SEPERTI APA CINTA MENINGGALKANMU ADALAH SESUATU YANG TERAMAT SULIT KAU LUPAKAN.
Bagi Arsen, pulang berarti kembali pada Alice—perempuan pertama yang mencuri hatinya dua belas tahun lalu. Sore itu adalah pertemuan pertama mereka setelah lama tak bertemu. Arsen menarik Alice ke dalam pelukannya, berusaha mengingatkan perempuan itu pada sejarah mereka dulu. Namun yang membersit di benak Alice hanya sakit hati... ditinggal pergi Arsen di saat dia benar-benar jatuh cinta. Memang benar, Alice selalu merindukan Arsen. Ketertarikan di antara mereka masih memercik api seperti dulu. Namun masa lalu adalah pelajaran yang teramat berharga bagi perempuan itu. Arsen adalah orang yang membuat Alice merasa paling bahagia di muka bumi, juga yang bertanggung jawab membuatnya menangis tersedu-sedu. Sekuat tenaga Alice mencoba menerima kembali kehadiran Arsen dalam hidupnya. Membiasakan diri dengan senyumnya, tawanya, gerak-gerik saat berada di ruang tengah; bahkan harus meredam gejolak perasaan atas kecupan hangat Arsen di suatu malam. Terlepas dari kenyataan Arsen membuat Alice jatuh cinta sekali lagi, ada pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: pantaskah laki-laki itu diberi kesempatan kedua?
young woman with lots of interests, ambitions and dreams, which shattered into pieces, each surfaced as different face and waiting for itself to become whole once more time. her world came to architecture, illustration, photography, literature, business, and japan. used to known as miss worm in cyber world. shattering her pieces at kemudian.com and deviantart.com
Alice. Arsen. Dua insan yang dipertemukan di sebuah sekolah musik sederhana bernama Lilt milik Kakek Lur—aka Kakeknya Alice. Hingga suatu hari, Arsen memilih untuk mengikuti ego nya dan meninggalkan Alice. Setelah empat tahun tak berkabar, kini Arsen kembali. Empat tahun yang bagi Arsen tampak hampa meskipun dia seorang pemusik terkenal. Ketika bertemu Alice, dia merasa dirinya sudah pulang.
Oke, segitu aja gambaran mengenai novel ini. Lebih baik kita bahas aja kenapa aku bisa kasih bintang empat hehehe.
Jujur, Song for Alice adalah first impression ku terhadap tulisan Kak Windry. Well, aku tahu Kak Windry termasuk penulis cerita remaja maupun young adult yang terkenal di Indonesia. Tapi kala-kala itu, aku belum begitu penasaran dengan tulisannya.
Hingga akhirnya aku lihat promosi Song For Alice yang berlalu lalang di timeline instagram ku, kemudian aku kepincut dengan blurb serta cover-nya.
Thank God, I'm not disappointed.
Enggak salah memang kalau tulisan Kak Windry banyak yang suka. Lugas, sederhana, dan memiliki hal magis hingga membuat pembaca larut dalam ceritanya.
Aku benar-benar suka cara penyampaiannya!
Ide cerita dari novel ini sangatlah umum dan simple; tentang kesempatan kedua terhadap hati yang luka /ea/
Tapi berkat cara pembawaan Kak Windry, aku merasa cerita ini beda. Entah karena aku terlalu terpana kali ya 😂😂 But, really, buku ini enjoyable dan page turner banget!
Perihal karakter.
Aku suka. Mereka konsisten. Alice yang selalu menunjukkan berbagai perasaannya dengan cara memanyunkan bibir. Arsen yang tersenyum dan kadang flirty.
Tidak lupa dengan Mar—sang manajer masam Arsen yang rupanya sangat perhatian dengan lingkungannya. Kemudian ada Len, Rik, dan O—kependekan dari Otis.
Ah, jarang banget gitu aku suka semua karakter dalam satu novel. Biasanya ada aja yang bikin aku pengin asah pisau buat ngebacok 😂😂
Lanjut perihal klimaks.
Ugh... Gimana ya... Aku enggak bisa jelasin banyak soal ini. Karena takut spoiler, intinya masalah yang disajikan enggak ngejelimet sampai jadi drama jambak-jambakan(?).
Penyelesaiannya juga menyentuh.
Bagiku, melalui satu titik klimaks itu, aku bisa memahami apa yang ingin penulis sampaikan. Aku merasa tertohok dan berpikir
Kesempatan kedua tidak boleh disia-siakan.
Judulnya menggambarkan bagaimana cerita ini berjalan.
Satu hal yang buat aku kurang sreg dengan novel ini adalah...
Terlalu banyak kata 'rikuh'. Yah, mungkin kata tersebut paling tepat untuk menggambarkan kondisi. Tapi, aku rasa enggak perlu setiap moment selalu pakai kata itu.
Agak memuakan sih—menurutku😂
Tapi sisanya enggak masalah kok. 😆
Aku sangat merekomendasikan novel ini kepada siapapun yang butuh bacaan ringan dan sentuhan romansa bertema bittersweet, tapi heartwarming juga 😂
Novel ini bisa memancing segala macam emosi.
Jika kamu tertarik atau sedang membacanya, selamat membaca dan jatuh cinta dengan Arsen 💕💕
Kalem, lembut, sendu, dan mengharukan. Itu gambaran tentang buku ini (menurutku).
