi justru itu unikkk banget. Dan jujur banget, kayak ngalir gitu aja. Di awal aku betul2 kesal sama karakter utama yang bikin orang nggak tahan, tapi (anehnya) nggak bikin bosen. Jadi aku memutuskan buat lanjut baca, memposisikan aku sebagai Remi di situasinya, dan lama kelamaan jadi mengerti. Buku ini cocok buat remaja mendekati 20, atau siapapun yang sedang dalam proses mencari jati dirinya.
Membaca kisah Remi ini, aku jadi kepikiran sama teman SMA ku dulu. Dia ini semacam Remi, namun gak lebih dari Remi yang selalu ingin 'mati' dan mencoba beberapa percobaan yang akan menyakiti diri-sendiri. Mungkin juga, aku dulu sering menjumpai anak-anak semacam Remi. Tapi yaa itu, karena tingkat kesadaranku dulu sangat rendah, dan sikap gak pedulianku sama orang lain di SMA dulu selalu mendominasiku. Yaa, lebih pastinya sih karena aku gak mau mencampuri urusan orang lain.
Dan setelah membaca Resilience Remi's Rebellion ini, aku seakan tertampar. Melihat sikap Kino yang dengan senang hati membantu Remi 'bangkit', walaupun Kino sendiri juga ternyata hidupnya gak semulus yang aku kira. Aku selalu berpikir 'urusanku sendiri aja gak kelar-kelar, ngapain ngurusin urusannya orang lain? Buang-buang waktu' EGOIS. Iyaa, tapi Kino enggak, pertemuan Kino dan Remi ini bisa dibilang saling menyembuhkan luka, mereka saling menyemangati, menasehati, mendukung, dan merangkul.
Walaupun rasa takut untuk memulai pertemanan juga masih sering aku rasakan, dari dulu masih suka begitu. Dan aku, aku gak pernah melakukan apapun, kalau-kalau ada yang mau berteman denganku yaa silahkan, kalau gak yaa gak papa. Sedangkan Remi? Dia bertekad melakukan perubahan, walaupun dia melakukannya jatuh bangun. AKU SALUT sama Remi, Remi hebat, Remi kuat. Dan dulu, jujur saja, aku terlalu sombong memiliki beberapa teman, sering kali membully teman semacam Remi (walau aku sendiri gak beda jauh sih, tapi kupikir waktu itu aku punya teman, aku harus ikut-ikutan temenku supaya aku tetap punya teman) YAAMPUN! Aku malu.
----------
Mengikuti perjalanan Remi mencari jati diri ini membuat aku secara gak langsung ikut intropeksi diri. Didunia ini gak ada yang sempurna, begitu juga Remi dan teman-temannya. Membuat aku ikut merubah pemikiran menuju pemikiran dewasa
Dibagi menjadi dua bagian, menceritakan Remi pada masa SMA dan Remi ketika menginjak usia dewasa. Di masa SMA ketika Remi sedang dalam keadaan sangat terpuruk, Remi masih beruntung, dia punya Kino, teman untuk berbagi lukanya, yang selalu menyemangatinya, yang mau mendengarkannya. Dan ketika Remi bertekad melakukan perubahan, disini aku mulai sedikit lega, didampingi Kino Remi melakukan sedikit demi sedikit perubahan diri. Meskipun Remi jatuh bangun melakukannya, tetapi ini nilai plus buat Remi, dia ingin berubah, gak pasrah sama keadaan yang menimpanya. Selain Kino, ada juga Chandra, Adit, Rian, dan Sanri. Walau mereka gak lebih banyak dari Kino dalam membantu masa perubahan itu. Ya, Kino memang seberharga itu buat Remi.
Dibagian kedua, ada Jois, Uzi, Emir dan Elang yang mampir dikehidupan Remi, walau Kino masih sering terseret-seret. Mereka semua menemani Remi, memberikan warna baru dikehidupan Remi selanjutnya. Dengan karakter mereka yang berbeda-beda, jujur saja, disini menjadi bagian favoritku sekaligus menjadi bagian yang bikin aku merasa bahagia. Disini Kak Nella menggambarkan karakter-karakter tokoh bener-bener seperti hidup. Aku bahkan sempat merasakan mempunyai teman dengan karakter seperti semua tokoh diatas.
Menurutku, dibagian keluarga Remi kurang terekspos. Aku sempat berharap Ibu dan Ayah Remi disini lebih mengeluarkan perlakuan kurang baiknya mereka ke Remi seperti yang Remi katakan, juga sodara-sodaranya yang kurang solidaritasnya. Tapi itu nanti jadi terkesan lebih menyiksa Remi sih. Yaa aku jadi paham sekarang, bagaimana bisa sosok Remi yang digambarkan begitu baik walau terkesan jelek bisa menjadi sosok yang sangat pesimis dan introver.
Selebihnya, aku SANGAT SUKA kisah Remi ini, aku juga SANGAT MEREKOMENDASIKAN novel ini, dari baca kisah Remi ini, pemikiranku jadi semakin luas. Aku suka temanya, aku suka cara Kak Nella menceritakannya. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah Remi ini khususnya untuk aku, pandanganku untuk orang semacam Remi juga berubah.
SANGAT PUAS sama ceritanya, ini bukan cerita remeh yang melulu tentang cinta, walau pas dibagian Remi terpuruk aku sempat berhenti baca sebentar karena gak kuat, selalu begitu.
"Orang zaman sekarang susah bahagia gara-gara hidup mereka sudah terbiasa tercukupi sejak kecil. Makanya, ketika sesuatu tidak berjalan lancar atau di luar rencana mereka cenderung kecewa berlebihan" [hlm 247] • Well, kesan ku setelah buku ini selesai adalah : aku-butuh-buku-kedua.
Walaupun novel ini bersi 479 halaman aku tetap merasa novel ini punya akhiran yang kurang begitu memuaskan. Mungkin bukan kurang memuaskan tapi aku mengakhiri buku ini dengan banyak pertanyaan seperti, "loh terus si ini gimana? Si itu gimana?"
Jadi ya, aku butuh buku kedua, hehe. • Novel Resilience di tulis menggunakan sudut pandang orang pertama --Remi-- dengan konsep buku diary. Aku selalu suka konsep penulisan yang satu ini karena ngerasa beneran baca buku diary orang lain. Dan karena menggunakan konsep buku harian udah pasti narasi nya hampir mendominasi buku ini. Tapi kalian tenang aja, buku ini J A U H dari kata mem-bo-san-kan😆
Banyak banget kata-kata filsuf yang aku temui di buku ini sampai aku ngerasa butuh catatan sendiri buat Glosarium. Padahal di akhir halaman juga ada glosariumnya tapi aku merasa kata-kata yang disisipkan di sana kurang banyak 😂😂
Dalam satu buku terdapat 2 bagian; Bagian pertama adalah tulisan Remi semasa remaja dan Bagian Kedua lebih mengarah ke masalah asmara Remi yang mana ceritanya semakin lama semakin terkesan complicated karena Remi sudah bukan anak remaja lagi.
Di masa remaja Remi yang introvert dan takut untuk mati sendiri berusaha untuk mencari teman karena ia merasa hidupnya terlalu sepi dan dunia nya tidak bergerak sama sekali. Bagian pertama juga seruuuuuuu, Remi bener-bener keliatan banget proses merubah jati diri nya. Perubahan itu tidak di tulis dengan alur yang cepat, tapi tidak lambat juga.