Terlepas dari dialognya yang memang butuh penyesuaian (membayangkan orang Jakarta berdialog aku-kau), buku ini oke. Aku suka narasinya. Apik dan rapi. Ngalir, enak dibaca 😆
Aku kan kabanyakan baca light romance yang gemas ya 🙈😂 butuh keluar zona nyaman, butuh yang agak mendung dan sendu. Nah, aku nemu itu di buku ini. Sesuai harapanku 😆
Ngga, ngga. Rezza ngga sampe nangis ternyata. Tapi emang ini agak nyesek 😅
Ada perasaan berbeda saat membaca kisah sedih. Apalagi itu ending. Tapi Windry bercerita dengan baik. Hanya saja kalau boleh kritik, klimaks Arsen sangat mudah di tebak dari pertengahan cerita Karena penulis sangat jelas memberikan clue ttg tangan kram. Namun Bintang 5 ku rasa pantas disematkan did cerita Windry Kali ini..
3.5 🌟 Aku secara tidak sengaja dan berkala sudah kena spoiler bagaimana akhirnya buku ini. Tapi ya gimanaaa, tetep tak kuasa membendung air mata :"(( *bacod
"minta maaf ? kau pikir, setelah semua yg terjadi, kau bisa pulang dan minta maaf begitu saja ? kau pikir, 'maaf' akan membuat perubahan." hal 94
" 'maaf' tidak berarti apa-apa sekarang, satu-satunya yg bisa dilakukan oleh 'maaf' adalah membuatmu merasa lebih baik." hal 94
"Arsen, ini bukan tentang apa aku bisa memaafkanmu atau tidak. ini tentang apa aku bisa.... percaya lagi." hal 170
kak windry sukses buat q menangis pas baca novel ini.. awal baca novel nggak terlalu tertarik, interaksi'y kaku, tapi setelah pertengahan novel sampai akhir baru dapat "feeling" nya.. :')
aku...aku..aku..cinta Arsen kenapaaaa, huwaaaa.. q suka Arsen yg bilang Alice menggemaskan ketika marah & cemberut, it's so sweet.. Arsen itu romantis'y spontan & I love it.. :*
Sudah lama tidak membaca tulisan mba Windry, tapi tulisan di buku terbarunya ini malah membuat saya patah hati. Uhuhu kenapa mba Windry tega? Mba Windry kejam T_T
SFA adl buku ke-9 dr Windry Ramadhina yg kubaca dan bukan favoritku. Rate: 3 ⭐⭐⭐ . . Sama spt Glaze & berbeda dg 7 buku sebelumnya. Kalau di Glaze kubilang bagai naik sepeda di jalanan yg menanjak, baca Song for Alice jg begitu. Kesannya kurang selancar pas baca Interlude, Walking After You atau lainnya
Untuk cerita sendiri, aku nyaris memutuskan DnF di hampir setengah buku, sungguh tak kusangka 😅✌ Untung tidak krn kemudian kubilang buku ini cukup indah. Endingnya bagus. Melegakan. Biarpun ceritanya cukup klise, predictable dan kurang istimewa jika dibandingkan dg karya Windry yg sudah kubaca
Next. Untuk peran karakter… apa yaa… mrk semacam agak jauh dari perkiraanku. Pendapatku saja 🙃✌ Bukan tdk menerima soal Arsen di endingnya krn itu oke saja, melainkan orang² terdekat dia kurang melakukan/ mengupayakan sesuatu untuknya. Misalnya Len, kukira dg disebut statusnya yg mahasiswa kedokteran syaraf, dia akan do something, minimal dia lebih tahu dibanding lainnya ttg kondisi Arsen. Minimal dia akan berbicara dg Alice krn Arsen adl org terpenting bagi Alice. Agar Alice lebih memerhatikan dan mengingatkan Arsen misalnya
Lalu, Mar. Di awal dia menunjukkan jiwa mangernya yg mengurus dg baik masalah luar/ dlm pribadi artisnya. Tp, begitu Arsen pulang, Mar pasif
Alice sendiri. Hanya sebatas itu saja perhatiannya. Sekadar tanya pd Arsen yg notabene si pesakit dan tdk menggali informasi lbh dalam dr Mar atau entah siapa? Ya kan di mana-mana, tdk jarang pesakit akan blg dia baik² saja krn merasa ada hal yg lbh mendesak dan penting drpd mengingat apa-apa yg harus dilakukan selama masa pemulihan/ krn malas berurusan dg rumah sakit 😬 Sekali lagi, ini pemikiranku saja oke… 🙃✌
P.s: novel ini kurekomendasikan bagi yg tengah ingin menikmati kisah sendu namun melegakan ☕🌧
Bagus. Suka dengan penuturannya. Atmosfer ceritanya terasa. mungkin karena pas banget dengan Event Band Seventeen. Good job, Windry Ramadhina! Can't wait your next books.
BANJEEER... Review akan dipost di blog tanggal 21 Oktober! Blogtour di blog saya akan dimulai besok sampai tanggal 22, simak wawancara saya dengan Kak Windry~ Bakal ada giveaway juga di hari terakhir. Blog: http://orinthiaandbooks.blogspot.com/
Beli buku ini, berawal dari suka ngunjungin blog nya Windry Ramadhina. Biasanya rutin tuh ngunjungin soalnya suka enggak sabar nunggu buku selanjutnya terbit lagi dan karena ada bagian pendek dari cerita yang di share disana, bikin semakin penasaran. Lama enggak ngecek, tiba-tiba pas minggu lalu cek, udah keluar aja buku barunya. Langsung deh awal minggu ini beli. Baru sempet baca sekarang.