Di Bagian kedua ini, lah masalah asmara Remi dimulai. Aku gak mau spoiler tapi yang mau aku bilang ke kalian, ini bukan kisah asmara receh yang cowok nya jago bikin kata-kata atau baik hati, hoho. The most important thing walaupun bagian kedua lebih mengarah ke masalah cinta-cintaan, tema yang dari awal berusaha dtuangkan di buku ini gak menghilang gitu aja, justru mulai kusut nya disini dan aku masih tetep dapet sisi positif di bagian ini. Poin plus lagi buat buku Resilience! • Dannnn apa kita perlu membahas cover? Bahan covernya bagus bangetttt. Design bagian blurb juga kece abis 😍😍 • Untuk buku sebagus ini kenapa cuma aku kasih bintang 4? Jujur, sebenernya aku ngasih 4,8 tapi goodreads gak menyediakan bintang yang nanggung-nanggung gitu, kan ya 😂 bagian yang hilang cuma karena aku butuh kedua kok, hehe.
Sebenernya buku ini udah kelar dari beberapa hari lalu, tapi baru sempet dibuat ulasannya sekarang wkwk sekalian biar bareng sama ulasan di IG. 😂
❝Justru karena hidup enggak ada maknanya, maka kita yang harus memberi makna.❞ ―Resilience: Remi's Rebellion, Nellaneva
Resilience: Remi's Rebellion (RRR) nyeritain perjalanan hidup Remi melawan kecemasan dan perang batin dengan dirinya sendiri. Buku ini punya 2 bagian: pas Remi SMA (masa "rebellion") dan pas dia udah gede (masa "resilience").
Ini adalah buku kedua penulis yang saya baca dan lagi-lagi saya dibuat terpukau. Saya sampai bingung harus mulai ngulas dari mana.
Dari Remi dulu deh. Seperti yang udah sempet saya singgung, Remi merupakan wujud dari introver akut. Terlebih lagi, dia pernah dibully temen-temennya pas sekolah karena parasnya "nggak sesuai standar kecantikan yang dibentuk masyarakat". Dia juga sinis, tapi justru saya suka!
Selain Remi, ada juga tokoh-tokoh lain (Kino, Sanri, Emir, Elang, dll) yang turut 'membantu'nya.
Kalo boleh jujur, awalnya saya merasa buku ini agak ketebelan. Saya bahkan merasa agak bosan di bagian-bagian awal (mungkin karena konflik yang disuguhkan, bagi saya, terasa kurang menggelegar). TAPI menjelang akhir, saya mulai nggak bisa berhenti baca. Saya bahkan rela bergadang demi nyelesaiin RRR saking keponya.
Tapi kalo diliat sisi positifnya, menurut saya ketebalan RRR ini justru bagus karena perkembangan karakter Remi bisa lebih dihayati tanpa ada kesan terburu-buru. Dan walaupun tebal, isi buku ini berbobot. Jadi, sepadan lah hehe.
Selain itu, penulis menyelipkan isu-isu seperti kepercayaan, nihilisme, quarter life crisis, adopsi anak, penyakit mental, dsb yang masih jarang saya temuin di novel remaja lokal lainnya. Rasanya jadi kayak baca paket komplit.
Buku ini juga punya unsur romansa. Tapi romansanya membangun dan menguatkan(?). Dan saya gemes sekaligus gregetan sama Emir!
Yang agak disayangkan adalah pas Remi menolak ke psikiater karena takut dicap kayak 'pamannya'. Tapi di sisi lain, saya paham sih pemikiran kayak Remi tuh ada aja di dunia nyata. Jadi, masih bisa kumaklumi.
Intinya, saya menikmati RRR. Kalo kalian lagi butuh bacaan ringan dengan isu berbobot, boleh baca buku ini! Dan gara-gara baca RRR, saya memutuskan satu hal: saya bakal menunggu karya-karya penulis berikutnya. :)
Di penghujung tahun 2021 ini aku butuh sesuatu yang segar, ringan (maksudnya tidak seberat buku pengembangan diri) tapi tidak dangkal. Dan aku bertemu Remi, seorang gadis aneh yang memiliki masalah dengan hidup dan kehidupan. Dari gerutuan-gerutuan Remi di buku Jurnalnya aku jadi menyadari bahwa perasaan manusia sekompleks itu. Dengan detail dan jujur Remi menumpahkan seluruh isi hati, rasa senang, sakit, sedih maupun kecewa yang ia rasakan sebuah pengalaman baru untuk merasakan perasaan tokoh karena narasinya yang gamblang dan mengangkat kehidupan Remi yang tak jauh dari Realita.
Meski pada awalnya agak skeptis Remi bisa berubah menjadi lebih baik, tapi aku dihiburkan dengan gagasan-gagasan seorang gadis remaja yang sangat jujur tentang dunia. Seperti pemikiran Remi soal cinta yang merupakan produk kapitalis, bagaimana dunia tidak bekerja seperti fiksi, keluhan blak-blakannya yang kelak menjadi refleksi bagi Remi dewasa di kemudian hari. Aku belajar banyak dari Remi, dan tokoh-tokoh dalam buku ini. Terutama pemikiran Emir tentang kehidupan, dan langkah Remi untuk beranjak dari masa lalu. Dan ternyata Remi bisa berubah, meski pelan dan jatuh bangun melulu, gagal dan gagal lagi, tetapi Remi berhasil menunjukan kualitasnya sebagai seorang manusia.
Tak lupa satu alasan aku jatuh cinta sama buku ini tak lain dan tak bukan ialah selipan kisah cintanya yang benar-benar realistis. Tidak mengawang-ngawang seperti dongeng Cinderella atau ceritera romansa lainnya. Jadi, mungkin saja bisa kugapai.
Satu lagi yang kucintai dari gerutuan Remi ialah kata-katanya yang berbunyi, "Mengapa mereka malah menganggap sakit mental itu keren dan menggunakannya sebagai justifikasi bagi kepayahan mereka dalam menghadapi masalah?.... Mengidapnya atau tidak, mental illness itu sama sekali tidak keren. Mengaku punya gangguan mental bukan cara yang tepat untuk mendapat perhatian orang lain." Kalimat yang cukup menenangkan ditengah dunia yang menganggap mental illness sebagai trend dan dianggap layak menjadi excuses untuk langsung berhenti berusaha.
Ini buku terlama yang kubaca dalam tahun ini. 😂 Sejak baca buku ini, aku selalu membawa 2 buku. Bahkan baru kali ini aku membiarkan bukuku agak lecek di tanganku sendiri. Hampir 2 bulan buku ini selalu kubawa, meski aku nggak bisa membacanya langsung selesai. Aku perlu 9 buku selingan hingga bisa menamatkannya.
Biasanya, aku perlu waktu lama untuk baca buku yang isinya nggak cukup menarik buatku, dan kalo udah lama gitu biasanya aku akan DNF. Tapi buku ini beda. Bukan karena isinya nggak menarik, sangat menarik malah! Aku akan bilang kalo buku ini berat. Aku hanya betah baca beberapa halaman atau bab, kemudian berhenti untuk kembali menata hati.
Novel ala buku harian ini menurutku seperti semacam penawar. Bisa juga serupa cermin. Segala pikiran Remi (yang aku yakin banyak juga orang yang berpikiran sama dengannya) tertuang dan seakan berteriak lantang, menegaskan tentang apa itu hidup. Untuk sebagian orang yang sedikit banyak seperti Remi, kupikir akan merasa seperti ditelanjangi dan segala pikirannya kek dipaksa keluar untuk diekspos.
Awalnya biasa aja, semakin ke belakang, semakin berwarna dan semakin 'menampar'. Dan banyak hal yang dipaparkan di sini membuka mataku mengenai banyak hal. Mungkin yang pernah mengalami hal seperti Remi, dan udah baca buku ini, akan lebih tau gimana isi buku ini dan gimana Remi.
Remi, Kino, Elang, Emir.