Buku Song for Alice bercerita tentang Arsen si penyanyi rock terkenal yang merasa walaupun dia udah ada di puncak karirnya, hatinya tuh teteup kosong. Kayak ada yang hilang. Arsen yang berusaha menyangkal perasaan itu, kayak ditampar kali ya ngebaca kritikan tentang dia. Lagu di album barunya, dibilang enggak dia banget.
Dikutip dari halaman 12, “...Tidak ada kreativitas di dalamnya. Tidak ada eskplorasi, apalagi permainan nada yang beresiko. Lagu-lagi itu dangkal dan tidak benar-benar selesai. Mentah. Ceri liar yang masam.”
*Judul lagu yang dikritik adalah Wild Cerry
Bahkan produsernya juga mempertanyakan lagu-lagu dia yang ‘asal buat’ karena penyanyinya sibuk pesta di pub. Sialnya, setelah itu Arsen kecelakaan, menyebabkan bahunya terluka. Tapi ternyata kecelakaan itu juga yang menyebabkan dia rehat sejenak, dan memutuskan untuk balik lagi ke rumah yang sudah lama dia tinggalkan, Alice.
Dari situ dia mulai memperbaiki hidupnya dan memperbaiki hubungannya dengan masa lalu (ceilah..).
Berbeda dari tokoh-tokoh di beberapa buku Windry sebelumnya (tokoh perempuan yang super sinis, galak, tapi berprinsip dan benar-benar yakin akan passion nya), Alice ini lebih rapuh kali ya atau kurang galak? 😄 Sifat Alice lebih seperti perempuan muda yang merajuk. Sering sekali dia pura-pura galak (tapi jelas kelihatan Arsen) untuk menutupi rasa malunya atau menutupi kepedulian dia sama Arsen. Saya jadi sering ketawa sendiri ngebacanya. Jadi enggak ada kesan galaknya gitu. Kerjaannya jual mahal, tapi ketahuan mulu 🤣.
Bagian karakter tokohnya, saya agak kecewa. Biasanya Windry menjelaskan passion/pekerjaan si tokoh itu benar-benar detail. Banyak keterangan-keterangan baru yang tidak berbelit panjang dan tidak saya tahu sebelumnya (membuat saya penasaran nge-google, bukan malah kesal) tentang pekerjaan atau passion nya si dua tokoh utama. Sampai saya tuh merasa si tokoh ini super duper menguasai passion nya, tanpa harus ada kalimat “dia sangat ahli dalam bidangnya”. Seperti tentang film di buku Montase, tentang arsitektural di buku Memori, tentang keramik di buku Glaze, tentang buku di Angel in the Rain, dan yang lain. Alice dan Arsen ini dijelasin juga cuma saya ngerasa kurang senapsu biasanya aja gitu ngejelasinnya.
Alurnya juga biasanya bikin saya tarik napas sama nyesek melulu ditiap part 😂 tapi kalo di buku ini saya disuguhin banyak keromantisan Alice dan Arsen. Mungkin karena terlena dengan alurnya yang walaupun ada konflik tapi cukup adem aja gitu ngikutinnya, jadinya saya kaget deh di akhir. Penyelesaiannya terlalu tiba-tiba gitu sih. Sampai saya diem dulu mau lanjutin atau enggak. Saking kagetnya. Tapi mungkin itu kenapa saya bertanya-tanya dari awal kok ini mulus bener ya. Walaupun ada konflik tapi ya cepat selesai gitu. Taunya eh taunye... 🤣
Secara keseluruhan saya suka sama novelnya yang menghibur 👍🏻
Novel Kak Windry tuh enggak pernah mengecewakan, selalu seru dan sangat patut untuk diikuti. Gue selalu suka sama karya do’i.
Apalagi novel yang satu ini berbeda banget dari novel-novel sebelumnya. Karena bisa dibilang Song for Alice ini adalah jenis novel kesukaan gue. Sad, sendu-sendu gimana gituuuu~ Dan gue enggak pernah ragu dan selalu menjadikan novel dengan ending semacam ini sebagai favorit. Apalagi dengan author yang enggak bisa diragukan macam Do’i.
Tapi ... mendadak enggak nyaman sama dialognya. Karena ... dengan latar belakang Jakarta dan jaman milenial seperti ini. Kayaknyaa enggak ada deh orang yang pakek dialog Kau-Aku yang terkesan formal banget kayak novel terjemahan. Gue kayak enggak mengenal Windry Ramadhina disini, bahasanya tuh kayak beda banget dari novel-novel do’i yang sebelumnya, bahkan gue sampai membandingkan dengan Novel Interlude.
Kalo aja nih novel terjemahan. Gue enggak akan protes. Tapi ... karena ini bukan novel terjemahan dan gue adalah manusia yang bisa dibilang berada di lingkungan milenial jelas agak gimana gitu dengan dialog seformal ini dengan latar belakang Ibukota.
Jangankan orang JKT. Orang Surabaya aja bahasanya udah Lo-Gue. Gue contohnya :))
Baca buku ini cuma butuh satu hari kurang, entah magnet apa yang membuat saya baca tanpa mau berhenti atau merasa jenuh. Padahal sebel sama karakter Arsen dengan kehidupan dia sebagai bintang rock. Dibuat deg-degan sama cerita menuju ending. Buku ini udah lama banget didiamkan begitu saja padahal ceritanya bagus banget, sedikit menyesal sebenarnya.
Mencintai kerapkali berbarengan dengan melukai. Meski 'harusnya' tidak seperti itu. Tapi walau bagaimanapun akan selalu ada 'sisi lain' dari mencintai itu sendiri, entah itu berupa kepergian dari orang yang dicintai atau yang lebih parahnya kehilangan rasa cinta itu sendiri. Kalau pun tidak, pasti akan ada yang lainnya. Begitulah cinta. Harus ada yang 'dikorbankan'.
❝Aku ingin memperbaiki kesalahanku. Aku ingin memperbaiki 'kita'.❞ —Hlm. 94
Pulang. Menemui orang terkasihnya, Alice Lila. Saat ini itulah satu-satunya keinginan Arsen Rengga— seorang musisi rock yang sebelumnya melejit lewat album-albumnya, namun beberapa waktu lalu album barunya justru dikritik habis-habisan lewat ulasan seorang kritikus musik— mentah dan tidak menawarkan banyak hal, begitulah kira-kira bunyi ulasannya.
Arsen tentu saja berang, produsernya apalagi, tapi siapa lagi yang bisa dipersalahkan selain dia— Arsen sendiri, karena benar kata orang, karya seseorang akan tak jauh beda dengan kesehariannya. Ya, Arsen lebih senang di pub, menghabiskan malam dengan berpesta, menenggak bir-bir, jadi tak heran jika akhirnya karya yang ia hasilkan kurang lebih sama dengan kebiasaannya. Dan keinginannya pun diamini oleh kondisi fisik yang mengharuskannya beristirahat beberapa bulan setelah kecelakaan menimpanya.
Lilt— sekolah musik peninggalan kakeknya, satu-satunya tumpuan harapan Alice saat ini, sayangnya sekolah itu akhir-akhir ini tak lebih dari sekadar menunggu waktu gulung tikar. Ya, satu dua murid masih ada, hanya saja itu tidak akan cukup untuk menghidupi Lilt dan dirinya.
Tanpa diduga, sosok itu, seseorang yang sangat dirindukannya kembali, seseorang yang sama yang telah membuatnya patah hati, lelaki yang bersikeras memanggilnya gadis rock jika ia menyangkal menyukai genre musik satu itu, Alice dari Alice Cooper, bapak shock rock jelasnya selalu— Arsen Rengga.
❝Hidup seharusnya dipergunakan untuk menjaga hal-hal yang penting bagi kita.❞ —Hlm. 311
Akankah kepulangan Arsen turut kembali memulangkan rasa yang pernah ada di antara mereka— rasa yang belum sempat terutarakan, baik Alice maupun lelaki itu❓ Apakah kedatangannya bisa sedikit membantu Lilt yang hampir saja akan tutup kala itu❓
Song For Alice menawarkan kisah cinta yang tak terlalu manis, tapi berkesan. Alice Lila dan Arsen Rengga— dua sisi kehidupan yang berbeda dipertemukan oleh takdir yang tak jauh beda. Bersama. Menjalani takdir mereka.
Song For Alice merupakan karya kedua penulis setelah Orange yang berhasil kutamatkan. Tak banyak berubah, Kak Windry selalu sukses memboyongku masuk ke dalam cerita yang dibuatnya. Masih sama seperti sebelumnya, penulis satu ini punya ciri khas yang gampang sekali dikenali para pembacanya, gaya bercerita yang mengalir, penggambaran yang nyata, karakter tokoh yang kuat, narasi yang lugas dan unsur pembangun lainnya dari cerita yang ia tulis benar-benar penuh perhitungan.
Dalam kisah Alice dan Arsen ini, penulis tak main-main ketika memutuskan memilih musik— terkhusus genre rock sebagai sentral dari ceritanya. Semua yang digambarkan tak hanya sepintas lalu, sedikit banyak aku mulai mengenali aliran musik yang masih terasa asing di telingaku ini dari kisah mereka. Penulis sangat piawai mengemas semuanya hingga seapik ini.
Di Song For Alice, Kak Windry memuat kisah cinta Alice dan Arsen dengan porsi yang tidak berlebihan. Ketika membacanya kita bisa merasakan asmara yang terjalin antara mereka secara wajar, bahkan jika diamati, alih-alih membahas kisah cintanya, penulis cenderung bercerita tentang masa lalunya, kenapa akhirnya bisa dipertemukan dan hari-hari yang mereka jalani setelah pertemuan itu terjadi. Karena itu novel ini masih aman dikonsumsi pembaca 19 tahun ke bawah.
Dan kedekatan antar tokohnya juga menjadi favoritku di novel ini. Keakraban Arsen dengan sahabat lamanya di band beraliran rock yang sempat ia tinggalkan itu cukup menarik perhatian. Interaksi antara Arsen, Len, Rik dan O yang konyol dan blak-blakan mampu menghidupkan suasana. Benar-benar menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama mereka🙌
Tapi sepertinya aku masih belum rela kisah mereka harus ditutup seperti 'ini'. Masih banyak yang bisa dikembangkan dari kisahnya. Tapi apapun itu, penulis sudah mempersembahkan yang terbaik. Good.