Seperti yang tertulis di cover belakang buku. Bukan sekadar kisah seseorang mencari cinta, buku ini merupakan perjalanan yang cukup melelahkan dalam mencari jati diri, dalam memaknai hidup. Ketika beragam konflik muncul, konflik terbesar itu adalah konflik batin yang berasal dari diri sendiri.
“Seumur hidup, seingatku aku tidak ingin menjadi salah satu dari mayoritas orang-orang yang membosankan. Seumur hidup, kuingat aku hanya ingin memberontak. Tapi, godaan itu selalu datang. Godaan untuk menyamakan diri dengan yang lain, semata supaya aku dapat berbaur dengan mereka. Supaya aku diterima oleh mereka.
Menua dan mendewasa seperti sekarang, aku sadar bahwa diriku pada masa lalu tidak punya kesabaran. Ingin mendapatkan sebanyak mungkin pengalaman dan keterampilan dalam waktu cepat, padahal semua hal membutuhkan proses. Karena itu, sudah berangsur mengumpulkan ketenangan diri, kusadari tidak ada perlunya tergesa-gesa. Aku yang mengatur kecepatan hidupku, bukan orang lain, dan tidak perlu khawatir tersalip sebab semua orang mempunyai jalannya masing-masing. Kuusahakan tidak ada lagi rasa iri. Murni kerelaan terhadap kebahagiaan orang-orang.”
Karya Nellaneva memang tidak pernah mengecewakan, aku beri rating 5 🌟 untuk novel ini. Isinya bener-bener keren. Banyak banget pelajaran atau nasihat yang bisa diambil dari novel ini.
Cukup menguras emosi saat membaca kisah Remi. Aku kadang merasa sebagian dari diri Remi adalah diriku. Beberapa pemikiran Remi—kecuali soal keinginan bunuh dirinya—sempat pula terpikir olehku.
Membaca kisah Remi aku merasa tidak sendiri. Dari Remi kita bisa belajar untuk tetap menjalani hidup dengan sebaik-baiknya yang bisa kita usahakan. Walau dalam perjalanan hidup, mungkin kita akan kembali jatuh atau terpuruk. Tapi, walau berkali-kali kita terjatuh atau terpuruk, tanpa kita sadari bahwa selama ini kita memiliki kekuatan yang luar biasa untuk bertahan hidup.
Sebelumnya, saya belum pernah membaca karya kak Nella. Jadi, novel ini seakan perkenalan pertama saya dengan tulisan kak Nella. Dan saya jatuh hati dengan buku ini. Merasa bercermin dan mendapat banyak pembelajaran.
Novel Resilience: Remi’s Rebellion ini tiap babnya berbentuk seperti diary atau jurnal harian Remi. Ada dua bagian dalam novel ini. Yang pertama ketika Remi masih SMA dan kedua ketika Remi sudah selesai menjalani masa kuliah. Di jurnal harian itu, Remi menceritakan kisahnya. Dari asal mula bertemu Kino hingga akhirnya bertemu Elang dan Emir.
Seru! Meskipun berbentuk sebuah jurnal harian, saya nggak merasa membaca jurnal harian wkwk tapi saya membaca cerita tentang Remi. Ya, jadi jurnal harian disini diringkas dengan sangat apik. Jadi saya tetap nyaman bacanya. Nggak merasa bosan atau apalah yang biasa saya rasakan saat baca diary orang.
Dan!
Saya suka bagaimana Kak Nella memasukkan istilah-istilah tentang mental illnes, suicidial, nihilis dan semacamnya yang baru bagi saya.
Suka banget sama karya Kak Nella. Nanti saya bakal beli novel-novel kak Nella yang lain. Apalagi yang fantasi😍😍😍
Mungkin ada Remi dalam diri setiap orang. Yang cemas, yang khawatir, yang takut. Yang memiliki kisah "Kino" pada masa SMA-nya.