Gue pikit ceritanya bakal teenlit gitu, atau ga yaa setidaknya young adult romance luculucu gitu, soalnya tokohnya masih early twenty. Tapi gilaa, lumayan dalem juga ternyata. Ga nyangka banget plotnya kek gini, abis juga covernya unyu manis gitu. Aku pikir romance unyu happy ending, yang ceritanya ringan. Tapi hmm.. Rasa kehilangan disini mirip ketika gue kehilangan di montase. Terlepas gue sedih karena kehilangan, gamau kayak gini, tapi emang harusnya jangan dibikin pergi. Aneh gitu, nggak pas seriusan. Bukan karena gue gamau, tapi bener kok menurut gue ceritanya happy ending. Gue percaya penulis itu nulis cerita bukan miliknya, bukan ngarang, cerita itu milik tokoh tokoh yang ada, penulis cuma menuliskan kisahnya. Dan kali ini gue tau kisahnya Alice dan Arsen endingnya ga gitu. Dari semua bukunya Ka Windry, cuma montase yang endingnya sedih. Dan ka Windry nulis ceritanya dengan benar. Gue gatau kenapa kali ini ceritanya beda. Atau mungkin karena ceritanya kurang sendu, kurang pelanpelan mulai Arsen melamar, dari titik itu sampai ending rasanya kayak langsung jatuh dari langit, bukk. Alurnya kurang smooth kayak sebelumnya. Makanya gue merasa endingnya ga gitu. Soalnya masih ada di state sesaat sebelum Arsen melamar, masih di state pertunjukkan di Bintaro. Alurnya dari depan sampai pertunjukkan itu enak, abis itu rasanya kayak muncul aja ceritanya, bukan berjalan.Gatau deh, yang jelas cerita Alice dan Arsen ga gini, gue tau. Mereka juga cerita ke gue, abis dari pertunjukkan ga gitu. Bahkan melamar Alice pun ga secepat itu. Masih nanti. Sudahlah. Terserah ka Windry. Ngomongngomong gue suka covernya. Bagus banget. Warnanya juga cantik. Awalnya waktu liat di post ignya ka Windry atau twigora atau entah siapa, gue agak kecewa dengan warnanya, kok toska. Tapi yauda, toh kan gue gabeli. Gue ga koleksi novel ka Windry emang, baca semua, tapi ga koleksi, cuma beli sebagian. Jadi yaa ini gue ga berniat beli. Gue juga mikir ceritanya bakal romance ringan, karena usia tokohnya muda. Ga kayak tokohnya ka Windry biasanya yang uda dewasa. Tapi ternyata gue beli Glaze, karena uda ga ada yang bisa dipinjem, youngra lagi stop baca romance. Uda ga bisa ke pitimoss juga buat pinjem, karena uda ga di bandung. Jadi mikir kalo beli ini, ga masalah. Yauda deh akhirnya beli pas uda terbit. Belum beredar di toko buku sih. Cuma ka Windry uda beres tanda tangan. Uda ngeliat buku fisik di post ig. Untung masih bisa PO, biar dapet diskon. Padahal POnya ga kerasa, orang kata mbak Roro twigora, bukunya bakal dikirim lusa pas gue abis pesen dan bayar. Tapi kayaknya dikirim sehari setelah, soalnya bukunya uda nyampe pas tiga hari setelah pesen. Pas buka ternyata cantik banget warnanya. Awalnya yang gue gasuka malah jadi cinta. Padahal biasanya gue dibuat kecewa ama covernya, either gasuka karena emang jelek atau ga sesuai ekspektasi gue liat di foto pas promosi belum cetak. Alice dan Arsen baru dibaca hari ini karena gue sempet ke jogja dulu, jadi ketunda. Mungkin weekend akan reread mungkin gue bisa berubah setuju sama Ka Windry perihal endingnya.
Cukup kaget ketika melihat salah satu pengguna Goodreads memutakhirkan status membacanya. Ia sedang membaca buku terbaru dari Windry Ramadhina, salah satu novelis pop Indonesia yang menjadi favoritku. Saat dicek lagi, ternyata benar, buku Song for Alice baru saja beredar per tanggal 29 Juni 2018.
Song for Alice memiliki premis yang sederhana: Arsen kembali pulang ke rumah. Rumah yang dimaksud bisa menjadi simbol untuk tempat ataupun untuk sosok Alice. Windry menuliskannya dengan jelas, tanpa ada makna kiasan terhadap kata "rumah".
Seperti novel remaja yang biasa kita baca, Song for Alice membeberkan semuanya tanpa harus menjadi rumit. Siapa Arsen, siapa Alice, apa yang menjadi latar belakang dan cerita sejarah mereka hingga konflik yang harus dihadapi mereka berdua. Semuanya terasa sangat jelas karena Windry tampaknya tidak menyembunyikan apapun dari pembaca.
Konflik yang dihadapi oleh Arsen dan Alice dijabarkan secara runut namun tetap pada satu payung besar. Konflik yang ada membuat pembaca mengenal seperti apakah Arsen sebenarnya.
Awalnya, aku ingin memberi 3 bintang saja untuk buku ini. Aku sudah membaca beberapa buku Windry Ramadhina ketika ia masih menerbitkannya bersama Gagas Media, seperti Orange dan London. Windry selalu khas dengan pendalaman topik yang dia angkat sebagai latar belakang novelnya. Ia tidak pernah lupa memberikan pengetahuan baru kepada pembaca. Namun sayangnya dalam Song for Alice, Windry tidak menonjolkan hal itu. Padahal latar belakang atau ide besar dari novel ini adalah tentang musik. Arsen bermain musik rock dan Alice bermain musik klasik. Aku rasa akan lebih menarik jika Windry memberikan informasi mengenai dua jenis musik tersebut.
Lalu satu bintang tambahannya dari mana? Untungnya, Windry masih memiliki kekuatan magisnya untuk membuat pembaca terbawa oleh suasana hati para tokohnya. Jujur saja, aku sempat merasakan bagaimana kesalnya Alice ketika konflik mulai bermunculan. Juga merasakan senangnya Alice ketika Arsen datang.
Song for Alice masih khas Windry. Ringan namun menyenangkan. Aku rasa, buku ini bisa dihabiskan dalam satu malam saja sebagai penghilang penat setelah satu hari penuh dengan berkegiatan.
Ini seharusnya jadi bacaan ringan nan santai setelah gue megap-megap abis baca Oathbringer tapi ternyata setelah baca ini, gue malah megap-megap lagi untuk alasan yang berbeda.
Singkatnya, SONG FOR ALICE adalah cerita tentang keluarga, persahabatan, kesempatan kedua dan childhood sweetheart. Tema utama yang diangkat apalagi kalo bukan musik. Dari halaman pertamanya sudah terasa banget vibe sendu dan syahdu. Beneran deh, gue nggak ada ekspektasi apa-apa waktu mulai membaca buku ini. Dan waktu intip ke dalam, chapter-nya pun pendek-pendek. Okelah, lanjut!
Plotnya rada klise dan mudah ditebak. Arsen yang meninggalkan keluarga, teman-teman demi mengejar popularitas, balik kandang lagi setelah “ditabok” lewat kecelakaan. Selama baca, Arsen ini bener-bener buat gue keki. Santai banget padahal udah buat sakit hati banyak orang. He was such an ignorant bastard (or was it just for a show atau disengaja untuk menegaskan lagi karakter dia? I don’t know!). Untuk romance-nya di halaman-halaman awal sih biasa aja dan malah lebih berasa kayak kakak-adek. Tapi pas udah 2/3 buku, baru deh gue berasa romance-nya.
The good thing is, gue sangat menikmati cara berceritanya yang santai dan nggak ngalor-ngidul. Gue bener-bener terbawa ceritanya dan belum lagi Windry pinter banget buat pembacanya menangkap emosi dan suasana hati Alice dengan tepat. Malah baper gue.
Arus ceritanya deras dan cepet dengan alur maju-mundur. Oh, and I also adore the chapter’s titles!
Hal yang nggak biasa buat gue adalah minimalnya pengenalan karakter-karakter sampingan, semisal bahkan sampe akhir cerita gue nggak tahu nama satupun temen Arsen yang sering nongkrong bareng dia. Bahasa yang dipake juga kaku jadi kayak baca novel rasa terjemahan.
Anyway, sudah lama gue nggak membelalakkan mata dari small gesture dalam novel. Gue bener-bener nggak nyangka bisa dapet reaksi dan kesan begini dari ending ceritanya, which is…lanjut megap-megap lagi.
So, ini adalah buku kesekian karya Mbak Windry yang saya baca. Sama seperti sekian novel-novel yang beliau tulis, Song For Alice masih memiliki tone yang sama, gloomy khas seorang Windry Ramadhina.
Mengenai cerita, Song For Alice menyuguhkan kisah tentang Alice, Arsen dan Lilt, sebuah sekolah musik kecil di tengah-tengah kota Bintaro. Alice dan Arsen tumbuh bersama dan berpisah suatu ketika saat Arsen memilih mengikuti impiannya masuk dapur rekaman. Keduanya dipertemukan kembali saat Arsen pulang paska kecelakaan yang dialaminya. Namun dalam benak Alice, dia bertanya-tanya, mampukah dia menerima kembali Arsen setelah apa yang dilakukan pemuda itu di masa lampau?
Sejujurnya, saya membaca buku ini secara tersendat-sendat. Entah karena belakangan mood membaca saya sedang menurun, atau memang saya sok sibuk hingga tak sempat meluangkan waktu buat meneruskan membaca. Namun karena saya selalu punya pegangan bahwa saya harus selalu menyelesaikan apa yang saya mulai, maka saya memutuskan untuk mencuri waktu hingga akhirnya saya berhasil membalik halaman terakhir dari novel ini.
So far, saya tidak bisa berkomentar banyak mengenai novel Mbak Windry kali ini. Jika saya boleh bilang, tema yang diangkat dalam Song For Alice cukup klise bagi saya pribadi. Musik. Tokoh perempuan yang kikuk dan kaku. Tokoh pria tampan yang sedikit 'nakal'. Adegan pemakaman. Yah, khas seorang Windry Ramadhina sekali.
Nothing special dalam novel kali ini. Hanya saja, saya memberikan tiga bintang untuk kerja keras Mbak Windry yang telah membawa saya berkenalan dengan Lilt, Looking For Charlotte dan tokoh-tokoh menyenangkan semacam, Mar, Len, Rik dan O.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sangat mudah seharusnya, memberi bintang lima pada novel ini. Narasinya, alurnya, karakternya, hingga pesan cerita, just great. Lantas, apa yang membuat saya menurunkan dua bintang? Karena yang terjadi pada Arsen, sangatlah tidak adil. Arsen ini seorang artis yang punya manajer. kan? Pekerjaan manajer adalah memastikan artisnya dalam keadaan sehat. Kalau ada yang salah, maka manajer wajib 'cerewet' biar nggak ada satu hal pun yang salah di diri artisnya. Namun, Mar nggak melakukan itu. Setelah check ke dokter terakhir kali, harusnya Mar mendesak Arsen untuk check lagi. Tapi Mar hilang begitu saja. Dia malah nanya sama Alice, apa Arsen sempat ke dokter atau nggak (?) I mean...that's odd to be asked by a manager. Mungkin, dibuat seperti itu karena penulis fokus mengecoh pembaca dengan kisah kasih Arsen-Alice, lalu Boom! Hati pembaca dibikin retak seretak-retaknya. Dan menurut saya, yang tidak Mar lakukan di sini adalah cebuah celah yang sangat.sangat,sangat fatal. Karena sangat wajar Arsen nggak memedulikan kondisinya, maka untuk itulah Mar ada. Jadi, nyeseknya saya lbh karena 'marah' oleh ketidakadilan itu daripada sedih oleh kehilangan. (Ini kayaknya spoiler nggak sih? :D) Tapi, meskipun saya kecewa dengan kurangnya peran Mar sebagai manajer, dua bab terakhir berhasil membuat saya menggumam, this is beautiful. Cuma, saya tetap terpaksa nurunin dua bintang karena alasan tadi. Kesalahan yang simple, tapi fatal.