Kino, kisah masa lalu tetang manusia yang memberi sayap. Ya masa lalu saja seharusnya. Tapi seringnya "sayap Kino" membawa kesan yang amat dalam. Dan seringnya kesan itu tak bisa hilang. Bahkan, hingga kita menemukan tempat untuk pulang.
Tapi yah, Kino hanyalah tempat singgah yang indah. Dan begitulah, setiap orang akhirnya punya Emir sebagai tempat berlabuh seperti Remi. Dan percayalah, kalian akan menemukan Emir masing-masing pada akhirnya.
Dan seperti kata Emir, ada hal yang lebih penting dari pada bahagia, yaitu kebermaknaan. Errr, sebenarnya kata-kata Emir nggak tepat seperti itu, tapi anggaplah demikian.
Yang jelas, novel ini amat sangat sangat aku rekomendasikan untuk dibaca. Kenapa? Ya anggap saja karena kebermaknaan itu tadi😆
Btw, bintang cuma 5 ya? Padahal pingin ngasih bintang lebih banyak nih... (si pemurah bintang) Wkwkwkwk😂
Aku mengalami love-hate relationship selama membaca novel ini.
Ceritanya dimulai dengan Remi yang seorang penyendiri, socially awkward, tiba-tiba memutuskan untuk mencari teman karena dia akhirnya sadar kalau manusia tidak bisa hidup sendiri. Setengah buku awal menceritakan pengalamannya dalam berusaha berteman dan berbaur dengan lingkungan di sekitarnya.
Sebagian lagi bercerita tentang kehidupan Remi 9 tahun kemudian, berada di lingkungan yang benar-benar baru dan dikelilingi orang-orang baru pula.
Ceritanya bagus, bahkan aku menamatkan buku setebal ini dalam 2 hari karena ceritanya emang ngalir banget. Kadang aku dibikin ketawa, senyum-senyum, sampe nangis. Pasti ada banyak hal juga yang relatable dengan kehidupan kita.
Tapi menurutku novel ini agak terlalu panjang ya, mungkin bakal lebih bagus kalo dipersingkat atau malah dibikin 2 buku aja sekalian.
This book is unbelievably captivating. Aku udah lama ga baca buku teenlit (yang pada pandanganku biasanya merupakan cerita cinta-cintaan anak sekolah yang klise), jadi aku ga expect banyak ke buku ini. Tapi kenyataannya, aku malah terjerat dengannya, aku malah begitu menikmati sampe ga sadar udah ngabisin sekitar 479 halaman dalam waktu yang sangat singkat (3 hari kalo ga salah). Selain itu, novel ini kenyataannya merupakan campuran antara teenlit dan young adult. Kisahnya klise tapi cara penulis menyampaikan ceritanya itu jempolan banget. Santai tapi bikin mikir. Buku ini toh bukan cuma menyoal cinta-cintaan tapi juga mengangkat isu beberapa masalah mental yang umum tapi kurang mendapatkan perhatian masyarakat umum (contoh: anxiety).
Sukaaa bgt novel ini. Berbobot... menurut ku. Buku ini konsepnya diary. Membaca diary Remi. Disini ada 2 bagian saat Remi remaja SMA, dan saat Remi sudah dewasa, sudah bekerja. Tapi untuk bahasa diary agak terlalu berat sih. Saya suka dgn tokoh Remi ini. Segala ketakutannya relate sih dgn remaja² skrg kan. Remi yg susah bersosialisasi Krn terlalu minder sama dirinya sendiri. Padahal dia begitu punya byk kelebihan. Agak nyesek sih sama Kino yg udah tau Remi suka tapi malah nyuekin... Buntutnya kena karmanya kan (kataku Rasain kamu Kino) Bangga dengan Remi yang g plin plan bisa segera memutuskan kemana kapalnya harus berlabuh. Suka banget dengan hubungan Remi Emir yang ngalir begitu aja, begitu dewasa. Sukaaa bgt novel ini...