Song For Alice adalah salah satu hasil dari proyek menulis novel bertema rock dari Roro Raya Sejahtera. Selain novel ini, ada dua novel lainnya yaitu Remuk Redam karya Christian Simamora dan String Attached karya Yoana Dianika. Musik rock menjadi latar belakang yang kuat bagi novel ini. Ingar bingar sangat terasa, tapi tetap tidak menghilangkan ciri khas cerita Windry Ramadhina, manis sekaligus sendu. Kisah yang diceritakannya selalu berkesan buatku.
Dengan tagline “mencintaimu adalah penantian yang panjang”, novel ini benar-benar mengisahkan kisah yang panjang. Aku mengikuti kisah Arsen-Alice, maju mundur dengan POV 3. Mbak Windry menuliskan dengan sangat detail, bagaimana mereka bertemu, tumbuh bersama hingga timbul konflik dan kembali lagi setelah bertahun-tahun berlalu. Kedekatan Arsen dan Alice berbeda dengan tokoh-tokoh novel Mbak Windry yang pernah aku baca. Aku sangat menikmati kebersamaan mereka, meski tidak mudah menahan marah dan rindu yang menjadi satu ketika Arsen kembali. Menyaksikan mereka kembali menghidupkan Lilt, dan menyadari perasaan satu sama lain. Aku bisa memahami mengapa mbak Windry sempat vakum menulis Song For Alice untuk sementara waktu, karena nyatanya aku juga sempat mengambil jeda saat membaca. Arsen dan Alice membuat hatiku porak poranda 😭
Wow, akhirnya keturutan juga baca buku ini. Dah, wow, aku suka sama ceritanya. Beautiful sadness. Dari awal aja auranya sendu banget, bikin aku tahu ke mana arah ceritanya. Meski begitu aku tetap berharap ada keajaiban yang bisa bikin aku senyum di akhir. Tapi harapan cuma harapan, garis takdir Alice dan Arsen tidak seberuntung Elena dan Damon. LOL.
Bisa dibilang aku suka dengan apa yang disuguhkan oleh buku ini. Gaya menulisnya enak untuk dibaca, mengalir, terutama di bagian narasinya, aku suka banget. Sayangnya percakapan di sini agak-agak gimana gitu. Bayangin aja, di Jakarta masak kita masih pakai sebutan aku-kau? Mungkin karena gaya bahasanya mengadopsi novel terjemahan, jadi terbawa. Cuma yah, di Jakarta gitu loh, sounds weird aja kalau pakai aku-kau, apalagi Arsen ini seorang musisi rock yang doyan pesta, terus kerjaannya juga keluar masuk pub. Selain itu, 'suasananya' seperti bukan di Jakarta. Semua itu tercermin dari kebiasaan para tokohnya, misal pilihan makanannya. Di sini aku nggak nemu tuh Alice jajar es potong atau ketoprak. Pokoknya western banget, misal: spageti, sup krim, roti bawang (hal. 90). Baca buku ini berasa bukan di Indonesia—sumpah, Indonesianya maksa banget. Malahan kalau setting tempatnya di luar negeri, aku malah bisa terima.
And I was right... but also wrong. Tadinya aku berharap buku ini berakhir di halaman... 239 apa ya. Kayak peak moment dari buku ini lah. Tapi tentu saja bukan itu harapan dari penulisnya, jadi aku meneruskan membaca buku ini dan... ya gitulah.
Di bagian awal buku ini, aku merasa kalau buku ini dan Glaze sama-sama berbeda dari buku-buku yang diterbitkan di penerbit satunya. Kalau buku-buku yang sebelumnya, atmosfer buku itu bisa aku dapatkan dari 1 bab pertama, kurang lebih. Tapi di buku ini, baru sampai bagian bab kesekian mulai berasa atmosfer buku yang khas Windry Ramadhina.
Untuk penulisan maupun tata letak buku ini tidak perlu ditanyakan. Indah banget dan sangat mudah dinikmati. Overall, 4.5 dari 5 bintang untuk Alice dan Arsen.
Song for Alice _Muram. Aku merasakan kemuraman yang dalam. Entah karena nuansa yang dihadirkan, atau aku sedang membacanya saat mendung, atau mungkin karena aku menyadari sedari awal bahwa kisah mereka tidak akan berakhir dengan baik. Ah, hujan mulai turun. Lagu Arsen terngiang-ngiang di pendengaran Alice.
Gadis itu mempertahankan kewarasan agar dia mampu kembali hidup setelah semua yang terjadi. Aku yakin hidup sebatang kara bukanlah keinginan banyak orang. Takdir membawanya demikian. Beberapa kali aku teringat lagu-lagu sedih Beethovhen atau Rachmaninoff. Mereka membuatku tenggelam dalam kesedihan, kekalutan.
Namun, di antara muram-muram yang dihadirkan, keyakinan akan setitik cahaya membuat kisah ini menjadi lebih hidup. Lilin telah dinyalakan, Alice kembali hidup setelah Arsen muncul di hadapannya. Harapan-harapan itu timbul, meski samar, tapi ia yakin mereka akan baik-baik saja. Arsen kembali seperti untuk menebus segala kesalahannya di masa lalu. Arsen kembali untuk memberikan rasa aman dan nyaman. Arsen kembali untuk menghadirkan cinta yang nyata. Arsen kembali untuk memberinya kenangan. Arsen kembali hanya untuk Alice seorang. Dan Arsen kembali untuk dikenang.
Setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, Arsen memutuskan untuk kembali ke rumah Bintaro. Rumah tempat dia dibesarkan, dan kini hanya dihuni oleh seorang gadis bernama Alice. Dia tahu, Alice masih marah padanya karena dia pernah meninggalkan dirinya dan Kakek, dan tidak kembali saat Kakek meninggal.
Alice berusaha mempertahankan Lilt, sekolah musik yang didirikan Kakeknya. Resesi membuat sekolah musik itu nyaris bangkrut. Sekarang kepulangan Arsen menambah beban pikirannya. Tapi Arsen memang bertekad untuk benar-benar kembali, termasuk membuat perubahan pada Lilt. Dia berharap apa yang dilakukannya bisa mengubah hati Alice.
Saya tidak begitu menyukai Arsen sejak awal. Dia pergi demi ketenaran, meninggalkan keluarga yang membesarkannya, juga teman-temannya yang membangun mimpi bersamanya. Tapi setidaknya dia ingat jalan pulang. Kecelakaan yang dialaminya membuatnya ingin mendapatkan kesempatan kedua. Meskipun saya bisa menebak apa yang akan terjadi pada Arsen, cara penulis menyajikan tentang Arsen di ujung cerita membuat saya ikut merasa sedih.
Saat ini, disampingku, ada secangkir kopi yang masih mengepulkan uapnya. Tidak menguarkan aroma bunga seperti kopi kesukaan Alice, tapi lewat aromanya, aku sedang mengingat Arsen. Sama seperti Alice yang sedang - dan akan selalu mengingat Arsen sambil ditemani secangkir kopi di sampingnya.
Saat membaca buku ini (Song for Alice), entah kenapa aku ingin membacanya lambat-lambat. Seperti ada sesuatu yang tidak ingin aku selesaikan cepat-cepat, seperti ada kepergian yang ingin aku tahan-tahan. Tapi semakin aku mencoba memperlambat, semakin menebal halaman kedepan, dan semakin menipis halaman kebelakang.
Aku tidak siap.
Namun pada akhirnya, kisah ini kuselesaikan dengan pilu yang menyesakkan dada - juga senyum ikhlas saat menutup halamannya.
Tidak ada yang ingin kukatakan tentang kisah di buku ini. Selain,
Aku akan terus mengenangnya.
Lilt, Paviliun, Ayunan putih di teras belakang rumah,
I’m know that I’m too old for this kind of plot already I guess. But Windry is one of my favorite YA Indonesian authors, so I stilk gave it a try.
Saya masih tetap menikmati gaya penulisan buku ini secara keseluruhan, flowing, enak untuk dibaca. Tetapi saya tidak mengerti mengapa penulis memilih untuk sacrifice plot yg sudah dibangun dengan cukup baik up until that point dengan sebuah konflik yg bagi saya hanya untuk membuat wow factor atau shocking element belaka.
Saya tidak akan merekomendasikan buku ini, karena “konflik” utama yg diangkat oleh penulis benar-benar membatalkan segalanya dalam buku ini untuk saya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kak Windry merupakan salah satu penulis yang paling saya tunggu karyanya dan SFA menjadi novel selanjutnya yang bisa membuat saya merasa banjir air mata, meskipun SFA ini tidak menjadi salah satu novel terfavorit dan menggeser novel lain dari Kak Windry yang terus bertengger di peringkat teratas novel favorit saya.
Seperti biasa, apapun yang ditulis Kak Windry memberikan suasana yang klasik dengan bahasa bakunya, meskipun latar tempat yang digunakan berlokasi di Jakarta dan sekitarnya yang biasanya identik dengan bahasa gaul. Tapi Kak Windry tetap berhasil mempertahankan khasnya dalam menulis dan membuat saya tetap betah membaca novel-novelnya.
Saya selalu menunggu karya Kak Windry selanjutnya!
Oke, balik ke review yang sebenernya. Hahaha. Novel ini bagus, meskipun flashbacknya itu nggak ada bedanya sama saat ini. Aku sempat beberapa kali kecele karna kukira di masa kini. Tapi setelah itu, aku bisa nglewatin dengan baik semuanya. Kak Windry, seperti biasa, selalu punya cara untuk bikin karakternya menyebalkan sekaligus loveable. Alice Lila contohnya, kayak susahhhhh banget buat dia untuk yakin sama perasaannya. Jadi geregetan sendiri. Belum lagi kalo dia udah kayak nolak-nolak perasaannya. Beuh, rasanya pengen jedotin kepala ke tembok saking keselnya.